CONNECTED

Cast : Dante, Vergil, Nero

Rating : K+

Genre : Drama

Disclaimer : all characters belong to CAPCOM

Warning : vergil is nero's father, though it is not confirmed yet. Kondisi inilah yang saya jadikan tema untuk cerita ini. Segalanya yang ada di sini murni karangan saya. OOC, typos, don't like don't read!


Chapter 1

Nero's POV

"Aku butuh banyak kekuatan…! Berikan aku kekuatan!"

Suara itu selalu aku dengar setiap kali aku tidur. Karenanya, aku selalu terbangun dan hampir tidak bisa melanjutkan tidur. Aku akan mendengarnya kembali ketika aku menutup mataku.

Tidak hanya suara yang kudengar, tetapi aku juga melihat sosok seseorang di dalam mimpiku. Orang itu berdiri membelakangiku, mengenakan jaket kulit panjang berwarna biru. Aku ingin memanggilnya, tetapi aku tidak tahu siapa namanya. Kemudian kegelapan mulai menelannya. Aku berusaha menggapainya, berteriak apa pun sekencangnya demi bisa didengar olehnya. Saat dia menghilang, perasaanku sedih bukan main. Tidak heran jika aku selalu berurai air mata ketika terbangun dari mimpiku.

Aku berusaha mengatur kembali nafasku yang tersengal. Air mataku mengalir bersamaan dengan keringat dari keningku. Mengapa seperti ini rasanya? Aku sungguh tidak mengerti apa yang barusan kulihat dalam mimpi.

"Nero?" aku mendengar pintu kamarku diketuk. Kyrie kemudian masuk dan menyapaku, "Ada apa, Nero? Aku mendengarmu seperti mengigau dari kamar sebelah."

"Aku baik-baik saja, Kyrie," jawabku sambil menyeka keringat di keningku. "Maaf sudah membangunkanmu."

"Kau yakin baik-baik saja?"

Perempuan berambut cokelat itu kemudian duduk di sampingku. Tangannya yang mungil menggenggam tangan kananku, tangan iblisku. Ketenangan mengalir dalam tubuhku seketika. "Ceritakan padaku," katanya mencoba menguatkanku.

"Tidak, sebaiknya aku tidur saja. Kau juga, kembalilah ke kamarmu," jawabku.

Aku memilih untuk tidak menceritakan apa pun kepada Kyrie. Setiap kali aku terbangun dari mimpi buruk, dia selalu mencoba menenangkanku. Aku tidak ingin mengganggu tidurnya karena celotehanku dari alam bawah sadarku.

-000-

Mimpi buruk ini terus menggangguku, dan aku masih enggan bercerita kepada Kyrie. Bahkan saat kami sedang menikmati sarapan pagi, aku tidak mengatakan apa pun padanya. Aku membiarkan dia bercerita mengenai kegiatannya di Gereja Fortuna. Dia sedang mempersiapkan kelompok paduan suaranya untuk tampil di sebuah perayaan. Aku dengan senang hati mendengarkan ceritanya. Suara lembutnya itu menenangkan hatiku. Setiap kali dia tersenyum atau tertawa, segala ketegangan dalam diriku pun menghilang.

"Aku harap kau mau datang melihatku tampil bersama teman-temanku, Nero," kata Kyrie. Kedua mata cokelatnya menatapku lembut.

"Ya, tentu saja aku akan datang," balasku. "Aku sudah pernah bilang beberapa kali kalau aku sangat menyukai suaramu, Kyrie."

"Terima kasih, aku akan menampilkan yang terbaik untukmu."

"Acaranya masih minggu depan kan?"

"Memangnya kenapa, Nero?"

Tidak enak juga mengatakannya, tetapi mau tidak mau aku harus menyampaikannya. Mungkin aku tidak perlu menceritakan apa pun mengenai mimpi burukku. Paling tidak, dia harus tahu apa yang sedang kurasakan sekarang. "Kyrie," kataku kemudian. "Kau tahu aku sering bermimpi buruk belakangan ini."

"Ya, aku tahu," jawab perempuan itu tanpa melepaskan pandangannya dariku.

"Tapi aku minta maaf belum bisa menceritakannya padamu. Aku harus mencari tahu jawabannya dulu sebelum kusampaikan semuanya. Maukah kau menunggunya sampai aku bisa memecahkan masalahku?"

"Tentu saja aku akan menunggu. Tetapi, jika kau tidak cepat-cepat menyelesaikannya, aku khawatir kau yang akan tersiksa, Nero."

"Secepatnya akan kucari tahu, Kyrie. Sepertinya aku memerlukan bantuan. Apa orang itu bisa membantuku ya?"

"Orang itu? Maksudmu, pria yang pernah membantu kita pada peristiwa Fortuna Castle?"

"Dante. Ya, orang itu…" gumamku.

"Kau tahu di mana dia tinggal?"

Aku menggeleng, "Tapi dia cukup terkenal. Orang macam dia hanya satu di muka bumi ini. Jadi kurasa tidak akan sulit menemukannya."

Meski aku tidak yakin dengan keputusanku, tetapi ini satu-satunya cara yang kupunya. Aku sudah memantapkan tekadku untuk mencarinya. Sehari atau dua hari mungkin cukup untuk berbicara dengannya. Aku tidak mau ketinggalan perayaan di Gereja Fortuna, demi bisa melihat Kyrie tampil bersama kelompok paduan suaranya.

"Izinkan aku pergi, Kyire," kataku kemudian memegang tangan mungilnya. "Aku akan pergi, semoga tidak lama."

"Aku akan merindukanmu, Nero," balasnya sambil tersenyum.

"Ya, aku pun akan merindukanmu, Sayang. Aku janji akan kembali secepatnya."

-000-

Perjalanan panjangku berujung pada sebuah kota yang sangat padat penduduk. Agar tidak menarik perhatian banyak orang, aku mengganti semua pakaianku. Aku mengenakan sweater lengan panjang berwarna merah dengan tudung yang menutupi kepalaku, celana jeans biru, sepatu kets, dan sarung tangan untuk menutupi tangan kananku. Pistol dan pedangku sementara kusembunyikan dulu. Aku tak ubahnya anak muda yang hidup di kota padat penduduk ini.

Menyusuri beberapa gang dan bangunan, akhirnya aku tiba di sebuah gedung 2 lantai dengan papan petunjung di depannya. Devil May Cry, jadi inilah tempat Dante bekerja. Sepi sekali kelihatannya, tidak banyak aktifitas di dalam sana. Ketika aku hendak mengetuk pintu, "Oh!" tiba-tiba seorang wanita berambut panjang keluar dari sana. Wanita itu terkejut melihatku berdiri di depan pintu.

"Ti-tidak apa-apa!" balasku sedikit gugup.

"Hmm…aku pernah melihatmu," kata wanita itu sedikit memperhatikanku. Dia tersenyum dan berkata, "Dia di dalam. Kebetulan sedang tidak ada pekerjaan. Kau boleh menemuinya."

"Oh ya…err…baiklah," aku menggaruk belakang telingaku karena gugup. Wanita cantik ini tidak asing di mataku. Aku pernah bertemu dengannya di Fortuna, tapi dalam tampilan yang berbeda.

Wanita itu kemudian berjalan melewatiku. Dia berhenti sejenak dan berbalik, "Oh ya, namaku Trish! Bukan Gloria ya, hihihi…"

Benar, aku mengenalnya dengan nama Gloria. Tampilannya pun tidak seperti yang kulihat sekarang. Oh ya sudahlah, tidak penting pula untuk dibahas saat ini. Aku pun langsung masuk ke ruang kerja Dante dan mendapati pria itu sedang duduk meletakkan kakinya di atas meja. Dia tidak menyadari aku masuk, sampai kemudian aku menyapanya, "Hey, Dante. Sedang tidak sibuk rupanya."

Pria berambut perak itu kemudian menurunkan majalah yang sedang dibacanya. Dia tampak terkejut melihatku datang dan berkata, "Hey, Nak! Aku tidak tahu kau akan kemari! Bagaimana kau tahu tempat ini?"

"Kau itu melegenda!" jawabku kemudian duduk di sofa. "Aku beberapa kali bertanya dengan orang-orang di kota. Mereka mengenalmu, dan langsung menyuruhku kemari."

"Selamat datang di Devil May Cry, Nero. Oh ya, bagaimana kabar nona cantik itu?"

"Kyrie? Yah, dia sehat. Dia juga masih mengingatmu."

"Kalian tinggal bersama sekarang?" tanya Dante kemudian duduk bergabung denganku di sofa.

"Begitulah, banyak hal yang terjadi setelah peristiwa beberapa tahun yang lalu. Fortuna sudah sedikit berubah sekarang. Datanglah ke sana jika kau ada waktu, Dante."

"Oh, tentu! Aku akan datang ke sana. Ngomong-ngomong, ada apa tiba-tiba datang kemari, Nak?"

"Aku sudah besar, umurku sudah 24 tahun. Berhenti memanggilku seperti itu!"

Dante tertawa, sebelum kemudian dia pergi ke dapur sebentar mengambil 2 kaleng minuman soda. Dia kembali bergabung denganku dan berkata, "Jadi, apa yang bisa kulakukan untukmu?"

"Aku sedang dihantui mimpi buruk belakangan ini, Dante," jawabku. "Aku bertemu dengan seorang pria berambut perak dan memakai jaket kulit panjang berwarna biru."

Belum ada tanggapan apa-apa dari Dante, dan aku pun melanjutkan, "Setiap kali aku melihatnya, aku ingin memanggilnya tapi aku tidak tahu siapa namanya. Aku ingin meraihnya, tapi kemudian dia menghilang di dalam kegelapan. Tangan kananku sedikit nyeri setelah aku bermimpi. Ketika aku bangun, tanganku mengeluarkan pendaran cahaya dan pedang Yamato keluar dari tanganku."

"Yamato keluar dari tanganmu?" tanya Dante.

"Biasanya Yamato akan keluar jika ada perintah dariku. Tapi kali ini dia seperti bereaksi akan sesuatu dan dia keluar dari tanganku."

Aku melihat Dante memainkan jarinya di dagunya yang berjanggut tipis. Dia seperti memikirkan sesuatu, kemudian berkata, "Pria berambut perak? Berjaket kulit panjang berwarna biru?"

"Kau…mengenali orang ini, Dante?" tanyaku.

"Aku sudah pernah bilang kalau Yamato adalah pedang kakakku kan?"

"Oh ya, aku ingat kau menceritakannya padaku. Apakah mungkin pria yang kulihat di dalam mimpi itu adalah pemilik dari pedang ini? Yaitu kakakmu?"

Dante berdiri dan berjalan ke jendela samping sofa. Dia menghela nafas, pandangannya tertuju keluar jendela. Raut wajahnya sedikit berubah dari yang kulihat pertama kali kami bertemu tadi. Dia berkata, "Kau pasti terhubung dengannya."

"Apa?" tanyaku.

"Ya, kau pasti terhubung dengannya. Maksudku, selain dengan pedang itu."

Setelah sejenak dia terdiam berdiri memandang keluar jendela, dia kemudian berjalan mendekatiku. "Keluarkan Yamato, Nero," perintahnya.

Aku pun mengeluarkannya. Pedang Yamato ini adalah senjata baru yang kudapat saat peristiwa Fortuna Castle. Aku yang melihat pedang ini pertama kali dalam kondisi patah menjadi 2. Orang-orang Gereja Fortuna menggunakan pedang ini untuk membangkitkan Sparda, Ksatria Iblis di masa lalu yang membela umat manusia. Sayangnya, terjadi banyak kesalahpahaman dan menyebabkan kekacauan di mana-mana. Termasuk kematian kakak kandung Kyrie, Credo. Dante pernah bilang, bahwa pedang ini adalah milik kakaknya. Dia menginginkan pedang itu kembali padanya. Namun di akhir peristiwa itu, dia memberikannya padaku. Dia bilang aku layak memilikinya.

Aku jadi bertambah kuat setelah pedang ini masuk dalam genggaman tanganku…

"Bagaimana mungkin aku terhubung dengan pemiliknya, Dante?" tanyaku kemudian menyerahkan Yamato kepada Dante. "Aku bahkan tidak kenal kakakmu."

"Sampai sekarang pun aku masih memikirkan hal itu, Nak," balas Dante sambil menarik keluar pedang Yamato dari selongsongnya. Setelah dia memperhatikan pedang itu dari ujung hingga ke gagangnya, dia memasukkannya kembali. "Kakakku pasti tahu sesuatu."

"Di mana dia sekarang?"

"Aku sudah tidak bisa bertemu dengannya lagi. Kami terpisah, beberapa tahun yang lalu. Sejak awal kami memang hidup terpisah. Dia di dunia iblis, sedangkan aku di dunia manusia."

"Mengapa dia memilih hidup di sana? Kalian kan saudara. Maksudku, harusnya bisa hidup bersama kan?"

Dante mendengus tertawa, "Masalahnya kakakku itu brengsek dan sombong. Dia menganggap dirinya iblis seutuhnya. Tidak peduli dengan darah manusia yang mengalir dalam tubuhnya. Dia ingin bertambah kuat dan menguasai dunia iblis."

"Bertambah kuat?" kemudian aku teringat dengan kata-kata yang kudengar di dalam mimpi. Orang ini menginginkan kekuatan yang banyak, tanpa batas. "Kekuatan macam apa yang dia cari, Dante?"

"Apa pun, asalkan itu membuatnya bertambah kuat," jawabnya. Dia terlihat gusar. Aku mendengar dia bergumam, "Mengapa dia bisa terhubung denganmu?"

Pembicaraan kami sedikit menegang, sedikit membingungkan. Bagaimana Dante akan membantuku kali ini? Aku melihat dia sedikit sentimental sekarang. Apakah ini berkenaan dengan kakaknya? Aku mungkin sedikit bisa memahaminya. Bagaimana pun, terpisah dari keluarga adalah hal yang paling menyakitkan. Kyrie sedih kehilangan kakaknya, Credo. Dia butuh waktu untuk bisa kembali tersenyum setelahnya.

"Apa dia masih hidup, Dante? Kakakmu…" tanyaku membuyarkan lamunannya.

"Entahlah, aku tidak peduli juga," jawabnya sedikit gusar. Tatapan matanya meredup ketika melihat Yamato di genggaman tangannya. "Aku ingin tahu bagaimana kalian terhubung. Kau sungguh tidak ingat dengan masa lalumu, Nero? Apa yang terjadi di Fortuna sebelum orang-orang itu hendak membangkitkan Sparda?"

"Aku seorang yatim piatu, sepanjang yang kuingat," aku mencoba menjelaskan. "Aku tidak mengingat banyak tentang masa laluku. Kyrie dan Credo yang merawatku. Hanya itu."

"Tentang orangtuamu, apa mereka menceritakan padamu?"

"Tidak, sungguh aku tidak punya ingatan apa pun tentang orangtuaku."

Dante bertambah gusar, kemudian dia kembali ke meja kerjanya. Pedang Yamato itu diletakkan di mejanya. Dia tampak sedang memikirkan sesuatu. "Dante," panggilku. Dia masih duduk tertegun menandangi pedang itu. "Mengapa pedang itu bisa ada di Fortuna?"

"Pedang ini dicuri," jawabnya. "Dengan begitu, dunia iblis bisa muncul ke permukaan. Itulah yang diinginkan pendeta sinting itu saat membangkitkan Sparda. Menurutku, mereka berhasil masuk ke dunia iblis dan bertemu kakakku. Mereka melakukan sesuatu pada kakakku sehingga dia tidak bisa keluar dari sana untuk mendapatkan pedangnya kembali."

"Dengan kata lain, kakakmu masih hidup, Dante," kataku memotong pembicaraannya. "Mungkin sampai saat ini dia masih berada di dunia iblis dan menunggu pedangnya kembali padanya."

"Tidak, dia sudah tidak membutuhkannya lagi. Aku sangat berharap dia mati saja di sana."

"Sungguh adik yang jahat," celotehku dan Dante tertawa mendengarnya.

"Aku memang bukan adik yang baik untuknya," katanya terkekeh. "Dia juga bukan kakakku yang baik. Kami terpisah dengan pertumpahan darah. Itu sudah cukup menyakitkan untuk diingat. Maka itu, aku sungguh tidak peduli bagaimana keadaannya sekarang."

Oh baiklah, nampaknya Dante memang tidak ingin membahas apa pun soal kakaknya. Dia menghela nafas, sejenak terdiam. Kemudian dia melanjutkan, "Aku rasa kau melihat kakakku di dalam mimpimu. Jika Yamato bereaksi, mungkin itu kakakku. Hanya saja, kenapa dia ingin bertemu denganmu?"

"Siapa nama kakakmu, Dante?" tanyaku.

Dante beranjak dari meja kerjanya sambil membawa Yamato. Dia kemudian menghampiriku dan menyerahkan kembali Yamato padaku. Dia menjawab, "Vergil."


-to be continue-

A/N : Helloooo! Minna-san para pecinta fandom Devil May Cry! Apa kabar? akhirnya saya nulis lagi buat fandom ini. Dan saya pake Nero sebagai main chara.

Oh ya, mengenai Vergil adalah ayah untuk Nero, semua itu masih rumor ya. Entah bener ato gak. Karena udah banyak yang bikin tentang ini, saya pun tertarik untuk ikutan bikin. Segala yang terjadi di cerita ini murni karangan saya. Kalo ada yang sama, saya anggep itu hanya kebetulan.

Chapter 2 coming up next!