Embrace The Chord
Oleh Santhy Aghata

Disclaimer:
Cerita ini milik Santhy Aghata.
Bukan milik saya.
Saya di sini hanya meremakenya karena sebuah kesepakatan/?
Kalian bisa membaca ff ini di blog milik Santhy Aghata.

Warning:
Yaoi inside! Age switchDon't like, don't read! Simple right?

Terima kasih. Selamat membaca!

.

.

.

{{Part 15}}

.

.

.

Baekhyun duduk di cafetaria kantin sambil menyesap kopinya, jemarinya bergetar dan perasaannya bergemuruh. Ekspresi sedih Jongin tadi benar-benar tak terlupakan, sarat dengan kesedihan hingga Baekhyun tidak berani mendekati seme itu dan memilih melarikan diri ke lantai bawah, menyesap kopi untuk menenangkan dirinya.

Ponselnya berbunyi, dan dia melihat nama Chanyeol di sana. Chanyeol... Baekhyun hampir-hampir melupakan Chanyeol, bukan karena perasaannya mulai pudar tetapi karena setelah insiden itu Chanyeol benar-benar menghilang dari kehidupannya, seolah-olah seme itu menghindari Baekhyun.

Hal itu membuat Baekhyun bertanya-tanya. Kenapa Chanyeol menghindarinya? Apakah karena seme itu marah kepadanya? Karena dia mengira -setelah melihat Jongin dan Baekhyun berciuman- bahwa Jongin dan Baekhyun menjalin hubungan cinta? Chanyeol sudah jelas-jelas menunjukkan ketidak setujuannya akan hubungan Baekhyun dengan Jongin, seme itu memang menghormati dan mengagumi Jongin dari permainan biolanya, tetapi Chanyeol mencemaskan reputasi Jongin sebagai penghancur uke.

Seandainya saja Baekhyun bisa mengungkapkan kepada Chanyeol bahwa hubungannya dengan Jongin hanyalah sandiwara, mungkin dia bisa menghilangkan kecemasan Chanyeol... sayangnya dia tidak bisa melakukannya.

"Baekhyun?" Suara Chanyeol terdengar di sana, memanggil-manggil Baekhyun yang masih melamun dan membuat Baekhyun mengerjapkan kedua matanya.

"Iya Chanyeol? Kau di mana saja? Rasanya sudah lama sekali kita tidak bicara." Baekhyun merindukan Chanyeol tentu saja.

Chanyeol berdehem, "Aku... aku tidak mau mengganggumu dengan Jongin, dia kan sedang dalam masa pemulihan. Lagipula aku sedang intens menghabiskan waktuku bersama Kyungsoo..."

Kyungsoo. Hampir saja Baekhyun melupakan keberadaan uke itu. Terakhir, Chanyeol mengatakan bahwa dia sudah menyatakan cintanya kepada Kyungsoo dan Kyungsoo membalas perasaannya. Mereka berdua sekarang adalah sepasang kekasih... Kyungsoo yang memiliki Chanyeol. Baekhyun berusaha menekan perasaan pedih dalam suaranya.

"Aku mengerti Chanyeol..."

"Hari ini Kyungsoo dan papanya kembali ke luar negeri." Chanyeol melanjutkan, "Aku akan mengantarkannya ke bandara."

Baekhyun mengerutkan keningnya, "Kyungsoo sudah akan pulang? Jadi kalian akan menjalin hubungan jarak jauh?"

Suara Chanyeol tampak sedih dan tidak yakin. "Kami akan mencoba Baekhyun, meskipun aku tidak tahu apakah itu akan berhasil atau tidak." Keraguan dalam suara Chanyeol tampak nyata, "Karena aku... aku padamu..." suara Chanyeol menghilang, membuat Baekhyun mengerutkan keningnya semakin dalam.

"Kau kenapa Chanyeol?"

Hening sejenak, lalu Chanyeol berkata. "Tidak. Tidak ada apa-apa. Maafkan aku, mungkin aku hanya sedang bingung, kau tahu, aku sedih karena akan berpisah dengan Kyungsoo."

Baekhyun tersenyum lembut, "Aku mengerti perasaanmu, Chanyeol."

"Kaulah yang paling mengerti/" Ada senyum di suara Chanyeol, tetapi senyum itu menghilang ketika dia bertanya kepada Baekhyun, "Aku tadi ke rumahmu, kata mamamu, kau sudah berkemas dan akan tinggal di rumah Jongin untuk sementara."

Baekhyun berdehem, merasa tidak enak karena dia tidak tahu ketidaksetujuan hubungan Baekhyun dengan Jongin.

"Ya. Jongin memintaku tinggal di sana, karena dia ingin melatihku secara intensif. Selain itu... aku merasa bersalah karena akulah dia terluka."

"Itu bukan sepenuhnya kesalahanmu Baekhyun, penyergap itulah yang bersalah melukai kalian." Suara Chanyeol tampak ragu, "Apakah kau mencintai Jongin?"

"Apa/" Baekhyun terbelalak, tidak menyangka Chanyeol akan menanyakan pertanyaan itu.

Chanyeol terdengar salah tingkah, "Aku... kau tahu, aku penasaran, Mereka semua bilang kalian adalah sepasang kekasih, aku bertanya-tanya apakah kau benar-benar mencintai Jongin... ataukah itu hanya didorong oleh rasa bersalahmu karena luka Jongin?"

Bagaimana Baekhyun harus menjawab? Dada Baekhyun terasa sesak, penuh oleh rasa bingung. Tetapi pada akhirnya dia ingat kesepakatannya dengan Jongin dan menguatkan dirinya ketika menjawab.

"Aku... aku menjalin hubungan dengan Jongin karena aku mencintainya, Chanyeol." Dia harus menghilangkan kecurigaan siapapun tentang hubungan sandiwaranya dengan Jongin, dia sudah berjanji kepada Jongin. Meskipun sekarang rasanya begitu perih, berbohong bahwa dirinya mencintai seme lain, kepada Chanyeol, seme yang sesungguhnya dicintainya.

Hening lagi. Kali ini sedikit agak lama. Tetapi kemudian Chanyeol berdehem.

"Baguslah kalau begitu. Maafkan aku kalau sedikit mencampuri. Kau tahu aku mencemaskanmu."

Baekhyun tersenyum lembut, "Terimakasih, Chanyeol."

"Oke kalau begitu, aku harus ke bandara untuk mengantar Kyungsoo, sampai ketemu nanti ya."

"Iya."

Dan kemudian percakapan mereka terputus, dengan suasana canggung yang entah kenapa. Baekhyun sendiri mulai meragukan perkataan Jongin bahwa hubungan pura-pura mereka akan membuat Chanyeol memandang Baekhyun sebagai seorang uke... rasanya tidak begitu, yang ada malahan Chanyeol menjauhinya dan membuat hubungan mereka yang dulunya erat menjadi canggung.

Dan sekarang Baekhyun terikat dengan Jongin. Dia harus melakukan apapun yang diinginkan oleh Jongin. Tetapi Jongin mungkin berhak memperalatnya, menjadikannya pelayannya atau apalah. Dia telah menyebabkan kehilangan fatal bagi Jongin...

Baekhyun mengernyit, kalau sampai Jongin tidak bisa bermain biola lagi, maka kesalahan terbesar ada di pundak Baekhyun. Dia yang bersalah, dia yang bertanggung jawab.

Ponselnya tiba-tiba berbunyi, membuat Baekhyun terkejut dan hampir saja menjatuhkan cangkir kopinya. Dia melirik dan jantungnya berdebar ketika mengetahui bahwa Jongin yang meneleponnya.

"Halo?" diangkatnya telepon itu dengan suara lemah, berusaha menyingkirkan ekspresi wajah Jongin tadi yang membuatnya merasa sangat bersalah.

"Kau di mana? Aku menelepon ke rumahmu, kata mamamu kau sudah berangkat sejak tadi ke rumah sakit."

Baekhyun menghela napas panjang, berdoa semoga saja Jongin tidak menyadari bahwa Baekhyun sudah sampai ke rumah sakit sejak tadi dan memergoki kegagalan Jongin bermain biola tadi.

"Aku... aku baru sampai rumah sakit." Baekhyun menjawab cepat, "Aku akan segera naik."

"Aku tunggu." Jongin langsung menutup ponselnya tanpa menunggu jawaban Baekhyun.

Baekhyun menyesap kopinya untuk terakhir kalinya, lalu beranjak berdiri. Bertemu dengan Jongin, terlebih setelah menyaksikan ekspresi kesedihan seme itu karena gagal memainkan biolanya benar-benar membuat dada Baekhyun terasa sesak.

...

"Menurutmu, apakah uke bernama Baekhyun itu adalah kekasih Jongin?" Sehun meletakkan garpunya di atas piring yang telah kosong. Mereka berada di apartemen Jongin, bekas apartemen mereka dulu dan melewatkan pagi dengan sarapan bersama. Minseok, dengan keahliannya memasak seperti biasa telah membuatkan Sehun omelet keju kesukaannya, sekaligus membawa kenangan di masa-masa dulu ketika hati mereka belum bertaut sepenuhnya.

Minseok menyorongkan gelas berisi jus jeruk ke depan Sehun lalu bertopang dagu menatap suaminya,

"Kenapa kau bertanya seperti itu?"

Sehun terkekeh, "Ayolah sayang, kau tahu sendiri bagaimana tipe kekasih Jongin sebelumnya, Baekhyun benar-benar di luar kategori itu, selain dia masih terlalu muda, dia adalah tipe 'uke baik-baik'."

Minseok menatap suaminya dengan wajah masam, "Jadi menurutmu Jongin selalu berpacaran dengan uke tidak baik-baik?"

Kali ini kekehan Sehun berubah menjadi tawa, "Tepat seperti itu maksudku. Dia mempunyai obsesi aneh untuk menyakiti uke."

"Jongin selalu baik kepadaku, dia tidak memukul rata semua uke." Minseok membantah

Sehun menganggukkan kepalanya, "Benar, karena itulah tipe kekasih Jongin sangat spesifik, dia selalu memilih uke yang lebih tua, dengan watak yang aku asumsikan mirip dengan ibu kandungnya."

Mereka berdua tentu saja tahu bagaimana jahat dan serakahnya ibu kandung Jongin. Hal itulah yang membuat Jongin menjadi seperti ini, mengumpulkan reputasi sebagai penghancur uke.

"Mungkin dia benar-benar serius dengan Baekhyun, kau tahu aku membaca beberapa berita tentang Baekhyun. Dia sangat berbakat dalam bermain biola, para kritikus musik itu tidak ada yang mencelanya, semuanya memujinya dan menyebutnya sebagai Jongin yang akan datang." Mata Minseok mengerjap. "Rekaman ketika Jongin dan Baekhyun bermain biola tersebar di media, aku melihatnya dan merasa begitu takjub, aku memang tidak tahu tentang musik, tetapi telinga awamku bisa memastikan kalau permainan mereka berdua sangat sempurna dan berpadu dengan indahnya."

"Aku juga melihat rekaman yang menghebohkan itu. Setahuku Jongin ingin membuat Baekhyun menjadi murid khususnya yang pertama. Aku tidak tahu kalau dia menjadikannya pacarnya." Mata Sehun berkilat, "Mungkin pada akhirnya Jongin berlabuh pada uke yang lugu." dia menatap Minseok dengan tatapan menggoda, "Seperti diriku."

Pipi Minseok langsung memerah, berusaha menghindari tatapan mata Sehun, "Jadi sekarang kau sudah benar-benar berlabuh ya?"

Sehun terkekeh, melangkah mengitari meja dan memeluk Minseok dari belakang, mengecup pundaknya dengan mesra dan lembut,

"Tentu saja, aku punya isteri yang sempurna. Apalagi yang aku inginkan? Aku sudah lengkap."

Minseok tersenyum, menyandarkan tubuhnya kepada Sehun, membalas pelukan erat suaminya, "Aku bahagia karena kau memilihku untuk berlabuh." gumamnya serak, penuh perasaan.

"Aku berlabuh pada uke yang tepat." Sehun membalik tubuh Minseok, lalu mengecup bibirnya dengan lembut, ketika dia mengangkat kepalanya, matanya berbinar nakal, 'Kau mau mencoba ranjang di bekas kamarku itu sekali lagi? Mengenang bulan madu kita dulu?"

Minseok terkikik, dan menurut ketika Sehun menghelanya memasuki kamar.

...

Baekhyun mengetuk pintu kamar Jongin, dan mendapati seme itu sedang duduk di kursi di samping ranjang dan merenung. Seme itu sudah berpakaian lengkap, siap untuk pulang.

"Jongjin dan Taemin akan menjemput kita, sebentar lagi mereka datang."

Baekhyun menganggukkan kepalanya, melangkah mendekati Jongin ke tengah ruangan dan mengamati seme itu. Jongin tampak seperti biasa, dengan ekspresi datarnya yang tidak tertebak. Tidak kelihatan bahwa barusan dia telah menampilkan ekspresi sedih luar biasa yang membuat siapapun yang melihatnya merasakan kesedihan yang sama.

"Kenapa?" Jongin mengangkat alisnya, menatap Baekhyun yang mengamatinya, membuat Baekhyun langsung mengalihkan matanya dengan gugup.

"Eh... tidak ada apa-apa." Mata Baekhyun beralih ke arah biola Jongin, itu Paganini miliknya, yang diletakkan di atas meja.

Jongin melihat arah pandangan Baekhyun dan tersenyum, "Aku meminta biola ini untuk diantarkan kemari." Matanya menatap Baekhyun dengan tajam, "Aku ingin memberikan biola itu kepadamu."

Wajah Baekhyun langsung pucat pasi. Kenapa Jongin memberikan biola itu kepadanya? setahu Baekhyun, Jongin sangat menyayangi biola ini, hadiah yang diperolehnya di sebuah negara karena pertunjukan biolanya yang luar biasa. Seme ini selalu menggunakan biola ini di setiap pertunjukan dan konsernya. Apakah... apakah Jongin memberikan biola ini kepadanya... karena dia tidak bisa bermain biola lagi?

Jongin rupanya mengamati ekspresi Baekhyun yang berubah-ubah, lalu terkekeh pelan.

"Jangan berpikiran terlalu jauh Baekhyun, kau tampak kebingungan dan ekspresimu seperti buku yang terbuka. Aku memberikan biola itu karena kau akan menjadi murid spesialku. Selama aku menyembuhkan diri, aku akan menggunakan waktuku untuk mengajarimu. Karena itu aku ingin memberikan kepadamu biola yang terbaik. Nanti setelah kemampuanku pulih, aku bisa menggunakan Stradivarius milikku, warisan dari ayahku."

Jongin mengatakan hal itu dengan tenang, seolah-olah ada keyakinan di dalam dirinya bahwa dia bisa pulih seperti biasa, dan Baekhyun menggenggam keyakinan itu kuat-kuat, berharap bahwa hal itu benar adanya.

...

"Ini kamarmu." Jongin membukakan sebuah pintu yang berada di sebelah kamarnya, mereka berada di rumah besar keluarga Jongin. Mama dan Papa Jongin tinggal di sini. Jongjin dan Taemin tinggal di kediaman mereka sendiri tentu saja, meskipun Jongjin mengatakan bahwa dia akan sering berkunjung selama Jongin dalam proses pemulihan.

Baekhyun memandang kamar itu dan tersenyum kepada Jongin,

"Kamar yang indah, terimakasih Jongin."

Jongin hanya tersenyum lembut, lalu membuka pintu kamar itu semakin lebar, dan masuk ke dalam mendahului Baekhyun,

"Ayo masuklah, kamar ini biasanya digunakan untuk tamu mama, sudah dibersihkan karena akan kau tinggali." Jongin melangkah ke jendela besar di ujung kamar yang menghadap ke arah taman, dan membuka jendela itu, membiarkan udara segar dan secercah sinar matahari masuk. "Kenapa tidak kau mainkan biolamu untukku sekarang?"

Seme itu berdiri di depan jendela, membelakangi cahaya matahari yang melingkupinya, begitu tampan dalam setengah siluetnya bagaikan seorang pangeran dari negeri antah berantah yang muncul entah dari mana. Dan beberapa saat Baekhyun terpana, terpesona akan kesempurnaan fisik seme di depannya.

"Baekhyun? Mainkanlah biolamu untukku." Ekspresi Jongin sedikit mencari, tiba-tiba saja Baekhyun bisa melihat kilat kepedihan di sana, "Aku sudah lama tidak mendengar permainan biola yang indah sejak aku sakit, aku ingin mendengarkannya."

Jantung Baekhyun serasa diremas. Permainan biola yang indah itu tentu saja bisa didengarkan dari permainan Jongin sendiri seandainya saja tangannya tidak sakit, tetapi karena Baekhyun, Jongin tidak bisa bermain bola lagi.

Baekhyun meletakkan wadah biola Paganini dari Jongin dengan hati-hati di atas meja, membukanya dan menelusuri permukaan biola berumur ratusan tahun itu dengan penuh rasa kagum. Ini kali kedua Baekhyun akan memainkan biola itu setelah dulu Jongin pernah meminjaminya dalam pertunjukan bersama mereka dulu. Dan dia masih terkagum-kagum dengan keunikan dan keindahan biola Paganini yang begitu kontras antara nada tinggi dan nada rendahnya itu.

Dia masih tidak percaya bahwa Jongin memberikan biola ini kepadanya untuk dia miliki...

Jongin meraih sebuah kursi, duduk dan menatap Baekhyun dengan serius.

"Mainkankah untukku."

Baekhyun menurut, mengambil biola itu dengan hati-hati, meletakkannya di pundak kirinya, dan mulai menggesek senar unik bawaan biola Paganini itu.

Nada indah langsung mengalun lembut memenuhi ruangan kamar itu. Carmen Fantasy by Pablo de Sarasate, adalah salah satu permainan biola yang menjadi musik tema untuk Opera berjudul Carmen yang sangat terkenal dan sering dimainkan di berbagai opera internasional. Baekhyun memainkan nada dengan pelan pada mulanya, lalu semakin bersemangat ke depannya, permainan biolanya mewakilkan sosok Carmen, uke gipsy cantik yang rapuh sekaligus kuat. Kisah seorang uke yang berada di antara dua pilihan, dua seme yang menjadi cinta sejatinya, cinta segitiga di antara Carmen dengan seorang perwira tampan dan sang matador yang notabene adalah seme biasa. Musik yang dimainkan Baekhyun meledak-ledak memenuhi ruangan, menggambarkan seorang uke yang panas dan kuat, mampu mengangkat dagunya menghadapi kekuasaan dunia yang didominasi oleh para seme. Dan tetap mengangkat kepalanya dalam kebanggaan meskipun kisah cintanya pada akhirnya berakhir tragis, dengan kematiannya di ujung pisau oleh karena kecemburuan seme yang tidak dipilihnya.

Baekhyun melupakan keberadaan Jongin yang mengamatinya di sana, dia membayangkan padang rumput yang luas, di mana seorang uke cantik berpakaian gipsy yang khas dengan rok lebarnya yang berwarna cerah, dengan rambut panjang bergelombang yang terurai dan tubuh indah yang tegak, melompat dengan lincah, bertelanjang kaki dan mengikuti musik, bebas merdeka membawa kebanggaannya sebagai uke dan tak mau takluk di kaki laki-laki manapun.

Ketika dia mengakhiri permainan biolanya dengan akhir yang indah, Baekhyun membuka matanya, napasnya terengah ketika dia menurunkan biola itu dari pundaknya, ditatapnya Jongin dan menyadari bahwa seme itu juga memejamkan matanya.

Ketika Jongin membuka matanya, tatapan matanya tampak tajam.

"Aku tidak pernah mendengarkan musik Carmen diamainkan dengan intepretasi seberani dan seindah itu. Suaranya serak, penuh perasaan.

Pipi Baekhyun bersemu merah mendengarkan pujian itu. Pujian dari seorang mastro seperti Jongin tentu saja amat sangat berarti.

Tiba-tiba saja Jongin berdiri, dan kemudian dengan gerakan secepat kilat, seme itu memeluk Baekhyun erat-erat.

Baekhyun benar-benar terkejut, dia berusaha meronta, tetapi pelukan Jongin begitu erat seolah-olah ingin meremukkan tubuhnya yang mungil. Pada akhirnya, Baekhyun menyadari bahwa Jongin gemetar.

Seme itu membungkukkan tubuhnya, menenggelamkan kepalanya di pundak Baekhyun.

"Aku takut." Getaran di suara Jongin semakin dalam seiring dengan pelukannya yang semakin erat. Jongin benar-benar menenggelamkan tubuh Baekhyun ke dalam lingkaran lengannya, menekankan tubuh mungil Baekhyun seakan ingin menyerap kekuatannya. Seme itu menghela napas panjang seolah sesak napas, lalu bergumam. "Aku takut tidak akan bisa bermain biola lagi."

.

.

.

Bersambung ke Part 16