Embrace The Chord
Oleh Santhy Aghata

Disclaimer:
Cerita ini milik Santhy Aghata.
Bukan milik saya.
Saya di sini hanya meremakenya karena sebuah kesepakatan/?
Kalian bisa membaca ff ini di blog milik Santhy Aghata.

Warning:
Yaoi inside! Age switchDon't like, don't read! Simple right?

Terima kasih. Selamat membaca!

.

.

.

{{Part 16}}

.

.

.

Baekhyun terpana, merasakan pelukan Jongin yang sedemikian erat di tubuhnya. Lengan kuat Jongin melingkarinya, seakan ingin meremukkannya. Tetapi dibalik kekuatan pelukannya, Baekhyun merasakan ada kerapuhan yang dalam di sana. Kerapuhan yang tidak pernah ditunjukkan oleh Jongin sebelumnya, sisi lain yang baru diketahui oleh Baekhyun. Jongin benar-benar manusia dengan kepribadian yang amat sangat kompleks, di satu waktu, Baekhyun merasa sudah mengenali seme itu, tetapi kemudian di waktu yang lain, Jongin tiba-tiba saja menguakkan lapisan kepribadiannya yang lain, membuat Baekhyun terkejut.

Seperti sekarang. Jongin memeluknya, tampak rapuh... bagaikan bocah kecil yang meminta perlindungan kepada ibunya, meminta dikuatkan.

Didorong oleh perasaannya, Baekhyun menggerakkan jarinya, semula ragu, tetapi kemudian dia melingkarkan lengannya di punggung Jongin, membalas pelukannya, jemarinya kemudian bergerak dan mengusap punggung Jongin, berusaha memberikan ketenangan.

Punggung Jongin menegang sejenak ketika menerima usapan tangan dari jemari mungil Baekhyun. Tetapi kemudian seme itu mempererat pelukannya, terdiam lama sambil menenggelamkan kepalanya di rambut Baekhyun.

Lama kemudian, Jongin melepaskan pelukannya. Ekspresinya tidak terbaca.

"Maaf." gumamnya, dan sebelum Baekhyun sempat berkata-kata, Jongin melepaskan pegangannya dan melangkah pergi meninggalkan kamar itu, membiarkan Baekhyun yang terpana tanpa bisa berkata-kata.

...

Minhyun mengamati dari dalam mobilnya di depan rumah orang tua Jongin. Dia menggigit bibirnya dengan geram, menahan rasa marah dan cemburu.

Dari berita di televisi, dia tahu bahwa Jongin hari ini keluar dari Rumah Sakit, Minhyun begitu senang, tetapi dia menahan diri dan tidak berani mendekati Jongin, takut seme itu akan langsung menuduhnya sebagai dalang atas kecelakaan yang dia alami.

Jadi disinilah dia, sengaja memakai mobil pinjaman agar tidak dicurigai dan duduk di dalam seperti orang bodoh, mengawasi rumah Jongin dan tidak berani mendekat.

Satu hal yang membuatnya semakin geram adalah karena dia melihat Baekhyun. Uke ingusan itu -yang ternyata tidak menderita luka parah- mengikuti Jongin masuk ke rumah itu, dan sampai sekarang tidak keluar-keluar dari sana.

Apakah uke itu tinggal di rumah Jongin?

Minhyun langsung mengumpat, tidak bisa menahan dirinya. Kalau sampai uke itu berani tinggal di rumah Jongin, maka Minhyun akan melenyapkannya.

Tidak boleh ada uke lain yang boleh berada di dekat Jongin selain dirinya!

...

Ketika bertemu lagi dengan Jongin sore harinya, Baekhyun sibuk mengamati seme itu, Jongin sedang bercakap-cakap dengan mamanya di teras depan sambil menikmati teh dan kue harum yang masih hangat, baru keluar dari panggangan.

Seme itu tampak ceria, sama sekali tidak tertinggal ekspresi sedih yang ditampakkannya tadi siang. Baekhyun membatin, melihat betapa Jongin tertawa lebar akan apa yang dikatakan oleh mamanya. Tentu saja Baekhyun tahu kisah tentang mama kandung Jongin yang jahat, dan melihat keakraban Jongin dengan mama angkatnya ini, tampaknya sang mama benar-benar menyayangi Jongin dan berusaha menggantikan kekosongan yang ada.

Kepala Jongin terangkat dan sedikit ada kilat di matanya ketika melihat Baekhyun datang, tetapi seme itu dalam sekejap bisa menyembunyikannya dan memasang ekspresi datar, lalu tersenyum.

"Kemarilah Baekhyun, aku dan mamaku sedang membahas kejadian lucu di salah satu konserku waktu aku kecil."

Mau tak mau Baekhyun mendekat dan duduk di salah satu kursi yang berada di dekat Jongin. Mama Jongin menuangkan secangkir teh untuknya dan Baekhyun mengucapkan terimakasih ketika menerima cangkir teh itu.

"Pada mulanya Jongin selalu demam panggung sebelum konser." Sang mama melanjutkan kisahnya, tersenyum lebar mengingat kenangan yang menghangatkan hati itu, "Dia pernah menangis dan tidak mau naik ke panggung. Aku tidak menyalahkannya, waktu itu usianya baru duabelas tahun, dan harus menjadi violinist solo di sebuah konser internasional yang disaksikan ribuan orang. Kami benar-benar kebingungan ketika Jongin tidak mau naik ke panggung ketika itu."

Jongin tersenyum mendengarkan kisah mamanya, menyandarkan tubuhnya dengan santai di kursi, "Aku sudah lupa tentang kejadian itu, yang ada diingatanku hanyalah ketakutan samar-samar ketika melihat kursi penonton begitu penuh." Sahutnya.

Baekhyun mencondongkan tubuhnya, tampak tertarik. "Lalu apa yang terjadi?"

"Aku memberinya sebuah jimat supaya dia tenang." Sang mama tersenyum lembut, menatap Jongin dan mengenang.

"Jimat?" Baekhyun mengerutkan keningnya, membuat mama Jongin tertawa.

"Bukan jimat yang punya kekuatan besar tentu saja. Aku panik dan mengambil yang pertama yang aku ingat. Aku memberinya jepit rambutku, jepit rambut berhiaskan berlian yang berbentuk kupu-kupu. Aku bilang pada Jongin bahwa jepit rambut itu mempunyai kekuatan, bisa menyerap rasa takut dan gugup." Sang mama berkisah kembali.

"Dan Jongin percaya?" Baekhyun tersenyum lebar, membayangkan Jongin kecil yang sedang gugup tidaklah mudah. Jongin yang ada di depannya selalu penuh percaya diri.

Kali ini Jongin yang menjawab, "Aku baru dua belas tahun di kala itu, dan aku mempercayai semua perkataan mamaku, jadi aku percaya."

"Dia menggenggam jepit rambutku itu erat-erat, lalu memasukkannya ke saku dan melangkah dengan kepala tegak ke arah panggung. Pada akhirnya, konser itu sangat sukses membuat nama Jongin terkenal ke dunia internasional sebagai pemain biola jenius di usia yang masih sangat muda." Sang mama menyambung, tersenyum lembut ke arah anak semenya

Jongin mengambil cangkir tehnya dan menyesapnya. Pada saat yang sama, ponselnya berbunyi. Seme itu menatap layar ponselnya dan dahinya langsung berkerut dalam ketika melihat nama yang tertera di ponselnya.

"Kurasa aku harus menerimanya di tempat lain." Seme itu berdiri dan membungkuk ke arah Baekhyun dan mamanya, "Silahkan lanjutkan obrolan kalian." gumamnya sebelum melangkah pergi.

Baekhyun mengamati mama Jongin yang masih menatap anaknya dengan senyum bangga. Hati Baekhyun tiba-tiba terasa hangat, uke ini bukan mama kandung Jongin, tetapi dari sorot matanya, tampak jelas bahwa dia amat sangat menyayangi anaknya itu.

Sang mama tiba-tiba menolehkan kepalanya dan menatap Baekhyun, membuat Baekhyun tergeragap.

"Aku senang pada akhirnya Jongin memutuskan untuk menjalin hubungan denganmu, Baekhyun." Mama Jongin tersenyum tulus. "Kau tahu sendiri obsesi Jongin untuk menghancurkan uke-uke yang mirip dengan mama kandungnya." Ada kesedihan di suaranya, "Aku sendiri tidak bisa menyalahkan Jongin ketika dia menganggap jenis uke seperti itu harus dihukum... sakit hatinya kepada mama kandungnya mungkin terlalu dalam, kau pasti sudah pernah mendengar betapa egois dan jahatnya mama kandung Jongin yang sekarang masih mendekam di penjara. Kami sudah berusaha memberikan yang terbaik untuknya, supaya dia melupakan kenangan sedih di masa lalunya, tetapi rupanya Jongin bukanlah orang yang mudah melupakan."

Baekhyun tahu kisah tentang mama kandung Jongin, bahkan kisah itu sempat heboh dulu ketika mama kandung Jongin ditangkap polisi karena mendalangi penculikan Jongjin, adik kandung Jongin yang notabene adalah anak kandungnya sendiri demi untuk mendapatkan uang tebusan dalam jumlah besar. Bahkan Baekhyun tidak bisa membayangkan ada seorang mama yang begitu jahat hingga tega menculik anak kandungnya sendiri hanya demi uang.

"Aku terus berharap Jongin bisa membuka hatinya untuk uke yang benar-benar dicintainya. Kau tahu, semakin dia menghancurkan hati banyak uke, semakin cemas diriku." Mama Jongin menyambung, "Kau tahu sendiri uke yang sakit hati bisa melakukan apapun untuk membalas dendam, semakin banyak korban Jongin, maka semakin banyak pula yang menyimpan sakit hati dan dendam kepadanya, hal itu membuatku cemas kalau-kalau salah satu dari mereka mencoba menyakiti Jongin." Mata sang mama meredup, "Karena itulah aku mendesaknya untuk segera menikah, mencoba menjodohkannya dengan anak-anak uke teman-temanku, tetapi dasar Jongin, dia sangat keras kepada. Pada akhirnya dia malahan membeli apartemen temannya dan pindah, menghindariku." Sang mama terkekeh, tampak tidak sakit hati dengan ulah anak semenya itu. "Aku senang dia menjalin hubungan denganmu, Baekhyun, kalian cocok di semua hal. Dan aku tahu Jongin menyimpan perasaan yang dalam kepadamu."

"Menyimpan perasaan yang dalam?" Baekhyun membelalakkan matanya, darimana sang mama bisa menyimpulkan hal seperti itu? dan terlihat sangat yakin pula. Baekhyun dan Jongin memang bersandiwara sebagai sepasang kekasih... tetapi mereka tidak pernah berpura-pura terlalu dalam, dengan menunjukkan kemesraan misalnya. Jadi darimana mama Jongin bisa mengambil kesimpulan itu?

"Suatu malam Jongin datang ke rumah, matanya berbinar, dia tampak bersemangat. Dia datang mengambil biola Stradivari peninggalan ayahnya yang selalu kusimpan di kotak kaca khusus. Jongin sudah lama tidak menggunakan biola itu dan memilih menggunakan biola Paganini miliknya." Sang mama melanjutkan, "Dan ketika kutanya kenapa dia mengeluarkan biola itu dari kotaknya, Jongin bercerita tentang kau, Baekhyun."

"Bercerita tentang aku?" Baekhyun mulai membeo tidak sabar menunggu perkataan mama Jongin selanjutnya.

"Ya. Mata Jongin berbinar, dia begitu bersemangat. Aku tidak pernah melihatnya begitu antusias sebelumnya ketika membicarakan orang lain. Dia bercerita dengan semangat meluap-luap bahwa pada akhirnya dia menemukan seseorang yang bisa menggugah hatinya dengan kemampuan bermusiknya. Jongin mengambil biola Stradivari-nya yang sudah begitu lama dia simpan di dalam kotak untuk dimainkan olehnya, karena dia ingin kau bermain dengan biola Paganini miliknya." Sang mama menatap Baekhyun dengan lembut. "Jangan salah Baekhyun, Jongin sangat menyayangi kedua biolanya, begitu protektif menjaganya hingga dia tidak akan membiarkan orang lain menyentuhnya tanpa seizinnya...Tetapi dia membiarkanmu memainkan salah satunya, itu menunjukkan bahwa kau sangat istimewa baginya. Amat sangat istimewa, karena itulah aku yakin, anak semeku menyimpan perasaan yang dalam kepadamu."

Baekhyun tercenung. Bahkan Jongin bukan hanya membiarkan Baekhyun memainkan biolanya, dia memberikan Paganini miliknya kepada Baekhyun...

Apakah itu berarti Baekhyun benar-benar istimewa bagi Jongin?

...

Minhyun. Uke itu meneleponnya di ponselnya. Berani-beraninya dia melakukannya setelah semua insiden yang melukai dirinya dan Baekhyun.

Jongin menggertakkan giginya, berusaha menahan emosinya.

Ketika dia mengangkat teleponnya, suaranya terdengar ramah dan santai, tanpa sedikitpun kemarahan tersisa.

"Minhyun? Apa kabar?"

Minhyun tercenung di seberang sana, jelas uke itu tidak menyangka bahwa Jongin akan menjawab teleponnya dengan ramah. Tiba-tiba dia merasa yakin bahwa Jongin memang masih mempunyai perasaan kepadanya dan membelanya, tidak menyalahkannya karena dia mencoba menyakiti Baekhyun.

"Aku baik-baik saja Jongin sayang." Suaranya berubah serak, genit dan merayu, "Bagaimana keadaanmu Jongin? Selama kau di rumah sakit aku selalu mencemaskanmu, aku hampir menangis tiap malam karena memikirkanmu."

Untung saja Minhyun berada jauh di seberang telepon, kalau tidak mungkin dia akan menyadari ekspresi jijik di wajah Jongin ketika mendengar perkataannya.

"Aku baik-baik saja Minhyun." suara Jongin terdengar ceria, berusaha bersandiwara sebaik mungkin. Dia harus membuat Minhyun yakin bahwa dia sama sekali tidak curiga atau menyalahkan Minhyun atas insiden yang terjadi, ketika Minhyun lengah, itu akan memuluskan rencananya untuk membalas uke itu.

"Kudengar kau sudah pulang dari rumah sakit." Minhyun tampak ragu, "Dan aku mendengar gosip bahwa kau tinggal bersama Baekhyun di rumahmu." Ada nada cemburu yang sangat kental di sana, kecemburuan yang tak mampu disembunyikan oleh Minhyun.

Jongin tersenyum simpul, mulai menjalankan rencananya untuk memancing Minhyun.

"Ya. Baekhyun tinggal di sini untuk sementara. Aku melatihnya secara intensif di sela proses penyembuhanku. Lagipula mamaku berharap banyak akan hubungan kami, jadi..."

"Mamamu berharap apa?" Minhyun langsung menyambar, nada suaranya meninggi.

"Mamaku menjodohkan diriku dengan Baekhyun, kau tahu dia bahkan sudah berbicara dengan mama Baekhyun..."

"Dan kau mau begitu saja?" Minhyun hampir saja berteriak. "Jadi benar Jongin? kau meninggalkanku karena kau mempunyai perasaan kepada Baekhyun?"

"Mungkin bisa dibilang begitu dan dulu aku tidak menyadarinya." Jongin tersenyum lebar, yakin bahwa pancingannya mengena. Setelah ini Minhyun akan terbakar rasa cemburu sampai hangus dan kemudian akan melakukan tindakan bodoh lainnya. Jongin akan menggunakannya untuk mempermalukan Minhyun nantinya, membuat uke itu jera selamanya. "Sudah ya, mamaku dan Baekhyun memanggil. Terimakasih atas perhatianmu, Minhyun, adios."

Dan kemudian, dengan tanpa perasaan Jongin mengakhiri percakapan itu, tak peduli bahwa Minhyun masih memanggil-manggil namanya di seberang sana.

...

Minhyun menatap ponselnya dengan tatapan panas membara.

Sialan! Sialan Baekhyun! Uke itu sekarang bahkan berhasil mempengaruhi mama Jongin.

Tentu saja mama Jongin sangat senang ketika Baekhyun mendekati anak semenya... sudah terlihat jelas kalau disuruh memilih, mama Jongin akan memilih Baekhyun yang muda dan cantik sebagai menantunya daripada Minhyun yang notabene seorang janda dan berusia jauh lebih tua daripada Jongin.

Kenyataan tentang hal itu Minhyun sudah tahu. Bahkan kenyataan bahwa Jongin hanya menjalin hubungan main-main dengannya dia juga tahu. Tetapi perasaannya kepada Jongin yang sempurna telah menjadi semakin dalam, menguasai hatinya hingga dia hampir gila.

Tidak! Dia tidak boleh menyerah. Jongin harus kembali menjadi miliknya, dia tidak akan rela jika Jongin dimiliki oleh uke ingusan yang jelek itu!

...

Dia harus melindungi Baekhyun dengan intens setelah ini.

Jongin menyimpulkan sambil berjalan kembali ke teras tempat mamanya dan Baekhyun masih mengobrol.

Minhyun pasti akan berbuat nekad, lebih nekad dari sebelumnya dan sadar atau tidak, demi memancing Minhyun, Jongin telah menempatkan Baekhyun ke dalam bahaya. Mungkin kali ini bahaya yang mengincar Baekhyun akan lebih besar daripada sebelumnya... Well, Jongin harus selalu waspada kalau begitu, sambil berharap dia bisa segera menjebak Minhyun.

Jongin berdiri di ambang pintu, menatap ke arah Baekhyun yang sedang tertawa mendengarkan kelakar mamanya, wajahnya yang mungil dan polos tampak bercahaya dan berpadu dengan mata cemerlangnya. Dia menghentikan langkahnya di sana, tahu bahwa baik Baekhyun maupun mamanya tidak menyadari dia ada di sana. Matanya mengamati dalam diam ke arah Baekhyun.

Seketika itu juga Jongin terpesona. Baekhyun tidak pernah mengenakan riasan, dia selalu tampil polos apa adanya dengan kesederhanannya, jauh berbeda dengan uke-uke yang pernah dipacarinya. Tetapi entah bagaimana, uke itu berhasil memancarkan kecantikan alami yang berasal dari dalam jiwanya. Baekhyun cantik, dengan caranya sendiri.

Jongin tersenyum masam, menyadari bahwa dirinya sedang menatap terpesona kepada anak ingusan berusia delapan belas tahun, jauh di bawah umurnya...

Dengan perasaan aneh yang tidak bisa dijelaskan, Jongin membalikkan badan, memilih menjauhi Baekhyun dan mencoba menelaah perasaannya sendiri.

...

Malam beranjak kelam ketika Jongin berdiri di tengah kamarnya yang luas. Suasana cukup sepi, seluruh penghuni rumah itu mungkin sudah larut di dalam tidurnya. Jongin terpekur di sana, menatap ke arah biola Stradivari miliknya yang berada di atas meja dengan kotaknya yang terbuka.

Terakhir kalinya dia memainkan biola ini, dia tidak bisa menahan kesakitan dan tidak sanggup menyelesaikan permainannya...

Jongin sudah menutup rapat pintu kamarnya. Kamar ini memang dibuat khusus untuknya, dengan peredam suara di sekeliling dindingnya, memungkinkan Jongin berlatih biola kapanpun dia mau tanpa mengganggu orang-orang di luar.

Sejak kecil Jongin terbiasa memainkan biola malam-malam, berlatih nada-nada yang sulit dan memainkannya.

Jemari rampingnya menelusuri permukaan biola yang dipernis halus hingga mengkilat itu.

Dan kemudian, setelah menghela napas panjang, Jongin meraih biola itu dan meletakkannya di pundaknya. Tangan kanannya masih sakit tentu saja dan yang pasti tidak akan mampu digunakan untuk menggerakkan penggesek biola dengan intens ketika dia memainkan nada-nada yang sulit.

Jongin meletakkan biola itu di pundak kanannya. Dan memegang penggesek itu di tangan kirinya, tangan yang tidak terluka.

Ya. Dia memegang penggesek itu di tangan kirinya.

Tidak pernah ada yang tahu, bahwa sebagai seorang pemain biola jenius, Jongin pernah belajar memainkan biola dengan penggesek di tangan kirinya. Dan waktu itu, dia bisa memainkan biolanya dengan tangan kiri, sama baiknya ketika dia menggunakan tangan kanannya. Meskipun seorang pemain biola yang menggunakan tangan kirinya sangat jarang, bahkan pemain biola kidalpun kebanyakan tetap memainkan biola dengan tangan kanannya.

Sudah lama sekali Jongin tidak melakukannya, dan dia ragu, tidak tahu apakah tangan kirinya yang tidak terlatih sekian lama mampu melakukannya sebaik tangan kanannya yang rutin digunakannya bermain. Tetapi dia harus mencoba. Mungkin saja tangan kanannya tidak bisa pulih sepenuhnya, tetapi setidaknya Jongin masih memiliki tangan kiri yang sama hebatnya.

Dia hanya harus berlatih dengan lebih intens, bukan?

Maka digeseknya biola itu dengan tangan kiri, memainkan lagu tersulit yang pernah dimainkannya.

.

.

.

Bersambung ke Part 17