Chapter 2
Pembicaraan kami kemudian terputus karena telepon di meja kerja Dante berdering. Aku masih duduk di sofa, sementara Dante pergi mengangkat teleponnya. "Devil May Cry," katanya. Selagi menunggu dia selesai berbicara di telepon, aku memikirkan kembali pembicaraan kami tadi. Hubunganku dengan pemilik pedang Yamato, Vergil, masih misterius. Aku sama sekali tidak punya ingatan tentang masa laluku. Aku bahkan sudah tidak peduli lagi, karena aku sudah hidup bahagia bersama Kyrie di Fortuna. Mimpi buruk yang kudapat beberapa malam terakhir ini seakan-akan ingin menunjukkan sesuatu yang telah lama tersimpan, tersembunyi, di antara milyaran memori di otakku.
"Hey, Nak," kata Dante setelah selesai berbicara di telepon. "Aku akan keluar sebentar. Lady bilang ada pekerjaan untukku."
"Pekerjaan apa?" tanyaku.
"Atau kau mau ikut denganku? Kebetulan kau ada di sini, ikutlah denganku. Kau bawa pedang dan pistol kan?"
"Ya, aku membawanya. Sengaja tidak kutunjukkan supaya tidak menarik perhatian."
"Kalau begitu, ayo kita pergi. Lady tidak mau kita menunggu," katanya sambil mengambil pedang dan 2 pistolnya.
Setelah kupertimbangkan kembali, aku memutuskan untuk tidak ikut dengan Dante, "Lebih baik aku menunggumu di sini saja. Kau tidak lama kan?"
"Sebelum matahari terbenam aku sudah kembali. Ya sudah, tunggu di sini. Kalau lapar dan tidak mau menungguku pulang, ambil saja makanan di kulkas. Kalau mau tidur, naiklah ke lantai 2. Kamarku tidak dikunci. Tapi ingat, jangan sentuh apa pun, Nak," katanya sambil terkekeh.
"Ya ya, pergi sajalah. Aku tidak akan mengacau di sini."
"Jadilah anak baik selama aku pergi. Sampai nanti."
Aku tahu apa pekerjaan Dante. Meski aku membawa serta pedang dan pistolku, aku memilih untuk tetap berada di rumahnya karena niatku datang ke sini bukan untuk bertarung dengan siapa pun. Termasuk membasmi iblis dan monster.
Dante sudah pergi dan aku sendirian di sini. Apa yang akan kulakukan? Dia bilang pergi tidak akan lama. Matahari terbenam beberapa jam lagi. Aku lelah sebenarnya. Perjalanan dari Fortuna cukup menyita tenagaku. Aku merebahkan diri di sofa beberapa saat, sebelum kemudian aku berkeliling melihat rumah sekaligus tempat kerja Dante. Yang pertama kulihat adalah meja kerjanya.
"Tidak boleh sentuh apa pun kan?" gumamku sambil tersenyum licik. Karena aku perlu melihat-lihat apa yang ada di meja kerjanya. Tumpukkan majalah dewasa adalah yang pertama aku temukan. Oh ya sudahlah, dia memang orang dewasa. Kemudian aku melihat beberapa buku, tumpukan kliping koran, dan yang terakhir sebuah bingkai foto bergambar seorang wanita berambut panjang berwarna pirang.
"Ini Trish? Oh, sepertinya bukan," aku berkata pada diriku sendiri. Aku mengambil bingkai itu dan memperhatikannya. Sorot mata wanita ini sama dengan sorot mata yang dimiliki Dante. Kilau biru bola matanya juga sama persis. Yang jelas, ini bukan Trish. "Ibunya, mungkin?" aku mengangkat bahu dan meletakkan kembali bingkai itu ke tempatnya. Selesai melihat-lihat di meja kerjanya, aku pergi ke lantai 2. Dante bilang kamarnya tidak terkunci, berarti aku bisa masuk ke sana tanpa harus bersusah payah mencari kuncinya.
Kamarnya tidak besar. Hanya ada tempat tidur berukuran king size, meja tulis, lemari besar, dan satu pintu menuju kamar mandinya. Berantakan? Itu sudah pasti. Tumpukan pakaian ada di beberapa sudut kamarnya. Dia benar-benar butuh seseorang untuk merapikannya. Aku duduk di tempat tidurnya. Pandanganku kemudian tertuju pada sebuah sarung tangan kulit berwarna hitam yang diletakkan di meja. Aku mengambilnya dan mendapati sarung tangan itu robek di bagian telapak tangannya. Tidak aneh, seharusnya. Tetapi aku mendadak dihantui banyak pertanyaan. Mengapa sarung tangan ini ada di sini? Mengapa hanya satu? Apa ada kenangan tersendiri mengenai sarung tangan ini? Luka di telapak tangannya, mungkin? Luka apa? Siapa yang melakukannya? Mengapa pula dia tidak membuangnya?
Berusaha menepis semua pertanyaan itu, kemudian aku beranjak menuju meja tulisnya. Aku melihat seuntai kalung dan amulet tergantung di leher botol bekas bir. Amulet berwarna merah itu berkilat terkena terpaan cahaya matahari. Ketika aku menyentuhnya, tiba-tiba," Uwah!"
Amulet itu mengeluarkan cahaya terang, bahkan sangat menyilaukan mataku. Aku sampat tersentak mundur beberapa langkah ke belakang, menghalau sinarnya dengan satu tanganku. Pendaran cahaya itu tidak begitu saja menghilang, semakin lama semakin terang dan aku tidak lagi bisa membuka kedua mataku.
"Nero…"
-000-
"…ro…Nero! Nero! Hey, buka matamu, Nak! Nero!"
Aku merasa bahuku diguncang dan pipiku ditepuk beberapa kali. Aku mencoba mengucak mataku sebelum akhirnya bisa kubuka sepenuhnya. Aku mendapati diriku terbaring di tempat tidur. Berat sekali rasanya mengangkat badanku untuk bangun dan duduk. Dante menatapku dengan cemas dan bertanya, "Apa yang terjadi, Nak?"
"Entahlah," jawabku lirih. "Aku hanya melihat-lihat. Kemudian…"
"Sudah kubilang untuk tidak menyentuh apa pun di rumahku kan? Amulet ini," katanya kemudian menunjukkan seuntai kalung dengan liontin batu berwarna merah, "Berada di genggaman tanganmu ketika aku menemukanmu jatuh di lantai."
"Apa? Benarkah?"
Dante menyisir rambutnya ke belakang dan menggerutu, "Salahku juga meletakkan benda ini sembarangan…"
"Aku tidak tahu, sungguh…"
Aku mencoba mengingat kembali apa yang sudah terjadi. Amulet itu…ya, aku ingat. Karena amulet itu mengeluarkan cahaya yang sangat terang hingga aku tak sadarkan diri. "Dante," panggilku. "Aku mendengar seseorang memanggil namaku."
"Mungkin itu hanya imajinasimu saja," balasnya ringan. "Kau tunggu di sini. Aku ambilkan pizza untukmu. Kau lapar kan?"
Aku belum menjawab apa pun, tetapi Dante sudah keburu keluar kamarnya. Kepalaku pusing sekali. Badanku lemas dan aku nyaris tidak bisa berpikir jernih. Apa yang sudah terjadi sebenarnya? Suara siapa yang aku dengar saat amulet itu mengeluarkan cahaya terang? Jika aku tidak salah ingat, suara itu sama seperti yang kudengar di mimpi burukku. Meski dia hanya menyebut namaku sekali, aku sangat yakin suara itu sama persis.
"Baiklah, Nak. Saatnya makan malam," Dante datang dan membawa piring berisi 3 potong pizza dan segelas air soda. "Makanlah, tenangkan pikiranmu lalu bicara denganku semua yang kau alami hari ini."
"Sudah kubilang untuk berhenti memanggilku seperti itu, Dante!" gerutuku sambil mengambil sepotong pizza dan memakannya. Dante tertawa dan menepuk kepalaku 2 kali, sebelum kemudian dia pergi ke lemari pakaiannya untuk berganti baju.
"Apa yang terjadi, Nero?" tanya dia sambil mengenakan kaosnya. "Kau ingat bagaimana kau pingsan?"
"Aku melihat amuletmu di meja," balasku setelah menelan kunyahan pizzaku. "Amulet itu tiba-tiba mengeluarkan cahaya sangat terang. Saking silaunya aku tidak bisa membuka mataku. Di saat yang bersamaan, aku mendengar seseorang memanggil namaku. Suaranya sama dengan yang kudengar di dalam mimpiku."
Dante menoleh padaku dan berkata, "Jadi kalian benar-benar terhubung. Kau dan kakakku, benar-benar berkaitan."
"Maksudmu, kakakmu mengenaliku. Begitu, Dante?"
"Dugaanku, kau memang melihat kakakku di dalam mimpi. Jika pemilik suaranya sama, maka dia adalah kakakku. Jadi kesimpulannya, si brengsek itu mengenalmu."
"Tidak," balasku. "Aku tidak mengenalnya sama sekali. Aku mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi semasa aku berada di Fortuna. Tak sedikit pun ingatanku berkaitan dengan orang ini."
"Aku lelah harus mengulang. Jika memang tidak ada kaitannya…ah, ya sudahlah. Lupakan dulu sejenak. Habiskan pizzanya dan kembalilah tidur."
"Kembali tidur…di sini? Maksudku-"
"Kau tidak mungkin kembali ke Fortuna malam-malam begini kan?"
Aku mendengus tertawa, "Aku bisa tidur di sofa. Ini kamar tidurmu. Aku tidak akan tidur di sini."
Dante kemudian menepuk bahuku dan berkata, "Nak, tidurlah di sini. Sofa lantai bawah tidak begitu nyaman untuk tidur. Lagipula, aku agak kerepotan jika nanti kau bermimpi buruk lagi. Sebaiknya di sini saja, supaya aku bisa menolongmu dengan mudah."
Aku menepis tangannya dari bahuku dan berkata, "Aku tidak selemah itu, Dante. Aku akan baik-baik saja jika mimpi buruk itu datang kembali padaku."
-000-
Suara rintik hujan…
Dingin…
Basah…
"Hah? Apa?" aku terkejut mengetahui diriku duduk bersimpuh di tengah jalanan. Hujan turun membasahiku, udara dingin menyelimutiku, pakaianku basah kuyup. Aku bangkit dan memandang sekeliling. "Ini…jalan menuju Gereja Fortuna!"
Ya, aku berada di Fortuna sekarang. Posisiku sekarang berjarak paling tidak 200 m dari bangunan megah itu. Dari arah belakangku, sayup-sayup aku mendengar suara derap langkah kaki seseorang sedang berlari. Aku menoleh dan mendapati sosok seorang pria berjaket kulit panjang berwarna biru sedang berlari ke arahku. Dia menggendong anak kecil dan membawa pedang di tangan kanannya.
"Hey!" aku berseru, tetapi pria itu terus berlari bahkan melewatiku. Dia tidak melihatku berada di dekatnya. Aku pun akhirnya mengejarnya sampai kami tiba di depan gerbang gereja. Dia terlihat mengawasi sekelilingnya, sebelum kemudian masuk ke bangunan gereja. Dia sepertinya sedang dikejar sesuatu. Aku ingin tahu apa yang akan dilakukannya di dalam gereja itu. Tidak baik juga berada di bawah hujan deras terus menerus seperti ini. Akhirnya aku memutuskan untuk ikut menyelinap masuk ke bangunan gereja.
Tidak ada cahaya satu pun yang menerangi gereja ini. Aku harus berhati-hati melangkah, khawatir tersandung deretan kursi jemaat. Aku memandang sekeliling, dan kemudian tertuju pada pria tadi yang kini berada di dekat meja altar. Dia duduk di sana, nafasnya tersengal karena kelelahan. Kaki kanannya terluka parah. Seorang anak kecil duduk dipangkuannya, tubuhnya terselubung kain yang melindunginya dari hujan dan udara dingin. Pria itu sungguh tidak melihatku mendekatinya. Bahkan ketika aku duduk di depannya pun, dia juga tidak menyadarinya.
"Dante? Eh, bukan…" gumamku ketika sinar petir di luar jendela menerpa wajahnya. Awalnya aku mengira pria ini adalah Dante. Tetapi aku merasa ada yang berbeda dari penampilannya.
Inikah Vergil?
Inikah kakaknya Dante?
Pria itu kemudian mengangkat wajah anak kecil yang sedang tertidur di pangkuannya. Dia berkata, "Kau akan aman berada di sini. Sayangnya, aku tidak bisa terus mendampingimu. Aku harus menghalau mereka." Anak itu kemudian diletakkan di dekat meja altar. Dia meraih tangan kanan anak itu, diciumnya penuh kasih sayang dan penuh harap. Sesaat kemudian aku sadar, bahwa anak kecil itu adalah aku.
Anak kecil yang digendongnya tadi, yang dibawanya berlari menerobos hujan, adalah aku…
"Mereka tidak akan bisa mendapatkanmu. Mereka tidak akan melakukan apa pun padamu jika kau tetap berada di sini, Nero," katanya, nada bicaranya terdengar cemas. Selesai menciumnya, dia mengeluarkan semacam energi dari tubuhnya yang mengalir dari tangannya ke tangan kanan anak itu. Pendaran cahaya emas menyelubungi bahu sampai ke pergelangan tangannya. Entah kenapa setelah dia melakukan itu, tangan iblisku pun ikut mengeluarkan cahaya.
Vergil kemudian berdiri dan menarik keluar pedang Yamatonya. Dia memejamkan matanya, bilah besi pedang itu mengeluarkan cahaya biru. Dia menyarungkannya kembali dan meletakkan di samping anak itu. Tanpa mempedulikan rasa sakit di kakinya, dia kembali berlutut dan memegang tangan kanan anak itu lagi. Dia berkata, "Aku sudah memindahkan kekuatanku padamu, Nero. Mereka tidak akan bisa mengambilnya darimu. Kau punya aku dalam Yamato. Aku akan melindungimu, pedangku akan menjagamu dari serangan apa pun. Kau akan bertambah kuat di usia 16 tahun. Tangan kananmu adalah sumber kekuatanmu-"
Kata-katanya kemudian terhenti ketika dia mendengar suara hantaman keras di pintu masuk gereja. Aku pun juga terkejut mendengarnya. Aku melihat sekeliling. Sekawanan iblis dan monster mulai mengepung gereja ini. "Vergil!" seruku, tetapi dia tidak mendengarku. Jika dia tidak bertindak secepatnya, mereka bisa mati terbunuh di sini. Sementara aku tidak bisa melakukan apa pun karena aku berada di dunia yang berbeda dengan mereka.
"Nero," Vergil lalu menutup kedua mataku dengan satu telapak tangannya. "Kau akan punya ingatan baru. Kau akan mempunyai kehidupan baru. Kau tidak perlu ingat siapa aku. Kau tidak perlu tahu bagaimana kau dilahirkan. Kau akan menjadi ksatria terhormat, yang terkuat dan disegani oleh siapa pun. Hiduplah, Nero. Hiduplah!"
Bersamaan dengan keluarnya pendaran cahaya dari tangan Vergil, suara gemuruh terdengar memenuhi dimensi yang kulihat ini. Tanah yang kupijak gemetar hebat. Aku jatuh berlutut saking tidak kuat menahan getarannya. Langit seakan hendak runtuh. Bumi bergejolak hendak menelan apa pun yang ada di atasnya. Aku berkutat sebisa mungkin agar tetap bisa bersama Vergil dan anak itu.
"Hey!" aku berseru. "Keluarlah cepat!"
Yang kulihat kemudian adalah anak itu perlahan mengeluarkan suaranya yang terdengar lirih. Tangannya mencoba menggapai-gapai dan meraih kerah jaket Vergil. Hatiku tiba-tiba menyesak melihat ini. Perasaanku mendadak sedih bukan main. Vergil tidak pula melepaskan tangannya. Aku melihat dia menitikkan air mata dalam kaburan cahaya yang sangat menyilaukan. Suara gemuruh semakin keras, getaran bumi semakin kuat. Aku berusaha mendekati mereka, namun kakiku tidak bisa bergerak. Aku seperti ditelan dalam retakan bumi. Aku mengulurkan tanganku, mencari pertolongan atau apa pun supaya bisa keluar dari sana.
"Vergil!" seruku sambil terus berkutat. Aku tidak bisa lagi melihat mereka. Aku tertelan semakin dalam. Aku masih bisa sedikit mendengar suara anak kecil itu berkata lirih, "Ayah…"
Semakin dalam aku tertelan, aku tidak tahu lagi harus berbuat apa. Aku terus berkutat mencari jalan keluar. Dimensi ini semakin hancur. Aku tidak bisa lagi melihat mereka. Tidak ada apa pun lagi yang bisa dilihat oleh kedua mataku. Hingga akhirnya aku berseru, "Ayah! Tunggu dulu! Ayaaaah!"
-to be continue-
Chapter 3 coming up next!
