Embrace The Chord
Oleh Santhy Aghata

Disclaimer:
Cerita ini milik Santhy Aghata.
Bukan milik saya.
Saya di sini hanya meremakenya karena sebuah kesepakatan/?
Kalian bisa membaca ff ini di blog milik Santhy Aghata.

Warning:
Yaoi inside! Age switchDon't like, don't read! Simple right?

Terima kasih. Selamat membaca!

.

.

.

{{Part 17}}

.

.

.

Pagi harinya, direktur akademi musik yang juga adalah papa Chanyeol datang bertamu, Jongin menemuinya di ruang tamu keluarganya.

"Bagaimana kondisi tanganmu, Jongin?" sang direktur rumah sakit, Mr. Park, bertanya dengan hati-hati.

Jongin menyandarkan tubuhnya dengan santai di sofa, tersenyum dengan ekspresi datar.

"Aku pasti akan bisa bermain biola lagi."

Mr. Park menganggukkan kepalanya, "Aku percaya kau akan pulih seperti semula Jongin, kau adalah pemain yang sangat berbakat dan tiada duanya di dunia ini. Lagipula, konser tunggal yang sedianya akan diadakan untuk menghormatimu akan berlangsung bulan depan. Kau tidak melupakannya kan?"

Terus terang Jongin melupakannya. Dia terlalu sibuk dengan segala hal yang terjadi di sekitarnya hingga lupa bahwa bulan depan akan ada even penting baginya.

Konser itu sudah direncanakan sekian lama, hampir setahun yang lalu, sebuah konser besar di gedung orkestra terbesar di negara ini, dengan menggandeng tiga orkestra terkenal untuk mendampingi Jongin memainkan konser violin tunggalnya. List tamunya bahkan sudah penuh sampai mencapai daftar tunggu yang begitu lama, kebanyakan dipenuhi oleh orang-orang hebat di dunia musik, dalam dan luar negeri.

Konser tunggal dari Jongin amat sangat ditunggu-tunggu, sebuah kesempatan langka untuk mendengarkan permainan jenius sang violinist yang mungkin tidak ada duanya di dunia ini.

Dan Jongin melupakannya, dia mengerutkan keningnya. Konser itu menambah tekanan di dalam dirinya, itu berarti dia punya batas waktu untuk menyempurnakan kesembuhannya. Dia harus sembuh dengan sempurna untuk menghadapi konser tersebut.

"Aku pasti akan siap." Jongin tersenyum, menutupi perasaannya dan memasang wajah tenang.

Mr. Park menatap Jongin dengan serius. "Jongin, kau tidak boleh memaksakan diri, aku tahu bahwa luka di urat tangan bagi seorang pemain biola sangat krusial hingga kadang memerlukan waktu yang lama untuk pulih kembali. Kalau kau memang belum siap, aku bisa mengusahakan untuk memundurkan konser besar itu..."

"Aku siap." Jongin menjawab mantap. Dia tidak akan menyerah pada rasa sakitnya dan berlama-lama meratapi diri, konser tunggal yang akan dilakukan bulan depan akan menjadi pendorong yang sangat bagus bagi kesembuhannya. Lagipula Jongin tidak ingin mengobarkan api pada gosip yang telah kian memanas. Di luar sana, spekulasi bertebaran di mana-mana, semua mempertanyakan kemampuan Jongin bermain biola, kalau konser itu sampai diundur, semua orang pasti akan berkesimpulan bahwa Jongin kehilangan kemampuannya bermain biola.

Seme itu tersenyum. Ini kesempatan bagus, dia akan menggunakan konser itu untuk menjawab semua pertanyaan yang bertebaran.

...

Baekhyun segera mengangkat teleponnya ketika melihat Chanyeol yang menelepon ponselnya.

"Halo Chanyeol?"

"Halo Baekhyun." Suara Chanyeol tampak tenang dan lembut seperti biasa, "Apa kabarmu? Kenapa kau tidak memberi kabar?"

Baekhyun tersenyum, merasa bersalah. Biasanya dia memang selalu menelepon Chanyeol atau setidaknya mengirimkan pesan, tetapi kemarin dia terlalu disibukkan dengan penyesuaian dirinya tinggal di rumah Jongin, pun dengan perasaannya yang terus menerus cemas akan kemampuan Jongin bermain biola lagi, membuat dia hampir-hampir tidak memikirkan Chanyeol sama sekali.

"Maafkan aku Chanyeol, agak sibuk di sini. Tetapi aku sehat-sehat saja." Gumam Baekhyun ceria.

Sejenak hening di luar sana, lalu Chanyeol bergumam,

"Kau kerasan ya di sana? Di rumah Jongin?"

Baekhyun mengangkat bahunya, "Aku diperlakukan dengan baik di sini." Seketika Baekhyun mengajukan pertanyaan, menyadari ada yang berbeda di balik suara Chanyeol, "Ada apa Chanyeol? Kau tampaknya banyak pikiran?"

Chanyeol menghela napas panjang, "Yah... aku.. entahlah Baekhyun. Ini tentang Kyungsoo, aku rasa hubungan jarak jauh ini tidak berhasil. Pada awal-awal kami begitu yakin kami bisa, berusaha menjaga komunikasi sebaik mungkin, tetapi kemudian semua terasa melahkan... entahlah, lama kelamaan kami lelah untuk berkomunikasi, kadang-kadang bahkan seharian aku tidak mendengar kabar dari Kyungsoo."

Baekhyun tercenung, menelaah perasaannya mendengar perkataan Chanyeol itu. Seharusnya, karena dia mencintai Chanyeol dia boleh merasa senang kalau mendengar ada gangguan dari hubungan Chanyeol dan Kyungsoo, itu berarti ada kesempatan baginya untuk memasuki hati Chanyeol. Tetapi entah kenapa Baekhyun tidak merasa senang, mungkin karena suara pedih Chanyeol, membuatnya ikut merasa sedih dan prihatin.

"Hubungan jarak jauh memang berat, meskipun aku sendiri belum pernah merasakannya." Baekhyun menghela napas panjang, "Tetapi kalau kalian bisa menjalankannya dengan penuh tekad, kalian pasti bisa melakukannya."

Baekhyun bisa membayangkan Chanyeol tersenyum miris di seberang sana, "Yah. Mungkin memang tekadku dan Kyungsoo masih kurang." Gumamnya, "Bagaimana dengan kau sendiri, Baekhyun? Bagaimana hubunganmu dengan Jongin?"

Chanyeol tentu saja masih mengira bahwa Baekhyun dan Jongin adalah sepasang kekasih... tiba-tiba saja Baekhyun merasakan dorongan untuk mengatakan semuanya kepada Chanyeol, bahwa dia dan Jongin hanyalah berpacaran pura-pura.

Kalimat itu sudah ada di ujung bibirnya, tetapi langsung membeku ketika mata Baekhyun menangkap kehadiran Jongin di ambang pintu. Jongin berdiri di sana, bersandar di ambang pintu dan menatap Baekhyun dengan pandangan memperingatkan.

Mau tak mau Baekhyun mengucapkan kebohongan lagi kepada Chanyeol. "Hubungan kami baik-baik saja." Gumam Baekhyun, dipenuhi oleh rasa bersalah karena harus membohongi Chanyeol.

"Oh." Chanyeol tampak kehabisan kata-kata, seme itu berkali-kali menghela napas sebelum berbicara. "Aku senang hubungan kalian baik-baik saja." Gumamnya tenang, sedikit ragu, "Baekhyun, aku merindukanmu, aku ingin bercakap-cakap denganmu, seperti kita dulu, saling berbagi perasaan dan bercerita untuk menenangkan pikiran, kira-kira, bisakah kau menyempatkan diri keluar dari rumah Jongin dan menemuiku? Mungkin kita bisa bertemu di cafe langganan kita."

Baekhyun tersenyum lembut, "Tentu saja bisa Chanyeol." Matanya melirik ke arah Jongin yang masih mengamatinya dari ambang pintu, "Aku akan mengusahakan waktunya."

"Oke. Terimakasih, Baekhyun." Chanyeol lalu mengakhiri percakapannya.

Dan Baekhyun memasukkan ponselnya di saku bajunya, mengangkat alisnya sambil menatap Jongin yang balas menatapnya penuh arti.

"Kenapa?" gumamnya langsung kepada Jongin.

Jongin tersenyum, lalu melangkah memasuki ruangan, dan duduk di sofa tepat di depan Baekhyun.

"Dia mulai mengejarmu, ya?"

Baekhyun mengerutkan keningnya, "Chanyeol tidak mengejarku, dia sedang menceritakan permasalahannya dengan Kyungsoo."

"Oh ya? Ada masalah apa?"

"Mereka menjalani hubungan jarak jauh." Suara Baekhyun berubah prihatin, "Dan entah kenapa itu tidak berjalan dengan baik, Chanyeol merasa kalau dia dan Kyungsoo mulai kehilangan komunikasi."

"Hmmm." Jongin merenung sejenak, lalu menatap Baekhyun dalam senyuman, "Apakah kau sadar Baekhyun? Bila seorang seme mulai membicarakan permasalahan hubungannya dengan kekasihnya, berarti seme itu sedang berusaha mengambil hatimu. Kau pernah dengar tidak, suami-suami yang mendekati selingkuhannya, mereka biasanya menarik perhatian uke lain itu dengan berkeluh kesah tentang kekurangan isterinya, tentang ketidakbahagiaannya dengan hubungan yang sedang dijalananinya, suami-suami itu akan bersikap sebagai korban, hingga memancing si uke yang diincarnya agar terdorong menjadi sang penyelamat."

Baekhyun menatap Jongin tidak setuju, "Chanyeol tidak sedang menarik perhatianku, dia benar-benar sedang bermasalah dengan Kyungsoo. Aku mengenal Chanyeol sudah sejak dulu kala dan kami memang terbiasa saling bertukar pikiran.

Jongin menatap Baekhyun dengan ekspresi datar,

"Terserah pendapatmu Baekhyun. Aku hanya bisa memberimu satu saran, jangan bersikap terlalu mudah kalau kau memang ingin mendapatkan Chanyeol, semakin sulit kau didapatkan, semakin kuat seorang seme ingin mengejarmu." Seme itu menatap Baekhyun dengan tajam, "Aku dengar dia mengajakmu bertemu, apakah kau akan melakukannya?"

Baekhyun mengangkat dagunya, "Kalau ya, apa hubungannya denganmu?"

"Kau kekasihku." Dalam sedetik seme itu bergumam, menatap Baekhyun dengan kuat. Tetapi ketika melihat ekspersi terkejut Baekhyun, Jongin berdehem, "Maksudku... kau adalah kekasihku di mata semua orang selama ini, jadi kalau kau melakukan pertemuan dengan seme lain, mungkin beberapa orang akan bertanya-tanya."

Baekhyun mengamati Jongin, merasa bingung karena pipi Jongin sepertinya merona, entah kenapa, "Tidak akan ada yang berpikir tidak-tidak kalau aku menemui Chanyeol, dia kan temanku sejak kecil."

Jongin menggelengkan kepalanya, memasang wajah tidak setuju, "Tidak Baekhyun, pokoknya, kalau kau hendak menemui Chanyeol, kau harus bersamaku." Gumamnya keras kepala.

Baekhyun mengerutkan keningnya semakin dalam, menatap ekspresi wajah Jongin yang keras kepala, bagaimana mungkin dia menemui Chanyeol dengan membawa Jongin? Bukankah Chanyeol ingin menemuinya dengan tujuan untuk bertukar pikiran? Bagaimana mungkin itu bisa dilakukan kalau ada Jongin di tengah-tengah mereka?

...

Ketika melangkah ke luar ruangan itu dan meninggalkan Baekhyun, Jongin merasa ada yang bergolak di dalam dirinya.

Rasanya hampir seperti... cemburu.

Membayangkan Baekhyun menemui Chanyeol dan mereka menghabiskan waktu berduaan, rasanya tidak menyenangkan bagi benak Jongin. Dia tidak suka.

Dan kenapa dia tidak suka?

Seharusnya Jongin tidak peduli dengan siapa Baekhyun menghabiskan waktu bersama, seharusnya Jongin tidak peduli siapa seme yang dipuja Baekhyun. Seharusnya Jongin tidak peduli.

Tetapi dia peduli.

Apakah jangan-jangan sandiwara ini sudah menjadi serius untuknya?

Tetapi bagaimana bisa? Bagaimana mungkin hatinya tercuri oleh seorang anak uke yang masih bisa dibilang remaja? Anak uke berumur delapan belas tahun, jauh di bawah usianya yang dua puluh enam tahun dan bisa dibilang lebih pantas sebagai adiknya?

Jongin menghela napas panjang, merasa kesal dengan apa yang berkecamuk di pikirannya.

...

Konser itu tentu saja juga bisa digunakan Jongin untuk memuluskan rencananya terhadap Minhyun, semula dia berencana memancing kecemburuan Minhyun, supaya uke itu bertindak gegabah, tetapi sepertinya hal itu memerlukan waktu yang cukup lama, padahal Jongin sudah tidak sabar untuk segera membuat Minhyun tertangkap basah dan dihukum atas perbuatannya.

Konser itu mengubah rencananya, dia bisa menggunakannya untuk memancing Minhyun dengan cara lain.

Jadi ketika berada di kamarnya, dia menelepon Minhyun.

"Jongin!" suara Minhyun meninggi dan langsung mengangkat ponselnya pada deringan pertama ketika tahu bahwa Jonginlah yang menelepon. "Ada apa sayang?"

Jongin sedikit menggertakkan giginya, tetapi menahan diri, "Aku akan mengadakan konser tunggal bulan depan, setelahnya tentu saja akan ada pesta perayaan, dan aku ingin kau menjadi pendamping resmiku."

"Kau ingin aku menjadi pendampingmu?" kali ini suara Minhyun setengah menjerit, dipenuhi rasa girang.

"Tentu saja, aku tidak punya uke lain yang kurasa lebih pantas untuk mendampingiku, selain dirimu, Minhyun."

Napas Minhyun tercekat mendengar suara Jongin yang merayu, "Terimakasih Jongin, aku pasti akan berdandan secantik mungkin hingga membuatmu bangga membawamu sebagai pendampingmu." Gumamnya penuh semangat, "Sebulan lagi ya? Apakah kau sudah sembuh, Jongin?"

"Aku sudah sembuh." Jawab Jongin cepat, "Tetapi ada sedikit masalah."

"Masalah? Masalah Apa?"

Jongin menghela napas panjang, berusaha tampak terganggu, "Kehadiran Baekhyun. Semua orang tampaknya berusaha menjodohkanku dengannya, padahal aku hanya menganggapnya sebagai murid istimewaku, ibuku juga memaksaku membawa Baekhyun ke konser itu. Maafkan aku Minhyun atas sikapku di telepon kemarin itu, aku bersikap kasar padamu seolah-olah akan meninggalkanmu karena tertarik pada Baekhyun, sebenarnya waktu itu aku terpaksa karena dipaksa oleh mamaku yang sangat ingin menjodohkanku dengan Baekhyun. Semula aku berniat mengikuti kemauan mamaku, tetapi aku terus memikirkanmu. Aku tidak mau dipaksa membawa Baekhyun ke pesta, padahal aku ingin membawa dirimu, aku bingung bagaimana cara menyingkirkan Baekhyun."

"Menyingkirkan Baekhyun?" Minhyun tampak terkejut dengan kata-kata Jongin.

"Ya, menyingkirkan Baekhyun, supaya aku tidak berkewajiban membawa Baekhyun sebagai pasangan resmiku di pesta setelah konser tersebut. Kau tahu rasanya malas sekali membawa anak remaja ke sebuah pesta, berbeda kalau aku membawamu, seorang uke dewasa yang matang dan begitu cantik." Jongin sengaja menyelipkan nada merayu di dalam suaranya, membuat napas Minhyun tercekat.

"Aku.. aku mungkin bisa membantumu, Jongin." Gumam Minhyun cepat, kehilangan kewaspadaannya.

Jongin tersenyum lebar, menyadari bahwa pancingannya kepada Minhyun hampir mengenai sasaran.

"Aku tahu kau pasti bisa mengusahakannya Minhyun, mengingat betapa inginnya aku membawamu sebagai pasanganku di pesta itu."

...

Baekhyun menatap dirinya di cermin dan tersenyum, penampilannya tampak sedikit feminim dengan celana corak daun anggur dengan warna serupa musim gugur.

Dia akan menemui Chanyeol hari ini.

Yah biarpun Jongin melarangnya, Baekhyun pikir, dia boleh-boleh saja menemui Chanyeol, toh Chanyeol adalah teman masa kecilnya, kecemasan Jongin tidak beralasan, dia menemui Chanyeol kan bukan untuk bermesraan di muka umum atau apa, dia menemui Chanyeol untuk bertukar pikiran. Lagipula, lama sekali rasanya dia tidak bertemu dengan seme itu..

Baekhyun melangkah keluar kamar, dan hampir bertabrakan dengan mama Jongin yang kebetulan lewat di lorong.

Mama Jongin mengamati penampilannya dan tersenyum lembut,

"Cantik sekali." Gumamnya memuji. "Mau kemana, Baekhyun?"

Tiba-tiba saja Baekhyun merasa gugup, dia tersenyum sedikit malu-malu,

"Eh, saya akan menemui teman saya."

"Oh, hati-hati kalau begitu." Gumam sang mama ramah, lalu mengangkat alisnya, "Kau tidak meminta Jongin menemanimu?"

Baekhyun langsung menggelengkan kepalanya kuat-kuat, "Ti. Tidak, tidak perlu, Jongin sepertinya sedang beristirahat."

Dan kemudian, menghindari pertanyaan lebih lanjut, Baekhyun mengucapkan kata-kata perpisahan basa-basi dan kemudian buru-buru berpamitan.

...

"Baekhyun tampak cantik sekali tadi." Sang mama meletakkan kue berisi biskuit ke samping meja tempat Jongin duduk., Jongin sedang ada di ruang baca dan membaca, dan seperti biasanya, mamanya selalu menyediakan biskuit buatan sendiri sebagai teman Jongin membaca.

Jongin mengangkat matanya dari buku dan menatap mamanya,

"Baekhyun?" dia mengerutkan kening, "Apakah dia berdandan? Memangnya dia mau ke mana?"

Sang mama mengerucutkan bibirnya, " Lho, kamu tidak tahu, Jongin? Baekhyun tadi buru-buru pergi, katanya mau bertemu dengan temannya, aku bertanya kenapa dia tidak minta kau antar, tetapi katanya kau sedang beristirahat, jadi kupikir kau sudah tahu kalau Baekhyun keluar."

Seketika itu juga Jongin menggertakkan giginya.

Sialan. Dasar Baekhyun, Uke itu tidak mengindahkan peringatannya dan memilih untuk menemui Chanyeol tanpa seizinnya.

Pasti, tidak terbantahkan lagi, Baekhyun pasti pergi menemui Chanyeol. Hal itu membuatnya menahankan rasa terbakar di dalam dadanya, membayangkan Baekhyun sedang berduaan dengan Chanyeol.

Selain itu, ada rasa cemas yang menyeruak di dadanya. Jongin sudah berhasil memancing Minhyun supaya berusaha melenyapkan Baekhyun, demi menjebak Minhyun dalam misinya. Hal itu berarti sampai Jongin berhasil menjebak Minhyun, Baekhyun selalu dalam kondisi terancam.

Baekhyun tidak boleh lepas dari penjagaan Jongin!

.

.

.

Bersambung ke Part 18