The Numbering of Titles in CHz—Act Phase II:
Penomoran judul untuk Act Phase II diulang dari awal dengan menggunakan International Phonetic Alphabet, yang biasanya digunakan oleh para tentara saat berada di medan untuk menyebutkan "sesuatu" dalam bentuk kode alphabet melalui radio signal: such as walkie-talkie. Urutan chapter dapat dilihat dari awal huruf Phonetic tersebut [A, B, C, D, etcetera].
End of news.
"If you DON'T LIKE, DON'T you READ, right?"
C.R.A.C.K.H.A.C.K.E.R.Z
NARUTO © Masashi Kishimoto
CrackHackerz © Huicergo Montediesberg®
CHz Cover © Huicergo Montediesberg®
CAUTION OF:
OOC, OC, miss typo(s), WIP, terdapat adegan baku hantam, jadwal update tidak tetap, and many more inside.
GENRES:
Crime, Action, Romance, Thriller, Friendship
RATED:
Still T…
COMMAND:
"ZIP YOUR MOUTH AND STAY FOCUS!"
.
"HAPPY READING AND ENJOY IT, PAL!"
.
[C]HARLIE
"THE DEAD JUSTICE"
"Mengumpulkan data? Hanya itu?"
Suara tanya yang berasal dari pita suara Gaara memecah keheningan di ruangan putih rahasia mereka. Tampaknya pembicaraan mereka sudah memasuki tahap yang serius—itu semua terlihat dari ekspresi wajah masing-masing. Memasang telinga dengan baik.
"Tunggu, tunggu, tunggu," sela Naruto sebelum Sasuke menjawab pertanyaan Gaara, sebelah tangannya tampak mengudara, kedua alisnya berkerut, "memangnya apa yang harus kita cari?"
Derit sofa yang menandakan adanya pergerakkan terdengar ke seluruh gendang telinga yang ada. "Mungkin pertanyaan lebih tepatnya, apa misi kita sebenarnya?" koreksi Sai atas perkataan Naruto, "seperti itu."
"Jika kau menyuruh kami untuk mengumpulkan data, itu berarti ada yang diincar, bukan, Sasuke?" timpal Shino yang berupa pertanyaan kepada sang ketua, bagi mereka.
Kiba yang sudah tidak sabaran mendengar seperti apa misi pertamanya pun akhirnya bersuara, "Tak kusangka baru saja aku bergabung dengan kalian, kita sudah diberi sebuah misi."
Kabuto tersenyum. "Lebih cepat kita mendapat misi, lebih cepat pula kita terbiasa."
"Anggap saja misi ini seperti pesta penyambutan kalian, kawan baru," kata Shikamaru dengan tenang. "Kuncinya hanya kesantaian."
Usai melontarkan apa yang mereka pikirkan dan rasakan mengenai perkataannya, kedelapan temannya kini menatap Uchiha Sasuke yang sedang duduk santai di sofa single kesayangannya. Sasuke yang merasa orang-orang di depan mata sudah penasaran dengan apa yang akan diucapkannya memutuskan bangkit berdiri agar dapat melihat seluruh pasang mata yang ada.
Iris kelam Sasuke memandang raut wajah temannya satu-persatu. "Misi kita kali ini adalah mencuri sebuah permata."
"Hah?" respon ketiga anggota baru secara bersamaan.
"Mencuri?" tanya Sasori tak percaya—mengingat ia tidak mengetahui bahwa tujuan Sasuke ke K-MOS juga untuk mencuri.
Kiba mendengus menahan tawa. "Mungkin mencuri permata itu sangat menantang." Raut wajah Kiba berubah menjadi serius. Kedua alisnya saling bertautan. "Tapi, untuk apa?"
Sasuke melipat kedua tangannya di depan dada. "Kita mencuri permata tersebut bukan untuk meng-klaimnya menjadi milik kita, tapi untuk menguji apakah perintah ayahku untuk memperketat penjagaan terhadap permata itu dilaksanakan atau tidak."
Perasaan ganjil menyelimuti Kabuto, ia pun memutuskan untuk bertanya, "Ayah? Maksudmu—"
"Semua misi yang kita lakukan adalah atas perintah dari sang ayah," potong Gaara, ia menolehkan kepalanya ke tempat Kabuto berada, "dan misi ini tidak boleh diketahui oleh orang luar."
"Bisa disebut juga misi kalangan orang dalam," tambah Sai yang sedari tadi menyimak pembicaraan mereka.
Mendengar penjelasan dari Gaara dan Sai, tiba-tiba Kabuto teringat akan suatu hal. "Jadi, ketika Sasuke dan Naruto di K-MOS, itu juga…"
Bibir tipis Gaara tersenyum simpul. "Seperti yang telah kauketahui tadi."
Kini ketiga anggota baru tersebut sudah mengetahui sedikit demi sedikit mengenai misi dan tampaknya ini bukan sekali-dua kalinya para anggota lama melaksanakan misi seperti ini—lihatlah, mereka tampak sangat santai seperti tidak ada beban sedikit pun. Yah, semoga saja kesantaian mereka menular kepada ketiga anggota baru itu dan misi pertama mereka sukses tanpa ada halangan sedikit pun.
Shikamaru merenggangkan kedua tangannya ke udara, mengantisipasi datangnya rasa kantuk yang sering melandanya. "Permata apa yang ingin kita curi, Sasuke?"
"Hanya satu yang kuketahui dari ayahku." Onyx Sasuke mengamati teman-temannya yang sedang menyimak dengan baik. "The Dead Justice."
Naruto melongo, mengedipkan matanya beberapa kali tanda tidak percaya. "The Dead Justice? Apa itu?"
Sasuke mengedikkan bahunya. "Entahlah, yang pasti itu nama sebuah permata."
Naruto mendecih kesal mendengar jawaban Sasuke. "Kalau itu aku juga sudah tahu."
Alis Sasuke terangkat sebelah. "Kalau sudah tahu kenapa bertanya?"
Obrolan singkat Sasuke dan Naruto membuat tawa yang lainnya membuncah keluar. Tampaknya mereka semua sudah berbaur dengan sangat cepat. Tidak terlihat ada perbedaan tara di sini. Sepertinya begitu.
"The Dead Justice," alih Shino untuk melanjutkan kembali pembicaraan penting mereka yang terpotong. "Kudengar permata itu adalah permata yang paling dilindungi oleh Konoha karena sangat bersejarah dan berharga sangat tinggi di dunia."
Sasori memasang raut bertanya kepada Shino. "Kau tahu dari mana informasi itu?"
"Seekor burung kecil memberitahuku," jawab Aburame Shino singkat yang berarti ia hanya mendengar dari percakapan yang terjadi di tengah khalayak ramai.
Uchiha Sasuke tampak mencerna perkataan Shino dengan serius. Tampaknya ini misi yang sangat menarik, katanya dalam hati.
"Baiklah," seru Sasuke kemudian, "mari kita mulai mencari informasi seluas mungkin. Dimohon untuk saling bahu-membahu demi kelancaran aksi kita ini."
Dengan sigap, Naruto bangkit berdiri dan menangkupkan tangan kanannya ke depan. Aksi Naruto yang terlihat di depan semua orang itu pun diikuti oleh Shikamaru, Sai, Gaara, dan Shino yang menumpukkan tangan kanan mereka di atas punggung tangan Naruto satu demi satu.
Shikamaru menoleh ke arah ketiga kawan baru mereka yang masih memiliki sedikit rasa segan. "Ayo, tumpukkan juga tangan kalian di sini," ajaknya sembari menggerakkan sedikit kepalanya ke arah tangannya yang tertumpuk.
Tanpa basa-basi lagi pun Kiba, Sasori, dan Kabuto berdiri untuk menumpukkan tangan mereka bersatu dengan yang lainnya. Terlihat sebuah cengiran di tiap bibir mereka.
Masih kurang satu orang lagi.
"Teme, ayolah, jangan bersikap stay cool seperti itu di depan anak baru. Biasanya juga kau langsung ikut tanpa disuruh," celoteh Naruto blak-blakan yang memang sudah menjadi ciri khasnya.
Sasuke pun memutar bola matanya sambil tersenyum kecil. Sebelum ia menumpukkan tangannya di atas tangan-tangan yang lainnya, ia terlihat sedang menggaruk singkat belakang kepalanya.
"Seperti anak kecil saja," gumam Sasuke yang masih setia melindungi harga dirinya.
Ketika semua tangan mereka bersatu, mereka pun mengeluarkan beberapa kata yang mengisikan semangat mereka dalam bekerja sama. Yah, mohon bantuannya untuk sang Uchiha.
.
~Crack or Hack?~
.
Lumayan.
Itulah penilaian yang ada di pikiran Haruno Sakura terhadap latihan teater drama yang akan berlangsung beberapa hari lagi. Ia bisa menonton langsung latihan drama ini karena Ino sudah mendapat izin kepada sang sutradara dengan sangat mudah. Ah, yang menjadi tokoh utama dari cerita tersebut adalah teman terdekatnya, Yamanaka Ino. Sudah ia duga bahwa Ino akan memerankan tokoh tersebut dengan sangat luar biasa karena sedari kecil perempuan berambut pirang itu memang sudah pandai berakting.
Bagi Ino, akting adalah hidupnya.
Karena itulah dulu mereka sering berdebat mengenai akting. Menurut Ino, akting adalah sebuah keistimewaan dimana kita bisa menjadi orang lain dan merasakan apa yang orang itu rasakan. Tidak dengan Sakura. Menurutnya, akting sama saja dengan berbohong, jadi orang yang pandai berakting sama dengan seorang pembohong yang handal.
Tapi walau begitu, suatu sudut di dalam hati Sakura memiliki rasa iri kepada Ino yang memiliki bakat seperti itu. Ino jauh lebih mudah menyimpan perasaannya di lubuk hatinya terdalam dibanding Sakura. Sungguh tidak adil, bukan?
Well, Sakura memang bisa berbohong dengan perkataannya, tapi tidak dengan matanya. Maka dari itu, Sakura mudah tertebak jika dia sedang berbohong dari mata hijau beningnya—yah, walau yang hanya bisa menebak dia sedang berbohong hanya orangtua dan teman terdekatnya—tapi tetap saja bagi Sakura, matanya seperti suatu lubang yang menganga sehingga tulisan dan reka adegan kesalahannya terlihat dengan mudah oleh orang yang mengerti tentang dirinya. Itu sungguh sangat menyebalkan.
Berbeda pendapat pula dengan Ino. Baginya, Sakura memiliki mata yang luar biasa karena menurutnya, mata Sakura bagaikan air sungai jernih yang mengalir—saking jernihnya sehingga setiap orang yang bertatapan mata dengannya seperti sedang mengaca dirinya sendiri. Oleh sebab itu, Ino selalu mendapat kesusahan jika sedang berbohong di depan Sakura. Entah kenapa, ia menjadi terlihat memalukan ketika ia menatap mata gadis merah muda tersebut.
Maka dari itulah, Ino menyebut mata Sakura dengan sebutan 'cermin dunia'.
"Kalian berakting dengan sangat luar biasa! Saya bangga kepada kalian!" teriak sang sutradara sekaligus pengarang cerita disertai dengan tepuk tangan riuh yang diikuti para kru teater lainnya.
Teriakan itu membuat Sakura tersadar bahwa latihan drama yang ditontonnya sudah berakhir. Buruknya, ia meninggalkan adegan klimaks teater itu hanya karena ia teringat kenangan masa lalunya antara dirinya dan Ino. Semoga saja perempuan kuncir kuda itu tidak menanyakan suatu hal yang berhubungan dengan adegan yang ditinggalkannya.
"Cermin dunia!"
Dengan malas, Sakura menolehkan kepalanya ke arah sumber suara. Baru saja dirinya mengingat julukan itu. "Sudah berapa kali kukatakan bahwa jangan panggil aku dengan sebutan seperti itu," kata Sakura dengan nada serius.
Kedua tangan Ino tampak terangkat di depan badannya. "Maaf, maaf, aku terlalu bersemangat." Kemudian, ia mengambil posisi duduk di sebelah kiri Sakura. "Sakura, menurutmu aktingku tadi bagaimana?" tanyanya dengan masih mengenakan busana pentasnya.
Sungguh sial. Otak Sakura berpikir cepat mengenai apa yang harus dijawabnya.
Menyadari hal itu, mata Ino menyipit tajam. "Jangan bilang kalau kau sedari tadi tidak memerhatikannya," duga Ino saat memperhatikan raut wajah Sakura.
"Tidak," bantah Sakura langsung, ia menarik napas sesaat, "awalnya memang aku memperhatikannya, tapi di saat adegan klimaksnya tak sangaja aku melamun." Berkata jujur di depan Ino memang lebih baik.
Helaan napas dalam Ino terdengar. "Kau ini," rutuknya pada Sakura.
Sedangkan Sakura hanya bisa tersenyum simpul sambil mengedikkan bahunya singkat. Tak lama, ia pun tersadar akan suatu hal di otaknya. "Ino, di mana benda—"
Seakan tahu ke mana arah pembicaraan Sakura, Ino pun memotong kalimatnya. "Benda itu tidak dipakai dalam latihan, Sakura. Benda itu hanya akan dipakai pada dua hari H-ku."
Sakura mengangkat sebelah alisnya heran. "Kalau begitu, kenapa kau memakai baju pentas dalam latihanmu? Bukankah itu juga dipakai dalam hari H?"
Ino mendengus pelan mengingat Sakura sangat minim pengetahuan mengenai seni drama. "Aku memakai baju ini hanya fitting untuk mengetahui apakah aku merasa nyaman menggunakannya saat hari H nanti." Ia mencondongkan dirinya ke arah Sakura. "Memangnya kenapa kau sangat penasaran dengan benda itu?"
"Aku hanya penasaran, mengapa kelompok teater dramamu bisa menyewa benda itu?" dalihnya.
Ino membisikkan sesuatu di telinganya. "Katanya, sang sutradara alias pemilik teater drama ini mengeluarkan banyak uang hanya untuk menyewa benda itu."
Sepertinya perkataan Sakura berhasil menarik minat Ino. "Oh," respon Sakura acuh tak acuh.
Dengan sigap, Ino bangkit berdiri dari tempat duduknya. "Baiklah, aku ganti baju dulu. Tunggu sebentar, ya." Tanpa mengharapkan jawaban dari Sakura, Ino pun langsung bergegas kembali ke balik layar.
Sembari menunggu Ino yang akan memakan waktu lama, Sakura pun berinisiatif mengambil iPad4 miliknya dari dalam tas di sebelah kanannya, membuka lock screen, kemudian terpampanglah keterangan yang berhasil di-searching-nya saat ia berada di Starbucks beberapa waktu yang lalu.
Pupil matanya bergerak ke kiri dan ke kanan membaca seluruh tulisan yang ada. Otaknya bekerja menyaring seluruh kalimat menjadi beberapa point penting. Seusai membacanya, Sakura mendengus seraya tersenyum, kemudian berdecak kecil. Mau tidak mau harus dipastikan dengan sengaja.
Sakura memiringkan badannya ke arah kiri. Kepalanya tersandar di atas kepalan jari tangan kiri di mana siku tangan kiri menumpu di lengan kursi di sebelahnya. Haruno Sakura sedang berpikir. Di dalam otaknya terbayang beberapa rencana yang tersebar acak, satu persatu ia menyusun ke bawah beberapa kalimat acak itu hingga menjadi suatu poin perencanaan yang rapi.
Maka, terancanglah apa yang akan dilakukannya nanti.
"Sakura, apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Ino yang berada di depan Sakura, dan suaranya sama sekali tidak mengejutkannya.
Yamanaka Ino sudah sangat tahu; jika Sakura sudah memposisikan tubuhnya seperti itu, berarti ada yang sedang dipikirkannya. Untuk berpikir, Haruno Sakura memerlukan posisi yang nyaman dan itulah posisi nyamannya.
Dengan santai, Sakura menengadahkan kepalanya agar dapat melihat Ino dengan leluasa. Seulas senyum yang sulit dimengerti terlukis di wajahnya. "Hanya memikirkan sesuatu yang akan menyenangkanku."
Salah satu alis Ino naik ke atas. "Maksudmu?"
Tanpa berniat menjawab pertanyaan Ino, Sakura bangkit berdiri dari posisinya, kemudian merenggangkan persendian tubuhnya sejenak. "Ayo, kita segera pulang," ajak Sakura sembari melengos pergi meninggalkan Ino yang masih bingung di tempatnya.
Terdengar Ino berdecak kesal. "Kenapa selalu berakhir seperti ini ketika aku sedang penasaran?" gumam Ino kepada dirinya sendiri, kemudian berjalan mengikuti Sakura di belakang.
.
~Crack or Hack?~
.
Tidak ada kata sepi di ruangan ini. Seluruh penghuni ruang rahasia putih kediaman Uchiha tengah sibuk dengan pembagian kegiatan mereka masing-masing. Mereka menyibukkan diri di sisi kiri ruangan di mana tersedia beberapa peralatan yang mereka butuhkan, seperti laptop, komputer, printer, fax, dan lain sebagainya. Walau banyak elektronik yang berada di sana, tapi sama sekali tidak terlihat adanya kabel melilit di sekitar.
Beberapa dari mereka juga tak jarang saling berbicara satu sama lain—dari yang berhubungan dengan tugas mereka hingga di luar topik pun menjadi perbincangan singkat nan hangat—sehingga suara ketikan keyboard dan jentikkan mouse pun terbenam dan ikut hanyut bersama suara mereka.
Satu jam lebih sudah berlalu sejak mereka mulai mengerjakan tugas. Keempat anggota baru pun sepertinya sudah mulai terbiasa melaksanakan tugas yang dibagiratakan oleh Sasuke sebelumnya.
Setidaknya itulah yang tergambarkan di depan iris mata onyx-nya.
Uchiha Sasuke kini sedang duduk santai di kursi kerjanya di lantai atas ruangan putih kebanggaannya seraya memperhatikan rekan-rekannya yang lain bekerja dari atas sana. Sebenarnya, lantai atas yang ditempatinya hanya bertaraf setengah lantai dikarenakan ruangan putih ini memiliki langit-langit yang tinggi semampai. Lantai atas ini juga hanya memiliki beberapa meter untuk memuat sebuah meja kerja, lampu baca, dan kasur untuk berisitirahat sejenak—menyisakan ruang lapang agar tidak terkesan sempit di sana. Ah, lantai atas ini juga hanya dibatasi oleh tiang stainless-steel di kedua sisi saja dikarenakan lantai atas ini berada di sudut kanan dalam ruangan.
Walau Sasuke berada di atas sana dan membagiratakan tugas kepada temannya, bukan berarti ia tidak bekerja apa-apa. Melalui laptop-nya, ia membantu dalam mengorek informasi yang dibutuhkan dalam misinya kali ini, jika ia sudah mendapatkannya ia akan mengirimkan datanya ke jaringan komputer di bawah. Di sisi lain, jika salah satu rekan dibawahnya menemukan informasi yang lain, maka orang tersebut akan menyerukannya ke udara agar Sasuke bisa mengetahuinya dan tidak mencari apa yang telah didapat.
Suara printer yang terus mencetak data yang telah terkumpul pun terus memantul hingga ke sudut ruangan sekali pun. Entah sudah berapa kertas dan tinta yang terbuang hanya untuk mencetak informasi yang mereka butuhkan, tampaknya mereka juga tak memikirkannya sedikit pun.
"Ya! Akhirnya selesai juga!" teriak Naruto bahagia yang sedari tadi memperhatikan mesin printer yang terus mencetak tanpa henti dikarenakan tugasnya sudah selesai dan tidak ada kerjaan. Juga tidak ada yang ingin dibahas.
Dengan serentak, mereka yang berada di lantai bawah segera berdiri dari kursi kerja mereka masing-masing. Beberapa dari mereka tampak merenggangkan badannya karena tanpa disadari sudah hampir tiga jam lebih mereka duduk di kursi mereka. Tanpa diperintah, mereka pun menempatkan diri di atas sofa putih perkumpulan mereka yang bertekstur lebih empuk dibanding kursi kerja mereka tadi.
Kaki Sasuke melangkah turun menuruni anak tangga yang juga terbuat dari stainless-steel satu persatu dengan tempo cepat setelah mendengar seruan Naruto sebagai pertanda bahwa pekerjaan pertama mereka telah selesai. Setelah sesampainya di bawah, ia segera menuju tempat perkumpulan nyaman mereka.
"Baiklah, Sasuke! Ini adalah informasi yang mungkin kita butuhkan untuk misi kali ini." Naruto meletakkan sejumplah kertas HVS yang sudah tercetak berbagai macam huruf jepang beserta gambar yang diperlukan ketika Sasuke mendudukkan diri di singgasananya.
Dengan perlahan, Uchiha Sasuke mengambil beberapa lembar kertas-kertas itu dan membagikannya ke yang lain hingga tidak ada kertas pun yang tersisa di atas meja. "Jadi, informasi apa yang telah kita dapat?"
"Menurut informasi yang didapat," suara Sai memulai inti perkumpulan mereka, "permata The Dead Justice memiliki harga jual paling mahal nomor satu sedunia dikarenakan filosofinya yang sangat unik dan mengerikan. Dulu, permata ini dijadikan sebagai batu penghias kalung berantai emas. Mengingat permata ini lebih berharga dibanding rantai kalungnya, pada akhirnya benda yang tadinya satu itu pun dipisah dan disimpan di berbeda lokasi." Sai berhenti meringkas. "Untuk lebih jelas mengenai rupa The Dead Justice, kalian bisa melihatnya melalui gambar ini."
Seluruh pasang mata tertuju kepada kertas yang baru saja ditaruh Sai di atas meja tengah-tengah mereka. Permata tersebut berwarna biru tua dan terlihat bening membuat siapa saja melihat pasti terpesona dibuatnya. Bentuknya pun sama seperti permata pada umumnya, tapi entah kenapa terkesan lebih indah dari yang lain.
"Lalu?" Suara Sasuke memecah kekaguman yang terjadi di antara mereka. "Filosofi apa yang membuat permata itu menjadi mahal?"
Merasa ini adalah bagiannya, Shino mulai menceritakan apa yang berhasil ia tangkap dari rentetan huruf jepang di matanya itu. "Konon, permata ini adalah pemberian dari seorang pangeran pada zaman kekaisaran Hashirama kepada seorang perempuan kalangan rakyat biasa yang dicintainya secara diam-diam. Pada hari ulang tahunnya ke-21, ayah perempuan itu—yang berprofesi sebagai pandai besi—membuatkan sebuah rantai kalung untuk permata itu. Begitu sayangnya gadis itu terhadap dua benda tersebut, ia pun tidak pernah sekali pun melepas benda yang sudah menyatu tersebut dari lehernya."
Aburame Shino jeda sejenak, melihat ekspresi para penyimak cerita di balik kacamata hitamnya. Semuanya tampak terfokus dengan apa yang diceritakan. Setelah puas, ia melanjutkan kembali ringkasannya, "Tahun demi tahun, ratu kerajaan Hashirama yang berstatus sebagai ibu kandung pengeran pun akhirnya mengetahui hubungan gelap sang anak dengan kekasihnya. Sang ibunda pun tidak senang akan hal itu. Ratu Hashirama yang dari awal berniat menjodohkan anaknya dengan seorang putri kerajaan sebelah itu pun mengambil keputusan yang menurutnya 'terbaik'. Ia memerintahkan prajurit kerajaan untuk membakar habis rumah kekasih putra sulungnya dan perempuan tersebut diseret dan dibakar hidup-hidup."
Para pendengar cerita filosofi permata itu menampakkan raut wajah tegang. Entah kenapa semua merasa raungan dan teriakan sang gadis yang menahan sakit kobaran api itu menggema nyaring di pikiran mereka. Membuat mereka merinding mendengarnya.
"Melihat kekasih yang dicintainya dibunuh tanpa perikemanusiaan seperti itu menumbuhkan rasa dendam terdalam bagi pangeran keturunan Hashirama. Pada saat itu juga, putra sulung kerajaan Hashirama itu membunuh seluruh prajurit kerajaannya—terutama yang melaksanakan tugas bakar-membakar tersebut—dan tanpa segan memenggal kepala sang ibunda hingga ratu Hashirama mati di tempat. Setelah itu, sang pangeran pun mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri."
Tragis dan menyedihkan.
Dua kata itulah yang mampu menceritakan inti dari filosofi permata The Dead Justice.
Saking terenyuhnya mereka mendengar singkatan cerita itu hingga saat ini tidak ada dari mereka yang dapat menyuarakan pendapat mereka. Kasihan. Begitulah suara hati mereka.
Uzumaki Naruto mulai memberanikan diri menggelengkan kepalanya guna tersadar dari dunia imajinasinya. "Sungguh ironis," menurutnya.
Suara dehaman Nara Shikamaru ikut menyadarkan rasa keprihatinan rekan-rekannya. "Ya, tapi itu terjadi beberapa ratus tahun yang lalu, bukan zaman sekarang. Bukankah itu hal biasa?" tanya Shikamaru yang direspon beberapa anggukkan kepala.
"Jadi," Gaara mencoba mengutarakan apa yang ada di otaknya, "jika perempuan itu dibakar hidup-hidup berarti tidak ada yang tersisa, bukan?"
Peratanyaan Gaara menyadarkan semuanya akan hal itu. Benar juga, bagaimana dengan kalung dan permatanya?
Maat Shino mulai mencari penjelasan mengenai pertanyaan yang dilontarkan oleh Gaara di dalam kertas bagian informasi filosofi The Dead Justice. Setelah ditemukan dan dibaca, ia pun menuturkan kesimpulannya, "Menurut informasi, permata The Dead Justice tersebut tidak ikut melebur dalam lautan api, lain halnya dengan rantai kalung buatan sang ayah yang melebur karenanya."
Pemuda bernama kecil Sai terlihat berpikir keras. "Tapi, bukankah permata juga rentan terhadap api?"
Suara jentikkan jari tanda setuju dengan ucapan Sai terdengar dari tempat Kiba berada. "Benar! Pertanyaannya adalah: mengapa permata itu tidak melebur? Bukankah permata itu berada dalam kobaran api selama beberapa saat lamanya?"
Shino mulai mencari lagi apakah pendapat penulis filosofi tersebut mengenai masalah ini. Ia sendiri juga penasaran dibuatnya. "Katanya, ini adalah sebuah misteri."
Kedua alis Sasori saling menyatu satu sama lain. "Hah? Apakah itu bisa dipercaya?" ujarnya yang memang tidak percaya terhadap mitos seperti itu.
Shino mengedikkan bahunya, tidak tahu-menahu. "Setidaknya, itulah yang tertulis di dalam sini." Tangan kanannya terangkat ke udara, menunjukkan kertas informasi yang dibacanya.
"Jawaban yang begitu mengecewakan," tukas Kabuto setelah sekian lamanya berdiam diri.
Di sisi lain, Uchiha Sasuke lebih memilih berdiam diri dengan cara mengatupkan bibirnya rapat. Selama ini ia hanya menggunakan telinganya untuk mendengar percakapan para rekan setimnya. Informasi yang dibahas ia masukkan ke dalam otaknya yang terlampau jenius dan menafsirkannya dengan logika. Tapi, apakah 'misteri' juga dapat diartikan secara logika?
Tunggu.
Ada sebuah perbedaan kisah di sini.
Di kisah pertama, Sai menceritakan bahwa rantai kalung dan permata The Dead of Justice dimuseumkan secara terpisah dikarenakan perbedaan taraf dan derajat filosofi dan nilai mereka. Lalu, Di kisah kedua, Shino menceritakan bahwa rantai kalung The Dead Justice melebur—dengan arti kata lain menghilang—maka dari itu, hanya permatanyalah yang dimuseumkan.
Iris kelam Sasuke berkeliling memerhatikan teman-temannya yang masih sibuk memperdebatkan mengapa permata tersebut tidak melebur. Sepertinya, tidak ada satu pun dari mereka yang menyadarinya, batin Sasuke lebih kepada dirinya sendiri.
Jadi, manakah yang benar? Kisah pertama… atau kisah kedua?
"Oi, Sasuke!" panggil Naruto yang membuat Sasuke tersadar dari lautan hipotesanya. "Menurutmu mengapa permata itu tidak menghilang ditelan api?"
Helaan napas panjang Sasuke terdengar lumayan kencang. "Apapun yang kalian ributkan, itu tidak penting," jawab Sasuke yang membuat semua kembali terdiam dan tersadar apa yang telah mereka perbincangkan sedari tadi tidak ada gunanya dalam misi kali ini.
Sang pemuda Uchiha membersihkan tenggorokannya. Matanya melirik ke arah kertas yang berada di dalam tangan. "Kelihatannya, The Dead Justice itu disimpan dengan baik di dalam sini." Ia menaruh salah satu kertas yang berada di tangannya di atas meja kaca bening yang berada di antara mereka.
Secara serempak, mereka semua mendekatkan diri untuk membacanya dan suara seruan mereka pun menyeruak ke udara secara acak dan menumpuk menjadi satu.
"Jika disimpan di tempat seperti ini, sudah tidak dapat diherankan lagi."
"Tak kusangka. Di dalam museum terkenal di Konoha, ya."
"Oh, ternyata dipamerkan di Konoha's Philosophy Museum."
Yah, tidak heran jika The Dead Justice dimuseumkan di Konoha's Philosophy Museum karena memang hanya benda yang memiliki filosofi dan sejarah khusus yang dapat dipamerkan di sana. Tidak sembarang. Dan katanya, untuk berkunjung ke sana saja memiliki ketentuan khusus. Benar-benar merepotkan. Tapi, apakah benar di tempat yang seharusnya berpenjagaan ketat seperti itu mereka malah melonggarkan kewajibannya?
Gaara memalingkan kepalanya ke arah Sasuke yang sudah ia ketahui bahwa ada sesuatu yang direncanakan oleh pemuda Uchiha satu itu. "Jadi, apa yang harus kita lakukan selanjutnya, Sasuke?"
Manik onyx Sasuke menatap manik hazel Gaara. "Ciri-ciri permata sudah kita ketahui bahkan museum tempat penyimpanannya pun sudah kita dapatkan, jadi…"
Kedelapan rekan misi Sasuke kali ini menyimak perkataan Sasuke baik-baik.
Uchiha Sasuke pun melanjutkan, "…apa salahnya jika kita mencoba bertamu ke sana?"
~CrackHackerz~
Tsuzuku
To be Continued...
Hari Senin | Jakarta, 22 April 2014 | Pukul 18.27 WIB
Reply of Review:
Cica: Mungkin chap kemarin kebanyak deskrip "tata bangunan", jadi tidak terasa feel-nya. Apakah rahasia Sakura sudah ketahuan sedikit di chap ini? Diusahakan tidak akan hiatus, thanks sarannya. Thanks for your review!
AkinaJung: Terima kasih sudah mau baca, tapi ini belum keren-keren amat, kok. Thanks for your review!
Yamasaki Kane: Halo juga, Kane! Iya, aku baru saja lulus dari SMA. Panggil aku dengan sebutan "kak" juga boleh. Memang umurmu berapa? Chap kemarin feel-nya kurang mungkin karena memang tidak ada feel-nya kali, ya? Terima kasih atas doamu. Thanks for your review!
Kikyu RKY: Baguslah, jika CHz semakin menarik ke dalamnya karena awalnya aku sempat ragu dengan semakin bertambahnya chap fict CHz ini. Terima kasih and thanks for your review!
Leontujuhempat: Sudah lanjut. Thanks for your review!
CherryKuchiki2: Tak perlu berterimakasih segala, yang penting kau menikmati fict ini. Diusahakan tidak hiatus, apalagi discontinued. Thanks for your review!
Eysha CherryBlossom: Ya, aku tahu tentang komputer, tapi tidak "ahli". Wah, kau menanyai "nama"ku sampai sejauh ini… kubalas melalui PM, ya. Thanks for your review!
Aguma: Maaf menunggu lama. Dan sepertinya—sekali lagi—pemikiranmu tepat *applause*. Thanks for your review!
Shaun: Untuk tingkat ketegangan di fict ini memang seperti itu, kecuali jika sudah tahap klimaks… Mungkin akan sedikit aku "push" para tokohnya. Pemikiranmu mengenai persentase sisanya itu salah, tapi tenang saja nanti juga akan diceritakan. Thanks for your correction of miss typo and your review!
Sofi asat: Maaf lama update, dunia nyata tidak mengizinkan. Aksinya Saku masih lama, kok. Mungkin. Thanks for your waiting and review!
EsterhazyTorte: Maaf chap kemarin lama update, tolong dimaklumkan… namanya juga murid SMA semester terakhir, you know-lah. Chap baru sudah di-update, selamat menikmati. Thanks for your review!
Skylar Knightwalker: Tampaknya ada yang merubah nama, ya? Knightwalker? Kalau tidak salah itu nama Erza—Fairy Tail dari dunia Edolas, bukan, ya? Apakah kau penggemar Erza Scarlet? Cara buka FFN kalau kau pakai modem b*lt itu, yah seperti yang aku bilang. Ganti web browser-nya yang beda dari yang lain, mengerti? Tugas Sasuke bisa kauketahui di chap ini dan mungkin Sasuke ingin kenalan dengan Sakura. Thanks for your review!
Zizy Hinamori: Sasuke masih belum mengenal Sakura, kok. Mungkin. Semoga saja fict ini semakin seru, ya. Thanks for your review!
Kintani-chan: lanjutannya tidak akan lupa, aku sedang berusaha membuat lanjutan fict-nya. Thanks for your waiting and review!
Asterella Roxanne: Wah, baguslah aku berhasil membuat jatuh cinta… kepada fict ini, tentunya. Pertemuan SasuSaku sudah ter-planning dengan baik di otakku, kok. Tinggal nunggu giliran dan bagaimana cara mendeskripsikannya. Sukses juga untuk RL-mu. Thanks for your review!
Mitchiru1312jo: The next chap was served already. You wanna more again? Thanks for your review!
Narnialow2003: Fict ini diusahakan akan terus kulanjutkan walau sudah memasuki semester awal kulian nanti. Dukung fict ini, ya. Thanks for your review!
Luca Marvell: SasuSaku satu sekolah, kok. Sekolah Sasuke itu bernama Konoha School of Art, Science, and Public Relations… berarti sekolah tersebut hanya berkisar di tiga jenis pelajaran sesuai namanya. Tidak ada hubungan seperti kelas di Dan Detective School Q, kok. Thanks for your review!
Piyo piyo: Maaf update-nya lama, tapi sarang laba-laba dan debunya sudah dibersihkan. Ya, mobil Reventon-nya sudah terlalu keseringan dipakai, jadi Sasuke bosan deh… Aku tidak selalu up-to-date, aku hanya "mengikuti perkembangan zaman" #samaaja Dan SasuSaku, kupastikan lagi, belum pernah ketemu sebelumnya. Hanya baru tukar pandang. Thanks for your review!
MerisChintya97: Tak apa, makanya cepat sana minta damai dengan FFn. Aku hanya mendeskripsikan sesuai perkataanku saja, jauh dari kata "novel". Kau masih tidak connect dengan barang yang di-search Sakura? Padahal kurasa sudah banyak hints yang menuju ke sana. Yang kasih Sasuke misi itu ayahnya, silakan baca lagi di chap 14. Maaf update lama, jadi lupa jalan ceritanya, ya? Thanks for your review!
Eunike Yuen: Aksi Sasuke sebentar lagi akan muncul, ditunggu ya. Kegunaan Sakura di sini juga nanti akan tahu *EvilLaugh*. Penggantian DNS hanya belaku bagi provider yang masih able untuk diubah, tapi jika provider itu sudah bekerja sama dengan "mereka"… mau diganti jadi DNS planet lain pun tidak akan bisa karena configuration button sudah tidak bisa berfungsi lagi. Semangat buat lombanya, ya! Thanks for your review!
SuMeRoDii: Wah, hampir nyerah baca, ya? Mungkin banyak juga ya pembaca yang sudah nyerah baca fict-ku ini *laughing* Salute untukmu yang sudah berjuang! Diusahakan SasuSaku akan setimpal, doakan semoga aku banyak ide, ya. Salam kenal juga, aku suka baca review yang panjang, kok. Ya, terima kasih sudah di fav! Thanks for you review!
NauMomo sasusaku: Mungkin semua masih misterius karena memang harus dimisteriuskan. SasuSaku belum saling kenal, kok. Apakah pekerjaan Saku berhubungan dengan Ino… kurasa kau sudah bisa memutuskannya di chap ini. Target chap terakhir belum ditentukan, yang penting enjoy saja. Thanks for your review!
Reduce speed! Typos was attacked!
You can call me for cover it.
"The next is their action!"
"So, keep calm and always waiting."
Signature,
Huicergo Montediesberg
