TITTLE: CLUE?

SUMMARY: Sehun menghilang dan tidak ada seorangpun yang tau keberadaannya. Semua member terpaksa mengumpulkan clue yang diberikan penculik dan harus menyelesaikannya sendiri. Namun siapa yang tau? Bahwa semua ini hanyalah permainan belaka. Permainan yang membodoh-bodohi semua orang.

LENGTH: CHAPTERED

MAIN PAIR: HUNHAN

MAIN CAST:

- Luhan

- Sehun

- Suho

- Chanyeol

OTHER CAST:

- All EXO member

RATED: T

DESCLAIMER: All cast belong to God but this story's mine.

WARNING: OOC, TYPOS, BAHASA MEMBINGUNGKAN &LUMAYAN RUMIT, NO LOVE STORY.

NO BASH.

DON'T LIKE DON'T READ!

LAST,

HAPPY READING!

.

"Bagaimana kalian akan menjelaskan ini?"

Pagi-pagi buta, mendadak saja seseorang masuk kedalam dorm EXO. Siapa lagi kalau bukan manager mereka?

Semua member duduk dengan rapi di sofa, mendengarkan ocehan-ocehan manager mereka dengan penuh keresahan, mencoba menutup-nutupi sesuatu. Memang EXO termasuk hebat, menyembunyikan masalah besar dari manager dan agency mereka. Tidak mungkin ada grup idol lain yang mampu melakukannya, selain EXO.

"Aku mengerti jika kalian bepergian selama satu minggu ini, karena memang jadwal kalian kosong." Tatapan manager semakin menajam ke arah Suho, menandakan bahwa ia ingin mendapat penjelasan dari Suho, sang leader. "Tapi kenapa di artikel ini terdapat foto kalian sedang mendapatkan secarik kertas? Kemudian di foto berikutnya, di tempat berbeda, kalian mendapatkan amplop berwarna coklat. Jujurlah dan ceritakan padaku." Sang manager menunjuk-nunjuk artikel di handphonenya dan memamerkan artikel tersebut pada semua member, membuat Suho dan yang lainnya menunduk. Mereka terlihat seperti tidak berniat menjelaskan.

"Tidak bisakah kalian membuka mulut?" Sang manager semakin penasaran. Melihat dari tampang mereka, terlihat sekali bahwa mereka sedang menyembunyikan sesuatu. Dengan penuh penasaran, manager menatap seluruh manik mata orang-orang yang ada didepannya, kemudian berhenti dan menyadari sesuatu.

"Kenapa… kalian hanya sebelas?"

.

"Hyung, kami bisa jelaskan." Suho berdiri dan memegang pergelangan tangan manager mereka yang sepertinya tidak mengerti dengan keadaan yang sedang terjadi.

"Kalau kau bisa jelaskan, tolong jelaskan. Kemana Sehun?" Manager memegang kepalanya, menandakan ia sedang sibuk berpikir saat ini. Tentu saja ini mengagetkan. Otaknya sibuk memikirkan apa yang terjadi dan begitu menuntut penjelasan.

"Sehun diculik."

"Kau bercanda?!" Manager berteriak penuh emosi. Tangannya terkepal dan menatap ke semua arah penuh dengan kefrustasian. "Bagaimana mungkin? Apa kalian begitu bodohnya kehilangan salah satu member saat aku pergi? Apa kalian tidak bisa mengurus Sehun dengan baik saat aku pergi?!" Sang manager siap menampar pipi kanan Suho, namun sedetik kemudian mengurungkan niatnya.

"Maafkan aku." Suho menunduk. Menutup matanya dengan sangat rapat, siap mendapat cacian dari sang manager.

"Jelaskan lebih rinci." Sang manager duduk di sofa yang kosong, tubuhnya begitu lemas dan tidak bertenaga. Punggungnya disandarkan pada sandaran sofa. Matanya semakin menatap semua orang dengan tajam.

Suho membuka mulutnya, mencoba menceritakan hal-hal yang terjadi selama empat hari ini.

Belum sempat ia mengeluarkan suara, Luhan menyentuh bahunya, mengisyaratkan Suho untuk diam.

"Sehun menghilang empat hari lalu, pagi hari ia sudah tidak terlihat di dalam kamarnya. Kami mencoba menemukan alasan kenapa ia diculik, namun kami tidak bisa menemukannya. Penculikan ini benar-benar tak bermotif. Kemudian, pada hari itu kami mencari di sekitar kamar, dan menemukan sebuah clue. Awalnya kami berpikir bahwa clue tersebut merupakan clue yang diberikan Sehun. Namun, semakin banyak kami menerima clue, semakin kami yakin bahwa clue itu tidak dibuat oleh Sehun, melainkan dibuat oleh sang penculik." Luhan menggantikan Suho dan menjelaskannya pada manager tanpa menutup-nutupi apapun.

"Jadi kami pergi ke tempat-tempat yang ditujukan oleh clue tersebut, dan kami akan mendapat clue selanjutnya yang semakin mendekatkan kita pada Sehun." Chanyeol menyahut, melengkapi kalimat Luhan.

"Kesimpulannya, ini adalah permainan yang dibuat penculik?" Manager menghembuskan napas berat.

"Benar, hyung." Kyungsoo menjawab sang manager.

"Kemudian kalian mencoba menyelesaikannya sendiri? Bodoh. Aku akan memberitahu agency tentang masalah ini, dan akan mengadakan press conference segera." Manager berdiri dan berjalan menuju pintu dorm. Semuanya hanya bergeming dan tidak tau apa yang harus mereka lakukan. Wajah mereka memucat dan kosong.

"Hyung." Suho orang pertama yang sadar dari kekosongannya dan menggapai pundak manager yang siap membuka pintu. Semua member hanya melihat adegan itu dengan wajah frustasi, siap menghadapi permasalahan yang akan muncul.

"Kami bisa menyelesaikan masalah ini, jangan menghubungi agency. Kami mohon." Suho memohon pada managernya dengan sedikit paksaan. Berharap pemikiran sang manager berubah oleh kalimat yang baru saja ia katakan.

"Suho benar, hyung." Semua menyahut hampir bersamaan, memohon dengan sangat kepada manager mereka yang sepertinya sedang berpikir begitu keras.

"Aku tidak bisa." Sang manager menepuk bahu Suho sekilas, kemudian menggapai handle pintu dorm dan mencoba keluar.

"Tunggu, hyung. Kami mohon. Karir kami akan hancur, isu-isu akan menyebar dengan cepat dan agency akan membenci kami. Masalah akan semakin rumit. Kami tidak akan bisa melanjutkan pencarian kami mencari Sehun karena kami harus mengadakan press conference dan media akan sangat sering mencari kami dan mewawancarai kami. Kita tidak bisa melakukannya, hyung. Ini kesempatan kami, karena dua hari kedepan kami tidak memiliki jadwal, kami akan berusaha dengan keras, hyung. Kami mohon." Suho menggenggam bahu sang manager penuh dengan emosi yang bercampur dengan kekhawatiran. Tangannya bergetar. Matanya dilapisi dengan air mata yang siap jatuh kapan saja.

"Suho, sadarlah. Ini bukan masalah yang bisa kalian anggap mudah. Masalah ini akan benar-benar serius. Bagaimana jika Sehun sudah tidak selamat? Apakah kalian tidak berpikir bahwa mungkin saja dia sedang diteror, atau mungkin dia sudah tak bernyawa. Dunia ini kejam, dan kalian kehilangan dia disaat ia menjadi seseorang yang dikenal dunia. Sesuatu yang besar pasti sudah terjadi padanya." Manager menegaskan setiap kata yang keluar dari bibirnya dengan emosi yang tertahan. "Dua hari tidak akan cukup untuk menemukannya. Kalian hanya sebelas orang, dan kalian tidak memiliki keterampilan apapun. Kita harus bekerja sama dengan pihak kepolisian. Bagaimana jika kalian tidak berhasil pada dua hari tersebut dan belum menemukan Sehun? Apa kalian bisa tampil dipanggung mewah dan luas itu dengan sebelas orang? Kita harus melaporkannya, sebelum terlambat."

"Tidak. Kami akan menemukan Sehun. Berikan kami waktu dua hari tersebut, kami akan berusaha dengan keras dan menemukannya. Taruhannya adalah karir kami, EXO."

.

"Baiklah, aku tidak akan bertanggung jawab ataupun ikut campur dengan urusan ini. Aku akan mengunci mulutku dengan rapat. Aku tidak percaya dengan kalian dan memang sedikit khawatir, namun inilah yang kalian minta. Aku tidak akan membocorkannya pada agency atau pihak kepolisian. Aku berikan waktu dua hari, jika kalian tidak bisa melakukannya, pihak kepolisian yang akan menyelesaikannya. Aku pulang."

Butuh waktu yang tidak sebentar untuk meyakinkan sang manager yang baru saja keluar dari dorm. Sedetik setelah kepergian Manager, semua member menghembuskan napas berat hampir bersamaan. Psikis mereka benar-benar diuji dengan kedatangan manager mereka yang sepertinya sedang berbaik hati saat ini.

Sekitar lima menit, tidak ada yang memulai percakapan, hingga Kris membuka mulutnya dan mengeluarkan suara "Kita tidak punya banyak waktu. Berikan padaku handphone itu." Kris menarik handphone dari tangan Luhan kemudian menghidupkannya. "Apa kau masih ingat password handphone ini?"

"24710 hyung." Suho mengingat kembali jawaban yang kemarin diberikan oleh Luhan.

"Hyung, jujur, aku tidak mengerti alasan mengapa jawabannya 24710. Bisa kau jelaskan?" Baekhyun membuka percakapan baru sambil menatap ke arah Luhan dengan ekspresi penasaran.

"Tidak ada waktu untuk itu." Luhan menolak, kemudian menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa sambil menghembuskan napas berat.

Lima menit telah berlalu, semua sibuk dengan pikiran masing-masing. Kris tidak berhenti membuka seluruh data yang terdapat di handphone tersebut, berharap menemukan clue yang benar-benar membantu disaat seperti ini.

"Hyung, kita sedang mencari clue dimana tepatnya keberadaan Sehun, bukan?" Kai membuka mulut, mencoba membuat hyungnya mengerti dengan kalimatnya yang baru saja ia ucapkan. Melihat wajah semua orang yang menatapnya penuh kebingungan, Kai menarik napas, siap menjelaskan lebih jauh. "Buka aplikasi Map pada handphone itu, hyung. Bisa saja sudah ada pelacak yang terdapat disana."

Kris menggangguk setuju pada Kai kemudian dengan cepat membuka aplikasi yang Kai ucapkan tadi. Butuh beberapa detik untuk membuka Map. Semua menatap Kris, mencoba membaca ekspresi yang ia tampilkan.

"Ada!" Kris mengangkat kepalanya, menatap satu-satu member yang terlihat sedikit lega karena telah menemukan tujuan kemana mereka harus pergi.

Luhan merampas handphone itu dari tangan Kris, kemudian membaca alamat spesifik yang berada tepat dibawah anak panah berwarna merah. "Rumah sakit 'Moonlight' di Cheon Chamdong." Luhan berdiri, siap melakukan perjalanan menurut alamat yang tertulis di Map tersebut. "Kita pergi sekarang. Tidak ada banyak waktu."

"Aku tidak ikut, mobil tidak akan cukup mengangkut kita semua." Suho mengajukan diri.

Semua member hanya mengangguk dan berlalu, sama sekali tidak menyadari dan tidak mencurigai seseorang yang benar-benar menyembunyikan kebenaran.

Seseorang yang mungkin pantas untuk disalahkan atas semua ini.

.

"Apa kalian tidak menaruh curiga pada Suho?" Perjalanan diisi dengan kekosongan, sampai akhirnya Luhan membuka suaranya dan memulai percakapan.

"Apa maksudmu?" Chanyeol menyahut tanpa menoleh sedikitpun pada Luhan. "Geser sedikit, Kai. Aku tak bisa bernapas."

"Aku juga tidak bisa bernapas." Kai menjawab Chanyeol dengan malas.

"Sesekali aku pernah melihat bola matanya bergerak begitu liar ketika ia menjawab pertanyaan Kris, ketika Kris mencurigainya. Ia terlihat begitu menyembunyikan sesuatu." Luhan menegakkan posisi duduknya, memukul-mukul pundaknya pelan sambil mengeluarkan ekspresi lelah pada wajahnya.

"Aku setuju dengan Luhan. Kalian tau, kan? Dia tidak pandai berpura-pura. Empat hari yang lalu, pada saat pagi hari ketika Sehun menghilang, kemarahan yang ditunjukkannya begitu palsu. Apakah hanya aku yang menyadarinya?" Kyungsoo yang duduk di bangku tengah menoleh ke belakang, tempat dimana Luhan duduk sedari tadi.

"Suho hyung tidak mungkin seperti itu." Lay membela Suho dengan suara yang begitu halus, seakan-akan dia sendiri tidak yakin dengan kalimatnya.

"Dia satu-satunya orang yang berusaha keras dan memaksa meyakinkan bahwa kita tidak perlu menyebarluaskan kasus ini." Tao memberi pendapatnya.

"Setiap kita pergi menggunakan mobil ini, dia selalu memerintahkan dua atau tiga orang yang harus tinggal dan tidak ikut dalam perjalanan. Hari ini justru dia tidak meminta seseorang untuk menemaninya di dorm. Seakan-akan ia ingin melakukan sesuatu disana, sendirian." Chen semakin memojokkan keadaan Suho saat ini, membuat semua orang semakin yakin akan keanehan yang ditampilkan Suho dengan begitu jelas.

Detik kemudian, tidak ada yang membuka mulutnya. Keadaan di mobil ini begitu sesak dan penuh. Tubuh mereka yang memang lumayan ramping membuatnya sedikit lebih mudah, walaupun tidak bisa membantah bahwa keadaannya seperti tidak memiliki ruang gerak.

Perjalanan dari dorm sudah menempuh hampir setengah jam. Memang tidak begitu jauh, namun cukup membosankan. Xiumin mengendara dengan begitu tergesa-gesa, walau tidak mengurangi kewaspadaannya. Menemukan rumah sakit yang dituju memang membutuhkan sedikit waktu.

"Ayo cepat turun." Berhubung Suho tidak disini Kris memimpin perjalanan.

Setelah semua member turun dari mobil, mereka langsung memulai langkah dan berjalan menuju pintu utama rumah sakit tersebut. Kris orang pertama yang masuk, memegang handle pintu perlahan, kemudian mendorongnya. Mendadak saja ekspresi kaget terpancar di wajahnya.

"Seseorang telah menunggu kalian, silakan naik menuju lantai teratas rumah sakit ini, masuklah ke ruang Peterpan nomor 365. Saya permisi." Seorang perawat dengan pakaian serba putih yang lengkap dan rapi tiba-tiba saja menyambut mereka tanpa kalimat pembuka dan langsung menyerbu dengan kalimat panjangnya.

Butuh beberapa detik untuk menyadarkan Kris dari kekagetannya. Ia mencoba mengingat kembali hal apa saja yang telah dikatakan oleh perawat tadi. "Lantai teratas. Ruang Peterpan nomor 365."

Sepuluh orang berjalan berdampingan dan memenuhi lift yang sedang meluncur ke atas gedung dengan kecepatan yang cukup tinggi. Kurang dari tiga puluh detik, mereka sampai di lantai tertinggi, lantai 12.

"Semua kamar yang ada di lantai ini bernama Peterpan. Kita hanya perlu mencari nomor 365." Dengan cepat Kai melangkahkan kakinya dari lift sesaat setelah pintu lift terbuka.

"Ada tiga lorong disini. Kita tidak tau lorong mana yang memiliki kamar bernomor 365. Sebaiknya kita berpencar." Kris memberi perintah. "Luhan, Kai, dan Xiumin. Kalian pergi ke lorong sebelah kiri; kemudian Lay, Tao, Kyungsoo, Chanyeol, kalian pergi ke lorong sebelah kanan. Sisanya ikut denganku." Kris berjalan terburu-buru menuju lorong yang tepat berada dihadapannya. Chen dan Baekhyun mengikuti di belakang.

"Lorong ini cukup jauh. Kita harus bergerak dengan cepat." Di lorong kiri, Luhan bertindak sebagai pemimpin. Kai dan Xiumin yang berjalan dibelakang Luhan menengokkan kepala mereka ke kanan dan ke kiri, mencari nomor kamar yang mereka tuju.

"Luhan hyung." Kai mempercepat langkahnya dan menyamai posisi Luhan. "Lorong ini hanya memiliki dua digit angka. Sepertinya kamar 365 tidak ada disini." Kai melanjutkan kalimatnya.

"Kau benar. Kalau begitu, kau dan Xiumin hyung pergi menuju lorong yang memiliki tiga digit angka. Aku akan mengamati lorong ini. Mungkin saja terdapat sesuatu yang mencurigakan." Luhan menyahut tanpa melirik ke arah Kai dan tak berniat mengurangi kecepatan langkahnya.

.

"Kalian meninggalkan Luhan?" Kris membalikkan badannya sesaat setelah ia mendengar langkah-langkah berat terdengar di belakangnya. Kris memperhatikan dengan bingung kedua laki-laki yang baru saja menghampiri mereka.

"Kamar di lorong itu hanya terdapat nomor satuan dan puluhan." Xiumin menjawab Kris.

"Luhan hyung ingin memastikan bahwa nomor 365 tidak terdapat di lorong tersebut." Lanjut Kai sambil memulai langkah menyusuri lorong tengah yang tampaknya lebih dalam dibandingkan lorong sebelumnya.

"Sepertinya disini juga tidak ada kamar yang bernomor 365. Lorong ini pasti akan berhenti pada nomor 200." Chen melangkah dengan penuh keseriusan, memperhatikan setiap kamar-kamar yang dilewatinya.

Lantai teratas rumah sakit ini memang tidak terlalu dipadati oleh pasien maupun penjenguk. Keadaan begitu sepi dan hanya beberapa pasien yang berlalu lalang. Semuanya tidak peduli dengan keberadaan EXO disana. Tampak seperti EXO bukanlah sesuatu yang dapat mencuri perhatian.

Rumah sakit ini cukup mewah. Dengan interior yang serba putih, membuat suasana tampak begitu bersih dan nyaman. Bau obat-obatan tercium dari seluruh penjuru rumah sakit. Bau khas yang sedikit memuakkan.

Kris, Chen, Baekhyun, Kai, dan Xiumin sampa diujung lorong. Mereka memperhatikan dengan kecewa kamar terakhir di lorong tersebut. "300." Ucap Baekhyun sambil merenggangkan otot-ototnya. Sesuai dengan perkiraan, pekerjaan yang mereka lakukan benar-benar tidak mendapatkan hasil dan sia-sia.

Semua membalikkan badan hampir dalam waktu yang bersamaan. Berjalan keluar dari lorong dengan terburu-buru, berhubung mereka tidak perlu mengamati lorong tersebut untuk yang kedua kalinya. Benar-benar kosong dan tidak ada sama sekali yang perlu 'dicurigai'.

Mereka sampai tepat ditempat sebelum mereka berpencar. Lima orang disana bermaksud ingin menunggu Luhan dan pergi bersama menuju lorong paling kanan.

Sudah beberapa menit berlalu, Luhan belum menampakkan batang hidungnya.

"Kita tinggalkan saja Luhan. Dia pasti tau kemana dia akan pergi." Kris kembali memimpin perjalanan menuju lorong sebelah kiri. Keempat yang lain hanya mengangguk dan mengekor dibelakang sang pemimpin.

Satu langkah memasuki lorong, Kris merasakan sesuatu yang aneh pada lorong ini. Berbeda dengan lorong yang lain, sepertinya lorong ini bukanlah kamar rawat inap, melainkan ruangan-ruangan berupa fasilitas rumah sakit.

"Kemana mereka?" Sejauh pandangan Xiumin pada lorong tersebut, tidak tampak keberadaan Lay, Tao, Kyungsoo, dan Chanyeol disana.

"Mereka pasti sudah menemukan cluenya." Kai tersadar dan mulai sibuk membuka setiap ruangan yang ada pada lorong tersebut.

Semua mengikuti Kai dan mencari dengan terburu-buru.

Sampai pada dua pintu terakhir pada lorong tersebut, Kai menghentikan langkahnya dan membaca tulisan yang terukir dengan sangat tipis pada pintu ruangan tersebut. "Hyung! 365!" Kai membaca ukiran tersebut.

Kai membuka pintu tersebut, dan benar saja. Lay, Tao, Kyungsoo, dan Chanyeol sedang mengerumuni sesuatu disana. Ruangan itu dipenuhi dengan alat-alat kesehatan yang begitu besar dan tampaknya jarang digunakan. Terbukti dengan banyaknya debu yang melapisi benda-benda tersebut.

"Kris hyung! Ini cluenya." Chanyeol menyadari kehadiran member-member lain dan segera menunjukkan secarik kertas yang tampak polos.

"Kertas?" Kris mengangkat sebelah alisnya. "Darimana kalian mendapatkan kertas kosong ini?"

"Dari amplop yang juga tidak bertuliskan apapun." Lay memberikan amplop berukuran cukup kecil kepada Kris.

"Kita pikirkan di dorm. Sekarang kita harus segera keluar dari ruangan ini dan bertemu dengan Luhan." Saran Xiumin sambil berjalan menuju pintu keluar ruangan tersebut.

"Kemana Luhan Hyung?" Tao tersadar bahwa Luhan tidak berada disini.

.

Mereka berjalan kembali menuju lorong dimana Luhan berada. Dengan terburu-buru semua member berjalan dan mengecek seluruh ruangan.

Sampai pada ruangan terakhir, mereka membuka pintunya dan menemukan Luhan yang sedang sibuk mengamati ruangan luas tersebut. Ruangan ini adalah ruangan VIP untuk pasien yang mungkin dianggap penting.

"Luhan hyung! Kenapa lama sekali? Apa yang kau lakukan sedari-tadi? Kami sudah menemukan cluenya." Chanyeol orang pertama yang masuk ke dalam ruangan dan menghampiri Luhan.

"Aku mengecek dengan sangat teliti setiap ruangan di lorong ini. Mana cluenya?" Jawab Luhan.

Chanyeol menyerahkan kertas kosong kepada Luhan. Dengan cepat luhan merampas kertas tersebut.

"Tidak ada apa-apa disini." Luhan mengerutkan keningnya.

"Kami mendapatkannya di ruangan berukir '365' pada pintunya. Ruangan itu di penuhi dengan alat-alat rumah sakit."

"Kertas itu berada di dalam sebuah amplop."

"Kami semua sudah mengecek amplopnya da memang tidak menemukan apapun disana."

Satu persatu member menjelaskan dengan rinci kepada Luhan. Luhan mengangguk mengerti.

Sekitar lima menit, tidak ada yang berbicara. Kerutan pada kening Luhan semakin terlihat, membuatnya tampak begitu berbikir dengan keras. "Kita harus pergi sekarang, atau paparazzi akan datang." Lay mengingatkan.

"Tunggu sebentar." Luhan mengangkat kepalanya dan menatap semua member secara bergantian. "Air lemon. Kertas ini ditulis dengan air lemon." Luhan sedikit meninggikan suaranya.

"Aku tidak mengerti maksudmu. Apa itu?" Kris mendekat pada Luhan.

"Jika kau meraba kertas kosong ini, ada beberapa bagian yang terasa begitu tipis, seperti kertas yang dibasahi. Kai, tolong matikan lampu ruangan ini." Perintah Luhan.

Setelah ruangan tersebut menjadi gelap gulita tanpa penerangan sedikitpun, Luhan mengambil handphonenya dan menghidupkan lampu handphone tersebut.

Lampu handphone menyinari kertas yang tadinya tampak kosong tersebut. Kini terlihat begitu jelas, terdapat tulisan disana. "Gudang."

.

.

Luhan turun dari mobil dengan sedikit berlari. Membuka pintu dorm dengan kasar dan langsung menuju bagian belakang dorm yang sangat jarang sekali tersentuh.

Ruangan yang sama sekali tidak pernah terbayang olehnya. Tempat yang sangat tidak masuk akal. Selama satu minggu ini, Sehun berada disana? Dengan tubuh yg terikat sama seperti video yang menunjukkan keadaannya yang begitu mengenaskan?

Apa ini sebuah mimpi?

Sampai di depan pintu, Luhan menarik napasnya dengan berat. Berharap penuh bahwa gudang ini adalah jawaban dari semua yang telah mereka lakukan selama seminggu ini. Berharap ini adalah yang terakhir.

Satu minggu yang dipenuhi keemosian. Satu minggu yang benar-benar mengguncang psikis mereka. Satu minggu dimana karir EXO dipertaruhkan.

Member berdiri di belakang Luhan. Menunggu Luhan membuka pintu tersebut dengan harap-harap cemas.

Luhan memegang handle pintu tersebut, kemudian menekannya.

Terdengar suara pintu yang terbuka.

Luhan membuka pintu tersebut dengan terburu-buru dan sedikit membantingnya. Gelap gulita.

.

"Suho.. kenapa kau ada disini?"

.

.

END

.

.

Hehe. Becanda.

NEXT CHAPTER IS THE LAST CHAPTER.

Akhirnya selesai juga chapter 6 ini. Sebenernya kemarin udah sempet kepikiran gamau ngelanjutin, tapi berhubung saya bukan author tega dan meninggalkan para readers yang penasaran, saya lanjutin aja. Wkwk.

Maaf kalo ada typonya hehe.

Oh ya, masih pada penasaran ya jawaban clue di chapter 4 gimana dapetinnya? Pikir-pikir sendiri dulu aja ya. Soalnya di chap terakhir nanti author bahas semuanya.

Yah, semoga author punya mood buat bikin chapter terakhir tersebut.

ff ini banyak terinspirasi dari variety show Korea, Running Man.

Review ya, demi kemajuan ini ff juga. Kritik boleh, saran boleh, mengada-ada buat chap selanjutnya juga boleh/?

Makasih yang udah baca walaupun nggak tertarik buat follow.

Makasih yang review.

Makasih juga yang follow.

Makasih banget buat yang fav.

.

.

**SEE YOU NEXT CHAPTER**