Sepenggal cerita...

.

.

.

Remember Me

Pair : NaruSasu

Genre : Romance

Warning! : BL, Shounen ai, malexmale, AU,OOC, dll.

.

.

.

.

Kantor Hokage terletak tepat di bawah bukit berukiran patung-patung wajah Hokage terdahulu. Pahatan batu raksasa tersebut berjumlah 7 bentuk paras sang pemimpin desa. Naruto berdiri tegap di tengah atap bangunan, iris Shappire-nya memperhatikannya seksama. Sembari berkacak pinggang, dia mendongak, mengerutkan alis tidak puas.

"Tidak bagus..." gumamnya beralih melipat kedua tangan di dada. Bibirnya mengerucut ngambek.

Tiba-tiba, pintu yang menghubungkan jalan ke atap gedung terbuka. Memperlihatkan seorang pemuda raven berseragam jounin yang berjalan menuju ke arah lelaki pirang jabrik.

"Rupanya kau di sini, Dobe. Sedang apa kau? Sakura sampai ribut mencarimu karena kau belum menyelesaikan kerjaanmu," kata Sasuke datar namun terselip nada sebal.

"Oh, Teme," Naruto menoleh kejut. "Warui... mataku capek melihat tumpukan kertas berisi laporan entah apa yang pasti menyebalkan itu, jadi aku keluar cari angin," jelasnya sambil mengulas cengengesan di atas muka bertanda lahir kumis kucingnya.

"Itu tugasmu, baka. Kalau kau kesal, cepat diselesaikan. Baru setelah itu kau bisa bersantai seenakmu," balas Sasuke ketus.

Bahu Naruto merosot. "Makanya bantu aku, Teme..."

"Ogah, aku nggak mau kena marah Tsunade-sama," tolak remaja Uchiha.

Naruto pundung. Meracau tak jelas sambil memainkan ujung jubah Hokage-nya. Benar-benar kayak anak kecil yang memelas pada ibunya.

Sasuke mendesah. "Lalu apa yang kau lakukan di sini?" tanyanya.

Naruto mengangkat wajahnya. lepas dari pose tadi. "Ooh, aku sedang melihat ukiran patung diriku," terangnya seraya menunjuk pahatan batu paling ujung yang berbentuk kepalanya sendiri, tepat berada di samping patung muka Kakashi.

Onyx hitam Sasuke ikut memandangnya. "Kenapa memangnya?"

"Lihat bagian pipiku," intruksi Naruto. "Goresan tanda lahirku sangat jelek, membuatku terlihat tua saja," dengusnya.

Sasuke mengerjab. Menurutnya ukiran batu Naruto cukup bagus. Agak mirip dengan paras Hokage keempat, hanya dibedakan oleh tambahan tanda lahir di pipi. "Kau ini... hargailah karya orang. Mereka membuatnya sebaik mungkin untuk menghormatimu tahu."

"Hee..." Naruto menyeringai. "Sejak kapan kau mulai menghargai orang lain Teme?"

"Kau minta pendapatku 'kan? jadi jangan komentar!" tatap Sasuke tajam.

"Ha'i...tapi tetap saja bikin aku nggak puas," eluh Naruto lagi.

"Sejak kapan sih kau jadi berlebihan begini?"

"Bukan berlebihan. Aku hanya mengkritik."

"Sama saja."

"Haah, Kiba pasti menertawai patungku terus sekarang."

Pelipis Sasuke berkedut. "Memang kenapa? Peduli amat kau dengan omongan orang lain! Biasanya kau sah-sah saja," jengkelnya.

Naruto terdiam. Manik birunya menatap Sasuke lurus nan lembut. "Because... I want you to always remember me when you see the statue..." ungkapnya bersuara rendah.

Mata Sasuke Membulat. Bibirnya terbuka sedikit karena kaget mendengar pernyataan Naruto. Sang Uzumaki mengangkat satu tangan berkulit tannya. Dia menyentuhkan ujung jemarinya ke bibir bawah milik si raven. Membelainya sekilas sebelum menakup pipi kirinya.

"Suke..." panggil Naruto husky.

"...baka..." ucap Sasuke lirih. Wajahnya memunculkan sedikit rona merah. "Kau selalu ada bersamaku, buat apa aku harus melihat patung itu bila kau ada di hadapanku?" dengusnya.

Kelopak mata Naruto berkedip dua kali. Sebelum akhirnya dia tersenyum memahami maksud kekasihnya. "Aa, kau benar..."

Dia mendekat. Menghapus jarak yang terbentang di antara keduanya. Berkehendak menyentuhkan bibirnya dengan milik Sasuke. menciumnya lembut. Melumatnya penuh sayang. Sasuke merapatkan dirinya pada Naruto. Membalas kecupan pemuda yang menjadi pasangan hidupnya.

"Sepertinya aku tak perlu memusingkannya lagi," ujar Naruto menyengir lebar selepas tautan mereka.

"Tentu saja, usuratonkachi," decak Sasuke.

"Ooh, jadi begini ya rupanya..."

Mendengar nada sing-song dari suara feminin yang mengalun tiba-tiba, serentak membuat Naruto dan Sasuke memalingkan wajah ke tempat jurusnya berasal. Di ambang pintu atap, berdiri gadis jounin berambut bubble-gum. Kedua tangannya bersidekap. Mata hijaunya memincing tajam dengan seringaian sebal. Aura mencekam menguar dari balik tubuhnya.

"Ukh, Sakura-chan..." Naruto menelan ludah panik. Ketangkap basah oleh asistennya.

Pelipis Sakura mengernyit. "Aku mencarimu sejak tadi Hokage-sama. Tumpukan berkas di mejamu belum selesai, tapi anda malah bermesraan dengan Sasuke. Anda mau kuhajar hah?" katanya bernada sopan menusuk.

GLEK!

Naruto gemetaran. Kakinya mundur sekangkah, bersiap kabur.

Sakura menangkap naitnya. "Jangan coba-coba kabur lagi kau, Narutoo!"

"HWAAA!"

Sasuke hanya menggelengkan kepala pasrah.

.

.

.

.

End

.

.

.

ada yang minta aq buat nglanjutin nih fic, oke deh aq turutin...

buat yang menunggu Eager, aq segera update bulan ini ^^