Embrace The Chord
Oleh Santhy Aghata
Disclaimer:
Cerita ini milik Santhy Aghata.
Bukan milik saya.
Saya di sini hanya meremakenya karena sebuah kesepakatan/?
Kalian bisa membaca ff ini di blog milik Santhy Aghata.
Warning:
Yaoi inside! Age switchDon't like, don't read! Simple right?
Terima kasih. Selamat membaca!
.
.
.
{{Part 4}}
.
.
.
Baekhyun membelalakkan matanya, tangannya yang sedang menyuap sarapannya terhenti begitu saja di udara, dia terperangah,
"Apa?"
"Itu Jongin..." Mamanya masih memasang ekspresi takjub yang sama, "Dia menelepon sendiri tadi dan..." lalu mamanya seolah tersadar, "Cepat Baekhyun, selesaikan sarapanmu, kita berangkat sekarang."
Lalu tanpa menunggunya, mamanya bangkit dari kursi, merapikan riasannya, meraih tas dan kunci mobil. Setelah sampai di pintu, mamanya menoleh dan mengernyit melihat Baekhyun yang masih bengong melihat tingkah sang mama.
"Kenapa kau masih di situ Baekhyun? Ayo cepat kita berangkat."
Baekhyun hanya mengangkat bahu, meletakkan makanannya dan meneguk susu cokelat di depannya. Matanya melirik sayang kepada sarapannya itu... yah padahal masih banyak... gumamnya dalam hati, mengutuk Jongin yang menelepon pagi-pagi.
Tetapi baru kali ini mamanya bersikap terburu-buru dan panik seperti itu. Sepertinya terpilihnya Baekhyun menjadi murid khusus Jongin benar-benar berarti baginya. Tiba-tiba saja Baekhyun teringat akan papanya, papanya adalah pemain biola... mungkin jauh di dalam hatinya, sang mama ingin agar Baekhyun mengikuti jejak ayahnya.
...
Mereka sampai di halaman parkiran akademi musik itu, setelah sang mama memarkir mobil di area khusus pengajar, dia berjalan bersama Baekhyun melalui koridor, menuju ruangan direktur tempat janji temu mereka.
"Ini kesempatan besar, Baekhyun, dan mama tidak mau kau menyia-nyiakannya. Jongin tidak pernah mengambil murid khusus sebelumnya, jadi kau adalah pertama dan yang terbaik."
Baekhyun cuma mangut-mangut, meskipun dalam benaknya dia kebingungan. Kenapa Jongin memilihnya? Sekarang hal itu baru terpikir olehnya... bukankah di audisi kemarin banyak sekali anak-anak dengan teknik dan kemampuan yang lebih tinggi darinya? Apa yang istimewa dari Baekhyun yang hanya memiliki kemampuan musik standar?
Dan juga, Chanyeol pasti akan terkejut dengan berita ini... ah Chanyeol! Tiba-tiba saja Baekhyun merasa bersalah... harusnya Chanyeol yang mendapatkan kesempatan ini. Kemampuan teknik bermain biola Chanyeol tentu saja ada di atas Baekhyun, dan juga hasrat Chanyeol bermain biola lebih besar darinya, juga kekaguman Chanyeol terhadap Jongin.
Baekhyun menggelengkan kepalanya, dia tidak bisa melakukan ini kepada Chanyeol. Lelaki itu begitu baik hati, dan begitu mendengar kabar ini dia pasti akan menyalami Baekhyun dan mengucapkan selamat. Tetapi Baekhyun tahu Chanyeol pasti menyimpan kekecewaan yang disembunyikan.
"Aku tidak bisa menerimanya, mama." Baekhyun bergumam keras, berusaha menarik perhatian mamanya yang berjalan terburu-buru di depannya.
Langkah mamanya terhenti, perempuan itu menoleh dan menatap Baekhyun terkejut,
"Apa? Apa maksud perkataanmu itu?"
Baekhyun menggelengkan kepalanya sekali lagi, "Entah apa pertimbangan Jongin memintaku menjadi murid khususnya, tetapi aku tidak bisa menerimanya mama, karena ini tidak adil terhadap mereka yang mempunyai hasrat bermain biola yang lebih murni dariku... aku...aku..."
"Kau memikirkan Chanyeol?" sang mama mengangkat alisnya, "Dia pasti akan mengerti, dia pemuda yang baik dan berjiwa besar, jadi dia akan mendukungmu dan ikut senang denganmu. Jangan sampai itu menghalangimu untuk maju, Baekhyun." mamanya menggandeng Baekhyun lalu mengajaknya berjalan lebih cepat menuju ruangan itu.
Mereka sampai di depan pintu ruang temu, dan mama Baekhyun mengetuknya. Dalam sekejap pintu terbuka dan Tuan Lee yang membukakan pintu.
"Silahkan masuk." Lelaki itu membuka pintunya lebar, mempersilahkan Mama Baekhyun dan Baekhyun masuk.
Di sana, duduk di atas sofa dengan wajah dinginnya yang begitu sempurna, ada Jongin yang menatap mereka semua dengan tatapan mata datar. Lelaki itu sedikit mengangguk sopan kepada mama Baekhyun yang duduk di depannya.
Tuan Lee menyusul duduk di seberang sofa, menatap semuanya,
"Saya rasa kita sudah tahu tujuan pertemuan ini. Jongin menawarkan Baekhyun menjadi murid pribadinya. Dan saya rasa kita sepakat dengan itu bukan?"
Baekhyun mengerutkan kening, menatap Jongin yang hanya terdiam dengan wajah datar, kenapa lelaki itu tidak bicara? kenapa dia mewakilkan pembicaraan kepada Tuan Lee?
"Tentu saja kita sepakat. Saya sungguh merasa terhormat, anak saya yang terpilih menjadi murid khusus." gumam Mama Baekhyun cepat.
Tuan Lee mengangguk, "Kami melihat bahwa permainan biolanya istimewa, bukan begitu Baekhyun? Mulai sekarang kau akan berada di bawah bimbingan Jongin."
"Tidak." Tiba-tiba saja Baekhyun mempunyai keberanian untuk berbicara, dan kalimatnya itu membuat semua orang yang ada di ruangan itu tertegun.
Jongin yang pertama kali bergumam pada akhirnya, matanya menatap tajam ke arah Baekhyun,
"Apa?" desis lelaki itu setengah marah setengah tak percaya.
"Maafkan saya." Baekhyun berdiri, membungkukkan badannya setengah meminta maaf kepada semua yang ada di ruangan itu, "Itu benar-benar kehormatan yang luar biasa untuk saya, tetapi saya tidak bisa menerimanya, karena itu terasa tidak benar, masih banyak siswa lain yang lebih berhak daripada saya. Sekali lagi terimakasih, tetapi saya tidak bisa menerimanya. Permisi." Baekhyun membungkukkan badannya sekali lagi lalu berbalik dan melangkah pergi.
"Baekhyun!" mamanya memanggilnya gusar, "Mama sudah bilang jangan lakukan ini demi Chanyeol!" sang mama berdiri hendak mengejar Baekhyun, tetapi Jongin sudah berdiri duluan, menoleh dingin ke arah mama Baekhyun.
"Biarkan saya yang berbicara kepadanya." gumam Jongin cepat, lalu melangkah keluar mengejar Baekhyun.
...
Baekhyun berjalan melalui koridor itu, hendak menuju area parkir.
Mamanya pasti akan marah besar kepadanya. Mungkin nanti dia akan diomeli habis-habisan di rumah, dan mungkin mamanya akan terus-menerus jengkel kepadanya selama beberapa lama karena menyia-nyiakan kesempatan ini, tetapi bagaimanapun juga Baekhyun merasa bahwa ini adalah hal yang benar. Demi Chanyeol... dia tidak akan melangkahi ataupun mengkhianati Chanyeol.
"Apakah kau pikir ini sepadan?" suara Jongin yang tenang membuat Baekhyun terperanjat dan hampir menjerit.
Entah kapan, Jongin ternyata sudah melangkah di sebelahnya, Baekhyun mungkin terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri hingga tidak menyadari Jongin mendekat.
"Maksudmu?" Baekhyun mengerutkan keningnya, sedikit mendongak menatap Jongin yang melangkah di sebelahnya. Yah, Jongin cukup tinggi sementara Baekhyun mungil dan pendek.
"Mengorbankan kesempatan besarmu hanya demi pacarmu?"
Baekhyun mengerutkan keningnya, Pacarnya?
"Mamamu bilang kau melakukan ini demi Chanyeol, dia pacarmu bukan? Apakah kau pikir sepadan mengorbankan kesempatan besarmu untuk menguasai biola dengan baik hanya demi menjaga perasaan pacarmu?"
"Bukan hanya demi Chanyeol." Baekhyun membantah meskipun dalam hati dia mengakui bahwa sebagian besar alasannya adalah Chanyeol. "Juga demi anak-anak lain yang saya rasa lebih pantas dengan kemampuan yang lebih tinggi daripada aku."
Langkah Jongin terhenti seketika, membuat Baekhyun juga menghentikan langkahnya, dia menoleh dan melihat Jongin berdiri di sana, menatapnya dengan tatapan mata tersinggung,
Lelaki itu lalu berjalan mendekat, melangkah di depan Baekhyun yang terpaku karena mata tajamnya, jemarinya terulur dan menyentuh dagu Baekhyun, mendongakkannya.
"Dengarkan aku baik-baik." bibir Jongin menipis, tampak marah ketika berkata, "Aku tidak pernah main-main dalam memilih murid. Jangan pernah mempertanyakan keputusanku. Aku memilihmu karena aku melihat kau seperti berlian yang belum diasah." Jongin menundukkan kepalanya, dan kemudian mengecup bibir Baekhyun dengan kecupan tipis dan singkat, "Hanya aku yang bisa mengasahmu sehingga cemerlang. Jadi aku akan tetap mempertahankan tawaranku, kapanpun kau berubah pikiran, datanglah kepadaku." bisiknya pelan di telinga Baekhyun , dan kemudian tanpa kata lelaki itu membalikkan badan, meninggalkan Baekhyun yang membeku karena ciuman itu. Tak bisa berkata-kata, hanya menatap tertegun ke arah punggung Jongin yang makin menjauh.
...
"Mama sangat kecewa kepadamu, Baekhyun." sang mama berkata kemudian ketika mereka sudah berada di mobil dalam perjalanan pulang, "Kenapa kau lakukan itu?"
Baekhyun hanya terdiam, menatap lurus ke depan, dia bahkan hampir-hampir tidak mendengar perkataan mamanya. Bibirnya masih terasa panas... Jongin.. lelaki itu, kenapa lelaki itu mengecup bibirnya? Apakah itu pelecehan? Kenapa Jongin melakukannya? Apa jangan-jangan Jongin memang biasa melakukannya kepada siapapun? Tetapi kenapa dia? Baekhyun tahu bahwa Jongin terkenal sebagai penakluk perempuan, tetapi korbannya selalu perempuan-perempuan yang lebih tua...bukankah itu memang selera Jongin? tetapi kenapa dia? kenapa Jongin menciumnya?
Pertanyaan itu terngiang-ngiang terus di benaknya, membuat Baekhyun mengerutkan keningnya.
"Baekhyun!" sang mama memanggilnya, membawa pikirannya kembali ke dunia nyata, "Apakah kau mendengar perkataan mama?"
Baekhyun mengehela napas panjang, "Maafkan aku mama... aku rasa ini keputusan yang terbaik."
Mamanya melirik sedikit kepadanya dari balik kemudia, "Segera setelah kau memikirkannya baik-baik, kau pasti akan menyesali keputusan ini, Baekhyun."
...
Ketika masih merenung di kamarnya, terdengar suara ketukan di sana, Baekhyun mengerutkan keningnya.
Siapa yang datang malam-malam begini?
Baekhyun melangkah ke pintu kamarnya dan membukanya, Chanyeol berdiri di sana, tersenyum lebar.
"Mamamu menyuruhku langsung ke sini, bolehkah aku masuk?"
Sebenarnya Baekhyun merasa agak canggung, sejak kecil mereka memang berteman akrab dan Chanyeol sering sekali bermain di kamarnya, tetapi menjelang mereka remaja sampai sekarang, Chanyeol hampir tidak pernah masuk ke kamarnya lagi.
"Aku akan membiarkan pintunya terbuka." Chanyeol tampak geli membaca keraguan Baekhyun, dan kemudian tanpa permisi dia masuk ke kamar Baekhyun, dan duduk di kursi belajar Baekhyun.
"Wow, sudah lama aku tidak kesini, dan kamarmu tidak berubah, seperti kamar anak sepuluh tahun." Chanyeol terkekeh, matanya memandang ke sekeliling ruangan Baekhyun yang didominasi warna pink dan boneka-boneka kelinci dengan warna senada.
Baekhyun mendengus, pura-pura kesal, "Jangan mengomentari kamarku. Dan katakan kepadaku, kenapa kau datang ke sini malam-malam begini. Mama yang menyuruhmu ya?" Baekhyun melangkah di depan Chanyeol dan duduk di tepi ranjang,
Chanyeol mengangkat bahunya,
"Ya, mamamu menghubungiku dan menceritakan semua kejadiannya."
Baekhyun memalingkan muka, "Aku tidak akan berubah pikiran meskipun kau membujukku."
"Baekhyun." suara Chanyeol tampak sabar, seperti suara yang selalu digunakannya ketika Baekhyun merajuk di waktu mereka kecil, "Itu kesempatan besar, dan mendengar kau menolaknya hanya karena aku, itu membuatku sangat sedih."
Baekhyun memasang wajah datar, "Bukan hanya karenamu kok, aku hanya merasa aku tak pantas menerima kesempatan itu."
"Kau pantas." Chanyeol menyela. "Penilaian Jongin bukan main-main, Baekhyun. Ingat dia adalah seorang pemain biola jenius, dia bisa melihat kemampuan tersembunyi yang orang lain tidak bisa melihat, Baekhyun." Chanyeol tersenyum lembut, "Dan lagipula, menurut penilaianku, permainan biolamu sangat indah."
Ketika Baekhyun hanya terdiam, Chanyeol bangkit dari kursi dan berlutut di tepi ranjang, tepat di depan Baekhyun, wajah mereka berhadapan sangat dekat, membuat Baekhyun tersipu.
"Terimalah tawaran itu Baekhyun, demi aku. Oke?"
Baekhyun memalingkan wajahnya yang terasa panas, "Aku akan memikirkannya, tapi aku tidak janji."
Chanyeol terkekeh, "Oke. Dasar anak keras kepala, aku akan menunggu kabar baik darimu." Lelaki itu menghela napas panjang, "Dan juga aku harus menyiapkan waktu untuk kelas tiga bulan yang akan di ajarkan oleh Jongin, kau tahu Kyungsoo mungkin sedikit sedih karena aku tidak bisa menyediakan banyak waktu untuknya, padahal aku sudah berjanji."
"Kyungsoo?" Baekhyun menyambar, sedikit bingung ketika Chanyeol menyebut nama Kyungsoo, Kyungsoo adalah teman seangkatan Chanyeol di akademi musik dulu, dia seorang pemain piano, sangat cantik dengan penampilan yang sangat kalem dan lembut, begitu bertolak belakang kalau dibandingkan dengan Baekhyun.
"Iya, Kyungsoo, kau masih mengingatnya bukan? Saking sibuknya dengan persiapan audisi aku sampai lupa menceritakannya kepadamu." Senyum Chanyeol melebar, "Kami tidak sengaja bertemu ketika aku mengikuti sebuah pesta bersama papa, dia sibuk dengan pendidikan musiknya di Italia... tetapi sekarang, untuk beberapa lama dia akan berada di Indonesia karena liburan semester, dan kemudian aku berjanji kepadanya untuk menemaninya selama di sini." Lelaki itu mengedipkan sebelah matanya, "Siapa yang tahu kalau hubungan kami bisa lebih dari pertemanan, kau tahu bukan dulu aku naksir kepadanya. Dan sekarang dia sedang tidak terikat dengan siapapun."
Baekhyun tahu, dan ketika itu, di masa lalu, masa-masa Chanyeol begitu memuja Kyungsoo membuatnya menyimpan perih yang dalam, yang disembunyikan jauh di dalam hatinya. Tetapi waktu itu Kyungsoo sudah punya pacar, dan Chanyeol tidak punya kesempatan, jadi Baekhyun bisa tenang. Setelah Chanyeol dan Kyungsoo lulus dari akademi, dan Kyungsoo melanjutkan pendidikannya di luar negeri, Baekhyun merasa tenang... apalagi setelah itu Chanyeol tampaknya tidak dekat dengan perempuan manapun.
Dan sekarang Kyungsoo kembali? ... tidak sedang terikat dengan siapapun... begitu kata Chanyeol tadi.
Baekhyun langsung merasakan dadanya diremas oleh perasaan pedih yang sama, perasaan yang sudah hampir dilupakannya bertahun lalu.
"Kalau begitu aku pulang dulu Baekhyun, sudah malam." Chanyeol melirik jam tangannya, lalu melempar senyum manis kepada Baekhyun sebelum pergi, "Ingat, aku akan menjadi orang pertama yang sangat bahagia kalau kau menerima kesempatan itu."
...
Kenapa dia mencium Baekhyun? Kenapa dia mencium anak perempuan ingusan itu?
Jongin merenung di tengah hingar bingar pesta itu, merasa marah kepada dirinya sendiri. Oh Astaga, Jongin yang begitu berpengalaman kepada perempuan, tidak bisa menahan diri dan mencium Baekhyun, anak ingusan yang lebih muda delapan tahun darinya, yang mungkin bahkan belum pernah berciuman sebelumnya!
Dan kenapa pula Baekhyun berani-beraninya menolak tawarannya? Tawaran istimewa yang mungkin tidak akan pernah diberikannya kepada orang lain?
Hati Jongin dipenuhi kemarahan. Dia akan membuat Baekhyun memohon-mohon untuk menjadi muridnya. Dia pasti bisa melakukannya.
Baekhyun mungkin jenis perempuan yang suka membuat lelaki mengejarnya, pura-pura menolak sebelum meminta bagian yang lebih besar... mungkin saja Baekhyun sengaja memanipulasi Jongin. Mungkin saja Baekhyun seculas perempuan-perempuan lain yang dikenalnya selama ini, seculas ibunya...
Dan Jongin tidak akan membiarkan Baekhyun melakukan itu kepadanya, dia akan memberi Baekhyun pelajaran karena berani-beraninya menolaknya.
.
.
.
Bersambung ke part 5
