Embrace The Chord
Oleh Santhy Aghata
Disclaimer:
Cerita ini milik Santhy Aghata.
Bukan milik saya.
Saya di sini hanya meremakenya karena sebuah kesepakatan/?
Kalian bisa membaca ff ini di blog milik Santhy Aghata.
Warning:
Yaoi inside! Age switchDon't like, don't read! Simple right?
Terima kasih. Selamat membaca!
.
.
.
{{Part 20}}
.
.
.
Baekhyun terpana, menatap Jongin dengan mata membelalak seolah-olah tak percaya mendengar apapun yang dikatakan oleh seme itu.
"Apa?"
Jongin berdiri dari duduknya, memandang Baekhyun dengan tatapan serius, "Kurasa aku jatuh cinta kepadamu, Baekhyun."
Apakah Jongin sedang mengerjainya dengan kejahilannya seperti biasanya?
Baekhyun berdiri di sana, menatap Jongin dengan terpaku dan kebingungan, tak tahu harus berkata apa. Mulutnya bahkan menganga dengan suara tercekat di tenggorokannya, tak tahu harus berkata apa.
Sementara itu Jongin melangkah mendekat dan berdiri dekat di depan Baekhyun, seme itu tampak tenang, menebarkan senyumnya yang mempesona.
"Jadi bagaimana Baekhyun? Apakah kau membalas perasaanku?"
Sebuah pernyataan cinta? Uke mana yang tidak akan berdegup seluruh jantungnya merasakan pernyataan cinta dari seme yang begitu mempesona seperti Jongin?
Baekhyun sendiri merasakan debaran di jantungnya semakin nyata, dia ingin menjawab tetapi tidak tahu apa yang harus dikatakannya.
"Aku tidak terbiasa ditolak seseorang." Mata Jongin mengerjap angkuh, "Meskipun begitu bisa kukatakan kepadamu bahwa kau sebenarnya mencintaiku, hanya saja kau belum menyadarinya." Dengan lembut jemari Jongin bergerak menyentuh rambut Baekhyun di dekat telinga dan menyelipkannya ke balik telinga Baekhyun, "Cepatlah sadari perasaanmu kepadaku, dan datangi aku."
Seme itu menundukkan kepalanya, dan mengecup bibir Baekhyun, lalu melangkah berlalu melewati Baekhyun yang masih terpana dan meninggalkannya.
...
Beberapa saat kemudian dan Baekhyun masih berdiri di sana, terpana, merasakan kelembutan kecupan Jongin di bibirnya yang selembut kupu-kupu.
Benarkah itu tadi pernyataan cinta?
Baekhyun menyentuh bibirnya. Jongin tampak begitu tulus dan serius, seme itu sepertinya tidak main-main.
Apakah Jongin serius? Dengan pernyataan cintanya itu? Baekhyun masih saja tidak bisa membaca Jongin, dan lagipula, reputasinya di masa lalu sebagai penghancur uke membuatnya merasa takut... takut kalau dia menumbuhkan perasaanya kepada seme itu, ternyata dia hanya dipermainkan dan menjadi korban, seorang uke yang dihancurkan perasaannya seperti korban-korban Jongin sebelumnya.
...
Yang dilakukan Baekhyun pertama kalinya untuk menelaah perasaannya adalah dengan menelepon Chanyeol.
Lama sekali dia menunggu dan teleponnya tidak diangkat-angkat, tetapi kemudian pada deringan yang kesekian kali, akhirnya Chanyeol mengangkat teleponnya.
"Hallo Baekhyun?" ada suara hiruk-pikuk di belakang Chanyeol, membuat Baekhyun mengerutkan keningnya.
"Halo Chanyeol, ramai sekali di belakangmu, kau ada di mana?"
Hening sejenak, hanya hiruk pikuk yang terdengar sebagai background suara. Dan kemudian Chanyeol bergumam.
"Aku ada di bandara Baekhyun."
"Di bandara? Kenapa Chanyeol?"
Terdengar helaan napas Chanyeol di sana, "Aku pergi untuk menyusul Kyungsoo, Baekhyun. Kurasa kalau kami benar-benar serius dengan hubungan ini harus ada salah satu yang berjuang."
Seketika itu juga Baekhyun berdiri dari duduknya, benar-benar terkejut.
"Kau benar-benar-benar akan pergi ke luar negeri untuk menyusul Kyungsoo?" dia setengah berteriak, terdorong oleh keterkejutannya.
Sekali lagi Chanyeol menghela napas panjang, "Semula aku meragukan perasaanku, tetapi kemudian setelah kejadian kemarin..." Chanyeol menghela napas panjang, "Aku memutuskan untuk serius terhadap Kyungsoo."
Setelah kejadian kemarin? Apakah yang dimaksud Chanyeol adalah insidennya dengan Jongin kemarin?
Baekhyun terdiam, menunggu, menanti apakah akan ada patah hati di benaknya yang akan menyergap jantungnya. Apalagi mendengar kenyataan bahwa Chanyeol berangkat untuk mengejar cintanya kepada Kyungsoo dan meninggalkan negara ini.
Tetapi ternyata perasaan itu tidak muncul di dalam hatinya, dia menunggu dan terus menunggu, yang muncul malahan perasaan sayang dan dorongan untuk memberi semangat kepada Chanyeol.
"Semoga kau berhasil menyelesaikan permasalahanmu dengan Kyungsoo, Chanyeol, semoga kau berbahagia bersama Kyungsoo." Gumam Baekhyun dengan tulus.
Hening sejenak, kemudian ketika Chanyeol berkata-kata, Baekhyun bisa mendengar ada senyum di dalam suaranya,
"Terimakasih Baekhyun, kuharap kau juga berbahagia bersama Jongin. Semula aku memang tidak setuju, tetapi kemudian kulihat dia sangat serius kepadamu, dan dia tampaknya sangat melindungimu, mungkin kau adalah uke yang pada akhirnya bisa menaklukkan Jongin dan menghentikan reputasinya sebagai pengancur uke."
Baekhyun tercekat, dia teringat akan keraguannya kepada pernyataan cinta Jongin, dan kemudian mulai merasakan rasa hangat di dadanya.
Chanyeol bisa melihat bahwa Jongin serius kepadanya, mama Jongin juga sudah pernah mengatakan bahwa Jongin menyimpan perasaan yang dalam kepadanya. Apakah itu berarti bahwa Baekhyun harus mulai mempercayai Jongin dan membuka hatinya kepada seme itu?.
...
Jongin sedang berada di ruang musik, melatih nada-nada yang indah dari alunan biolanya, ketika Baekhyun muncul di ambang pintu dengan hati-hati, takut mengganggu latihan Jongin.
Tetapi ternyata Jongin menyadari kehadirannya, dan seme itu menghentikan latihan biolanya.
Setelah meletakkan biolanya dengan hati-hati pada meja yang tersedia, Jongin tersenyum kepada Baekhyun.
"Apakah kau sudah siap untuk berlatih biola bersamaku, Baekhyun?"
Baekhyun menganggukkan kepalanya, dan melangkah memasuki ruang musik itu.
"Aku siap." Gumam Baekhyun pelan.
Jongin tersenyum lembut dan mengedikkan bahunya ke arah biola Paganini yang sudah menjadi milik Baekhyun dan diletakkan di kotaknya di atas meja,
"Ayo. Ambil biolamu." Gumamnya.
Dengan penuh semangat Baekhyun mengambil biola itu dari kotaknya dan meletakkan di pundak kirinya.
Jongin sudah berdiri dan meletakkan biola itu di pundak kirinya sama seperti Baekhyun, berdiri tegak dengan posisi sempurna seorang violinist.
"Kau ingin memainkan lagu apa?"
Baekhyun menarik napas panjang, memandang Jongin dengan tatapan mantap.
"Beethoven Violin Romance no 2" jawabnya tak kalah mantap.
Jongin mengangkat alisnya mendengar pilihan lagu Baekhyun.
"Violin Romance ya?" seme itu tersenyum penuh arti, kemudian menganggukkan kepalanya, "Mari kita mainkan, sepertinya benakku sedang dipenuhi oleh hal-hal romantis."
Pipi Baekhyun memerah menerima tatapan tersirat Jongin, dia menganggukkan kepalanya. Dan kemudian memulai nada awal. Seketika itu juga, seperti sudah bisa membaca nadanya, Jongin langsung memasukkan nada pendamping yang menyempurnakan permainan musik itu.
Permainan musik yang mencerminkan perdamaian hati Beethoven dalam menghadapi penyakitnya, musik yang mencerminkan sisi lembut dan ringan dari Beethoven.
Nada-nada berpadu sempurna, luar biasa indahnya, memenuhi ruang musik itu. Alunan musiknya seolah-olah dimainkan oleh dua orang yang memiliki satu hati, sungguh kesempurnaan yang tidak terkatakan.
Kalau ada orang yang mendengarkan permainan musik duet mereka ini, pastilah mereka akan terpana.
Dari awal sampai akhir, keseluruhan keindahan nadanya terus dan terus berpadu, sampai akhirnya, Baekhyun menguarkan nada penutup dan Jongin mengikutinya.
Mereka menyelesaikan permainan duet mereka dengan sempurna.
Luar biasa sempurnanya bagi Jongin. Seme itu meletakkan biolanya dan menatap Baekhyun dengan lembut.
"Kau adalah pasangan yang sangat sempurna bagiku, Baekhyun."
Baekhyun menatap Jongin dengan hati-hati.
"Apakah kau serius dengan perkataanmu?"
"Perkataan yang mana?" Jongin tersenyum lebar, membuat pipi Baekhyun memerah.
"Pernyataan cintamu tadi."
Jongin memasang ekspresi penuh makna, meskipun begitu, ada keseriusan di dalam nada suaranya,
"Apakah kau tidak tahu? Aku menjalin hubungan dengan banyak uke, tetapi tidak pernah sekalipun aku menyatakan cintaku kepada mereka semua." Mata Jongin berubah tajam, "Kau adalah satu-satunya uke di mana aku menyatakan cintaku."
Pipi Baekhyun memerah, meskipun begitu dia masih belum yakin.
"Dan apakah kau serius dengan kata-katamu? Kau tidak sedang mempermainkanku bukan?"
Jongin melangkah mendekat, selangkah lebih dekat di depan Baekhyun.
"Apakah aku terlihat seperti sedang bermain-main?" tangannya terulur, meraih dagu Baekhyun. "Padamulanya aku jatuh cinta setengah mati kepada permainan biolamu. Sungguh-sungguh jatuh cinta sehingga aku rela melakukan apa saja supaya kau mau menjadi muridku dan aku bisa terus menerus mendengarkan permainan biolamu yang indah itu, bagiku kau adalah uke yang sempurna, uke yang bisa memeluk semua nada, dan kemudian, tanpa kusadari, pikiranku terlalu fokus kepadamu dan kau kemudian menguasai seluruh pikiranku." Mata Jongin menggelap, "Aku tidak pernah berencana jatuh cinta kepada siapapun, Baekhyun, dan aku bahkan tidak mengira aku bisa jatuh cinta, tetapi aku mencintaimu, dan perasaan ini bukan main-main."
Ya. Pada akhirnya, Baekhyun meyakinin perasaan Jongin. Siapa yang tidak percaya ketika melihat betapa ekspresi Jongin begitus seriusnya kepadanya?
"Dan sekarang, apakah kau masih belum mempercayaiku?" Jongin bertanya, menatap Baekhyun dengan penuh tanda tanya, "Apakah kau membalas perasaanku, Baekhyun?"
Tidak perlu menunggu lama lagi, Baekhyun menganggukkan kepalanya, menatap Jongin dengan pipi merona.
"Kurasa aku... aku membalas perasaanmu."
"Kau apa?" Jongin tampaknya tidak puas dengan pengakuan Baekhyun.
Pipi Baekhyun semakin merona.
"Aku.. kurasa aku juga mencintaimu."
"Benarkah?" Jongin mengangkat alisnya, "Lalu bagaimana perasaanmu kepada Chanyeol?"
Baekhyun menghela napas panjang, "Chanyeol memutuskan pergi ke luar negeri untuk mengejar Kyungsoo."
"Bagus." Tanpa perasaan Jongin bergumam, "Jadi dia tidak akan mengganggu kita lagi." Tetapi kemudian seme itu menatap Baekhyun dengan tatapan mata menyelidik, "Apa kau menerima cintaku karena Chanyeol meninggalkanmu?"
Baekhyun langsung menggelengkan kepalanya kuat-kuat,
"Tidak!" kata-kata itu seolah-olah susah keluar dari bibirnya, "Ketika Chanyeol mengatakan bahwa dia akan pergi mengejar Kyungsoo, aku tidak merasakan apa-apa selain rasa yang tulus supaya dia berhasil mengejar cintanya, pada saat itu aku sadar bahwa aku sudah tidak merasakan apa-apa kepada Chanyeol."
Senyum Jongin melebar, dan kemudian tanpa permisi, seme itu mendekat dan merengkuh Baekhyun ke dalam pelukannya,
"Kalau begitu sekarang kita tidak bersandiwara lagi? Kau benar-benar menjadi kekasihku?"
Baekhyun mengangguk malu-malu dengan pertanyaan Jongin itu.
Jongin terkekeh, memeluk Baekhyun semakin rapat dan mengecup dahi Baekhyun."Menjadi kekasihku tidaklah mudah, kadangkala aku bisa menjadi sangat egois dan posesif, kuharap kau siap."
Baekhyun mengerucutkan bibirnya, "Kau sudah sangat egois, angkuh, jahil, tukang memaksa, dan tukang cium sembarangan, meskipun begitu aku tetap saja jatuh cinta kepadamu." Baekhyun tersenyum lucu, "Kurasa aku siap menghadapi segalanya."
Jongin tertawa."Kalau begitu, mari kita berlatih biola dan mempersembahkan duet sepasang kekasih yang mempesona."
.
End
.
Note: masih ada epilog setelah ini. Terima kasih yang sudah membaca remake gue. Maaf ada kata-kata yang diubah. Sebenernya sih enakan GS. Tinggal ctrl+f terus replace :v berhubung banyak yang minta yaoi, ya gue mikir ini kata-katanya digimanain -_- akhirnya gue mutusin buat pake seme-uke. Aneh sih. Ya gimana lagi/? kapel gue juga kurang suka kalo ff gs. Bhakakak. Oke, silakan ripiu atau baca epilognya.
Sekali lagi, makasih.
Kecup mesra, CekerJongin2.
