Sepenggal cerita...*_*
.
.
.
Hair Style
Pair : NaruSasu
Genre : Romance & Friendship
Warning! : BL, Shounen ai, Semi-Canon, OOC, typo nyelip, dll.
.
.
.
.
.
Sakura jengkel. Mata Emerland hijaunya melotot kesal. Pelipisnya dipenuhi perempatan merah yang ketara jelas. Kedua alisnya mengkerut tajam. Bersamaan aura mencekam yang muncul mengibarkan rambut pink-nya. Dia menyeringai setan. Memandang sahabat baiknya yang duduk gelisah di balik meja kerja pribadinya.
"Bisakah kau mengatakan padaku apa yang sudah kau lakukan sekarang, Na-ru-to?!" desisnya melipat tangan di depan dada angkuh.
"Ha-? Apa maksudmu Sakura-chan?" gagap Naruto menggaruk belakang kepalanya resah.
"ITU!" asisten Hokage menuding cepat suatu objek dengan telunjuk jarinya. "Bisa kau jelaskan..." maniknya menyalang ganas. "Mengapa potongan rambutmu bertebaran di atas lantai?!" jeritnya.
Benar. Saat ini lantai kantor yang ditempati Naruto dan Sakura, kotor oleh helaian warna pirang yang tersebar sembarangan. Membuat ruangan menjadi tak sedap dipandang. Padahal Haruno sudah banting tulang membersihkan ruangan itu dan merapikan tiap barangnya setiap hari. Tapi karena perbuatan Uzumaki, hasil jernih payahnya jadi runtuh seketika.
"Ooh-" Shappire Naruto menggerling hindar. "Yaah, kau tahu, aku memotong rambutku untuk mengganti model saja," terangnya.
"Bakayaro!" Sakura langsung menjitak kepala atasannya keras.
"Itai-!"
"Otakmu berpikir kemana sih? Kau bisa datang ke tukang pemotong rambut daripada melakukannya sendiri kan?!" geram gadis merah muda. "Lihat, rambutmu berantakan tuh!"
Naruto menyentuh surai blonde-nya yang acak-acakan. Dia meraih cermin yang semula ada di atas meja dan menilik penampilannya. "Weeh~ kau benar..." desahnya kecewa.
"Apa kubilang?" Sakura mendengus. Mengambil gunting dan sisir dari tempat alat tulis seraya berjalan menuju belakang kursi yang diduduki Naruto. "Sini, biar kurapikan."
"Hehe, arigatou Sakura-chan, kau sangat membantu," sang Hokage menyengir senang.
Sakura memutar bola matanya malas. "Kuharap ini yang terakhir."
Dengan telaten, perempuan berseragam jounin itu menyisir rambut Naruto serta memotong bagian yang menurutnya perlu dipangkas. Sesekali memandang cermin untuk mengukur panjangnya agar sesuai dengan kepala Uzumaki.
"Memang kenapa sih kau mau mengubah model rambut?" tanya Sakura tanpa mengalihkan perhatiannya. "Bukannya kau yang dulu ingin rambutmu seperti ayahmu, sang Hokage ke-empat?"
Naruto bergumam. "Hanya ingin ganti suasana saja..."
"Oh ya?" segaris alis Haruno terangkat. "Sungguh tidak ada alasan khusus?"
Pemuda berjubah putih motif jilatan api itu menghela nafas. Seperti biasa, mantan kawan setimnya ini sangat peka. Selalu tahu kalau dirinya menyembunyikan sesuatu. "Yaah..." mata biru Naruto sedikit meredup. "Kupikir sudah waktunya aku merealisasikan ucapanku beberapa tahun yang lalu..."
"Hah?" Sakura mengerjap. Tangannya refleks berhenti bergerak.
"Umurku sudah 18 tahun. Aku ingin membangun masa depanku seperti kemauanku sejak dulu."
"Apa maksudmu, Naruto?"
Kursi besar di hadapan Sakura berputar, menjadikan badan Naruto menghadap ke arahnya. Manik Shappire itu menyorot tajam bersama wajah tan yang kini berekspresi serius. Lepas dari raut humor yang biasa ditunjukan olehnya. Membuat Sakura makin bingung. Dari tadi dia tidak mengerti apa yang dibicarakan Naruto.
"Naruto-"
"Sakura..."
Gadis pink terkejut saat Hokage muda memanggil namanya tanpa embel-embel '-chan .
"Aku... akan menikahi Sasuke," kata Naruto bersuara rendah tegas. Menyatakan maksud sebenarnya dari isi perbincangan mereka.
Keheningan meliputi ruang kantor bergaya semi minimalis tersebut. Hembusan sejuk dari mesin penghangat ruangan, menjadi satu-satunya melodi yang mengiringi kediaman dua remaja. Naruto masih menatap lurus Sakura yang terpaku terkejut. Menunggu tanggapan asistennya dengan batin was-was.
Sasuke adalah cinta pertama Sakura. Lelaki yang disukai sejak ketiganya masih berada di akademi ninja. Terus terang, Naruto masih memikirkan perasaan perempuan itu terhadap Sasuke meski dirinya sudah menjalin hubungan dengan Uchiha terakhir. Masih terbayang di benak Naruto, ingatan ketika dulu dia mengutarakan isi hatinya untuk Sasuke pada Sakura setelah perang usai. Reaksi yang ditampakkan rekan setimnya kala itu membuatnya sedih. Ya, Sakura terpukul mendengar pernyataan Naruto. Namun, memutuskan untuk mengalah karena perasaan sukanya pada Sasuke telah sirna. Membiarkan pemuda pirang mengambil alih tempatnya menjaga sang mantan missing-nin.
Naruto mengatakan hal ini pada Sakura untuk mengetahui kemantapan hati gadis itu. Benarkah Sakura sudah melepaskan Sasuke seutuhnya? Benarkah Sakura merelakan Sasuke untuknya?
Bibir Haruno terbuka perlahan. Memecah kebisuan di antara mereka.
"...Terus? Kapan tanggal mainnya?"
Jawaban tersebut memicu sepasang iris langit Uzumaki berkedip kaget. "Hah?"
Sakura menelengkan kepala. Menatap Naruto penasaran. "Aku tanya kapan kau akan menikah?"
Sang blonde tersentak. "Tu-tunggu, Sakura, kau baik-baik saja?" cemasnya.
"Hm? Kenapa?" Haruno mengernyitkan kening.
"Aku akan menikah dengan Sasuke, lho," ulang Naruto lebih menekan.
"Iya, aku tahu. Lalu?"
"Kau benar-benar sudah merelakan Sasuke untukku?"
Si asisten Hokage mengerjap sebentar. Begitu paham artinya, dia tertawa. Membuat Naruto tercengang. "Ooh, begitu rupanya," Sakura menghela nafas. Beralih tersenyum teduh. "Kau masih memikirkan perasaanku ya, Naruto."
Uzumaki mengangguk kaku.
"Dasar kau ini," Sakura melangkah mundur, bersandar ke bingkai jendela kaca yang berada tepat di belakangnya. "Bukankah dulu aku sudah bilang, kalau aku sudah tidak punya rasa pada Sasuke?" tanyanya menatap sahabatnya lekat.
"Iya, makanya aku memberitahumu hal ini untuk minta kepastian," ujar Naruto. "Aku tidak mau pernikahan kami menyebabkan orang lain terluka, khususnya kau dan Hinata-chan."
"Jadi kau sudah tahu jika Hinata menyukaimu?"
"Aku menyadarinya ketika dia menolongku saat pertarungan melawan Pain dulu."
Murid kesayangan Tsunade mengangguk. "Tenang saja, aku tak apa-apa."
Namun, kilatan ragu masih mematri di mata biru Naruto.
"Seperti yang kukatakan, Naruto. Aku sudah tidak menyukai Sasuke," Sakura menjelaskan. "Sejak kecil aku tahu dia tak akan membalas perasaanku. Karena matanya selalu tertuju kepadamu."
Lelaki kuning terbelalak.
"Kupikir waktu itu Sasuke melihatmu sebagai orang yang bernasib sama dengannya. Tidak memiliki orang tua, saudara, dan sendirian," manik hijau Sakura menyendu. "Tetapi aku sadar, caranya dia memandangmu sangat berbeda. Tatapannya bukan arti sosok sahabat atau rival, melainkan orang yang berharga," kembali melirik Naruto dalam. "Ya, Sasuke menyukaimu. Seperti kau yang jatuh cinta kepadanya."
Naruto diam membiarkan Sakura melanjutkan.
"Hatiku sakit. Aku iri dengan kedekatan kalian. Rasanya tidak ada celah untuk kumasuki. Makanya aku menyerah, belajar melupakan perasaanku dan menganggap Sasuke sebagai sahabat karib saja," Sakura tersenyum kecil. "Aku membiarkanmu menjalin hubungan dengan cinta pertamaku yang sudah kulepaskan."
"Sakura-chan..."
"Jadi Naruto, kau tidak perlu mengkhawatirkanku," gadis pink berkacak pinggang. "Aku malah senang kalian berdua mau berhubungan lebih serius dari sekarang ini. Lagipula, aku sudah berpacaran dengan orang lain."
Uzumaki kaget tak percaya. "Hee-? Siapa?!"
Paras putih cantik Sakura merona tipis. "Kazekage Suna, Sabaku Gaara."
"Apa?! Gaara?!" sontak Naruto berdiri dari kursinya. "Sejak kapan?"
"Setelah Sasuke kembali ke Konoha. Karena Gaara sering berkunjung paska perang, kami terus bertemu. Lalu mulai dekat dan akhirnya saling suka," jabar si asisten.
"Kok aku dan yang lain tidak tahu?"
"Wajar. Kami sengaja tidak mengumbar ke publik. Apalagi Gaara sibuk mengurus Suna sehingga jarang datang kemari. Hubunganku dengannya hanya Tsunade-shisou dan Shizune-san yang tahu."
Naruto menghela nafas lemas. "Dasar, kau tega Sakura-chan."
"Hehe..." lidah Sakura terjulur ejek. "Nah, sekarang cepat duduk. Aku sebel melihatmu berantakan begini," perintahnya hendak meneruskan kegiatan yang sempat tertunda. Yaitu, memotong rambut atasannya.
"Baik..." desau Naruto menurut. Lega keganjalan batinnya sudah hilang.
"Jadi, kapan kalian akan menikah?" tanya Haruno sambil memangkas helaian mentari di tangannya.
"Kami belum memutuskannya. Rencananya aku akan melamar Sasuke begitu kami selesai pindah rumah," jawab Naruto.
Sakura terkejut. "Pindah rumah?"
"Ya, aku membeli rumah baru di pinggiran hutan Konoha. Wilayah itu milik Klan Nara, Shikamaru mengijinkanku dan Sasuke menempatinya."
"Ooh, Sasuke tahu?"
"Mungkin besok akan kuberitahu."
"Bagus, aku tunggu pestanya," kata Sakura.
"Waah, harus siapin banyak makanan, nih," Naruto terkekeh garing.
"Katakan itu pada yang lain, khususnya Kiba sama Chouji."
"Haha..."
Beberapa menit kemudian, Sakura telah selesai. "Nah, gimana?" tanyanya menilik rupa Naruto di cermin.
Sang blonde diam sebentar. Memandang refleksi dirinya seksama. "...pendek sekali."
"Salahmu memotong sembarangan dari awal. Aku kan tinggal merapikan," dengus Sakura.
"Jadi cepak gini," Naruto menyisir rambut model barunya yang kini sangat jauh berbeda dari semula.
"Bagus, kan? Kau tampak lebih dewasa dan gagah," puji si asisten.
"Benarkah?" Shappire itu menggerling senang. "Arigatou Sakura-chan. Kau memang yang terbaik."
Sakura tersenyum. Berjalan mengambil sapu di sudut ruangan. "Sebaiknya kau segera mengatakan tujuanmu pada Hinata," tuturnya sembari membersihkan kotoran rambut di lantai. "Kasihan dia jika terus menunggumu membalas perasaannya. Rasa cintanya padamu sangat besar lho."
"...Aku mengerti," sahut Naruto. "Kuharap dia bisa menerimanya..."
"Jangan cemas," Sakura tersenyum lebar. "Hinata kuat kok."
Bibir Naruto menyinggungkan senyum kecil.
"Ya..."
Berkat saran sahabat karibnya, sore itu Naruto mengunjungi Hinata. Dia mengutarakan maksudnya bahwa tidak dapat menerima perasaan suka gadis Hyuuga itu. Naruto berucap dengan halus. Selembut mungkin agar tidak melukai Hinata. Membuatnya mengerti bila hanya Sasuke-lah yang selalu ada di hatinya. Alhasil, Hinata paham. Mampu menerima penolakan Naruto dengan tabah. Perempuan bersurai indigo itu sadar kalau Naruto hanya mencintai Sasuke. Karenanya, dia ikhlas. Membiarkan cinta pertamanya berbahagia bersama orang lain. Hinata sudah cukup puas menyukai Naruto sampai saat ini. kini, waktunya dia melangkah maju menemukan takdirnya sendiri. Lepas dari bayang masa lalu.
.
.
.
End
.
.
.
Special Thanks :
.12,Tomoyo to Kudo, Sabachi Gasuchi, CA Moccachino, pingki954, Kuro Rozu LA, MintMojo, suira seans, Aicinta, Ichikawa Arata, himekaruLl, EthanXel, Yuzuru Nao, YoungChanBiased, onphire chibi, Sinush, Kim Tria, kitsune Riku11/Maki, NaluCacu CukaCuka, kjhwang, ShinKUra, Kiyomi Hikari, Blueonyx Syiie, naunico, , Shawokey, Aoi Blues, n guest serta reader semua ^_^
