Embrace The Chord
Oleh Santhy Aghata

Disclaimer:
Cerita ini milik Santhy Aghata.
Bukan milik saya.
Saya di sini hanya meremakenya karena sebuah kesepakatan/?
Kalian bisa membaca ff ini di blog milik Santhy Aghata.

Warning:
Yaoi inside! Age switchDon't like, don't read! Simple right?

Terima kasih. Selamat membaca!

.

.

.

{{Part 13}}

.

.

.

Apapun..

Tiba-tiba saja Baekhyun merasa menyesal sudah menjanjikan sesuatu yang sepertinya bisa digunakan Jongin untuk memanfaatkannya. Tetapi sudah terlanjur, lagipula, melihat perban di tangan Jongin itu membuat Baekhyun merasa sangat bersalah. Tangan kanan merupakan tangan yang vital bagi seorang pemain biola, tangan itu berguna untuk memainkan busur penggesek biola, dan sangat penting dalam menciptakan suara. Tangan kanan bagi seorang pemain biola bertanggung jawab dalam hal kualitas nada, ritme, dinamik, artikulasi dan timbre, tetapi sekarang Jongin terluka di tangan kanannya, kata Chanyeol, seme itu bahkan kesulitan menggerakkan jari-jarinya...

Baekhyun menatap Jongin dengan tatapan was-was sementara mata seme itu tampak berkilat penuh rencana.

Apa yang ada di benak seme ini?

Tiba-tiba saja Jongin menatap Baekhyun tajam dan tersenyum mencurigakan, "Oke, sudah kuputuskan."

"Sudah diputuskan apa?" Baekhyun bertanya, penasaran dengan sikap Jongin yang penuh misteri.

Senyum Jongin melebar, "Kau akan menjadi pengganti tangan kananku, selama tangan kananku tidak bisa digunakan, sampai aku sembuh."

Mata Baekhyun membelalak, masih berharap kalau dia salah duga karena tidak menyangka bahwa seme itu akan meminta hal yang begitu konyol dan egois kepadanya,

"Menjadi pengganti tangan kananmu? apa maksudmu?"

Jongin

Jongin memasang wajah datar yang menjengkelkan, "Karena kau aku jadi invalid, aku tidak bisa menggunakan tangan kananku, bukan hanya untuk bermain biola tetapi juga kegiatan-kegiatan lainnya, seperti menulis, menyuapkan makanan, menyisir rambutku." Seme itu tampak geli sendiri dengan kata-katanya, tetapi matanya bersinar menantang ketika menatap Baekhyun, "Apalagi setelah operasi lusa, aku akan semakin tak bisa menggerakkan tanganku karena masih dalam proses penyembuhan. Jadi Kau bertugas menggantikan tangan kananku."

Mata Baekhyun melirik dirinya sendiri yang memakai kruk dengan kaki dibebat, "Aku sendiri terluka di bagian kaki dan membutuhkan orang lain untuk menopangku, aku tidak bisa menjadi tangan kananmu." gumamnya jengkel.

Jongin memasang wajah datar, "Kalau begitu biarkan aku menjadi kakimu, aku akan menopangmu." gumamnya tak peduli, lalu melemparkan tatapan menuduh kepada Baekhyun, "Kau bilang kau mau melakukan 'apapun' untukku."

Baekhyun terdiam, teringat janjinya lagi, lalu memandang Jongin lama, kemudian menghela napas panjang. Ya ampun, sepertinya dia terperangkap dalam jebakan Jongin yang licik.

...

"Kenapa?" Chanyeol duduk di pinggir ranjang, menatap Baekhyun lembut, uke itu tadi memaksa untuk menengok Jongin di kamarnya, tetapi setelah kembali wajah Baekhyun bukannya lega, malahan lebih kusut dari biasanya.

Baekhyun menatap Chanyeol dan mencoba tersenyum,

"Tidak apa-apa." sebaiknya Chanyeol tidak tahu kalau Baekhyun sudah bersedia menjadi pengganti tangan kanan Jongin. Seme itu pasti akan marah dan merasa bahwa Jongin memanfaatkan Baekhyun.

Tetapi tentu saja Chanyeol tidak mau menyerah, "Dia marah padamu ya?"

Baekhyun meringis, mungkin lebih baik kalau Jongin marah kepadanya, mungkin membentak, mencaci dan menyalahkannya. Tetapi tidak, Jongin begitu dingin dan penuh perhitungan sehingga Baekhyun tidak bisa menebak apa yang ada di dalam kepalanya. Seme itu tampak misterius dan Baekhyun tiba-tiba merasa takut dan tidak nyaman, karena dia tidak bisa mengetahui apa rencana Jongin selanjutnya.

Baekhyun menggelengkan kepalanya, mengetahui bahwa Chanyeol masih menantikan jawabannya,

"Tidak, dia tidak marah kepadaku."

"Kau sudah meminta maaf bukan?" Chanyeol bertanya lagi, merasa tidak puas dengan jawaban Baekhyun.

Baekhyun menganggukkan kepalanya, "Sudah."

"Lalu kenapa kau masih tampak sedih?"

"Tidak apa-apa Chanyeol." Baekhyun menggelengkan kepalanya, sebaiknya Chanyeol tidak usah tahu tentang apa yang dikatakan Jongin kepadanya, kalau tidak sifat Chanyeol yang protektif kepadanya mungkin akan membuat Chanyeol melabrak Jongin.

Lagipula, kalau Jongin memang mau mengerjainya, dia pantas bukan diperlakukan seperti itu? Karena dia yang bersalah...

Tiba-tiba Baekhyun bertanya-tanya, pertanyaan yang kemarin lupa untuk dipikirkannya... Si penyergap itu, seme menakutkan itu jelas-jelas mengincar tangan dan wajah Baekhyun dengan pisau, seperti sudah direncanakan sebelumnya. Seme itu bukan penculik acak, Baekhyun memang sudah ditargetkan.

Ketika Baekhyun sadarkan diri, polisi sudah menemuinya dan menanyakan semuanya kepada Baekhyun. Baekhyun sendiri berusaha membantunya sebisanya, tetapi ketika polisi menanyakan pertanyaan itu, dia sendiri tidak punya jawabannya.

Kenapa si penyergap itu berusaha melukainya? Dan siapakah dia?

...

Minhyun menampar Zitao keras-keras, melampiaskan kemarahannya.

"Bodoh!" dia berteriak kencang, marah luar biasa, sementara Zitao hanya terpatung diam dan tampak pasrah, "Aku menyuruhmu melukai anak ingusan brengsek itu! Bukannya melukai Jonginku, dan dari semua bagian tubuhnya, kenapa kau melukai tangannya?!"

Minhyun tentu saja mengikuti perkembangan berita tentang Jongin yang heboh ditayangkan di televisi. Dia sama sekali tidak menyangka semuanya akan menjadi seperti ini.

Ya ampun. Jonginnya! Kesayangannya! Kekasihnya!

Seme itu sekarang terluka, di bagian tangan yang vital pula! Dan itu semua karena kebodohan Zitao.

"Kau harus menebus kesalahanmu ini dengan berhasil di tugas berikutnya Zitao! Kali ini jangan sampai gagal, kau harus bisa melukai Baekhyun!" suaranya masih tinggi karena emosi, dan ketika Zitao hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, Minhyun mendengus lalu membalikkan badan dan meninggalkan Zitao,

Dalam langkahnya, dia membayangkan Jongin, dan kemudian dia sadar bahwa sampai detik ini, tidak ada polisi yang datang menanyainya. Padahal kalau Jongin mau mengatakan kepada polisi bahwa sebelum penyerangan atas Baekhyun itu, Minhyun jelas-jelas mengatakan bahwa dia merencanakan menyakiti Baekhyun, pasti sekarang Minhyun sudah berada di dalam sel penjara.

Tetapi sepertinya Jongin tidak mengatakan apa-apa kepada polisi. Kenapa Jongin melindunginya?

Apakah jangan-jangan, Jongin masih mencintainya sehingga memutuskan untuk melindunginya?

Bibir Minhyun mengembangkan senyum penuh harap. Ya. Jongin pasti masih mencintainya! Segera setelah Zitao berhasil melakukan misinya dan menyingkirkan Baekhyun selamanya, Jongin pasti akan kembali kepada Minhyun!

...

Hari ini adalah hari operasi tangan Jongin yang kedua, seme itu duduk dan menunggu. Matanya menatap ke arah tangannya yang diperban, kemudian dengan senyuman jahil seme itu menekan nomor telepon Baekhyun yang sangat dihapalnya.

"Halo?" suara Baekhyun yang lemah terdengar di seberang, Jongin bahkan bisa membayangkan bagaimana dahi Baekhyun mengerut dan bibir mungilnya mengerucut.

"Aku mau kau ke sini."

Lalu tanpa menunggu jawaban Baekhyun, Jongin mematikan ponselnya. Menunggu.

Senyumnya melebar ketika terdengar ketukan di pintu kamarnya, kamar Baekhyun memang berada di sebelahnya sehingga mudah bagi mereka untuk saling mengunjungi. Jongin sebenarnya bisa mengunjungi Baekhyun ke kamarnya, tetapi karena dia harus dioperasi beberapa jam lagi, dia dilarang keluar-keluar dari kamarnya, berbeda dengan Baekhyun yang cedera terkilir dan tidak ada infus yang mengikatnya.

"Masuk." Jongin bergumam tenang, tahu siapa yang ada di depan pintu.

Pintupun terbuka dan Baekhyun masuk, uke itu masih memakai kruk tetapi sepertinya kakinya sudah lebih baik. Setengah melangkah Baekhyun berjalan mendekati ranjang Jongin dan berdiri di sana dengan ragu.

Jongin mengangkat alisnya, "Duduklah, kalau tidak kau bisa ambruk karena berdiri terlalu lama. Ada yang ingin kubicarakan."

Baekhyun menurut, dan duduk meskipun benaknya dipenuhi pertanyaan.

Hening sejenak, Jongin menatap Baekhyun dalam-dalam, dan kemudian bergumam,

"Aku ingin kau menjadi kekasihku."

Kali ini mata Baekhyun membelalak, dan kalau kakinya tidak terkilir, mungkin dia sudah berdiri dari duduknya,

"Apa maksudmu?" Matanya membalas tatapan serius Jongin, berusaha mencari candaan dan jebakan yang tersembunyi di sana. Tetapi Jongin tampak tenang, tersenyum misterius dan mengangkat dagunya angkuh.

"Bukan kekasih yang sebenarnya." gumamnya dingin, "Aku tidak butuh kekasih di saat-saat seperti ini. Aku menawarkan itu supaya semuanya lebih mudah bagi kita."

"Apanya yang lebih mudah?" kata-kata bantahan sudah berkumpul di ujung bibir Baekhyun, dia masih bingung dengan tawaran Jongin itu yang sebenarnya tidak bisa disebut tawaran, tetapi lebih mirip sebuah perintah. Apa maksud Jongin dengan menjadi kekasihnya, tetapi bukanlah kekasihnya yang sebenarnya?

"Si penyergapmu itu." Mata Jongin menyipit. "Aku menduga dia adalah suruhan dari orang yang cemburu kepadamu, karena kau ada di dekatku." Jongin memilih tidak menyebut nama Minhyun kepada Baekhyun. Dia punya balas dendam sendiri yang akan dilakukannya kepada Minhyun, dan Baekhyun tidak perlu terlibat di dalamnya, "Dan masih ada kemungkinan dia akan menyerang lagi."

Kenangan itu langsung menyerang Baekhyun, membuatnya pucat pasi. Dia masih ingat pisau yang terayun itu, sedetik sebelum Jongin menyelamatkannya. Kalau dia harus mengalami hal yang sama sekali lagi, entah apakah dia mampu...

"Kalau memang penyerang itu disuruh oleh orang yang cemburu, bukankah lebih baik aku menjauh darimu? Kenapa kau malahan menyuruhku berpura-pura menjadi kekasihmu? bukankah itu malahan semakin menyulut si pelaku?" Baekhyun melemparkan pemikiran logisnya ke arah Jongin.

Sementara itu Jongin malahan menggelengkan kepalanya. "Tidak. Kalau kau menjauhiku, kau akan tetap diincar, lagipula kau tidak bisa menjauhiku, kau adalah murid khususku dan kau akan menjadi pengganti tangan kananku." Jongin seolah senang mengingatkan akan janji Baekhyun untuk bersedia menjadi semacam budaknya. "Satu-satunya cara kau bisa ada di dekatku, dan aku bisa menjagamu supaya aman adalah dengan statusmu sebagai kekasihku, selain itu aku ingin memancing si pelaku ini supaya semakin marah dan meledak." Senyum Jongin tampak kejam, "Lalu aku akan menghancurkannya."

Baekhyun menelan ludah, sisi Jongin yang ini belum pernah dilihatnya sebelumnya. Dia tahu Jongin yang menjengkelkan dan pemaksa, dia tahu Jongin yang elegan dan dewasa ketika berada di pesta, dia tahu Jongin yang misterius dan tampak susah didekati ketika bermain biola... tetapi dia belum pernah melihat sisi Jongin yang penuh dendam dan kejam... dan itu terasa menakutkan...

"Kau tidak bisa menolak." Jongin mengamati Baekhyun yang merenung, mengira bahwa Baekhyun akan menolaknya, "Kau sudah berjanji akan melakukan apapun untukku. Ini termasuk di dalamnya."

Sialan Jongin. Baekhyun mengumpati seme itu diam-diam, merasa jengkel karena Jongin benar-benar memanfaatkan kata-kata yang diucapkan Baekhyun saat itu. Oke. Sekarang dia tahu bahwa seme ini kejam, dan tidak segan-segan memanfaatkan rasa bersalah Baekhyun.

"Jadi sekarang bagaimana?" Baekhyun melemparkan tatapan mata jengkel kepada Jongin, pada akhirnya dia pasrah, karena seme ini pasti akan berusaha mendapatkan apapun yang dia mau.

"Mulai sekarang, kau adalah kekasihku." Senyum Jongin tampak puas, "Kita harus menandai hal istimewa ini."

Pada saat bersamaan, pintu itu terbuka dari luar, dan seperti sudah direncanakan sebelumnya, detik yang sama pula tangan Jongin yang tidak sakit meraih belakang kepala Baekhyun, memaksa Baekhyun menunduk ke arahnya, dan kemudian bibirnya mengecup bibir Baekhyun dengan sangat ahli.

...

Tadi Chanyeol meninggalkan Baekhyun untuk membeli kopi di bawah, dan ketika dia kembali ke kamar Baekhyun, ternyata ranjang Baekhyun kosong.

Chanyeol sudah tentu tahu bahwa Baekhyun sedang mengunjungi kamar Jongin, dia merasakan dadanya berdenyut oleh perasaan asing. Perasaan asing yang tidak pernah dirasakan sebelumnya. Rasa tidak nyaman yang sama ketika di pesta itu dan dia melihat lengan Jongin melingkari pinggang Baekhyun dengan posesif.

Apakah dia cemburu?

Karena musibah ini, Chanyeol tidak sempat menelaah perasaannya kepada Baekhyun. Tetapi dia tahu rasa itu ada... dia tertarik kepada Baekhyun, lebih daripada sahabat, lebih daripada saudara... apakah Baekhyun akan membalas perasaannya? ataukah uke itu tertarik kepada Jongin...? dan kenapa pula Chanyeol memikirkan kemungkinan itu? Bukankah dia sendiri sudah terikat hubungan asmara dengan Kyungsoo? Kyungsoonya yang cantik, yang dicintainya bertahun-tahun yang lalu dan pada akhirnya bisa menjadi miliknya?

Tidak. Chanyeol tidak boleh mengembangkan perasaan ini... kecuali kalau Baekhyun ternyata menyimpan perasaan yang sama kepadanya. Kalau Baekhyun ternyata juga mencintainya, Chanyeol mungkin akan sangat tergoda meninggalkan Kyungsoo demi Baekhyun. Perasaannya kepada Baekhyun terasa lebih kuat daripada perasaannya kepada Kyungsoo...

Yah. Dia tidak perlu memikirkan itu dulu. Chanyeol lalu berjalan keluar dari kamar Baekhyun dan melangkah keluar dari kamar Baekhyun dan menuju kamar Jongin.

Dia langsung membuka pintunya, lupa untuk mengetuk terlebih dulu. Ketika Chanyeol masuk, pemandangan di depannya membuatnya ternganga...

Jongin dan Baekhyun sedang berciuman!

Seketika itu juga hatinya terasa sakit, seakan diremukkan menjadi serpihan.

...

Baekhyun benar-benar terkejut karena Jongin menciumnya tiba-tiba, dia bahkan masih membelalak dan berusaha meronta ketika merasakan bibir Jongin yang panas melumat bibirnya dengan begitu ahli. Tetapi tangan Jongin yang kuat menahan belakang kepalanya dan malahan menekan kepalanya semakin rapat ke arah kepala Jongin, membuat bibir mereka berpadu semakin rapat.

Ciuman seorang Jongin sangat luar biasa, seolah-olah seme itu diciptakan dengan keahlian mencium alami. Jongin bersikap lembut, bukannya memaksa seperti yang dilakukannya sebelumnya kepada Baekhyun. Bibirnya menyesap bibir Baekhyun hati-hati, mencicipi setiap jengkal rasanya, dan memujanya...

Suara di pintu membuat Baekhyun terkesiap, dan dia memiringkan kepalanya, berusaha melepaskan diri dari bibir Jongin. Dan rupanya kali ini Jongin memutuskan untuk melepaskan bibirnya, membiarkan Baekhyun terengah di sana, dengan bibir panas membara,

Baekhyun menoleh ke arah suara di pintu itu, dan dia ternganga ketika melihat Chanyeol yang berdiri di sana.

"Chanyeol?" Baekhyun merasakan dorongan yang kuat untuk menjelaskan semuanya kepada Chanyeol, supaya seme itu tidak salah paham dan berpikir yang tidak-tidak antara dia dengan Jongin. Tetapi jemari Jongin menyentuh tangannya tegas, seolah mengingatkan Baekhyun akan perjanjian mereka sebelumnya, bahwa Baekhyun sudah bersedia untuk berpura-pura menjadi kekasih Jongin.

"Maafkan aku mengganggu, aku tadi tidak mengetuk pintu dan masuk begitu saja.. aku eh..." Suara Chanyeol terbata-bata, ekspresinya tampak begitu shock, "Aku akan keluar dulu, maafkan aku.."

Chanyeol membalikkan tubuhnya dan dengan tergesa keluar dari kamar itu, membanting pintu di belakangnya.

"Chanyeol!" Rahcel beranjak berdiri, bertumpu pada kruk di bawah lengannya dan hendak mengejar seme pujaan hatinya itu. Tetapi lengannya dicekal dan ditahan oleh Jongin.

"Biarkan dia pergi."

Baekhyun menoleh ke arah Jongin dengan panik, "Tetapi dia akan salah paham! Dia akan mengira aku dan kau serius... aku harus menjelaskan semuanya kepadanya!"

"Tidak boleh."

"Tidak boleh?" Baekhyun tertegun, menatap Jongin dengan marah, berusaha melepaskan diri, tetapi pegangan Jongin ke lengannya makin kencang, "Tidak apa-apa bukan kalau aku menjelaskan bahwa kita sedang berpura-pura pacaran karena ingin menjebak si penyerang kepada Chanyeol?"

"Tidak boleh." Mata Jongin menyipit serius, "Sandiwara ini hanya kita berdua yang boleh tahu, tidak ada orang lain yang boleh..."

Baekhyun menatap Jongin dengan tatapan mata frustrasi, "Tetapi dia Chanyeol! Kau tahu aku padanya..."

"Kau tegila-gila kepadanya, aku tahu." Ekspresi Jongin tampak keras, "Tidakkah kau sadar kalau sandiwara kita ini juga bisa membantumu?"

"Apa maksudmu?" Jongin begitu penuh teka-teki hingga Baekhyun sering merasa bingung ketika mencoba memahami maksudnya.

"Apakah kau tak tahu bahwa dorongan alami seme adalah untuk bersaing dan mengejar pasangannya? Semakin sulit didapatkan, semakin besar seorang seme tertarik." Senyum Jongin tampak tipis, "Aku tahu bahwa Chanyeolmu itu selama ini begitu bodoh, tidak pernah melihatmu sebagai uke. Kau ingin dia menyadari dirimu sebagai uke yang pantas dipertimbangkan, Baekhyun? Maka berpura-puralah menjadi kekasihku, aku akan membantumu memancing rasa cemburu Chanyeol, dan setelah kita selesai, dia akan menyadari perasaannya kepadamu."

Baekhyun tertegun. Benarkah apa yang dikatakan Jongin itu? bahwa dengan berpura-pura menjadi kekasih Jongin, dia bisa membuat Chanyeol cemburu dan memancing perasaan Chanyeol kepada Baekhyun? Baekhyun bukan ahli tentang strategi percintaan, tetapi dia percaya Jongin sangat ahlli dalam hal ini.

Dan ya ampun... tawaran Jongin itu terasa begitu menggodanya, membayangkan Chanyeol tertarik kepadanya...

Pintu kamar Jongin terbuka lagi, tetapi kali ini dokter yang masuk, dia tersenyum kepada Jongin dan mengangguk ramah kepada Baekhyun,

"Siap untuk operasi keduamu?"

Jongin tersenyum lebar, "Aku tak sabar menantikannya, dokter."

.

.

.

Bersambung ke Part 14