Embrace The Chord
Oleh Santhy Aghata

Disclaimer:
Cerita ini milik Santhy Aghata.
Bukan milik saya.
Saya di sini hanya meremakenya karena sebuah kesepakatan/?
Kalian bisa membaca ff ini di blog milik Santhy Aghata.

Warning:
Yaoi inside! Age switchDon't like, don't read! Simple right?

Terima kasih. Selamat membaca!

.

.

.

{{Part 11}}

.

.

.

Minhyun melepaskan jemarinya dari pisau lipat kecil di tasnya.

Tidak. Dia tidak boleh terbawa emosi dan berbuat bodoh yang pada akhirnya akan merugikan dirinya sendiri. Minhyun memang selalu membawa pisau kemana-mana sejak peristiwa percobaan perampokan yang pernah menimpanya. Pisau itu memberinya rasa aman, dan seharusnya hanya dipakai untuk melindungi dirinya. Minhyun tidak akan menggunakan pisau itu untuk melukai Baekhyun. Kalau dia ingin mencelakakan Baekhyun maka itu tidak akan dilakukan dengan tangannya sendiri, tangannya harus benar-benar bersih...

Orang lainlah yang akan melakukan untuknya.

Minhyun kemudian menekan nomor ponsel yang sangat dikenalnya, nomor ponsel seorang teman sekaligus pesuruhnya yang setia, karena Minhyun selalu memberikan bayaran yang besar kepadanya. Suara di seberang langsung menjawab pada deringan kedua.

"Minhyun." Terdengar suara yang dalam dan tenang, Minhyun bahkan bisa membayangkan senyum lebar orang diseberang sana.

"Zitao." Setengah berbisik Minhyun memanggil nama lawan bicaranya itu, "Aku ingin kau melakukan seuatu untukku nanti."

...

Acara makan malam itu berlangsung elegan dan menyenangkan, banyak orang-orang penting dari dunia musik klasik yang datang, dan Baekhyun beruntung bisa berkenalan dengan beberapa di antara mereka. Tentu saja kalau dia tidak kemari bersama Jongin, dia tidak akan mendapatkan kesempatan itu. Jongin mengenal hampir semua orang di ruangan ini, dan bahkan dikenal oleh seluruh orang di ruangan ini.

Baekhyun melihat bahwa beberapa orang melemparkan tatapan kagum kepada Jongin. Yah... seme ini tampak berbeda kalau berada di depan umum, Jongin tersenyum sopan dan lembut kepada semua orang yang menyapanya, menanggapi setiap pertanyaan atau sapaan dengan penuh perhatian, bisa dikatakan seme ini tampak.. dewasa.

Selama ini yang ada di benak Baekhyun adalah Jongin yang tukang memaksa, tukang cium sembarangan, tidak sopan dan suka memaksakan kehendaknya.,,,

Kalau begitu, manakah dari dua sisi yang ditampilkan Jongin ini yang merupakan kepribadian aslinya?

"Kita akan tampil setelah makan malam." Jongin sedikit menundukkan kepalaya, berbisik pelan di telinga Baekhyun. Dengan lengannya yang masih melingkari pinggang Baekhyun, mereka berdua terlihat benar-benar intim. Dan sayangnya mereka tidak menyadari ada dua pasang mata yang mengawasi mereka, sama-sama cemburu.

Tiba-tiba Baekhyun mengingat musik yang akan mereka mainkan dan mengerutkan keningnya,

"Kenapa di antara semua musik yang ada, kau memilih untuk memainkan itu?"

"Memilih apa?" Jongin menganggukkan kepalanya kepada seorang tamu yang menyapanya dari kejauhan, lalu dia memfokuskan pandangannya kepada Baekhyun sambil mengangkat alisnya.

Pipi Baekhyun langsung memerah menerima tatapan itu, "Lagu itu... maksudku..."

Mata Jongin langsung berbinar, "Itu adalah melodi yang indah, cocok untuk dimainkan di malam yang juga indah ini... apakah judulnya yang mengganggumu? Beethoven Violin Romance hmm? Kau tidak sedang berpikir bahwa aku sengaja membuat kita tampak seperti sepasang kekasih bukan?"

Sekarang pipi Baekhyun benar-benar merah padam.

"Aku... aku akan ke kamar mandi dulu." Baekhyun melepaskan diri dari pegangan Jongin dan terbirit-birit masuk ke kamar mandi.

...

Jongin sedang meminum gelas anggur keduanya, bersandar di dekat jendela di salah satu sudut yang sepi, berusaha menghindari keramaian pesta sambil mengamati tamu-tamu yang berkerumun dan asyik bercakap-cakap satu sama lain.

Sebentar lagi mereka akan masuk ke ruangan besar untuk acara makan malam formal, dan setelah itu dia akan bermain biola bersama Baekhyun.

Bibir Jongin menyunggingkan senyum tipis penuh rasa ironi.

Ini gila. Rasanya seperti dia ketagihan bermain biola bersama Baekhyun. Ketagihan berdiri di sana mengimbangi nada-nada indah yang dihasilkan oleh gesekan alami Baekhyun.

Dia sendiri tidak menyangka akan melakukan tindakan kekanak-kanakan seperti itu, mengancam Baekhyun dengan sebuah foto. Foto Baekhyun yang sedang mengecup dahi Chanyeol dengan penuh cinta.

Baekhyun yang bodoh dan bertepuk sebelah tangan, tidakkah dia menyadari bahwa dia membuang-buang waktunya dengan mengharapkan Chanyeol? Seorang seme yang bahkan tidak pernah melirik Baekhyun sebagai seorang uke.

"Kau datang dengannya."

Suara itu tiba-tiba saa sudah muncul di sebelah Jongin. Membuat Jongin menoleh dan mengerang dalam hati. Sial. Dari semua orang yang ada, dia harus bercakap-cakap dengan orang yang paling tidak ingin ditemuinya, yah Jongin seharusnya tahu bahwa Minhyun pasti akan hadir di acara-acara makan malam seperti ini.

"Tentu saja." Jongin memalingkan wajahnya dan menatap ke arah para tamu, "Malam ini adalah malam perkenalan resmi Baekhyun sebagai murid khususku di hadapan tamu-tamu penting ini."

"Apakah kau tidak sadar bahwa kau sama saja menampar mukaku di sini? Datang ke pesta sebagai pasangannya? Apa kau tidak sadar sudah berapa kali aku menerima tatapan kasihan dari semua orang karena datang kesini sendirian dan dicampakkan olehmu?"

"Kau sebenarnya tidak perlu datang ke pesta ini sendirian, Minhyun. Itu pilihanmu sendiri untuk mempermalukan dirimu." Jongin bergumam dingin.

Minhyun menghela napas panjang melihat ekspresi dingin Jongin, "Dia sepertinya sangat istimewa bagimu, kau memperlakukan Baekhyun seperti anak emasmu."

Jongin melirik ke arah Minhyun dan melihat uke itu membawa gelas anggur di tangannya, entah gelas yang ke berapa. Bagi Jongin, Minhyun tampak agak mabuk dan tidak fokus.

"Dia memang istimewa, kalau di asah dengan benar, permainan biolanya akan bisa menandingiku." Jongin menjawab datar dan hati-hati.

"Bagiku tidak akan pernah ada orang yang bisa menandingimu dalam bermain biola, Jongin. Kaulah yang paling hebat." Minhyun menyela cepat, penuh keyakinan di matanya, kemudian dia mendongak menatap Jongin tajam dan berusaha menarik perhatian Jongin, "Apakah ketertarikanmu kepadanya hanya karena dia sangat berbakat dalam permainan biola?"

"Apa maksudmu?" Jongin mengerutkan keningnya, kali ini dia benar-benar yakin bahwa Minhyun mabuk. Uke itu bahkan tidak bisa berdiri tegak dan bersandar di sisi lain jendela, setengah sempoyongan. "Apakah kau masih berpikir bahwa aku mencampakkanmu karena Baekhyun?"

Minhyun tersenyum sinis, "Setelah bertemu dengannya, kau meninggalkanku." Mata Minhyun menyala, "Aku jadi bertanya-tanya, kau selalu mengatakan bahwa kau tertarik kepadanya karena bakatnya, bagaimana jika dia kehilangan kemampuannya bermain biola?"

Jongin langsung menoleh waspada, instingnya mengatakan ada sesuatu yang tidak beres, "Apa yang kau rencanakan, Minhyun?"

Mata Minhyun bersinar penuh rahasia, "Pembalasan."

Dengan geram Jongin merenggut lengan Minhyun dan menatapnya penuh ancaman. Sayangnya, Minhyun terlalu mabuk untuk merasa takut kepadanya, uke itu malahan tersenyum lebar dengan tatapan mata bergairah, senang akan sentuhan Jongin di tubuhnya.

"Jika sampai terjadi sesuatu kepada Baekhyun dan kau adalah dalangnya, aku akan membuatmu menyesal seumur hidup, Minhyun."

Minhyun terkekeh, "Sayangnya sepertinya sudah terlambat, Jongin sayang." Jemari lentik Minhyun dengan kuku yang dicat merah darah menyentuh pipi Jongin penuh hasrat, "Kalau aku tidak bisa memilikimu, Jongin. Maka tak seorangpun bisa."

Jongin langsung melepaskan pegangannya dari Minhyun, setengah mendorong uke itu dengan jijik, tidak dipedulikannya Minhyun yang masih terkekeh mabuk, dia langsung melangkah menuju area toilet tempat Baekhyun menghilang tadi.

Baekhyun sudah terlalu lama berada di kamar mandi... Jantung Jongin berdebar cemas.

...

Baekhyun sedang mencuci tangannya di wastafel dan menatap bayangan dirinya di kaca. Pipinya masih merona merah. Ya ampun, bodoh sekali dia bertanya seperti itu kepada Jongin dan seme itu langsung menyambarnya untuk mempermalukannya.

Setelah menghela napas panjang, Baekhyun melangkah keluar dari kamar mandi, yah dia hanya perlu melalui malam ini dengan baik dan berharap Jongin segera menghapus fotonya yang sedang mencium dahi Chanyeol dari ponselnya...

Satu langkah Baekhyun keluar dari pintu area toilet yang kebetulan berada di lorong yang sepi, sebuah tangan kekar dan kuat mencengkeramnya dengan kasar. Baekhyun memekik tetapi sebelah tangan sosok kasar yang menyergapnya itu langsung menutup mulutnya. Di pinggangnya Baekhyun merasakan benda keras yang menekan dan tajam, dia melirik dan mengernyit cemas, sebuah pisau!

"Diam kalau kau mau hidup." Suara seme yang menyergapnya itu mendesis kasar, membuat Baekhyun tak berdaya mengikuti kemauan si penyergap, dia bisa apa? Sebuah pisa yang mengerikan sekarang menempel di pingangnya!

Si penyergap itu setengah menyeret Baekhyun menuju ujung lorong ke arah tangga darurat menuju ke bagian luar rumah. Jantung Baekhyun berdebar kencang, apa yang akan terjadi kepadanya? Siapa seme ini? Kenapa melakukan ini kepadanya?

Langkah-langkah si penyergap semakin cepat seakan ingin segera keluar dari rumah besar itu, Baekhyun bisa mendengar napas seme itu terengah di atas kepalanya, dia ingin melirik wajah seme itu, bukankah itu yang selalu dikatakan polisi? Jika terjadi sesuatu kepadamu, hapalkan wajah penjahatnya seteliti mungkin. Tetapi ternyata tubuh Baekhyun yang pendek menghalanginya melihat wajah seme itu, seme itu tinggi dan besar, setinggi Jongin tetapi lebih kekar dan mengerikan, dan sekarang kaki Baekhyun mulai terasa pedih karena sepatu hak tingginya terseret-seret mengikuti langkah si penyergap itu.

"Baekhyun?" sebuah teriakan terdengar dari ujung atas tangga, di pintu keluar dekat area toilet. Si penyergap sudah menyeret Baekhyun sampai ke tangga bagian bawah, sebentar lagi mereka akan mencapai pintu keluar. Baekhyun dan si penyergap sama-sama terkesiap mendengar suara panggilan itu. Baekhyun mengenali suara itu.. itu suara Jongin!

Baekhyun langsung meronta sekuat tenaga merasakan ada harapan, tetapi kemudian ujung pisau yang tajam itu menusuk ke pinggannya sedikit, membuatnya merasa perih dan ngeri.

"Jangan coba-coba." Seme itu mendesis tajam, "Ayo!" dengan gerakan kasar, si penyergap menyeret Baekhyun kali ini lebih terburu-buru, dan kemudian membuka pintu tembusan ke luar rumah itu.

Sementara itu, suara Jongin masih memanggil-manggil di ujung tangga.

...

Jongin memanggil-manggil Baekhyun tanpa hasil. Dia bahkan melongok ke area toilet uke dan langsung merasa cemas ketika mengetahui bahwa tidak ada seorangpun di dalamnya. Buru-buru dia melangkah keluar dari area kamar mandi, dan kemudian kakinya menginjak sesuatu yang keras.

Jongin membungkuk dan mengambil benda yang mengganjal sepatunya itu dan mengernyit ketika memegang sebuah kancing kecil... kancing kecil berwarna hijau... Baekhyun mengenakan baju hijau..

Matanya membara ketika menemukan bahwa di ujung lorong ada sebuah pintu kecil yang mengarah kepada tangga darurat di luar, dengan langkah cepat dia menuju ke pintu itu dan membukanya,

"Baekhyun?" Jongin memanggil lagi, suaranya menggema di area tangga darurat itu, dan kemudian telinganya yang tajam mendengar suara pintu dibanting di bawah.

Ada seseorang membuka pintu di bawah!

Setengah berlari, Jongin menuruni tangga darurat itu.

...

Sebentar lagi beres. Mereka sekarang berlari menembus kegelapan taman yang dipenuhi pohon-pohon besar. Si Penyergap rupanya berhasil menyusup masuk ke pesta melalui halaman belakang rumah. Ya. Ini adalah pesta untukn acara musik yang penuh persahabatan, jadi sama sekali tidak ada penjagaan keamanan berlebih kecuali dua orang satpam yang berjaga di pintu depan.

Tentu saja di penyergap tidak sebodoh itu melalui pintu depan, dia berhasil menemukan jalan masuk kecil melewati pintu belakang di tengah taman yang sepertinya digunakan khusus untuk membuang sampah.

Perintah Minhyun sangat jelas. Lukai urat penting di tangan Baekhyun, dan buat rusak wajahnya, tetapi jangan bunuh dia, lalu tinggalkan.

Sepertinya tempat di halaman belakang yang penuh pohon ini cukup cocok untuk mengeksekusi korbannya. Zitao, si penyergap sebenarnya tidak suka melukai uke... tetapi ini adalah pekerjaan, dan bayarannya menggiurkan.

harus buru-buru melakukan tugasnya dan kemudian bergegas pergi dari rumah ini, menghilang di kegelapan. Suara-suara yang memanggil di belakangnya tadi tidak main-main, dan kalau dia tidak cepat, pemilik suara itu akan mengejar mereka. Dia hanya perlu melakukan satu atau dua tikaman sebelum uke mungil ini sempat menjerit, kemudian dia bisa melompat melalui pintu belakang itu dan kabur dalam kegelapan.

Dengan kasar, Zitao membanting tubuh Baekhyun ke tanah, begitu keras hingga Baekhyun memekik kesakitan, sepertinya tingkah kasarnya telah membuat Baekhyun cedera, uke itu meringis, melirik ke arah kakinya yang terkilir.

"Apa yang kau lakukan? Siapa kau...?" suara Baekhyun berubah ngeri ketika pisau di tangan Zitao memantulkan cahaya bulan, tampak mengancam, "Kenapa kau melakukan ini kepadaku?" Suara Baekhyun ketakutan bercampur panik, dia berusaha beringsut menjauh, tetapi kakinya terkilir, amat sangat sakit dan membuatnya tak bisa berdiri, yang bisa dilakukannya hanyalah menyeret tubuhnya menjauhi sang penyergap.

Sayangnya itu tak berarti banyak, karena sang penyergap sekarang berdiri menjulang di atasnya, tubuhnya menghalangi bayangan bulan dan wajahnya hampir seperti siluet, tetapi Baekhyun bisa merasakan seme itu menyeringai,

"Maafkan aku cantik, sayangnya aku harus melukaimu." Suara si penyergap serak dan mengerikan, dan pada detik itu, si penyergap mengayunkan pisaunya ke arah Baekhyun. Baekhyun sontak menjerit keras-keras, berusaha beringsut mundur dan menaruh tangannya di depannya untuk melindungi dirinya.

Lalu detik berikutnya berlangsung cepat, pisau si penyergap tidak mengayun kepadanya, tubuh si pernyergap terbanting kesamping, ada seseorang yang menerjangnya dari belakang.

Itu Jongin!

Jongin datang menolongnya! Dan sekarang kedua seme itu sedang bergulat di tanah, tetapi si penyergap membawa pisau dan Jongin hanya memakai tangan kosong!

Baekhyun menjerit, mencoba memanggil bantuan, mencoba berteriak agar siapa saja yang mungkin mendengar bisa datang dan menolong mereka. Dia menatap cemas dan ketakutan ke arah dua seme yang masih bergulat dengan keras itu. Yang satu berusaha mengalahkan yang lain, pukulan-pukulan dilayangkan dan Jongin berusaha menangkis tikaman-tikaman pisau dari si penyergap, membuat Baekhyun mengerutkan keningnya ketakutan dan semakin menjerit keras sampai suaranya serak.

Kemudian terdengar langkah-langkah kaki berderap yang mendekati mereka, membuat si penyergap panik dan membabi buta untuk melepaskan diri dari pergulatannya dengan Jongin. Seme itu mengayunkan pisaunya dengan keras dan kejam ke arah Jongin, hanya beberapa detik hingga Jongin tidak bsia menghindar, darah mengucur deras dari tubuh Jongin dan seketika tubuh Jongin tumbang ke tanah, membuat Baekhyun memekik.

Kesempatan itu digunakan si penyergap untuk melepaskan diri dari Jongin, dia langsung bangkit dan berlari secepat kilat menuju ke arah pintu belakang dan tubuhnya menghilang di kegelapan malam.

Baekhyun menyeret kakinya yang terkilir setengah merangkak mendekati Jongin, seluruh pakaian hijaunya berlumuran tanah, tetapi dia tidak peduli. Dia berhasil mendekati Jongin yang terbaring setengah meringkuk membelakanginya, dia meraih tubuh Jongin, membalikkannya dan langsung membelalakkan matanya.

Jongin sedang meringis menahan sakit, wajahnya pucat pasi hingga tampak begitu putih di kegelapan kebun belakang ini, dan meskipun sekeliling mereka gelap pekat, Baekhyun bisa melihat bahwa sebelah tangan Jongin sedang menekan pergelangan tangannya yang lain... dan darah segar mengucur di sana, begitu deras keluar dari sebuah luka sayatan yang menganga lebar dari telapak tangan Jongin hingga melewati pergelangan tangannya.

"Jongin? Oh astaga... Jongin?" Jemari Baekhyun bergetar menyentuh pipi Jongin yang dingin.

"Kau tidak apa-apa Baekhyun?" Suara Jongin tampak lemah dan matanya tidak fokus, tetapi dia sepertinya menyadari Baekhyun yang membungkuk di atasnya, "Ini sakit sekali... aku lelah."

Dan Jongin-pun memejamkan matanya.

Baekhyun langsung panik, dia berusaha mengguncangkan tubuh Jongin, tetapi tidak ada reaksi. Suara derap kaki semakin mendekat, tetapi sepertinya mereka kebingungan menemukan Jongin dan Baekhyun karena suasana begitu gelap. Baekhyun akhirnya berteriak-teriak di kegelapan sampai suaranya serak...

Bantuan itupun datang, ternyata itu adalah dua orang satpam di depan yang sedang berpatroli dan kebetulan mendengarkan jeritan Baekhyun tadi. Mereka segera memanggil ambulance. Dan kemudian, ketika bantuan paramedis berdatangan, dan tubuh Jongin yang lunglai diangkat untuk dinaikkan ke ambulance. Baekhyun kehilangn kesadarannya.

Yang diingatnya terakhir kali adalah darah itu... darah yang mengucur deras dari telapak hingga pergelangan tangan Jongin.

Tangan yang digunakannya untuk menggesek biolanya...

.

.

.

Bersambung ke part 12