Embrace The Chord
Oleh Santhy Aghata

Disclaimer:
Cerita ini milik Santhy Aghata.
Bukan milik saya.
Saya di sini hanya meremakenya karena sebuah kesepakatan/?
Kalian bisa membaca ff ini di blog milik Santhy Aghata.

Warning:
Yaoi inside! Age switchDon't like, don't read! Simple right?

Terima kasih. Selamat membaca!

.

.

.

{{Part 5}}

.

.

.

"Kelas Jongin akan dimulai lusa." Chanyeol yang datang pagi-pagi ke rumah Baekhyun untuk menumpang sarapan - seperti yang biasa dilakukannya hampir setiap hari - menatap Baekhyun dengan pandangan penuh ingin tahu, "Jadi kau belum berubah pikiran tentang tawaran Jongin?"

Baekhyun menelan susu cokelatnya dengan susah payah ketika topik itu diangkat. Sebenarnya, semalaman dia memikirkan keputusannya, dan kemudian bertanya-tanya dalam hati, apakah dia terlah bertindak terlalu dangkal dan bodoh? Apakah sebetulnya Chanyeol benar-benar tidak apa-apa kalau Baekhyun mengambil kesempatan yang ditawarkan Jongin kepadanya itu?

Chanyeol sendiri tampaknya tidak memperhatikan pikiran yang berkecamuk di benak Baekhyun, dia sibuk mengunyah wafel enak buatan mama Baekhyun, dan kemudian lelaki itu seolah teringat sesuatu, dan mendongakkan kepalanya,

"Biasanya sebelum kelas Jongin akan ada pesta perayaan, sejenis pesta dansa dan diadakan di akademi dengan mengundang semua murid, sekaligus sebagai pesta tutup tahun. Para guru akan datang, dan orang-orang penting di dunia musik akan datang."

"Oh ya, pesta itu." Baekhyun tahu tentang pesta itu, biasanya dihadiri oleh para murid senior, guru dan orang-orang penting di bidang musik. Pesta itu juga menjadi ajang pertemuan antara para siswa yang sedang menapaki karier di bidang musik dengan orang-orang penting yang telah lebih dahulu menanjak. Tetapi sampai sekarang, Baekhyun belum pernah sekalipun ikut ke pesta itu, selain karena dulu dia masih kelas yunior, mama Baekhyun melarang Baekhyun mengikuti pesta di malam hari ketika usianya masih tujuh belas tahun atau di bawahnya.

Tetapi sekarang Baekhyun sudah delapan belas tahun. Mamanya mungkin akan mengizinkannya mengikuti pesta itu.

Diam-diam Baekhyun melirik ke arah Chanyeol, lelaki itu tampak tampan sekali dengan bibir tipis dan hidung mancung yang terpadu sempurna. Mungkin... mungkin kalau Chanyeol menemaninya ke pesta itu, mamanya akan lebih setuju lagi untuk membiarkannya datang ke pesta itu.

Baekhyun langsung membayangkan, itu adalah pesta dansa. Jadi kalau dia datang berpasangan dengan Chanyeol, ada kemungkinan dia akan berdansa dengan Chanyeol, diiringi musik waltz yang romantis, dalam pakaian yang seperti puteri... ya ampun... rasanya mimpi itu indah sekali.

"Maukah kau datang ke pesta itu bersamaku? setahuku pestanya akan diadakan besok malam." tiba-tiba Chanyeol bergumam, membuat Baekhyun tertegun dengan mulut menganga, tidak percaya akan pendengarannya.

"Apa?"

Chanyeol meneguk susu cokelatnya dengan santai, "Sebenarnya aku ada janji dengan Kyungsoo, tetapi dia akan datang dengan ayahnya, kau tahu ayahnya sangat menjaganya jadi tidak mengizinkannya datang ke pesta dengan pria, apalagi pestanya di malam hari... Ayahku juga sama, dia terus menerus menyuruhku melakukan riset tentang permainan biola setiap malam dan pasti akan melarangku mendatangi pesta, nah kupikir-pikir aku akan mengajakmu datang ke sana saja kita berangkat dari sini berbarengan, jadi. aku bisa beralasan bahwa aku mengantarmu untuk berkompromi dengan Jongin."

Perasaan Baekhyun yang melambung langsung merosot jatuh dengan kerasnya, benaknya terasa sakit dan beku, seperti diguyur oleh air es. Rasa sakit langsung menyeruak di dada Baekhyun, semua impiannya untuk berdansa bersama dengan Chanyeol, melewatkan malam romantis dengan hubungan lebih dari kakak adik ataupun sahabat dekat langsung musnah begitu saja.

"Baekhyun?" Chanyeol bertanya ketika Baekhyun hanya terpaku dan tidak memberikan tanggapan apa-apa, "Jadi bagaimana? Kau akan pergi denganku atau tidak? kau mau membantuku bukan Baekhyun?" Chanyeol melemparkan tatapan mata penuh permohonan, "Aku mohon, karena pertemuan dengan Kyungsoo amat sangat berarti untukku."

Baekhyun tergeragap, lalu dengan pedih menganggukkan kepalanya, "Tentu saja aku akan pergi denganmu, Chanyeol."

...

"Pergi dengan Chanyeol?" mamanya mengangkat alisnya, "Pesta itu berlangsung jam delapan sampai jauh larut malam, dan sebenarnya diperuntukkan bagi orang dewasa." ada ketidaksetujuan di dalam suara mama Baekhyun, "Lagipula mama tidak pernah bisa datang ke pesta itu karena mama tidak kuat terjaga sampai malam..."

Baekhyun menghela napas panjang, mamanya sama saja seperti yang lain, selalu menganggapnya seperti anak kecil.

"Mama, aku sudah delapan belas tahun... dan pesta itu juga dihadiri oleh siswa-siswa senior seumuranku, lagipula aku pergi dengan Chanyeol, dia akan menjagaku."

Sang mama tampak merenung, mempertimbangkan semuanya, lalu akhirnya menghela napas panjang,

"Oke baiklah, kau boleh pergi, tapi bilang pada Chanyeol bahwa dia harus sudah memulangkanmu sebelum pukul sebelas malam." Mama Baekhyun mengangkat alisnya sambil menatap anak uke semata wayangnya yang cenderung berpenampilan tomboi itu, "Pestanya besok, dan itu merupakan pesta dansa resmi, apakah kau sudah mempersiapkan pakaian, Baekhyun?"

Baekhyun mengernyit. Pakaian? hal itu sama sekali tidak terpikirkan olehnya, dia menelaah isi lemarinya dan baru sadar bahwa dia hampir tidak punya pakaian yang bagus. Semua pakaiannya pakaian santai, bukan dipakai untuk pesta, itupun hanya sedikit jumlahnya, selebihnya lemarinya dipenuhi oleh T-shirt dan celana jeans serta kemeja...

Mamanya menatap ekspresi Baekhyun dan tersenyum geli, "Ayo kita pergi dan berbelanja pakaian." gumamnya, tiba-tiba merasa bersemangat bisa mempunyai kesempatan untuk mendandani Baekhyun yang biasanya tidak mau berdandan itu.

...

Mereka akhirnya mendapatkan sebuah pakaian setelah beberapa kali keluar masuk di kompleks perbelanjaan yang sangat ramai itu.

Pakaian itu sederhana, berwarna ungu muda, nyaris putih, modelnya melekuk di tubuh sampai ke pinggang, lalu jatuh terjuntai melebar ke bawah, sampai semata kaki. Mamanya juga memilihkannya sepatu dengan warna senada untuk melengkapi penampilannya.

Baekhyun menatap pakaian yang digantungkan oleh mamanya di lemarinya itu dan kemudian tersenyum miris.

Yah... secantik apapun penampilannya nanti, Chanyeol sepertinya tidak akan meliriknya, karena lelaki itu pasti akan memusatkan perhatiannya kepada Kyungsoo yang pasti beribu kali lebih cantik daripada Baekhyun.

...

Malam pesta itu tiba. Jongin memasang jas-nya dan menatap cermin, lalu tersenyum muram, dia harus menjemput Minhyun, kencannya malam ini.

Yah, Jongin sedang berperan sebagai kekasih yang sempurna sebelum nanti menghancurkan Minhyun jika waktunya tepat.

Jongin memang selalu memilih pasangan yang lebih tua, dia memilihnya dengan hati dingin dan kejam, mencari yang semirip mungkin dengan ibunya, karena semakin mirip maka akan semakin puas hatinya ketika menyakiti mereka nanti...

Tiba-tiba saja bayangan akan Baekhyun melintas di benak Jongin. Apakah Baekhyun akan datang ke pesta dansa itu? Jongin tersenyum sini, seharusnya Baekhyun datang, dan dia pasti akan ditemani oleh Chanyeol, pasangan yang dibelanya mati-matian itu.

Yah... pesta itu akan sangat menarik kalau Baekhyun benar-benar datang, dia akan memanfaatkan kesempatan itu untuk membuat Baekhyun tidak berkutik lagi...

Tiba-tiba saja Jongin tidak sabar untuk segera datang ke pesta itu.

...

Baekhyun menatap bayangannya di cermin dan mengernyit, dia tampak seperti uke yang berbeda malam ini, dengan pakaian kalem dan riasan wajah tipis yang disapukan mamanya ke pesta.

Sang mama juga menatap cermin, tersenyum melihatnya,

"Nah, sekarang kau sudah siap untuk datang ke pesta." Mama Baekhyun mengedipkan sebelah matanya, "Ayo, temui Chanyeol yang sudah menunggu di bawah, dia pasti akan sangat terpesona kepadamu." gumam sang mama, membuat pipi Baekhyun memerah karena malu.

Hati-hati Baekhyun melangkah ke bawah, menuruni tangga, dia memang tidak terbiasa mengenakan sepatu hak tinggi, sekarang saja kakinya sudah terasa pegal. Baekhyun berdoa semoga kakinya bisa bertahan, dia tidak mau jatuh ataupun terkilir gara-gara sepatu ini.

Dan benar, sepertinya Chanyeol terpesona, karena lelaki itu membelalakkan matanya, lalu bersiul memuji ketika melihat penampilan Baekhyun.

"Wow... pakaian itu sangat cocok denganmu, Baekhyun. Kau benar-benar tampak seperti uke."

Pujian yang menggoda itu membuat Baekhyun membelalakkan matanya, "Memangnya selama ini aku tidak tampak seperti uke?"

Chanyeol tergelak, lalu mengulurkan tangan dan menggandeng Baekhyun menuju mobilnya,

"Aku baru sadar, selama ini aku jarang sekali memandangmu sebagai uke." gumamnya ringan.

Dalam perjalanan, Baekhyun merenungkan kata-kata Chanyeol... jadi begitu, Chanyeol jarang memikirkannya sebagai uke, karena itulah lelaki itu tampak amat sangat tidak peka dengan perasaan yang dipendam oleh Baekhyun kepadanya. Baekhyun menghela napas pedih, yah, mungkin selamanya dia harus bertahan, menahankan sakit hati karena selalu dipandang sebagai anak kecil, sebagai adik oleh Chanyeol.

Tapi... bukankah kata-kata Chanyeol tadi menyiratkan kalau dia mulai menyadari bahwa Baekhyun tampak seperti seorang uke? Mungkinkah pakaian dan penampilan feminim ini memberikan kesempatan baginya? Mungkinkah Chanyeol terpesona dengannya hingga mempunyai perasaan lebih?

Yah. Baekhyun sungguh-sungguh berharap itu bisa terjadi.

...

Harapan Baekhyun langsung runtuh seketika ketika dia melihat penampilan Kyungsoo yang rupanya sudah menunggu Chanyeol di lobby ruang dansa. Kyungsoo luar biasa cantiknya dengan pakaian warna merah gelap yang kontras dengan kulitnya yang cerah berkilau dan rambut cokelatnya yang panjang bergelombang sampai ke pundak. Dan uke itu tampak seperti uke dewasa -Baekhyun melirik iri ke arah tubuh yang sintal dengan lekuk menonjol dan seksi dan pinggulnya yang seperti gitar spanyol- Yah bagaimanapun juga, Baekhyun tampak seperti anak kecil jika dibandingkan dengan Kyungsoo.

Dan sepertinya Chanyeol juga berpikiran seperti itu, karena mata lelaki itu langsung berbinar ketika melihat Kyungsoo.

"Kyungsoo, kau cantik sekali." Chanyeol mengulurkan tangannya dan Kyungsoo langsung menyambutnya sambil tersenyum lebar.

"Kau terlalu memuji, Chanyeol."

"Aku tidak hanya memuji tapi sungguh-sungguh, bagiku kau adalah uke tercantik di pesta ini."

Kata-kata Chanyeol langsung membuat hati Baekhyun mencelos, untung saja dia berhasil menyembunyikannya dalam ekspresi datarnya ketika Kyungsoo akhirnya melihatnya dan menyapanya,

"Hai Baekhyun, apa kabar?"

Baekhyun mencoba tersenyum manis, "Kabarku baik." dia lalu melongok ke dalam ruang dansa, "Permisi sebentar, ada yang harus kulakukan."

Chanyeol tersenyum lebar, "Jam setengah sebelas kita bertemu di sini lagi ya Baekhyun, aku sudah berjanji kepada mamamu, dan dia akan membunuhku kalau aku tidak membawamu pulang tepat waktu."

Baekhyun hanya menganggukkan kepalanya, melirik sekilas kepada Chanyeol sebelum dia pergi, dan merasakan hatinya seperti tertusuk ketika menyadari bahwa perhatian Chanyeol sekarang sudah sepenuhnya tertuju kepada Kyungsoo.

...

Pesta itu ramai, dan semua orang tampak bercampur baur. Baekhyun memilih posisi di paling sudut, mencoba tidak mencolok dan kemudian menatap ke lantai dansa. Pesta ini meriah tentu saja, dengan jamuan makan malam yang melimpah ruah, tertata elegan di sudut-sudut ruangan, banyak orang yang makan sambil mengobrol dan tertawa bersama. Dan ketika musik dimainkan, beberapa pasangan langsung turun ke lantai dansa untuk berdansa.

Baekhyun menatap senyum-senyum di bibir para pasangan itu. Dia pernah memimpikan berada di posisi yang sama, dengan Chanyeol tentunya. Sayangnya mimpi itu tidak terwujud...

Matanya tiba-tiba menangkap Chanyeol yang tengah menggandeng Kyungsoo sambil tertawa, mengajaknya ke lantai dansa. Dia tidak bisa mengalihkan pandangan matanya dari dua manusia yang tampak sangat serasi ketika berdansa itu... dan tiba-tiba saja, Baekhyun merasa seperti manusia paling merasan sedunia.

"Apakah kekasihmu sedang berselingkuh?"

Suara itu terdengar di sampingnya begitu saja, membuat Baekhyun terkejut, dia menoleh dan melihat Jongin sudah berdiri di sampingnya, lelaki itu berpakaian formal dan tampak amat sangat tampan dan elegan. Dan sepertinya lelaki itu terbiasa muncul tiba-tiba tanpa suara.

"Chanyeol bukan kekasihku, dia menganggapku sebagai adiknya."

Jongin memiringkan kepalanya, ada senyum di sana, "Oh ya, dan kau menganggapnya seperti apa?"

Pipi Baekhyun memerah, menyadari bahwa Jongin mungkin sedang menghinanya.

"Terserah aku menganggapnya seperti apa, itu bukan urusanmu." gumamnya dingin, lalu hendal melangkah pergi, tetapi langkahnya tertahan ketika Jongin menahan dengan menggenggam pergelangan tangannya yang mungil.

"Hei, aku tidak bermaksud membuatmu tersinggung, Baekhyun." suaranya lembut, seperti ajakan perdamaian, "Ayo kita berdansa."

Dan kemudian tanpa Baekhyun bisa menolaknya, Jongin setengah menyeretnya ke lantai dansa.

Baekhyun berdiri dengan kaku, kebingungan. Dia sebenarnya sama sekali belum pernah turun ke lantai dansa sebelumnya, apalagi bersama seorang lelaki. Tetapi rupanya Jongin adalah pasangan dansa yang sangat sabar, dengan lembut lelaki itu mengatur posisi tangan Baekhyun, dan kemudian membimbingnya bergerak mengikuti musik waltz yang lembut.

"Kau tidak pernah berdansa sebelumnya ya?" tebak Jongin dengan cepat, membuat pipi Baekhyun memerah.

"Tidak." jawabnya singkat.

Jongin terkekeh, "Sudah kuduga." celanya, "Jangan sampai kau menginjak kakiku." godanya.

Baekhyun membelalakkan matanya menatap Jongin tersinggung, "Jangan kuatir, aku tidak akan menginjak kakimu yang berharga itu."

Kata-kata Baekhyun yang ketus itu entah kenapa membuat Jongin malahan merasa geli, senyumnya makin melebar,

"Bagaimana dengan tawaranku? apakah kau berubah pikiran?"

Baekhyun tergeragap ketika langsung ditanya seperti itu, sebenarnya tadi dia sedang mencuri-curi pandang ke arah Chanyeol yang sedang berdansa dengan tubuh merapat ke Kyungsoo. Mereka tampak seperti pasangan kekasih... apakah itu benar? mungkinkah Chanyeol dan Kyungsoo sudah menjadi pasangan kekasih?

"Baekhyun." Jongin tampak jengkel, "Aku bertanya kepadamu."

Baekhyun berdehem, mencoba mengingat pertanyaan Jongin tadi. Apa kata Jongin tadi?

Dan sebelum sempat Baekhyun menemukan jawabannya, seseorang menyela mereka, Baekhyun menoleh dan mendapati uke dewasa yang sangat cantik dan terlihat matang,

"Jongin, panitia memintaku untuk memanggilmu, kau diminta memberikan sambutan." Minhyun yang menyela tersenyum manis kepada Jongin, dia bahkan tidak memandang ke arah Baekhyun, seolah-olah Baekhyun bukanlah uke yang berarti untuknya.

Jongin mengerutkan keningnya, "Aku sedang berdansa, Minhyun."

"Oke." kali ini Minhyun mulai memperhatikan Baekhyun dan sedikit terkejut ketika melihat betapa mudanya Baekhyun. Tadi dia ke kamar mandi untuk memperbaiki riasannya, dan ketika kembali, dia mendapati bahwa Jongin sudah berdansa dengan seorang uke. Dia memang menginterupsi dansa ini dengan tujuan memisahkan Jongin dan uke itu... tetapi kalau ukenya masih ingusan seperti ini, sepertinya Minhyun tidak perlu cemas -uke ini jelas bukan selera Jongin, dan bukan saingannya.

"Tapi panitia mengatakan bahwa kau harus memberi sambutan, Jongin." Minhyun tetap keras kepala, "Aku cuma menyampaikan pesan, dan kalau kau keberatan, kau bisa menyampaikan sendiri kepada mereka."

Baekhyun bisa melihat ada kilatan di mata Jongin, hanya sekejap, tetapi kemudian kilatan itu menghilang dan berubah menjadi tatapan lembut, tatapan lembut yang ditujukan kepada Baekhyun,

"Oke. Maafkan aku Baekhyun. Aku harus memberikan sambutan sialan itu." dan kemudian dengan sopan, Jongin melepaskan pelukan dansanya, lalu meraih jemari Baekhyun, dan mengecup punggung tangannya dengan lembut.

Ketika Jongin berlalu, Baekhyun masih tertegun di sana, menatap punggung tangannya yang terasa panas. Kecupan di tangannya ini membawa kembali memori yang sudah berusaha dihapusnya, memori tentang ciuman Jongin waktu itu kepadanya...dan tiba-tiba saja pipinya memerah seperti kepiting rebus.

...

Ketika Jongin menaiki panggung, semua orang langsung memusatkan perhatian mereka kepada si tampan jenius biola yang sangat terkenal itu. Semua orang tentu saja mengagumi penampilan Jongin, dan juga keahlian bermainnya yang luar biasa.

Jongin tersenyum kepada semuanya, meski senyum itu tidak sampai ke matanya,

"Terimakasih atas semua yang hadir di pesta ini, dan terimakasih kepada semua yang menganggap saya pantas berdiri di sini untuk memberi sambutan. Selamat datang juga kepada para siswa senior yang duapuluh di antaranya akan menjalani kelas khusus bersama saya mulai besok. Saya harap kalian semua menyiapkan diri, dan bagi yang belum lolos, saya yakin masih ada kesempayan di tahun depan."

Baekhyun menatap ke arah Jongin, dan mau tak mau mengagumi ketampanan lelaki itu, bahkan dari jauhpun Jongin tampak amat sangat tampan -sayangnya ketampanan itu tidak dibarengi dengan kelakuan yang baik- Baekhyun langsung teringat akan deretan pacar-pacar Jongin yang berjajar dan berganti seakan tiada habisnya, ya.. reputasi Jongin sebagai pematah hati uke memang sudah melegenda, herannya banyak uke yang tetap saja mencoba menaklukkan hati Jongin meskipun mereka tahu bahwa Jongin berbahaya... mungkin para uke itu ingin saling berlomba menjadi uke yang berhasil menaklukkan hati sang penghancur uke...

Lamunan Baekhyun terputus ketika dia merasakan Jongin menatapnya dalam-dalam, dan sebelum Baekhyun sempat berpikir, tiba-tiba Jongin sudah bergumam di atas panggung.

"Dalam kesempatan ini saya ingin memperkenalkan murid khusus saya, hanya ada satu orang murid yang saya pilih untuk menjadi anak bimbingan saya secara intensif, mungkin dalam beberapa waktu ke depan." Jongin mengedikkan dagunya ke arah Baekhyun, membuat semua mata langsung terpusat kepada Baekhyun.

Jongin tampak tersenyum puas melihat ekspresi Baekhyun yang kebingungan dan tak bisa berkata-kata, lalu melanjutkan, "Malam ini saya akan mempertunjukkan duet biola saya bersama Baekhyun sebagai persembahan kepada semua orang." lelaki itu lalu mengulurkan jemarinya ke arah Baekhyun yang terpaku seperti orang bodoh di tengah ruangan, sementara semua mata memandang kepadanya, "Mari Baekhyun, naiklah ke panggung." sambung Jongin kemudian, ada senyum puas di sana ketika melihat bahwa Baekhyun sudah mati kutu dan tidak bisa membantah.

Rasakan kau uke keras kepala. Gumam Jongin dalam hati. Sekarang tidak ada alasan bagi Baekhyun untuk menolaknya.

.

.

.

Bersambung ke part 6