Black and White Chapter 2

.

.

.

Diclaimer

Super Junior and other cast punya orang tua

Mereka masing-masing

And this FF is Mine

Cast

Yesung, Kyuhyun, Siwon and with other cast

Pair

Kyusung, Wonsung, and other

Warning

This FF is YAOI, Shou-Ai

Un-official pair

Miss Typo dimana-mana, OOC

Tidak menerima flame karena pair atau karena FF YAOI! Yang merasa tidak suka YAOI dan sejenisnya

Diharapkan tidak memaksakan diri untuk membaca FF ini

HAPPY READING

Yuri menundukkan kepala dengan gemetaran. Dia bahkan tak berani membuka mata di depan namja itu. Untuk kedua kalinya, usahanya dalam menjatuhkan Cho Kyuhyun telah gagal total.

Ketua klan Naga Timur Asia itu tetap bernapas lega di tempatnya. Tak tergoyahkan oleh apapun. Yuri menarik napas saat namja itu mendekatinya, tetap tenang seperti biasa.

"Apa yang terjadi?"

"Ada.. ada seorang yang menggagalkan mereka," Yuri merasakan tenggorokannya mulai kering, "Mereka tak berhasil membunuh salah satu Little Naga Biru itu..."

"Begitukah?" suara itu tetap lembut seperti beledu, namun Yuri dapat melihat aura berbahaya di sana.

"Maafkan aku, Kris..."

"Jelaskan padaku!" telunjuk Kris mengangkat dagu Yuri.

"Begini..." suaranya bergetas. Yuri dapat melihat tato naga di pelipis pria itu dengan sangat jelas, berkedut menakutkan. Yuri menahan napas, "Mereka telah bergerak sesuai perintahmu, maksudku.. Mereka telah berhasil menyusup ke acara konferensi pers itu, dengan menyamar sebagai wartawan dan pegawai hotel. Semua berjalan lancar, walaupun ternyata Cho Kyuhyun tidak hadir di sana. Mereka juga berhasil membuntuti Kim Yesung–"

"Dan mereka gagal membunuhnya..." Kris memotong. Yuri gelagapan dibuatnya, "Bukan begitu... Tapi.. Tapi..."

"Gagal tetap saja gagal," salah satu sudut bibir Kris menegang. Jemarinya menyusup ke helaian perak rambut Yuri, sebelum meremasnya dengan kasar.

"Aaargh..." Yuri mengaduh, "Kris, maafkan aku."

"Maaf?" suara Kris berubah menyayat, "Jika semudah ini aku memaafkanmu, maka kau akan memberikan kegagalan lagi... Di Thailand, di sini... Bagaimana yeoja tak berguna sepertimu bisa menjadi yeojaku?"

"Seseorang menyerang mereka, Kris. Anak-anak itu..."

"Seseorang? Hanya seorang saja membuat sepuluh orang hingga hancur?"

"Kris..." suara Yuri kini berupa rintihan serupa permohonan. Kris melepaskan kepala Yuri dengan satu sentakan, "Siapa dia?"

"Dia..." Yuri menunduk menahan air mata yang mulai berdesakan keluar, "Mereka bilang usianya masih muda, terlihat berantakan, namun memiliki ilmu bela diri yang luar biasa."

Kris tertawa. Diliriknya Yuri dengan pandangan iba, sebelum menariknya ke dalam pelukannya. Yuri menarik napas lega, mengetahui kemarahan Kris mulai surut. Kris mengelus-elus pipi Yuri, matanya menilik ke mata Yuri, memesona, namun tetap mematikan.

"Apakah Kyuhyun benar-benar tidak datang?" Kris melembut, "Seharusnya dia memang tidak datang, Yuri-ya.. Seharusnya."

"Entahlah, Kris". Yuri menjawab seadanya, masih merasa nyaman di pelukan namja yang dicintainya.

"Soal namja yang bernama Kim Yesung itu salah satu dari Little Naga Biru..Apakah dia benar-benar terlihat mirip dengan namja itu?"

"That's Right. Wajah Kim Yesung dan Kim Jong Woon benar-benar seperti pinang dibelah dua. Mereka terlihat seperti saudara kembar"

"Tapi kau tahu sendiri, Kim Jong Woon tidak memiliki siapapun di dunia ini. Apakah mereka adalah orang yang sama Yuri-ya?"

"Itu tidak mungkin Kris. Bukankah kau melihat dengan kedua matamu sendiri kalau Kim Jong Woon sudah. . . . -MATI-.

.

Beberapa jam sebelum kejadian itu...

Lingkaran itu makin menyempit ketika sekumpulan orang itu mengarahkan senjatanya ke arah Cho Kyuhyun. Namja itu tertawa ketika melihat berandalan-berandaan itu menghampirinya dengan garang.

"Rupanya dia mulai kehilangan orang terbaiknya," Kyuhyun berkata tajam. Dari cahaya remang yang menerpa wajah orang-orang itu, dia mulai mengenali beberapa di antara mereka. Seorang yang berperawakan tinggi berotot adalah berandal yang sering membuat kekacauan di Jinan. Dua lainnya adalah bekas anak buahnya. Sementara sisinya adalah orang-orang Seoul, kelihatannya bekas-bekas anggota geng Thailand yang masih mencoba peruntungan mereka dengan bertarung.

"Siapa kau berani mencampuri urusan kami?" gertak berandalan berotot itu. Kyuhyun tersenyum sambil menyurukkan satu tangan ke saku. Namun kumpulan orang jahat itu sepertinya kurang suka berbasa-basi. Sebaliknya, mereka mengarahkan senjatanya ke leher Kyuhyun. Dengan mudah, Kyuhyun meghindari serangan itu, dan membalas keroyokan berandalan itu tanpa banyak mengeluarkan tenaga. Tak membutuhkan waktu lama bagi Kyuhyun untuk menjatuhkan orang-orang itu. Seulas senyum mengejek hadir di wajahnya, sesaat sebelum dia menelengkan wajah danmelihat Chen mendekatinya sambil menyeret seorang waiter.

"Setelah Hyung menyuruhku untuk mengikuti Little Naga Biru, coba lihat apa yang aku dapatkan aku menangkapnya ketika berusaha menyerang Little Naga Biru," katanya cuek. Kyuhyun melihat lebam di wajah waiter itu, kemudian memberi isyarat agar Chen melepaskannya.

"Apa yang diinginkannya?"

Waiter itu tampak ketakutan. Dia semakin mengkeret saat Chen mengintimidasinya lewat pandangan mata.

"Mereka ingin ketua Naga Biru mengira kalau ini perbuatan orang dari Cho Kyuhyun..." akhirnya waiter itu menjawab. Kyuhyun terlihat menimbang sejenak.

"Dan kau Hyung.-" Chen menelengkan kepalanya ke segala arah, "Apa yang Hyung lakukan disini?"

"Sedikit berolahraga," Kyuhyun menunjuk dengan kepalanya. Chen hanya bisa menggeleng resah, mendapati sekumpulan manusia terbujur tak sadarkan diri. Di dekat mereka masih terlihat kilatan pisau dan pistol berkaliber.

"Ini tidak baik..."

"Ini persis gaya Kris." Kyuhyun menghela napas khawatir, "Bagaimana pendapatmu tentang dia, Chen? Little Naga Biru itu?"

"Apa maksudmu Hyung?"

"Tidak, hanya saja aku berpikir untuk membawa dia untuk masuk ke permainanku. Nampaknya akan lebih menyenangkan"

"Hyung..." Chen bergidik ngeri. Dia tahu Kyuhyun adalah penggila game tapi dia tak menyangka bahwa Kyuhyun juga ingin membuat hidupnya seperti sebuah game.

"Entahlah, Tapi untuk yang pasti..." Chen menghela napas, "Namja itu benar benar membencimu, Hyung..."

"Permainan akan terlalu mudah jika namja itu tak membenciku..." ia bergumam pelan. Ekor matanya melirik ke sekumpulan manusia itu lagi. Lalu mulai menimang-nimang plakat giok mungil di tangannya. sudut bibirnya naik sebelum dia berkata pelan, "Kirimkan pesan pada Choi Ki Ho. Segera."

"Baik Hyung, Tapi bagaimana kalau namja itu adalah Jong Woon Hyung?..Dan bisakah Hyung melupakan tentang balas dendam dan permainan gila ini?"

"Namja itu hanyalah bagian penting dari permainanku. Bukankah Jong Woon sudah mati, dan aku harus membalas kepada mereka yang sudah membunuh Jong Woonku"

Chen hanya bisa menghela napas. Kyuhyun Hyungnya sudah berubah. Semenjak Jong Woon tak ada lagi di dunia ini, Hyungnya sangat berubah menjadi lebih dingin, lebih tak berprikemanusiaan dan tak peduli apapun kecuali balas dendam.

.

.

"Seharusnya kau tahu, aku tak pernah mencampuri percintaan anak-anakku," Choi Ki Ho memutar kursinya hingga menghadap salah satu tangan kanan Cho Kyuhyun itu, Kim Jong Dae atau lebih dikenal dengan nama Chen

Pemuda itu seumuran dengan Min Ho, anaknya yang terakhir. Memiliki wajah tampan. Namun berpenampilan aneh dengan pakaian serba hitam dan sesuatu yang selalu menutupi kepalanya.

Choi Ki Ho tak pernah merasa nyaman jika berhadapan dengan Chen. Pemuda yang selalu berhasil menebak jalan pikirannya dengan analisis-analisis sederhana. Terlebih lagi, jika Chen sedang mewakili Cho Kyuhyun dalam bernegosiasi.

"Apakah kau tahu ada sekelompok penyusup pada acaramu tempo hari?" Chen berkata sambil melipat kedua tangannya, "Mereka jelas berniat memfitnah Hyungku. Jika digabungkan dengan insiden geng Kobra, maka kami jelas telah mengalami banyak kerugian."

"Ini tak ada hubungannya dengan Naga Biru."

"Oh, ya?" Chen menaikkan alisnya, "Kalau tidak salah, salah satu bunyi kesepakatan dari tiga klan adalah bertanggung jawab atas segala peristiwa yang terjadi di wilayahnya..."

"Tanpa mencampuri urusan klan lainnya." Choi Ki Ho menambahkan, "Kalau bisa kukatakan, semua yang kau minta telah melanggar seluruh isi perjanjian."

Chen tertawa, "Bagus sekali, Choi Ki Ho... saya sependapat dengan Anda. Hanya saja, jika Anda tidak lupa dengan... mata ditukar dengan mata, nyawa ditukar dengan nyawa..."

"Aku tidak mungkin membunuh Taeyon!"

"Tahukah Anda, bagaimana tunangan Hyungku meninggal? Ketua geng Kobra itu jahat sekali padanya—' suara Chen kini terdengar prihatin.

"Yang kudengar, Kyuhyun lah yang menembaknya."

"Bukan begitu," Chen melanjutkan, "Hyungku sangat bersedih karena peristiwa itu. Bagaimana mungkin dengan kehilangannya yang luar biasa itu dia dapat membiarkan Anda mengalami hal yang sama?"

Kerutan-kerutan tipis muncul di kening Choi Ki Ho. Ia mendadak merasa muak mendengar perkataan Chen. Seolah-olah dia sedang disuruh memercayai kalau seekor singa gunung menangisi kematian seekor anak rusa setelah memakan dagingnya.

"Hyungku tidak meminta Anda menyerahkan anak kandung Anda. Bukankah Anda mengangkat dua orang anak? Serahkan saja anak angkat Yoona. Hyungku yang murah hati itu tidak akan keberatan, asalkan Anda menyanggupinya."

"Chen—" Choi Ki Ho berkata pelan, "Aku tak akan pernah menyerahkan Little Naga Biru Aku telah berjanji pada Yoona".

"Maaf, Choi Ki Ho..." Chen mengulum senyum licik, "Ini bukan permintaan, tapi perintah..."

.

.

Siwon mendorong bola biliar putih itu dengan stiknya. Setelah sekali melompat, bola itu bergulir dan menabrak bola bernomor delapan dan menggiringnya masuk ke lubang. Minho yang berada di dekatnya langsung memukul udara kosong sambil memaki.

"Sudahlah,Minho... kau tak mungkin menang melawannya..." Yong Doo tertawa, "Siwon allways the winner. He does."

"Yeah, about the girls, too..." Minho mencibir sambil menunjuk salah satu pipi Siwon dengan jarinya.

"Apa yang terjadi sampai Jesicca menamparmu?"

Siwon mengerling tak suka, namun menjawab juga, "Aku menyuruhnya jangan menggangguku lagi."

"Setelah kejadian malam itu?"

Siwon mengangkat bahu, "I was drunk."

"Stupid jerk!" Minho memaki, "Jesicca? Kau mabuk dan ditemani olehnya setelah itu kau menolaknya. Kau benar-benar brengsek".

Siwon tersenyum mengejeknya, "Aku memang brengsek. Tapi dia tak jauh beda."

Yong Doo menepuk bahu Siwon, "Aku penasaran, orang seperti apa sebenarnya yang kau sukai."

Siwon terdiam. Bayangan seorang namja manis dengan mata sipitnya, pipi chubby dan bibir tipis tersebut tiba-tiba menari di hadapannya. Namja yang ditemuinya saat acara tempo hari. Masih jelas baginya pikiran gila yang menggodanya untuk memiliki namja itu.

Ah... semua terlalu rumit. Siwon tidak tahu mengapa dia bisa tertarik dengan namja itu. Seolah menemukan sesuatu yang hilang dari dirinya, setelah hatinya kosong ditinggal oleh Kim Jong Woon. Mungkin salah satu alasan, namja itu mirip dengan Jong berkata bahwa dia telah menemukan kembali Jong Woonnya. Namun Siwon menepis keinginan itu keras-keras. Kalau bisa, dia menginginkan namja itu pergi dari Naga Biru.

Naga Biru bukanlah tempat yang cocok buatnya. Terlebih lagi jika namja itu berada di hanya takut. Takut dia tak bisa menjaganya dan melindunginya. Dia takut kehilangan lagi.

"Mengapa kau tak pernah berpikir untuk menjalin hubungan?" Ucapan Yong Doo membuyarkan lamunan Siwon.

"Betul," Minho menyambung, "Kalau dibandingkan dengan Kyuhyun, kalian berdua adalah tipe namja idaman. Tampan, iya. Berkuasa juga. Tapi..."

"Jangan menyamakan aku dengan Kyuhyun." Jawab Siwon dengan dingin

"Ngomong-ngomong tadi Chen menemui Ayah, kau tahu?"

"Untuk apa dia kemari?"

Minho memutar mata, "Tentu saja buat menagih. Pendendam seperti Kyuhyun... pasti akan terus ngotot sampai dia mendapatkan keinginannya."

"Apa yang kau tahu?" Yong Doo berkata, ikut terpancing oleh gosip Minho yang seperti layanan infotaiment.

"Yang aku tahu, Kyuhyun memaksa harus mendapatkan salah satu Little Naga Biru. Aku sempat mendengar, nama Kim Yesung disebut."

"What? Jadi kamu menguping pembicaraan orang lain?" Minho menutup telinganya dari teriakan Yong Doo.

"Lalu?"

"Lalu..." Minho memandang kearah Siwon, akhirnya menyadari kalau Siwon mulai tersulut emosinya, "Kalau tidak salah dia menyebut orang di acara waktu itu yang berusaha memfitnahnya. Dengan rencana pembunuhan terhadap Little Naga Biru"

"Komplit sekali beritamu," sindir Yong Doo. Siwon di sebelahnya langsung mengembalikan stik biliar tadi ke tempatnya. Cho Kyuhyun... Siwon mengumpat, apa yang harus kulakukan lagi agar kau percaya padaku...dan kau harus sampai membawa namja itu masuk ke masalah kita.

Pertemuannya dengan Ayahnya kembali berputar dalam ingatannya:

"Bagaimana mungkin aku bisa menyerahkannya kepada Yong Doo atau Minho? Kau tahu sendiri bagaimana mereka jika bekerja, tak akan pernah serius. Aku hanya bisa memercayaimu untuk melindunginya. Hanya kau..."

Kemudian ayahya meletakkan sebuah laptop di depan Siwon. Layarnya masih menyala menampilkan aktivitas harian Kim Yesung yang diambilnya diam-diam.

Choi Ki Ho telah menyerahkan tugas untuk melindungi namja itu kepadanya.

Memberinya sebuah kepercayaan. Namun masalahnya, Siwon justru tidak memercayai dirinya sendiri. Seperti yang dia bilang tadi, dia hanya takut kehilangan, seperti ia kehilangan Kim Jong Woon.

.

.

.

"Ada apa Ayahku mencarimu?"

"Hanya menanyakan soal cafeku..." Yesung mengerucutkan bibir, "Ia ingin membantu... mencarikan tenaga karena aku dan Taeyon berada di sini."

"Lalu?"

"Aku bilang, sebaiknya aku pulang saja, tapi Choi Ki Ho tidak setuju..."

"Tentu saja, dia takkan setuju!"

Mata Yesung membulat.

"Tahukah kau apa yang akan terjadi padamu, kalau kau kembali ke kehidupanmu sebelumnya? Tidak sedikit orang yang akan mencelakaimu. Hanya untuk melawan kami. Dan bukan hanya itu, orang-orang disekitarmu— teman, sahabat, mungkin anak-anak panti juga,

takkan luput dari sasaran mereka."

"Bagaimana kalau aku tidak kembali ke Busan?"

Minho menelengkan kepala, bingung. Namun Yesung melanjutkan ucapannya, "Aku ingin melanjutkan kuliahku di Jepang. Apakah mereka akan mencariku di sana juga?"

Kedua mata cokelat Minho menatapnya tajam, sebelum namja itu mengacak rambut perunggunya dengan gemas. Tak heran banyak yeoja atau namja yang terpikat olehnya, Yesung membatin.

Minho memang namja yang sangat ramah, cute, dan menggemaskan. Ingin sekali Yesung memercayainya. Kalau saja Minho bukan seorang mafia..

"Kau kan bisa melanjutkan kuliahmu di sini. Ayahku tidak akan keberatan jika anaknya melanjutkan sekolah. Pendidikan juga penting baginya."

Yesung tertawa hambar, "Apa yang bisa kupercaya dari para penjahat seperti kalian?"

"Apa maksudmu?" Minho mendecakkan lidah, agak tersinggung.

"Cho Kyuhyun..." Yesung menyebutnya seperti menyebutkan nama monster, "Bukankah kalian pernah mengatakannya sewaktu acara waktu itu? Kerjasama itu?"

"Hal ini tidak ada hubungannya dengan kalian. Yang dimaksud kerjasama adalah: dia ikut mendapatkan keuntungan dalam proyek tanpa keluar modal. Semacam ganti rugi untuk insiden geng Kobra itu."

"Teori yang bagus," Yesung tertawa dengan nada sumbang, "Mungkin begitu... kalau saja Ayahmu tidak mengatakan kalau Kyuhyun ingin bertemu aku..."

"Apa?"

"Aku tak tahu apa maksudnya, atau aku tak cukup cerdas untuk tahu mengapa dia berkata akan meminta aku untuk menjadi miliknya... Dia juga bilang posisi itu lebih terhormat bagi Little Naga Biru."

Minho langsung merasa ada yang tidak beres. Dia tiba-tiba memukul setirnya, "Segera, huh?" Minho mengumpat sebal, sembari membetulkan spion di atas kepalanya. Otomatis, Yesung ikut menengok ke belakang, melihat sebuah Nissam X-trail di belakang mereka.

"Ada apa?"

Minho memelankan laju mobilnya. Yesung bergidik. Mobil di belakang mereka jelas-jelas memiliki maksud buruk. Beberapa kali mobil itu berusaha memepet BMW Minho dan tidak berusaha mengubah jalurnya. Dengan sengaja Nissan itu menyalip mobil Minho dan meluncur secara zigzag menghalangi BMW Minho meloloskan diri. Nissan X-Trail itu akhirnya berhasil melesak mobil Minho hingga ke pinggir, memaksanya menepikan mobil, lalu berhenti.

Seorang namja muda berwajah oriental menghampiri mereka. Yesung merasa familier dengan penampilannya. Rambut hitam licinnya ditutup topi bulat berwarna hitam.

Namja berwajah oriental itu membuat Minho lebih waspada, melindungi Yesung di belakang punggungnya, tepat ketika mereka dipaksa turun dari mobil.

Namja itu mendekati mereka berdua dengan sikap cuek. Minho mendahulinya berkata,

"Chen... ada urusan apa kamu ke sini?"

"Kuharap kalian tidak lupa dengan permintaan Kyuhyun Hyung tentang..."

Minho tertawa, berbeda dengan keramahannya selama ini, ada sesuatu yang membuat Yesung sedikit merinding melihatnya. Tawanya terdengar berbahaya. Yesung sedikit bergidik dibuatnya. Seperti baru menyadari kalau orang yang bersamanya adalah seorang mafia yang hidup dari banyak perkelahian.

Minho melipat kedua tangannya dengan arogan, tidak membiarkan Chen puas atas keberhasilannya mencegat mereka, "Kami belum membuat janji apa-apa padanya Chen..."

"Shut up!" Chen memaki Minho, "Serahkan saja Little Naga Biru..." ia mulai mengarahkan pandangannya pada Yesung.

"Dia pacarku!" sergah Minho cepat, menarik Yesung dan memegang erat bahunya. Hati Yesung mencelos seketika, ketika pegangan itu berubah menjadi cengkeraman yang menyakitkan. Dia hanya berusaha melindungiku... Yesung membatin, melihat kedua rahang Minho mulai mengeras.

Tangan kanannya mengepal hingga urat di tangannya tampak membiru.

Chen mendekati Yesung, menatapnya dengan tatapan curiga. Yesung tahu, semuanya tidak akan berjalan dengan mudah. Chen masih berdiri sambil mengetuk-ngetukkan telunjuk tangan kanannya.

"Kyuhyun Hyung masih menunggu." Chen kembali berbicara pada Minho, "Sayangnya, aku tahu.. kalau namja ini sama sekali bukan pacarmu!"

Chen mendekati Yesung dan Minho, menyambar tangan Yesung yang berada di dekatnya. Yesung meronta di tengah cengkeraman tangan Minho dan pegangan Chen, berhasil menghempaskan tangan Chen, namun saat itu, pistol Chen langsung mengarah padanya. Minho terpaku di tempat, sampai menemukan celah menyerang yang membuat Chen menjatuhkan pistolnya.

Perkelahian kedua orang itu tidak terelakkan lagi. Yesung melihat serangan demi serangan dilancarkan, melukai Minho dan Chen. Minho adalah petarung yang tangguh. Namun serangan Chen dilancarkan secara brutal. Chen baru saja melancarkan tendangan ke bagian perut Minho, membuat Minho tersentak, namun sesaat kemudian, Minho balik menyerang Chen. Pertarungan kedua orang itu masih berimbang, menyisakan ketakutan dalam diri Yesung.

Yesung mengkeret di tempat. Kedua tangannya membeku sedingin es. Namja itu tidak berani

bergerak sama sekali. Ia ingin Minho segera mengalahkan Chen, namun bukan itu yang

terjadi... perkelahian belum juga usai, ketika mendadak sebuah Ferrari merah datang ke dekat

mereka, beserta iringan dua mobil Honda Civic di belakangnya. Chen langsung tersenyum menang, melihat bala bantuannya datang.

Seorang namja keluar dari Ferrari itu. Auranya sangat dominan, sepertinya memaksa

segala sesuatu di dekatnya menunduk dan bersembunyi.

Wajahnya yang keras dan menawan terpahat sempurna dibalik rambut coklat kemerahan. Meski begitu, saat itu pandangan matanya benar-benar mematikan sehingga Yesung bisa merasakan getaran pada tubuh Minho.

Namja itu berdiri seolah ia adalah pusat dunia. Yesung langsung mengutuk kebodohan dirinya. Dan baru pada saat itu Yesung mengetahui, kalau dia telah membuat salah satu kesalahan terbesar dalam hidupnya. Karena ia sama sekali tidak mengenal Cho Kyuhyun, meskipun ia pernah berbicara dan berdebat dengan namja itu sebelumnya.

Kim Yesung, kau pasti sudah gila! Yesung merasakan es mulai menjalari kakinya, hingga

membeku. Kau akan membunuh dirimu sendiri! Dia menatap sosok kokoh yang berjalan menghampirinya dengan langkah-langkah mantap. Keinginan melarikan diri tertanam kuat di benaknya, namun kakinya telah membeku hingga tak bisa digerakkan.

Sosok itu—Cho Kyuhyun—saat itu benar-benar tampak menakutkan Cho Kyuhyun memandang Yesung dengan pandangan sama seperti sebelumnya, masih sarat ejekan, namun kali ini bercampur ancaman. Yesung menggigit bibir bawahnya, sempat menoleh sedikit ke arah Minho yang sama sepertinya, tak bisa berbicara.

"Senang bisa berjumpa lagi, Taeyang..." suara semanis madu beracun itu mengalun bagai nyanyian di telinga Yesung. Tetap manis dan mematikan.

"Sekarang katakan bagaimana aku bisa membelimu—" Cho Kyuhyun berkata pelan, "Kau sudah jatuh ke tanganku."

"Aku—"

Belum sempat Yesung berbicara, tangan Kyuhyun telah menarik Yesung dan mendorongnya ke kap mobil di depannya. Yesung ingin memberontak, namun tangan Kyuhyun mencengkeram lengannya dengan sangat kuat. Kemudian Kyuhyun membelenggu kedua tangannya dan membawa tubuhnya menempel di atas kap mobil.

"Bukankah kau ingin melawanku?" napas Kyuhyun menari-nari di atas hidung Yesung. Yesung dapat melihat warna gelap di dalam mata namja itu. Helai lembut kemerahan rambutnya, juga garis-garis sempurna di wajah namja itu.

Waktu tiba-tiba terasa berubah menjadi sangat lambat. Kyuhyun tersenyum kepadanya, dan Yesung dapat merasakan namja itu telah membawa paksa bibir Yesung ke atas bibirnya, menciumnya dengan kasar dan beringas. Ia tak sempat berkelit, semenjak kedua tangan Kyuhyun berubah menjadi perangkap—membelenggu tubuhnya di kap mobil itu. Tak ada pikiran lain yang terlintas di benak Yesung, kecuali dia harus melepaskan diri dari namja itu. Secepatnya.

Kyuhyun melepaskan ciumannya. Seulas senyum penuh ejek terlihat di wajahnya, kemudian pegangan namja itu terlepas. Dia melepaskan tangan Yesung, merengkuh dagunya, dan mendaratkan ciuman kecil di bibir Yesung. Membuat namja itu panik setengah mati, mendorong namja itu menjauh darinya.

Dan saat itulah Yesung melihat sepucuk pistol yang terselip di jaket Kyuhyun. Yesung sama sekali belum pernah menyentuh benda semacam itu. Namun, dibutakan serangan paniknya yang membabi buta, Yesung menghabiskan seluruh keberaniannya untuk mengangkat dan menodongkan pistol itu tepat di depan hidung Kyuhyun. Yesung membenci Kyuhyun karena telah mencuri ciuman itu darinya.

Pistol itu terasa berat di tangan Yesung. Namun dia membulatkan tekad untuk menyelamatkan harga dirinya. Tubuhnya bergetar hebat ketika ia merasakan dingin logam di kedua tangannya.

Refleks, Kyuhyun mundur melihat ujung pistol itu terarah kepadanya, namun ekspresi wajahnya masih tetap tenang seperti sebelumnya. Dia memang ketua klan mafia yang menakutkan...

Yesung menarik napas panjang, perutnya mendadak bergejolak. Dia benar-benar takut. Ekspresi wajahnya tak dapat menyembunyikan hal itu. Yesung dapat merasakan jantungnya mulai berusaha melompat keluar. Dia harus segera melarikan diri. Harus!

"Jangan harap kau bisa seenaknya padaku!" Yesung berteriak histeris, "Sudah kubilang manusia bukan barang jualan."

Kyuhyun terkekeh, "Kau sedang mengancamku?"

"Aku memang tak pintar menembak, tapi aku tak tahu apa aku bisa membunuhmu dengan pistol ini... mau bertaruh?"

Seorang namja biasa menodongkan senjata pada ketua mafia! Semua anak buat Kyuhyun di tempat itu membelalak terperangah. Melihat ada kesempatan, Yesung langsung berlari menembus namja itu dan gerombolannya, menjatuhkan pistol itu, dan mempercepat langkahnya.

Ia sempat mendengar Kyuhyun berkata, "Larilah selagi bisa..." dan Yesung tidak menyadari,

kalau mulai saat itu, ia takkan bisa melepaskan diri dari namja itu... Selamanya.

.

.

.

Kim Yesung tak pernah merasa bahwa hidupnya akan berubah 180 derajat dengan cepat. Pikirannya benar-benar kacau. Ingin rasanya ia menceburkan diri ke dalam sebuah sungai,hanya untuk melupakan kejadian nista yang menimpanya. Bagaimana bisa dia terlibat begitu jauh dengan namja-namja berbahaya itu? Yesung berkali-kali mengutuk dirinya.

Seharusnya dalam konferensi pers itu dia tidak menjelek-jelekkan Cho Kyuhyun... Seharusnya dia tidak menyelinap keluar di malam pesta itu... Seharusnya dia tidak membiarkan namja itu menciumnya... seharusnya— Yesung menyentuh bibirnya sendiri.

Rasanya aneh, ketika bibir tebal Kyuhyun memaksa mencium bibirnya. Rasanya manis, memabukan dan...

"Ahhhhhhh!" Yesung berteriak frustasi.

"Aku sedang mencarimu,"

Bagus... Lagi-lagi dia...

Tebakannya kali ini tak akan salah. Kyuhyun telah berada disana. Berdiri tepat di ujung koridor, dekat pintu tinggi yang menjadi satu-satunya pintu masuk ke ruangan dimana Yesung berada sekarang.

Yesung melipat kedua tangannya. Berpikir bagaimana cara melewati namja itu, namun pikirannya nyaris kusut. Bagaimana kau bisa berpikir tenang jika harus berhadapan dengan orang ini? Yesung memaki dalam hati.

"Apa yang kau lakukan disini?!" dia menghardik namja itu dengan marah. Kyuhyun berdiri dengan tenang di tempatnya. Sinar matahari bermain di kecoklatan rambutnya, membuat gradasi warna yang elegan.

"Tentu saja bertemu denganmu, Apa aku tidak boleh bertemu denganmu" dia berkata sarkastis.

Yesung melengos kesal, memacu langkahnya dengan cepat. Dia telah melupakan keinginan untuk pergi dengan selamat. Benar saja, dalam sesaat, lengannya telah disambar oleh namja itu.

"Tidak secepat itu, Taeyang..." Kyuhyun menyunggingkan senyuman mengejek itu lagi, "Beginikah sikap terhadap calon tunanganmu?"

Salah satu sudut bibir Yesung mengejang. Namja itu benar-benar marah, "Siapa pun tak berhak mengatur hidupku! Dan aku harus mengatakan kepadamu kalau aku sendiri, tidak pernah akan bersedia melakukan perjanjian konyol tiga klan, atau apa pun itu!"

"Masih ingat apa yang dapat kulakukan kepadamu?" Kyuhyun mendekatkan wajahnya ke Yesung dan mempererat cengkeramannya di tangan Yesung, membuat semberut merah menjalari pipi Yesung. Darah Yesung mendidih melewati ubunubunnya.

"Aku bisa mendapatkan lebih dari bibirmu itu, kau tahu mungkin kita bisa...". Kyuhyun memandangi Yesung dari ujung kepala sampai kaki, mendekatinya... kemudian menarik Yesung ke dalam pelukannya.

Yesung segera memberontak dan melepas tangan Kyuhyun dari pinggannya, dengan segera dia menjauh. "Dengar tuan muda cabul jangan berani mendekat!" teriak Yesung, jantungnya benar- benar berdetak cepat saat Kyuhyun memeluknya seperti itu.

Kyuhyun tertawa mendengar sebutan barunya, "Bahkan tak ada orang yang berani mengataiku selama ini Taeyang. Apa kau tak takut? ucapan Kyuhyun bagaikan silet, dingin di telinga Yesung,

"Aku tidak takut." Suara Yesung terdengar meninggi, "Lebih baik mati ketimbang jatuh di tangan penjahat besar sepertimu."

"Oh, ya?" Kyuhyun menyeringai, "Itukah yang kau dengar tentang aku?"

"Tentu saja, apa yang kudengar tentang Cho Kyuhyun tak ada yang baik. Kau ini penjahat besar, playboy, aneh, dan tidak berprikemanusiaan. Juga kau ini..." Ups. Kau keceplosan Kim Yesung. Mengapa kau berkata yang tidak-tidak di depan namja itu. Yesung membatin.

"Hahahaha. Lagi-lagi kau menjelek-jelekan aku. Apa itu sudah menjadi hobimu?. Kau tahu setiap orang yang mengataiku, tak akan mudah untuk aku maafkan. Tapi jika itu kau..." Kyuhyun kembali mendekati Yesung, mengangkat wajahnya dan memberikan kecupan ringan di bibirnya. "Akan aku maafkan. Karena sekarang kau adalah milikku"

Yesung kembali mendorong kasar tubuh Kyuhyun "Kau gila!". Kyuhyun benar-benar bajingan brengsek, ingin sekali Yesung melayangkan pukulan telak ke wajahnya. Namun, masalahnya dia tidak akan pernah bisa kuat untuk melakukan hal itu. Namja itu akhirnya mendengus kesal dan memilih untuk melalui jalan sempit yang telah tanpa sengaja terbuka di depannya...

Sebelum dia menabrak sosok lain yang berjalan dari arah berlawanan.

Suara selembut beledu itu terdengar dingin saat mengatakan kalimatnya.

"Ketua klan Naga Timur Asia... rupanya Anda sedang kelewat santai hingga jauh-jauh datang kemari..."

Yesung mengangkat wajahnya, melihat Siwon berdiri di depannya. Ketenangan mengaliri wajah Pangeran Naga Biru itu, seolah dia sedang berbicara dengan salah satu teman sekolahnya. Jantung Yesung hampir lupa akan tugasnya, saat namja itu mencari-cari udara untuk bernapas.

Choi Siwon...

Untuk pertama kalinya Yesung melihat sosok itu dari dekat, melihat rona keemasan di rambut

mahoninya, wajahnya yang kokoh dan terpahat halus...

Oh, ... Perasaan aneh ini datang lagi. Perasaan yang sama saat pertama kali melihat Choi Siwon di televisi.

Kyuhyun tertawa melihat kedatangan Siwon. Namun Siwon hanya mengerling tajam. Mata birunya berkilat-kilat saat pandangannya bertemu dengan Cho Kyuhyun.

"Kejutan yang menyenangkan... Pangeran Naga Biru sampai khusus datang menemuiku."

Suara Siwon mengeras sekeras baja, "Kita harus bicara Cho Kyuhyun..." dia menarik lengan Kyuhyun, "Ikut denganku. Aku tidak akan membiarkan kau membawa-bawa namja itu ke masalah kita"

"Oh, ya. Wah kau sekarang sudah berubah menjadi Hyung yang baik ya..?"Kyuhyun menjawab asal. Kyuhyun mengikuti langkah Siwon dan meninggalkan Yesung yang bingung, melihat kepergian mereka berdua. "Namja itu, siapa yang mereka maksudkan?"

.

.

"Apa yang hendak kau lakukan Kyuhyun-ah."

"Jangan panggil namaku seperti itu Choi Siwon, kita sudah bukan teman lagi"

"Sudah cukup Kyuhyun-ah. Hentikan semua ini"

Kyuhyun melipat kedua tangannya, terlihat tak puas, "Hah. Apa yang kau bilang?. Hentikan. Setelah kau membuat aku kehilangan Jong Woon. Kau ini...

"CUKUP.. Cho Kyuhyun-". Siwon meninggikan nada suaranya. "Sudah beberapakali ku bilang bahwa kematian Kim Jong Woon bukanlah ulah dari Naga Biru.

"Oh ya, bukankah Jong woon Hyung menghilang saat bersamamu kemudian dia ditemukan mati di daerah kekuasaan Naga Biru".

"Itu tidak seperti yang kau bayangkan. Kyuhyun-ah". Suara Siwon kembali melembut. "Aku tak tahu apa yang terjadi. Saat itu, kami dikelilingi oleh orang yang tidak dikenal, mereka mengalahkanku dan membawa Jong Woon Hyung pergi. Sebelum aku kehilangan kesadaran, aku melihat tato naga yang persis dimiliki oleh Kris Hyung".

"Cukup, Choi Siwon. Ini tidak ada hubungannya dengan Hyungku..."Kyuhun menarik kerah baju Siwon, hendak memukulnya tapi melihat kesungguhan dimata Choi Siwon Kyuhyun melepaskannya dan memilih untuk pergi meninggalkan Siwon.

.

.

Cho Kyuhyun menutup kaca mobil Ferrarinya dengan gemas. Namja itu mengambil sebuah foto yang tergeletak di dekatnya. Foto yang diambil dari jarak jauh dan diambil secara candid.

Wajah yang nyaris sama sepertinya, rambut yang hitam gelap, tato naga yang melingkar di pelipisnya. Kyuhyun membolak-balik foto di tangannya.

Saat itu, kami dikelilingi oleh orang yang tidak dikenal, mereka mengalahkanku dan membawa Jong Woon Hyung pergi. Sebelum aku kehilangan kesadaran, aku melihat tato naga yang persis dimiliki oleh Kris Hyung... Kyuhyun teringat perkataan Siwon.

"Kris Hyung," gumam Kyuhyun, nyaris tak bersuara. Seluruh dunia seakan berputar-putar di kepala Kyuhyun. Kejadian sepuluh tahun lalu kembali terlukis di dalam benaknya...

Flashback

Sore yang amat suram di kumpulan pertokoan kosong. Kyuhyun berjalan tersaaruk-saruk, menyeret sebelah kakinya yang terluka. Ia tahu, Kris masih mengejarnya. Bahkan sudah amat dekat. Tawa Hyungnya itu menggema di sudut lorong kosong itu.

"Kemarilah, nae dongsaeng ..." Kris berkata dari sela tawanya, "Aku janji, akan membunuhmu dengan cepat..."

Enak saja! Kyuhyun menyeret kakinya lagi, namun Kris sudah berada satu meter di belakangnya. Bau bensin langsung menyengat hidung Kyuhyun. Kyuhyun berpaling, mencari dari mana asal bau itu. Rupanya Kris sengaja menyiram bensin di atas jalanan. Jadi, kalau pun Kyuhyun berhasil lolos dari Kris, ia takkan mampu melewati lingkatan api yang akan dibuat oleh Hyungnya itu.

"Kau itu Hyungku..." Kyuhyun berkata lemah, sambil memandang Kris, geram.

"Karena itulah seharusnya Ayah memilihku, bukan kau..." Kris menjawab santai, "Yah... orang tua itu pantas mati..." Kris berjalan memutari Kyuhyun. Tak lama kemudian, ia mengambil korek api dari sakunya, memainkannya di salah satu tangannya.

"Kau akan mati... sama seperti ayah..."

Kris melemparkan korek api itu tepat ke arah cairan bensin, membuat api menyebar, membentuk setengah lingkaran di depan Kyuhyun. Sebagiam api menyebar ke belakang mereka, semakin menguar menghanguskan segala sesuatu di dekatnya. Kyuhyun menutup matanya, mendadak disilaukan oleh api yang berkobar-kobar. Ia melihat Kris menarik pistol, lalu mengacungkannya ke depan.

Habislah! Kyuhyun memejamkan mata, merasa hidupnya tak lama lagi akan berakhir... tapi tidak... tepat saat Kris akan menembakkan pistol itu, seorang namja datang dari kobaran api menyerang Kris dengan sebilah tongkat, sampai namja itu tersungkur di lantai. Namja itu berhasil menyelamatkannya, dan menjadi pelindung Cho Kyuhyun untuk selamanya.

Flashback End

"Aku merindukanmu, Hyung". Kyuhyun hanya bisa menghela napas mengingat bagaimana dia bertemu pertama kali dengannya. Namja yang sangat berarti baginya. Dia adalah alasan Kyuhyun untuk hidup, Tapi saat ini dia tidak ada, meninggalkan Kyuhyun dalam kesendiriaan di dunia ini.

Dengan gelisah diputarnya foto Kris di udara. Kyuhyun menyurukkan tangannya ke dalam sakunya, menekan sebuah nomor dari sana. Tangannya mengetuk-ngetuk tak sabar saat deringan itu membalas teleponnya.

Dering pertama... Dering kedua..

Telepon itu dijawab saat deringan ketiga

"Kau sudah yakin akan rencanamu Hyung?" Chen berkata dengan perlahan.

"Semua akan berjalan dengan kehendakku, Chen-ah."

Chen tertawa, "Semua selalu berjalan sesuai kehendakmu,Hyung..."

Kyuhyun mengerutkan alisnya, "Aku tidak ingin Kris Hyung mengetahui tentang Kim Yesung. atau yang lain menyentuhnya. Aku akan lebih senang melihat kehancuran Naga Biru dengan mataku sendiri"

T.B.C

Hallllooooooooo!

Author come back, gak lama kan sekarang mah updatenya?

Hahahaha

Baca review di chapter sebelumnya, masih banyak yang binggung ya sama ceritanya.

Siwon sama Yesung itu, baru pertama kali ketemu di chapter 2. Ceritanya mah Yesung teh cinta pada pandangan pertama sama Siwon. Ya gitulah intinya

Hehehehe

Di FF ini ada 3 klan

Klan Naga Biru, Klan Naga Timur, dan Klan Naga Hitam..

Kalau masih banyak yang binggung tanyakan saja ya..

Dan Thank you yang udah review

Maaf kalau belum bisa disebutkan satu-satu

Hehehe

Aku pilih cast Kris, karena wajahnya mendukung buat jadi peran jahat. Setelah dipikir-pikir Idol yang wajahnya jutek yang aku tahu cuman Kris doang

Sudahlah, Aku mau minta saran dan kritiknya

I'll Wait For Review

Thank You, Chingudeul