Embrace The Chord
Oleh Santhy Aghata

Disclaimer:
Cerita ini milik Santhy Aghata.
Bukan milik saya.
Saya di sini hanya meremakenya karena sebuah kesepakatan/?
Kalian bisa membaca ff ini di blog milik Santhy Aghata.

Warning:
Yaoi inside! Age switchDon't like, don't read! Simple right?

Terima kasih. Selamat membaca!

.

.

.

{{epilog}}

.

.

.

Penonton sangat ramai memenuhi seluruh tempat duduk elegan yang tersedia. Semua kursi penuh dan seluruh barisan orkestra telah menempati posisi masing-masing.

Jongin dan Baekhyun berada di ruang ganti. Jongin mengenakan tuxedonya dan menatap Baekhyun dengan lembut,

"Gugup?" tanyanya penuh sayang, dalam sebulan ini mereka telah menjadi kekasih yang sedemikian dekat dan saling mencintai. Benar-benar seperti menemukan pasangan jiwa yang telah terpisah sedemikian lama.

Tidak seperti sikap dingin Jongin sebelumnya, seme itu ternyata bisa menjadi begitu hangat kepada Baekhyun. Dia mudah menyatakan cinta, berkali-kali, dan melimpahi Baekhyun dengan penuh kasih sayang.

Baekhyun sama sekali tidak menyangka, pertemuannya dengan Jongin yang berlanjut dengan berbagai permainan biola mereka bersama dan kemudian sambung menyambung oleh berbagai peristiwa akan berakhir menjadikan mereka sepasang kekasih.

Walaupun begitu, Baekhyun sungguh berbahagia, cara Jongin memperlakukannya, seolah dia adalah kekasih yang paling sempurna di dunia, seolah dia adalah satu-satunya yang berharga bagi Jongin, membuatnya merasa sangat berbahagia.

Mereka berdua sungguh saling melengkapi baik dalam bermain biola maupun dalam hubungan percintaan mereka.

Baekhyun menggelengkan kepalanya, "Tidak, aku tidak merasa gugup. Asal kau ada disampingku."

Jongin tersenyum dan mengecup dahi Baekhyun. "Kurasa akulah yang merasa gugup, aku belum pernah melakukan konser dengan tangan kiri sebelumnya."

"Kau pasti bisa." Baekhyun tersenyum lembut, dengan penuh merapikan dasi Jongin, "Ingat, kau adalah seorang maestro pemain biola yang sangat jenius." Dia lalu mengerutkan keningnya dan menatap Jongin dengan tatapan mata menggoda, "Sayangnya aku tidak punya jepit rambut kupu-kupu berlian seperti yang dimiliki mamamu untuk meredakan rasa gugupmu."

Jongin tertawa lalu memeluk Baekhyun dengan sayang, "Aku tidak butuh jepit rambut itu, aku sudah memiliki yang paling berharga di dalam genggaman tanganku, bukan?"

Pipi Baekhyun memerah, "Terimakasih karena mencintaiku, Jongin."

Mata Jongin meredup. "Dan akupun demikian adanya, Baekhyun, terimakasih karena telah bersedia mencintaiku."

...

"Nanti setelah konser kau culik Baekhyun di sini, dia akan keluar dari sisi panggung sebelah sini." Minhyun berbisik kepada Zitao yang menyamar, berpakaian sebagai salah seorang kru, Minhyun tentu saja sudah berdandan cantik sekali karena dia sudah mempersiapkan diri untuk berdandan secantik mungkin sebagai pasangan Jongin di pesta nanti. Mereka berdua sedang berdiri di sisi panggung, berbisik-bisik mencurigakan.

Zitao menganggukkan kepalanya, "Oke, jadi nanti setelah Baekhyun keluar panggung, aku akan membiusnya dengan obat bius dan membawanya pergi dari sini. Lalu apa yang harus kulakukan kepadanya?"

Minhyun terkekeh jahat, "Kau bisa melakukan apapun kepadanya, kau bisa menjualnya atau bahkan membunuhnya, aku tidak peduli, yang pasti Baekhyun harus menyingkir dari sisi Jongin!"

Sebelum Zitao sempat berkata-kata, tiba-tiba terdengar suara tepuk tangan dari ujung samping panggung. Minhyun menoleh dengan terkejut, tetapi langsung tersenyum lebar ketika menyadari bahwa yang bertepuk tangan adalah Jongin.

"Jongin! Sayangku!" Minhyun setengah melompat ingin menghampiri Jongin, tetapi kemudian langkahnya terhenti ketika dari sisi lain ada banyak polisi yang muncul, dengan posisi melingkar, mengepungnya dan Zitao. Wajah Minhyun langsung pucat pasi, dia menatap Jongin kebingungan.

"Jongin? Apa-apaan?" dia bertanya suaranya tercekat di tenggorokannya, ketakutan karena polisi yang mengepungnya.

Jongin hanya terdiam, berdiri dan menatap Minhyun tanpa ekspresi. Lalu seme itu mengeluarkan perekam dari balik saku jasnya.

Suara perekam itu sungguh lantang, mengulang kembali semua percakapan Minhyun dengan Zitao sebelumnya yang berencana melukai Baekhyun.

"...Kau bisa melakukan apapun kepadanya, kau bisa menjualnya atau bahkan membunuhnya, aku tidak peduli, yang pasti Baekhyun harus menyingkir dari sisi Jongin!"

Segera setelah rekaman itu berakhir, polisi bergerak maju dan meringkus Minhyun bersama Zitao, Minhyun meronta-ronta, menatap Jongin dengan tidak percaya, benar-benar tidak percaya bahwa Jongin akan melakukan hal ini kepadanya.

"Kenapa kau melakukan hal ini Jongin? Kenapa kau tega melakukannya kepadaku? Aku mencintaimu Jongin... Aku mencintaimuuu..."

Minhyun berteriak-teriak seperti orang gila, berusaha meronta-ronta ketika polisi meringkusnya dan membawanya pergi meninggalkan tempat itu.

Setelah Minhyun dan Zitao menghilang dibawa polisi, Baekhyun muncul di sebelah Jongin.

"Kurasa kita bisa tenang sekarang."

Jongin tersenyum. "ya, kita bisa tenang sekarang." Diraihnya jemari Baekhyun dan dikecupnya, "Ayo, penonton sudah menunggu, mari kita berikan konser terindah kita."

Jongin dan Baekhyun, membawa biola masing-masing, berjalan melangkah menuju panggung yang terbuka.

Suara penonton langsung riuh menyambut kedatangan mereka, pasangan duet sempurna yang telah lama dinanti-nanti, apalagi kondisi Jongin yang sudah vakum hampir sebulan bermain biola karena lukanya, membuat perasaan antisipasi penonton semakin dalam.

Suara applause semakin riuh rendah dan beberapa penonton bahkan berdiri, padahal Jongin dan Baekhyun belum mulai bermain biola.

Baekhyun menatap penonton yang begitu banyaknya mememenuhi kursi penonton, dia menghela napas panjang dan menatap ke arah Jongin, seme itu tersenyum kepadanya, memberinya senyuman menguatkan.

I Love U

Jongin menggerakkan mulutnya tanpa suara, memberikan Baekhyun ketenangan dan perasaan bahagia yang luar biasa.

Dia meletakkan biola itu di pundaknya, dan kemudian menghela napas panjang, menunggu Jongin menggesekkan nada awal musik mereka, dan menyusulnya dengan permainan biolanya sendiri yang tak kalah indahnya.

Suara musik yang begitu sempurna, penuh dengan nada simponi yang mempesona, memenuhi gedung orkestra yang sangat besar itu, membuat seluruh penonton terpana.

Suara musik yang indah juga mengalir di benak Jongin dan Baekhyun, benak dua orang yang dipersatukan oleh nada, dipeluk oleh nada hingga kemudian saling mencintai satu sama lain.

.

End of epilogue

.