Disclmers :Naruto punya Mashasi Kisimoto selalu, saya hanya minjem Sasuke sama Hinata doank
Pairing :Sasuke x Hinata
Slight :Sasuke x Karin, Hinata x Sai, Naruto x Sakura
Warning :AU, OOC, Miss-typo, Alur cepat, Language dan EYD yang berantakan.
Love story About Hyuga Hinata by Ay Shi Sora-Chan
Don't Like Don't Read
.
.
.
Chapter Sebelumnya
"Ka-kami pergi dulu, okaa-san"
"Iya, hati-hati ya di jalan".Kami berdua mengangguk paham.
Keluar dari halaman depan kediaman Hyuga, Hinata dapat melihat mobil BMW berwarna silver terparkir indah di tepi halamannya. Disamping mobil BMW itu berdiri seorang laki-laki setengah baya menggunakan seragam hitam putih ala supir pribadi.
"Silahkan masuk nona…!"
.
.
*LOVE STORY ABOUT HYUGA HINATA*
DHEG
DHEG
DHEG
'Bagaimana ini, apakah nanti aku bisa di terima disana? Aku takut, aku hanya akan mempermalukan keluaragaku dan calon tunanganku ini…'
Hinata sangat resah sekarang ini, dia sungguh merasa takut sekaligus gugup secara bersamaan.
Ingin rasanya Hinata keluar dari dalam mobil BMW ini dan berlari keluar menuju tempat yang tenang dan sepi, lalu berteriak dengan keras agar semua rasa takut berlebihahanya menghilang atau setidaknya dia ingin melihat tatapan lembut yang menenangkan dari calon tunangannya yang duduk bersampingan dengannya. Tapi kurasa itu tidak akan mungkin, dari tadi dia hanya diam saja. Tetap cuek dan tak menghiraukan Hinata yang duduk disebelahnya.
Karena terlalu sibuk dengan pemikiran dan kecemasan yang berlebihan, Hinata jadi tak melihat bahwa sejak tadi Sasuke a.k.a calon tunangannya, selalu meliriknya memperhatikan setiap gurat ekspresi yang terpampang dihadapannya. Melihat ketakutan dan kegugupan Hinata sambil tersenyum kecil.
'Dia ini…kenapa selalu menunjukkan ekspresi seperti itu di hadapannku?'
'Apa aku terlihat jahat di matanya atau aku terlihat menyeramkan? Dasar…'
Walau sudah beberapa menit terlewat tetap saja kedua orang itu tak banyak berbicara, atau memang dari tadi sebenarnya tak ada inreraksi diantara keduanya. Mereka sama-sama bergelung dalam pemikiran mereka masing-masing. Hingga tak terasa mobil yang menggantar keduanya sudah memasuki kawasan sekolah paling elit di jepang, tentunya sekolah itu adalah sekolah KIHS. Sekolah yang mereka tuju.
Mobil yang ditumpangi keduanya pun berhenti, tepat di depan gedung sekolah KIHS, setelah melewati gerbang dan penjaga sekolah tentunya. Supir pribadi Sasuke pun keluar dari dalam mobil lalu membukakan pintu mobil tuannya.
"Silahkan tuan muda" ujar supir pribadi itu membukakan pintu mobil.
"Hn" dan tentu saja akan dijawab gumaman tak jelas dari Sasuke.
Sasuke turun dari mobil BMW itu dengan gaya angkuhnya khas seorang Uchiha. Dan dalam sekejab suasa pun jadi riuh akan teriakan-teriakan yang bisa dibilang cukup keras. Atau bahkan sangat keras di pagi yang cerah ini.
"Kyaaaa…Sasuke-kun…"
"Sasuke-kun...I Love You…"
"Kyaaaa…tampannya…"
"Ohhh…my prince…"
"Sasukeeee…"
"Kyaaaaaaa…"
"Kyaaaa…"
Dan masih banyak lagi teriakan-teriakan tak jelas di pagi hari ini, tapi semua itu tak bertahan lama karna setelah Hinata keluar dari dalam mobil yang sama dengan Sasuke, segala teriakan-teriakan tak jelas itu pun menghilang seperti terbawa angin lalu dan tergantikan dengan suara bisik-bisik murid KIHS dan tatapan menusuk dari semua siswi yang melihat kedatangan Hinata bersama Sasuke.
Hinata yang sebenarnya dari tadi sudah takut menjadi semakin takut, apalagi dengan tatapan tajam dari sebagian besar siswi-siswi dihadapannya, hanya dapat menunduk saja. Dari tadi Hinata sudah tak berani untuk keluar dari dalam mobil yang ditumpanginya itu. Tapi berhubung Hinata melihat supir pribadi Sasuke yang terus saja berdiri memegangi handel pintu mobil seraya tetap tersenyum melihat Hinata, menunggu dengan sabar agar Hinata segera turun dari mobil pun menjadi tidak enak hati dan lekas keluar dari dalam mobil.
"Ayo cepat" ujar Sasuke sambil menggandeng atau lebih tepatnya menarik Hinata.
"Eh-eh…?"
Sasuke menarik tangan Hinata di depan seluruh siswi murid KIHS yang tadi sempat menggerubungi mereka berdua tadi.
"Minggir!" ucap Sasuke dingin kepada murid-murid perempuan yang menggaku menjadi fans dari Uchiha bungsu itu, agar tidak menghalangi jalannya.
Tak berani membantah keinginan seorang Uchiha Sasuke, murid-murid perempuan yang tadi menghalangi jalannya memasuki kelas pun mulai menyingkir dengan sendirinya.
Selepas kepergian Sasuke dengan seorang wanita yang tidak dikenal itu pun membuat seluruh fans Sasuke yang tadi melihat keduanya, jadi tidak menyukai Hinata yang tadi berangkat bersama dengan Sasuke. Mereka semua menatap kepergian dari The Prince Ice a.k.a Sasuke. Mereka semua, fans dari Sasuke memberikan nama itu kepada Sasuke karna memang nama itu cocok di sandang olehnya. Itu menurut mereka yang mengaku sebagai Fans Sasuke juga Author.
Sasuke tetap saja menarik pergelangan tangan Hinata walau sudah jauh dari gerembolan siswi berisik tadi.
"Uch-uchiha-san…" ujar Hinata yang memanggil Sasuke dengan suara yang amat kecil. Bahkan terkesan sepaerti gumaman, Sasuke yang tak mendengar gumaman Hinata hanya terus berjalan sambil terus memeggangi pergelangan tangan Hinata.
Merasa tak di tanggapi oleh calon tunangannya, Hinata mulai memanggil Sasuke lagi, berusaha agar Sasuke dapat mendengar suaranya. Dengan cara mengeraskan sedikit suaranya.
"Uch-uchiha-san…" ujar Hinata berusaha lagi.
Mendengar ada yang memanggil marganya, Sasuke pun menghentikan langkahnya dan membalikkan tubuhnya kebelakang, melihat Hinata yang terlihat menggenaskan menurut Sasuke. Dengan wajah yang kusut, pucat dan nafas terengah-engah Hinata mencoba berbicara pada Sasuke.
"Uch-uchiha-san…ja-jangan ter-terlalu cepat ja-jalannya" ujar Hinata sambil menggatur nafasnya yang sempat menghilang karna diseret Sasuke tadi.
"Hn, bernafaslah dulu…"
HOSH…
HOSH…
HOSH…
"Sudah lebih baik?" tanya Sasuke memastikan.
"Hahh…I-iya sudah" jawab Hinata yang nafasnya mulai teratur.
"Hn, ayo kita pergi" ujar Sasuke yang mulai berjalan kembali mendahului Hinata.
"Eh..i-iya" ucap Hinata mengejar Sasuke.
Mereka tak menyadari semua yang ada disekitar mereka tadi, melihat semua kejadian langkah yang dimana Sasuke mengkhawatirkan seorang wanita, walaupun dengan tampang masih stoic-nya. Ini kabar baru…
Dan juga, kejadian ini harus masuk kedalam Book of Recourt in KIHS, seorang dari klan Uchiha, yang dimana soal ini adalah The Prince Ice kita, yang selama ini dikenal dengan tampang datar, cuek, dan antisosial itu mengkhawatirkan seorang wanita? Seorang wanita loh…
Dunia pasti sudah mulai kebalik. Dan tampa peduli dengan tindakkannya tadi Sasuke pergi begitu saja, tak melihat seluruh orang yang ada di sekitarnya tadi menganga mulutnya, dengan tampang dungunya. Ohh..my...!
Kembali lagi kepada pemeran utama kita. Sasuke terus saja berjalan, tapi tidak seperti tadi yang menarik atau bahkan bisa di katakan menyeret Hinata, mulai berjalan dengan tenang dan damai. Dibelakangnya Hinata mengikuti Sasuke. Karna bingung dan tak menggenal seluk beluk sekolah ini pun Hinata hanya dapat mengikuti kemanapun Sasuke melangkah. Hinata yang sudah penasaran mau dibawah kemana oleh Sasuke mulai bertanya.
"Uch-uchiha-san kita akan ke-kemana?"
"Menurutmu?"
"Ehh? Ti-tidak tau" jawab Hinata sambil menggelengkan kepalanya.
Menghela nafas akan kepolosan Hinata pun Sasuke mulai menjelaskan kepada Hinata. "Aku akan menggantarkanmu dulu untuk menemui kepala sekolah dan…" Sasuke menggantungkan kalimatnya, dan meneruskan kembali setelah melihat kedepan, sebentar lagi dia dan Hinata akan sampai diruangan kepala sekolah.
"Dan kau akan mengikuti tes serta Interview disana, dengan diawasi kepala sekolah langsung"
Sasuke berhenti tepat didepan ruangan yang bertuliskan Ruang. KEPSEK, Hinata pun juga memberhentikan jalannya.
Sasuke menghadapkan dirinya untuk melihat ke Hinata. "Setelah kau selesai, kau langsung saja keparkiran. Nanti supir akan menggantarmu pulang"
Hinata hanya menggangukkan kepalanya paham akan ucapan Sasuke.
"Apa yang kau tunggu? Cepat masuk!" ucap Sasuke sambil melirik ke pintu ruangan kepala sekolah.
"Ba-baiklah"
"Hn, aku akan kekelas"
"I-iya, arigatou ne Uch-uchiha-san"
"Hn" jawab Sasuke yang terkesan cuek.
Pada akhirnya Sasuke meninggalkan Hinata dan menuju kelasnya sendiri di gedung sebelah timur. Hinata tetab saja berdiri didepan pintu ruang kepala sekolah sampai dia melihat Sasuke berbelok pada ujung lorong.
Setelah tak melihat sosok tunangannya itu, Hinata menghadap kembali kepada pintu masuk ruangan kepala sekolah, menghela nafas sebentar Hinata mulai menggentuk pintu di depannya.
Tok…Tok…Tok…
"Masuk!" terdengar suara seorang perempuan mempersilahkan masuk dari dalam.
Dengan tetab tenang Hinata mulai membuka pintu tersebut dan masuk kedalam ruangan serta tidak lupa menutup pintunya kembali. Hinata mulai berjalan kedepan dimana disana terlihat seorang wanita duduk dikursi umurnya sudah berkepala empat tapi dia masih saja tampak seperti wanita dewasa berumur dua puluhan. Sunggu awet mudah sekali.
"O-ohayou"
"Ohayou, kau Hyuga Hinata, bukan?" Tanya wanita itu.
"I-iya"
"Perkenalkan namaku Tsunade, aku kepala sekolah disekolah KIHS ini" ujar kepalah sekolah cantik itu. Hinata hanya mengangguk mengerti.
"Jadi…Hyuga-san, apa benar kau calon tunangan dari Uchiha Sasuke?"
"I-iya, bisa di-dibilang begitu, Tsunade-san."
Wanita itu hanya tersenyum mendapati jawaban dari Hinata.
"Baiklah Hyuga-san, walaupun kau calon tunangan dari Uchiha Sasuke, anak dari klan Uchiha pemilik sekolah ini, Kau akan tetab mengikuti tes ujian masuk disini."
'Ehh? Jadi sekolah ini milik keluarga Sasuke, klan Uchiha.'
"Saya mengerti, Tsunade-san" Hinata mengangguk mengerti sambil tersenyum manis.
"Kalau begitu silahkan kau isi soal-soal ini, dan waktumu satu jam setengah untuk mengerjakannya" ujar Tsunade sambil menyerahkan beberapa lembar soal kepada Hinata.
"Baik" ujar Hinata menyanggupi.
"Silahkan duduk disofa itu, dan selamat mengerjakan." Kata Tsunade tersenyum.
Hinata hanya mengangguk dan berjalan menuju sofa didekat meja kerja kepala sekolah cantik itu. Mengambil tempat duduk menyampingi Tsunade, Hinata mencari posisi yang nyaman untuk diduduki disofa hijau itu. Setelah mendapat posisi duduk yang nyaman, Hinata mulai membuka lembar pertama dari soal yang diberikan Tsunade kepadanya, membaca dan memahami isi soal-soal itu terlebih dahulu, dan mulai mengerjakannya dengan tenang.
.
.
*LOVE STORY ABOUT HYUGA HINATA*
Sasuke memasuki kelasnya yang berada di gedung sebelah timur. Disini, disekolah KIHS semua murid perempuan dan laki-laki tidak ditempatkan secara acak atau bercampur-baur. Bagi murid perempuan, kelas mereka berada di gedung timur. Dan bagi murid laki-laki berada di gedung sebelah barat. Kedua gedung ini dipisahkan oleh gedung timur yang digunakan sebagai ruangan kepala sekolah, itu salah satunya.
Sasuke berada dikelas XA-02, dimana kelas itu adalah kelas yang paling terbaik karna disana seluruh muridnya yang berjenis kelamin laki-laki memiliki otak yang encer atau bisa dibilang cerdas. Begitu pula kelas XA-03, kelas itu juga adalah kelas terbaik disekolah itu, yang membedakan disana hanya khusus bagi murid perempuan saja.
Memasuki kelas, Sasuke mendapati teman-temannya masih sibuk dengan urusanya sendiri. Banyak dari mereka yang masih saja bercengkrama bersama kawannya sampai membentuk satu kelompok besar. Ada juga siswa yang membaca buku, komik, mendengarkan music bahkan ada juga yang tidur pagi-pagi begini.
Melangkahkan kakinya Sasuke langsung menuju tempat duduknya yang berada pada bangku nomor tiga dari belakang yang berada diujung barat yang tentunya bersampingan dengan kaca jendela, dimana kaca jendela itu langsung menghadap pada gedung barat tempat para murid perempuan, dan melihat kebawah kau akan mendapati lapangan luas sekolah KIHS.
Sasuke melihat keluar jendela, membuka sedikit jendela itu agar udara pagi dapat masuk kedalam kelasnya. Semilir angin berhembus langsung menerpa wajahnya, sensasi sejuk dan segar dapat Sasuke rasakan kini. Menghirub udara segar ini membuat Sasuke menjadi lebih nyaman dan tenang. Tapi semua itu menghilang secara langsung hanya gara-gara Sahabatnya yang bodoh itu menyerobot masuk kedalam kelas dan mulai berteriak-teriak memanggil namanya tak jelas.
"Sasuke temeeee…" teriak Naruto didepan teman-temanya.
"Tch, berisik. kau membuat tidur pagiku terganggu. Merepotkan" ujar Shikamaru sebal.
"Ehehehe…gomen ne" ujar Naruto cengegesan.
"Tapi salahmu sendiri, siapa suruh pagi-pagi begini kau sudah molor. Dikelas lagi" ucap Naruto yang tak mau disalahkan.
"Tch, diamlah!"
"Hehehehe…" bukannya malah diam malah Naruto cengar-cengir tak jelas sambil menggaruk-garuk tengkuknya yang tak gatal. Dasar Naruto.
Naruto pun melangkah ke tempat duduk disamping Sasuke berada. Sasuke hanya menengok sekilas saat Naruto menggeser kursi disampingnya.
"Teme, kau tadi berangkat dengan siapa?" Tanya Naruto penasaran. Tadi pagi Naruto sempat melihat Sasuke berjalan sambil bergandengan tangan dengan seorang gadis yang dia merasa gadis itu bukanlah murid sekolah KIHS ini, karna Naruto merasa tak pernah melihatnya di sini. Dan seragam yang dikenakan gadis itu juga berbeda. Untuk apa seorang siswi yang bukan dari sekolah KIHS, melainkan sekolah lain berada disini? Diwaktu pelajaran sekoah? Pertanyaan seperti inilah yang menggangu Naruto. Dan sejak kapan Sasuke terlihat begitu peduli pada seorang gadis?
"…" Sasuke diam saja tak menjawab, malah dia lebih focus melihat ke jendelah menikmati semilir angin yang berhembus menerpa wjahnya.
"Temeee…" Naruto mulai berteriak lagi, yang ini bahkan lebih para. Dia berteriak tepat telingah Sasuke.
"Apa-apaan kau, dobe. Kau ingin membuatku tuli dengan suara cemprengmu itu" ujar Sasuke tajam sambil menutupi telingahnya dan menjitak kepala Naruto kesal.
"Akhhh…sakit, teme. Salahmu sendiri. Akukan berbicara padamu, tapi kau tak menghiraukanku, dasar teme…" ujar Naruto sambil menggosokkan tangannya dikepala.
"Urusai"
"Ne, teme. Bukannya gadis itu yang kemarin kau gendong itu, ya?" Tanya Naruto lagi tidak kapok-kapok.
"Hn"
"Terus ngapain kau bawah kesini, teme? Dia kan bersekolah di KHS" Tanya Naruto kepo.
"Tidak lagi" jawab Sasuke singkat.
"Hah? Maksudnya?"
"Kau pasti tau nanti" ucap Sasuke seadanya.
Naruto menatab Sasuke dengan pandangan bertanya, dia sama sekali tak mengerti maksud perkataan Sasuke, dia masih bingung. Sasuke tak memperdulikan Naruto yang masih saja menatabnya dengan pandangan bertanya, malah membuka ponselnya dan mengirimkan pesan untuk sopir pribadinya agar membantu Hinata.
Naruto hanya dapat menghelah nafas melihatnya. Bukannya menjawab dengan jelas pertanyaannya malah sahabatnya itu sibuk sendiri dengan ponselnya. Naruto menyerah, tak lagi menuntut penjelasan dari Sasuke.
'Ini akan sia-sia' batin Naruto.
"Ya, sudahlah" ucap Naruto kecewa.
Tak berapa lama, Anko-sensai memasuki kelas dengan membawa beberapa buku ditangannya.
"Ohayou"
"Ohayou, sensai"
"Hari ini, kita akan melanjutkan pelajaran kemarin. Buka modul kalian halaman dua puluh lima" ujar Anko-sensai tegas tak terbantahkan. Murid-murid pun menuruti perintah Anko-sensai dengan patuh. Mereka tak berani membuat guru satu ini marah. Karena Anko-sensai adalah Salah satu guru ter-killer di sekolah ini dan tak segan-segan menghukum murid yang dianggabnya bersalah tampa terkecuali. Pelajaran pun dimulai dengan tenang dan damai.
.
.
*LOVE STORY ABAUT HYUGA HINATA*
Satu jam sudah berlalu dan Hinata sudah selesai mengerjakan soal-soal yang diberikan Tsunade kepadanya.
"Selesai" gumam Hinata
Tsunade menoleh saat mendengar gumaman Hinata, walaupun suara gumaman Hinata samar. Tapi bagi Tsunade yang memiliki pendengaran tajam tentu saja dapat mendengarnya dengan jelas. Apalagi hanya mereka berdua yang berada ditempat yang sunyi seperti ini.
"Kau sudah selesai, Hyuga-san?" Tanya Tsunade.
"Sudah, Tsunade-san" jawab Hinata mantab.
"Kau yakin?" Tanya Tsunade lagi.
Hinata mengangguk mengiyakan pertanyaan Tsunade kepadanya.
"Baiklah, bawa kesini lembar jawabanmu. Juga soal-soal yang kuberikan"
"I-iya" Hinata menghampiri Tsunade serta membawa apa yang diminta oleh kepala sekolah cantik itu.
"I-ini, Tsunade-san" ujar Hinata memberikan lembar jawabanya.
Tsunade mengambil gagang telefon diatas mejanya dan menyuruh seseorang disebrang telefon itu untuk menemuinya sekarang.
Tak berapa lama suara ketukan pintu terdengar dari luar.
TOK…TOK…TOK…
"Masuk" ujar Tsunade dan disusul seorang wanita yang masuk kedalam ruangan.
Wanita itu membungkuk sopan saat sudah masuk dan menghampiri kami. Wanita itu juga tersenyum saat melihatku.
"Ada apa Tsunade-san memanggilku?" Tanya wanita itu sopan.
Tsunade memberikan kertas jawabanku beserta soal-soal yang tadi kukerjakan pada wanita tersebut.
"Shizune, tolong kamu periksa jawaban dari soal-soal ini dan berikan hasilnya kepadaku"
"Baik" ujar Shizune sambil menggambil semua lembar soal-soal tadi.
"Jangan terlalu lama"
"Baiklah, saya akan memeriksanya secepat mungin. Saya Cuma butuh dua puluh lima menit untuk mengerjakannya"
"Hmm…cepatlah"
Shizune-san pun memasuki ruang yang berada disamping kiri meja Tsunade.
"Kau bisa menunggu diluar Hyuga-san"
"Ba-baik" ujar Hinata sambil membungkuk sopan dihadapan Tsunade.
Hinata pun keluar dari ruang kepala sekolah, menunggu dengan tenang sambil duduk dibangku yang sudah disediakan didepan ruang Kepsek.
'Kuharab nilai-nilaiku bagus'
Hinata menunggu dengan sabar. Tak terasa waktu dua puluh menit pun berlalu dengan cepat. Pintu didepan Hinata terbuka dan memperlihatkan seorang wanita yang diketahui namanya adalah Shizune.
"Silahkan masuk" ujar Shizune ramah.
Hinata segera berdiri dari duduknya dan melangkah menghampiri Shizune.
"Ayo, Hyuga-san" ajak Shizune
Mereka berdua masuk kedalam ruang kepala sekolah kembali.
"Nona Hyuga, ini hasil dari ujian tulismu" ujar Tsunade sambil memberikan amplob putih kepada Hinata.
"Selamat, kau diterima disekolah ini. Dengan nilaimu yang sempurna" ujar tsunade-san lagi.
Hinata tak dapat menyembunyikan senyumannya saat dia menerima amplob yang diberikan Tsunade kepadanya.
"Arigatou, Tsunade-san" ujar Hinata sambil tersenyum bahagia.
"Selamat, Hyuga-san" ujar Shizune memberi ucapan selamat.
"Arigatou, Shizune-san"
"Hyuga-san, ikutlah dengan Shizune-san mengambil seragam sekolahmu dan perlengkapan lainnya"
"Baik" ucap Hinata dan menundukkan kepalanya lagi dengan sopan.
Hinata mengikuti Shizune keluar dari ruang kepala sekolah ini, dan masuk kedalam ruangan Shizune.
"Hyuga-san ini seragam barumu dan juga buku-buku pelajaranmu" ujar Shizune memberikan semua itu kepada Hinata.
Hinata menerima semua barang yang diberikan untuknya itu.
"Arigatou, Shizune-san" ujar Hinata sambil tersenyum.
"Iya, sama-sama. Kau bisa membawa semuanya, Hyuga-san?"
"Te-tentu, te-terimah kasih sekali lagi, Shizune san. Permisi" ujar Hinata yang ditanggapi dengan senyuman serta anggukan dari Shizune.
Diluar ruangan Shizune-san sudah berdiri supir pribadi Sasuke yang akan membantu Hinata membawakan semua barangnya.
"Nona, biar saya yang membawakan barang-barangnya"
"Eh…ti-tidak usah, biar saya bawa sendiri" tolak Hinata dengan halus.
"Tapi nona biar saya bantu membawakannya sebagian, itu pasti berat"
"Ba-baiklah, Arigatou" ujar Hinata
Supir pribadi Sasuke pun membawakan sebagian barang-barangnya menuju parkiran dan memasukkannya kedalam bagasi mobil.
"Silahkan masuk nona" ujar supir itu sambil membukakan pintu mobil.
"A-arigatou" ujar Hinata berterimah kasih.
Mobil itu pun berjalan menjauhi area sekolah KIHS menuju rumah Hinata
To be countinue…
Sampai disini dulu ya…
Saya udah buat sepanjang yang bisa saya buat, ma'af bila masih terlalu pendek bagi para reader sekalian.
Thanks yang udah mau baca dan yang udah mau nyempatin buat review serta mau menunggu kelanjutan dari fic abal-abal saya ini.
Special Thanks for :
Renita Neechan, g, Oncci-chan, Moku-chan , Hana, Uchiha Hinahime, hyuashiya, Luluk minam cullen, Ega EXOkpopers, Rini andriani, Kensuchan, Hanya lewat, Me Yuki Hina, bica, mita chan, Syuchi Hyu, Cloverleaf Ifa-chan, HinaHimeLovers8, irnapriatnth.
Ohh...yeah thanks juga buat my best friend Melody Maulidia dan Justmine Rewolf yang membantu saya menyelesaikan fanfic ini dan membantu menyemanggatiku untuk melanjutkan fic-fic saya...:)
Arigatou ne...^^
.
.
.
Kritik dan saran saya terimah dengan senang hati…;)
