Little bit the next chapter
.
.
.
.
Mata tajam itu terus membaca laporan di tangannya, sesekali tangannya bergerak utk membalik halaman terlalu serius membaca sampai mengabaikan getaran ponselnya sedari tadi.
BRAAKK!
Pintu kantor nya di buka paksa menampakan sosok pria manis dengan wajah kesalnya memasuki ruangan, sedangkan di sebelah nya tampak sang sekretaris yang berusaha untuk menghentikan langkah si tamu.
"Tuan saya mohon, presdir sedang tidak ingin di ganggu" wanita yg menjadi sekretaris itu mencekal tangan si tamu agar berhenti dan berhasil.
Si tamu mendengus kesal dan mengalihkan tatapan kepada presdir yang masih membaca laporan seolah-olah keributan yang barusan terjadi hanya angin lalu.
"Dengar aku hanya ingin berbicara dengannya sebentar" tamu tersebut menatap si wanita dengan kesal.
Namun wanita tersebut menggeleng tanda tidak setuju, "Maafkan saya tuan tapi tidak bisa" kembali dia mencoba menarik si tamu keluar dari ruangan presdir nya yang masih membaca laporan.
Dengan kekuatan penuh si tamu mengempaskan tangan si sekretaris dan berlari ke meja presdir tersebut dan memukulnya keras hingga beberapa kertas laporan jatuh ke lantai.
"Sehun aku perlu bicara denganmu!" gebrakan keras itu membuat Sehun sang presdir terusik.
Di tatap nya pemuda manis yang ada di depannya dengan poker face andalannya, "Kurasa tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan" jawabnya dingin.
Si tamu yang kesal menarik napas beberapa kali untuk menenangkan diri karena dia tahu tidak ada gunanya emosi di saat seperti ini. "Ku mohon Sehun kita harus bicara" nada nya melunak dan tatapan mata nya memohon.
Dengan isyarat Sehun menyuruh sekretarisnya keluar yang langsung di turuti, setelah pintu tertutup Sehun berdiri dan berjalan menuju jendela kantor nya melihat pemandangan kota di bawahnya.
"Waktu ku tidak banyak jadi katakan langsung ke inti" si tamu berjalan mendekat dan memeluk tubuh tinggi Sehun dari belakang dengan erat.
Sementara Sehun masih diam bergeming di tempat, dia hanya melirik ke tangan yang memeluk nya erat.
Pemuda manis yang menjadi tamu nya menyandarkan kepalanya di punggung Sehun, mata nya terpejam menikmati aroma khas Sehun yang di rindukan nya seminggu ini.
"Ku mohon jangan tinggalkan aku Sehun" suaranya bergetar menahan tangis yang hampir keluar.
Namun Sehun tetap diam tanpa respon yang berarti.
"Maafkan aku Sehun, ku mohon jangan tinggalkan aku" kini dia terisak kecil di punggung Sehun, meluapkan betapa besar rasa rindu nya dan juga….. rasa bersalahnya.
Sehun sebenarnya tidak tega mendegar isakan kecil yang masih keluar dari pemuda yang dia sayangi, namun ingatan menyakitkan seminggu yang lalu kembali ke dalam kepala nya seperti mengejek betapa bodohnya dia selama ini.
Dengan perlahan Sehun melepaskan kedua tangan yang memeluknya, dia berbalik menghadap si pemuda yang menatap nya dengan sedih dan rindu juga air mata yang menggenang.
Mata indah itu kini basah karena air mata, hidung nya memerah, dan tatapan itu bisa Sehun lihat jika si pemuda manis itu merindukannya…. Sama seperti dia.
Ingin sekali Sehun memeluk tubuh mungil itu, menenangkan nya, membisikkan kata bahwa dia tidak akan meninggalkan nya apapun yang terjadi.
Tapi sayang nya itu semua hanya keinginan yang terpendam, karena bagaimana pun hati nya sakit jika mengingat kejadian seminggu lalu.
Karena itu Sehun dengan dingin nya mengambil sebuah keputusan, "Pergilah dan jangan pernah menampakkan wajahmu padaku lagi"
Si pemuda manis itu kaget, tidak menyangka Sehun akan mengatakan hal tersebut pada nya. "Se-Sehun… ku mohon…a-aku" dia mencoba untuk mendekat namun Sehun mundur menjauhi nya.
Sejenak Sehun memejamkan matanya, menarik napas lalu membuangnya perlahan mencoba bertahan dengan keputusan yang dia ambil.
Perlahan kedua mata tajam itu terbuka dan menatap si pemuda manis yang terlihat begitu rapuh dan menyedihkan.
"Pergilah jangan pernah kembali karena jika kau berani kembali aku akan membunuh mu" bisa di lihatnya pemuda itu tersentak kaget. Sehun memencet tombol khusus untuk memanggil keamanan kantor nya.
Dalam sekejap dua orang security masuk ke dalam kantor nya, Sehun mendekati si pemuda manis dia sedikit menunduk untuk membisikkan sesuatu.
"Aku membencimu Byun Baekhyun dan aku juga tidak membutuhkan kekasih pengkhianat seperti mu"
Selesai mengatakan nya Sehun memberi isyarat kepada security nya agar menarik Baekhyun si pemuda manis keluar.
Baekhyun hanya bisa pasrah saat tubuh nya di bawa keluar, namun saat mencapai pintu dia berhenti sejenak dan menatap Sehun yang masih menatap nya tanpa ekspresi.
"Mianhe Sehun" seulas senyum Baekhyun berikan kepada Sehun sebelum dia pergi dari kantor tersebut.
Baekhyun tidak tahu apa yang terjadi dengan Sehun setelah mengatakan kalimat tersebut, yang jelas Sehun langsung mendial nomor seseorang di ponsel nya.
Begitu sambungan di angkat dengan cepat Sehun memberikan sebuah perintah, "Tidak perduli bagaimanapun cara nya bunuh pemuda bernama Park Chanyeol"
Dia mematikan sambungan tersebut sambil menyeringai kejam, dia tahu orang kepercayaan nya tidak pernah mengecewakan nya selama ini.
Sehun kembali duduk di mejanya dan mengambil sebuah foto dari laci, mengamati foto yang menampakkan wajah Baekhyun yang tertidur lelap di pelukannya dalam keadaan topless.
Di usapnya wajah Baekhyun dalam foto merasakan kembali betapa dia sangat menyayangi pemuda tersebut dan tidak ingin kehilangan nya walau hanya sedetik.
"Baby bunny sayang, jika aku tidak bisa memiliki mu maka tidak ada satu orang pun yang bisa memiliki mu. Bahkan tidak dengan Park Chanyeol"
.
.
.
.
.
.
.
Anyyeong! Lama tanpa kabar dan Yue balik dengan lanjutan ff yang hanya sedikit itu hehehe. Apakah masih ada di antara kalian yang ingat? Atau udah lupa? Baiklah Yue tunggu respon nya apakah ff ini bakalan di lanjut atau di discontinue di kotak review.
