TITTLE: CLUE?
SUMMARY: Sehun menghilang dan tidak ada seorangpun yang tau keberadaannya. Semua member terpaksa mengumpulkan clue yang diberikan penculik dan harus menyelesaikannya sendiri. Namun siapa yang tau? Bahwa semua ini hanyalah permainan belaka. Permainan yang membodoh-bodohi semua orang.
LENGTH: CHAPTERED
MAIN PAIR: HUNHAN
MAIN CAST:
- Luhan
- Sehun
- Suho
- Chanyeol
OTHER CAST:
- All EXO member
RATED: T
DESCLAIMER: All cast belong to God but this story's mine.
WARNING: OOC, TYPOS, BAHASA MEMBINGUNGKAN &LUMAYAN RUMIT, NO LOVE STORY.
NO BASH.
DON'T LIKE DON'T READ!
LAST,
HAPPY READING!
.
"Mungkin kita harus memecahkan clue lagi." Luhan membuka suara. Mengeluarkan pendapatnya dengan penuh kekecewaan seakan-akan hal yang dia inginkan tidak dapat tercapai. Ya, keinginan Luhan saat ini hanya satu, bertemu kembali dengan Sehun dan memeluknya.
.
.
Semua masuk kedalam mobil dan bersiap kembali ke dorm mereka. Hari ini berbeda dengan kemarin. Cukup cepat bagi mereka mendapatkan clue ketiga dan itu sedikit memudahkan pencarian hari ini. Mungkin semakin banyak mereka mengumpulkan clue, semakin sulit clue yang mereka dapatkan. Buktinya clue yang mereka dapatkan hari ini. Handphone dan baterai yang terpisah diletakkan dalam satu amplop berwarna coklat. Apa maksud dari hal itu?
"Chanyeol, coba kau masukkan baterai itu ke dalam handphone tadi." Ucap Xiumin sambil menghidupkan mesin dan mengeluarkan mobil dari area parkir.
"Aku sudah memasangnya." Chanyeol menghidupkan tombol on pada handphone dan menunggu beberapa detik. "Terkunci."
"Terkunci?" Chen tidak mengerti yang Chanyeol ucapkan. Ia mengerutkan keningnya sambil memperhatikan Chanyeol dengan bingung.
"Iya. Handphone ini terkunci dengan pin." Chanyeol memberikan handphone itu pada Chen. Chen menekan tombol on dengan terburu-buru. Seperti yang dikatakan Chanyeol, handphone itu terkunci dengan pin dan tidak ada satupun "pembantu" yang dapat membantu mereka untuk mengetahui passwordnya. Aneh.
"Sudahlah. Kita pikirkan di dorm saja. Jangan terlalu memaksa. Tidakkah kalian lelah terus memikirkan clue yang begitu rumit?" Suho memberi nasihat pada semua member. "Kita harus menjernihkan pikiran kita dulu." Lanjut Suho.
"Aku tidak lelah, hyung." Luhan tidak setuju dengan yang Suho katakan. Luhan sangat keras kepala beberapa waktu ini.
"Aku tau kau merasa menyesal kepada Sehun karena tidak melindunginya dengan baik. Aku tau perasaanmu, dan aku harap kau bisa menghilangkan perasaan itu. Ini bukan salahmu, Luhan." Suho mengucapkan kalimat penuh perhatiannya. Tentu saja semua member setuju dengannya. Luhan memang terlalu berlebihan.
"Aku tidak akan bisa menghilangan perasaan ini. Aku adalah orang yang paling dekat dengan Sehun dan aku tau bagaimana rasa takut yang dialaminya sekarang. Ini salahku karena aku tidak memperhatikannya dengan baik." Luhan menunduk dengan wajah yang mulai memerah dan tangan terkepal. Entah untuk yang keberapa kalinya dalam dua hari ini, ia benar-benar dipenuhi amarah.
"Hyung" Baekhyun ingin mencoba menenangkan Luhan. Ia tidak tau apa yang harus diucapkannya sehingga Baekhyun hanya bisa memanggil hyungnya dengan penuh kepedulian.
"Hyung, kau memang bersalah. Tetapi ini bukan hanya salahmu. Ini salah kita semua. Bukan hanya kau yang tidak memperhatikannya dengan baik pada saat itu, kita semua juga. Jadi aku harap kau tidak terlalu menyalahkan diri sendiri." Chanyeol mengeluarkan semua yang ada dikepalanya, mencoba membuat Luhan sedikit tenang.
Chanyeol tau kemarahan Luhan benar-benar diuji selama hampir dua hari ini. Chanyeol mengerti perasaan itu. Ia tau bagaimana rasa lelah yang dihadapi Luhan. Rasa lelah ketika ia melawan dirinya sendiri, mencoba menyalahkan dirinya sendiri. Chanyeol orang yang pernah merasakan itu, ketika semua orang mencurigainya dan seluruh alibi tertuju padanya. Mungkin kecurigaan semua member terhadap Chanyeol sedikit berkurang ketika ia berhasil memecahkan clue kedua. Tetapi bukan berarti ia dilupakan oleh semua member. Chanyeol yakin beberapa member masih beranggapan bahwa dialah pelakunya. Chanyeol yang akan menghapus tuduhan itu. Sendiri.
"Chanyeol benar, ini kesalahan kita semua. Bukan hanya kau, hyung. Aku tau kau begitu dekat dengannya, tapi merasa bersalah kepada diri sendiri bukan cara untuk menunjukkan rasa sayangmu pada Sehun." Kini Baekhyun yang berbicara.
"Kalian tidak akan pernah merasakan apa yang aku alami saat ini. Kalian tidak akan bisa mengerti."
.
.
"Kalian sudah pulang? Cepat sekali." Kyungsoo menghidangkan masakan yang sudah dipersiapkannya sedari tadi. Semua member sudah bersiap dan duduk dengan rapi di depan meja makan yang super besar itu. Kali ini Kyungsoo menghidangkan bulgogi dengan racikan bumbu yang diciptakannya sendiri.
Kai membantu Kyungsoo dengan membawa beberapa tambahan menu. Memang sedikit sulit menyajikan makanan untuk selusin member. Membutuhkan porsi yang cukup besar. "Kalian mendapat clue lagi?" Kai bisa membaca apa yang terjadi dari mimik wajah semua member.
"Ya, dan mungkin ini clue terakhir." Chanyeol melahap makanan sambil menjawab pertanyaan Kai.
"Tidak ada bantuan sama sekali yang kita dapatkan." Tao melanjutkan kalimat Chanyeol.
"Seperti apa bentuk clue itu? Selembar kertas lagi?" Tanya Lay penuh penasaran sambil duduk di bangku yang kosong kemudian melahap satu suapan.
"Tidak. Clue kali ini sebuah handphone." Chen mengeluarkan handphone yang didapatkannya dari pabrik tadi dan memberikannya pada Lay. Dengan cepat Lay mengambil dan menekan tombl on pada hadphone tersebut.
"Benar-benar tidak ada bantuan sama sekali?" Lay mengerutkan dahinya. "Itu tidak mungkin." Lanjut Lay kemudian melahap satu suapan lagi.
"Sudahlah, sekarang waktunya makan. Jangan berbicara saat makan. Kita lanjutkan nanti saja." Suho menyelip diantara percakapan.
"Junmyun, kenapa kau begitu mencurigakan hari ini?" Kris menyela sambil menatap Suho dengan mata elangnya.
"Apa maksudmu?" Suho tidak mengerti dan melanjutkan memakan makanan yang ada di hadapannya. Tidak ada perubahan pada mimik wajah Suho. Menandakan bahwa dia memang benar-benar tidak mengerti dan tidak tertarik dengan yang Kris katakan.
"Kau selalu menghalangi kita untuk mengerti arti dari clue yang satu ini. Ada apa? Kau tidak sama seperti hari kemarin." Kris kembali menatap Suho penuh selidik walaupun Suho tidak membalas tatapannya. Entah kenapa tiba-tiba pikiran ini hinggap di pikiran Kris. Memang Suho bertingkah aneh selama satu hari ini. Dia selalu menghalang-halangi semua member untuk mendiskusikan maksud dari clue yang diberikan penculik.
"Aku hanya tidak ingin kalian berpikir terlalu keras. Netralkan sejenak pikiran kalian. Sekarang masih pertengahan hari, kita masih memiliki banyak waktu untuk memecahkan clue ini. Aku hanya takut kalau-kalau kalian menjadi stress karena terlalu memikirkan kejadian ini terus-menerus." Suho menunjukkan wajah polos disertai kalimat penuh perhatiannya.
"Begitukah?" Kris menyahut seadanya. Mencoba mempercayai apa yang dikatakan Suho.
Selama makan siang ini, Luhan tidak berbicara sama sekali. Entah apa yang dipikirkannya sedari tadi. Ia memperhatikan setiap kata yang keluar dari mulut Suho, dan merasa ada sesuatu yang aneh.
Ia merasa Suho tidak mengatakan hal yang sebenarnya.
Memang tidak ada perubahan mimik wajah yang jelas ditampakkan Suho, tetapi jika kalian memperhatikan lebih seksama ketika Suho menyuapkan sesendok makanan kedalam mulutnya, bola matanya bergerak dengan liar seakan-akan menyembunyikan sesuatu.
Entahlah. Luhan memang tidak terlalu mempercayai dirinya sendiri kali ini. Mungkin Suho benar, Luhan terlalu berlebihan dan terlalu mudah mencurigai semua orang. Luhan tidak mau mencurigai seseorang yang tidak bersalah dan melukainya, seperti yang telah ia lakukan terhadap Chanyeol. Luhan sungguh menyesali perbuatannya.
Bagaimana mungkin Suho menjadi penculik yang sebenarnya? Apakah kalian tidak ingat betapa terpukulnya ia ketika menyadari Sehun menghilang? Apakah kalian tidak ingat betapa semangatnya ia ketika mendapatkan jawaban-jawaban dari clue-clue yang mereka dapatkan selama ini?
"Habiskan makanan kalian semua, dan aku harap tidak ada yang tidur siang. Kita akan menyelesaikan clue yang kita dapatkan setelah ini." Suho memberi perintah yang dibalas anggukan semua member.
.
.
"Untuk memecahkan clue ini, kita harus benar-benar memikirkan dari awal. Kalian bertiga yang tidak ikut dalam perjalanan tadi pasti tidak mengetahui bagaimana cara kami mendapatkan clue ini." Kris memulai percakapan ketika semua member sudah siap dengan duduk di sofa yang melingkar. "Kami menerima clue ini bukan di pabriknya. Tempat itu seperti showcase mebel-mebel yang sudah selesai dan siap dipasarkan. Tempat itu begitu sepi, dan tiba-tiba saja ada seseorang yang melempar sebuah amplop berwarna coklat ke arah Chanyeol." Kris mengambil napas untuk melanjutkan kalimatnya yang ditujukan kepada ketiga orang yang saat itu tinggal di dorm.
"Intinya, bahwa aku -dan mungkin semua member- setuju pada pendapat Luhan bahwa ini adalah permainan yang dilakukan oleh si penculik." Semua mata tertuju pada Kris dengan menampakkan wajah setuju atas apa yang barusan Kris katakan. Ketiga member mendengarkan dengan begitu seksama.
"Chanyeol membuka amplop itu dan menemukan sebuah handphone yang terpisah dengan baterainya. Sesaat setelah semua sudah masuk ke mobil untuk kembali ke dorm, Chanyeol memasukkan baterai itu ke dalam handphone dan menghidupkannya. Dan ternyata handphone itu terkunci dengan pin." Lanjut Kris dengan begitu jelas dan padat tanpa kekurangan satu kalimatpun. Ia menjelaskannya dengan begitu sempurna, membuat ketiga member mengerti dan menganggukkan kepala mereka.
"Tidak ada satupun bantuan untuk mengetahui password itu." Baekhyun bermonolog dengan mata yang tertutup dan tubuh yang bersandar pada sandaran sofa. Otaknya berpikir dengan sangat keras.
"Aku rasa ini bukan hal yang sulit." Chen mengerutkan keningnya, mencoba menerka-nerka. "Bukankah Kris hyung bilang kalau baterai dan handphonenya terpisah?" Chen bergumam.
"Apa maksudmu?" Suho bertanya penuh kebingungan ke arah Chen.
"Apakah kalian tidak berpikir bahwa password itu ada hubungannya dengan baterai yang terpisah?" Chen kembali bertanya pada semua member, termasuk pada dirinya sendiri.
"Mungkinkah?" Luhan dengan cepat merampas handphone dari tangan Kris dan membuka casing belakang handphone tersebut. Dengan cepat ia mencabut baterai dari handphonenya kemudian membolak-balikkan baterai itu berulang kali. "Tidak ada. Aku berpikir mungkin saja baterai ini ditulisi dengan sesuatu yang ada hubungannya dengan password handphone itu." Luhan merasa kecewa karena dugaannya meleset.
"Hyung.." Lay menatap casing handphone yang belum terpasang kembali. "Sepertiya aku melihat tulisan dibalik casing itu."
Mendengar apa yang di katakan Lay, Luhan membalik casing itu kemudian wajahnya berubah. Sebelumnya, wajah Luhan penuh dengan kebingungan. Berbeda dengan tadi, kini wajahnya berubah menjadi penasaran.
"Ini kode." Luhan membaca tulisan yang terdapat disana. "O, … , T, … , F, S, … , E, N, ..." Ia bergumam dengan kening yang semakin berkerut.
"Jadi si penculik sengaja memisahkan baterai dari handphone itu, kemudian menuliskan password dibalik casingnya. Semua orang pasti akan membuka casing itu untuk memasukkan baterai." Suho mengerti bagaimana cara jalan berpikir si penculik. "Tapi Yeol, kenapa kau tidak melihat tulisan itu saat kau pertama kali memasukkan baterainya?" Suho kembali menatap Chanyeol penuh kecurigaan.
Chanyeol menghembuskan napas berat, tidak berniat membalas kalimat Suho. Ia mengangkat kepalanya ke atas dan menutup matanya. Chanyeol menyadari, memang belum semua orang mempercayainya. Ia tidak tau lagi bagaimana cara untuk membuat semua orang percaya, bahwa ia bukanlah orang yang merencanakan ini semua.
"Hyung, sebenarnya Luhan juga tidak melihat tulisan itu saat ia membukanya." Baekhyun sedikit membela Chanyeol. Ia tidak tega jika harus melihat Chanyeol selalu dipojokkan oleh Suho.
"Sudahlah. Sekarang saatnya kita berpikir bagaimana cara untuk mengerti maksud dari tulisan ini." Tao mengambil bolpoin dan menuliskan tulisan yang terdapat di casing itu pada selembar kertas, kemudian memerhatikan tulisan itu dengan seksama.
"Apa yang harus kita lakukan? Mengisi titik-titik ini?" Lay bertanya penuh kebingungan setelah membaca kembali enam huruf acak dan empat titik-titik kosong yang menandakan bahwa titik-titik itu harus diisi.
"Apa kita harus mengisi titik-titik dengan enam huruf ini?" Xiumin memberi pendapat.
"Apa hubungannya enam huruf ini satu sama lain? O, T, F, S, E, N?" Chanyeol bermonolog dan mulai memikirkan jawaban.
"Mungkin saja ini singkatan dari suatu kata." Kini Kai yang mengeluarkan suara sesuai dengan yang terdapat pada otaknya.
"Kenapa F dan S kemudian E dan N bergabung sedangkan O dan T terpisah?"
"Apa maksudnya ini?"
"Bagaimana cara si penculik membuat hal seperti ini? Aku benar-benar tidak mengerti."
"Kenapa begitu sulit?"
"Apa hubungannya hal ini dengan menghilangnya Sehun?"
Semua member sibuk berbicara sendiri dengan wajah penuh kefrustasian dan kebingungan. Tidak ada seorangpun yang mengerti maksud dari clue ini.
Hanya satu orang yang berpikir dengan tenang, seakan-akan dia begitu optimis dia bisa mengerti arti dari tulisan tersebut. Luhan Duduk dengan tegak, tanpa menyandar pada sandaran sofa –seperti yang dilakukan semua member- Punggungnya begitu tegak menandakan bahwa manusia yang satu ini benar-benar bersemangat. Matanya menatap liar pada benda apapun yang berada di depannya. Otaknya berpikir dengan begitu keras. Bibir yang benar-benar terkatup rapat dengan aura wajah penuh keseriusan. Tidak ada satupun kata yang keluar dari bibirnya, sehingga tak seorangpun mengerti apa yang dia pikirkan.
Jarum jam sudah menunjukkan pukul empat. Sudah hampir satu jam mereka duduk dengan tidak bersuara sama sekali. Memikirkan jawaban dan maksud dari tulisan yang benar-benar rumit dan sama sekali tidak di mengerti. Semua sibuk dengan pikiran masing-masing dan hanya mengandalkan otak mereka saat ini. Tenaga benar-benar tidak dibutuhkan.
"Sudah cukup lama kita berpikir dan tidak seorangpun yang mendapat jawabannya." Tao mengeluh dengan wajah putus asa.
"Bagaimana jika kita fokuskan pikiran kita pada satu dugaan? Sepertinya itu sedikit memudahkan." Kai memberi saran yang disetujui semua pihak.
"Bagaimana jika kita mengamati huruf O dan T. Huruf O berada pada urutan lima belas pada alphabet, sedangkan huruf T urutan ke dua puluh." Kyungsoo mengeluarkan pendapatnya. Menatap setiap member. "Kita lihat, titik-titik berada diantara huruf itu. Jika aku melihat perbandingan urutan huruf ini dalam alphabet, kedua huruf ini berjarak lima huruf." Lanjut Kyungsoo dengan sedikit menerawang.
"Berhubung karena password handphone ini adalah pin, jadi kau mengira bahwa jawabannya lima?" Lay menyahut.
"Ya, jika kita lanjutkan dan melakukan hal yang sama pada semua titik-titik, kita dapatkan hasil 5, 14, 14, 1." Kyungsoo kembali mengucapkan perkiraannya yang mengejutkan semua member. Perkiraan Kyungsoo benar-benar diluar dugaan.
"Dari mana kau dapatkan 1?" Chanyeol tidak mengerti pada angka terakhir.
"Jarak alphabet N dan O." Balas Kyungsoo sambil memberi penjelasan.
"Itu perkiraan yang cukup cemerlang. Luhan, coba kau hidupkan kembali handphone itu, kemudian ketik 514141 pada pin handphonenya." Suho memberi perintah pada Luhan yang dibalas dengan anggukan.
Luhan menghidupkan handphone itu, kemudian mengetikkan 514141 pada kolom yang tersedia. Luhan menekan tombol enter, kemudian terkejut dengan hasilnya.
"Bagaimana?" Kai yang duduk di sebelah Luhan mengintip ke arah handphone itu dan menghembuskan napas berat, menunjukkan kekecewaan.
"Salah?" Kyungsoo menduga dari mimik wajah yang ditampilkan Kai.
"Salah." Jawab Luhan sambil menunjukkan layar handphone yang masih terkunci.
"Bagaimana jika kita menganggap bahwa ini adalah singkatan dari sebuah kata?" Lay memberikan saran yang membuat semua orang kebingungan, tidak mengerti.
"Jika itu singkatan dari sebuah kata, walaupun kita mendapatkan jawabannya, kita tidak bisa menuliskannya pada kolom password. Itu pin, kau tau? Hanya angka yang bisa kau tuliskan ke dalam kolom itu." Suho menyahut dengan kesal.
Luhan menyimak dan memutar kembali perkiraan Lay di dalam otaknya. Singkatan dari sebuah kata. Hanya angka yang bisa dituliskan dalam kolom itu. Kemudian..
Luhan menekan tombol on pada handphone itu. Semua member tidak menyadari perlakuan yang dilakukan Luhan. Semuanya sibuk dengan pikiran masing-masing dan tidak sempat melihat keadaan sekitar. Dengan wajah serius, ia mengetikkan beberapa angka pada kolom password.
"Terbuka." Dengan suara yang sangat pelan ia mengatakan dengan penuh kebahagiaan. "Ada video."
"Hey, bagaimana caramu membukanya?"
Semua member berkumpul dan mengerubungi handphone yang Luhan pegang. Luhan menekan tombol "play" dan videopun terputar.
.
Video benar-benar buram dan hanya berwarna hitam-putih. Awalnya ditujukkan sebuah ruangan yang cukup sepi disana. Kamera mengitari ruangan itu. Diakhir perjalanan, kamera menyorot bagian tengah ruangan, dan terdapat seseorang yang sedang terduduk disana. Kamera menyorot side profile orang yang terduduk dengan lemas itu. Tentu saja semua orang mengetahui tubuh siapa yang sedang disorot tersebut.
"Sehun!" Semua terkejut dan memanggil nama Sehun, tetapi tidak dengan Luhan.
"Kamera menyorot lebih dekat. Kini kamera menyorot tubuh dan wajah Sehun sepenuhnya. Tubuh Sehun penuh dengan ikatan-ikatan yang terlihat sangat ketat dan menyulitkan Sehun untuk bernapas. Kepalanya sedikit menunduk. Walaupun rekaman itu hitam putih, semua orang dapat melihat bahwa wajah Sehun benar-benar pucat dan lesu. Mulutnya di tutupi dengan masker, memaksa Sehun untuk tidak berbicara.
Beberapa detik, Sehun tersadar dia sedang disorot oleh kamera, ia membesarkan matanya dan berteriak dengan tidak jelas karena masker yang digunakannya.
"Ennggg!" Sehun berteriak penuh emosi dan wajah yang dibanjiri dengan airmata. Ia memajukan tubuhnya, seakan-akan ingin melepaskan ikatan yang berada pada tubuhnya. Matanya benar-benar tertuju pada kamera, berharap siapapun yang melihat rekaman ini dapat menyelamatkannya dengan segera.
Detik kemudian, video berhenti berputar.
.
Semua orang meledakkan emosinya. Berpikir dengan tidak karuan, memikirkan bagaimana kesengsaraan yang dialami Sehun saat ini. Beberapa orang menendang angin dengan kesal dan mengepalkan tangannya. Dengan wajah penuh kekhawatiran dan tidak percaya seseorang yang terdapat di dalam video itu adalah Sehun.
Luhan meledakkan emosinya. Ia melempar handphone itu ke sembarang arah dengan penuh emosi. Wajahnya benar-benar memerah dengan satu tetes jejak air mata terlihat di pipi kanannya. Tidak peduli seberapa penting handphone itu. Tidak penting seberapa dibutuhkanya handphone itu. Tidak peduli jika handphone itu masih menyisakan clue yang membantu. Ia menundukkan wajahnya, mengeraskan rahangnya dan meremas rambutnya penuh emosi. Terdengar suara sesenggukan. Bahu Luhan bergetar dengan hebat.
Ia menangis.
.
.
PUKUL 01:00 AM KST.
Semua member sudah tertidur, dan hanya satu yang masih terjaga. Dia berjalan dengan perlahan, berharap tidak seorangpun mengetahui bahwa dirinya masih terbangun. Ia mengambil sebuah kunci dari dalam kantung celananya, kemudian memasukkan kunci itu pada pintu yang terkunci.
Terdengar suara pintu yang terbuka, memecahkan keheningan malam itu.
"Hyung…"
"Makan ini. Aku mengambilnya dari meja dapur. Kau baik-baik saja?"
"Aku hanya sedikit lapar. Terima kasih, Suho hyung."
.
.
####### TBC #######
ADA TYPO GAK?
BIKIN DEG-DEGAN GAK?
SERU GAK SIH?
Hehehe. Rahasianya author bongkar deh.
Berhubung untuk satu minggu ini author mau hiatus (UKK), author berbaik hati untuk mengupdatenya lebih cepat dari yang biasa(?)
Udah pada tau kan siapa yang nyembunyiin(?) Sehun?
Tapi tenang aja, di ending nanti ada yang lebih mengejutkan(?) lagi hehe/?
Author lagi gamau banyak ngebacot nih,
**SEE YOU NEXT CHAPTER!**
