TITTLE: CLUE?
SUMMARY: Sehun menghilang dan tidak ada seorangpun yang tau keberadaannya. Semua member terpaksa mengumpulkan clue yang diberikan penculik dan harus menyelesaikannya sendiri. Namun siapa yang tau? Bahwa semua ini hanyalah permainan belaka. Permainan yang membodoh-bodohi semua orang.
LENGTH: CHAPTERED
MAIN PAIR: HUNHAN
MAIN CAST:
- Luhan
- Sehun
- Suho
- Chanyeol
OTHER CAST:
- All EXO member
RATED: T
DESCLAIMER: All cast belong to God but this story's mine.
WARNING: OOC, TYPOS, BAHASA MEMBINGUNGKAN &LUMAYAN RUMIT, NO LOVE STORY.
NO BASH.
DON'T LIKE DON'T READ!
LAST,
HAPPY READING!
.
PUKUL 01:00 AM KST.
Semua member sudah tertidur, dan hanya satu yang masih terjaga. Dia berjalan dengan perlahan, berharap tidak seorangpun mengetahui bahwa dirinya masih terbangun. Ia mengambil sebuah kunci dari dalam kantung celananya, kemudian memasukkan kunci itu pada pintu yang terkunci.
Terdengar suara pintu yang terbuka, memecahkan keheningan malam itu.
"Hyung…"
"Makan ini. Aku mengambilnya dari meja dapur. Kau baik-baik saja?"
"Aku hanya sedikit lapar. Terima kasih, Suho hyung."
.
.
"Luhan, tidak biasanya kau belum bangun jam segini. Ada apa?" Suho masuk ke kamar Luhan. Sebelumnya kamar ini ditempati Luhan, Kai, dan Tao. Kini hanya Luhan yang masih berbaring dan belum tersadar sama sekali.
"Luhan. Ayo bangun, kau belum sarapan." Suho kembali mencoba membangunkan Luhan. Berharap Luhan mau menurut padanya. Memang tidak aneh jika Luhan belum terbangun sedari tadi. Suho yakin Luhan baru tertidur satu jam yang lalu.
Kemarin malam, Luhan benar-benar mengeluarkan seluruh emosinya. Dia meminum hampir satu botol wine di depan dongsaeng-dongsaengnya. Suho tidak pernah melihat Luhan seperti itu. Menjadi begitu liar dan berantakan.
Saat termabuk-mabuk, Luhan mengeluh dan mengeluarkan semua yang ada di pikirannya. Seperti orang frustasi. Tidak ada yang berani menghentikannya karena Luhan benar-benar kehilangan kendali saat itu.
"Kemarin kau terlalu banyak minum, Lu. Aku menyesal tidak menghentikanmu. Lagipula kau terlihat begitu menyedihkan. Ayolah, Sehun baik-baik saja. Aku yakin. Kau tidak perlu menangisi dan mengkhawatirkan Sehun seperti itu. Dia memang maknae, tapi aku yakin di umurnya sekarang dia sudah bisa melindungi dirinya sendiri. Kau tidak boleh seperti ini." Seakan-akan berbicara pada benda mati, Suho terus mengoceh dengan memperhatikan wajah seseorang yang belum tersadar dari tidurnya. Suho hanya menghembuskan napas berat, membayangkan betapa bodohnya berbicara dengan orang yang bahkan tidak mendengarnya sama sekali.
"Suho, kumohon kau keluar." Luhan membuka suaranya dengan sangat serak. Tanpa membuka mata ataupun melakukan pergerakan, membuat Suho terkaget-kaget. Apakah mungkin sedari tadi ia tidak tertidur? Dia berpura-pura?
"Kau tidak tidur rupanya. Baiklah, aku akan keluar. Jangan mengingat kejadian kemarin. Jangan 'menggila' seperti kemarin. Aku tak yakin kau bisa menyelesaikan masalahmu sendiri, dan aku tau kau tidak akan mau berbagi dengan siapapun. Tenangkan dirimu sendiri, karena tidak ada yang bisa membantumu." Suho keluar dari kamar dan menutup pintu. Ia menghembuskan napas berat untuk yang kesekian kalinya.
"Kau merasa kasihan padaku kan? Semua merasa kasihan padaku. Aku tak butuh dikasihani." Sesaat setelah Suho keluar dari kamar dan menutup pintu, Luhan berbicara seakan-akan dia sedang berbicara dengan seseorang.
"Orang yang kalian kasihani seharusnya Sehun, bukan aku." Luhan membuka matanya setelah hampir dua jam menutup mata tanpa tertidur. Ia menatap langit-langit kamar dengan begitu sinis.
"Kalian semua tidak dekat dengan Sehun. Seseorang yang paling dekat dengannya hanya aku! Kalian hanya sepuluh orang yang bernyanyi satu panggung dengannya. Tidak lebih." Luhan meninggikan suaranya sambil mengeluarkan smirk dari bibirnya.
"Kalian tidak tau bagaimana perasaan Sehun saat ini. Aku tidak peduli berapa umurnya saat ini. Setua apapun dia, jika seseorang menculiknya, seharusnya kalian khawatir! Manusia bodoh mana yang tidak takut jika ia diculik dan disembunyikan dari orang sekitarnya? Bagaimana rasanya duduk di ruangan gelap tak bercahaya sendirian? Apa kalian tidak memikirkan bagaimana perasaan Sehun?!" Seperti orang gila. Luhan berbicara dengan suara yang semakin meninggi, namun ia tidak melakukan pergerakan sama sekali. Matanya tertuju pada langit-langit kamar dengan berapi-api, dan tangannya tetap diam di dalam selimut.
"Satu diantara kalian pasti adalah pelakunya. Aku tidak akan tinggal diam. Siapapun kau, aku tidak peduli!" Luhan kini berteriak. Wajahnya dan telinganya memerah, membuatnya semakin mengerikan.
Terdengar handle pintu yang ditekan. Lay, Suho, dan Xiumin masuk ke dalam kamar Luhan dengan wajah penuh kekhawatiran.
"Maafkan aku. Aku sedari tadi berdiri dibalik pintu dan mendengar semua yang kau ucapkan. Kau sudah melewati batas." Xiumin mendekati Luhan dengan perlahan dan duduk di sampingnya.
Melihat ketiga orang itu masuk, Luhan hanya bergeming dan tidak melakukan apapun. Mulutnya kembali terkatup dengan wajah yang begitu pucat dan bibir yang berwarna putih.
"Hyung, kau perlu menjernihkan pikiranmu." Lay ikut mendekat dan mengelus punggung Luhan dengan begitu lembut. Mencoba menenangkan Luhan.
"Kau tidak boleh seperti ini terus."
Mendadak saja, tangan kiri Luhan memegangi kepala bagian kirinya. Matanya tertutup rapat dengan rahang yang mengeras. Luhan mengeluh dengan sangat halus. Tiga orang yang berada disana menatap bingung dan tidak mengerti. Mereka sibuk mencerna apa yang terjadi pada Luhan dan tidak tau harus berbuat apa.
"Hyung, kepalamu kenapa?" Suho orang pertama yang bertanya pada Luhan
"Kau sakit kepala?" Lay mengkhawatirkan Luhan. Luhan yang diberi pertanyaan hanya terdiam dan semakin mengeraskan rahangnya.
"Lay, tolong ambilkan beberapa obat yang ada di kamarku." Xiumin memberi Lay perintah, yang dibalas dengan anggukan.
.
Lay berjalan dengan terburu-buru dan keluar dari kamar. Ia menuruni tangga dengan cepat. Jika ia membuat satu kesalahan, tubuhnya akan terjatuh mengenaskan. Lay tidak memikirkan hal itu dan semakin mempercepat langkahnya.
Lay sampai di lantai bawah dan segera berlari menuju kamar Xiumin. Semua orang yang melihat Lay dengan begitu terburu-buru hanya terdiam dan tidak mengerti apa yang terjadi. "Hey, apa yang terjadi?" Kris yang duduk di sofa sambil memakan snack dengan santai bertanya pada Lay.
Lay masuk ke kamar Xiumin dan sedetik kemudian keluar dengan membawa kotak obat yang cukup besar. "Luhan hyung mendadak merasakan sakit pada kepalanya." Seperti tidak ada waktu untuk menghentikan langkah, Lay membalas pertanyaan Kris sambil berlari menuju lantai dua.
"Sakit kepala? Ini pasti karena terlalu banyak minum wine." Kris mengikuti Lay dari belakang. Berbeda dengan Lay yang terburu-buru, Kris justru berjalan dengan santai tanpa menghilangkan wajah khawatirnya.
"Luhan hyung seperti orang gila kemarin." Semua member penasaran sekaligus khawatir pada Luhan. Gerombolan itu menaiki tangga dengan berisik. "Kita tidak bisa pergi ke rumah sakitkan? Kemudian bagaimana ini?"
.
.
KEMARIN 21:00 PM
Luhan meneguk segelas wine dengan skala besar. Matanya sudah memerah, menandakan betapa lelahnya dia. Tangannya menggenggam gelas wine dengan begitu kuat. Matanya menatap dengan sinis ke arah botol wine.
Ia menggapai botol itu kemudian menuangkan isinya pada gelas. Setelah gelas terisi dengan penuh –sangat penuh- ia kembali memasukkan cairan itu ke dalam tenggorokannya dalam satu tegukan.
"Siapa yang menyimpan wine ini? Aku akan sangat berterima kasih padanya." Luhan berbicara dengan setengah sadar. Matanya hanya terbuka setengah dengan senyum palsu yang ada pada wajahnya.
Belum ada yang tertidur saat itu. Semuanya duduk di sofa dan hanya memerhatikan Luhan dengan penuh kekhawatiran. Luhan duduk di lantai dan di depannya terdapat meja dengan satu botol wine yang isinya sudah setengah dihabiskan berikut dengan gelasnya.
"Kalian tau? Aku menyesal membuka handphone itu. Aku menyesal membuka video itu dengan tanganku sendiri! Aku menyesal." Luhan berteriak dan menendang angin dengan penuh emosi. Tangannya yang memegang gelas wine bergerak-gerak tanpa arah. Matanya semakin sayu dan kepala yang semakin menunduk. Seakan-akan merasa mendengar hal yang lucu, ia tertawa. Ya, dia tertawa sendiri, tanpa alasan.
"Haha. Aku orang yang paling bodoh di dunia ini." Luhan tertawa semakin keras.
"Hyung!" Suho tidak tahan dan memukul bahu Luhan dengan sedikit tenaga. Mencoba menyadarkan Luhan.
"Berhenti memukulku!" Luhan menggertak Suho dengan kasar. Suho menjauhkan tangannya dan menggelengkan kepalanya, merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja Luhan katakan.
"Sehun, kau kedinginan kan? Aku akan membelimu dua puluh sweater baru jika kau sudah pulang. Aku berjanji."
"Jangan biarkan si jahanam itu memegang wajahmu."
"Jangan biarkan ia melukaimu."
"Kau tidak bisa menghindarinya, kan? Bahkan jika dia membunuhmu, kau tidak bisa menghindarinya kan? Kau hanya sendiri disana. Tidak ada seorang pun yang bisa membantumu."
"Kau diberi makanan atau tidak? Jika tidak, ayo pulang. Aku akan memasakkan makanan kesukaanmu."
"Hun, aku tau kau bosan dengan bubble tea. Datang kesini, aku akan memberikanmu satu botol wine."
"Umurmu sudah cukup untuk meminum wine. Kau bukan anak kecil lagi, ayo minum denganku."
"Apakah ikatan yang ada di tubuhmu terlalu ketat? Mintalah bantuan pada penculikmu. Suruh dia melonggarkan ikatan itu."
"Jangan menangis Hun, aku akan menyelamatkanmu. Aku akan mengubur manusia jahanam itu."
Luhan berhenti berbicara. Tiba-tiba saja, bahunya bergetar dengan hebat. Kepalanya menunduk semakin dalam. Pegangannya pada gelas wine merenggang, membuat gelas itu terjatuh ke lantai dengan keras dan menciptakan suara benturan yang memecahkan keheningan.
Kedua tangannya meremas rambutnya dengan sangat kuat. Sedetik kemudian, satu-persatu air mata jatuh ke pipinya dan membuat jejak air mata disana. Tanpa ada suara apapun keluar dari mulutnya, air mata itu terus-menerus turun. Suara sesenggukan tidak keluar dari bibirnya.
.
.
"Kau terlalu banyak minum kemarin." Kata Baekhyun kepada Luhan dengan sedikit rasa kesal kepada hyungnya itu. Bagaimana mungkin dia jatuh sakit hanya karena memikirkan Sehun?
"Kau tidak biasanya minum sebanyak itu, hyung. Rasa sakit itu akan cepat hilang. Kau hanya perlu minum obat." Ucap Chanyeol sambil menatap Luhan penuh keprihatinan.
"Minum ini." Lay memberikan sebuah kapsul dan segelas penuh air putih. Luhan mengambil kapsul itu dan memasukkannya kedalam mulutnya. Ia hanya membutuhkan satu tegukan air untuk menelan kapsul itu.
"Istirahatlah, aku takut kau menjadi demam." Xiumin merapikan bantal dan selimut Luhan.
"Aku tidak apa-apa. Ini hanya sedikit pusing, jangan mengkhawatirkanku." Luhan berbaring dan menutup matanya.
"Sebaiknya kita keluar. Luhan butuh istirahat." Kyungsoo memberi saran. Kamar yang penuh dengan sebelas orang didalamnya itu memang sedikit sesak.
Satu-persatu member keluar dari kamar. Suho orang yang terakhir keluar dan menutup pintu.
"Junmyun." Sebelum Suho menutup pintu, Luhan memanggil namanya dan membuat Suho bingung.
"Ada apa?" Suho kembali masuk ke kamar.
"Password handphone itu 24710."
.
.
"Luhan memang keterlaluan. Bagaimana mungkin dia melempar handphone ini? Bisa saja di dalamnya masih terdapat clue yang membantu." Kai memasang casing belakang handphone yang terbuka karena Luhan membantingnya dengan begitu emosi kemarin.
Kai menghidupkan handphone itu, kemudian mengerutkan kening. "Bagaimana cara dia membuka password? Dia tidak memberitau kita." Kai mengerutkan keningnya.
"Passwordnya 24710. Dia memberitauku tadi. Sebelum aku keluar dari kamar." Jelas Suho. Semua member melirik ke arah Suho dengan tatapan bingung dan tidak mengerti. "Aku juga tidak tau kenapa jawabannya seperti itu. Jangan tanya padaku." Seakan-akan mengerti arti dari semua lirikan yang diberikan semua member, Suho menyahut dengan malas.
Kai mengetikkan anngka-angka itu pada kotak yang disediakan, kemudian menekan tombol enter.
"Bagaimana caranya dia memecahkan clue ini? Darimana angka-angka itu didapatkannya? Apakah otak Luhan secerdas itu?" Kris mencoba memikirkan dari mana angka-angka itu didapatkan.
"Sudahlah, yang terpenting handphone ini terbuka." Kai sibuk membuka seluruh aplikasi yang ada di handphone tersebut.
"Berikan padaku, Kai." Chanyeol mengambil handphone dari tangan Kai dengan terburu-buru.
Chanyeol membuka percakapan pesan pada handphone yang digenggamnya saat ini.
Tidak ada sama sekali pesan yang telah terkirim atau yang diterima, menandakan clue bukan berasal dari pesan pada handphone tersebut.
"Apa kalian yakin handphone ini memiliki clue?" Tanya Lay pada semua member yang berada disana.
"Tentu saja. Jika tidak, bagaimana cara kita menemukan Sehun? Kita hanya mendapatkan video, kan? Dan di video itu tidak terdapat sama sekali arah dan tujuan dimana kita bisa menemukan Sehun, seperti clue-clue sebelumnya." Tao memberi pendapat.
"Hey hey hey." Xiumin yang sedari tadi sibuk memainkan handphonenya menampakkan wajah khawatir. Seperti sesuatu yang ia baca di handphone itu begitu mengagetkannya. Semua menjadi penasaran dan memperhatikan Xiumin sambil meminta penjelasan.
"Ada apa hyung?" Kyungsoo mendekat dan melihat ke arah handphone Xiumin. Mendadak saja wajah Kyungsoo berubah. "Kita dalam masalah besar."
"Ada artikel yang baru saja beredar. Mereka mengetahui kita sedang berjalan-jalan di sekitar." Xiumin menjelaskan sambil memberikan handphone itu pada Kris. Kris mengambil handphone itu dengan terburu-buru.
"Mereka mendapatkan foto kita di pabrik. Di restoran juga. Bagaimana ini? Jika agency tau, kita dalam masalah besar." Wajah Kris berubah penuh kekhawatiran.
"Haruskah kita melakukan ini?" Chanyeol mendadak mendapatkan pemikiran yang tidak dipikirkan member lain.
"Apa maksudmu?" Suho yang sedari tadi tidak berbicara, ikut bergabung dan melihat Chanyeol dengan tampang tak mengerti.
"Kita beritahukan saja hal ini pada publik." Chanyeol mengeluarkan pikirannya yang membuat semua member berpikir dengan keras.
"Tidak mungkin. Karir kita akan hancur." Suho berdiri dan menatap semua member yang sedang berpikir keras saat ini. "Jangan memikirkan hal bodoh!"
"Tapi ini tidak ada salahnya. Pelaku akan kehabisan akal dan mengembalikan Sehun kepada kita." Kai menatap Suho penuh kepastian.
"Apa kalian sebodoh ini? Kita sudah hampir menyelesaikan semua permainan ini. Bisa saja ini clue terakhir. Yang kita butuhkan hanya berpikir sedikit lebih banyak!" Suho berbicara dengan sedikit kasar, mencoba membuat semua member memikirkan hal yang sama seperti yang ia pikirkan.
"Aku lelah hyung. Aku lelah selalu memikirkan hal yang tidak masuk akal dan sangat membutuhkan nalar. Tidakkah kau pikir lebih baik kita membocorkannya ke publik?" Tao menatap Suho dengan wajah putus asa.
"Karir kita akan hancur! Kalian tidak tau bagaimana kerasnya aku berusaha selama tujuh tahun! Pikirkan dulu resikonya sebelum berbicara. Apakah lebih sulit memecahkan clue daripada kehilangan karir kalian?" Suho benar-benar kehilangan kendali saat ini. Tangannya terkepal begitu keras dengan wajah yang memerah. Air mata menumpuk di matanya.
"Suho benar. Kita harus memecahkan clue ini sendiri. Seperti yang kita sudah sepakati sebelumnya. Tidak ada salahnya kita menunggu dan berusaha sedikit lebih banyak. Jika kita memberitahu publik, seluruh fans kita akan merasa kecewa. Jangan lakukan itu." Lay membela Suho.
"Hyung. Aku lelah! Serahkan saja ini pada agency kita!" Tao keras kepala dan tetap pada pilihannya.
"Jika kalian tidak mau menyelesaikannya, biarkan aku saja yang melakukannya. Sendiri." Luhan berdiri di anak tangga terbawah. Dengan wajah semakin pucat dan bibir semakin memutih. Tangannya memegang erat pada pegangan tangga, menandakan betapa sulit baginya untuk berdiri. Senyuman sama sekali tidak terdapat pada bibirnya. Luhan sibuk menatap mata semua member dengan berapi-api.
.
.
Selama satu hari ini, dorm dipenuhi dengan suasana dingin. Tidak ada candaan maupun tawa, sama seperti dua hari sebelumnya. Sebenarnya, dua hari sebelumnya tidaklah separah ini. Semua member sibuk dengan urusan mereka pribadi. Hanya beberapa diantara mereka yang melakukan percakapan.
Luhan, seseorang yang sedari tadi hanya terduduk di sofa tanpa melakukan apapun. Terlihat seperti ia tidak melakukan sesuatu untuk 'mencari' atau 'memikirkan' Sehun saat ini. Seakan-akan sedang memikirkan hal kosong, Luhan hanya menggerakkan bola matanya satu kali setiap sepuluh menit. Keadaannya sudah membaik saat ini, walaupun rasa pusing terkadang masih menjalar di kepalanya.
Jujur, memang sangat jarang bagi Luhan untuk meminum wine dengan kandungan alkohol yang cukup tinggi, apalagi ketika ia meminumnya sebanyak tadi malam. Luhan bukan tipe orang yang menyelesaikan masalah dan menenangkan otaknya menggunakan alkohol.
Alasan utama tubuh Luhan yang sedikit drop ini mungkin karena ia terlalu banyak memikirkan masalah-masalah yang sedang memberatkan pikirannya. Yah, apa lagi kalau bukan menghilangnya Sehun? Luhan sendiri menyadari bahwa dirinya terlalu berlebihan dalam menanggapi hilangnya Sehun, dia selalu merasa bahwa semua ini adalah salahnya.
Rasa sakit di kepalanya semakin terasa ketika semua member seakan-akan menjauhi dirinya. Yah, kalimatnya tadi memang begitu keterlaluan. Bagaimana mungkin seseorang mengatakan hal kekanak-kanakan seperti itu? Luhan sendiri tidak mengerti kenapa ia mengucapkan kalimat seperti tadi.
Sebenarnya kalimat itu mewakili rasa tidak setujunya kepada tanggapan hampir semua member –tidak termasuk Suho dan Lay- Bukankah mereka terlalu berlebihan? Bagaimana mungkin mereka mengatakan bahwa mereka lelah melakukan ini semua?
Hari sudah menjelang sore, namun keadaan tidak kian membaik sejak perseteruan yang mereka ciptakan sendiri. Artikel itu kini penuh dengan komentar fans mereka. Hampir semua diantara mereka mengatakan "EXO memang memerlukan refreshing" atau "Mereka juga manusia yang membutuhkan privasi. Jangan selalu menguntit mereka". Yah, setidaknya itu sedikit membantu EXO saat ini.
Seakan-akan lupa dengan tugas mereka untuk mencari clue dan menemukan Sehun, mereka tidak bergerak dan berusaha sama sekali. Mereka benar-benar membuang satu hari ini dengan percuma. Tidak banyak waktu yang tersisa, tinggal empat hari lagi.
.
.
######## TBC #######
Anggap saja ini chapter bonus hehe :D otak author lagi buntu, jadi hasilnya kaya gini deh. Mengecewakan banget ya? Swarry.
Author gabisa janji update tepat waktu nih. Otaknya lagi buntu. Maaf ya.
ff ini banyak terinspirasi dari variety show Korea,Running Man.
** SEE YOU NEXT CHAPTER!**
