Sunshine Becomes You
[kriskai version]
CHAPTER 2
Disclaimer: I don't own the story but kris and kai is mine
Remake dari novel Sunshine Becomes You by Ilana Tan
Kriskai slight sungyeol x jongin
.
.
.
.
.
.
"KRIS!"
Kris mendengar seruan Sungyeol sebelum dirinya mendarat di lantai dan kepalanya membentur sesuatu yang keras. Pandangannya menggelap sesaat dan kegelapan serasa berputar-putar di balik kelopak matanya. Sesuatu yang besar menindihnya. Ia tidak bisa bicara. Dan hampir tidak bisa bernapas.
"Kris! Kris, kau tidak apa-apa?"
Kris mendengar suara Sungyeol yang cemas, tetapi ia tidak bisa menjawab
"Jongin?"Suara Sungyeol terdengar lagi. Kali ini nada suaranya terdengar lebih cemas lagi"Jongin, kau tidak apa-apa?"
Kris membuka mata dan langsung menyadari apa yang sebenarnya menindihnya dan membuat dadanya terasa berat. Pemuda berwajah Asia yang menindih Kris itu mengerjap satu kali, lalu mata hitamnya terbelalak kaget.
"Oh! Oh, astaga. Oh, astaga! Maafkan aku" Ia cepat-cepat berusaha berdiri.
"Jongin, kenapa…? Apa yang terjadi?" tanya Sungyeol sambil menarik lengan pemuda itu untuk membantunya berdiri. Pemuda itu meringis ketika kaki kanannya menginjak lantai.
"Aduh, Aduh. Sebentar…"
"Kakimu terkilir? tanya Sungyeol khawatir"
Kris menatap adiknya dengan tatapan tidak percaya. Sungyeol sibuk mengurusi pemuda itu dan tidak peduli pada kakaknya yang tergeletak tak berdaya di lantai? Lihat saja, Wu Sungyeol akan menerima balasannya nanti. Kris berusaha duduk. Ia menggerakkan tangan untuk menopang tubuhnya dan langsung diserang oleh rasa sakit yang tidak tanggung-tanggung.
"Ada luka lain?" Suara Sungyeol terdengar lagi dan sudah pasti pertanyaan itu bukan ditujukan kepada Kris. "Kepalamu terbentur? Ayo, sebaiknya kita pergi ke rumah sakit"
"Tidak!" bantah pemuda itu cepat. "Kenapa harus ke rumah sakit? Tidak. Aku baik-baik saja"
"Tapi sebaiknya kau memeriksakan diri ke rumah sakit. Hanya untuk memastikan" kata Sungyeol lagi.
"Tidak perlu. Sudah kubilang aku tidak apa-apa"
"Tapi…"
Kris duduk dengan susah payah dan menyela adiknya, "Kurasa kita harus ke rumah sakit."
jongin menoleh ke arah Kris. "Sungguh. Aku tidak perlu ke rumah sakit. Aku…"
"Bukan kau" sela Kris tajam sambil mengertakkan gigi menahan rasa sakit yang menusuk-nusuk pergelangan tangan kirinya. "Tapi aku"
Kali ini Sungyeol menoleh ke arah Kris
"Oh, astaga"
.
.
"APA? Kakakmu seorang pianis?" Jongin menatap Sungyeol yang duduk di sampingnya dengan mata terbelalak lebar. "Pianis?"
Sungyeol balas menatapnyak dan tersenyum tipis, namun Jongin bisa melihat ekspresi cemas di wajah laki-laki itu.
"Ya. Malah dia cukup terkenal" sahut Sungyeol pelan. Jongin merasa sekujur tubuhnya berubah dingin.
"Aku mematahkan tangan seorang pianis terkenal" gumamnya lirih. Lalu ia memejamkan mata dan menutup wajah dengan kedua tangannya. "Ya Tuhan"
"Hei, ini bukan kesalahanmu" kata Sungyeol sambil memegang bahu Jongin dan mengguncangnya pelan, mencoba menghiburnya. "Kau juga bukannya sengaja tersandung karpet dan menjatuhkan diri dari tangga untuk mencelakainya"
Jongin menghela napas dalam-dalam dan mengembuskannya dengan pelan. Ia dan Sungyeol sedang duduk di deretan bangku di koridor rumah sakit, menunggu Kris Wu yang masih berada di ruang pemeriksaan dokter. Ajaibnya, Jongin sendiri tidak terluka setelah terjatuh dari tangga. Hanya ada sedikit memar di pahanya. Pergelangan kakinya tadi juga hanya terkilir ringan dan sekarang sudah sembuh.
Sedangkan Kris … Mereka tidak tahu separah apa cedera yang dialami Kris, tetapi melihat bagaimana laki-laki itu memejamkan mata dan mengertakkan gigi menahan sakit selama perjalanan ke rumah sakit, Jongin sudah mempersiapkan diri menerima yang terburuk. Tetapi, ia benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang. Apa yang harus kau lakukan apabila kau mematahkan tangan pianis terkenal? Yah… Tentu saja hal pertama yang harus kau lakukan adalah meminta maaf. Jongin belum sempat melakukannya tadi. Ya, ia harus meminta maaf setelah itu? Selain meminta maaf, apa lagi yang harus kau lakukan apabila kau mematahkan tangan pianis terkenal? Membayar biaya perawatannya? Bagaimana kalau Kris Wu tidak bisa bermain piano lagi? Gagasan itu tiba-tiba menyelinap ke dalam benaknya membuat Jongin menegang.
Ya Tuhan, semoga hal itu tidak terjadi. Ia pasti merasa sangat berdosa kalau hal itu sampai terjadi. Jongin kembali menarik napas dalam-dalam dan bau rumah sakit yang dibencinya membuat dadanya terasa berat dan sesak. Telinganya menangkap suara-suara di sekitarnya. Suara para dokter dan perawat yang membahas pasien tertentu dalam istilah kedokteran yang tidak dipahami orang awam, suara bernada monoton yang terdengar dari pengeras suara, dering telepon, bunyi ranjang beroda yang didorong cepat sepanjang koridor, bunyi berdenting ketika pintu lift terbuka. Semua suara itu membuat Jongin semakin tertekan. Ia ingin segera keluar dari sini. Ia ingin…
Tiba-tiba Sungyeol melompat berdiri di sampingnya. Jongin mendongak dan melihat Kris Wu keluar dari ruang pemeriksaan bersama seorang dokter tua. Sepertinya sang dokter sedang mengatakan sesuatu dan Kris Wu mendengarkan sambil mengangguk muram. Mata Jongin berahli ke tangan Kris. Tangan kirinya dibebat dan tergantung kaku di depan dadanya. Jadi… tangannya benar-benar patah?
"Bagaimana tanganmu? Apa kata dokter?"
Sungyeol bertanya ketika Kris sudah selesai bicara dengan dokter dan menghampiri mereka. Jongin ikut berdiri dengan perlahan. Saat itu juga mata Kris beralih ke arahnya dan Jongin merasa jantungnya berhenti sejenak dan napasnya tercekat. Mata hitam yang menatapnya dengan dingin itu membuat Jongin berharap bumi menelannya detik itu juga. Seandainya tatapan bisa membunuh, Jongin pasti sudah terkapar tak bernyawa. Kemudian tatapan mematikan itu berahli ke arah Sungyeol.
"Kenapa dia masih ada di sini?" tanya Kris dengan suara rendah dan pelan.
Jongin menggigit bibir dan melirik Sungyeol sekilas. Ia tahu pasti siapa dia yang dimaksud. Begitu pula Sungyeol.
"Kris, ayolah. Jongin tidak mencelakaimu dengan sengaja. Kau tahu itu" kata Sungyeol berusaha menenangkan kakaknya.
Kris Wu tidak berkata apa-apa. Tanpa melihat ke arah Jongin lagi ia berjalan melewati adiknya dengan langkah lebar.
"Kris" panggil Sungyeol.
"Kris!"
Jongin menatap punggung Kris yang berjalan pergi menyusuri koridor dengan perasaan bercampur aduk. Bingung. Cemas. Takut. Sungyeol mendesah berat dan menoleh menatap Jongin sambil tersenyum.
"Ayo" katanya
Jongin menatap Sungyeol, lalu menatap sosok Kris yang menjauh, lalu kembali menatap Sungyeol.
"Eh… kurasa aku tidak…"
"Ayolah"
sela Sungyeol sambil meraih siku Jongin dan menariknya menyusul Kris yang sudah tiba di depan pintu lift di ujung koridor. Begitu pintu lift terbuka dan mereka melangkah masuk, Jongin langsung berdiri menempel di sudut. Kris tidak berbicara sepatah kata pun. Sungyeol menatap Jongin dan kakaknya bergantian, lalu mengembuskan napas pelan.
"Jadi apa kata dokter?"
Sungyeol mencoba bertanya kepada Kris sekali lagi.
Jongin memberanikan diri melirik Kris. Ia tidak bisa melihat laki-laki itu dengan jelas dari tempatnya berdiri, tetapi dari apa yang bisa dilihatnya, wajah Kris masih terlihat menakutkan. Setelah sejenak, terdengar suara Kris yang rendah
"Aku tidak boleh menggerakkan tanganku. Dan tanganku akan tetap dibebat seperti ini selama dua bulan ke depan. Setelah itu kita baru bisa tahu dengan pasti apakah ada kerusakan permanen, dan apakah aku bisa menggerakkan tanganku seperti dulu lagi"
"Dua bulan?" tanya Sungyeol kaget. Ia menatap kakaknya,
"Berarti konsermu minggu depan…"
"Mm"
Konser? Minggu depan? Konser apa?
Mata Jongin berahli dari Kris Wu ke Sungyeol, lalu kembali ke KrisWu.
Apa yang sedang mereka bicarakan? Jangan-jangan…
"Harus dibatalkan"
Tepat setelah Kris Wu berkata seperti itu, terdengar bunyi berdenting dan pintu lift terbuka. Kris dan Sungyeol melangkah keluar dari lift, namun Jongin mematung sejenak sebelum tersadar dan cepat-cepat menyusul mereka. Jadi Kris seharusnya mengadakan konser minggu depan? Dan sekarang ia harus membatalkan konser itu karena tangannya cedera? Jongin memang tidak tahu banyak tentang penyelenggaraan konser, tetapi membatalkan suatu pertunjukan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ada masalah ganti rugi dan semacamnya… Bukankah begitu?
Astaga, masalah ini semakin rumit. Setelah mereka masuk ke dalam mobil Sungyeol mengemudi, Kris menempati kursi penumpang di sampingnya, dan Jongin duduk di kursi belakang yang agak sempit. Dan mobil melaju meninggalkan rumah sakit, Jongin berusaha menenangkan diri dan mengumpulkan keberaniannya. Ia memejamkan mata, menarik napas panjang diam-diam, dan baru hendak membuka mulut untuk meminta maaf ketika Kris mengeluarkan ponsel dari saku celananya, menekan salah satu tombol, lalu menempelkan ponsel ke telinga. Jongin mengurungkan niatnya dan menutup mulutnya kembali.
"Kau menelpon siapa?" tanya Sungyeol.
"Luhan"
"Manajermu?"
"Mm" Lalu, "Luhan? Ini aku. Aku ingin kau membatalkan konser minggu depan"
Jongin menggigit bibir.
"Tidak, bukan hanya konser di New York ini. Semuanya… Ya, semuanya… Chicago, L.A, Boston… Ya, Luhan, semuanya. Batalkan semua jadwalku sampai akhir tahun"
Jongin mulai menggigiti kuku jarinya. Jadi bukan hanya satu konser? Apakah keadaan ini bisa lebih buruk lagi?
"Akan kuceritakan besok" kata Kris
"Sekarang katakan padaku apa yang bisa kau lakukan tentang pembatalan ini?"
Jongin tidak terlalu mengerti apa yang dibicarakan setelah itu. Kris lebih banyak mendengarkan, kadang-kadang menyela untuk bertanya atau bergumam pendek. Jongin memandang ke luar jendela, namun tidak benar-benar mengamati sesuatu. Pemandangan di luar sana melesat lewat dalam bentuk bayangan samar. Hari ini bukan hari yang mudah bagi Jongin, dan bukan hanya karena masalah Kris. Harinya sudah terasa salah sejak Jongin membuka mata pagi ini. Dan dari sana segalanya bertambah buruk. Sungyeol membelok ke Riverside Drive. Tidak lama kemudian ia melambatkan laju mobilnya dan berhenti di depan salah satu gedung bertingkat empat di tepi jalan.
Kris menutup ponsel dan menoleh ke arah Sungyeol.
"Aku harus menemui Luhan besok pagi. Kau bisa mengantarku ke sana?" Ia menggerakkan tangan kirinya yang digantung di depan dada. "Aku tidak bisa mengemudi"
"Maaf, besok tidak bisa" sahut Sungyeol dengan nada menyesal. "Kami harus tampil dalam acara amal untuk anak-anak"
"Aku bisa"
Dua kata itu meluncur dari mulut Jongin sebelum sempat diproses otaknya. Kedua laki-laki yang duduk di depannya menoleh menatapnya. Yah, sebenarnya Sungyeol yang menoleh menatapnya. Kris hanya memiringkan kepala sedikit, melirik Jongin sekilas, lalu kembali menatap lurus ke depan.
"Aku…" gumam Jongin agak salah tingkah.
"Aku bisa… Maksudku…"
Kris menghela napas panjang, lalu bergumam, "Tidak perlu"
Lalu kata-kata berikutnya lebih ditujukan kepada Sungyeol, "Biar kusuruh Luhan datang ke sini saja besok pagi"
Jongin membuka mulut untuk mengatakan sesuatu, tetapi tidak sempat, karena Kris sudah membuka pintu mobil dan keluar. Sungyeol melemparkan seulas senyum menenangkan ke arah Jongin, lalu bergegas membuka pintu mobil dan menyusul kakaknya yang sudah mulai menaiki tangga batu di luar gedung. Jongin juga keluar, namun ia tetap berdiri di samping mobil di trotoar, melihat Sungyeol memegang bahu Kris dan mengatakan sesuatu kepadanya. Jongin tidak bisa mendengar apa yang dikatakan sungyeol dari tempatnya berdiri, tetapi Kris hanya mendengarkan Sungyeol tanpa berkata apa-apa. Kris menyipitkan mata menatap adiknya, lalu menoleh ke arah Jongin. Tanpa sadar Jongin menelan ludah ketika mata gelap itu menatapnya. Dan tanpa sadar pula ia melangkah mundur dan punggungnya langsung menempel di mobil. Kemudian Kris kembali menatap Sungyeol, mengatakan sesuatu yang singkat, lalu berjalan masuk ke dalam gedung. Pintu depan tertutup di belakang Kris dan saat itu barulah Jongin bisa mengembuskan napas yang ternyata ditahannya sejak tadi. Sungyeol menuruni tangga dan menghampiri Jongin.
"Jangan khawatir. Kris tidak menyalahkanmu" katanya sambil tersenyum menenangkan.
Jongin menatapnya dengan alis terangkat ragu. "Kau yakin? Asal kau tahu saja, dia terlihat sangat menakutkan bagiku"
Sungyeol tidak menjawab. Ia hanya tersenyum, lalu berkata, "Aku akan mengantarmu kembali ke Small Steps"
Jongin menggeleng. "Tidak perlu. Sebaiknya kau menemani kakakmu saja" sahutnya tegas. Melihat Sungyeol sepertinya ragu dan hendak membantah, Jongin cepat-cepat memaksa bibirnya tersenyum dan berkata, "Aku akan menelponmu nanti. Oke?"
Jongin berlari-lari kecil menaiki tangga dan memasuki gedung Small Steps Big Steps Dance Studio. Ricard yang duduk di balik meja resepsionis mengangkat wajah. Begitu melihat siapa yang datang, pria setengah baya itu langsung terkesiap, melompat berdiri dan bergegas menghampiri Jongin. Kecelakaan di tangga tadi sempat menghebohkan orang-orang di sana dan Ricard hanya ingin memastikan Jongin tidak menderita luka parah atau semacamnya. Tanpa memberikan penjelasan mendetail tentang Kris Wu, Jongin menegaskan kepada Ricard bahwa dirinya baik-baik saja dan malah bisa langsung mengajar kelas berikutnya tanpa masalah. Dan Ricard berjanji akan membakar karpet tua sialan yang membuat Jongin tersandung dan akhirnya terjatuh dari tangga. Setelah itu Jongin pergi ke ruang loker untuk bersiap-siap. Jam yang tergantung di dinding ruang loker menunjukkan bahwa kelasnya akan dimulai setengah jam lagi.
Jongin sudah menjadi instruktur tari kontemporer di Small Steps Big Steps Dance Studio selama kurang-lebih satu tahun terakhir ini. Ia menyukai pekerjaannya. Setidaknya dengan begini ia masih bisa menari. Walaupun menjadi instruktur di studio tari tidak sama dengan menjadi penari utama dalam pertunjukan besar di Broadway, setidaknya ia masih bisa menari. Itulah yang terus-menerus dikatakannya pada diri sendiri. Setidaknya ia masih bisa menari. Menari adalah hidupnya. Menari adalah jiwanya. Ia tidak punya keahlian selain menari. Ia tidak berani membayangkan apa yang akan terjadi padanya apabila ia tidak bisa menari lagi. Jongin sadar ia sama sekali tidak bisa dibilang berotak encer. Nilai pelajarannya di sekolah dulu biasa-biasa saja. Ia tidak menonjol dalam mata pelajaran apa pun. Dulu ia adalah anak kecil yang teramat sangat biasa. Tidak terlalu tampan, tidak terlalu pintar. Tetapi juga tidak jelek dan tidak bodoh. Berbeda dengan orangtuanya. Ayahnya adalah professor matematika di universitas dan ibunya adalah akuntan. Kata orang, buah tidak akan jatuh dari pohonnya.
Tetapi disitulah letak permasalahannya. Jongin bukan anak kandung orang tuanya. Ia diadopsi oleh keluarga Kim sejak bayi. Kenyataan bahwa dirinya adalah anak adopsi sudah diketahui Jongin sejak kecil. Namun orangtuanya menyayanginya sepenuh hati, selalu menganggap Jongin sebagai anak kandung, dan selalu mendukung Jongin. Jongin tidak pernah kekurangan kasih sayang atau apa pun. Tetapi kadang-kadang ketika ia masih kecil ia ingin tahu siapa dirinya sebenarnya. Ia tahu dirinya diadopsi dari panti asuhan di Korea. Tetapi tidak ada yang tahu siapa orangtua kandungnya, atau latar belakangnya.
Jongin membuka pintu loker dan mengeluarkan tasnya. Lalu ia duduk di bangku panjang di tengah-tengah ruangan dan menarik napas panjang. Ia tidak pernah benar-benar ingin bertemu dengan orangtua kandungnya. Untuk apa bertemu? Memangnya ada gunanya?
Ia mengeluarkan tabung plastik kecil dari dalam tas, membuka tutupnya, menjatuhkan sebutir pil ke telapak tangan dan langsung memasukkannya ke mulut.
"Jongin?"
Jongin tersentak dan menoleh.
"Oh, Lay" gumamnya ketika melihat rekan kerjanya sesama instruktur di Small Steps.
Lay membuka pintu loker di sebelah loker Jongin. Ia menggerakkan dagunya, menunjuk tabung plastik yang ada dalam genggaman Jongin.
"Kau sakit?" tanyanya.
Jongin melempar tabung plastik itu ke dalam tasnya dan mendesah. "Sakit kepala"
"Gara-gara jatuh di tangga tadi?"
"Bagaimana kau bisa tahu tentang kejadian di tangga tadi?" Jongin balas bertanya.
"Bukankah kau tadi tidak ada"
Lay tertawa kecil. "Ricard memberitahuku begitu aku kembali sehabis makan siang. Katanya Sungyeol dan temannya juga ada di sana waktu itu dan mereka yang mengantarmu ke rumah sakit"
Jongin mengernyit ketika teringat pada Kris Wu.
"Dia bukan teman Sungyeol, tapi kakaknya" gumamnya. "Dan bukan aku yang terluka, tapi dia"
"Oh, ya? Tapi dia tidak apa-apa, bukan?"
Jongin mendesah berat. "Tangannya terkilir dan harus dibebat selama dua bulan ke depan"
"Oh? Tapi apakah dokter mengatakan sesuatu? Apakah cederanya serius?"
Jongin mengangkat bahu. "Tidak. Entahlah"
"Kalau dia memang cedera parah, dokter pasti sudah berkata begitu. Mungkin hanya terkilir sedikit. Bukan masalah besar" kata Lay
Jongin menatap temannya dan tersenyum samar. "Mudah-mudahan saja begitu"
Lay melepas jaketnya dan menggantungnya ke bagian belakang pintu loker.
"Aku lega kau tidak terluka, tapi aku ingin sekali melihat reaksi Sungyeol ketika melihatmu jatuh dari tangga" katanya. "Dia pasti panik setengah mati"
Jongin berdiri dan memasukkan tasnya kembali ke dalam loker. "Oh, ya? Kenapa?"
Lay menoleh ke arahnya dengan alis terangkat. "Kenapa?Jongin, dia jelas-jelas menyukaimu. Dia setuju mengajar di sini juga karena kau memintanya. Jangan katakan padaku kau tidak menyadarinya"
Oh, ya. Jongin menyadarinya. Tetapi ia hanya tersenyum dan berkata, "Sungyeol memang baik"
Lay menutup pintu lokernya dan menyandarkan sebelah bahu di sana, menghadap Jongin. "Dia memang baik. Jadi apa lagi yang kau tunggu?"
Jongin menoleh menatap temannya. "Apa?"
"Dia baik, menyenangkan, dan menurutku enak dipandang. Jadi apa lagi yang kau tunggu?" tanya Lay sekali lagi. "Kau tidak menyukainya?"
"Aku..."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
Gimana hehe?
Mohon dimaklumi kalau hasil remake an saya masih kurang baik, karena ternyata nge remake itu agak susah menurut aku sih.
Tapi makasih buat yg udah baca dan review. Lop yu
Mind to ripiyu again? thanks
