Embrace The Chord
Oleh Santhy Aghata

Disclaimer:
Cerita ini milik Santhy Aghata.
Bukan milik saya.
Saya di sini hanya meremakenya karena sebuah kesepakatan/?
Kalian bisa membaca ff ini di blog milik Santhy Aghata.

Warning:
Yaoi inside! Age switchDon't like, don't read! Simple right?

Terima kasih. Selamat membaca!

.

.

.

{{Part 10}}

.

.

.

"Nanti malam kita akan bermain biola bersama. Pertunjukan duet khusus untuk memperkenalkanmu sekaligus menghormati sang tuan rumah." Jongin sama sekali tidak mempedulikan ekspresi memberontak di mata Baekhyun, "Kita memainkan Beethoven Violin Romance no 2. Kau tentu sudah tahu musik itu dan mempelajarinya, siapkan untuk nanti malam."

Pada saat yang sama, tubuh Chanyeol bergerak di sofa, seakan hendak terbangun dari tidurnya. Baekhyun langsung menoleh waspada sambil menatap ke arah Chanyeol, dan sekejap kemudian, Chanyeol membuka matanya,

"Baekhyun?" Chanyeol terduduk, berusaha memfokuskan pikirannya, kemudian matanya membelalak ketika melihat Jongin yang bersandar di pintu sambil tersenyum, "Jongin?"

Baekhyun melemparkan tatapan penuh ancaman kepada Jongin yang ditanggapi dengan senyuman geli, sebelum kemudian dia melangkah mendekati Chanyeol,

"Kau ketiduran." Disorongkannya gelas berisi air putih di meja, Chanyeol menerimanya dan meneguknya, lalu melirik jam tangannya,

"Aku tertidur cukup lama ternyata." senyumnya melebar, "Dan apa yang dilakukan Jongin di sini?" dia melirik ke arah Jongin dan tersenyum lebar, "Apakah kalian akan mengadakan sesi latihan khusus?'

Jongin menegakkan tubuhnya yang semula bersandar santai di ambang pintu, senyumnya tidak pernah meninggalkan bibirnya, "Aku hanya mampir untuk memberitahu Baekhyun tentang undangan pesta makan malam nanti malam." Matanya melemparkan sinar penuh tantangan kepada Chanyeol, "Aku akan membawa Baekhyun sebagai partner makan malamku sekaligus berduet bersama di sana."

Chanyeol ternganga, tentu saja dia tahu reputasi Jongin, dan yang dia tahu pasti, Jongin selalu membawa pacar-pacarnya sebagai partnernya di setiap undangan pesta dan makan malam yang dihadirinya, tetapi kali ini dia membawa Baekhyun, apa maksud Jongin sebenarnya?

Jongin tidak menunggu sampai Chanyeol mendapatkan jawaban, dia kemudian setengah membalikkan tubuhnya,

"Oke aku rasa urusanku sudah selesai di sini. Nanti malam aku akan menjemputmu, Baekhyun, pukul tujuh tepat." Jongin mengedipkan matanya, membuat mata Baekhyun menyala karena marah, tetapi tentu saja dia tidak bisa berbuat apa-apa.

...

"Aku tidak menyangka kalian seakrab itu." Chanyeol melirik ke arah Baekhyun dengan tatapan spekulatif ketika Jongin sudah meninggalkan mereka.

"Apa maksudmu?" Benak Baekhyun masih dipenuhi kejengkelan karena apa yang dilakukan Jongin sehingga tidak begitu memperhatikan kilatan aneh di mata Chanyeol,

"Apakah kau tahu bahwa selama ini Jongin selalu membawa pacar-pacarnya untuk menemaninya ke setiap undangan untuknya? Dan sekarang dia membawamu sebagai partnernya, tidakkah kau berpikir bahwa orang-orang mungkin akan salah paham kepadamu?"

"Aku?" Baekhyun terkekeh ketika menyadari maksud perkataan Chanyeol, "Maksudmu orang akan mengira aku pacar terbaru Jongin?" kali ini kekehan Baekhyun melebar dan berubah menjadi gelak tawa, dia langsung teringat deretan pacar-pacar Jongin yang elegan dan luar biasa cantik, seperti Minhyun misalnya, "Bagaimana mungkin orang mengira bahwa aku pacar Jongin? aku tentu saja tidak sebanding dengan kecantikan pacar-pacarnya sebelumnya."

"Kau cantik." Tiba-tiba Chanyeol tampak serius, "Jangan merendahkan dirimu sendiri Baekhyun, aku rasa Jongin juga menyadari kecantikanmu, karena itu dia mendekatimu."

Pipi Baekhyun memerah, Chanyeol tidak pernah memujinya secara frontal dan serius seperti itu, "Apakah menurutmu aku cantik?" dia memberanikan diri bertanya.

Tatapan Chanyeol melembut dan jemarinya menyentuh pipi Baekhyun dengan sayang, "Kau cantik Baekhyun, dan karena itulah selama ini aku selalu berusaha menjagamu, aku menyayangimu dan tidak ingin kau disakiti. Dan sekarang aku rasa kau perlu waspada kepada Jongin... mungkin aku salah paham dan Jongin hanya tertarik padamu karena kemampuanmu bermain biola, tetapi aku lelaki, dan seorang lelaki bisa merasakan insting kalau lelaki lain mengincar seorang uke..." matanya semakin lembut, "Kau tentu tahu reputasi Jongin sebelumnya, jadi ingatlah, kau harus berhati-hati."

Baekhyun tersenyum malu-malu, bagian peringatan Chanyeol kepada Jongin sama sekali tidak didengarnya, dia hanya fokus kepada kata-kata Chanyeol, bahwa lelaki itu menyayanginya... bahwa lelaki itu peduli kepadanya.

Chanyeol lalu melirik kembali jam tangannya dan mengerukan kening, "Sudah sore ternyata, aku harus pulang dan bersiap sebelum menemui Kyungsoo." lelaki itu tidak menyadari perubahan ekspresi Baekhyun yang langsung disembunyikannya secepat kilat, dia menepuk pundak Baekhyun lembut dan tersneyum, "Ingat pesanku, Baekhyun, berhati-hatilah terhadap Jongin." gumamnya sebelum pergi.

...

Minhyun memandang lembaran undangan berwarna emas elegan itu di tangannya. Ini adalah undangan makan malam yang seharusnya dihadirinya bersama Jongin... sekarang Jongin bahkan tidak bisa dihubungi di mana-mana.

Apakah Minhyun harus tetap datang? Sanggupkah dia menerima tatapan cemoohan dan kasihan dari orang-orang ketika mengetahui bahwa dia tidak datang bersama Jongin lagi?

Tetapi mungkin saja Jongin akan datang di pesta itu, mungkin saja Minhyun bisa merayunya dan memperoleh kesempatan untuk mendapatkan Jongin lagi.

Ya. Pesta makan malam ini adalah kesempatannya untuk mendapatkan Jongin kembali... Minhyun benar-benar mantap dan bertekad malam ini. Dia kemudian memencet nomor ponsel salon langganannya.

Minhyun akan berdandan luar biasa cantik nanti malam, supaya Jongin terpesona dan luluh kepadanya...

...

Malam itu kembali Baekhyun menatap bayangan dirinya di cermin. Penampilannya benar-benar feminim, apakagi rambutnya digulung dengan gaya klasik di atas tengkuknya, memamerkan antingnya yang panjang dan eksotis. Mamanyalah yang mendandaninya hingga penampilannya secantik ini.

Tetapi Baekhyun cemberut dan benar-benar cemberut. Jongin telah bertindak licik, mengancamnya dan memaksanya datang ke pesta itu menemaninya, dan tidak ada yang bisa dilakukan Baekhyun selain mengikuti kemauan Jongin. Selama foto itu masih tersimpan di ponsel Jongin, Baekhyun tidak bisa berbuat apa-apa... hmmm tapi mungkin dia bisa mencari cara untuk mengambil ponsel Jongin tanpa ketahuan dan menghapusnya diam-diam, setelah itu dia akan bebas merdeka dari ancaman Jongin.

Mamanya tentu saja sangat senang karena Jongin membawa Baekhyun ke pesta ekslusif dan penuh dengan orang-orang penting di dunia musik klasik. Sepertinya dalam penjelasannya yang mempesona kepada mama Baekhyun, Jongin mengatakan bahwa pesta malam ini adalah kesempatannya untuk memperkenalkan Baekhyun sebagai murid khususnya.

Bahkan sang mama sama sekali tidak mengungkit-ungkit jam malam, seperti yang selalu diingatkannya ketika Baekhyun pergi bersama Chanyeol...

Baekhyun mencoba menghilangkan dahinya yang berkerut, tetapi dia tidak bsia menahannya ketika suara bel pintu berbunyi. Dari kamarnya dia mendengar suara pintu yang dibuka oleh mama Baekhyun dan sapaan mama Baekhyun yang bersemangat ketika menyapa Jongin.

Gawat, sang mama rupanya sudah tersihir oleh ketampanan dan pesona Jongin.

Tiba-tiba saja Baekhyun teringat akan kata-kata Chanyeol kepadanya sore tadi, bahwa dia harus berhati-hati kepada Jongin. Tetapi Baekhyun tahu pasti bahwa Chanyeol sudah tentu salah, amat sangat menggelikan dan tidak bisa dipercaya kalau sampai Jongin tertarik kepadanya. Dia sudah jelas-jelas bukan tipe Jongin, dan lelaki itu tidak akan pernah meliriknya. Menurut Baekhyun, Jongin benar-benar tertarik kepadanya karena permainan biolanya saja.

Pintu kamarnya diketuk dengan lembut dan mamanya memanggilnya karena Jongin sudah siap menunggu di depan. Baekhyun melirik bayangannya di cermin untuk terakhir kali dan kemudian menghela napas panjang dan mengambil biolanya sebelum melangkah ke luar kamar.

Yah setidaknya dia harus bertahan untuk melalui malam ini.

...

"Pergi ke pesta makan malam?" Chanyeol mengerutkan keningnya sambil menatap Kyungsoo, "Maksudmu pesta makan malam di rumah keluarga pemusik terkenal itu?"

"Iya. Sebenarnya papa yang mendapat undangan, tetapi dia tidak bisa hadir karena kondisi kesehatannya menurun, jadi dia memintaku mewakilinya. Pesta makan malam itu akan dihadiri oleh banyak orang penting dalam dunia musik, Chanyeol... kuharap kau mau menjadi pasanganku di pesta."

Chanyeol langsung teringat akan pesta yang dikatakan Jongin tadi, dan dia yakin bahwa ini adalah pesta yang sama, setelah menarik napas panjang, dia mengambil keputusan bahwa dia akan menemani Kyungsoo datang ke pesta itu, toh dia bisa sekalian menjaga Baekhyun kalau-kalau dugaannya benar dan Jongin bersikap macam-macam bukan?

Chanyeol memang mengagumi Jongin, sangat mengagumi permainan biolanya dan menjadikan lelaki itu inspirasinya, tetapi bukan berarti dia menutup mata atas reputasi Jongin sebagai penghancur uke. Selama ini reputasi itu tentu saja tidak mengganggunya... tetapi sekarang, ketika Baekhyun yang sangat disayanginya terlibat, mau tak mau Chanyeol harus mewaspadai Jongin. Apalagi sudah beberapa kali lelaki itu mencium Baekhyun tanpa izin... melakukannya seolah itu hal yang sangat biasa, kenyataan tentang ciuman itu sebenarnya amat sangat mengganggu Chanyeol.

"Oke, beri waktu aku setengah jam untuk bersiap-siap, lalu aku akan langsung menjemputmu." gumam Chanyeol pada Kyungsoo, memutuskan bahwa dia akan memanfaatkan kesempatan ini untuk mengawasi Jongin.

...

Jongin hanya mengangkat alisnya penuh pujian ketika melihat penampilan Baekhyun, tetapi lelaki itu tidak berkata-apa-apa dan seolah menyimpan pendapatnya dalam hati

Setelah Jongin berpamitan kepada mama Baekhyun, dengan lembut dia mengamit lengan Baekhyun dan membawanya ke mobilnya. Sikapnya sopan, bahkan dia membukakan pintu untuk Baekhyun sebelum masuk ke balik kemudi.

Setelah mobil dijalankan, Jongin melirik ke arah Baekhyun.

"Kau sangat cantik dengan pakaian itu, dan rambut yang ditata sangat feminim." Lelaki itu melemparkan pujiannya dengan lembut.

Baekhyun hanya melirik sedikit dan tak bereaksi, "Terimakasih. Mama yang mendandaniku."

"Jangan cemberut begitu, kau merusak penampilan cantikmu."

Baekhyun langsung menyambar, "Tidak ada yang bisa tersenyum kalau dipaksa datang ke sebuah pesta di luar kemauannya.'

Jongin terkekeh, "Aku selalu bertanya-tanya kenapa kau begitu antipati kepadaku..."

"Karena kau licik dan pemaksa." jawab Baekhyun singkat, mengungkapkan semuanya.

Jawaban itu rupanya tidak membuat Jongin marah, lelaki itu malahan tersenyum, "Ya. itu memang sudah sifatku, aku selalu berusaha mendapatkan apapun yang aku mau." Suaranya berubah serius, "Dan tentang dirimu, aku benar-benar serius Baekhyun, aku melihat diriku, kejeniusanku di dalam dirimu di masa depan, dan kalau aku berhasil melatihmu, kau akan sama hebatnya seperti aku."

Kali ini Baekhyun terdiam, baru kali ini dia mendengar pujian terang-terangan Jongin kepada teknik bermain biolanya, matanya melirik ke arah Jongin dan melihat bahwa ekspresi lelaki itu benar-benar serius.

"Benarkah permainanku sebaik itu?" tanyanya ragu,

Jongin tertawa. "Tidak ada satupun orang yang pernah meragukan penilaianku, aku tidak pernah salah menilai bakat seseorang, Baekhyun. Dan percayalah padaku, kalau ada orang yang kemampuannya bisa menandingiku, itu adalah kau." Jongin melirik ke arah Baekhyun, "Kau sudah menyiapkan apa yang akan kita mainkan nanti malam?"

Baekhyun menganggukkan kepalanya, mau tak mau ketika Jongin mengatakan apa yang akan mereka mainkan nanti malam, Baekhyun langsung mempelajarinya. Beethoven violin romance no 2 adalah salah satu masterpiece karya Beetohoven yang dibuat sang maestro ketika dia berperang dengan penyakit tuli bertahap yang menyerangnya dengan kejam.. selama beberapa periode itu, sang maestro menciptakan musik-musik yang penuh gejolak, yang berisikan pertarungan batin, kesedihan serta penderitaannya. Tetapi kemudian munculah Violin Romance no 2 yang sama sekali tidak mengandung pergolakan batin dan kecemasan dari sang maestro, bahkan musik di dalamnya menimbulkan perasaan manis dan keindahan yang lembut seolah-olah mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Kata orang, Beethoven violin romance no 2 adalah wujud dari perdamaian Beethoven dengan penyakit tuli yang dideritanya.

"Itu adalah alunan musik yang indah, sangat indah ketika dimainkan dengan duet, dan aku percaya kau akan menyingkirkan semua permasalahan di antara kita dan brmain dengan baik, Baekhyun."

Baekhyun terdiam, menyadari kebenaran kata-kata Jongin. Meskipun dia memang tidak menyukai kepribadian Jongin, tetapi bisa berduet dengan lelaki itu, bahkan lebih dari satu kali, seharusnya merupakan anugerah yang didambakan oleh setiap pemain biola amatiran seperti Baekhyun.

...

Mereka turun dari mobil, dan dengan lembut Jongin mengamit jemari Baekhyun, bersikap gentle sebagai pasangan resminya di pesta. Semua orang menyambut mereka -salah, semua orang menyambut Jongin, dan Baekhyun hanyalah tempelan- dengan hormat, apalagi mereka sudah mendengar bahwa malam ini Jongin akan memberikan penampilan khusus untuk berduet dengan murid khususnya yang sudah banyak di desas-desuskan di dalam dunia musik sehingga membuat orang-orang ingin tahu. Banyak sekali mata-mata para undangan yang menatap Baekhyun penuh spekulasi baik terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi.

Untungnya penampilan Baekhyun cukup cantik malam ini, sebenarnya ini semua karena mama Baekhyun yang bersemangat, ketika menyetujui bahwa Jongin akan membawa Baekhyun ke pesta elit di kalangan musik klasik, mama Baekhyun langsung menelepon temannya yang memiliki butik kecil tetapi menghasilkan pakaian-pakaian nan indah, yang langsung mengirimkannya untuk mereka. Untung juga Baekhyun memiliki tubuh yang mungil sehingga ukuran pakaian itu cukup pas ditubuhnya, hanya kebesaran sedikit di bagian pinggang yang langsung dikecilkan mama Baekhyun dengan keahlian menjahitnya.

Jadi berdirilah Baekhyun di sini di sebelah Jongin dengan penampilannya yang luar biasa feminim, dengan pakaian berwarna hijau gelap yang sangat indah membungkus tubuh mungilnya dengan fantastik dan membuatnya tampak padat, berisi dan feminim. Pakaian itu rendah di bagian depan, melebar di pundaknya menampilkan sedikit kulit pundaknya yang halus, lalu ketat di bagian pinggang dan pinggulnya sebelum kemudian melebar dengan indahnya sampai ke mata kaki. Dan pakaian itu membuat penampilan Baekhyun benar-benar feminim.

Para tamu dipersilahkan menikmati hidangan pembuka di lobby yang penuh dengan pelayan-pelayan yang menbawa nampan berisi berbagai jenis minuman dan makanan kecil menawarkannya berkeliling kepada setiap undangan yang hadir. Tamu-tamu itu berkelompok-kelompok dan bersosialisasi tersebar di setiap penjuru lobby indah yang mewah itu, musik lembut mengiringi, mengalir samar-samar yang membuat suasana pesta semakin elegan.

Yah, setidaknya dia pantas berdiri di samping Jongin yang penampilannya seperti biasa luar biasa tampannya. Mereka saat ini sedang berbasa basi dengan sang tuan rumah, dan Baekhyun berharap dia tidak mempermalukan dirinya sendiri di tengah orang-orang penting di kalangan musik klasik ini.

Hanya itu sebenarnya yang dipikirkan Baekhyun dan dia tidak menyadari bahwa ada dua pasang mata yang mengamatinya, dua pasang mata dengan benak berkecamuk yang berbeda.

...

Ketika Jongin dan Baekhyun memasuki ruangan pesta itu, Chanyeol menatap Baekhyun dari kejauhan dan ternganga, menyadari bahwa uke itu entah bagaimana bertransformasi menjadi uke dewasa yang sangat feminim dan cantik.

Dia tahu Baekhyun cantik tentu saja, tetapi selama ini Baekhyun selalu berpenampilan tomboi di depannya, dan Chanyeol hampir menganggapnya sebagai seme, dan juga adik kesayangannya. Tetapi berdiri di sana, menebarkan senyuman lembutnya dalam penampilannya yang luar biasa... Baekhyun benar-benar membuat Chanyeol terpesona.

Kenapa dia tidak menyadarinya sebelumnya?

Tiba-tiba mata Chanyeol menatap ke arah jemari Jongin yang entah bagaimana bisa merangkul pinggang feminim Baekhyun dengan posesif, dan tiba-tiba, dorongan amarah melandanya, membuatnya ingin menerjang ke arah Jongin dan memukulnya, mengancamnya untuk menjauhkan tangannya dari Baekhyun.

Cemburu...?

Chanyeol merasakan dadanya berdenyut, dia lalu melirik ke arah Kyungsoo, dengan penampilan cantik di balut pakaian warna peraknya yang mewah. Tetapi entah kenapa, mata Chanyeol selalu tergoda untuk melirik ke arah Racahel yang bahkan belum menyadari kehadiran Chanyeol di sana.

Apakah Chanyeol terlambat menyadari perasaannya? perasaannya yang sesungguhnya?

...

Sementara itu, mata yang lainnya menatap pasangan Jongin dan Baekhyun dengan kemarahan membara. Ya, Minhyun berdiri di sudut, dengan penampilannya yang luar biasa cantik tetapi diliputi oleh perasaan terhina yang luar biasa.

Berani-beraninya Jongin membawa uke itu sebagai pasangannya setelah mencampakkan Minhyun begitu saja!

Jadi benar bukan? Jongin meninggalkan Minhyun karena tertarik pada kemudaan Baekhyun yang ranum?

Kalau dulu Minhyun masih ragu-ragu, sekarang tekadnya makin membulat, dipenuhi oleh kemarahan dan kecemburuan yang melimpah ruah, memenuhi dadanya hingga terasa membakar.

Matanya mengamati Baekhyun yang tampil begitu feminim dan cantik dalam balutan pakaian hijaunya yang indah, dan menyadari bahwa Jongin mengamit pinggang Baekhyun dengan lembut.

Baekhyun... anak ingusan itu benar-benar mengganggu, Minhyun akan melenyapkan semuanya dari Baekhyun, semua hal yang membuat Jongin tertarik kepada Baekhyun akan dilenyapkannya! Minhyun akan menghancurkan wajah cantik Baekhyun berikut kemampuannya bermain biola...

Jemarinya gemetar menahan marah, ketika masuk ke dalam tas mungilnya, dan merengkuh logam berkilat kecil yang selalu di bawa-bawanya di sana.

Sebuah pisau lipat kecil... tampak kecil dan tak berbahaya tetapi sebenarnya tajam luar biasa...

.

.

.

Bersambung ke Part 11