TITTLE: CLUE?

SUMMARY: Sehun menghilang dan tidak ada seorangpun yang tau keberadaannya. Semua member terpaksa mengumpulkan clue yang diberikan penculik dan harus menyelesaikannya sendiri. Namun siapa yang tau? Bahwa semua ini hanyalah permainan belaka. Permainan yang membodoh-bodohi semua orang.

LENGTH: CHAPTERED

MAIN PAIR: HUNHAN

MAIN CAST:

- Luhan

- Sehun

- Suho

- Chanyeol

OTHER CAST:

- All EXO member

RATED: T

DESCLAIMER: All cast belong to God but this story's mine.

WARNING: OOC, TYPOS, BAHASA MEMBINGUNGKAN &LUMAYAN RUMIT, NO LOVE STORY.

NO BASH.

DON'T LIKE DON'T READ!

LAST,

HAPPY READING!

.

"Berikan aku kesempatan untuk membantu kalian. Berikan aku kesempatan untuk membuktikan bahwa aku bukanlah orang yang menyembunyikan Sehun. Aku yang akan memecahkan clue kedua malam ini. Sendirian." Chanyeol menatap Suho dengan mantap dan penuh kepastian.

.

.

"Apa yang kau bicarakan padanya?" Sesaat setelah Suho keluar dari kamar dan meninggalkan Chanyeol, Baekhyun langsung menanyakan apa yang terjadi di dalam sana. "Aku mendengar suara teriakanmu dan suara sesenggukan Chanyeol." Sambung Baekhyun.

Suho duduk di sofa dengan menaikkan kedua kakinya di atas meja. "Aku sendiri juga tidak mempercayai apa yang baru saja kudengar. Chanyeol mengaku bahwa sebenarnya dia sudah melihat handphone itu." Suho mengacak-acak rambutnya.

"Benarkah? Kemudian kenapa dia tidak memberi tau kita?" Kai yang sedang sibuk di dapur menyela di antara percakapan Baekhyun dan Suho.

"Dia justru menutup-nutupi clue itu dengan tubuhnya supaya kita tidak bisa melihat clue itu. Dia takut jika dia yang menemukan clue itu dengan waktu yang cukup singkat, semua orang berpikir memang dialah yang merencanakan ini. Mungkin itu alasan kenapa dia terus berdiri disana dan tidak melakukan apapun. Bodoh." Suho kembali emosi mengingat percakapannya dengan Chanyeol tadi.

"Kemudian apa lagi yang kalian bicarakan?" Lay yang membantu Kai di dapur ikut bertanya pada Suho.

"Dia berkata dia yang akan memecahkan clue kedua tanpa dibantu siapapun. Aku tidak yakin dia bisa melakukan itu. Selama ini yang paling berpikir dengan cepat dan logis hanya Luhan. Yah, mungkin karena yang menghilang itu Sehun." Suho merapikan tatanan rambutnya, kemudian melanjutkan "Kemana Luhan? Kenapa dia tidak ada disini?"

"Dia sudah masuk ke kamar. Dia bilang dia tidak lapar dan dia sangat mengantuk. Aku tidak bisa melarangnya." Xiumin menjawab Suho sambil memainkan handphonenya.

"Harusnya kau mencegahnya, hyung. Dia bisa sakit. Luhan! Ayo makan!" Suho bangkit dari duduknya setelah naluri ibu yang ada pada dirinya muncul. Suho berjalan menaiki tangga, menuju kamar Luhan untuk membangunkannya.

.

.

Sudah hampir seharian Chanyeol berada di dalam kamar. Walaupun luka-luka yang ada di wajahnya sudah tidak menimbulkan rasa sakit, tetap saja luka-luka itu membatasi ruang gerak Chanyeol. Terlebih Chanyeol adalah orang yang tidak bisa menahan sakit. Tubuh Chanyeol termasuk lemah jika dibandingkan dengan member lain.

Setelah Suho keluar dari kamar, Chanyeol mendengar semua percakapan yang dilakukan Suho dengan member yang lain. Memang tidak mudah mendengar orang-orang yang sedang membicarakan dirinya. Chanyeol hanya bisa tertawa getir, mungkin ini yang harus diterimanya setelah menyembunyikan clue itu dari member yang lain. Saat itu Chanyeol memang tidak bisa berpikir dengan jernih sehingga apapun yang dia dilakukan tidak ia pikirkan akibatnya.

Chanyeol membuka lembaran kertas yang diambilnya dari tangan Baekhyun tadi. Membacanya berulang kali, mencoba mengerti maksud dari tulisan tersebut. Dia harus memecahkannya sendiri karena itulah yang dia janjikan pada Suho. Dia tidak ingin disangka sebagai pelaku lagi dan dia harus melakukan ini. Bagi Chanyeol ini bukanlah hal yang mudah, berhubung dia bukan orang yang sering menonton film misteri atau novel Sherlock Holmes.

"Kelima kata ini tidak ada hubungannya sama sekali. Kecuali," Chanyeol bermonolog, mencoba menguras otaknya yang sudah lama tak terpakai. Kemudian ia melanjutkan kalimatnya "'Cake', 'key', dan 'young'. Dua huruf terakhir pada kata 'cake' sama dengan dua awalan huruf dari kata 'key', dan akhiran huruf pada kata 'key' sama dengan awalan huruf pada kata 'young'. Tapi tidak untuk 'lake' dan 'up'." Chanyeol kembali berpikir keras.

"Apa maksudnya ini?" ia meremukkan kertas itu kemudian melemparnya ke sembarang arah. "Kenapa begitu rumit? Bahkan aku tidak memiliki perkiraan sama sekali." Chanyeol menutup wajahnya yang penuh luka-luka dengan bantal.

Sekitar sepuluh menit, kamar yang di tempati Chanyeol begitu sepi. Ia tidak mengeluarkan sepatah katapun dan sibuk berkonsentrasi pada pikirannya sendiri.

"Tulisan pada clue itu memiliki huruf yang berwarna-warni. Mungkin jawaban ada pada warna itu!" Chanyeol bangkit dari kasur, kemudian mengambil kertas yang sudah diremukkan olehnya beberapa saat yang lalu.

Chanyeol membuka remukan kertas itu, dan membuka halaman kertas dengan terbalik. Chanyeol memperhatikan halaman yang terlihat kosong, dan melihat di sudut kanan bawah terdapat tulisan yang sangat kecil. Sialnya, Chanyeol tidak bisa membaca tulisan itu karena Chanyeol memiliki masalah dengan penglihatannya.

Dengan cepat ia mengambil kacamata dan memakainya. "Kematian?" Chanyeol membaca tulisan itu.

"Kematian. Ini pasti clue yang ditulis oleh orang yang membuatnya. Tidak mungkin tulisan 'kematian' ini tidak berhubungan dengan halaman yang di depannya." Chanyeol mendapatkan sebuah clue yang sedikit memudahkannya. Walaupun begitu, Chanyeol masih harus berpikir dengan keras. "Kemudian, apa maksud dari 'kematian'? apa hubungannya dengan kelima kata yang berwarna-warni ini?" sambung Chanyeol.

Chanyeol kembali berbaring dan tidak berhenti menggumamkan ke enam kata itu selama hampir sepuluh menit. Mencoba menggabungkannya dan mendapatkan hasil dari clue itu. Ia menutup matanya, seakan-akan dia benar-benar membutuhkan jawaban.

"Lake up cake key young kematian. Lake up cake key young kematian. Kelima huruf berwarna-warni dan ada tulisan 'kematian' di halaman baliknya. Warna yang berhubungan dengan kematian," Chanyeol menggumam. Tiba-tiba Chanyeol bangkit dari tidurnya dan terduduk. "Apa mungkin, warna yang berhubungan dengan kematian? Warna hitam. Kemudian jika aku melihat pada kelima kata ini, semua huruf awalannya berwarna hitam. Dan," Chanyeol mencerna kalimatnya sendiri. "Jika aku menggabungkan huruf-huruf ini menjadi satu, 'L' ditambah dengan 'U' 'C' 'K' dan 'Y' hasilnya adalah 'Lucky'! Pabrik Lucky!" Chanyeol berteriak penuh kemenangan.

Dengan cepat, Chanyeol berdiri dan membuka pintu kamar dengan kasar. Terlihat semua member sedang menikmati ramyun di meja makan. Chanyeol berjalan dengan penuh semangat, melupakan rasa nyeri pada bibir dan pipinya.

Semua orang yang ada di meja makan menatap bingung ke arahnya. Chanyeol tidak membalas tatapan member lain dan hanya menatap Suho dengan senyum penuh kemenangan. Setelah sampai di meja makan, dia duduk di kursi yang kosong –di sebelah Lay- dan tersenyum semakin lebar. Mungkin sedikit menyakitkan tersenyum seperti itu dengan pinggir bibir yang robek, karena itu detik selanjutnya Chanyeol menutup senyumnya.

"Hey hey hey, ada apa?" Kris orang yang pertama mengeluarkan suara. "Kau belum tidur?" Kris melanjutkan makannya yang kemudian diikuti semua member dan mereka kembali menikmati makanan yang ada di depan mereka.

Seakan-akan merasa tidak di pedulikan, Chanyeol berkata dengan sedikit lantang "Aku ingin memberi tau kalian jawaban dari clue ini. Tapi kelihatannya kalian begitu menikmati makanan kalian. Sudahlah, tidak jadi saja." Chanyeol bangkit berdiri dari kursinya. Berharap setidaknya ada satu orang yang menghentikannya.

Sepertinya Chanyeol memang tidak dipercayai semua member. Buktinya, tidak ada satupun yang menanggapi perkataan Chanyeol dengan serius. Semua member hanya menahan tawa, dan parahnya lagi, Tao tidak bisa menahan tawanya dan justru tertawa terbahak-bahak dengan jari telunjuk yang menunjuk-nunjuk wajah Chanyeol. "Jangan bercanda, hyung. Kau lucu sekali." Tao menyelipkan kalimat diantara tawanya.

Chanyeol benar-benar merasa tidak dihargai. Chanyeol merempar clue yang sudah remuk itu ke tengah-tengah meja makan. "Pabrik Lucky." Chanyeol berjalan kembali menuju kamarnya. Semua member hanya terdiam. Tidak mengerti apa yang dimaksudkan Chanyeol.

"Pabrik Lucky?" Tao berhenti tertawa dan mengatakan kembali apa yang Chanyeol ucapkan.

.

.

"Chanyeol, kenapa kau mengunci pintu? Hei, kami minta maaf karena tidak menghiraukanmu dan tidak menanggapimu dengan serius. Kami pikir kau bercanda. Ayolah, buka pintunya! Kami minta maaf. Jangan bertingkah seperti anak kecil, Yeol!" Kris berulang kali menekan handle pintu sambil menggedor-gedor pintu kamar Chanyeol.

"Apa?" Chanyeol menjawab Kris dari dalam kamar. Tidak berniat untuk membuka pintu.

"Aku hanya ingin meminta alasan mengapa jawabannya 'Pabrik Lucky' dan bagaimana caramu mendapatkannya. Ayolah, semua orang menunggumu. Buka pintunya, Yeol." Kris membalas Chanyeol dengan sedikit berteriak, berharap Chanyeol bisa mendengarnya dan menurutinya.

Terdengar bunyi handle pintu terbuka, dan Chanyeol keluar dari kamar itu. Seakan tidak melihat Kris, ia berjalan menuju ruang santai dimana semua member sedang terduduk di sofa sambil menunggu Chanyeol.

Chanyeol duduk di ujung sofa -di sebelah Luhan- dan meyandarkan punggungnya pada sandaran sofa. Chanyeol menghembuskan napas beratnya, kemudian menarik napas kembali siap berbicara."Seperti yang kalian lihat, kelima kata itu memiliki huruf yang berwarna-warni. Kemudian, aku tidak sengaja membalik kertas itu, dan melihat ada tulisan di sudut kanan bawah pada kertas." Chanyeol memotong kalimatnya.

Suho yang memegang kertas clue mengikuti setiap kata yang keluar dari bibir Chanyeol, kemudian membalikkan kertasnya dan melihat ke sudut kanan bawah kertas. "Kematian?" Suho membaca tulisan itu. Kini semua mata tertuju pada Chanyeol. Penuh rasa penasaran.

"Ya." Jawab Chanyeol, kemudian melanjutkan "Aku mencari hubungan antara warna-warna pada kelima kata itu dengan kata 'kematian'" Chanyeol mengambil waktu untuk menarik napas "Aku menyadari bahwa warna kematian adalah warna hitam, dan semua huruf pada awalan kelima kata itu berwarna hitam." Chanyeol menghentikan kalimatnya. Tidak berniat menjelaskan lebih panjang.

"Jadi kau menggabungkan seluruh huruf yang berwarna hitam itu menjadi satu, dan kau mendapatkan kata 'lucky'?" Luhan mengerti maksud yang Chanyeol katakan.

"Ya." Chanyeol mengangguk.

"Kau jenius." Baekhyun tidak percaya Chanyeol bisa memecahkan clue ini dengan waktu yang cukup singkat.

"Luar biasa. Bagaimana mungkin?" Kai sedikit tidak percaya akan kemampuan yang dimiliki Chanyeol.

"Kau bisa memecahkan clue ini dengan waktu yang singkat, Yeol." Xiumin ikut memuji Chanyeol.

"Mungkin menurut kalian itu singkat, tapi aku sudah lebih dari satu jam memikirkan jawaban ini." Chanyeol kini menatap Suho penuh kemenangan. "Suho hyung, aku sudah mengetahui arti dari clue ini. Sekarang, aku minta kepada kalian semua untuk mempercayaiku. Aku bukan pelakunya." Chanyeol tersenyum.

.

.

Matahari sudah bersinar sedari tadi, namun tidak terdengar suara keributan seperti hari-hari sebelumnya. Biasanya pada jam seperti ini semua member sudah siap dengan sarapannya, berbeda dengan hari ini. Tidak ada seorangpun yang keluar dari kamar. Mungkin ini karena kemarin malam mereka sama sekali tidak dapat tertidur dengan pulas, khawatir jika ada member yang ikut menghilang seperti Sehun.

Kali ini, satu kamar dihuni tiga orang. Memang tidak nyaman, tetapi itu yang disarankan oleh Suho untuk mencegah kejadian kemarin terulang kembali. Dua orang sisanya –Suho dan Kris- tidur di sofa ruang santai. Seperti gembala yang sedang menjaga domba-domba mereka.

Luhan keluar kamar dengan wajah yang sedikit pucat, mungkin karena belum tersadar sepenuhnya. Ia berjalan menuju sofa yang ditempati Suho, kemudian dengan sedikit kasar membangunkan Suho sambil mengguncang-guncangkan tubuh Suho.

"Junmyun, kita harus pergi ke Pabrik Lucky sekarang. Bangunkan anak-anak." Luhan menguap.

Suho benar-benar belum sadar dari tidurnya dan menjawab Luhan dengan menggumam yang tidak jelas.

"Bicara apa kau? Cepat bangun!" Luhan memukul-mukul kedua pipi Suho, seakan-akan sedang membangunkan anak kecil.

"Hyung, ini masih pagi." Suho mengerang kemudian mendudukkan tubuhnya. Matanya masih tertutup rapat dengan rambut yang acak-acakan. Seperti orang yang tak terurus.

"Ini sudah jam delapan. Aku yang akan membuat sarapan, kau bangunkan mereka semua. Kita harus mencari Sehun." Luhan berjalan menuju dapur dan menyiapkan bahan-bahan yang diperlukannya. "Hey, gelas-gelas yang sudah jarang terpakai dimana?"

"Di gudang. Kenapa kau mencarinya? Kris hyung, bantu aku membangunkan mereka." Suho menjawab Luhan sambil mendudukkan tubuh Kris yang masih tertidur kemudian memukul-mukul punggungnya dengan pelan. "Ayo bangun. Sudah siang." Suho meninggalkan Kris yang sudah mulai tersadar, kemudian berjalan menuju kamar-kamar member lain yang sepertinya baru tertidur pulas tiga jam yang lalu.

"Sayang jika gelas itu tidak dipakai. Aku ingin memakainya. Suho, kau mengunci gudang?" Luhan menekan handle pintu gudang berkali-kali tetapi pintu tetap tidak terbuka.

"Baekhyun, Chanyeol, Kyungsoo, bangun! Kenapa posisi tidur kalian seperti ini? Hey!" Seperti tidak mendengarkan kalimat yang diucapkan Luhan, Suho melanjutkan membangunkan semua member.

"Kai, Tao, bangun!"

"Hey Chen, Xiumin, Lay, kalian sudah bangun. Ayo keluar."

.

.

"Alamat pabrik ini di Ilsan. Cukup jauh dari dorm." Xiumin membaca alamat pabrik dari artikel yang terbuka di handphonenya.

"Kita harus segera pergi. Aku tidak mau sampai disana saat malam hari." Kris bangkit berdiri dan siap untuk berangkat.

"Ayo." Suho ikut berdiri dan merapikan rambutnya.

"Hyung, aku tidak yakin mobil itu bisa mengangkut kita semua. Setidaknya harus ada tiga orang yang tinggal di dorm." Kyungsoo memberi pendapat.

"Kau benar." Suho memikirkan perkataan Kyungsoo. "Apa ada yang ingin tetap tinggal di dorm?" Suho bertanya pada semua member.

Tidak ada yang menyahut.

"Ayolah." Suho sedikit memaksa. Jika tidak ada yang mau, Suho harus memilihnya secara acak. Suho paling benci dengan hal itu karena merasa tidak enak dengan orang yang terpilih.

"Aku saja. Aku akan memasak untuk kalian. Kai, temani aku." Kyungsoo menyahut dan dibalas anggukan setuju dari Kai.

"Sepertinya aku tidak perlu ikut, Kyungsoo perlu bantuanku." Lay tersenyum pada Suho.

Suho cukup terbantu karena mereka bertiga. "Baiklah. Jaga dorm dengan baik. Aku khawatir jika ada sesuatu yang terjadi diantara kalian, sebaiknya kalian memperhatikan satu sama lain. Aku mempercayai kalian." Suho berjalan menuju pintu utama sambil memberi nasihat pada ketiganya.

"Aku mengerti, hyung." Balas Kai. "Aku berharap ini clue terakhir yang kalian dapatkan." Kai mengucapkannya dengan serius kali ini. Ia tidak ingin mendapakan clue lagi, semudah apapun clue itu. Itu sangat melelahkan.

.

.

Membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk pergi menuju Ilsan dengan mobil yang penuh terisi delapan orang. Benar-benar sesak dan membuat perjalanan semakin membosankan. Walaupun membosankan, tidak ada member yang tertidur. Semua sibuk dengan pikiran masing-masing.

Luhan duduk di kursi belakang sebelah kanan. Sedari tadi dia tidak berhenti memikirkan keadaan Sehun. Apakah Sehun baik-baik saja? Apakan Sehun menerima perlakuan kasar? Apakah Sehun dipelihara dengan baik? Atau apakah dia masih hidup dan sehat seperti sebelum ia diculik?

Banyak sekali hal yang seharusnya Sehun dan Luhan lakukan saat ini. Pergi membeli bubble tea, shopping dengan ditemani puluhan fans yang ada dibelakang mereka, menonton film, semuanya. Seharusnya seminggu ini semua member bersenang-senang dan melepaskan semua rasa lelah mereka. Tetapi sepertinya hal itu tidak bisa terlaksana, karena minggu tanpa jadwal ini harus diisi dengan cobaan psikis yang terpaksa diterima mereka. Kehilangan satu member saat-saat menjadi idola dan begitu terkenal? Siapa yang tidak khawatir? Jika saja ada berita aneh yang muncul dan mengetahui keberadaan mereka tanpa Sehun, habislah riwayat EXO.

Mereka pergi ketika matahari masih malu keluar dari persembunyiannya, dan saat ini matahari sudah bersinar semakin terik. Xiumin melajukan kendaraan menuju tempat yang terdapat pada clue yang telah dipecahkan oleh Chanyeol.

Sekitar hampir setengah jam, mereka sampai di Pabrik Lucky.

"Kita sudah sampai, aku berharap tujuan ini benar dan tidak keliru." Suho yang duduk di samping Xiumin membuka pintu mobil dan turun dengan sedikit tergesa-gesa. Seakan-akan jika mereka kehilangan satu detik untuk bercanda, Sehun tidak akan selamat.

"Hyung, tunggu aku!" Ucap Chanyeol kepada Suho. Chanyeol berjalan paling belakang dengan dua plester yang menempel pada wajah tampannya.

"Cepatlah sedikit. Hey, kemana kita harus pergi? Apakah kita harus masuk kedalam pabrik ini? Sepertinya tidak sembarang orang boleh masuk." Suho berbalik dan bertanya pada member lain.

Pabrik Lucky adalah pabrik mebel. Pabrik ini benar-benar mewah dengan tampilan yang terlihat begitu luas. Tentu saja, isi pabrik ini penuh dengan kayu-kayu dan seratnya yang belum diolah. Tampilan luarnya akan sangat berbeda dengan tampilan dalamnya.

"Apakah kami boleh masuk?" Suho bertanya pada security yang sedang berjaga di depan pintu utama. Member lain hanya berdiri di belakan Suho, seperti murid-murid yang tidak mengerti apapun dan hanya mengandalkan sang leader.

"Maaf, kalian tidak boleh masuk tanpa surat ijin resmi. Tapi kalian boleh masuk ke gedung satu lagi, di belakang pabrik ini." Security pria membalas dengan penuh senyuman ramah, sedangkan security wanita hanya tersenyum-senyum sambil memandangi Suho penuh kekaguman. "Kalau boleh saya bertanya, apa keperluan kalian?" Lanjut security pria.

"Kami memiliki janji dengan seseorang untuk bertemu disini." Suho menjawab sekenanya yang dibalas dengan tatapan bingung kedua security. "Anda bisa mengantar kami menuju gedung tersebut?" Suho meminta pertolongan.

"Tentu saja." Security pria berjalan ke arah belakang pabrik dan memimpin perjalanan. Kesembilan orang dibelakang hanya mengikuti tanpa banyak berbicara. Hanya dibutuhkan beberapa langkah untuk sampai di gedung yang dimaksud tadi.

Gedung ini adalah gedung yang digunakan untuk menyimpan semua mebel yang sudah selesai dibuat. Gedung ini sangat penuh dengan berbagai jenis mebel dan model yang berbeda-beda.

"Ini tempatnya, saya permisi." Security pria meninggalkan gedung.

Semua member bingung dan tidak tau apa yang harus diperbuat. Tidak ada tempat duduk disana, yang berarti semua harus tetap berdiri. Seperti orang bodoh, mereka hanya menatap satu sama lain tanpa berbicara. Kebingungan.

"Apa yang kita lakukan disini?" Baekhyun menghembuskan napas berat.

"Tidak ada apapun disini. Apa kita harus menunggu?" Tao mengeluh dengan wajah lelah. Dia harus bangun saat ia baru tertidur lelap sekitar empat jam dan itu membuat mata pandanya terlihat semakin jelas.

"Apa kalian tidak berpikir perkiraan Chanyeol salah?" Chen menyampaikan pendapatnya setelah menyadari bahwa tempat ini benar-benar tidak ada apa-apanya.

"Bagaimana cara kalian mendapatkan clue kedua?" Chanyeol meminta penjelasan, karena dia tidak ikut dalam pencarian sebelumnya.

"Seorang anak kecil datang dan memberiku sebuah kertas clue yang sudah kau pecahkan tadi malam." Kris mengingat kembali kejadian kemarin.

"Begitukah? Kemudian, bisa saja sebentar lagi ada orang yang memberikan kita clue. Kenapa tidak kita tunggu saja sekitar sepuluh menit disini?" Chanyeol memberi saran, seakan-akan merasa bahwa clue itu memang benar pada pabrik ini. Chanyeol tidak ingin perjuangannya memecahkan clue semalaman tidak membuahkan hasil dan gagal.

Sekitar satu menit, semua member menunggu dengan sabar.

Tiba-tiba seseorang berdiri di depan pintu masuk dan melemparkan sebuah amplop besar berwarna coklat tepat di hadapan Chanyeol. Orang itu langsung berlari pergi seakan-akan ia sedang dikejar waktu. Terdengar bunyi yang lumayan kuat ketika amplop dan lantai beradu. Menandakan isi dari amplop itu bukan hanya selembar kertas, tetapi benda padat yang memiliki beban cukup besar.

Chanyeol menggapai amplop itu dan mengangkatnya. Dengan pelan-pelan dibukanya perekat pada amplop itu.

"Handphone?" Chanyeol mengeluarkan benda yang sebelumnya dimasukkan dalam amplop. "Ada lagi." Chanyeol kembali memasukkan tangannya pada amplop itu dam menemukan sebuah baterai. Baterai handphone itu sendiri. "Apa ini? Kenapa baterai dan handphonenya sengaja dipisahkan?" Chanyeol mengerutkan kening.

Semua member menatap bingung pada kedua benda yang sedang dipegang Chanyeol dan berpikir dengan keras. Mencoba mengerti maksud dari isi amplop itu.

"Mungkin kita harus memecahkan clue lagi." Luhan membuka suara. Ia mengeluarkan pendapatnya dengan penuh kekecewaan. Seakan-akan hal yang dia inginkan tidak dapat tercapai. Ya, keinginan Luhan saat ini hanya satu. Bertemu kembali dengan Sehun dan memeluknya.

.

.

#######TBC#######

Mengecewakan? Sorry.

Kurang greget? Sorry.

Banyak typo? Sorry.

Author kaget banget sama review-review kalian. Kayanya udah pada bisa nebak ending cerita ini ya? Haha. Banyak loh yang perkiraannya benar, author jadi semangat masukin teka-teki yang makin rumit hahahaha/?

Karena author bukan tipe orang yang suka bikin ff bertele-tele, ff ini akan selesai KURANG DARI 10 CHAPTER. Yah sekitar 6, 7, 8 chapter lah. Biar readersnya juga nggak bosen sama ceritanya wkwk/?

Sorry banget udah hampir tiga minggu nggak di update. Semoga chapter selanjutnya bisa tepat waktu ya.

ff ini banyak terinspirasi dari variety show Korea, Running Man.

Siders nggak diterima. Bash nggak diterima.

Review ya, demi kemajuan ini ff juga. Kritik boleh, saran boleh, mengada-ada buat chap selanjutnya juga boleh/?

Makasih yang udah baca walaupun nggak tertarik buat follow.

Makasih yang review.

Makasih juga yang follow.

Makasih banget buat yang fav.

.

.

SEE YOU NEXT CHAPTER :)