"If you DON'T LIKE, DON'T you READ, right?"

C.R.A.C.K.H.A.C.K.E.R.Z

NARUTO © Masashi Kishimoto

CrackHackerz © Huicergo Montediesberg®
CHz Cover © Huicergo Montediesberg®

CAUTION OF:
OOC, OC, miss typo(s), WIP, terdapat adegan baku hantam, jadwal update tidak tetap,
and many more inside.

GENRES:
Crime, Action, Romance
, Thriller, Friendship

RATED:
Still T

COMMAND:
"ZIP YOUR MOUTH AND STAY FOCUS!"

.

"HAPPY READING AND ENJOY IT, PAL!"

.

[D]ELTA
"THE TARGET"

Ketika akan berguling untuk merubah posisi di atas tempat tidurnya, kelopak mata Haruno Sakura membuka tipis guna membatasi kadar sinar matahari yang menyusup masuk melalui celah tirai jendela yang ditutupinya kemarin malam. Cahaya itu mengganggu acara tidurnya. Sialnya, sinar matahari itu tepat menyorot bagian mata Sakura, jadi dengan rasa enggan pun ia mendudukkan dirinya begitu saja.

Detik demi detik telah berlalu, tetapi sepertinya Haruno Sakura masih belum sadar sepenuhnya. Detik berikutnya pun jam weker yang berada tepat di atas laci kecil sebelah tempat tidurnya berbunyi dan mau tak mau ia harus bergerak untuk mematikan jam konyol itu.

"Payah, padahal hari libur," rutuknya entah kepada siapa sambil menggaruk kepalanya singkat.

Dengan rasa malas, Sakura pun menginjakkan lantai kamarnya yang berlapiskan karpet beludru agar tidak telalu dingin dan berjalan ke sebuah cermin besar yang berdiri sendiri dan hanya ada satu-satunya di sana. Saat ia hendak berkaca, matanya tertarik oleh sebuah catatan kecil yang tertempel di salah satu sudut atas cermin. Ia langsung menoleh seketika ke arah jam dinding yang tergantung di atas pintu kamar.

"Oh, saus tartar…"

Umpatan tersebut keluar dari mulut Sakura setelah otaknya kembali mengingat apa yang seharusnya akan ia lakukan hari ini setelah melihat catatan kecil—yang memang sengaja ditulis dan ditempel olehnya di cermin itu. Yah, setidaknya gadis bersurai merah muda itu bersyukur karena sudah menempel kertas itu di sana mengingat rutinitas pagi yang dilakukan Sakura setelah bengun tidur adalah bercermin.

Haruno Sakura bergegas menuju kamar mandi yang tidak seberapa jauh dari cerminnya berdiri setelah mengambil beberapa pakaian di dalam lemari. Ia melakukan segala persiapan di sana selama kurang-lebih lima belas menit lamanya, kemudian ia pun segera keluar dari sana dan mengambil sisir yang berada di atas meja belajarnya.

Ia menyisir rambutnya perlahan sembari mengira-ngira reka adegan yang akan terjadi detik-detik kemudian, menit-menit kemudian. Di dalam bayangannya, tak lama kemudian akan terdengar suara bel pintu rumah pertanda ada seseorang yang sedang berkunjung ke rumahnya ini, lalu ia akan berteriak memanggil namanya secara lengkap dan jelas—tanpa disingkat. Dan orang yang akan datang itu tak lain dan tak bukan adalah…

Suara bel pintu rumah yang nyaring berbunyi dan memantul hingga ke seluruh sudut rumah yang ada, tak terkecuali kamar nona manis yang baru saja selesai menyisir rambutnya yang berwarna langka ini.

"Haruno Sakura!" panggil seseorang di bawah sana dengan suara nyaring khas perempuannya itu melalui interkom yang tersedia di luar pagar kediamannya.

Yamanaka Ino.

Mendengar orang yang sudah ia prediksikan akan datang dan meneriaki namanya, Sakura berlari kecil menuju teras kamar setelah ia menggeser beberapa jengkal pintu kaca terasnya itu. Ia menatap lurus ke arah pagar rumah agar matanya dapat menangkap Ino yang sudah terlebih dahulu melihat ke arah teras kamarnya beserta mobil Honda Oddyssey di belakangnya.

"Tunggu sebentar, aku akan turun," balas Sakura keras dan tanpa niat yang berhasil membuat Ino sedikit jengkel mendengar nada balasannya itu.

Setelah menggeser kembali pintu teras dan menguncinya, Haruno Sakura mengambil tas ransel modisnya yang sudah ia persiapkan sejak kemarin malam dan bergegas menuju ke luar kamar setelah menarik kasar catatan kecil yang melekat di cermin tadi. Rambut gadis itu terlihat sedikit berlompat kecil saat ia menuruni anak tangga dengan tempo sedikit cepat dari biasanya, tangannya terlihat sibuk melipat dan memasukkan secarik kertas yang dicabutnya tadi ke dalam saku rok hitam yang dikenakannya.

Yamanaka Ino yang menunggu di luar tampak bersandar santai di mobilnya. Sesekali matanya melihat langit yang sudah berubah warna—dari biru cerah menjadi kelabu—dengan sangat cepat. Luar biasa. Bahkan ia yang berada di luar pun tidak sadar akan perubahan cuaca di atas kepalanya ini. Apakah ia terlalu tegang menunggu datang hari H teaternya? Mustahil jika seorang Yamanaka Ino yang sudah biasa pentas dari panggung besar ke panggung besar lainnya merasa gugup seperti ini. Ya, 'kan?

"Ino! Maaf lama menunggu," sapa Sakura dari kejauhan, sepertinya ia baru saja mengunci pintu rumahnya.

Di depan mata Ino, ia tampak sedang berjalan dari halaman rumah menuju gerbang rumah yang faktanya memang berjarak belasan—bahkan nyaris dua puluhan—meter itu. Melihat Sakura seperti itu rasa iba pun muncul begitu saja di permukaan.

Ino mengembuskan napas. "Mengapa kau tidak memakai mobilmu saja? Kenapa harus menumpang padaku?" tanyanya sedikit keras ketika Sakura sudah berjarak beberapa meter darinya.

Merasa ia sudah berada di jarak yang pas, Sakura mengambil Samsung Galaxy Note 3 dari dalam saku rok yang berbeda tempat dengan kertas kecilnya berada tanpa berniat menghentikan langkah kakinya dan melakukan sentuhan kecil di sana.

"Gate, open," ucap Sakura terhadap smartphone di tangannya masih sambil berjalan santai.

Pintu gerbang rumahnya yang bermodel klasik itu pun terbuka tanpa sentuhan tangan sedikit pun, seakan-akan menuruti segala apa yang dikatakan oleh Haruno Sakura, sang tuan rumah.

"Aku menumpang padamu juga terpaksa, Nona." Sakura kembali berbicara singkat kepada smartphone-nya ketika ia sudah sampai di luar gerbang rumahnya, "Gate, close." Ia kembali menatap Ino yang sudah berdiri tegak sembari melipat kedua tangannya, menunggu Sakura berbicara kembali. "Kemarin aku melihat ramalan cuaca bahwa hari ini akan hujan dan mengingat aku baru saja membawa mobil kesayanganku ke carwash, jadi aku menumpang padamu," jelasnya dengan diiringi bunyi background gerbang menutup dan mengunci otomatis di belakangnya.

Ino terlihat cengo melihat kejujuran Sakura dalam berkata-kata. "Jadi, hanya karena itu kau meneleponku kemarin malam untuk menjemputmu pagi ini?"

Tanpa rasa salah sedikit pun, Sakura menganggukkan kepalanya. Raut wajahnya terlihat ringan.

Sahabat berambut pirang di depannya berdecak kesal. "Entah kenapa setelah mendengar penuturanmu tadi, aku jadi merasa menyesal telah datang ke sini."

"Hei, hei, jangan begitu," rayu Sakura sambil berjalan ke arah Ino dan merangkul pundak sahabat satu-satunya itu, "bukankah kau sendiri yang bilang bahwa kau akan membantuku kapan saja di saat aku membutuhkanmu?" Ujung jari telunjuk Sakura mendorong pelan kepala Ino ke samping. "Sesama teman harus saling membantu, bukan?"

Yamanaka Ino bergerak gelisah, menepis rangkulan lengan mungil Sakura di pundaknya. "Tapi ini namanya memanfaatkan, bukan membantu."

Setelah menarik lengannya dari Ino, Sakura melirik sebentar jam tangan yang bersembunyi di balik ujung lengan kemeja yang memang terlewat panjang bagi tangannya. "Sudahlah, Ino, ayo kita segera berangkat! Aku tidak mau acara makan pagiku telat."

Iris biru berlian Ino menyipit ke arah Sakura di sebelahnya. "Kau memang sudah telat makan pagi, Sakura."

"Maka dari itu, aku tidak mau dibuat lebih telat dari ini."

"Memangnya kau mau makan di mana? Salah satu restaurant di Ko-FaMS?"

"Tidak, tidak. Itu nanti dulu." Sakura merogoh sebelah saku roknya. "Yang terpenting, aku ingin ke sini terlebih dahulu." Tangan putihnya menyodorkan secarik kertas kecil tepat di depan muka Ino sehingga sahabat berambut pirang panjangnya itu sedikit tergelak karenanya.

Mata gadis teater itu terlihat bergerak untuk membaca rentetan tulisan tangan Sakura yang sangat rapi tersebut, lalu matanya melirik ke arah Sakura. "Untuk apa kau ke sana? Memang ada tugas dari guru, ya?" tanya Ino dengan nada polos.

Mulut Sakura berdecak kecil saat tangannya bergerak untuk memukul pelan kepala Ino. "Bukan itu. Aku hanya ingin berkunjung ke tempat ini untuk membuang waktu liburku. Lagi pula, memangnya kau ingat ada guru yang menyuruh kita ke tempat ini untuk mengerjakan tugas?"

Ino menggeleng pelan.

"Lalu?" tagih Sakura.

Sahabat sejak kecil Sakura itu mengedikkan bahunya. "Barangkali otakku lupa mengingatnya karena belakangan ini memoriku penuh dengan pertunjukkan teater nanti."

"Dasar anak teater," umpat Sakura sambil membuang pandangannya ke arah lain.

Mendengar gadis pink itu seperti telah mengatainya, ia pun berkata, "Apa kau bilang?"

"Tidak." Sekali lagi, Sakura melirik ke arah jam tangan yang masih setia di pergelangan tangannya yang kecil. "Sudah, cepat masuk! Nanti jika aku pingsan kelaparan di tengah jalan dalam perjalananku menuju ke sana kau ingin tangggungjawab?" ujar Sakura seraya masuk ke dalam kursi penumpang di sebelah kemudi tanpa izin dari sang pemilik terlebih dahulu.

Benar-benar seenaknya.

Dengan rasa sedikit kesal, Ino pun kembali mendudukkan dirinya di kursi kemudi dan menemukan Sakura yang sudah duduk santai di sebelahnya. Sembari menyalakan mesin mobilnya, ia bertanya, "Kau ingin kuberhentikan di mana?"

"Turunkan saja aku di Ko-FaMS, nanti dari sana aku bisa jalan sendiri." Kepala Sakura tertoleh ke arah Ino. "Kau ingin berkunjung ke tempat pementasan teatermu akan berlangsung, 'kan?"

Tangan Ino merubah posisi persneling ke angka awal ketika kaki kirinya menginjak pedal kopling, lalu dilanjutkan menginjak pedal gas dengan kaki kanan. "Kalau begitu, kebetulan, aku akan melewati rute Ko-FaMS." Tangannya memutar steer secara perlahan hingga Honda Oddyssey miliknya mulai menelusuri jalan di perumahan itu.

Seulas senyuman terlukis di wajah Sakura. Ia mengalihkan pandangannya dari Ino menuju lurus ke depan kaca mobil. "Karena itulah aku menumpang padamu."

.

~Crack or Hack?~

.

Di pagi yang berawan tebal ini Konoha's Philosophy Museum sudah mulai dipadati oleh pengunjung dari berbagai distrik, baik dari distrik tetangga maupun dari distrik Konoha itu sendiri. Mungkin bagi beberapa orang berkunjung ke museum saat liburan merupakan hal yang paling menyenangkan karena selain berekreasi, pengunjung juga dapat menambah wawasan mengenai berbagai benda peninggalan masa lalu. Tetapi tak jarang juga yang datang ke museum hanya sekadar untuk melihat-lihat semata, entah itu karena bosan atau mengerjai tugas sekolah saja.

Di tengah-tengah ramainya para pengunjung yang ingin masuk ke dalam gedung Konoha's Philosophy Museum, dua buah mobil Mazda CX 7 dengan warna berbeda—biru dan merah—masuk ke dalam kawasan Konoha's Philosophy Museum melalui gerbang utama dan langsung melesat ke area lapangan parkir berada. Para pengunjung yang tertarik perhatiannya ke arah mobil tersebut mulai berceloteh kecil membicarakan kedua mobil tersebut dengan lawan bicara mereka masing-masing, bahkan ada juga yang hanya berdecak kagum dibuatnya.

Kesembilan pemuda yang menaiki Mazda CX 7 berwarna biru dan merah itu pun turun dari mobilnya dengan kondisi pintu mobil terbuka setelah kedua mobil itu terparkir bersebelahan dengan sangat rapi dan mulus di tempatnya. Maka, bertambahlah bahan pembicaraan para pengunjung yang ada. Terutama yang wanita.

Telinga Shikamaru yang langsung mendengar bisikkan para pengunjung yang membicarakan mereka diam-diam mulai terangsang. Ia merutuk pelan. "Dasar, padahal kita sudah datang ke sini tanpa mobil sport, tapi tetap saja kita jadi bahan obrolan."

Kiba yang duduk tepat di belakang Shikamaru dalam Mazda CX 7 warna merah pun langsung membalas perkataan pemuda keluarga Nara itu. "Mungkin kita menjadi bahan pembicaraan karena warna mobil yang kita naiki ini terlalu 'mencolok' bagi mereka."

"Bukankah sudah kubilang," ucap Sasuke setelah keluar dari kursinya yang berada di sebelah kemudi Mazda warna biru, kepalanya tertoleh ke arah kiri di mana Shikamaru, si pengemudi Mazda warna merah, berada tepat di sebelahnya, "kita harus memakai mobil yang 'tidak menarik perhatian', 'kan?" lanjutnya dengan diiringi deathglare mematikan.

Shikamaru bergidik ngeri ketika serangan deathglare Sasuke tepat mengenai dirinya. "Apa? Bukankah yang terpenting aku sudah meminjamkan transport yang tidak terlalu mencolok dari mobil sport sesuai perkataanmu?" tutur Shikamaru membela diri terhadap Sasuke.

"Berarti saranku yang memakai mobil jenis sedan dan berwarna hitam itu sudah benar," tambah Naruto yang tampaknya masih bersikukuh dengan pendapatnya beberapa saat lalu. Dirinyalah si pengendara mobil biru itu.

Sai mencoba meredamkan pembahasan mereka dengan diakhiri senyuman andalannya, "Sudahlah, yang terpenting kita tidak 'semencolok' dari saat kita membawa mobil sport, bukan?"

Kini giliran Shikamaru yang memberi deathglare ke arah Sai. "Seharusnya itu perkataanku," ujar Shikamaru yang dibalas tawa tanpa dosa dari Sai.

Kabuto yang sedari tadi mengedarkan pandangan ke sekitar mereka pun akhirnya mulai bersuara, "Tapi, tampaknya hari libur ini merupakan hari terpadat di Konoha's Philosophy Museum."

Ucapan Kabuto berhasil membuat Sasori dan kawan-kawannya ikut melemparkan pandangan melihat keadaan sekitar. "Ya, sesuai perkataanmu, Kabuto."

Shino yang lebih memilih untuk berdiam diri daripada ikut berbicara pun terlihat bergerak untuk membenarkan posisi kacamata hitam yang selalu dikenakannya. "Saa… Bagaimana kalau kita masuk sekarang saja?"

Ajakkan Shino direspon dengan tanda setuju—terlihat dari mereka yang mulai menutup pintu mobil secara bersamaan dengan selisih beberapa detik dan mulai berjalan menjauhi mobil mereka. Cara mereka berjalan yang menyerupai segerombolan pemuda yang ingin bersenang-senang pun menambah daya tarik yang ada. Dan itu membuat pemuda Uchiha kita satu ini menambah cangkupan luas aura gelapnya.

"Ano, Sasuke," panggil Naruto yang berada di paling belakang barisan, "kelihatannya mood-mu hari ini sedang buruk, ya?" tanya Naruto jujur dari lubuk hatinya.

Berhubung Sasuke sedang ber-mood jelek saat ini, jadi pendengarannya salah menangkap arti pertanyaan Naruto yang sebenarnya hanya sekadar 'bertanya' menjadi sebuah kalimat yang berusaha 'menyindir' perasaannya.

"Hah?" balas Sasuke dengan nada suara yang sangat dalam dan berat. Tidak lupa dengan tatapan membunuhnya.

Alhasil, Naruto yang takut akan tatapan mata Sasuke yang seperti ingin mencabik-cabik dirinya berusaha bersembunyi dibalik punggung Kabuto yang berada di sebelahnya. "Seram…"

Shikamaru yang merasa sedikit bersalah pun memberanikan diri untuk berbicara langsung kepada temannya yang sedang bertransformasi menjadi 'raja iblis' di sebelahnya, "Sasuke, jika kau masih kesal karena mobil yang kupinjamkan tidak sesuai seperti perkataanmu, aku minta maaf."

Sasuke yang raut wajahnya kembali normal seperti sedia kala melihat Shikamaru yang berada di sebelah kanan melalui ekor matanya. "Bukan." Matanya memandang lurus ke depan kembali. "Bukan itu penyebabnya, jadi kau tidak perlu meminta maaf."

Pemuda keturunan Nara yang mendengar pengakuan langsung dari Sasuke kini dapat bernapas lega karenanya. Setidaknya, menurut perkataan Sasuke, bukan mobil pinjamanlah yang membuat seorang Uchiha Sasuke menjadi seperti ini. Dan, jikalau pun Sasuke berkata ini semua karena mobil pinjamannya, itu berarti ia berhak untuk melimpahkan kemarahannya kepada ayahnya yang seenaknya ikut campur dengan mengganti mobil yang sudah disediakannya menjadi mobil 'mencolok' seperti itu.

Yah, menurut cerita di atas kita bisa mengetahui bahwa klan Nara memiliki bisnis yang sangat mempengaruhi arus timbal-balik dunia otomotif di Jepang. Nara's Motor Vehicles memiliki peran besar dalam urusan produksi otomotif dalam dan luar negeri. Karena itulah para keturunan klan Nara sangat ahli dibidang teknik, terutama mesin.

Sesampainya di pintu masuk, kesembilan pemuda tersebut sedikit dihalangi oleh para penjaga pintu masuk yang selalu siap sedia di tempatnya.

"Maaf, boleh lihat tiketnya," larang penjaga wanita tersebut seraya menengadahkan tangannya seperti minta sesuatu. Mata sang penjaga pintu masuk tersebut terlihat mencari beberapa lembar tiket yang setidaknya dibawa oleh salah satu dari mereka.

Untuk masalah kali ini, Sai yang berada di tengah gerombolan mereka pun memajukkan dirinya hingga berdiri berhadapan dengan si penjaga wanita. "Ini," ucap Sai sembari menunjukkan layar smartphone-nya ke arah lawan bicara. Di sana tertera sembilan buah kode tiket masuk. "Kami membeli tiket online."

Merasa sedikit malu akan perbuatannya, penjaga wanita tersebut mempersilakan kesembilan lelaki muda tersebut untuk masuk. "Maaf sekali lagi, silakan masuk!"

Lalu, mereka pun masuk ke dalam ruangan pertama Konoha's Philosophy Museum dengan leluasa setelah melewati mesin pendeteksi logam yang tersedia. Ruangan utama museum ini berbentuk lingkaran sempurna dengan dihiasi beberapa anak jalan menuju ke bagian ruangan yang lain. Di luar perkiraan ternyata langit-langit Konoha's Philosophy Museum ini memiliki langit-langit yang sangat tinggi.

"Wah, sudah lama aku tidak ke sini!" seru Naruto gembira. "Kalau tidak salah ingat terakhir aku ke sini itu sewaktu aku berumur 12 tahun."

"Benar juga, rasanya seperti bernostalgia," timpal Kiba atas ucapan Naruto. Matanya berkeliling melihat pengunjung lain di sekitar. "Tapi, tampaknya Konoha's Philosophy Museum ini dari dulu selalu sepi peminat, ya."

Shino berdeham, menarik perhatian. "Bukannya sepi peminat, hanya saja orang-orang malas untuk datang ke sini mengingat peraturannya yang ketat, jadi mereka yang hanya datang ke museum untuk sekadar bersenang-senang pun tidak akan datang. Lagi pula, hari ini sepertinya pengunjungnya sedikit lebih ramai dari biasanya."

Sesuai pernuturan Shino di atas. Menurut hasil riset, Konoha's Philosophy Museum merupakan museum yang memiliki harga tiket masuk termahal dibandingkan dengan museum lainnya. Para pengunjung yang ingin bertamu pun harus berpakaian rapi dan formal. Jika tidak, siap-siaplah untuk ditendang keluar dari wilayah museum ini. Maka dari itu, Konoha's Philosophy Museum sedari dulu hanya didatangi orang-orang yang berkepentingan serta berasal dari kalangan menengah ke atas saja.

Kini giliran Sasori yang mengutarakan rasa penasarannya, "ada sesuatu apakah yang membuat tempat ini sedikit lebih ramai? Apakah ada event?"

"Jika dibilang ada event, sepertinya tidak mungkin," jawab Sai menurut pemikirannya sendiri, "karena biasanya jika museum ini mengadakan suatu event atau perkenalan objek baru mereka pasti akan memasang spanduk iklan di halamannya."

Karena tidak berniat dan mempunyai minat untuk ikut berbicara dengan yang lain pun akhirnya Sasuke lebih memilih mendengarkan daripada menyuarakan pendapat. Tapi benar juga perkataan Shino, biasanya para pengunjung malas datang ke Konoha's Philosophy Museum dikarenakan peraturannya yang ketat, dan sekarang pengunjung sepertinya menjadi sedikit bersemangat datang ke sini.

Sebersit perkataan ayahnya beberapa hari yang lalu terlintas di pikirannya, belakangan ini aku menerima kabar bahwa penjagaan di museum itu mulai goyah.

Sasuke menghela napas dalam. Aa… pantas saja. Mungkin itu salah satu alasannya.

"Ada apa, Sasuke?" tanya dari salah satu temannya, Nara Shikamaru.

Kepala Sasuke menggeleng pelan. "Tidak." Matanya yang tajam menatap wajah temannya yang sudah berjumlah delapan orang itu. "Daripada kita membuang waktu lama, lebih kita segera melaksanakan apa tujuan kita di sini."

Mendengar perkataan Sasuke yang seperti sebuah perintah membuat seulas senyuman muncul di bibir temannya masing-masing.

"Roger!" seru mereka bersamaan dengan nada yang berlainan.

Secara kompak, mereka mengeluarkan sebuah digital camera yang sudah dipersiapkan sejak kemarin hari. Tanpa aba-aba pun mereka saling berpencar berjauhan satu sama lain menuju ke lokasi yang menurut mereka harus difoto hingga dapat tergambar dengan jelas nantinya, mengingat pekerjaan mereka setelah semua foto ini tercetak adalah 'memeriksa ulang dan merakit denah Konoha's Philosophy Museum'.

Dalam melaksanakan aksi ini, mereka mengambil gambar dengan sikap selayaknya pengunjung Konoha's Philosophy Museum yang lainnya. Tatkala mereka berpura-pura membaca keterangan benda yang berada di balik kotak kaca yang terpajang itu dan melihat-lihat yang lainnya.

Mungkin, anggota yang paling ahli dalam melakukan kegiatan ini adalah Naruto dengan sifat natural yang dimilikinya. Tidak hanya membaca keterangan seperti pelajar yang ingin mengerjai tugas semata, tapi terkadang Naruto juga ikut bercakap dengan pengunjung lain mengenai apa saja di museum ini serta menyapa anak kecil yang tak sengaja berpapasan dengannya.

Tapi, kesantaian Naruto yang terlalu enjoy membuat ketiga anggota baru yang tidak sengaja melihat atau sekadar bertemu pandang dibuat bertanya-tanya, 'apakah pemuda berambut kuning itu benar-benar melakukan tugasnya dengan sikap seperti itu?'.

Beda pendapat dengan Sasuke dan lainnya yang sudah sedari dulu mengenal Naruto—luar dan dalam. Bagi mereka, sifat kealamian milik Naruto merupakan pagar pelindung agar orang di sekitar mereka tidak menyadari alasan sebenarnya mereka di sana. Setidaknya, memiliki satu orang yang bersifat seperti itu dalam sebuah tim bisa dibilang penting.

Setengah jam lebih pun tidak terasa berlalu dengan singkat.

Pemuda berambut chicken-ass—yang notabene adalah ketua dari timnya—telah sampai terlebih dahulu di lokasi 'pemotretan' terakhir. Sesuai perkataanya mengenai aksi kali ini kemarin hari bahwa barangsiapa yang sudah selesai melakukan apa yang harus dilakukan, berkumpullah di bagian belakang lantai dua museum.

Yah, inilah arena terakhir dari aksi kecil mereka hari ini.

Di depan mata hitam kelam seorang Uchiha Sasuke kini terlihat dengan jelas sebuah ruangan berukuran lumayan yang dibatasi oleh sebuah pintu kaca tembus pandang anti peluru. Di tengah ruangan itu tampak kaca berbentuk kubus yang di dalamnya terdapat sebuah permata yang pernah dilihatnya di kertas hasil pencariannya.

The Dead Justice.

Permata itu beralaskan sebuah bantalan empuk selaras dengan warna sang intan. Tidak lupa bahwa kaca tersebut ditopang oleh sebuah pilar bertekstur unik. Tampaknya memang sengaja dibedakan dengan meja benda pajangan lainnya.

Karena rasa penasaran dengan kondisi dalam ruangan itu pun Sasuke bergeser ke arah kiri dan kanan untuk melihat apa saja yang terdapat di dalamnya. Dan, benar saja. Terdapat dua orang penjaga ketat yang saling memunggungi di dekat kubus kaca permata itu. Sesekali mereka terlihat berjalan mengelilingi permata sambil mengedarkan pandangannya.

Sasuke pun berinisiatif untuk melihat daerah ruangan yang bisa dijangkau oleh matanya dengan berpura-pura melhat barang yang dipamerkan di dekat pintu kaca itu. Mengantisipasi kecurigaan jika tertangkap oleh kedua pasang mata penjaga itu.

Ketika memiliki kesempatan, matanya tampak melirik melalui ekor matanya—menembus pintu kaca itu.

Sepertinya hanya dua orang.

"Teme! Ternyata kau di sini," ujar Naruto dari kejauhan dengan suara baritone.

Merasa terpanggil dengan kata 'teme', Sasuke pun memalingkan kepalanya ke arah sumber suara. "Memangnya kau mau aku di mana lagi?" Iris onyx-nya menangkap bahwa teman jabrik kuningnya itu tidak sendiri, ia tampak bersama dengan Sai, Gaara, Kiba, dan Sasori.

Naruto tampak berdeham setelah berada di sebelah Sasuke. "Kau tahu? Aku menunggumu di pintu sebelah sana," jari telunjuk Naruto tampak menunjuk ke arah Timur area pintu kaca, "dan untungnya, aku melihat kau dari tempatku menunggu setelah mendekatkan diri ke arah pintu kaca."

Alis Sasuke bertautan satu sama lain. "Memangnya ada pintu lain selain pintu ini?"

Uzumaki Naruto berdecak kesal. "Memangnya tak terlihat dari sini?" balas Naruto bertanya, "Untungnya lagi, sesaat aku kemari, aku bertemu dengan mereka berempat." Ibu jari Naruto menunjuk ke balik punggungnya.

"Halo, tampaknya pembicaraan kalian tadi seru sekali," sindir Sai dengan senyumannya karena baru sekarang ditanggapi oleh pemuda stoic yang sedari tadi berceloteh singkat meladeni Naruto tanpa menyapa mereka terlebih dahulu.

"Tidak, aku sudah tahu kalian bersamanya," jawab Sasuke jujur.

Tak lama kemudian, Sasuke mengajak kelima insan yang baru tiba ditempatnya ke balik balok kaca pajangan yang berhadapan langsung dengan pintu kaca tempat pemuda Uchiha itu menunggu. Lalu, memerintahkan mereka agar merunduk bersama.

"Mengapa kau menyuruh kami untuk seperti ini?" tanya Gaara dengan nada santainya.

Tidak mau menjelaskan panjang-lebar, tangan kanan Sasuke bergerak untuk menepuk dua kali bagian meja kayu yang menjadi penopang balok kaca panjang tersebut. Mengerti akan maksud Sasuke agar keberadaan mereka terhalang oleh sang meja, Gaara pun menganggukkan kepalanya sebanyak dua kali.

Sasori menghela napas panjang guna meredamkan debaran jantungnya yang tiba-tiba muncul. "Lalu, apa yang akan kita lakukan?"

Pemuda Uchiha tersebut mengangkat kepalan tangan kanannya, pertanda diam. "Kita tunggu tiga lainnya."

Tak ada yang berani bersuara sedikit pun setelah akhirnya ketiga orang yang ditunggu-tunggu pun lewat di depan mata. Tidak ingin mereka lewat begitu saja, Sasuke pun berpemikiran untuk mengetuk kayu meja pajangan di belakangnya sebanyak tiga kali agar mereka yang ditunggunya mengalihkan pandangannya ke sumber suara.

Sesuai dengan perhitungan Sasuke, ketiga pemuda itu pun menolehkan kepalanya dan melihat kelima temannya yang sedang dalam posisi berjongkok. Baru saja salah satu dari mereka yang tiba ingin menanyakan alasan mengapa mereka berbuat seperti itu, tapi ibu jari Sasuke lebih dulu menunjuk ke balik meja di belakangnya.

Mata mereka pun mengikuti arah ibu jari Sasuke karena penasaran apa yang ingin ditunjukkan oleh ketua mereka itu. Kini di depan matanya tampak seorang penjaga yang tengah berjalan mengitari sesuatu di tengah ruangan di balik pintu kaca. Rasa terkejut pun tak terelakkan ketika penjaga itu mulai mengedarkan pandangan ke arah mereka, secara serempak pun mereka berempat merundukkan badannya agar terhalang meja pajangan yang berada di balik punggung Sasuke dan kawan-kawan.

Yah, Sasuke memang sengaja tidak menyuruh mereka berjongkok terlebih dahulu untuk melihat situasi di dalam sana.

Naruto dan Kiba pun terkikik geli menahan tawa mereka karena melihat reaksi ketiga pemuda itu. Jujur saja, raut wajah shock mereka itu memang sungguh lucu.

Tanpa perintah lagi, mereka bertiga pun langsung merangkak menuju keenam pemuda yang lain berada.

Sesampainya mereka semua berkumpul, Sasuke pun bertanya, "Apa yang kalian lihat?"

Shikamaru mendengus tegas. Matanya menatap Sasuke dalam. "Kau sengaja, ya?"

Kedua pundak Sasuke tampak terangkat. "Menurutmu?" balasnya bertanya.

Sadar karena jika berdebat dengan lawan bicaranya itu ia akan kalah, Shikamaru pun menghela napas panjang. "Tadi aku melihat seorang penjaga berjalan seperti sedang mengitari sesuatu di tengah ruangan itu."

"Bukan satu," koreksi Kabuto akan perkataan Shikamaru, membuat ketiga orang yang datang bersamanya menoleh ke arahnya, "tadi aku melihat seorang lagi sedikit lebih jauh ke belakang."

"Berarti ada dua penjaga di dalam sana," tukas Shino mengambil kesimpulan.

Berarti sama seperti hasil penglihatanku, tambah Sasuke di dalam hatinya.

"Jadi?" tanya seseorang dari mereka kepada Sasuke—seperti menuntut apa perintah selanjutnya dari sang ketua.

Pemuda berambut chicken-ass yang sudah tidak tahan dihujani beberapa pasang tatapan mata ke arahnya pun memulai perkataan panjangnya dengan sebuah hembusan napas dalam. "Coba kalian lihat sebuah larangan yang tertulis di dinding sebelah kanan pintu kaca."

Dilarang Memotret.

Sekiranya itulah bunyi larangan bergambar yang terpampang rapi di tempat sesuai ucapan Sasuke sebelumnya. Ah, tidak lupa dengan serentetan tulisan penjelas dalam bahasa Jepang tepat di bawah gambar tersebut. Setelah puas, mereka kembali menghujani sang Uchiha dengan tatapan mata mereka yang menumpuk.

"Sebuah larangan, hah?" Suara respon Gaara terdengar duluan. Pertanyaan itu ditunjukkan kepada Sasuke agar rekan ber-style stoic-nya itu mengkonfirmasi benar-tidaknya apa yang retinanya tangkap.

Tak mau kalah, Naruto juga mengeluarkan isi hatinya saat melihat tulisan tersebut, "Larangan, larangan everywhere…" singgung Naruto dihiasi tawa pelan beberapa temannya.

"So," kini giliran Sai yang mengeluarkan pertanyaan yang meronta di pikirannya, "jika kita dilarang membawa kamera ke dalam sana, dengan apa kita mengambil gambar wujud sebenarnya permata itu?"

Sasuke mengambil napas dalam. Mata tajamnya terlihat menutup sesaat. "Hanya ada satu cara yang bisa kita lakukan dalam jumlah banyak seperti ini."

Jari telunjuknya bergerak menarik semua rekan setimnya yang tampak penuh dengan raut wajah bertanya untuk mendekat hingga membentuk sebuah lingkaran penuh tanpa cela. Jika ada orang lain melihat kondisi mereka sekarang ini, mungkin mereka akan merasa penasaran apa yang orang-orang muda itu lakukan.

Detik demi detik pun berlalu begitu cepat. Mereka kembali berjauhan satu sama lain setelah usai dengan perbincangan rahasia mereka. Raut wajah bertanya pun hilang seketika dari masing-masing wajah yang ada.

"Kalian sudah siap, teman?" Pertanyaan Sasuke direspon oleh sebuah anggukkan, tanda siap tidak siapnya mereka.

"Go."

Seketika mereka pun terpecah menjadi tiga bagian setelah mendengar nada perintah yang tidak begitu tegas dari ketua mereka. Kelompok kecil Kiba dan Sai bergerak ke arah pintu area The Dead Justice bagian Barat dan kelompok Shino, Sasori, Gaara, dan Naruto bergerak ke arah pintu Timur, sedangkan tiga orang sisanya—yakni Sasuke, Shikamaru, dan Kabuto—menetap di lantai mereka duduk sembari sedikit mencuri penglihatan ke arah dalam sana.

Kelompok pertama yang masuk terlebih dahulu adalah kelompok empat orang yang berasal dari pintu Barat.

Sasori, Shino, Naruto, dan Gaara memasuki ruangan dengan berakting saling berbicara satu sama lain layaknya sekumpulan anak muda yang sudah lama tidak berkunjung ke Konoha's Philosophy Museum. Pembicaraan mereka terdengar berisik mengingat peran Naruto di sini adalah menjadi orang yang paling cerewet di antara mereka berempat. Dan, tentu saja suara Naruto-lah yang paling mendominasi.

"Wow, ruangan ini berbeda dengan ruangan yang lainnya, ya!" seru Naruto mengungkapkan argumennya dengan sangat jujur dari lubuk hatinya.

Tangan kanan Gaara bergerak memegang belakang lehernya sambil memasukkan tangan kirinya ke dalam saku. "Tempat ini tampak terisolasi, seperti ruangan khusus," tutur pemuda tanpa alis itu menanggapi pernyataan Naruto yang bukanlah sebuah pertanyaan.

Aburame Shino membenarkan posisi kacamata hitam yang dipakainya. "Teman-teman, sebaiknya kita jangan lupa tujuan sebenarnya kita ke sini itu untuk apa."

Sasori yang tidak mau kalah akting pun mulai mengedarkan pandangannya mengelilingi ruangan yang pada dasarnya dikhusukan untuk permata The Dead Justice. "Ah, apakah itu permatanya?" tanya Sasori sambil menunjukkan jari telunjuk ke arah objek utama.

Tanpa protes lagi, ketiga temannya yang lain pun mengikuti arah jari telunjuk Sasori. Dan, Naruto yang memang memiliki watak sok akrab pun mulai melancarkan serangan andalannya.

"Hei, petugas penjaga permata yang di sana!" seru Naruto seraya berjalan cepat ke arah salah satu petugas itu dan melambaikan sebuah tangan ke udara. Membuat salah satu penjaga memutarbalikkan badannya ke arah belakang.

"Bolehkah kami bertanya-tanya seputar permata yang Anda jaga ini? Sebentar saja," lanjut Naruto.

Ingin rasanya petugas yang dihampiri Naruto itu menolak tawarannya karena malas meladeni pertanyaan anak muda satu ini, lagipula mereka sudah diperintahkan atasan mereka agar memperketat sistem penjagaan yang sudah mulai longgar. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, bukankah mereka hanya ingin tahu mengenai info permata itu?

Sang petugas itu pun melirik permata The Dead Justice yang berada di sampingnya seakan-akan meminta izin untuk meninggalkan penjagaannya sebentar.

"Baiklah," jawab penjaga permata itu disertai dengan senyuman ramah, "apa yang bisa kujawab untuk kalian?"

Mendengar jawaban dari penjaga permata yang dihampirinya itu membuat air muka Naruto terlihat bahagia. "Terima kasih!" ucap Naruto layaknya pemuda baik hati dan pastinya tanpa penjaga permata itu ketahui jika dalam hatinya kini Naruto tengah tersenyum penuh kemenangan.

"Teman-teman, ayo ke sini!"

Mendengar Naruto memanggil mereka bertiga mendekat ke arahnya sudah dipastikan kalau pemuda Uzumaki itu sudah berhasil mengalihkan penjagaan petugas itu hanya untuk mereka. Tanpa ragu lagi pun mereka mendekati Naruto bersama salah satu petugas itu.

Maka, Sasori pun memulai pertanyaan pertama dari segudang pertanyaan yang sudah ia pikirkan sedari tadi.

"Jadi, apakah benar permata ini memiliki sejarah yang menyedihkan?"

Baiklah, sepertinya tim Naruto dan kawanannya berhasil mengalihkan perhatian salah satu dari dua penjaga yang ada. Dan, kini giliran Kiba dan Sai yang beraksi dari pintu yang berlawanan dari tim empat orang itu.

Suara langkah kaki dua orang pun mulai menghiasi suara yang terpantul di area The Dead Justice. Menarik perhatian seorang penjaga yang memang sedang bebas tanpa terbebani pertanyaan keempat pemuda yang sangat bersemangat di sana.

Melihat kondisi itu, membuat Kiba tak mau kalah unjuk gigi setelah melewati pintu kaca otomatis yang menjadi pembatas ruangan permata tersebut dengan ruangan di luar sana.

Pupil mata Kiba berkeliaran mengelilingi area The Dead Justice dan terpakulah ia saat matanya berhasil menangkap sebongkah tokoh utama di ruangan tersebut. "Wah! Sai, lihat! Itu permata yang baru saja kita bicarakan, 'kan?"

Kiba pun tak segan untuk berjalan cepat agar dapat melihat permata berkilauan itu dari dekat. Tapi, alangkah sialnya ia ketika badan besar penjaga permata tersebut menghalangi dirinya agar tidak mendekat lebih dari jarak pemberhentian langkahnya.

"Maaf, Anda tidak boleh mendekat lebih dari ini," kata si penjaga tersebut dengan sigap.

"Kiba!" seru Sai sambil jalan mendekat ke arah temannya yang nekat dan memang terlihat memalukan karena berbuat seenaknya itu. "Sudah kubilang jangan mendekat! Permata itu dijaga ketat!"

Sebelum Kiba memulai perkataannya, matanya berhasil menangkap arah pandang penjaga yang berhasil mencegahnya mendekat itu. Tampaknya penjaga ini kewalahan menjaga permata tersebut sendirian, itu semua terbukti dari matanya yang terkadang melirik ke arah temannya yang sedang sibuk dikerubungi oleh keempat pemuda labil tersebut. Oh, dan jangan lupa juga bahwa dia tertangkap berdecih kecil sekali.

Kiba memundurkan langkah kakinya hingga dapat melihat penjaga tersebut lebih leluasa. "Pak Penjaga, bisakah Anda lebih sopan? Jika saya tidak dapat memberhentikan langkah kakiku dengan tepat dan menabrak tubuh Anda, bagaimana?"

Mendengar protesan dari anak muda di depannya benar-benar sangat menyebalkan untuknya. "Maafkan saya, saya meakukan ini agar Anda tidak melewati garis kuning yang sudah menjadi batasan wajib Konoha's Philosophy Museum ini."

Dengan rasa tidak suka pun Kiba melihat ke arah lantai di bawah. Yang benar saja, ternyata memang ada batasan kuning di sekeliling kotak kaca pajangan The Dead Justice tersebut.

OK, ini bukanlah akhir dari segalanya. Seorang Inuzuka Kiba tidak mungkin kehabisan ide dan kalah dari perdebatan buatan ini. Yah, ini semua demi lancarnya rencana yang sudah dibuat bersama.

"Memangnya ada apa dengan permata itu?" tanya Kiba dengan nada yang mungkin terdengar cuek. "Apakah segitu berharganya?"

Melihat penjaga tersebut yang sepertinya sudah masuk ke dalam permainan Kiba, Sai pun member kode jarinya kepada Kabuto yang sedari tadi mengintip ke dalam sana menggantikan posisi Sasuke yang saat ini sedang mempersiapkan kameranya.

Yakushi Kabuto yang sudah menerima kode pertanda baik dari Sai pun mulai menarik diri dari posisi mengintipnya dari balik lemari kaca pajangan museum yang berhadapan langsung dengan pintu utama are The Dead Justice tersebut.

"Bagaimana?" tanya Shikamaru yang sedari tadi sibuk mengamati daerah di sekitar persembunyian mereka.

Pemuda berkacamata minus itu membenarkan posisi kacamatanya. "Sepertinya mereka sudah bekerja dengan baik."

Senyuman miring Sasuke pun terlihat jelas setelah mendengar kabar yang sedari tadi di tunggunya. "Ayo, kita tuntaskan segera."

Mereka bertiga pun berdiri dari lantai marmer yang sudah lama diduduki oleh mereka dan mulai berjalan mendekati pintu kaca area permata incaran mereka itu tanpa terdengar ketukan sepatu yang mampu membuat kedua penjaga itu menoleh ke arah mereka.

Tangan kekar Sasuke yang sedari tadi mengatur kecekatan lensa kamera dalam fokus dan mengambil gambar pun sudah ia siapkan. Terlihat Sasuke sedang mengatur angle yang tepat untuk menangkap gambar permata tersebut tanpa ketahuan sembari berjalan lurus ke depan. Sesekali mata tajamnya melirik ke arah layar sentuh kamera agar bisa membandingkan jarak dan waktu.

Ketika mereka bertiga mulai melangkahkan kaki melewati area batas sensor pintu otomatis itu, Sasuke dengan cepat kilat mengambil gambar tepat setelah pintu kaca tersebut membuka tipis dan terpampanglah berlian yang berkilau tersebut dengan sangat jernih di layar kamera tersebut.

Dengan segera pun Sasuke menyimpan kamera tersebut ke dalam saku celananya dengan mulus. Tak peduli kameranya masih dalam kondisi menyala.

"Teman-teman, ayo kita pulang!" ujar Shikamaru dengan sikap malasnya, ia tampak menguap sejenak. "Bukankah katanya kita mau makan?"

Mendengar ajakkan Shikamaru yang menandakan tugas kali ini selesai membuat Naruto, Sasori, Sai, dan yang lainnya segera meninggalkan petugas penjaga permata tersebut dengan seru kegirangan. Para penjaga pun berhasil dibuat shock mendadak ketika mengetahui bahwa keempat pemuda dan kedua pemuda tadi adalah teman.

Sungguh anak muda yang merepotkan, ucap kedua penjaga tersebut bersamaan dalam hati.

Uzumaki Naruto dengan girang pun langsung memeluk tengkuk Sasuke ketika berada di sebelahnya. "Jadi, apakah kau berhasil mendapatkan tugas utama kita hari ini, Tuan Uchiha?"

Sasuke terlihat mendengus meremehkan. Tangan kanannya bergerak untuk mengambil kamera yang tadi disimpannya dan memamerkan hasilnya tepat di depan mata Naruto. "Aku tidak pernah gagal, Dobe."

Senyuman sumringah Naruto mengembang lebar. "Baiklah! Mari kita makan!" teriak Naruto yang berhasil menggema hingga ke seluruh lantai dua Konoha's Philosophy Museum.

Sebelum mereka bersembilan menghilang dari pandangan kedua penjaga permata yang masih melihat para pemuda labil tersebut, Uzumaki Naruto—dengan nada khasnya—mengucapkan salam perpisahan kepada dua orang yang berada di belakangnya.

"Oh, iya! Terima kasih sudah bersedia membanu tugas kami, ya, Penjaga The Dead Justice! Jaa!"

Dan, pada akhirnya punggung mereka pun menghilang dari pandangan.

Penjaga permata 'B' yang melayani dua orang—lebih tepatnya, satu orang—yang sibuk berargumentasi dengannya pun mulai melayangkan perkataan yang sedari tadi memenuhi pikirannya. "Apa-apaan mereka itu?"

Diiringi tawa singkat, penjaga 'A' yang lebih sibuk meladeni keempat pemuda tadi pun menjawab, "Itulah anak muda, selalu membuat repot orang sedangkan dirinya tidak mau direpoti."

Tak lama setelah ucapannya mengudara, suara walkie-talkie yang berada di saku baju seragamnya pun mulai berisik membuat salah satu penjaga tersebut menjawab panggilan yang memanggil kode namanya.

Setelah sekian lama saling bercakapan satu sama lain, salah satu penjaga tersebut pun menyudahi obrolannya dengan orang di sana, "Baiklah, kami akan segera ke sana."

Kedua penjaga tersebut saling bertatapan satu sama lain, menganggukkan kepalanya, dan saling melihat daerah sekitar memastikan bahwa tidak ada tamu lagi di lantai dua ini. Mengingat dapatnya kabar bahwa tangga untuk menuju ke lantai dua ini sudah ditutup sekitar dua menit yang lalu.

Sudah pasti akan kekosongan lanta dua ini, kedua penjaga itu pun bergegas keluar dari ruangan area penjagaannya. Meninggalkan The Dead Justice di singgasananya.

Detik demi detik pun berlalu, hingga tidak ada lagi suara langkah kaki para petugas di lantai dua yang sedang menuruni tangga yang menghubungi lantai satu dan dua.

Sepi.

Itulah yang terasa sebelum sesosok siluet manusia datang dari pintu Timur dan mendekat ke arah The Dead Justice berada. Suara ketukan sepatunya sangat halus hingga tak terdengar bahwa ada sebuah langkah kaki di lantai dua yang terbilang luas ini.

Tanpa keraguan sedikit pun, gadis berambut panjang merah muda tersebut melangkahkan kakinya melewati garis kuning pembatas yang berada di sekeliling lantai arena permata yang bernilai sangat tinggi di dunia tersebut.

Tangan mungilnya yang terbalut sarung tangan kulit berwarna hitam itu dengan berani menyentuh kotak kaca pelindung The Dead Justice. Dilihatnya lebih seksama permata biru yang berkilauan terpajang di dalam sana.

Puas melihat apa yang ada di depan matanya, iris emerald-nya pun berpaling ke arah jalan di mana kesembilan pemuda yang membuat kegaduhan tersebut keluar dari tempat ini.

Sebuah senyuman licik pun tak terelakkan keluar dari bibirnya yang manis.

~CrackHackerz~

Tsuzuku

To be Continued...

Hari Kamis | Jakarta, 5 September 2014 | Pukul 00.37 WIB


A/N: Hai, berjumpa lagi dengan aku di fict ini! *laughing* Sumpah! Tak terasa ternyata aku sudah tidak meng-update fict kurang dari 5 bulan lamanya! *Sigh* Liburan itu memang menyenangkan… Berterima kasih kepada Shaun yang sudah mau mengirimiku pesan dengan pertanyaan 'tidak polos'nya yang berisi, "Kapan CHz-nya mau di-update?".
Jujur saja, sebenarnya aku sudah malas melanjutan fict-ku karena kembali terbuai serunya bermain
game itu *EvilLaugh* Tapi kupikir-pikir lagi, kasihan juga para pembaca setia CHz di PHP-in. Jadi, aku rela meninggalkan games-ku sementara waktu dan memfokuskan diri untuk membuat chap ini hingga bertuliskan TBC dan menghasilkan nyaris 5,8k words! … Tepuk tangan dong….

Sebelum balasan review, aku minta maaf jika banyak deskripsi ngaco dan typo yang bertebaran, ya. Sumpah, Author gak re-check lagi *dikeroyok* Karena rasanya kalau belum di update belum tenang rasanya. Kalau masalah re-check itu… yah, gampanglah… bisa kapan-kapan itu *laughing*.
Sudah, ya, curhatnya kepanjangan… dan terima kasih sudah mau baca!

Reply of Review:

Princess Cica: Sebenarnya feel-ku tidak bermasalah, yang bermasalah itu "otak"ku. Entah kenapa terkadang jadi ribet sendiri mendeskripsikan ceritanya. Cerita tentang permata itu hanya karangan dadakanku, kok… Chemist-nya dapat, 'kan? 143 for you too *ditendang* Thanks for your review!

Aegyo Yeodongsaeng: Thank you sudah mau suka fict CHz ini! Masalah cerita ini tamat sampai chap berapa Author sendiri belum bisa mengirakannya *krik* Thanks for your review!

Asterella Roxane: Cerita SasuSaku belum ada perkembangan karena belum kutakdirkan bersama. Semoga saja aku mempunyai semangat nulis, ya. By the way, nama "Cergo"-ku itu tanpa huruf 'h', OK? Thanks for your review!

AkinaJung: Silakan, silakan! Mau memasukkan saran dan kritikkan yang membangun juga silakan. Thanks for your review!

Zizy Hinamori: Oh, ternyata ada reader yang nyadar juga apa yang mengganjal di kisah The Dead Justice *applause*. Maaf ya kalau tiap baca fict ini pertanyaan yang memenuhi kepalamu itu semakin bertambah. Thanks for your review!

Yamasaki Kane: Cerita The Dead Justice itu hanya karanganku, kok… Tiba-tiba saja semangat buat kisah tragis seperti itu. Wow, kau lebih muda dariku! Hanay beberapa tahun sih… Mengenai permata itu imitasi atau bukan, silakan ikuti lebih lanjut. Thanks for your review!

Minato ulquiorra : Tebakanmu to the point banget! Kita lhat saja nanti tebakanmu benar atau tidak *laughing* Thanks for your review!

Luca Marvell: Sepertinya di chap ini kau sudah mengetahui tujuan Sakura permatanya atau bukan. Thanks for your review!

Uchirunosasuku aiedokiriyuuki : Pen name-mu sesuatu banget, ya… Aku sampai hafalin tiap huruf di namamu itu. Sepertinya kecurigaanmu sudah terjawab di chap ini, ya. Salam kenal juga! Thanks for your review!

Eysha CherryBlossom: Sasuke dan Sakura nanti akan bertemu jika sudah waktunya, kok. Dan jujur saja, sebenarnya aku juga belum tahu Sakura itu siapa *bohong* Thanks for your review!

Eunike Yuen: SasuSaku akan bertemu…mungkin sebentar lagi? Entahlah. Selamat ya kau sudah memenangkan juara 3 dalam lombamu! Berarti ada traktiran, nih… *laughing* Bercanda. Memang bisa ke VPN dan ganti IP-nya, tapi percuma saja kalau di negara itu bermasalah. Thanks for your review!

Sheryl Euphimia: Thanks a lot. Jika sudah waktunya, nanti kau juga akan tahu bagaimana cara mereka bertemu. Thanks for your review!

Shaun: Typo terjadi bukan karena terpeleset, tapi karena otak dan jariku salah mengirakan tombol keyboard-nya, maka itu terjadilah "typo's". Menurutmu setelah membaca chap D ini, bagaimana? Thanks for your review!

Piyo piyo: Terima kasih atas jempolnya, boleh kuambil? *laughing* Ah iya, otakku salah memberi perintah, harusnya itu "ketiga orang" bukan "keempat orang". Good job! SasuSaku akan bertemu, kok. Tapi gak janji chap depan, ya. Thanks for your review!

Narnialow2003: For all readers: Sepertinya banyak yang suka penggalan cerita The Dead Justice, ya? Padahal itu dibuatnya benar-benar dadakan, loh. Tapi kuakui sih saat menulisnya aku juga merinding sendiri. End. Ada misteri lagi atau tidaknya tergantung jalan cerita di otakku, tapi sepertinya gak ada lagi, deh… Thanks for your review!

Skylar Knightwalker: How can you do that? Access FFn from B*lt, I mean. Do you follow my suggestion? Or not? If you already read this chap, maybe you can find the answer of your question *smirk* Honestly, your guess about what Sakura looking for on her gadget is true. Thanks for your review!

New-kazuran: Halo, salam kenal juga! Fict-nya masih belum tergolong super keren, kok. Thanks for your review!

Kikyu RKY: Ah, maaf typo bertebaran. Selama liburan aku malas untuk proofread lagi. Thanks for your review!

Aguma: Ini masih action kecilnya. Kalau di panggung besarnya nanti, ya. Thnaks for you review!

Blupii: SasuSaku satu sekolah, tapi masih belum kenal satu sama lain. Jadi… yah, masih saling penasaran gitu. Nanti juga mereka kan bertemu, kok. Thanks for your review!

1: Thanks, yo! Kalau fict ini sampai chap 30-an, mungkin bisa, ya. Lihat saja nanti, Author juga belum bisa mengirakan. Nikmati saja, OK? Thanks for your review!

Yumi Ara: Seluruh pertanyaanmu mungkin sudah terjawab setelah kau membaca chap D ini. Sorry tidak bisa update kilat, ya. Ngaret banget, iya. Thanks for your review!

MerisChintya97: Di chap ini memang ada action-nya, tapi masih kecil-kecilan, kok. Di panggung besarnya nantikan, ya. Baguslah jika penyakit pelupamu itu sudah kau minimalisir. Kau mengikuti saranku yang "cuci otak"mu itu, ya? *laughing* Thanks for your review!

Guest: OK, ikutin terus cerita ini, ya! Kasih masukkan juga boleh, kok. Dan semoga saja semakin seru kedepannya, ya. Thanks for your review!

Candice-cherry: Peran Sakura masih belum bisa ditebak, ya? Ternyata keinginanku untuk membuat dia lebih misterius dari Sasuke benar-benar terwujud. Nantikan pertemuan mereka, ya. Thanks for your review!

Iis Vadelova: Yoroshiku mo. Mau nebak jalan cerita di review sangat diperbolehkan. Mungkin tebakanmu ada benarnya juga. Yah, kita lihat saja nanti. Thanks for your review!

UchihA keiME: Maaf ya fict genre minor terkadang memang susah dicari. Apalagi kalau update-nya ngaret banget. Seperti fict inilah jadinya. Ayo, coba tebak Sakura di sini jadi apa? Thanks for your review!

Crystal: Akan terus dilanjutkan kok ceritanya. Hanya bermasalah pada rasa malasku saja sih… Kalau pair, mungkin akan ada. Terus ikuti, ya. Thanks for your review!

Hydrilla: Tak apa, waktu itu aku juga sibuk untuk UN. Pertanyaanmu seputar fict ini banyak juga, semisterius itukah Sakura di fict CHz ini? Sorry tidak bisa update ASAP karena waktuku semakin "menipis". Thanks for your review!

Guest: Sudah update. Ikuti terus, ya. Thanks for your review!

Alta0sapphire: Di akhir chap D ini pertanyaanmu sudah terjawab, bukan? Thanks for your review!

Broken Reveries: Wah, akhirnya ada yang koreksi grammar-ku! Maaf ya kalau ada beberapa yang berantakan karena—jujur saja—aku malas buat re-check lagi, terkadang ada juga aku ganti jenis tenses-nya tapi 'to be' dan kawanannya lupa kuganti… yah, ketahuan deh… *EvilLaugh* Ya sudahlah, ya, karena yang penting aku sudah update dan beban hilang. Kalau masalah proofread sih… yah, bisa kapan-kapan seperti yang kubilang di atas *contohyangtidakbaik* Masalah rating akan tetap setia di rate T, kok. Kata 'still' dan berbagai macamnya hanya untuk "hiasan" semata. Dan terakhir, mungkin kau harus memanggilku "nii-chan", OK? Thanks for your review!

Nurulita as Lita-san: Saku memang kubuat misterius agar tidak kalah dengan si chicken-ass. Thanks for your review!

Sinhye: Sudah lanjut. Thanks for your review!

Muthmainnah067: Jawabanmu sudah terjawab di bagian terakhir scene ini. Thanks for your review!

A/N 2: Sumpah, ini Author Note terakhir di chap ini! Langsung saja, mungkin saat kalian lagi baca chap ini ada yang bertanya, "Ini Author kok manggil Sasuke itu chicken-ass, bukan chicken-butt?" Jawabannya adalah menurut gue—maksudnya aku—si Sasuke itu lebih pantas dan cocok dipanggil chicken-ass karena secara dia itu cowok, bukan? Jadi lebih terlihat badass-badass sedikitlah. Dibandingkan dipanggil chicken-butt, entah kenapa jadi terlihat… lucu? *laughing* Mungkin ini hanya persepsiku sendiri mengingat diriku dan si chicken-ass itu sama gender-nya. Gue baik, 'kan, Sasuke?

OK, terima kasih sudah mendengar—atau lebih tepatnya melihat—curcolanku yang mungkin gak penting banget. Entah kapan kita akan bertemu lagi… #ditimpuk

So, sorry for all miss typo!
I have told you before.
"Keep reading, guys!"
"And always stay tune."

Signature,

Huicergo Montediesberg