Sepenggal cerita...

Aku ganti judul awalnya karena aku mau bikin fic ini jadi drable bersambung... tpi jangan samakan seperti punya rururei sebab ini punyaku sendiri! Θ_Θ

.

.

.

Bond

Pair : NaruSasu

Genre : Romance

Warning! : BL, Shounen ai, malexmale, Semi-Canon, OOC, typo nyelip, dll.

.

.

.

.

Sebuah headban lambang ninja Konoha jatuh tergeletak di atas lantai kayu. Helaian pirang sewarna mentari cerah itu tergerai bebas, menjuntai hingga ke tengkuk leher. Naruto membuka kelopak matanya. Menampakkan sepasang iris Shappire biru langit yang menahtahi wajah bertanda lahir kumis kucingnya. Gurat ketegasan muncul menghiasi raut parasnya. Menunjukan bila dirinya telah menjadi seorang pemuda yang jantan dan berani.

Tangannya mulai melepas jubah Hokage yang semula dipakainya. Kemudian digantungkan di hanger belakang pintu kamar. Disusul vest jounin hijau dan kaus hitam, namun kali ini dilempar ke keranjang cuci di sudut ruangan. Meninggalkan tubuhnya yang hanya mengenakan celana gelap. Naruto beralih duduk di atas kasur berseprai navy blue. Berniat membuka ikatan perban kain yang melilit kedua kakinya. Begitu selesai dia kembali melemparkannya ke atas meja kecil samping ranjang.

Pintu kamar tiba-tiba terbuka, diiringi dengan masuknya pemuda bersurai raven. Sasuke melangkah pelan menuju Naruto dan berdiri di hadapannya. "...Kapan pulangnya?" ucapnya datar.

Naruto mendongak, menatap teduh manik Onyx yang mempercantik wajah putih kekasihnya. Aah, dia baru ingat kalau Sasuke akan menginap di kediamannya malam ini. "...Hm, baru saja," balasnya bersuara lirih.

Sasuke mengerjap. Memperhatikan ekspresi remaja topless di depannya yang tampak berbeda dari biasanya. Terlihat tidak semangat. "...Ada apa?" tanyanya.

"Tidak ada apa-apa," kata Naruto menghela nafas. "...Hanya merasa capek."

"Kalau begitu istirahatlah," saran Sasuke. "Aku mau buat makan malam dulu."

"Nanti saja," Naruto meraih pinggang ramping Sasuke, menuntunnya untuk duduk di pangkuannya. Kemudian merapatkan dua tubuh mereka dan memeluknya erat. Dia mengubur wajahnya dalam lengkukan leher Uchiha. Menghirup aroma papermint yang menjadi favoritnya. "...tetaplah di sini," pintanya.

Sasuke mengerutkan alis. Melirik tindakan Uzumaki muda sambil bertanya-tanya dalam hati. Entah kenapa dia seperti berlaku melankolis sekarang. Kelihatannya memang sudah terjadi sesuatu. "Tell me, Dobe. What's going on?" tanyanya sembari mengangkat kedua tangan untuk merangkul pundak kokoh remaja sunkiss.

Guraman meluncur lirih dari bibir Naruto. Dia melonggarkan rengkuhannya dan menatap Sasuke dengan sorotan mata jengkel. "Hh, I'm upset, okay?" dongkolnya.

Sasuke mengerjab heran. "Kenapa?"

"Karin datang ke kantorku bersama Suigetsu—"

"—Karin? Suigetsu? Kapan mereka kembali?" potong Sasuke.

"Siang tadi," jawab Naruto. "Jangan menyelaku Sasuke. Biarkan aku menyelesaikannya," rengutnya.

"Hn, lalu apa masalahnya?" sambung Sasuke mempersilahkan.

"Si rambut merah itu membuatku jengkel. Dia bilang aku tidak pantas untukmu. 'Uchiha Sasuke harusnya bersama seorang wanita yang dapat memberinya keturunan agar bisa meneruskan darah Uchiha dan membangun Klannya kembali. Bukannya bersama lelaki yang kolot dan bodoh sepertimu!'. Begitu katanya!" geram Naruto mengulang ucapan Karin yang ditujukan padanya waktu datang bersama Suigetsu sepulang dari misi.

Para tetua memang membiarkan Karin, Suigetsu, dan Juugo tinggal di desa setelah perang Ninja berakhir beberapa tahun lalu. Selama mereka patuh dan mau mengikuti peraturan, mereka diberikan kebebasan yang sama seperti Sasuke. Yaitu, hidup kembali sebagai ninja yang mengabdikan diri sepenuhnya untuk Konoha.

Sasuke melebarkan matanya tercengang. Tidak menyangka jika Karin-lah yang menjadi objek permasalahan Naruto. Ia tahu kalau selama ini gadis itu menyukainya. Juga sikapnya yang sangat terobsesi pada dirinya. Tapi Sasuke tidak pernah menanggapi Karin sedikitpun, dan menghiraukan keberadaannya sampai sekarang. Namun kali ini, perempuan itu sudah keterlaluan. Mengapa dia harus mengatai Naruto tidak cocok untuknya? Memangnya salah baginya memilih Naruto sebagai kekasih? Salah baginya menjadikan Naruto sebagai lelaki yang akan menemani sisa hidupnya? Karin pikir siapa dia berani memancing amarah pacarnya?

"Aku marah saat dia bilang akan merebutmu dariku! Kalau bisa aku sudah menghabisinya tadi! Tapi aku Hokage! Namaku akan rusak jika aku melukai wanita! Makanya aku langsung pulang dan meninggalkannya bersama Suigetsu begitu saja. Aku ingin bertemu denganmu, Suke," lanjut Uzumaki kembali memeluk Sasuke possesive. Menenggelamkan wajahnya dalam bahu kiri kekasihnya. "Aku tidak mau membiarkanmu sendirian sekarang," gumamnya memejamkan mata rapat.

Remaja raven menghembuskan nafas. Ia melingkarkan kedua tangannya ke badan kekar Naruto. Mengusap punggung lebarnya perlahan untuk menenangkan hatinya. "Naruto, aku tahu bagaimana perasaanmu sekarang. Tapi jangan dimasukkan ke hati," tuturnya.

Mendadak Naruto menarik dirinya. Mencengkram kuat dua lengan Sasuke seraya mendelik tajam. "JANGAN MASUKKAN KE HATI?! KAU PIKIR AKU HARUS DIAM DAN MELIHATMU AKAN DIBAWA PERGI DARIKU BEGITU SAJA?!" semburnya.

"AKU TIDAK BILANG KAU HARUS DIAM! AKU INGIN KAU MENENANGKAN DIRIMU!" teriak Sasuke menatap Naruto tak kalah tajam.

Naruto bungkam. Dia menutup matanya sejenak dan menarik nafas dalam-dalam sebelum mengeluarkannya perlahan. Mencoba menetralkan emosinya yang meledak-ledak jika sudah menyangkut tambatan hatinya.

Sasuke menghela nafas. Beralih menangkupkan dua tangannya ke pipi tan Naruto. Manik kelamnya menatap lurus, seakan ingin merasuki iris biru milik Uzumaki. "Hei, Naru-kun. Aku tahu bagaimana dalamnya hatimu mencintaiku. Dan kau tahu seberapa jauhnya perasaanku mencintaimu. Kau pikir adakah orang yang dapat menyaingi besarnya rasa cinta kita berdua?" ucapnya lembut penuh kesungguhan.

Naruto menggeleng bisu tanpa melepas tautan mata mereka.

"Kalau begitu apa yang kau risaukan?" tanya Sasuke. "Kau sudah bersumpah tidak akan pernah melepaskanku, begitu pula aku. Memangnya apa yang bisa dilakukan Karin untuk memutuskan ikatan hati dan jiwa kita?" bibirnya tersenyum tipis.

"Sejak kapan kau jadi puitis begini, Teme?"

"Oh, jangan komentar!" keki Sasuke melayangkan death-glare.

Naruto terkekeh kecil. Dia mendekat, menyandarkan keningnya pada dahi Sasuke. Jemarinya terangkat membelai sisi wajah Uchiha yang tertutup poni panjang. "I'm sorry, you're right Suke..." bisiknya husky sebelum meraup bibir ranum Sasuke lembut. Memberikan kecupan panjang yang sangat memabukkan.

Sasuke merangkul leher Naruto. Membalas ciuman Hokage muda dengan antusias. Ia memiringkan kepalanya, mengizinkan isi mulutnya dijajahi oleh Naruto. Menyambut tarian lidah dan saling bertukar saliva.

Naruto merebahkan punggungnya ke permukaan empuk ranjang. Membimbing tubuh langsing Sasuke ke atas badannya. Tangan Sasuke berpindah menumpu di dada kekar Naruto. Melepas jalinan bibir mereka sebelum merajut tatapan teduh nan mesra.

"Aku harusnya mengingat hal itu," kata Naruto tersenyum hangat. "Kau adalah hati dan jiwaku, aku tidak ingin kehilanganmu, Suke," ungkapnya merengkuh pinggang Sasuke.

"Begitu juga aku, Naru-kun," ucap Sasuke balas tersenyum.

Keduanya terus dalam posisi yang sama hingga tertidur pulas. Mereka melupakan masalah Karin barusan untuk menuju alam mimpi.

Esok harinya setelah Naruto berangkat kerja, Sasuke melesat menuju apartemen Karin. Dia bermaksud memberikan sedikit pelajaran pada perempuan keturunan Klan Uzumaki itu. Yaitu, dengan mengerjainya habis-habisan.

.

.

.

.

.

End

.

.

.

Jangan flame aku! =.=

Untuk bagian Sasuke mengerjai Karin, bayangkan sendiri kejadiannya okay?