Chapter 3

"Huaaa! Aaaarrgh!" seperti mendapat hantaman keras di kepala, aku bangun dari tidurku sambil mencengkeram kedua sisi kepalaku dengan erat. Nafasku tersengal, pandanganku tidak tetap, aku mencoba menegakkan posisi dudukku. Aku melihat sekeliling dan mendapati seorang pria berjaket kulit panjang berwarna biru tengah berdiri di dekatku. Jantungku berdegup kencang ketika aku melihat jelas sosok pria yang kini mengulurkan tangannya dan menyentuh wajahku. Kedua mata birunya menatapku begitu dalam. Mendadak aku merasakan sesak di dadaku. Sesuatu yang telah lama terpendam kini kembali muncul ke permukaan. Ingatanku yang hilang kini terbayang kembali dalam pikiranku.

Mengenai masa laluku…

Mengenai Vergil…

Ayahku…

"Ver…Vergil…" kataku lirih, sedikit mengisak. Air mataku keluar ketika aku mengerenyitkan keningku. Pria di depanku ini masih menatapku, satu sudut bibirnya terangkat dan tersenyum tipis.

"Terakhir kali kau menangis adalah ketika kau dilahirkan, Nero," katanya lembut. Suara beratnya sedikit menenangkanku, meski dadaku masih terasa sesak.

"Kenapa…Vergil…"

"Hidupmu sudah jauh lebih baik tanpa harus aku buka kembali ingatanmu yang telah lama terkunci. Mengenai masa lalumu, mengenai aku, mengenai kita…"

Belum sempat Vergil meneruskan kata-katanya, aku mendengar Dante menggedor pintunya dengan keras beberapa kali. "Buka pintunya, Nak! Apa yang terjadi?! Nero!" serunya dari balik pintu.

Aku baru akan menjawab, namun Vergil menyuruhku diam. Dia beranjak ke pintu dan menyegelnya dengan kekuatannya. Ruangan ini seketika menjadi kedap suara. Aku tidak lagi bisa mendengar Dante menggedor pintu dan berteriak memanggilku. Kini hanya ada aku dan Vergil. Pembicaraan kami tidak akan diganggu oleh siapa pun. Vergil kembali duduk di dekatku. Satu tangannya memegang tangan iblisku.

"Seperti yang kukatakan," lanjutnya. "Tanganmu akan menjadi sumber kekuatanmu ketika kau berusia 16 tahun. Kau marah pada Tuhan karena perubahan ini. Seharusnya, akulah yang kau marahi, Nero. Akulah yang menjadikan tanganmu seperti ini."

Aku menghapus air mataku dan berkata, "Ya, aku memang marah. Aku tidak terima perubahan ini karena khawatir semua orang akan membenciku. Tetapi kau benar, Vergil. Berkat tangan ini, aku bisa menyelamatkan Kyrie. Aku bisa menjadi sangat kuat."

Dia tersenyum dan berkata, "Kau tidak perlu berterima kasih padaku, Nak. Kau sudah selayaknya mendapatkan kekuatan itu. Dalam tubuhmu, mengalir darahku. Kekuatanmu adalah kekuatanku. Aku mewariskannya padamu."

"Hanya saja aku tidak mengerti akan satu hal. Mengapa kau menghapus ingatanku tentangmu, Vergil? Mengapa aku tidak tahu kalau kau adalah ayahku?"

"Kau tidak perlu ingat siapa aku. Kau tidak perlu-"

"Ya, aku tidak perlu mengingat apa pun soal masa laluku karena begitu pahit untuk dikenang," potongku cepat. "Aku tahu apa yang terjadi saat itu, Vergil. Meski aku masih sangat kecil waktu itu, aku tahu bagaimana para iblis membunuh Ibu. Aku ingat bagaimana kau melawan mereka, kemudian membuka jalan ke dunia manusia untuk berlindung."

Vergil tidak sedikit pun memotong pembicaraanku. Dia membiarkanku melanjutkan kata-kataku. "Aku tidak akan pernah lupa segala serangan mengerikan itu, Vergil. Tetapi yang kusesali adalah bahwa aku kehilangan ingatanku. Selama aku hidup dengan ingatan baru, aku sama sekali tidak ingin mencari tahu tentangmu, tentang ibu, tentang kita..."

"Aku juga tidak menuntutmu untuk mencari tahu kan, Nero?" tanya Vergil.

"Lalu kenapa kau tiba-tiba muncul ke dalam mimpiku dan mengembalikan apa yang kau hapus dari ingatanku, Vergil?!" aku berbalik tanya dengan ketus. Dikuasai amarah, aku memukul Vergil tepat di wajahnya hingga pria itu jatuh tersungkur di lantai. Aku turun dari tempat tidur dan berlutut di dekatnya. Aku mencengkeram kerah bajunya dan berkata, "Kau bilang aku tidak perlu tahu siapa kau. Tidak perlu tahu bagaimana aku dilahirkan. Kau menyuruhku untuk tetap hidup tanpa melihat ke belakang. Lalu kenapa kau muncul? Kenapa kau membuatku bermimpi buruk soal masa laluku, hah?! Jawab, Vergil! Mengapa aku memanggilmu ayah? Memangnya kau sungguh ayahku?!"

Aku nyaris tidak tahan dengan perasaan yang bergejolak dalam hatiku. Kemarahanku berganti dengan linangan air mata. Aku ingin mengutuk diriku sendiri yang begitu emosional menghadapi situasi ini. Vergil sama sekali tidak melawan. Dia menggenggam tanganku yang masih mencengkeram kerah bajunya dan berkata, "Lepaskan, Nero."

"Jelaskan semuanya padaku, Vergil!" seruku.

"Tidak banyak waktu lagi. Aku harus pergi."

"Kau tidak akan pergi! Kau berhutang banyak penjelasan padaku! Aku tidak akan membiarkanmu pergi!"

"Segelku tidak akan lama menahan Dante. Sebentar lagi dia akan merangsek masuk."

Benar saja, pendaran cahaya di pintu kamar Dante semakin memudar. Aku bisa mendengar sayup-sayup suara gedoran pintu dan suara seruan Dante memanggil namaku. "Buka pintunya, Nero! Hey!"

Aku mendengar suara tembakan, Dante sedang mencoba membuka pintunya dengan timah panas dari pistolnya. Aku juga mendengar desingan pedang yang dihantam ke pintu. Tidak lama lagi, segel yang dipasang oleh Vergil akan terbuka.

"Nero, lepaskan," kata Vergil dan aku menurutinya. Aku melepaskan cengkeraman tanganku dari kerah bajunya. Aku mengizinkan dia berdiri. Tetapi ketika dia membalikkan badan dan memunggungiku, aku langsung menarik tangannya dan berkata, "Tunggu dulu, Vergil!"

"Waktuku tidak banyak, Nero."

"Kalau begitu jawab pertanyaanku! Apa kau mencintaiku, Vergil? Sebagai seorang ayah, apakah kau mempunyai cinta untuk anakmu yang telah lama kau tinggalkan?"

Sejenak terdiam, Vergil kemudian berkata, "Aku sudah menghapus ingatanmu. Aku memaksamu hidup dengan ingatan baru. Akulah yang membuat tanganmu berubah menjadi tangan iblis. Apakah kau akan membenciku, Nero?"

"Oh ya, aku akan membencimu," jawabku tidak sabaran. "Aku benci karena banyak hal yang kau rubah dalam hidupku. Sekarang kau kembali dan menguak kebenaran yang menyakitkanku. Aku marah, aku mendendam, aku membencinya! Kau paksa aku untuk membencimu, orangtuaku sendiri!"

"Jadi, kau membenciku, Nero?"

"Aku sungguh membencimu, Vergil!"

"Bahkan jika aku bilang bahwa aku mencintaimu, apa kau akan tetap membenciku?"

"…Hah? Apa? Kau bilang apa?"

"Jika aku bilang bahwa aku mencintaimu, apa kau akan membenciku, Nero?"

"Kenapa…kenapa kau bertanya begitu, hah?! Jangan buat aku bingung, Vergil!" bentakku, dan air mataku berlinang lagi. "Sulitkah menjawab pertanyaanku? Apa kau mencintaiku, Vergil? Apa kau masih punya sisi kemanusiaan di dalam dirimu? Apa aku terlahir di dunia tanpa ada rasa cinta darimu?"

Tangan iblisku mengeluarkan pendaran cahaya, aku bersiap untuk melenyapkannya jika dia masih menggantungkan jawabannya. Gedoran pintu kamar Dante semakin keras, suaranya pun semakin jelas terdengar memanggil namaku. Aku tahu betul kekuatan Dante. Jika dia membuka pintunya, maka Vergil akan pergi.

"Jika aku mencintaimu, apakah perasaan benci itu masih ada di hatimu, Nero?" tanya Vergil.

"Uuurgh! Diam! Diamlah, Vergil!" geramku menahan marah sambil menutup kedua telingaku.

"Apakah kau akan membenciku? Nero…"

"Huaaaaa! Diamlah, sudah tidak usah bilang apa-apa lagi!"

"Hiduplah, Nak. Hiduplah, dengan segala kekuatanmu. Hiduplah dan jadilah orang yang kuat."

Aku sudah tidak peduli lagi betapa berantakannya aku di hadapannya. Perlahan aku melangkah mendekatinya, aku mengulurkan tanganku dan mencoba memeluknya. Tetapi Vergil kemudian berangsur menghilang dari pandangan mataku. Dia terlihat transparan, dalam hitungan detik dia akan menghilang. Dadaku terasa sesak, segala macam perasaan bergejolak di dalam diriku. Aku tidak ingin dia pergi begitu cepat. "Ayah…" ucapku lirih. "Ayah…apakah cinta itu masih ada dalam diri seseorang yang sudah membuang jauh sisi kemanusiaannya?"

Dalam kaburan air mataku, aku melihat Vergil tersenyum. Titik-titik air mata keluar dari kedua sudut mata birunya. Tangannya terjulur memegang wajahku. Dia masih belum menjawab, aku tidak mengerti mengapa dia tidak mau menjawab pertanyaanku. Dia semakin menghilang, semakin menjauh, dan tanganku sudah tidak bisa lagi menjangkaunya. Pendaran cahaya itu semakin terang, aku tidak lagi bisa melihatnya. Aku menangkap pendaran cahaya itu dengan kedua tanganku, namun yang kudapati kemudian adalah pedang Yamato.

Vergil tidak ada, melainkan pedang Yamato dalam dekapan tanganku…

BRAK!

"Nero!" aku mendengar Dante berhasil membuka segel di pintu kamarnya. Dia masuk sambil menghunus pedang dan mengacungkan pistolnya. "Cih! Apa yang sebenarnya terjadi, Nak?" tanya dia gusar.

Aku masih enggan menjawab. Aku duduk bersimpuh di lantai sambil mendekap pedang Yamato. Hati ini masih sakit, dada ini masih terasa sesak. Ketika Dante berlutut di dekatku, segala perasaan yang kupendam seperti akan meledak keluar dari dalam diriku. "Kau yakin tidak sedang membuat kekacauan di kamarku kan, Nak?" tanya Dante.

"Diamlah…" gumamku lirih. Bibirku gemetar menahan marah, menahan sedih, menahan tangis, menahan segala perasaan yang semakin bergejolak.

Aku mendengar Dante menghela nafas dan berkata, "Baiklah, aku tidak akan bertanya apa pun padamu sampai kau tenang. Tapi paling tidak, kau naiklah ke tempat tidur. coba tenangkan dirimu-"

"Sudah kubilang diam!" bentakku memotong kata-katanya. Emosi ini masih menguasai diriku. Aku tetap memunggungi Dante. Aku membungkuk sedikit lebih dalam, kedua tanganku mendekap pedang Yamato semakin erat. Aku berkata, "Dia…di sini…"

"Apa?" balas Dante.

"Dia…Vergil…ada di sini, Dante…"

Masih belum mau berhadapan dengannya, aku melanjutkan kata-kataku, "Aku ingat semuanya sekarang. Ingatan itu kembali tergambar dengan jelas dalam pikiranku. Dante, aku ingat bagaimana dia dan pedangnya ini bisa terhubung denganku."

Dante terdiam sejenak. Nafasnya yang tadi terdengar memburu kini sudah berangsur tenang. Dia duduk di lantai dan bersandar pada tempat tidurnya. Dia berkata, "Teruskan. Aku mau dengar semuanya."

Aku mengatur kembali nafasku. Aku menegakkan kembali posisi dudukku dan kali ini aku menghadap pada Dante. Kedua mata birunya menatapku sedikit cemas. Aku berkata, "Vergil, kakakmu, adalah ayahku, Dante."

"Hmm…" balasnya sedikit tertegun. "Baiklah, satu persoalan sudah terpecahkan. Lalu?"

"Aku ingat pernah tinggal di dunia iblis. Sebuah serangan besar terjadi di sana. Vergil berusaha menyelamatkan aku dan ibu. Namun ibu tewas ketika hendak keluar dari dunia itu. Vergil berhasil membuka portal dunia manusia dan kami pergi ke sana untuk berlindung."

"Dan kalian tiba di Fortuna?"

Aku mengangguk dan berkata, "Dia melindungiku di sebuah gereja. Kejaran para iblis tidak terelakkan. Dia memindahkan semua kekuatannya kepadaku. Jiwanya kemudian berpindah dan tersimpan dalam selongsong pedang Yamato. Dia melakukan semua itu agar para iblis tidak merebut semua kekuatan itu darinya. Termasuk tangan kanan ini…"

Aku mengangkat tangan kananku dan memperhatikannya sebentar. Aku melanjutkan, "Dia menghapus ingatanku, Dante. Dia tidak ingin aku mengingat apa yang sudah terjadi di masa lalu. Dia memaksaku hidup dengan ingatan baru, orang-orang baru, kehidupan baru pula. Hingga usiaku yang sekarang ini, aku benar-benar tidak ingat satu hal pun tentang masa laluku."

"Dan dia mencoba mengembalikan semua ingatanmu itu dengan datang ke dalam mimpimu. Benar kan?"

"Ya, kau benar…" jawabku lirih. "Dia menyuruhku untuk tetap hidup, Dante. Dengan segala kekuatan yang aku punya, aku harus tetap hidup. Apa pun yang terjadi, aku harus bertahan hidup. Sedangkan dia…dia…uuurgh…"

"Apa dia sudah mati, Nero?"

"Dia…ada di sini…" sekali lagi aku menunjukkan pedang Yamato kepada Dante. "Di dalam pedang inilah dia hidup. Jiwanya berada di sini, sedangkan fisiknya sudah mati. Ya, dia sudah mati setelah menyembunyikanku di Fortuna."

Aku mendengar Dante menghela nafas, nampaknya dia kecewa. "Dante," kataku. "Dia tidak mau menjawab pertanyaanku."

"Kau bertanya apa padanya?" tanya dia.

"Dante, katakan padaku. Apakah orang macam kita, yang terlahir sebagai iblis dan manusia, masih mempunyai hati?"

Ketika aku bertanya demikian, emosi dalam diriku kembali bergejolak. Segala perasaan kembali menguasaiku. Bahuku sampai terguncang karena hampir tidak kuat menahannya. Aku berkata sedikit terbata-bata, "Apakah dia mencintaiku? Apakah ayahku itu mencintaiku? Apakah aku terlahir dengan cinta darinya? Apakah dia mengharapkan aku untuk dilahirkan ke dunia?"

"Dan dia tidak menjawab apa pun? Jadi, sekarang kau tahu kan betapa brengseknya dia sebagai orangtuamu, Nero?"

"Uuurgh…ya, kau benar. Dia sangat brengsek, dia menyebalkan, aku membencinya. Aku sangat membencinya, Dante! Dia meninggalkanku sendirian di Fortuna! Aku hidup karena kasih sayang Credo dan Kyrie. Bukan kasih sayang orangtuaku sendiri!"

Tiba-tiba aku menarik keluar pedang Yamato dari selongsongnya. Kuarahkan pedang itu ke dadaku dan siap kuhujam. Namun Dante dengan sigapnya langsung mencegahku melakukan itu. Dia menangkis pedang itu dengan pistolnya yang berwarna hitam. "Dante-" belum sempat aku melawan, dia keburu mendorong tubuhku ke lantai dan mencengkeram kedua tanganku.

"Untuk apa kau melakukan itu, bocah sialan?!" seru Dante. "Vergil tidak menyuruhmu mati kan? Dia tidak menyuruhmu menusuk jantungmu dengan pedangnya kan? Dia menyuruhmu untuk tetap hidup! Kau punya kekuatannya! Kau punya segalanya dari dia! Termasuk cintanya!"

"Tetapi dia tidak mau menjawab pertanyaanku, Dante!" bentakku dalam tangis. "Dia iblis sesungguhnya! Dia tidak akan peduli jika aku mati!"

"Dia akan sangat sedih jika kau mati, Nero! Dengarkan aku! Vergil memang brengsek. Kakakku itu memang tidak punya hati. Dia sudah membuang jauh sisi kemanusiannya sejak kami terpisah 20 tahun yang lalu. Meski demikian, dia menyuruhku hidup! Dia menyuruhku kembali ke dunia manusia!"

"Apa…kau bilang?"

"Jika dia mencintaimu, apakah kau akan membencinya, Nero?"

"Sialan! Kenapa kau bertanya hal yang sama dengannya, Dante?!"

"Dia tidak ingin kau membohongi perasaanmu, Nero! Dia pun berusaha untuk tetap tidak bohong kepadamu! Dia mencintaimu, dia menginginkanmu lahir ke dunia ini. Kekuatannya sangat berharga untuknya. Dia butuh kau untuk menyimpan semua kekuatannya itu. Aku tidak tahu apa yang terjadi dengannya, tetapi aku yakin dia sadar saat itu dia tidak akan hidup lebih lama. Dia tidak mau kekuatannya dicuri iblis lain. Maka itu dia membutuhkanmu!"

"Membutuhkan…aku…dia…kenapa…?" ucapku lirih nyaris tidak percaya dengan kata-kata Dante.

"Jika kau mati sekarang, sia-sia sudah usahanya untuk mempertahankan kekuatannya. Maka itu kau harus tetap hidup!" dikuasai amarahnya, Dante mencengkeram kerah bajuku dan memaksaku bangkit untuk menatapnya lebih dekat. Dia berkata, "Jangan kau pikir tidak ada orang lain yang mencintaimu setelah kau kehilangan ayahmu, Nero. Kau hidup sampai berusia 24 tahun ini berkat kasih sayang yang kau dapatkan dari orang-orang di Fortuna, dari nona cantik yang sekarang ini sedang menanti kepulanganmu!"

"Apa…Kyrie…dia…" aku mulai mengacau.

"Kau mati, nona cantik itu pasti sedih. Bahkan aku, Trish, Lady, juga ayahmu, Nero!" seru Dante begitu lekat di wajahku.

Ketika aku mengucap nama Kyrie, wajah cantik perempuan berambut cokelat itu terbayang jelas di pikiranku. Saat Vergil meninggalkanku dan menghapus ingatanku, Kyrie adalah orang pertama yang muncul dalam ingatanku yang baru. Aku sungguh tidak akan pernah melupakannya. Dia kini tengah menungguku kembali ke Fortuna.

Kyrie…

"Dante…uuurgh…" tidak peduli dengan cengkeraman tangan Dante di kerah bajuku, tiba-tiba aku bergerak maju dan memeluk lehernya erat. Aku menyembunyikan wajahku di bahunya yang lebar. Aku merasakan kedua tangannya yang kekar itu merangkul tubuhku. Dia mengajakku duduk bersamanya, mengizinkanku tetap memeluknya erat.

"Nak," ucapnya setelah menghela nafas panjang. "Sejak pertama aku bertemu denganmu di gereja itu, aku sempat mengira bahwa kau adalah Vergil dengan tampilan lain. Kau mempunyai sorot mata dan raut wajah yang sama dengannya. Tetapi aku melihat kau mempunyai sifat yang berbeda darinya. Maka itu aku langsung meyakinkan diri kalau kau bukan Vergil."

"Melainkan anaknya," sambungku. "Dengan kata lain, aku adalah keponakanmu. Begitu kan?"

Aku mendengar dia mendengus tertawa dan berkata, "Kau punya darah Sparda, ayahku, mengalir dalam tubuhmu. Kekuatanmu seimbang denganku. Ditambah lagi, kau bisa menggunakan Yamato. Kau mewarisi kekuatan kakakku. Kau sungguh terhubung dengannya, secara lahir dan batin. Keh! Aku sungguh tidak menyangka, Vergil begitu brengsek meninggalkanmu begitu saja."

"Jika kakakmu berada di sini, apa yang akan kau katakan padanya, Dante?"

"Haah…entahlah. Mau bilang apa ya? Dia menyebalkan, sungguh. Kita impas, Nak. Kita sama-sama ditinggalkan oleh orang yang sangat penting dalam hidup kita. Kau anaknya, dan aku saudara kembarnya. Pesannya pun sama, yaitu menyuruh kita tetap hidup."

Kini giliran aku yang mendengus tertawa, "Dia…benar-benar ayah yang payah."

"Tetapi dia tetap hidup di dalam Yamato. Seperti yang dia bilang. Yamato sekarang berada di tanganmu. Dia hidup di sana sebagai sumber kekuatanmu, Nero."

Aku sedikit menarik diri dari pelukanku, ingin melihat wajah Dante. Dari sudut mataku, aku melihat Dante menengadah melihat langit-langit kamarnya. Dia sedikit menitikkan air mata. Bahkan iblis berdarah dingin macam dia bisa menangis dalam diam seperti ini. Dia kecewa, sama kecewanya denganku. Tetapi aku yakin dia jauh lebih kecewa karena tidak berkesempatan bertemu dengan Vergil. Bagaimana pun mereka adalah saudara kembar, mereka terhubung satu sama lain. Kekecewaannya jauh lebih menyakitkan.

"Dante," ucapku sambil kembali menenggelamkan wajahku di bahunya. "Apakah kau mencintai kakakmu?"

Setelah beberapa kali menarik nafas, dia menjawab, "Ya, err…tidak juga sih. Karena dia menyebalkan, itu saja."

"Berarti, kita masih mempunyai sisi kemanusiaan dalam diri kita. Tidak seperti Vergil."

"Aku yakin sebenarnya Vergil tidak bisa menyingkirkan sisi kemanusiaannya. Meski dia bekerja keras mengumpulkan kekuatan Sparda untuk kembali berkuasa, aku yakin dia masih mempunyai hati. Walau sekeras batu, sama dengan otak dungunya."

"Mengapa begitu?"

"Karena itulah kau terlahir di dunia, Nak. Dia mencintaimu, tidak peduli bagaimana bencinya dirimu padanya."

-000-

Sudah saatnya aku kembali ke Fortuna…

Aku masih duduk di teras depan gedung Devil May Cry, memastikan ikatan tali di bootsku sudah cukup kencang. Sejenak aku termenung, mengingat kembali peristiwa yang kualami malam itu.

Pertemuan singkatku dengan pria berjaket kulit panjang berwarna biru itu menjawab segala mimpi buruk yang kudapatkan belakangan ini. Terungkap sudah hubunganku dengannya. Vergil, saudara kembar Dante, adalah ayah kandungku. Bisa dibilang, aku hanya sekedar tahu. Vergil sudah mati, dia tidak akan bisa menjelaskan banyak hal lagi padaku. Bahkan jika aku memaksanya keluar dari Yamato pun, dia pasti tidak akan menceritakannya.

Dan…yah, aku tidak akan memaksanya juga…

"Kau yakin tidak mau membawa satu kotak pizza ke Fortuna, Nak?" lamunanku kemudian buyar ketika Dante menghampiriku dan duduk di sampingku. Dia lahap sekali mengunyah potongan terakhir pizza-nya.

Aku menggeleng dan menjawab, "Lain kali saja, Dante."

"Sebelum kau pergi, jawab satu pertanyaanku dulu."

Aku berdiri dan berjalan menuruni undakan tangga. Kemudian aku berbalik dan berkata, "Mau tanya apa?"

Pria itu melipat kedua tangannya di depan dada dan berkata, "Jika Vergil mencintaimu, apa kau akan tetap membencinya, Nero?"

Aku mengangkat bahu dan menjawab, "Entahlah. Membencinya pun tidak ada gunanya. Tapi bisa dibilang, aku akan tetap membencinya."

"Oh ya? Kau yakin, Nero?"

"Mau bagaimana lagi? Dia yang memaksaku membencinya. Aku tidak bisa membohongi perasaanku sendiri kan, Paman Dante?"

Dia tertawa, "Ya ya, aku mengerti maksudmu."

"Aku pergi dulu. Aku akan kembali berkunjung kemari bersama Kyrie nanti."

Melihat dia melambaikan tangan, aku pun mulai beranjak pergi meninggalkan tempat tinggalnya. Aku menatap langit begitu cerah, rasanya ingin sekali bisa cepat sampai di Fortuna. Apa aku akan menceritakan semua ini kepada Kyrie? Rasanya tidak, aku akan menyimpan cerita ini baik-baik. Aku hanya perlu kembali ke sana dan bersikap seakan tidak terjadi apa-apa. Aku akan terus melanjutkan hidupku bersama orang yang sangat kucintai itu. Aku mempunyai kekuatan yang akan kugunakan untuk melindunginya.

Iya kan, Ayah?

-the end-


A/N : akhirnya selesai juga. Lama ya nunggunya? Makasih ya udah mau bersabar menunggu akhir dari ceritanya.

Silakan komen ato review, plis jangan flame ya. Maaf banget kalo ceritanya kurang berkenan. Maaf juga kalo saya bikin 3 iblis kece ini saya bikin sedikit cengeng. Namanya juga devil may cry, nangis2 dikit boleh donk? #digampar