Embrace The Chord
Oleh Santhy Aghata

Disclaimer:
Cerita ini milik Santhy Aghata.
Bukan milik saya.
Saya di sini hanya meremakenya karena sebuah kesepakatan/?
Kalian bisa membaca ff ini di blog milik Santhy Aghata.

Warning:
Yaoi inside! Age switchDon't like, don't read! Simple right?

Terima kasih. Selamat membaca!

.

.

.

{{Part 18}}

.

.

.

Baekhyun melangkah turun dari taxi di depan cafe itu, cafe tempat dia dulu sering menghabiskan waktunya bersama Chanyeol di hari minggu di masa lalu.

Dia memasuki cafe itu dan menatap ke arah tempat duduk di sudut, tempat favorit mereka dulu dan tersenyum ketika melihat bahwa Chanyeol sudah menunggu di sana.

"Hai Chanyeol." Baekhyun melangkah mendekat, menatap Chanyeol yang langsung mendongak menatapnya dan membalas senyumnya.

"Hai Baekhyun." Chanyeol berdiri, langsung menarikkan kursi untuk Baekhyun di depannya, "Duduklah, aku sudah memesankan minuman kesukaanmu." Mata Chanyeol mengamati Baekhyun dengan lembut, "Kau cantik sekali, Baekhyun.

Pipi Baekhyun merona, menatap Chanyeol yang mengambil tempat duduk di depannya dan menatapnya dalam-dalam.

"Terimakasih Chanyeol."

Chanyeol masih tidak melepaskan tatapan matanya dari Baekhyun, "Kau tampak lebih feminim sekarang, apakah itu karena hubunganmu dengan Jongin?"

Sekali lagi, Baekhyun terdorong untuk berkata jujur kepada Chanyeol, tetapi dia kemudian menahan diri.

"Mungkin." Gumamnya lembut, berusaha menghindari pertanyaan selanjutnya, "Jadi bagaimana Chanyeol, bagaimana tentang Kyungsoo?"

Mata Chanyeol berubah muram, "Kyungsoo... yah..." seme itu menghela napas panjang, "Aku berusaha menghubunginya seharian ini tetapi tidak diangkat, semua pesanku tidak dibalas, mungkin dia marah kepadaku."

"Kenapa dia marah kepadamu?" Baekhyun menyela, merasa bingung.

Chanyeol menghela napas panjang sekali lagi, seakan ingin membuang seluruh beban berat di benaknya.

"Karena aku selalu membicarakanmu. Kyungsoo merasa terganggu, dia tidak mengerti kalau kau adalah teman masa kecilku dan kita cukup dekat." Ada senyum miris di wajah Chanyeol, "Aku rasa dia cemburu kepadaku."

Baekhyun membelalakkan matanya, "Kyungsoo?" Membayangkan wajah Kyungsoo yang luar baisa cantik dan sempurna, jauh sekali di atas dirinya, rasanya sangatlah tidak mungkin kalau Kyungsoo cemburu kepada Baekhyun. "Bagaimana mungkin dia cemburu kepadaku?"

Ekspresi Chanyeol tampak serius,

"Mungkin karena pembicaraan tentangmu terasa mendominasi percakapan kami... Kyungsoo merasa terganggu, dia bilang mungkin di dalam otakku terlalu dipenuhi dirimu." Chanyeol tersenyum.

Kata-kata Chanyeol itu membuat Baekhyun sedikit ternganga. Apakah maksud kata-kata Chanyeol itu?

"Seharusnya kau jangan membicarakan tentang aku terus-terusan." Baekhyun berusaha bersikap wajar meskipun merasakan hal yang berbeda di benaknya.

Chanyeol menghela napas panjang, "Yah, entahlah Baekhyun, kurasa memang benar kata-kata Kyungsoo, aku terlalu sering membicarakanmu, Baekhyun, mungkin hal itulah yang membuat Kyungsoo terganggu..."

"Dan kenapa kau sering membicarakan tentangku, Chanyeol?"

Mata Chanyeol berubah serius, "Mungkin tanpa sadar, kau selalu ada di hatiku, Baekhyun."

Kali ini jantung Baekhyun benar-benar berdesir. Chanyeol seolah ingin mengungkapkan sesuatu kepadanya, seme itu tampak serius, menatap Baekhyun dengan tatapan matanya yang dalam.

Apakah Chanyeol.. apakah Chanyeol secara tidak langsung ingin mengatakan bahwa Baekhyun ada di dalam hatinya? Bahwa sekarang entah kenapa seme itu mulai menyadari bahwa Baekhyun mungkin selama ini selalu tersimpan di dalam hatinya dan menunggu untuk diakui?

Kalau memang benar begitu, kenapa tidak ada rasa yang berbeda di benak Baekhyun selain jantungnya yang berdesir pelan? Bukankah inilah yang selama ini dinantikannya? Pengakuan Chanyeol bahwa Baekhyun ada di dalam hatinya, meskipun sedikit? Seharusnya Baekhyun bersorak dan berteriak gembira bukan? Tetapi kenapa dia sekarang malahan merasa... datar?

Jemari yang ramping tiba-tiba menyentuh bahunya lembut, membuat Baekhyun terperanjat kaget, begitupun Chanyeol yang tampak benar-benar terkejut dengan mata memandang ke belakang Baekhyun.

Baekhyun mendongakkan kepalanya, menatap ke belakang, dan membelalakkan matanya ketika melihat Jongin berdiri di dana, di belakangnya, memandangnya dengan tatapan mata memperingatkan yang segera hilang, berganti dengan tatapan mesra penuh sandiwara.

"Maafkan aku terlambat sayang." Jongin menunduk dan mengecup dahi Baekhyun yang sedang duduk dengan lembut, kemudian seme itu menarik kursi dan duduk di sebelah Baekhyun, berhadap-hadapan dengan Chanyeol, ditatapanya seme itu dengan tatapan mata datar, "Maafkan aku terlambat, Tadi aku bersama Baekhyun dan kebetulan aku sedang ada urusan mengenai konser tunggalku, jadi aku terpaksa meninggalkan Baekhyun sebentar, Baekhyun lalu bilang sambil menungguku dia akan menemuimu, dan aku berjanji akan segera menyusul setelah semua urusanku beres."

Chanyeol masih ternganga, seolah kehilangan kata-kata. Dia menoleh berganti-ganti ke arah Baekhyun yang memasang wajah bersalah dan Jongin yang tersenyum tenang, dan kemudian ekspresinya berubah sedikit malu.

"Oh. Maafkan aku, aku tidak tahu kalau aku mengganggu Baekhyun di sela acara kalian." Seme itu langsung beranjak berdiri, "Kurasa aku ada urusan mendadak, aku harus pergi."

"Chanyeol!" Baekhyun hendak berdiri, mencegah kepergian Chanyeol, tetapi tangan Jongin menahannya dengan kencang dan penuh peringatan, membuat gerakan dan suara Baekhyun tertahankan.

Chanyeol menoleh, menatap Baekhyun, ekspresinya terlihat terluka.

"Mungkin lain kali kita bisa mengatur waktu untuk bertemu, Baekhyun. Selamat tinggal." Dan kemudian, tanpa menoleh lagi, Chanyeol melangkah pergi meninggalkan mereka berdua.

Seketika itu juga Baekhyun langsung melemparkan tatapan marah kepada Jongin.

"Kenapa kau melakukan itu, Jongin? Itu sangat tidak sopan, kau seperti mengusir Chanyeol dengan kasar, tetapi menggunakan bahasa yang halus."

Jongin menyandarkan tubuhnya di kursi dan bersedekap dengan tenang.

"Karena kau menemui Chanyeol tanpa meminta persetujuan kepadaku."

Baekhyun membelalakkan matanya, "Aku tidak membutuhkan izinmu untuk apapun, kau bukan siapa-siapaku." Gumam Baekhyun, nadanya sedikit meninggi menahankan emosi karena menghadapi sikap Jongin yang angkuh.

"Kau memang bukan siapa-siapaku dan hubungan kita hanyalah hubungan sandiwara. Tetapi selama kita bersandiwara, kau berada di bawah tanggung jawabku." Mata Jongin menyipit. "Apakah kau tidak tahu bahwa aku sedang memancing Minhyun, yang kuduga sebagai otak dibalik penyeranganmu untuk mengulangi lagi usahanya?"

"Mengulangi lagi?"

"Ya." Jongin menatap Baekhyun dengan serius, "Aku berusaha membuatnya lengah dan terburu-buru untuk menyerangmu lagi, dan aku sudah menghubungi polisi, mereka akan menyiapkan orang untuk mengawasimu dan menangkap Minhyun ketika dia melakukan maksudnya, dan selama polisi belum bergerak, kau harus berada di tempat di mana aku bisa melihatmu, agar aku bisa menjagamu."

Baekhyun membuka mulutnya untuk membantah, tetapi kemudian dia menahan diri, menyadari bahwa perkataan Jongin ada benarnya juga. Tetapi meskipun begitu, itu tidak membenarkan perlakukan Jongin kepada Chanyeol tadi.

"Tetapi tetap saja aku tidak suka, kau seolah memaksa pergi Chanyeol tadi."

"Aku tidak memaksanya pergi, dia sendiri yang pergi dengan tergesa-gesa." Jongin mengangkat alisnya, "Kurasa dia hampir menyatakan perasaannya kepadamu ya?"

Baekhyun merasakan pipinya merona, kemudian dia bergumam lirih, "Aku tidak tahu... mungkin saja... dia bilang aku ada di hatinya." Suara Baekhyun menjadi pelan, berubah ragu.

Jongin terkekeh, "Dia benar-benar terlambat menyadari perasaannya, kalau kau menuruti saranku, jangan langsung memberikan jalan untuknya." Mata Jongin menajam, "Kau sendiri bagaimana perasaanmu?"

Baekhyun tercekat, bahkan dia tidak bisa menjelaskan perasaannya kepada dirinya sendiri, bagaimana mungkin dia bisa menjelaskan perasannya kepada Jongin?

Sementara itu Jongin mengamati ekspresi Baekhyun dan tiba-tiba senyumnya melebar.

"Kurasa Chanyeol sudah terlambat."

Baekhyun yang sedang merenung dan sibuk dengan pikirannya mendengar Jongin bergumam dan mengangkat kepalanya,

"Apa?"

Jongin menggelengkan kepalanya, "Tidak." Senyumnya mengembang, penuh arti, "Ayo kita pergi, kita harus berlatih biola untuk konser tunggalku nanti?"

Konser tunggal? Baekhyun baru mendengar informasi itu, Jongin akan mengadakan konser tunggal? Tetapi bukankah tangan Jongin belum pulih benar?

Jongin melihat pertanyaan di mata Baekhyun dan menganggukkan kepalanya, "Ayo kita bicarakan sambil jalan, aku punya banyak rencana, dan aku membutuhkanmu, Baekhyun."

...

Mereka berada di ruang musik, tempat Jongin biasanya berlatih di rumah itu. Ruangan itu lebih seperti ballrom yang besar, terletak di bagian belakang rumah. Dua buah biola telah disiapkan di sana, satu adalah Stradivari milik Jongin dan satu lagi adalah biola Paganini pemberian Jongin untuk Baekhyun.

Mereka berdiri di tengah ruangan dan Baekhyun menatap Jongin dengan bingung, pandangannya berganti-ganti antara Jongin dengan dua buah biola yang telah disiapkan itu.

"Apakah kita.. apakah kita akan bermain biola?" Baekhyun masih teringat jelas ketika dia melihat Jongin mencoba bermain biola di rumah sakit waktu itu, dan seme itu tidak bisa menyelesaikan permainannya karena tangannya kesakitan. Dia juga masih ingat ekspresi sedih Jongin waktu itu... ekspresi sedih sang maestro yang tidak bisa menyelesaikan permainan biolanya.

Jongin tersenyum penuh arti, "Aku ingin kau melihat sesuatu." Ditarikkannya kursi untuk Baekhyun di tengah ruangan, "Duduklah, buatlah dirimu nyaman, kau adalah penonton pertamaku." Gumam Jongin lembut.

Mau tak mau Baekhyun duduk di kursi itu seperti yang diminta Jongin, duduk dengan tenang, meraskan jantungnya berdebar menanti apa yang akan terjadi.

Jongin sendiri melangkah ke depan Baekhyun dengan membawa biola Stradivarius miliknya. Jantung Baekhyun berdebar, penuh antisipasi menanti apa yang akan terjadi.

Dan kemudian Baekhyun ternganga ketika dia menatap Jongin yang meletakkan biola itu di pundak kanannya...

Di pundak kanannya?

Apakah itu berarti... Jongin akan menggunakan tangan kirinya untuk menggesek biolanya?

Tetapi apakah itu mungkin? Menggesek biola dengan tangan kiri sangatlah sulit dan sangat jarang di kalangan violinist profesional sekalipun. Bahkan seorang violinist kidal kebanyakan memilih tetap menggunakan tangan kanannya untuk menggesek biolanya, karena menggesek biola dengan tangan kiri memerlukan konsentrasi dan teknik yang lebih sulit, untuk menghasilkan nada-nada yang sama persis dengan nada yang dihasilkan dengan gesekan tangan kanannya amatlah sulit, bisa dikatakan tingkat kesulitannya dua kali lipat.

Tetapi Jongin seorang pemain biola jenius bukan?

Tidak menutup kemungkinan bahwa Jongin akan mampu melakukannya...

Baekhyun duduk di sana, menatap Jongin yang berdiri tegak di tengah ruangan, posisi sempurna seorang violinist profesional dan merasakan jantungnya berdebar semakin kencang... dan menunggu.

Lalu Jongin menggesekkan biolanya hingga alunan musik terdengar memenuhi ruangan. Nada awalnya indah...dan seketika Baekhyun menyadari bahwa ini adalah salah satu nada yang sulit. Lagu yang sama yang pernah dimainkan Baekhyun pada malam audisinya untuk mengikuti kelas khusus Jongin, lagu yang sama yang pernah mereka mainkan bersama-sama tanpa rencana.

Tchaikovsky, Violin Concerto in D major Op.35 ...

Alunan nada yang cukup indah dan sulit, diciptakan oleh maestro yang sangat ahli dan luar biasa, dengan tingkat kesulitan yang cukup tinggi.

Ketika nada-nada berubah semakin cepat, dengan sempurna, tanpa meleset sama sekali, Baekhyun ternganga, matanya membelalak, seluruh ekspresinya mengungkapkan ketakjuban yang tiada terkira.

Perasaannya bergolak, antara kekaguman dan ketakjuban melihat Jongin, sang maestro biola yang jenius... ternyata bisa memainkan biolanya dengan sempurna meskipun menggesek dengan tangan kirinya!

Ternyata istilah kejeniusan Jongin itu benar adanya, semua orang tidak main-main ketika menempelkan istilah itu kepada Jongin. Seme ini benar-benar memiliki teknik tinggi dalam bermain biola, dan kenyataan bahwa seme itu bisa memainkan biolanya dengan tangan kanan dan kirinya dengan sama-sama sempurnanya, amatnya luar biasa... bagaikan sebuah keajaiban...

.

.

.

Bersambung ke Part 19