Sepenggal cerita...Θ_Θ
.
.
.
At Midnight
Pair : NaruSasu
Genre : Romance
Warning! : BL, Shounen ai, malexmale, Semi-Canon, OOC, typo nyelip, dll.
.
.
.
.
Di sebuah ruangan yang gelap—karena lampunya dimatikan—, hanya diterangi oleh sebatang lilin yang menyala remang, beberapa remaja terlihat duduk mengitari meja yang ditempati lilin itu. Mereka adalah Naruto, Sasuke, Sakura, Sai, Ino, Shikamaru, Chouji, Kiba, Shino, Hinata, Tenten, dan Lee. The Great teams Konoha.
—DING—DONG—
Jam tua yang berada di sudut ruangan berbunyi keras. Menggema mengiringi atmosfer di sekitar mereka yang memberat. Seolah menjadi penanda akan dimulainya sesuatu.
-PLOK—"Okay—" Kiba menepuk kedua tangannya meminta perhatian kawan-kawannya. Mereka langsung menanggapinya dengan memaku tatapan tajam ke pemuda tersebut. "Jam 10 malam...2 jam lagi kita akan menuju tengah malam," katanya.
Teman-temannya mengangguk kaku. Sebutir keringat muncul mengaliri pelipis mereka. Kecuali Sasuke, Shikamaru, dan Shino yang hanya diam dengan pandangan malas.
"Sebenarnya mengapa kau ingin kita berkumpul di sini?" tanya Shikamaru pada Kiba. Dia tidak tahu apa yang direncanakan ninja anjing itu karena dia langsung diseret kemari sehabis bekerja.
"Tentu saja untuk melakukan sesuatu. Kita akan melakukan uji nyali," ujar Kiba nyengir.
"UJI NYALI?" sentak Naruto terkejut. "Oi, Kiba, kau nggak bilang hal itu padaku! Kau bilang kita hanya berbagi cerita seram doang!" jeritnya.
"Iya, kau juga bilang begitu padaku," Chouji mendukung. Disusul anggukan oleh Sai, Shino, Tenten, dan Lee.
"Iya benar, Kiba-kun, kau berbohong," lirih Hinata, yang dibalas cengengesan gusar Kiba. Kiba merasa bersalah harus membohongi pacarnya yang baru jadian dengannya seminggu lalu.
"Ano Hinata-chan, sebenarnya aku yang menyuruhnya untuk mengatakan hal itu," sanggah Sakura tersenyum manis.
"Iya, habis kalau cuma cerita 'kan nggak asyik. Sekalian aja kita uji nyali~," sambung Ino bernada senang.
"Oi, Teme. Kau tahu hal ini?" bisik Naruto pada Sasuke di sebelahnya.
Sasuke melirik datar. "Hn, Sakura yang memberitahuku."
"Kenapa kau nggak ngasih tahu aku sebelum kesini?" sungut Naruto.
"Buat apa? Ujung-ujungnya walaupun kau tak mau datang, Sakura akan tetap menyeretmu kesini," balas Sasuke cuek.
Naruto cemberut ke arah Sakura yang mengobrol dengan Hinata, Ino, dan Tenten. "Ck, iya juga sih."
"Jadi, kapan kita akan mulai?" tanya Lee antusias yang secara tidak langsung setuju.
"Tu—tunggu, aku belum setuju!" potong Naruto.
"Kau ini Naruto, kita sudah berkumpul disini, masa' mau batal sih?" Ino menyerngit.
"Kau benar-benar takut hantu ya?" tebak Sakura menyeringai lebar.
"Sepertinya begitu," lanjut Sai tersenyum datar. Namun nampak mengejek dimata Naruto.
"Ti—tidak! Lagian yang lain juga belum setujuu!" elak Naruto cepat. Tak mau rahasia memalukannya terbongkar.
"Aku sih setuju saja, mumpung nggak ada kerjaan," Tenten mengedikkan bahu tak peduli.
"Mendokusai~ terserah deh," desau Shikamaru malas.
"Aku juga sedang senggang," ujar Hinata pelan. Shino mengangguk bisu.
Naruto pundung. Merasa kalah karena tak punya pihak yang sependapat dengannya. Sasuke tersenyum, mendengus geli melihat tingkah lucu kekasihnya. Dia menaruh tangannya di bahu kanan Naruto dan mengusapnya pelan.
"Rupanya, Dobe yang telah menjadi Hokage takut pada hal yang tidak realistis," sindir Uchiha.
"Ck—Diam kau, Teme," jengkel Hokage muda.
"Baiklah, mina. Kita akan mulai dengan menarik undian ini," tangan Kiba mengeluarkan sesuatu dari saku. Yaitu beberapa potongan kertas putih yang berbentuk panjang pipih dengan ujungnya dia genggam layaknya lotre.
Kesebelas kawannya segera menyatukan pandangan ke arahnya.
Kiba menggoyangkan kertas-kertasnya. "Kertas-kertas ini memiliki panjang yang sama, tapi ada 6 kertas yang ujungnya kuberi warna sementara yang lain putih kosong. Yaitu, dua warna merah, dua warna biru, dan dua warna hijau," terangnya.
"Kenapa warnanya berbeda?" tanya Chouji tak mengerti.
"Warna itu akan menentukan siapa yang akan menjalankan uji nyali," jawab Kiba.
Lee menyahut. "Ooh, aku tahu. Siapa yang mendapat warna sama, akan menjadi satu tim dalam uji nyali 'kan?"
Kiba mengacungkan jempolnya dengan tangannya yang lain. "Itu benar!"
"Lalu, kenapa hanya ada tiga pasang warna saja?" timpal Shikamaru.
"Kami—aku, Ino, dan Kiba—setuju hanya 3 kelompok saja yang melakukan uji nyali," sambung Sakura.
"Kenapa, Sakura-san?" Sai menggerling.
Ino menimbrung. "Soalnya bakal lama kalo kita semua melakukannya. Tsunade-shisou hanya memberi ijin menggunakan hutan Konoha 2 jam saja."
"Berarti Tsunade-sama tahu hal ini?" tanya Tenten yang dibalas anggukan Ino.
"Berarti tempatnya di hutan Konoha?" lirih Hinata.
Naruto yang mendengarnya langsung merinding. Dia paling benci tempat-tempat yang dianggap angker. Rasanya dia ingin mundur saja dan tidur di kasur nyamanya bersama Sasuke dipelukannya.
"Aku tahu apa yang kaupikirkan, Dobe. Dan jangan coba-coba kabur dari permainan ini," Sasuke menyeringai menantang.
Naruto mendengus. "Baiklah, tapi aku minta imbalan setelah ini selesai," bibirnya menarik seringai mesum.
"Jangan harap," Sasuke memalingkan wajah yang sedikit merona. Tahu apa maksud Naruto.
"Kalau begitu, daripada buang waktu, lebih baik langsung mulai saja," usul Lee sumringah.
"Okay," Kiba mengiyakan. Dia mengulurkan tangannya yang menggenggam lotre ke tengah meja. "Siapa yang dapat kertas warna, akan jadi perserta uji nyali. Dan yang dapat kertas kosong, akan menjadi penonton," jelasnya.
Kesebelas remaja ninja mulai meraih satu ujung dari kumpulan kertas yang dipilihnya masing-masing.
"MULAII!"
—SRAAKK!—
Suara tarikan kertas terpecah di dalam ruangan senyap itu ketika mereka melakukannya bersamaan. Dengan tegang, mereka menatap ujung lain kertas di tangannya masing-masing.
"—Aku dapat kosong," Sakura menggoyangkan kertasnya yang bersih tanpa warna.
Shikamaru, Chouji, Kiba, Shino, dan Hinata, menunjukan kertas yang sama seperti Sakura.
Tenten meneguk ludah. "Ugh, aku dapat hijau," dia mengangkat kertasnya.
"Uooh, sama denganku Tenten! Aku juga hijau!" teriak Lee girang.
"Berisik Lee!"
"Aku dapat warna biru," Sai menampilan kertas miliknya.
"Aku—pasanganmu?" kata Ino agak terjengit. Dia lumayan sensi dengan orang yang bertipe kaku seperti Sai.
"Oh, mohon bantuannya Yamanaka-san," Sai mengangguk tersenyum datar.
"Cih, baiklah~" decih Ino.
"Berarti warna merah..." Kiba menilik dua orang terakhir. Disusul kesembilan remaja lainnya yang menoleh bebarengan.—Tepatnya pada Naruto dan Sasuke.
Naruto ternganga horor menatap kertas di tanganya. Berlawanan dengan Sasuke yang cuek saja.
"Hihi, pasangan terheboh Konoha dapat warna merah? Pas banget..." Sakura terkikik geli.
"Benang merah tuh," Chouji bersiul menggoda.
"Uwoo, semangat masa mudaa!" Lee berkobar.
Selagi Ino, Shikamaru, Kiba, Shino, Hinata, dan Tenten menahan tawa.
"Kh, cerewet kalian!" Naruto membuang muka cemberut.
"Baka..." lirih Sasuke kesal. Namun di muka keduanya terhias rona merah tipis.
—PLOK—Kiba menepuk tangannya keras. "Nah ayo kita langsung berangkat!" ajaknya.
Naruto dkk bergerak keluar dari ruangan tersebut yang sengaja dipinjam Sakura, Ino, dan Kiba pada pengurus kantor Hokage—Genma—. Ruangan itu memang jarang dipakai. Makanya Sakura, Ino, dan Kiba diperbolehkan untuk menggunakannya.
Mereka melesat menuju tepi hutan Konoha. Hutan yang berada di pinggiran desa. Luasnya lebih dari 2 hektar. Dari luar suasananya sepi senyap. Gelap dan suram. Pohon-pohon besar yang menjulang tinggi dengan angkuhnya, merapat satu sama lain. Menjadikan kesan kelam nan sunyi bertambah nyata.
Bulu kuduk Naruto meremang. Dia tidak benci kegelapan, hanya benci jikalau ada mahkluk halus yang muncul mendadak gara-gara omongan kawan-kawannya. Dia tahu kalau hutan ini tidak ada apa-apanya kecuali dihuni binatang buas. Tapi jujur saja, walaupun dia percaya tidak ada yang namanya hantu di dunia ini, keraguan tetap menyelimuti hatinya. Batinnya menjerit. "Kenapa harus uji nyali segala siih?!" dia menarik rambut pirangnya frustasi.
"Nah, aturannya begini, siapa yang mendapat kertas warna akan maju bergiliran," Sakura yang berdiri di depan para sahabatnya memberikan intruksi. "Kalian harus menempuh jarak lebih dari 100 meter. Dengan jalan kaki, tidak boleh menggunakan kekuatan ninja sedikitpun. Kemudian tim mana yang paling lama mampu bertahan dalam hutan akan jadi pemenangnya. Pertama Lee dan Tenten," tunjuknya pada tim pertama.
Lee menyengir sumringah. Dia maju sambil melompat-lompat riang. Membuat Tenten yang ogah-ogahan, langsung melayangkan bogem mentahnya. Merasa gemas harus satu tim dengan rekannya yang sangat berisik itu lagi.
Naruto dkk berdiam di belakang. Melihat mereka berdua menghilang di balik rimbunan gelap pepohonan.
"Haah, percuma aku datang kalau tak ambil bagian," Shikamaru menguap.
"Jangan begitu kepala nanas, ini 'kan permainan. Sudah lama kita tak main bersama 'kan," Ino merengut.
"Yah, sesekali bersantai juga nggak apa-apa," dukung Chouji.
"Kau tidak menentukan rute yang harus dilewati, Kiba-kun?" tanya Hinata.
"Tidak, asal lebih dari 100 meter itu sudah cukup," jawab Kiba tersenyum kecil.
"Bagaimana kalau ternyata kami melanggar dari jarak yang ditentukan?" timbrung Sai.
"Aku dan Sakura akan tahu, karena kami minta bantuan Shino untuk melepaskan serangganya dan mengintai kemana kalian pergi."
Shino mengangguk mengiyakan. Selagi Naruto, Sakura, dan Sasuke menyimak pembicaraan mereka.
Sekitar 35 menit berlalu, Lee dan Tenten kembali. Keduanya bertampang biasa saja. Tidak menunjukkan raut ketakutan sama sekali. Malah Lee sangat senang sampai ingin mengulanginya lagi. Tapi Tenten membungkam mulutnya karena sudah kesal dengan Lee yang sejak awal permainan mengoceh terus.
Tim kedua, Ino dan Sai mulai memasuki arena. Mereka melangkah berjauhan. Dimana Ino memimpin duluan di depan dan Sai mengekorinya. Dalam perjalanan keduanya mengobrol ringan, menikmati topik yang diperbincangkan tanpa terganggu oleh kesenyapan hutan. Dan 45 menit selanjutnya, mereka kembali ke titik awal. Otomatis mereka lebih unggul dari Tenten dan Lee.
Giliran NaruSasu tiba. Naruto yang berdiri di sisi kiri Sasuke menelan ludah paksa. Keringat bermunculan. Tangannya mengepal. Berusaha meredam rasa yang menyesaki dadanya. Jantungnya turut andil berdebar cepat.
"...Dobe?"
Panggilan Sasuke menyadarkannya. Shappire Naruto menemukan pacarnya telah berdiri di depan dengan menolehkan kepala heran. Onyx Sasuke yang sekelam malam terlihat berkilauan ditimpa sinar bulan. Poni raven-nya yang panjang mempercantik wajah putihnya. Membuat rasa bungah muncul menyingkirkan ketakutan Naruto.
"Apa yang kau lakukan?" tanya pemuda Uchiha.
Naruto mengerjap beberapa kali. "...nggak," lirihnya sebelum mengukir senyuman lembut. "Ayo kita selesaikan ini," ajaknya.
Naruto dan Sasuke berjalan memasuki hutan. Menjauh dari para sahabatnya yang berada di belakang.
"Hei, kalian harus mencetak waktu lebih dari Ino dan Sai!" teriak Sakura memperingatkan.
Naruto melambaikan tangan. Melirik lewat bahu seraya tersenyum mengerti. Sasuke terus maju tanpa menanggapi kalimat tersebut.
Sakura berkedip sesaat begitu dua saudaranya telah menembus ke pedalaman hutan.
"Kenapa Sakura?" tanya Hinata yang menemukan Sakura terbengong.
"Aah, itu... kelihatannya sikap Naruto berubah."
"Berubah gimana?" ujar Kiba.
Sakura tersenyum kecil. "Dia seperti tidak takut lagi..."
Suara gemerisik dari rerumputan yang diinjak menjadi alunan yang mengisi perjalanan Naruto dan Sasuke. Mereka baru melangkah sekitar 65 meter. Sekelilingnya ditumbuhi semak-semak yang lebat. Pepohonan rindang memayungi atas kepala keduanya. Membuat langit malam hanya terlihat sebagian. Dan cahaya bulan hanya mampu menyusup di celah-celah dedaunan yang ada.
Naruto memperkirakan waktu dari posisi bulan. Kelihatannya 30 menit belum terlewati. Dia menggerling pada Sasuke di hadapannya. Lalu, suatu ide muncul dalam benaknya. Dia mendekat. Dua lengannya menggapai pinggang ramping uke-nya. Membawanya dalam pelukan hangat.
Sasuke terjingkat. "A—apa yang kau lakukan, Dobe?" ujarnya menengok kaget ke Naruto yang tiba-tiba merengkuhnya dari belakang.
Naruto menyengir. "Hehe—memelukmu."
"Aku tahu, baka! Maksudku kenapa kau berlaku mendadak begini?" kesal Sasuke dengan pipi yang sedikit bersemu.
"Mau minta imbalanku," bisik Naruto husky. Dia menunduk. Sebelah tangannya memperlebar kaus di bagian leher Sasuke ke samping. Memberikan akses untuknya agar lebih leluasa mengecup bahu kekasihnya. Lidahnya terjulur, menjilat sensual. Sementara tangannya yang lain meraba pelan perut datar Sasuke.
Sasuke tercengang. Merasakan serangan listrik menghampiri tubuhnya yang menjadi sensitif. Nafas tenangnya berubah memberat. Tangannya menangkup lengan Naruto di perutnya. Berusaha menghentikan gerakannya.
"Naru—jangan disini—Uuh—" Sasuke menutup mata rapat ketika tangan Naruto beralih mengelus punting kirinya yang tertutup kaus tipis.
"Hng—aku tak sabar Suke," Naruto mulai mengigit kulit leher Sasuke. Berniat meninggalkan kiss-mark dan mengundang rangsangan lebih kuat.
Sasuke terenggah. Merasa tenaganya menghilang entah kemana. Membuatnya harus bersandar di dada bidang Naruto yang dengan senang hati menjadi penopangnya. Sungguh, Sasuke sangat cepat bereaksi bila Naruto telah menyentuhnya.
Naruto membimbingnya duduk di bawah pohon besar. Dia menuntun Sasuke ke pangkuannya. "Tidak ada salahnya kita 'bermain' sebentar bukan?" ujarnya menyeringai mesum.
Sasuke mendelik galak. "Kh—Kita baru setengah jalan, Dobe. Bagaimana kalau semuanya tahu? Serangga Shino mengawasi kita," tekannya.
"Biarkan saja," Naruto kembali merangkul pinggang langsing Sasuke. "Yang penting, kita bisa mencetak waktu melebihi Ino dan Sai," lanjutnya sebelum mencium lembut bibir sang pacar.
"Uum—" Sasuke mendesah. "Aku—tak ikutan—kalau sampai Sakura memarahimu nanti—" ucapnya seraya melingkarkan kedua tangannya di bahu kokoh Naruto. Menyusupkan jemarinya di helaian pirang kekasihnya.
"Just enjoy it, Suke-chan,"
Ciuman panjang menjadi penutup percakapan mereka sebelum menuju ke kegiatan panas yang memabukkan. Tidak peduli akan membuat para sahabatnya menunggu lama. Mereka hanya ingin merasakan sentuhan duniawi.
Sementara di tempat Sakura, Sai, Ino, Shikamaru, Chouji, Kiba, Shino, Hinata, Tenten, dan Lee, mereka menunggu dengan was-was. Memandang gelisah ke pintu masuk hutan.
"Ck, ngapain sih mereka? Ini udah lebih dari 1 jam," gusar Sakura jengkel.
"Apakah tersesat?" tanya Chouji.
"Tidak mungkin. Mereka itu ninja yang tak tertandingi," sangkal Shikamaru malas.
"Lalu kemana mereka?" Ino meneleng heran.
Selagi kawan-kawannya ribut sendiri, Shino yang akag menjauh dari mereka, memasang wajah merah padam. Untung tertutup kerah bajunya yang tinggi dan kacamata hitamnya.
"Ck—dasar sepasang kekasih mesum..."
.
.
.
End
.
.
.
HAPPY HALLOWEEN MINA-SAAANN!
Ini fic yang bahkan tidak ada kesan menakutkannya. Malah roman saja #PLAAK
Yaah, hanya untuk meramaikan saja...kupersembahkan untuk kalian para reader cemuuaaa! XDDd
