Black and White Chapter 2
.
.
.
Diclaimer
Super Junior and other cast punya orang tua
Mereka masing-masing
And this FF is Mine
Cast
Yesung, Kyuhyun, Siwon and with other cast
Pair
Kyusung, Wonsung, and other
Warning
This FF is YAOI, Shou-Ai
Un-official pair
Miss Typo dimana-mana, OOC
Tidak menerima flame karena pair atau karena FF YAOI! Yang merasa tidak suka YAOI dan sejenisnya
Diharapkan tidak memaksakan diri untuk membaca FF ini
HAPPY READING
Cafe Mouse and Rabbit - kawasan Busan
Pukul tiga sore.
"... Welcome to Mouse and Rabbit cafe . " Kim Yesung menyapa kedua turis Asing yang baru sampai di cafenya, menunjukkan menu terbaru di cafenya sambil menjelaskannya dengan bahasa Inggris yang fasih. Kedua turis itu dibuatnya manggut- manggut sebelum menunjuk salah satu makanan pilihannya. Yesung memaksakan bibirnya untuk membuat seulas senyum.
Sudah sebulan Yoona oemma-nya berpulang. Kenyataan ini masih menyakitkan baginya. Bagi Yesung, Yoona adalah seorang penolong, seorang pelindung, bahkan juga seorang ibu yang kasih sayangnya melebihi ibu biologisnya sendiri. Tanpa Yoona, mungkin Kim Yesung hanya akan menjadi seorang bayi yang dibuang dalam sebuah kardus bekas. Beruntung sekali, Yoona menemukannya. Sejak itu, Yesung selalu menganggap Yoona adalah satu-satunya keluarga yang ia miliki.
Berita kematian itu terlalu cepat datang kepadanya. Tepat saat pengumuman kelulusan, Yoona menghembuskan napas terakhirnya. Kenyataan ini bahkan tidak diketahui seorang pun di Mouse and Rabbit. Kecuali dirinya.
Kim Yoona dalah wanita yang kuat. Sangat kuat sehingga ia mampu membesarkan dua anaknya, serta mengelola bisnis sendiri. Bahkan ia juga memiliki kebiasaan membawa anak-anak jalanan yang ditemuinya untuk tinggal di panti asuhan gereja milik Park Jung Soo sambil bekerja di tokonya. Park Jung Soo adalah sahabat terbaik Yoona, teman kuliahnya di Seoul, Mereka sangat dekat, bahkan hanya kepada Jung Soo-lah, Yoona mengatakan hal-hal yang sebenarnya,
Yesung memandang refleksi dirinya di muka cermin antik di depan meja kasir.
"Yesung-ah..." sebuah suara membuat Yesung memalingkan wajahnya dari cermin. Jung Soo telah berdiri di depannya.
"Bagaimana dengan rencanamu pergi ke Jepang ?" Jung Soo bertanya. Yesung memang pernah berniat meneruskan kuliah di Jepang sembari menjalankan sebuah misi sosial, sebuah yayasan yang berpusat di Seoul pernah menawarinya beasiswa itu.
"Sepertinya tidak dalam waktu dekat, Hyung" Yesung mengeluh, "Taeyon masih membutuhkan aku..." Ucapnya lirih.
Jung Soo jalan mondar-mandir, terlihat kegelisahan memayungi yang sadar akan hal itu memandangnya heran.
Hari ini Jung Soo kembali mengunjungi cafe. Bahkan kali ini Namja bertubuh tinggi itu tumben-tumbennya sempat menyetel televisi menonton liputan khusus mengenai hegemoni klan Naga Biru di kawasan Asia. Untuk apa Jung Soo Hyung menonton acara tidak bermutu? Yesung menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia paling anti dengan urusan gangster macam Naga Biru, apalagi pada Choi Ki Ho, ketua klan mafia tersebut, sekaligus pemilik jaringan hotel, klab dan lounge eksklusif . Ia sering diberitakan menjalin asmara dengan yeoja atau namja berstatus uke dari berbagai kalangan.
Tanpa terasa, Yesung menyeletuk, "Kelihatannya sedang tertarik sekali. Apa mereka mau jadi donatur gereja? Kalau benar, lebih baik ditolak saja. Uang mereka pasti kotor!" Yesung memasangtampang sinis.
"Bicaramu terlalu kasar. Mereka hanya bisnis properti dan entertainment."
"Hahahaha" Yesung tertawa seperti mengejek.
"Mafia properti dan bisnis hiburan malam, maksud Hyung ? Aku bahkan tidak bisa melihat perbedaan antara mereka dengan preman intelek."
Jung Soo tampak kaget mendengar ucapan Yesung barusan.
"Maaf, Hyung, bicara saya memang kelewatan."
"Tidak apa-apa. Hanya saja... Aku sedang khawatir."
Yesung mengerutkan alis.
"Sebelum Yoona meninggal, ia sempat memberitahuku sesuatu, bahwa Naga Biru-"
Jung Soo menghentikan kalimatnya ketika melihat sebuah BMW merah melintas di depan gerbang panti. Kemunculan mobil mewah menimbulkan tanda tanya besar di benak Yesung, mengingat penduduk di sekitar Panti tergolong sangat sederhana. Jangan-jangan Taeyon memulai masalah lagi. Yesung memijit keningnya.
Yesung memandang Jung Soo lagi, melihat wajah itu telah lebih pucat dari sebelumnya.
"Yesung-ah... mereka sudah tiba." kata Jung Soo, nyaris berbisik
"Mereka siapa, Hyung?"
"Naga Biru"
Yesung mengalihkan pandangan mengikuti isyarat Jung Soo. Rupanya benar, BMW merah itu. Perhatian Yesung teralih pada stiker berwarna blue sapphire yang terpasang di sana. Itu adalah lambang klan Naga Biru.
"Hyung, apa yang kau sembunyikan dariku?"
"Ceritanya panjang. Sekarang lebih baik kamu sembunyi dulu. Nanti setelah dia pergi, kamu pergi cari Taeyon dan langsung kabur nanti malam! Cepat!"
Yesung menuruti perintah Jung Soo dengan sebal. Yesung paling tidak menyukai rahasia. Apalagi rahasia yang berbahaya seperti ini. Kalau memang Taeyon membuat masalah dengan orang Naga Biru, Yesung berjanji akan merontokkan gigi Taeyon dengan tangannya sendiri. Kalau perlu, dengan memakai palu.
Yesung melihat seseorang yang amat familiar keluar dari mobil itu. Mata topaznya langsung mengingatkan Yesung pada Choi Min Ho, salah satu seorang Pangeran Naga Biru . Yesung bertambah heran ketika mendengar percakapan antara Jung Soo dan namja itu. Refleks, Yesung menekan nomor Taeyon dari ponsel yang sedari tadi digenggamnya.
"Taeyon-ah... ini Oppa..." Yesung berbisik. Di seberang sana, terdengar hembusan napas gelisah dari Taeyon , "Ada apa Oppa, apa aku membuat masalah lagi"
"Orang Naga Biru ada di sini... Jung Soo Hyung menyuruhmu kabur nanti malam."
"ANDWE!" Taeyon terdiam sejenak,
"Sumpah, aku tidak pernah buat masalah dengan —"
"Dengar dulu! Ini bukan karena kamu sedang ada masalah dengan mereka! Ini tentang Oemma!
"Apa? Oemma?"
"Kau tak akan percaya ini! Sekarang kamu sembunyi saja dulu. Kalau bisa, rayu seseorang temanmu supaya mau meminjamkan mobilnya. Pokoknya nanti kuceritakan! Oppa tunggu di jalan depan, jam sepuluh malam."
Klik! Yesung menutup teleponnya. Yesung mengintip dari celah pintu yang terbuka sedikit. Kali ini Yesung melihat beberapa orang keluar dari mobil lain yang baru tiba. Seorang di antaranya adalah Choi Yong Doo. Mereka kembali berbicara cukup alot. Sampai Jung Soo berkali-kali mengusap keringat dingin di dahinya.
Ini gawat! Benar-benar gawat!
Naga Biru? Taeyon mengerutkan kedua alisnya. Sejak kapan ia berurusan dengan organisasi mafia macam mereka? Taeyon menyomot snack terakhirnya dengan terburu-buru, langsung merasakan kepingan pedas keripik itu menusuk bibirnya hingga nyaris berdarah. Ia menepikan mobil di pertigaan depan kompleks, dan melihat Yesung sudah ada di sana.
Kim Yesung, Oppa-nya. Satu-satunya keluarga yang tersisa dan sangat disayanginya. Setelah Oemmanya tak ada, Taeyon selalu bergantung kepada Yesung. Setiap Taeyon membuat masalah Yesung selalu ada disampingnya untuk membantu untuk menyelesaikannya.
Tapi kali ini, Yesung yang dikenal Taeyon sejak bertahun-tahun lalu seratus persen berbeda dari biasanya. Taeyon terkadang iri kepadanya, karena selalu berhasil bersikap tenang di segala kesempatan. Tapi kali ini Yesung terlihat sangat gelisah dengan wajah yang terlihat sangat pucat
Yesung langsung mengambil posisi di samping Taeyon. Ia menjelaskan dengan cepat rencana pergi ke pedalaman Cheonan nun jauh di sana. Rupanya Naga Biru benar-benar memaksa mereka memilih untuk melarikan diri. Taeyon langsung mengingatkan dirinya untuk menanyakan alasannya pada Yesung.
Taeyon kali ini memilih jalan sepi daripada jalan kota. Alasannya, selain lebih cepat sampai, tentu lebih aman. Taeyon benar, dalam sekejap mereka sudah keluar dari Busan Tapi jalan yang mereka lewati benar-benar parah, sampai-sampai sulit membedakan mana jalan yang benar dan mana jalan jadi-jadian. Belum lagi lubang yang selalu menghiasi setiap pinggiran aspal.
Benar-benar jalan seribu guncangan! Pikir Yesung.
"Oppa bilang ada orang Naga Biru datang?"
"iya." Yesung menjawab setengah sadar,
"Pangeran Naga Biru. Kamu tidak tahu, suasananya tegang sekali. Jadi Jong Soo Hyung menyuruhmu kabur. Oh, iya... aku lupa, gara- gara itu aku jadi ikutan kabur."
Taeyon memperlihatkan cengiran lebar di wajahnya, "Mianhae Oppa.. tapi sudah kubilang, kan...kalau aku tidak pernah buat masalah dengan orang seperti mereka..."
"Tapi kamu seperti magnet yang menarik penjahat mendekat." Yesung memijit keningnya yang mulai pusing, "Sekarang aku tahu sebabnya."
"Sebabnya?"
"Ayahmu-lah penyebabnya, Choi Ki Ho, Kamu ini anak penjahat!"
Taeyon tertawa, gurauan yang nggak lucu! Masa aku anak orang terkenal macam dia? Sekalian saja bilang kalau ayahnya adalah Barack Obama.
Taeyon menggaruk kepalanya, ekspresi Yesung yang seperti orang mati menyadarkan Taeyon kalau omongannya tadi bukan main-main, apalagi setelah Oppanya itu berkata serius, "Menurutmu, ada tidak mobil yang kurang kerjaan membuntuti kita di tengah jalan pegunungan seperti ini?"
Taeyon memutar badan, melihat sebuah Range Rover berada tak jauh di belakang mereka. Ia mengutuk dirinya sendiri, karena baru terpikir untuk memperhatikan mobil itu. Taeyon mencoba sedikit melepas gas, lalu melihat situasi mobil belakang. Ikut melambat. Setelah Taeyon menginjak gas, mobil itu ikut menambak kecepatannya. Range Rover itu benar-benar mengikuti kami.
"Oppa benar, ..." keringat dingin mengalir di pelipis Taeyon. Wajahnya mulai memucat.
"Apa yang mereka inginkan dariku?"
Yesung menelan ludah, napasnya mulai sesak.
"Dia ingin membawamu ke Seoul. Sepertinya aku sempat mendengar salah satu dari mereka bilang ' akan menyerahkannya pada ketua klan yakuza' atau semacamnya."
"Seram sekali! Jadi aku mau diserahkan pada ketua klan Yakuza?"
"Makanya kita disuruh kabur, tahu!" Yesung mengacak rambut Taeyon gemas.
"Pantas tadi Oppa menyuruhku meminjam mobil ," Taeyon meringis sedikit, "Semoga saja mobilnya tidak baret lagi. Kalau tidak, aku bakalan menikahi orang yang lebih mengerikan dari ketua Yakuza!"
Bak adegan film action, Taeyon langsung menekan pedal gasnya tanpa ampun, membuat Mistsubishi Gallant itu melompat sebelum meluncur mengerikan di atas aspal. Si pengemudi Range Rover dengan lihai menambah kecepatanmobilnya, seakan telah tahu kalau dirinya telah ketahuan membuntutinya. Mobil itu bahkan berusaha menyusul. Sambil menyumpah-nyumpah dan mengabaikan Yesung yang sudah makin teler, Taeyon terus menginjak gas, sampai kakinyamenempel seutuhnya pada pedal itu. Lawannya, seperti elang yang sedang memburu mangsanya, terus berpacu, meluncut setengah terbang, tak membiarkan Taeyon lolos sedetik pun dari depannya.
Akhirnya, mobil itu berhasil memepet Taeyon dan mulai menghadang jalannya. Melihat ini, Taeyonterpaksa menekan pedal rem, menghentikan mobilnya sebelum menabrak mobil itu.
TTTIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIINN!
Taeyon memencet klakson dengan kesal. Mobil di depannya tak bergeming. Pintu depannya terbuka. Seorang namja turun dari kursi pengemudi. Perawakannya sangat atletis, rambutnya berwarna coklat tembaga, berkibar di atas bahunya yang terbuka.
"Sepertinya itu Choi Min Ho.." Yesung berbisik, " Si Pangeran Naga Biru. Kita benar-benar dalam kesulitan sekarang."
Min Ho tersenyum ramah, "Mau ke mana? Kok tidak bilang-bilang? Bisa kan ditemani olehku.."
Gila...
Mana ada orang kabur ditemani , pikir Taeyon. Ia mulai kesal dengan gaya bicara Min Ho yang terlihat sok gaul.
"Kami mau mengantar handycraft, " Yesung mencoba menjawab datar, namun ada nada ketakutan dalam suaranya.
"Hahaha nganter handycraft malem-malem gini..." Min Ho celingukan menyatroni sisi mobil,
"Kalian tidak bermaksud kabur kan?"
Hening sejenak.
"Kalo kabur, mau apa?" Taeyon mendadak turun, dan menggebrak pintu dengan keras.
Min Ho tersenyum lagi, membuat Taeyon makin kesal, "Siapa kalian, mengakui orang seenaknya, memaksa orang ikut kalian ke Seoul! Sorry aja, ya... daripada ikut kalian, lebih baik jadi pengemis di pinggir jalan!"
Yesung yang sedari tadi duduk di dalam mobil memaksakan diri keluar, takut kalau Taeyon nekad menantang Min Ho yang badannya berotot besar itu.
"Sayang sekali, ini bukan kemauanku , tapi permintaan bos besar. Kalo mau marah, silahkan saja langsung berbicara ke Choi Ki Ho di Seoul !"
"Bagus," Taeyon tersenyum miring. Ia langsung melayangkan tamparan ke wajah Min Ho. Biar wajahmu hancur, pikirnya. Sebelum Taeyon dapat mendaratkan tamparannya, tangannya telah ditahan oleh seorang namja, kira-kira berusia pertengahan dua puluhan. Rambutnya mencapai tengkuk, di cat pirang, dan dibiarkan berantakan. Matanya yang tidak terlalu lebar dibingkai kacamata tipis, hidungnya mancung, sepadan dengan bibir tipis di bawahnya. Taeyonlangsung teringat peran Bae Yong Jun di Winter Sonata. Tangan Taeyon melemas, seakan baru menerima serbuan listrik tegangan tinggi, dan ia sama sekali tak mampu melawan namja di depannya itu.
"Good job, Young Do-ya!" Min Ho berkata riang,
"Tidak ada gunanya melawan kita! Lebih baik kalian ikut kita, daripada aku pakai cara yang lebih kasar..." ia mengulurkan sebuah lipatan saputangan berisi kloroform. Taeyon langsung menyerah. Lebih baik dibawa secara sadar daripada dibawa dalam keadaan teler... ia mengerling ke arah Yesung yang sekarang tampak lebih ketakutan daripada sebelumnya. Min Ho mengitarinya seperti buaya kelaparan sedang mengintai mangsanya. Taeyon melihat bola mata Yesung mengerjap, berharap Min Ho segera menghilang dari hadapannya. Tapi Min Ho malah menyeringai lebar, memperlihatkan giginnya yang panjang-panjang.
"Kau yang namanya Kim Yesung?" bentaknya.
Sebuah anggukan halus terlihat dari kepala Yesung. Min Ho langsung menunjukkan ekspresi puas. Ia memainkan jari telunjuknya sambil berkata,
"Berarti kau juga harus ikut."
"Benar-benar mirip dengan Jong Woon Hyung" pikir Min Ho
.
.
.
Yesung tak pernah menyangka nasibnya akan sesial ini setelah seluruh hidupnya dilewatkan bersama Kim Taeyon. Ia memang sering terseret dalam masalah geng kecil-kecilan, dipanggil kepala sekolah, dimarahi Oemma karena ketahuan ikut keisengan Taeyon, tapi ia tidak pernah bermimpi bisa berurusan dengan Naga Biru, Apalagi dengan namja Pangeran Naga Biru yang kerap diejeknya sebagai boyband , preman intelek, dan lain sebagainya.
Yesung dapat mendengar teriakan Taeyon saat para hairstylist dan fashion stylist mempermaknya habis-habisan. Ingin terkikik sendiri, kalau saja hal yang sama terjadi padanya. Cewek-cewek stylist itu berkicau riang sambil mengeluarkan berlembar-lembar pakaian,
Meeting room hotel sudah dipenuhi banyak wartawan saat Yesung memasuki ruangan bersama Choi Min Ho, Choi Young Do, Yunho dan Taeyon, Sekumpulan kursi telah berderet di belakang sebuah meja panjang, dengan mikrofon tegak di atas masing-masing kursi. Yesung mendapat tempat duduk nomor dua dari ujung kiri. Di sebelah kanannya, duduk Min Ho dan Young Do, mengapit sebuah kursi kosong yang diperuntukkan untuk Choi Ki Ho.
Beberapa tempat duduk lain juga dibiarkan kosong. Yesung tidak tahu, itu untuk siapa. Taeyon duduk di samping Young Do. Tangannya sibuk memainkan jarinya dengan gelisah, mungkin pengalihan perhatian agar dia tidak menarik sanggulnya,
Yunhi berdiri bersama seorang namja asing di sebelah Choi Ki Ho. Wajah Yunho tampak tidak tenang. Terlebih lagi karena namja asing itu menatapnya licik. Yunho memilih duduk di dekat Yesung. dan saat itulah Yesung menyadari, bahwa duabangku di sana ternyata kosong, tanpa tahu siapa pemiliknya.
Konferensi pers itu berlangsung membosankan. Yesung ngin cepat-cepat menyelesaikannya. Sedikit pembukaan mengawali konferensi itu, kemudian basa-basi, pengumuman pengangkatan Yesung dan Taeyon sebagai anak angkatnya Choi Ki Ho, pengenalan hotel... aahhh... membosankan sekali! Yesung mengetuk-ngetukkan jarinya di badan kursi, pertanda mulai bosan. Ia tak memerdulikan Choi Ki Ho memohon maaf karena calon partnernya,Cho Kyuhyun yang seharusnya hadir, batal datang. Atau YunHo yang mengumumkan proyek kerjasama dengan Cho Kyuhyun.
"Kami telah memiliki rekan bisnis yang luar biasa dari keluarga Cho..."
Hey! Tunggu dulu! Cho Kyuhyun? Kenapa rasanya nama ini terdengar familiar? Yesung mengerutkan dahi. Selama ini ia kurang perhatian terhadap dunia selebritas, namun sepertinya ia pernah melihat nama ini dalam sebuah berita koran. Saat sesi tanya jawab, Yesung kembali mendengar nama Cho Kyuhyun disebut oleh seorang wartawan dari tabloid gosip selebritas. Rupanya berita yang dia lihat dulu berasal dari tabloid itu.
"Bagaimana menurut pendapat Anda tentang gosip yang mengatakan kalau Anda akan bertunangan dengan Tuan Cho Kyuhyun?"
Pertanyaan itu diajukan kepada Taeyon, setelah serentetan pertanyaan bermutu rendah lainnya, kelihatan seperti membubuhkan stempel yeoja matre pada Taeyon. Taeyon jenuh menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, kaleng soda di tangannya digenggamnya dengan sangat erat, mungkin sebentar lagi, ia akan menimpuk kelapa si wartawan dengan sepatu.
"Maaf, bisa Anda menjawab pertanyaansaya?"
Taeyon memijit keningnya. Wajahnya dipenuhi amarah, murka, dan kesal. Yesung tak tahan melihatnya. Yesung membuat deheman kecil di mikrofon yang terpasang di hadapannya, membuat perhatian wartawan itu teralih.
"Kalau Anda sendiri, bagaimana?" Yesung berkata ketus, wartawan yeoja itu langsung terlihat gelagapan. Yesung. sudah terlanjur emosi, melanjutkan kalimatnya, "Kalau dia seperti yang Anda laporkan—" Yesung mengangkat tangankanannya, membuat ekspresi tidak peduli,
"'Petualangan sang penakluk wanita dan korban- korbannya...' hanya ada dua kata: Tidak berminat. Mana mungkin aku akan menyerahkan adikku kepada playboy yang tak pernah menghargai wanita macam dia"
Wartawan tadi terlihat pucat pasi, memamerkan ekspresi yang mengatakan bukan aku yang menulis laporannya. Yesung tersenyum puas, bersyukur Cho Kyuhyun batal datang kesana, kalau tidak, ia tidak akan punya keberaniansebesar itu untuk melontarkan kalimat yang menjelek-jelekkan ketua naga timur Asia itu.
Ucapan itu jelas sebuah gertak sambal. Mana mungkin dia dapat melawan ketua klan yang bahkan tidak diketahui wujudnya? Cho Kyuhyun, tak banyak yang diketahui Yesung tentangnya, mungkin dia tampan, atau berkuasa, namun juga penjahat yang kejam, sadis, dan tak bertanggung jawab.
Jumpa pers itu masih berjalan membosankan dan Yesung memutuskan untuk mengabaikannya sekalian. Dia sama sekali tidak menyadari kehadiran kelompok orang yang sedari tadi mencuri kesempatan untuk memperhatikannya bersama Taeyon.
Gala dinner yang panjang mengharuskan Yesung memamerkan senyum palsu pada setiap orang yang dilihatnya. Ini betul-betul menyiksa. Ia jadi tahu, kenapa dari dulu Taeyon selalu membenci pesta. Dia tidak melihat Taeyon berada di sana, mungkin dia sudah kabur duluan.
Berada di tengah orang-orang itu membuat Yesung merasa sesak. Sumpek. Namja itu kemudian memilih untuk hengkang dari tempat itu, menyusuri lorong-lorong sempit menuju balkon.
Kegelapan menyambutnya dengan kesunyian. Samar-samar Yesung dapat mendengar lagu dalam denting petikan gitar. Suara itu jelas bukan dari ball room. Iramanya kadang bertempo lambat, sejenak terdengar seperti irama latin, lalu sebentar kemudian terdengar kasar, seperti dipaksa untuk mengalun cepat. Tidak sinkron. Namun di dalam ketidaksinkronan itu justru terdapat melodi yang tak biasa. Aneh. Menggoda. Kelihatan sekali kalau pemainnya sedang galau.
Tanpa sadar, Yesung mengikuti sumber suara musik itu, dan terkejut saat mendapati sumber suara itu berada tepat di dekatnya. Waktu terasa berhenti, saat ia melihat sosok di depannya, sedang duduk bertumpu pada beton pembatas pagar. Membelakanginya sambil masih asyik bercengkrama dengan gitarnya. Rambutnya sewarna mahoni keemasan. Mata biru- secemerlang langit di waktu siang.
Salah satu alasan dia mengikuti Taeyon, Minho, dan Yong Doo ke Seoul.
Choi Siwon..
Namja itu langsung menunjukkan ketidaksukaan saat melihat ada yang melihatnya. Dia bangkit, menaruh gitarnya, kemudian berdiri menatap Yesung.
"Untuk apa kau kemari?" katanya gusar.
"Maaf- aku—" Yesung mengggigit bibirnya, mendadak merasa gugup. Siwon terlihar sangat marah saat itu.
"Sebaiknya kau pergi!" tudingnya. Yesung terhenyak ketika berbalik untuk pergi. Suara itu terdengar sangat dingin di telinganya.
"Pergi selamanya dari Naga Biru..."
Yesung nyaris berlari ketika dia menyeret langkahnya menjauhi Siwon. Saat itu seorang yeoja menabraknya. Yesung belum sempat meminta maaf kepadanya, yeoja itu keburu mengeluarkan kata-kata kasar untuk menyumpah pada Yesung dan berpaling menuju Siwon.
Yesung bergeming, nyaris tak bisa bernapas. Namun perasaannya benar-benar kacau saat melihat yeoja itu memeluk Siwon. Wajah yeoja itu langsung menempel di wajah Siwon, membuat aura panas menjalari di pipi Yesung.
Entah apa yang terjadi pada dirinya. Kita sebut saja cemburu. Mungkin saja. Tapi siapa dirinya terhadap Siwon sehingga berhak memiliki rasa "cemburu".
Sejak dulu, Yesung sangat malas bila berhubungan dengan yang namanya mafia. Menurutnya mafia itu dunia yang penuh dengan orang-orang tak berguna yang hanya menggunakan kekuatannya sebagai cara terampuh untuk menyelesaikan permasalahan yang ada.
Tapi entah mengapa namja itu berbeda, walaupun dia adalah anak dari mafia yang terkenal Yesung tak pernah mempermasalahkannya. Yesung pertama kali mendengar dan melihat tentang namja itu melalui sebuah berita di televisi. Berita tersebut menjelaskan tentang bisnis naga biru yang dipimpin oleh Choi Siwon mulai menunjukan perkembangan yang pesat. Saat itulah hatinya berdetak dengan kencang saat melihat wajah tampan Siwon di televisi. Mungkin semua orang mengatakan bahwa Yesung mengalami "Love at first sight".Tapi entahlah, Yesung sendiri masih bingung dengan perasaannya.
Yesung pernah mendengar Minho membicarakan tentang kedekatan seorang yeoja bernama Jung Jesicca dengan Siwon. Yeoja itu seorang artis, cantik, seksi, bergelimang harta, dan kekuasaan.
Tak seharusnya aku berada di sini...
Yesung mempercepat langkahnya, menjauhi pemandangan dan kemesraan yang tidak ingin dilihatnya. Saking buru-burunya, dia bahkan menabrak seorang waiter hingga nampan di tangannya jatuh dengan suara berisik. Gelas, piring, dan sebuah pisau menimbulkan dentingan aneh di atas lantai.
Semua benar-benar kacau, dan Yesung makin kacau menyeret langkahnya menjauhi pasangan yang sedang kasmaran itu.
Angin malam menyambut kedatangannya dengan belaian lembut di kedua pipi Yesung. Namja itu akhirnya sampai di halaman di belakang hotel yang menghadap pantai. Suara ombak, desiran angin, dan kelembutan pasir pantai perlahan mengusir semua kegundahan di hatinya. Ia menghindar dari orang-orang Naga Biru Kejadian buruk bisa saja menimpanya. Namun Yesung sama sekali tidak mempedulikan hal itu. Dia hanya ingin menyendiri sepuasnya. Melepaskan semua kegelisahan di dalam dirinya.
Yesung mencopot sepatunya, meletakkannya begitu saja di tanah, lalu duduk di kursi keadaannya tidak seperti sekarang, Yesung pasti akan menikmati pemandangan indah pantai ditemani sinar bulan dan bintang yang berkelap-kelip di langit yang hitam. Pikirannya kembali ke seorang Choi Siwon.
"Pidato yang bagus sekali!" sebuah suara semanis madu membuyarkan lamunan Yesung. Ia melihat sekeliling sampai ia melihat seorang namja sedang mendekatinya. Kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku. Terlihat sangat santai.
"Kau terlihat sangat mengenalnya," namja itu berkata, "Kalau tidak, kau takkan punya keberanian sebesar itu untuk mengejeknya...Bukan begitu? Taeyang?"
"Mengenal siapa?" Yesung berjengit, "Dan apa maksudmu memanggilku seperti itu?"
"Cho Kyuhyun..." namja itu kini berdiri di sampingnya, " hmmm, hanya saja karena wajahmu terlihat bersinar di malam ini, Yesungie!"
Yesung langsung merasakan sensasi tak nyaman saat namanya disebut dengan suara rendah dan serak seperti itu. Terkesan seperti madu yang beracun. Manis dan mematikan. Siapa namja ini,Yesung membatin.
Diam-diam, Yesung memperhatikan penampilan namja itu. Ia mengenakan kemeja lengan pendek berlapis rompi kulit berwarna hitam. Perawakannya tinggi, tegap, dan atletis. Rambutnya coklat Sebagian rambutnya dibiarkan berantakan. Namja itu tampan. Bahkan sangat tampan. Sebuah anting terlihat di telinga kanannya.
Wajahnya sempurna, bernuansa oriental, cukup membuat semua orang yang melihatnya berpikirkalau cowok itu baru saja keluar dari majalah Asian Idol. Semua orang. Kecuali Yesung.
Otaknya mulai muak. Ia memandang namja asing itu dengan aura permusuhan yang pekat, namun namja itu terlihat tak peduli. Ia beringsut mendekati Yesung, kemudian menaruh kedua tangannya di sandaran kursi, tepat di dekat bahu Yesung.
Yesung terlonjak berdiri, "Apa maumu?" gertaknya. Sekilas dia menyunggingkan senyum,
"Peryataanmu tadi soal Cho Kyuhyun betul-betul mengesankan," Namja itu menarik tangannya, menyurukkan kembali ke dalam saku celananya, "Kau pembohong besar."
Mata Yesung membesar menahan marah, "itu semua bukan urusanmu." Yesung berkata angkuh.
"Dia bisa saja memberi apa saja yang kau mau. Dia bahkan bisa membelimu, kalau dia menginginkannya."
Buku-buku jari Yesung mengeras, "Manusia bukan barang, tidak untuk diperjualbelikan." Geramnya. "Dan aku tidak membutuhkan apapun darinya."
"Benarkah?" namja itu mendekatkan wajahnya ke wajah Yesung, "Tapi kau terlihaat cocok berada di sini. Dalam semua kemewahan ini... Dia bisa memberi lebih. Apa kau benar-benar tidak menginginkannya?"
Tidak... terkecuali Siwon menginginkan aku berada di sini... tidak ada yang lebih kuinginkan selain dia... Yesung mengeluh dalam hati. Kemesraan Siwon dan Jesicca perlahan terputar kembali di otaknya. Pandangan Yesung kali ini tertuju pada arah lain, menemukan pemandangan yang ganjil, seperti sekumpulan orang tak bergerak di belakang pepohonan. Tanpa terasa tubuh Yesung menggigil melihatnya.
Namja itu masih tetap berdiri di depan Yesung, menunggu jawabannya.
"Tidak." Yesung menjawab tegas. Perlahan Yesung menarik tubuhnya menjauhi namja itu. Lebih baik kembali ke dalam daripada harus berurusan dengan namja aneh menyebalkan ini! Pikirnya. Pokoknya, Yesung tidak ingin melayani namja gila ini lebih lama lagi. Dia memaksa langkahnya hingga setengah berlari meninggalkan namja itu di belakangnya.
Namja itu tersenyum sekilas kemudian dia mengambil sehelai kertas lecek dari sakunya, kemudian seulas senyum mengejek hadir di bibirnya ketika dia mengingat perkataan Kim Yesung di konferensi pers itu.
Tak lama, namja itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling, menelisik setiap sudut dengan matanya. Memastikan Yesung telah kembali ke dalam ruangan, lalu pandangan matanya berubah berbahaya. Dari sela giginya, dia mengeluarkan suara keras dengan nada memerintah,
" Chen kemarilah, ada banyak urusan yang harus kita lakukan!"
"Baik, Kyuhyun Hyung".
T.B.C
ANNYEONG!
Author abal-abal is BACK!
Ada yang masih ingat dengan FF ini..
Pasti banyak yang lupa..
Hahahahaha
Adakah yang masih menunggu FF ini?
Ada Kim Jong Dae di FF aku, aku lagi suka sama orang itu
Dari drama yang It's Okay That's Love aku tau suara chen, baca faktanya terus denger suaranya jadi suka banget sama chen. Tapi aku hanya menyukai chen saja tidak dengan boyband itu...hahaha aku ngerasa chen hampir sama kaya yesung, ya sama-sama lead vocal di grupnya masing-masing. awal debut yesung begitu tidak terkenal dan chen pun mengalaminya dari awal boyband itu debut, chen salah satu yang tidak begitu dikenal orang. Tapi yesung sekarang berbeda. Semoga chen bisa mengikuti jejak sunbeanya itu hahaha (jadi curhat)
Pertama buka FFN setelah beberapa tahun, reaksi aku adalah aigoooo, ternyata situs FFN diblokir (kudet abis gua hahahahaha). Setelah menjelajah Mbah google akhirnya bisa kebuka juga..
Entahlah aku gak yakin masih banyak yang nunggu FF dari aku, jadi masih mau dilanjut atau engga jadi bingung juga
Hahahahahaha
Sudahlah kita lihat saja dari review FF ini
Hahahahah
Apakah menerut chingudeul semua, FF ini pantas dilanjutkan?
Sudahlah, aku banyak bercuap-cuap tak jelas
The last, Mind To Review?
