Embrace The Chord
Oleh Santhy Aghata
Disclaimer:
Cerita ini milik Santhy Aghata.
Bukan milik saya.
Saya di sini hanya meremakenya karena sebuah kesepakatan/?
Kalian bisa membaca ff ini di blog milik Santhy Aghata.
Warning:
Yaoi inside! Age switchDon't like, don't read! Simple right?
Terima kasih. Selamat membaca!
.
.
.
{{Part 6}}
.
.
.
Baekhyun benar-benar terkejut. Dia ternganga menatap ke arah Jongin. Sementara seluruh mata memandangnya.
Apa yang dikatakan Jongin tadi? Apakah lelaki itu menjebaknya sehingga tidak bisa menolak di tengah begitu banyak orang?
Baekhyun melemparkan tatapan marah kepada Jongin, tetapi lelaki itu hanya tersenyum simpul dan menatap Baekhyun dengan tak tahu malu.
Pada akhirnya, mau tak mau Baekhyun melangkah ke panggung penuh dengan dorongan untuk mencaci maki Jongin di depan umum. Tapi tentu saja dia tidak bisa melakukannya. Rasa frustrasi membuatnya menatap Jongin dengan marah dan mengancam, tetapi Jongin malah menatapnya dengan ekspresi geli,
"Apakah kau membawa biolamu?"
"Tidak." Baekhyun menjawab cepat sambil menggertakkan gigi.
Jongin terkekeh, "Aku membawa dua, kau boleh pinjam punyaku." Jongin mengedikkan kepala kepada pegawainya dan orang itu dengan tergoph-gopoh membawakan dua tempat biolanya kepada mereka.
Jongin mengambil satu, sebuah biola warna cokelat kemerahan, membuat Baekhyun ternganga,
"Itu Stradivarius?" Baekhyun tetap menanyakan pertanyaan itu meskipun dia sudah tahu jawabannya, tentu saja dia tahu dia telah membaca semua artikel tentang biola ini dan sekarang melihat secara langsung biola ini di depan matanya membuatnya seolah bermimpi. Biola Stradivarius adalah biola yang amat sangat langka, tidak bisa diduplikasi, karena pembuatnya, Antonio Stradivari berhasil menerapkan teknik yang misterius dan rahasia, sehingga tidak akan pernah ada yang bisa meniru caranya,
Sang pembuat biola ini telah membakar habis semua dokumen-dokumen tentang cara-cara dan ramuan biolanya itu sebelum akhirnya dia meninggal dunia. Biola Stradivarius terkenal memiliki suara paling jernih dan volume terbesar, dengan nada yang paling murni yang membuat mereka terlihat hampir 'hidup' di tangan seorang maestro pemain biola. Dan sekarang, dari sekitar 1.100 instrumen musik karyanya seperti gitar, biola, viola dan cello, hanya 650 saja yang masih ada hingga saat ini, dan khusus untuk biola diperkirakan hanya tinggal 100 buah saja yang masih tersisa, dan Jongin ternyata memiliki salah satu dari seratus itu.
Jongin menganggukkan kepala seolah tidak peduli dengan ketakjuban Baekhyun,
"Ini warisan dari ayahku. Kau pakai yang satunya." Lelaki itu mengedikkan bahunya ke arah kotak yang belum dibuka. Dan Baekhyun dengan penuh rasa ingin tahu membuka kotak biola itu. Seketika itu juga dia sadar, bahwa itu adalah biola yang selalu dipakai oleh Jongin. Baekhyun selalu melihat Jongin memainkan biola ini di setiap rekaman video penampilan Jongin. Itu adalah biola Paganini yang terkenal. Berbeda dengan Stradivarius yang menciptakan suara indah dengan sendirinya, biola Paganini sangat sulit dimainkan, karena ada perbedaan yang kontras antara nada tinggi dengan nada rendahnya.
"Kau membiarkanku memakainya?" Baekhyun ternganga, "Jemarinya menelusuri permukaan biola itu yang begitu halus. Ini adalah salah satu biola tua berumur hampir empat ratus tahun... Dan termasuk biola yang paling sulit dimainkan.
Bisakah dia menggunakannya?
Jongin tersenyum, menarik perhatian Baekhyun.
"Aku yakin kau pantas menggunakannya. Ayo, kita harus memberikan pertunjukan yang luar biasa kepada orang-orang ini." Matanya menajam, "Bach's Chaconne, bisa?"
Baekhyun mengerutkan keningnya, Jongin rupanya tak tanggung-tanggung, Bach's Chaconne adalah karya solo biola oleh Johann Sebastian Bach, Chaconne Partita in D minor for solo violin adalah bagian penutup dari keseluruhan musik, yang katanya ditulis untuk mengenang isteri pertama Johann Sebastian Bach yang telah meninggal sebelumnya. Musik ini penuh dengan nada yang sulit dan teknik tingkat tinggi, memaksa sang violinist menguasai seluruh aspek dalam bermain biola untuk memainkannya. Tetapi jika dimainkan dengan sempurna, hasilnya akan sepadan karena bisa membuat siapapun yang mendengarnya merasakan kesedihan itu, kenangan itu, dan hanyut dalam musik indah yang menyayat hati.
Baekhyun ragu, biarpun dia pernah mempelajarinya beberapa waktu yang lalu, dia masih ingat seluruh nadanya. Matanya melirik ke arah penonton yang menunggu, dan terpaku ke arah Chanyeol yang tersenyum lebar sambil mengedipkan persetujuan kepadanya.. Sementara Kyungsoo merapat erat di pelukannya dan sebelah lengan Chanyeol merangkul pinggang feminim Kyungsoo dengan intim.
Tiba-tiba Baekhyun merasakan dorongan semangat di benaknya, keinginan untuk menunjukkan kepada Chanyeol bahwa dia berharga, bahwa dirinya cukup menarik untuk dilihat dan dikejar... Bahwa Chanyeol seharusnya menyadari perasaan Baekhyun.
Baekhyun mengangguk ke arah Jongin yang menunggunya, "Aku siap."
Jongin tersenyum, melihat semangat yang menyala di mata Baekhyun. "Kalau begitu, mari kita buat mereka semua terpesona."
Lelaki itu berdiri dengan begitu tampan dan mempesona, bahkan dia sebenarnya tidak perlu memainkan biola untuk membuat penonton terpesona, penampilannya yang luar biasa tampan, dengan tuxedo hitam yang membalut tubuhnya dan rambutnya yang disisir rapi ke belakang dengan postur tegak posisi memegang biola sudah pasti bisa membuat semua orang tergila-gila.
Jongin memulai nada awal, Baekhyun menyusul untuk melengkapinya. Dia menggesek biola indah milik Jongin dan terpana akan keindahan nada yang dihasilkannya, sangat berbeda dengan biola yang biasa dipakainya. Kemudian permainan biola Jongin yang begitu indah membawa Baekhyun ke dalam dunia musik yang membius.
Semuanya menghilang, para penonton, panggung yang tinggi, ruangan yang penuh orang seakan menghilang semua. Baekhyun merasakan dirinya berdiri bersama Jongin, di sebuah padang rumput yang luas, menatap pasangan yang sedang jatuh cinta duduk di rerumputan sambil berangkulan, dan mereka berdua memainkan musik yang indah itu, musik kenangan akan cinta sejati seseorang.
Rasanya begitu cepat, Baekhyun bermain biola sambil memejamkan matanya, dan kemudian Jongin memainkan nada penutup, Baekhyun mengiringinya dengan sempurna. Dan kemudian... selesai.
Jongin berdiri dan memegang biola dengan sebelah tangannya, tersenyum menghadapi penonton. Sementara Baekhyun membuka matanya, napasnya sedikit terengah, dan langsung berhadapan dengan wajah-wajah takjub di sana, beberapa bahkan ada yang ternganga.
Lalu Jongin tertawa, dia meletakkan biolanya dan bertepuk tangan. Tepuk tangan itu memecah keadaan, dan membawa tepuk tangan berikutnya yang susul menyusul, suasana riuh rendah oleh tepuk tangan yang membahana memenuhi ruangan.
Sementara itu Jongin tertawa, tampak takjub sekaligus senang, dia mendekat ke hadapan Baekhyun, berdiri di sana,
"Kau sangat hebat!" gumamnya antusias, dan kemudian tanpa disangka Jongin membungkuk dan meraih pinggang Baekhyun, sedikit mengangkat tubuh mungil uke itu, lalu mencium bibirnya!
Jongin mencium bibir Baekhyun di atas panggung, di hadapan ratusan penonton yang masih diliputi ketakjuban akan permainan biola yang begitu indah dan sempurna. Suara tepuk tangan makin riuh rendah mengiringi ciuman mereka, sampai kemudian Jongin melepaskan bibir Baekhyun, tidak peduli akan wajah Baekhyun yang bingung dan pucat pasi, lelaki itu masih merangkul pinggang Baekhyun dan tertawa, kemudian membawa Baekhyun membungkuk kepada seluruh penonton.
...
Jongin menciumnya lagi!
Baekhyun masih setengah terpana setengah bingung ketika menuruni panggung. Orang-orang berebutan menyalami dan memberinya selamat karena mendapat kehormatan bermain dengan Jongin serta diangkat sebagai murid bimbingan khususnya. Beberapa mengatakan betapa irinya mereka akan kesempatan yang diperoleh oleh Baekhyun itu.
Tetapi yang berkecamuk di benak Baekhyun adalah bibirnya yang panas dan membara akibat kecupan Jongin yang tanpa ampun. Lelaki itu bersemangat dan melumat bibirnya tanpa permisi. Jongin sudah merenggut ciuman pertamanya, dan sekarang bahkan dia juga mengambil ciuman keduanya!
Baekhyun merengut, merasa semakin kesal ketika menyadari bahwa Jongin juga menjebaknya, dia sengaja mengumumkan kesediaan Baekhyun -yang sudah pasti dikarangnya- di depan umum, membuat Baekhyun sekarang tidak bisa menolaknya.
Well, ternyata Jongin bukan hanya lelaki arogan dan bertemperamen buruk, tetapi juga pemaksa dan licik untuk mendapatkan keinginannya, terlebih lagi, lelaki itu tukang cium sembarangan!
Baekhyun masih mengerutkan keningnya ketika Jongin mendekat ke arahnya, beberapa orang masih melirik ke arah mereka, mencoba mendengarkan percakapan mereka dengan penuh ingin tahu.
"Kau harus mempunyai waktu tiga jam sehari untuk berlatih bersamaku." gumamnya arogan dan memaksa.
Baekhyun membuka mulutnya dengan marah, hendak membantah, tetapi bersamaan dengan itu, interupsi datang menyela.
"Jongin!" Minhyun menghampiri mereka berdua dengan tergesa, "Astaga, bagus sekali sayangku, kau bermain dengan begitu indah, gesekan jarimu yang sempurna membuatku sangat bergairah." Lalu seolah sengaja, Minhyun merangkulkan lengannya di leher Jongin dan menciumnya.
Sementara itu Baekhyun menatap dengan jijik. Astaga, Jongin mungkin sudah terlalu lama hidup di luar negeri sehingga menganggap sebuah ciuman itu bukanlah hal yang tabu dilakukan di depan umum. Apalagi mengingat beberapa waktu yang lalu, lelaki itu menciumnya di atas panggung dan sekarang dia berciuman di tengah pesta dengan kekasihnya. Baekhyun harus jauh-jauh dari Jongin, kalau tidak lelaki itu mungkin akan merusak kepolosannya.
Jongin sendiri membalas ciuman Minhyun, dan ketika selesai, dia mengangkat alisnya menatap Minhyun,
"Untuk apa ciuman itu Minhyun?" Jongin tersenyum,
Minhyun melirik ke arah Baekhyun dengan penuh arti. Tentu saja ciuman itu untuk menunjukkan kepada anak ingusan yang beruntung menjadi murid istimewa Jongin itu, bahwa Minhyun memiliki Jongin. Perasaan cemburu membuat Minhyun lupa diri, cemburu dan waspada, karena Jongin tidak pernah memberikani perhatian dan keistimewaan seperti yang diberikannnya kepada Baekhyun sebelumnya.
Dan Baekhyun menerima pesan dari Minhyun dengan jelas, dia hanya mencibir. Kenapa uke itu sepertinya takut kepadanya? padahal dia sama sekali tidak berpikiran untuk mendekati Jongin. Tidak selama bumi masih berputar!
"Untuk ucapan selamat sayang, kau hebat seperti biasanya dan membuatku tergila-gila." Minhyun menyapukan jemari lentiknya ke pipi Jongin, lalu dengan gerakan sengaja seolah melecehkan Baekhyun, dia menolehkan kepalanya, berpura-pura baru menyadari kehadiran Baekhyun dan mengangkat alisnya, "Dan selamat juga untukmu, kau harusnya bersyukur bisa menjadi murid Jongin." gumamnya ketus setengah menghina.
Baekhyun mencibir, "Saya tidak pernah minta kok, terimakasih." Setelah menganggukkan kepalanya mencoba sopan, Baekhyun membalikkan badannya dan tergesa menjauh sejauh mungkin dari Jongin.
Sementara itu mata Jongin terus mengawasi sampai Baekhyun menghilang, hal itu tidak luput dari pandangan Minhyun, membuat hatinya panas. Dia harus bisa menarik perhatian Jongin lagi!
"Apakah kau tertarik padanya?" pada akhirnya Minhyun tidak bisa menahan diri, dia mencoba mengalihkan perhatian Jongin dengan bertanya.
Rupanya berhasil karena Jongin menatap Minhyun lagi, "Apa maksudmu?"
"Uke ingusan itu." Minhyun memandang ke arah Baekhyun pergi, "Apakah kau tertarik kepadanya?"
Jongin langsung tertawa. "Tertarik kepadanya? tentu saja Minhyun, kau pasti tahu bahwa aku selalu tertarik dengan siapapun yang memiliki bakat besar di bidang musik, terutama biola. Anak itu adalah berlian yang belum terasah, dan di tanganku dia akan menjadi berkilauan." Jongin melirik Minhyun dan tersenyum, "Apakah kau cemburu?"
Minhyun mengerucutkan bibirnya dengan manja, "Tentu saja, kau memperhatikannya terus dari tadi."
Jongin tertawa lagi, mengecup bibir Minhyun dengan ringan, "Jangan kuatir sayang, saat ini aku sepenuhnya milikmu." bisiknya dengan mesra, membuat senyum Minhyun melebar dan matanya berbinar penuh cinta.
Saat ini aku sepenuhnya milikmu, jadi nikmatilah selagi bisa... Jongin bergumam dalam hati, dan bibirnya tersenyum sinis membayangkan saatnya nanti dia menghancurkan hati Minhyun, seperti yang selalu dilakukannya kepada uke-uke lainnya.
...
Baekhyun berhadapan dengan Chanyeol yang masih merangkul pinggang Kyungsoo dengan mesra, lelaki itu tersenyum lebar,
"Jadi Jongin yang cerdik membuatmu mau tidak mau menerima tawarannya." gumamnya setengah geli.
Baekhyun langsung cemberut, "Dia lelaki licik." desisnya pelan.
"Kau tidak boleh berkata begitu tentangnya." Kyungsoo tiba-tiba menyahut, tampak tidak suka, "Seharusnya kau beruntung dia mau membimbingmu, banyak orang di sini yang mau melakukan apa saja supaya bisa menjadi murid bimbingan khusus Jongin, dan kau seolah tidak menghargainya dan tidak tahu terimakasih."
Baekhyun memucat mendengar kata-kata ketus Kyungsoo kepadanya, dia juga menerima tatapan kebencian Kyungsoo kepadanya, dan sebelum bisa berkata apa-apa, Kyungsoo tib-tiba mendongak dan menatap Chanyeol penuh penyesalan,
"Kurasa aku harus segera pulang, papaku sudah memberi isyarat sejak tadi." gumamnya lembut, lalu mengecup pipi Chanyeol, "Terimakasih atas dansanya yang menyenangkan sayang."
Chanyeol menganggukkan kepalanya, mengecup jemari Kyungsoo sebelum uke itu melangkah pergi. Lelaki itu lalu menatap Baekhyun yang masih menatap kepergian Kyungsoo dengan bingung dan kemudian mengangkat bahu,
"Maafkan kata-kata ketusnya tadi." gumam Chanyeol lembut, "Kau tahu, Kyungsoo juga termasuk penggemar Jongin, dia memang pemain piano dan dia memuja kejeniusan Jongin, dia pernah bercerita salah satu impiannya adalah mendapatkan kesempatan untuk resital piano dan biola duet bersama Jongin..." Chanyeol mencolek ujung hidung Baekhyun dengan menggoda, "Kau adalah orang paling beruntung di ruangan ini, hanya saja kau tidak menyadarinya."
Beruntung?
Baekhyun mengedarkan pandangannya dan menemukan Jongin tengah mengecup bibir Minhyun lagi dan lagi. Dia mengerutkan keningnya, apakah semua orang dibutakan oleh kejeniusan Jongin sehingga tidak memperhatikan betapa buruknya sikap lelaki itu?
...
"Jadi kau akan menjadi murid khusus Jongin, akhirnya." mama Baekhyun tersenyum puas, senang karena apa yang dia harapkan menjadi nyata.
Baekhyun menyesap susu cokelatnya dan cemberut, hari ini dia akan mengikuti kelas khusus untuk 20 siswa terpilih yang akan diajar sendiri oleh Jongin. Setelah itu, 19 murid lain boleh pulang dan hanya dia sendiri yang akan mendapatkan tiga jam tambahan bersama Jongin.
Tiga jam berduaan bersama lelaki arogan itu... semoga Baekhyun bisa menahankannya. Dengan cepat dia meneguk susunya, berdiri, bersiap menghadapi semuanya.
Lalu ada suara mobil berderum di halaman depan rumah mereka. Baekhyun dan mama Baekhyun saling berpandangan.
Siapa yang bertamu sepagi ini?
Dan kemudian suara ketukan pintu terdengar, Baekhyun-lah yang duluan berdiri dan membuka pintu itu.
Dan kemudian dia terpana.
Jongin berdiri di sana dengan ekspresi datarnya yang biasa.
.
.
.
Bersambung ke part 7
