Embrace The Chord
Oleh Santhy Aghata

Disclaimer:
Cerita ini milik Santhy Aghata.
Bukan milik saya.
Saya di sini hanya meremakenya karena sebuah kesepakatan/?
Kalian bisa membaca ff ini di blog milik Santhy Aghata.

Warning:
Yaoi inside! Age switchDon't like, don't read! Simple right?

Terima kasih. Selamat membaca!

.

.

.

{{Part 8}}

.

.

.

Luar biasa...

Bukan hanya ketampanannya saja yang mendominasi seluruh panggung, membuat seluruh uke yang berdiri di depan panggung, mayoritas utama penonton berteriak-teriak histeris di tengah hingar bingarnya musik.

Baekhyun bahkan tidak bisa menahan dirinya untuk tidak ternganga, karena ternyata kepandaian Jongin bermain gitar tidak kalah dengan kehebatannya bermain biola. Baekhyun memang bukan ahlinya tentang permainan gitar, dia mungkin bisa menilai dengan mudah permainan piano atau biola seseorang, tetapi alat-alat musik di genre musik pop dan band sama sekali bukan keahliannya. Meskipun begitu Baekhyun bisa tahu bahwa permainan gitar Jongin sangat bagus, lelaki itu memainkan musiknya dengan begitu mahir.

Lama kemudian Baekhyun terlarut dalam hingar bingarnya suasana, band terus memainkan musik yang penuh energi, membawa penonton ke dalam suasananya dan semuanya terhipnotis dengan kemampuan bermain gitar Jongin yang berpadu dengan suara vokal Kris yang merdu.

Luar biasa... Baekhyun tidak menyadari bahwa musik dengan aliran lain bisa seindah ini, dia selalu menganggap bahwa musik klasik adalah yang terindah... ternyata musik aliran lain, kalau dimainkan dengan sepenuh hati, akan menciptakan nada yang sama indahnya.

Lamunan Baekhyun tersentak oleh gemuruh tepuk tangan yang membahana, semua penonton berteriak-teriak histeris di bawah panggung, dan dilihatnya Jongin dan rekan band-nya membungkukkan badan kepada seluruh penonton, membuat mereka semua semakin histeris.

Jongin berjalan ke arah samping panggung, tempat Baekhyun masih berdiri dan terpaku, senyumnya melebar, lelaki itu hendak menghampiri Baekhyun ketika salah seorang penonton yang histeris nekad naik ke panggung,

"Jongin!" teriak uke itu dengan tatapan mata memuja, lalu tanpa disangka-sangka, uke itu merangkulkan lengannya di leher Jongin dan mencium bibirnya dengan sekuat tenaga.

Para pengawal di luar panggung langsung menarik uke itu, berusaha memaksanya turun. Uke itu meronta, menatap ke arah Jongin dan berkali-kali meneriakkan kata-kata cinta dan pemujaan kepada lelaki itu, membuat Jongin hanya tersenyum geli dan terus melangkah ke arah Baekhyun.

"Bagaimana permainanku?" Jongin masuk ke samping panggung, berdiri dengan begitu arogan seolah-olah Baekhyun wajib memujinya, sementara itu Baekhyun mengamati Jongin dan mengernyitkan keningnya. Ada bekas lipstick di seluruh bibir Jongin, bekas lipstick dari uke yang tadi menciumnya... oh ya ampun, lelaki ini memang terbiasa sembarangan berciuman dengan siapa saja!

"Menurutku menarik." jawab Baekhyun sekenanya.

Jongin mengangkat alisnya, "Menarik? hanya itu?"

Tatapan Baekhyun tampak tidak bersahabat, "Memangnya kau mengharapkan pujuan seperti apa? bukankah kau sudah banyak menerima pujian dari semua orang? masih belum puaskah?"

Jongin tertawa, lalu menatap Baekhyun penuh makna, "Kenapa kau begitu membenciku Baekhyun? sejak awal mula sepertinya kau selalu terdorong untuk menentangku." lelaki itu berjalan ke area belakang panggung, langsung menuju pintu belakang, membuat Baekhyun terpaksa mengikutinya, dan tetap diam saja, mencoba pura-pura tidak mendengar perkataan Jongin.

Ya, dia sendiri tidak tahu kenapa dia bersikap antipati kepada lelaki itu, mungkin karena kearoganan Jongin, mungkin karena sikapnya yang tidak menghormati uke, atau mungkin juga karena aura lelaki itu terasa mengancam. Jongin terlalu tampan, terlalu mempesona dan tidak segan-segan menguarkan seluruh pesonanya itu kepada uke manapun. Tetapi Jongin berbahaya, dari seluruh reputasi yang didengar oleh Baekhyun dia menyadari bahwa Jongin jahat kepada uke, dia selalu memainkan hati mereka, membuat para uke itu menyadari bahwa mereka sudah menaklukkan Jongin, membuat para uke itu bermimpi sampai terbang tinggi, dan kemudian langsung menghempaskan mereka begitu saja dengan hati hancur. Dibalik sikap ramah dan pesonanya, Jongin adalah seorang pembenci uke. Dan Baekhyun ketakutan akan menjadi salah seorang uke calon korban Jongin, tergila-gila akan pesona lelaki itu hanya untuk dihancurkan begitu saja. Jadi, sikap ketus dan menjauhnya, mungkin adalah estimasi dari pertahanan dirinya terhadap lelaki itu.

Tetapi tentu saja Baekhyun tidak akan bisa menjelaskan hal itu kepada Jongin bukan?

Jongin sendiri melirik ke arah Baekhyun yang hanya diam sambil mengikutinya, dia lalu mengangkat bahunya dan tersenyum skepstis,

"Ah, sudahlah. Ayo kita pulang." gumamnya sambil melangkah cepat-cepat menuju parkiran, membiarkan Baekhyun mengikutinya.

...

"Kau tahu kenapa aku mengajakmu melihatku bermain gitar bersama band?" Jongin meliirik ke arah Baekhyun yang duduk di sebelahnya, dia melajukan mobilnya dengan tenang, menembus kegelapan malam yang semakin kelam.

Baekhyun mau tak mau menatap ke arah Jongin, "Supaya aku tahu bahwa seorang pemain musik harus bisa memainkan musik apa saja?"

Jongin terkekeh, "Tidak tepat seperti itu, Baekhyun. Aku hanya ingin mengajarkan kepadamu, bahwa musik yang indah tidak hanya dihasilkan oleh penguasaan teknik dan keahlian. Asalkan kau punya hasrat untuk memainkannya, dan kau bisa menghanyutkan perasaanmu ke dalam permainanmu, kau akan bisa menghasilkan musik yang indah, entah itu dengan biola atau sebuah gitar, entah itu di musik klasik atau aliran kontemporer."

"Apakah kau selalu seperti itu? hanyut dalam perasaanmu ketika membawakan musikmu?"

"Tentu saja." mata Jongin berubah dalam, "Aku adalah pemain yang emosional, ketika aku marah biasanya aliran musikku akan terdengar penuh kemarahan, ketika aku sedih aliran musikku akan terdengar penuh kesedihan. Kau tahu, sebenarnya itu salah satu kelemahanku, dulu aku sangat hebat bermain biola, tetapi aku tidak mampu menjaga emosiku dalam permainanku sehingga nada yang dihasilkan tidak pernah benar." Jongin tersenyum tipis, "Lalu aku bertemu dengan salah satu mentorku di italia, dia melatihku supaya membalikkan visiku, aku tidak memasukkan emosiku ke dalam musikku, tetapi aku harus bisa memasukkan emosi yang ada di musik itu ke dalam perasaanku." Tatapan Jongin berubah serius, "Permainanmu semalam begitu penuh kesedihan, penuh emosi dan sakit hati, kau memasukkan perasaanmu ke dalam permainanmu, membuatnya terasa tidak pas dengan musik yang kau mainkan... sama persis dengan diriku di waktu lampau. Aku hanya ingin memperbaikimu Baekhyun."

Baekhyun terdiam, menyadari kebenaran kata-kata Jongin. Emosi dan permainan musik memang sangat berkaitan, apalagi untuk permainan biola yang membawakan pesan emosi... Baekhyun memang harus banyak berlatih...

Detik itulah Baekhyun sadar, bahwa di balik sikap arogan dan tidak menyenangkannya, Jongin benar-benar serius ingin mengajarinya bermain biola dengan serius.

Yah,... mungkin Jongin tidak sejahat yang Baekhyun kira. Mungkin semua kesan Baekhyun terhadap Jongin selama ini salah..

...

"Kata mamamu kau pulang sampai tengah malam bersama Jongin." Chanyeol bergabung bersama Baekhyun di sofa rumah Baekhyun sementara Baekhyun sedang sibuk melahap mie goreng untuk makan siangnya. Hari ini mereka libur latihan karena tanggal merah, dan Baekhyun juga merasa amat capek semalam, pulang begitu larutnya di malam hari hingga dia baru bangun tengah hari.

Mama Baekhyun menunggu dengan cemas ketika mereka pulang kemarin, sudah siap mengomel ketika akhirnya Baekhyun mengetuk pintu pukul dua belas malam. Tetapi kemudian Jongin langsung muncul di belakang Baekhyun, dan seperti biasa menebarkan pesonanya ketika meminta maaf kepada mama Baekhyun dan menjelaskan bahwa mereka mengajak Baekhyun untuk menonton konser yang diharapkan bisa menambah pengetahuan Baekhyun. Dan seperti yang sudah diduga, mama Baekhyun langsung luluh dengan pesona Jongin, bukannya memarahi Jongin karena memulangkan anak ukenya setelah larut malam, mama Baekhyun malahan mengucapkan terimakasih kepada Jongin.

Bibir Baekhyun mengerucut tidak senang membayangkan sikap mamanya kemarin, membuat Chanyeol mengangkat alisnya,

"Baekhyun, kau mendengar perkataanku tadi?"

Baekhyun menoleh menatap Chanyeol tertarik dari lamunannya dan mengangkat alisnya, "Memangnya kau tadi bertanya apa?"

Chanyeol terkekeh, "Dasar." jemarinya dengan lembut mengusap kepala Baekhyun, seperti yang selalu dia lakukan sejak Baekhyun kecil, membuatnya merasa damai dan nyaman, "Aku dengar dari mamamu, kau pulang sampai larut tengah malam, mamamu sempat menelepon ke rumah menanyakan apakah kau bersama aku, tentu saja aku ikut cemas. Tadi pagi aku menelepon dan mamamu yang mengangkat, beliau bilang kau masih tidur karena semalam kau pulang lewat tengah malam bersama Jongin." Tatapan Chanyeol tampak menyelidik, "Apa yang Jongin lakukan kepadamu, Baekhyun?"

Baekhyun menatap Chanyeol bingung, "Apa maksudmu?"

"Maksudku.." Chanyeol tampak salah tingkah, "Well kau kan tahu reputasi Jongin sebagai penakluk uke, dia kan berbahaya bagi uke manapun, dan kau kau masih terlalu muda dan polos dibanding Jongin yang sudah dewasa dan berpengalaman, aku cemas dia akan mempermainkanmu." Kali ini wajah Chanyeol berubah serius, "Katakan padaku, dia tidak melakukan hal yang aneh-aneh kepadamu, bukan?"

Baekhyun hampir saja tersedak mie yang dikunyahnya mendengar kata-kata Chanyeol, tetapi kemudian dia tertawa,

"Chanyeol... yang benar saja!" Baekhyun terkekeh, meletakkan piring mie-nya yang tiba-tiba saja terasa tidak menarik lagi, "Mana mungkin Jongin mengincarku sebagai korbannya, kau tahu sendiri seleranya adalah uke-uke lebih tua, dari kelas atas dan kaya raya...mana mungkin dia melirikku anak ingusan yang baru berusia delapan belas tahun?"

"Tetapi semalam kalian pulang larut, bukankah idealnya latihan itu selesai jam sepuluh malam?" Chanyeol mengerutkan dahinya.

Baekhyun menatap Chanyeol dan tiba-tiba saja dadanya terasa hangat, Chanyeol begitu tampan, dan lelaki itu mencemaskannya. Yah, setidaknya dengan kehadiran Kyungsoo di antara mereka, lelaki itu tidak benar-benar melupakannya.

"Kami melihat konser Jongin yang lain..." gumamnya tenang.

"Konser? maksudmu Jongin mengadakan konser? Yang mana? kalau dia ada konser resmi pasti aku tahu?"

"Bukan konser biola." Baekhyun tersenyum, "Dia bermain gitar bersama band."

Chanyeol langsung terperangah, "Gitar? dia bermain gitar?" informasi itu pasti terasa mengejutkan buat Chanyeol. Lelaki itu bahkan sampai menggelengkan kepalanya, "Astaga itu sesuatu yang sama sekali tidak pernah kuduga, Jongin pasti berhasil merahasiakan kegiatan sampingannya selama ini... bermain gitar di sebuah band... astaga..."

"Dan permainan gitarnya sangat bagus." Baekhyun tersenyum simpul, tetapi kemudian mendapati Chanyeol menatapnya dengan sangat serius,

"Baekhyun, dia memberitahumu rahasia ini, entah kau ini murid istimewanya atau dia punya maksud lain... aku mau kau berhati-hati Baekhyun, jangan sampai jatuh ke dalam pesonanya..." dengan lembut, sekali lagi Chanyeol mengusap rambut Baekhyun, "Kau tahu aku sangat menyayangimu seperti adik kandungku sendiri, aku tidak mau terjadi sesuatu kepadamu, atau sampai ada yang mematahkan hatimu."

Kata-kata Chanyeol selanjutnya sudah tidak terdengar lagi di telinga Baekhyun. Hanya satu kata yang ditangkap oleh Baekhyun,

Adik..?

Bahkan hanya dengan kata-kata itu, tanpa disadari, Chanyeollah yang telah mematahkan hati Baekhyun.

...

Jongin meletakkan biolanya dan mengerutkan kening ketika mendengar ponselnya yang diletakkan dimeja berdering, dia mengerutkan bibirnya kesal melihat siapa yang menelepon, dan setelah menghela napas panjang, dia mengangkatnya,

"Ada apa Minhyun?"

"Kudengar kau bersama uke ingusan itu sampai malam."

Ledakan kecemburuan lagi. Jongin tersenyum sinis, sepertinya memang sudah waktunya dia menghancurkan Minhyun. Uke itu mulai terlalu percaya diri, bukan hanya merasa bahwa Jongin adalah miliknya, tetapi juga bersikap posesif yang keterlaluan. Jongin pernah memergoki Minhyun sedang memeriksa seluruh isi ponselnya.

Rasanya akan sangat nikmat ketika menghancurkan hati Minhyun yang sudah begitu mencintainya sepenuh hati. Jongin tersenyum jahat, membayangkan bahwa Minhyun mungkin akan setengah gila kalau Jongin memutuskannya begitu saja.

"Darimana kau tahu kabar itu Minhyun? apakah kau menguntitku kemarin?"

"Tidak." Minhyun tampak malu mendengar kata-kata Jongin, "Bukan menguntitmu, aku semalam mencoba menghubungi ponselmu, tetapi kau tidak mengangkatnya, jadi aku berinisiatif menelepon kampus tempat kau mengajar kelas khusus. Penjaga kampus bilang kelasmu sudah selesai, dan dia melihat kau pergi bersama uke ingusan itu."

"Baekhyun. Dia punya nama Minhyun, jangan menyebutnya dengan 'uke ingusan'." Jongin menyela tajam, tetapi Minhyun tidak mau menyerah,

"Yah siapapun namanya, aku tidak peduli." suaranya merendah, "Yang pasti dia masih ingusan, masih kecil Jongin, akan sangat memalukan kalau kau memberikan perhatian lebih kepadanya dan dia nanti jadi tergila-gila kepadamu, kau tahu bukan perasaan remaja masih sangat labil?"

Tanpa sadar Jongin tersenyum tipis, tidakkah Minhyun menyadari bahwa dia sendirilah yang tampak seperti remaja dengan emosi yang labil?

"Sudahlah." Tiba-tiba Jongin sampai di keputusan bahwa waktunya untuk Minhyun sudah berakhir, "Kau ada waktu untuk makan malam bersama nanti?"

"Tentu saja." Minhyun setengah menjerit, tidak bisa menyembunyikan kegirangan dalam suaranya, "Jemput aku jam tujuh ya, aku akan berdandan secantik mungkin, dan setelah makan malam kau bisa tinggal di rumahku, aku akan memberikan hadiah spesial untukmu." suaranya menjadi seksi, rendah merayu dan penuh arti.

...

Mereka makan malam bersama di sebuah restoran romantis yang elegan. Jongin tidak akan tanggung-tanggung memilih tempat untuk mematahkan hati uke, dia akan melambungkan perasaan Minhyun dulu sebelum menghancurkannya.

Minhyun berdandan secantik mungkin tentu saja, dengan pakaian ungu gelapnya yang tampak kontras dengan kulitnya yang putih dan berkilauan, rambutnya ditata kebelakang dan kalung permata di lehernya membuat penampilannya seperti puteri raja.

"Kau sangat cantik malam ini Minhyun." Jongin menyesap anggurnya, mereka sudah selesai makan malam dan memutuskan untuk duduk sebentar dan bersantai menikmati anggur.

Minhyun tersenyum merayu kepada Jongin, "Aku berdandan hanya untukmu Jongin... dan seperti janjiku di telepon tadi, kau bisa menginap di rumahku kalau kau mau malam ini, aku akan memberikan malam yang luar biasa untukmu." suaranya rendah, merayu, penuh godaan.

Tentu saja Jongin tidak tergoda. Dia hanya meletakkan anggurnya dan menatap Minhyun dengan datar,

"Maafkan aku tidak bisa." Matanya menatap tajam, membuat Minhyun tiba-tiba merasa cemas, Jongin tidak pernah tampak seserius ini sebelumnya, "Mungkin ini akan menjadi pertemuan terakhir kita Minhyun."

Minhyun ternganga mendengar kata-kata Jongin, mulutnya membuka tetapi tidak ada suara yang keluar, wajahnya memucat.

"Apa maksudmu Jongin?"

"Kau tahu jelas apa maksudku." Ada kilatan kejam di mata Jongin. Kilatan yang selama ini berhasil disembunyikannya, meskipun sekarang tak perlu lagi. Jongin sudah tidak bisa menyembunyikan perasaan muaknya ketika menatap Minhyun.

Minhyun tentu saja mengerti arti tatapan itu, dia shock, bingung dan semua perasaan sesak langsung memenuhi dadanya. Tatapan Jongin kepadanya bukan tatapan lembut dan penuh cinta seperti sebelumnya. Itu tatapan kejam, penuh rasa muak dan kebencian?

Astaga... selama ini dia berpikir bahwa dirinya sudah berhasil menaklukkan Jongin, membuat lelaki itu pada akhirnya berlabuh. Reputasi Jongin sebagai penghancur uke memang menakutkan, tetapi bukankah selama ini Jongin seolah sudah takluk kepadanya?

Atau jangan-jangan Jongin sudah merencanakannya? Menjadikannya korban... sama seperti uke-uke lainnya?

"Kau mencampakkanku, Jongin?" akhirnya Minhyun berkata-kata, bibirnya bergetar hampir menahankan air mata.

Jongin tersenyum, "Tepat sekali Minhyun, waktuku untukmu sudah berakhir. Perlu kau tahu aku tidak pernah tertarik kepadamu, kau sama seperti uke lainnya, hanya menimbulkan rasa muak di hatiku."

"Tidak mungkin!" Minhyun mencoba membantah, setengah menjerit, tidak mempedulikan beberapa orang di restoran itu yang menoleh kepada mereka, "Kau mencintaiku Jongin, aku yakin itu, sikapmu kepadaku, pelukanmu, kelembutanmu ketika menciumku, itu semua penuh cinta!"

"Jangan mencoba menipu dirimu sendiri Minhyun, kau tahu aku sangat pandai bersandiwara." Jongin beranjak berdiri dan menatap Minhyun dengan dingin, "Aku rasa kau bisa pulang naik taxi, dan karena hubungan kita sudah berakhir, jangan harap aku mau menjadi pendampingmu lagi." Dengan senyumannya yang terakhir Jongin membalikkan badan meninggalkan Minhyun.

"Ini semua karena uke ingusan itu bukan?" Suara teriakan Minhyun itu menahankan langkah Jongin, Jongin membalikkan badan dan menatap Minhyun gusar.

"Tidak ada hubungannya dengan Baekhyun. Namanya Baekhyun, Minhyun." Bibir Jongin menipis, "Aku tertarik kepadanya hanya karena dia sama sepertiku, jenius dalam bermain biola. Dia istimewa." Setelah mengucapkan kata-kata itu, Jongin membalikkan badan dan berlalu, meninggalkan Minhyun duduk di sana, penuh rasa malu dan berurai air mata.

...

Minhyun duduk di sana dengan mata membara. Dia masih tidak percaya Jongin meninggalkannya begitu saja. Begitu kejamnya!

Dan ini semua pasti karena uke itu. Jongin memang membantah, tetapi Minhyun yakin, sikap Jongin kepadanya berubah setelah uke ingusan itu muncul.

Baekhyun istimewa karena dia pandai bermain biola, sama seperti Jongin.

Tiba-tiba mata Minhyun menyala jahat.

Baiklah. Dia akan menghancurkan keistimewaan Baekhyun itu, agar Baekhyun tidak menarik lagi di mata Jongin!

.

.

.

Bersambung ke part 9