Seorang pria tampak berdiri di sebelah sebuah benda menyerupai peti—capsule—yang dibaringkan.

Capsule tersebut memiliki tinggi sekitar pinggang pria tersebut. Bagian atas peti yang berbentuk setengah lingkaran terbuat dari kaca sementara mulai dari tengah—yang berhubungan langsung dengan kaca—hingga bagian bawahnya terbuat dari material serupa logam berwarna putih. Terima kasih pada kaca yang tembus pandang, ditambah penerangan berwarna kebiruan yang berasal dari dalam capsule, bagian isi dalam capsule dapat semakin terlihat dengan jelas.

Sosok seorang wanita berkulit putih—tepatnya berwarna putih susu, warna yang berbeda dari warna kulit manusia kebanyakan—tampak berbaring di sana dengan mata yang terpejam. Tidak ada tanda-tanda bahwa sang wanita akan membuka matanya ataupun menggerakkan salah satu anggota tubuhnya. Ia hanya terdiam berbaring di atas logam dingin, di dalam capsule yang mengurung tubuhnya.

Wanita berambut ikal berwarna hitam legam itu mengenakan gaun putih yang menutupi dari batas dada hingga lututnya. Tidak ada aksesori apapun lagi yang melekat pada tubuhnya yang tampak proporsional, tidak pula ada make-up yang menempel di wajahnya. Meskipun demikian, dilihat dari parasnya, orang akan setuju kalau wanita yang tampak seolah tertidur ini adalah wanita yang cantik—terlepas dari warna kulitnya yang berbeda dari orang kebanyakan.

Sang pria berjanggut hitam akhirnya menghentikan kegiatannya mengamati sosok wanita dalam capsule dengan sebuah helaan napas panjang. Ia pun memencet sebuah tombol berwarna merah yang melekat di bagian logam dari capsule tersebut.

Tak berapa lama, sinar tipis berwarna kemerahan tampak bergerak secara melintang dari bagian puncak kepala hingga ujung kaki sosok yang tengah menutup mata tersebut. Sinar itu berulang kali bergerak menyinari tubuh sang wanita—setelah sampai di ujung kakinya, sinar itu akan menghilang dan kembali muncul dari bagian kepalanya.

Beberapa saat setelah sinar itu melakukan tugasnya, bunyi-bunyian mulai menyemarakkan ruangan kosong yang terbilang gelap itu. Gelap, karena penerangan hanya berasal dari dalam capsule dan dua buah komputer yang dibiarkan menyala. Mendengar bunyi-bunyian—yang ternyata berasal dari salah satu komputer—pria berambut kelam dan agak acak-acakan itu pun langsung bergerak. Ia menghampiri komputer layar datar yang berkedip-kedip dan menunjukkan jendela sistem yang terbuka dalam jumlah banyak.

Ia menarik kursi yang ada di depan komputer tersebut dan mulai melihat setiap jendela sistem. Berbagai gambaran organ dalam tampak dalam jendela sistem tersebut. Tidak ada yang aneh, semua tampak normal. Otak, paru-paru, jantung, hati, ginjal, usus, dan organ lainnya, semua tampak wajar.

Pria setengah baya tersebut kembali menghela napas panjang sebelum matanya melirik ke arah capsule.

Sudah sekitar 17 tahun ia melakukan penelitian ini—tentu saja perhitungan waktu ini sudah termasuk waktu yang digunakan untuk mengatasi berbagai hambatan yang ditemui. Alat-alat yang digunakan pun sudah semakin berkembang, dari menggunakan X-Ray scanner biasa sampai pada pemindai yang lebih canggih. Lalu apa hasilnya? Nihil.

Dan sampai sekarang, tidak ada seorang peneliti pun yang berani mengambil tindakan untuk mengoperasi langsung tubuh wanita tersebut. Terlalu beresiko.

Dalam hati, pria berambut hitam tersebut merasa sedikit lega, tapi ada tuntutan lain yang membuatnya tidak bisa senang dengan kenihilan yang terus ia terima.

Mata hitam pria itu kemudian kembali menatap tajam ke arah komputernya, meneliti inchi demi inchi gambar yang ada di dalamnya. Dia harus memeriksa semua detailnya, tidak boleh lagi ada yang terlewatkan. Bukankah pemindai kali ini sudah diatur agar dapat menghasilkan gambar dengan perbesaran beberapa kali lipat tanpa menyebabkan gambar pecah?

Beberapa saat meneliti detail tiap gambar, pria itu akhirnya menyerah sesaat. Diangkat kepalanya hingga mengarah ke langit-langit. Tangannya merogoh saku celananya, mengeluarkan sebungkus rokok dan menyelipkan sebatang ke mulutnya. Tangan yang lain terus mencari pasangan rokoknya—pemantik. Dirabanya sekujur tubuhnya hanya untuk menyadari bahwa tidak ada sebuah pemantikpun yang ikut bersamanya.

Pria itu pun mengumpat sembari mengeluarkan kembali rokok yang sudah terselip di mulutnya, "Sial! Tidak pemantik, tidak 'Core'…."

Sekali ini tatapan pria itu kembali ke arah capsule. Sambil meringis, ia kembali berkata.

"Apa kau yang menyembunyikan pemantikku sebagaimana kau menyembunyikan 'Core'-mu?... Kurenai?"


EXTRATERRESTRIAL

Disclaimer : I do not own Naruto. Naruto © Masashi Kishimoto

Pairing : ShikaIno and may be some slights or hints

CHAPTER 2. Don't Forget


Gelap. Ia tidak bisa melihat apapun. Samar-samar, ia mulai menyadari bahwa kedua matanya ditutup oleh sesuatu yang terasa seperti kulit manusia—tangan yang dingin.

"… di… kau…," ujar suara yang terdengar samar, "… kau… begitu…."

Ia mengernyitkan dahinya, berusaha menajamkan pendengarannya agar kata-kata yang patah-patah itu dapat lebih jelas tertangkap oleh indra pendengarannya.

"Se… lah besar nanti… usahakan… kau…."

Terdengar tawa kecil dari orang yang dari tadi berbicara tersebut.

"Tidak, tidak. Kau tidak perlu mengingatnya sekarang. Nikmati saja hidupmu dulu." Suara yang semakin terdengar jelas itu mendadak menghela napas. "Yang perlu kau ingat untuk saat ini hanya satu, oke, Shikamaru?"

Ia mengatakan sesuatu, sesuatu yang ia sendiri tidak ingat. Tapi lawan bicaranya seolah dapat menangkap pertanyaannya dan kembali berbicara.

"Jurusan Astronomi…." Sosok itu menjauhkan tangan yang menutupi matanya. "Jurusan yang mempelajari tentang antariksa, makhluk-makhluk di luar bumi-mu ini… ya! Jurusan itu! Itu tujuanmu!"

Begitu matanya kembali dapat menerima terjangan cahaya, meskipun temaram, samar-samar ia bisa melihat sosok seorang gadis yang lebih tinggi darinya—darinya yang masih seorang bocah berusia sekitar 10 tahun. Dan setelah itu, dirasakannya tubuhnya tertarik oleh gravitasi dan terjatuh ke belakang.

"Wasurenaide ne!"

Sraats!

Pemuda itu membuka matanya. Seketika itu juga kornea-nya menerima cahaya yang benderang. Ia mengernyit dan kemudian menggosok matanya dengan punggung tangan sebelum ia dapat melihat ke sekelilingnya dengan lebih jelas.

Jendela yang terbuka, kursi-kursi yang kosong, layar putih, lalu seorang pria berambut keperakan yang berdiri sambil menyandarkan sebagian tubuhnya pada meja. Pemuda itu membelalakkan matanya.

Ah, ia lagi-lagi tertidur di kelas. Bahkan sampai bermimpi.

"Sudah bangun, Nara?"

Yang dipanggil 'Nara' itu mengangkat kepalanya dan memandang lekat-lekat pada pria bermasker hitam dengan rambut keperakan itu. Pria bermasker tersebut tampak memegang sebuah buku kuning dengan sampul yang mencurigakan. Bahkan, pria itu masih tampak terlarut dalam isi buku yang dipegangnya sampai ia menyadari bahwa Shikamaru sudah menatapnya intens dengan ekspresi curiga.

"Tampaknya tidurmu nyenyak sekali." Akhirnya pria itu menutup buku kuningnya dan memandang ke arah sang pemuda Nara. "Pelajaranku membosankan juga bagimu, hem?"

"Ah, yah…." Nara Shikamaru tanpa ragu-ragu kini bangkit dari kursinya, membawa tasnya, dan siap untuk meninggalkan ruang kuliahnya yang sudah kosong entah sejak kapan. Pemuda berambut model nanas itu pun menguap dan sudah akan melewati pria bermasker yang merupakan dosennya saat tiba-tiba pria itu berkata.

"Apa kau mau mencoba ujian kenaikan tingkat langsung?"

Shikamaru terdiam.

"Tentu bagimu yang jenius, pelajaran-pelajaran dasar seperti ini sangat membosankan ya? Perhitungan fisika dan matematika dasar, pengenalan kehidupan ekstraterrestrial, pengenalan planet, galaksi, dan alam semesta… sangat tidak menarik untukmu bukan?"

Begitu sang dosen menyelesaikan kalimatnya, Shikamaru langsung menoleh ke arah dosen yang sudah tersenyum padanya.

"Apa bisa?" tanya Shikamaru hati-hati sambil membalik tubuhnya hingga kini ia benar-benar berhadap-hadapan dengan sang dosen.

Dosennya tersebut mengangguk. "Jika kau bisa lulus dari ujian, kau boleh langsung mengambil mata kuliah tingkat atas. Yah, walaupun aku tidak tahu apa pelajaran di semester atas mampu membuatmu tetap tetap terjaga atau tidak..."

"Mendokuse," gumam Shikamaru. Tapi tidak dapat dipungkiri, kalau ia amat tertarik dengan tawaran tersebut. "Kapan ujiannya?"

"Aku harus merundingkan dengan dekan dan dosen-dosen lainnya terlebih dahulu," Kakashi menerawang ke arah langit-langit, "baiklah. Kurasa minggu depan kau sudah bisa datang ke ruanganku untuk mengikuti ujian tersebut. Ah, aku tidak tahu kau sudah mendengar atau belum, saat aku datang kau sudah tidur tadi, tapi namaku Hatake Kakashi."

Shikamaru langsung menyimpan nama pria tersebut dalam ingatannya. Setelah mengamati Shikamaru lebih jauh, pria bernama Kakashi itu kemudian melanjutkan.

"Sampai ujian nanti, kau boleh tidak mengikuti mata kuliah yang seharusnya kau ikuti. Kurasa pelajaran-pelajaran itu hanya membuang waktumu saja?" Shikamaru mengangguk. Kakashi tersenyum di balik maskernya, "Kurasa cukup sekian. Aku akan menunggu kedatanganmu minggu depan, sekitar pukul 2 siang, seperti saat ini, kau bisa?"

"Sebelumnya, aku ingin bertanya," ujar Shikamaru santai. Kakashi membelalakkan matanya sedikit saat Shikamaru melanjutkan, "Kau tidak bermaksud mempermainkanku karena telah tidur di kelasmu, kan?"

"Sama sekali tidak," jawab Kakashi sedikit terkejut, "aku hanya berpikir bahwa percuma juga kau mengikuti kuliah dengan materi yang sudah kaukuasai. Dan kalau boleh kutambahkan, beberapa dosen juga mengeluhkan kelakuanmu yang hobi tidur di kelas mereka."

Shikamaru menggaruk pipinya dengan ujung telunjuk. Kakashi kembali tersenyum, ia menjauh dari meja yang sedari tadi menopangnya, dan kemudian berjalan mendekat ke arah Shikamaru. Pria itu kemudian memukulkan buku kuning yang sedari tadi dipegangnya ke dahi Shikamaru.

"Jadi daripada kau membuang waktu percuma, apalagi membuat emosi para dosen itu, bukankah lebih baik kalau kau langsung menerima pelajaran yang tidak akan membuatmu bosan? Universitas juga tidak akan menyia-nyiakan orang sepertimu."

"Itu jauh lebih baik," jawab Shikamaru sambil menyentuh dahinya, sama sekali tidak keberatan dengan penghargaan dan pujian terselubung yang diberikan oleh dosennya tersebut. Menyangkal sambil mencoba merendah? Atau berpura-pura tidak mengerti maksudnya hanya untuk mendengar pujian yang eksplisit? Oh! Merepotkan! Jangan harap Shikamaru mau melakukannya!

"Ya, ya. Kalau begitu, sampai jumpa lagi minggu depan, Jenius," ujar sang dosen yang sudah ada di ambang pintu sambil mengangkat tangannya yang memegang buku kuning.

Shikamaru mengernyitkan alis.

"Apa orang yang suka membaca buku mesum secara terang-terangan begitu bisa dipercaya?"

o-o-o-o-o

Begitu keluar dari kompleks universitas, Shikamaru masih harus berjalan beberapa saat lagi untuk mencapai apartemennya. Memang sedikit merepotkan, tapi nyatanya apartemennya itu adalah apartemen terdekat (dan termurah) yang bisa ia temukan di sekitar lingkungan universitas. Yah, walaupun demikian, Shikamaru tetap berharap kalau suatu saat nanti ia dapat menemukan apartemen murah yang hanya berjarak 50 meter dari universitas.

Mimpi dari seorang pemalas, sederhana bukan?

Selama perjalanan, sesekali pemuda bermata sipit itu menguap—seakan waktu tidurnya tidak pernah cukup. Sebetulnya, dibilang tidak cukup mungkin memang benar. Tiap malam—walaupun tahu sebenarnya kegiatan di tengah malam tidak baik bagi kesehatan tubuhnya—Shikamaru selalu mengamati bintang dan benda-benda langit lainnya dengan teropong bintang kesayangannya.

Teropong miliknya itu tidak bisa dikatakan mewah, hanya sebuah teropong bintang standar dengan panjang sekitar 80 cm dan perbesaran maksimal sampai 355 kali. Meskipun demikian, bagi Shikamaru, teropong bintang itu adalah salah satu barang yang paling berharga baginya. Bukan apa-apa, tapi teropong bintang itu adalah pemberian ayahnya saat usianya menginjak 15 tahun.

Dengan keberadaan teropong bintang tersebut, Shikamaru semakin tenggelam dalam hobinya mengamati langit. Tepatnya, langit malam. Walaupun tidak dapat dipungkiri, Shikamaru juga sangat suka memandang langit di siang hari, awan yang berarak perlahan dengan latar biru langit. Sungguh, pemandangan yang mungkin bagi sebagian orang membosankan, bagi Shikamaru adalah pemandangan yang membuatnya nyaman.

Tunggu.

Langit biru.

Entah kenapa fantasinya saat itu membentuk gambaran seseorang dengan mata yang iris-nya memiliki warna serupa dengan langit.

Orang itu—tetangga sebelah kamarnya yang baru saja dikenalnya kemarin.

Yamanaka Ino.

Shikamaru menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan memajukan sedikit bibir bawahnya.

Kenapa bisa kepikiran cewek itu sih? batinnya menggerutu. Mendokuse.

Baru Shikamaru hendak melangkah lagi, mendadak sebuah suara menghentikan langkahnya.

"Sudah kuduga, memang Shikamaru!" ujar suara tersebut riang. "Mana ada orang lain yang punya model rambut nanas sepertimu!"

"Berisik kau, Ino!" sembur Shikamaru seketika.

Sebetulnya, Shikamaru bukan orang yang mudah akrab dengan orang lain. Tepatnya, tidak mau bersusah payah akrab dengan orang lain. Dan tipe yang seperti itu, biasanya adalah tipe yang akan menjaga jarak dengan memanggil nama keluarga ataupun memberikan embel-embel 'san' pada panggilan. Tapi, berhubung gadis itu sendiri yang memintanya, ditambah nama keluarga sang gadis yang jauh lebih panjang dibanding nama kecilnya—membuat tingkat kerepotan untuk menyebut namanya bertambah—Shikamaru pun tidak ragu-ragu lagi memanggil gadis itu hanya dengan nama kecilnya. Gadis itu sendiri melakukan hal yang sama dengannya.

"Baru pulang kuliah?" tanya Ino yang sudah menyejajarkan dirinya dengan Shikamaru. Keduanya kini berjalan di sepanjang trotoar yang cukup lengang dimana orang lain memilih menggunakan mobil atau kendaraan lainnya—meskipun ada juga satu-dua orang yang memilih untuk berjalan kaki seperti mereka. Di sebelah kiri mereka terdapat pepohonan dan sesemakan yang membuat jalan di sepanjang trotoar tersebut terasa teduh.

Menanggapi pertanyaan Ino, Shikamaru menggangguk malas sebelum ujung matanya menangkap bayangan benda yang tengah dipegang oleh Ino.

Buket bunga.

Ino yang menyadari arah pandang Shikamaru kemudian tertawa kecil. "Ini? Sudah kuberitahukan padamu kan? Aku kerja sambilan di toko bunga. Dan aku sedang ada tugas untuk mengantarkan buket bunga ini ke salah satu rumah sakit. Konoha Hospital Centre, tahu?" jelas Ino panjang lebar bahkan sebelum Shikamaru bertanya.

Lagi, Shikamaru mengangguk malas. Mana mungkin ia tidak tahu rumah sakit yang megah itu. Dan walaupun di wajahnya tidak menunjukkan apa-apa selain rasa kantuk, sebenarnya Shikamaru cukup tertarik dengan cerita Ino.

"Jadi," sambung Ino tanpa aba-aba, "ada seorang perawat di sana. Dan tadi, ada seorang pelanggan yang ingin aku mengantarkan buket bunga ini pada perawat tersebut."

Shikamaru yang awalnya hanya berminat untuk mendengarkan cerita Ino akhirnya tergelitik untuk memberikan komentar, "Cara yang bagus. Dan yang lebih penting, tidak merepotkan."

"Huh?"

"Walaupun sama sekali tidak jantan," tambah Shikamaru yang kembali membuka lebar mulutnya—menguap.

"Hahaha. Begitu ya pendapatmu? Jadi, kalau kau disuruh memilih, mengantarkan bunga sendiri atau menyuruh pelayan toko bunga untuk mengantarkannya pada cewek yang kau suka, kau akan memilih opsi yang kedua?"

Shikamaru tampak berpikir sesaat. Lalu ia menjawab, "Tergantung."

"Tergantung apa?"

"Seberapa besar rasa sukaku padanya dan seberapa besar rasa sukanya padaku."

"Hee?" Mata biru Ino tampak membesar dengan ekspresi tertarik yang tergambar jelas.

"Kalau aku sangat menyukainya dan dia pun menunjukkan hal yang sama, aku tidak akan ragu memilih cara yang merepotkan dan menguras tenaga, yah… mengantarkan bunga itu langsung padanya. Bukankah itu hal yang wajar?"

Ino sama sekali tidak menyangka jawaban itu yang keluar dari mulut Shikamaru. Ia pun terkikik geli.

"Being deeply loved by someone gives you strength, while loving someone deeply gives you courage," ujar Ino. Shikamaru menaikkan sebelah alisnya.

"Itu kata Lao Tzu," jelas Ino kemudian. Shikamaru pun mengangkat bahu sedikit saat Ino melanjutkan, "Bukankah itu perumpamaan yang cocok denganmu, eh?"

Shikamaru mendengus saat ia menyadari bahwa Ino tengah menyindirnya. Tapi ia tidak kesal lama-lama saat suara riang gadis itu kembali menembus gendang telinganya.

"Ne, Shikamaru… kau mau ke apartemen kan? Berarti kita berpisah di sini ya?"

Shikamaru menengok ke arah kanan dimana apartemennya berdiri tegak. Ia hanya perlu menyeberang untuk dapat mencapai apartemen sederhananya. Ia kemudian menengok ke arah Ino yang tengah merapikan bunganya.

"Ehm… kalau begitu, mata na…."

Ino mengangguk. "Sampai jumpa lagi, Shikamaru. Dan… oh! Kalau kau sudah bertemu dengan gadis yang seperti gambaranmu tadi, jangan lupa beli bunga di tokoku ya?"

"Hah… mendokuse!"

Shikamaru masih mendengarkan tawa Ino sebentar lagi sebelum ia akhirnya menyeberang untuk dapat sampai di apartemennya.

"Wasurenaide ne?"

Shikamaru tersentak.

Ia sampai berhenti melangkah hanya untuk menengok kembali ke direksi dimana Ino terakhir terlihat. Tapi anehnya, gadis itu sudah menghilang, seolah tertelan oleh keramaian yang ada di ujung jalan. Aneh, rasanya tadi begitu sepi, tapi nyatanya cukup banyak juga orang yang hilir mudik tanpa kendaraan.

Shikamaru masih terdiam di tempatnya beberapa saat sampai klakson dari sebuah motor menyentaknya. Pengemudinya mengumpat kecil pada Shikamaru yang sempat terbengong di jalan sehingga Shikamaru hanya bisa menggumamkan maaf dan kembali memaksa kakinya untuk bergerak ke arah apartemennya yang sudah ada di depan mata.

Begitu sampai di apartemennya, Shikamaru langsung melempar tasnya begitu saja di lantai dan menjatuhkan tubuhnya sendiri di atas sebuah kasur yang empuk. Otaknya bekerja keras, berusaha membuat suatu sinkronisasi antara suara yang baru saja ia dengar dengan suara samar-samar yang ia dengar dalam mimpinya.

Tapi Shikamaru tidak bisa memastikan kalau suara itu benar-benar sama. Akhirnya, ia hanya bisa mengulang kata-kata itu dalam benaknya.

Wasurenaide nedon't forget.

***to be continued***


A/N :

- Lao Tzu : Being deeply loved by someone gives you strength, while loving someone deeply gives you courage (dicintai secara mendalam oleh seseorang akan memberikanmu kekuatan sementara mencintai seseorang secara mendalam akan memberikanmu keberanian).

Haiiiz! Author mabok! (salah sendiri milih tema kayak gini). But somehow, I enjoy it. Fufufu.

Yak, di chapter ini muncul lagi deh tokoh baru, terus mulai terkuak sedikit (banget) fakta. Ada yang mau nebak-nebak lagi siapa Ino? Terus siapa Shikamaru? Kurenai? Dan si pria berjanggut? *grin*

Ohyah, wanna say my big thanks to all the reviewer before : Mimi a.k.a boz (tau deh, apa hubungannya ya? :P), Nee-chan (toss nee! Aku juga demen astronomi. Hahaha. Kali ini nyomot quote-nya Lao Tzu deh XD dan btw, emang sedikitnya keinget lagu E.T Katy Perry memang, hahaha!), Aiwha Katsushika (romance? Ada nggak ya? Maunya ada ato nggak? XD dan soal extraterrestrial yang dibilang Shika beneran kok, ia kan nyomot dari wiki, hahay!), Nara Aiko (arigato aiko-chan, ini udah saya lanjutkan), sagita-ni (tenang Sagi, sejujurnya saya juga bingung kok#plak! Btw, salam kenal juga! ^^v), Rain 4.00 AM (eh? Dulu pen-name-nya bukan ini kan? Ehe, ini udah update lagi ^^v), Mikaela Williams (untunglah mudah dimengerti, yang kali ini pun moga-moga nggak bikin bingung ya :D eh, chapter kali ini udah cukup banyak kah?*Cuma nambah satu halaman disbanding chapter 1 padahal#plak!), uchan a.k.a Lilith (yakin itu Ino? Fufufu! Oh! Ayo dunk bikin fic! Ditunggu lho!), DeathAuthor Too Lazy To Login (thank you, silakan update-annya ^^v), Cendy Hoseki (kenapa Ino masuk botani? Karena dia gak masuk psikologi. Huakaka. Sama, kalau ketemu orang kayak Shika pasti udah saya suruh buatin tugas akhir saya XD), agusthya (apa yang terjadi ya? Fufufu~ ), Ann Kei (yup, multichip, ni udah diupdate XD), vaneela (arigatou buat fave-nya ^^v dan siapakah Ino? We'll see, wkwkwk. Dan soal lagu, emang sedikit menginspirasi sih. I love Katy Perry!\(^o^)/, Kirisha Zwingli (a-arigatou!*blush* dan btw, thanks banget buat koreksinya. Kalau di chapter ini ada salah lagi, kasih tau yaa :D), Nyx Quartz (Ino alien bukan ya? Fufufu~ tetep baca yah buat tau ^^v), kyu's neli-chan (udah diupdate nihhh…btw, aku juga suka astronomi :P), Yuzumi Haruka (hahhaay, dasar Quuen XD), Saqee-chan (ehe, makasih banyak saqee-chan ^^v ini update-an-nya), Masahiro 'Night' Seiran (ah, si beibs mah baca A/N-nya sekilas sih. Haha. Anyway, arigatou yah beibs, udah r&r), Rere Aozora (rere-chan, arigatou dah r&r, hehehe…kayak harvest moon ya? Baru sadar XD), Dhinie minatsuki amai (dhi-chan, makasih dah r&r, yang dijanjiin Shika? Siapa yaaaa? XD), the3pleA (arigatou~ how bout this chapter? Still curious of what will happen next?:D), YamanakaemO (salam kenal juga dan makasih buat jempol-jempolnya XD), uchihyuu nagisa (arigatou buat review dan fave-nya ^^v), Uzumaki Cool (silakan, udah diupdate neh :D).

Buat semua silent reader, buat yang ngealert ataupun yang ngefave, saya ucapin juga terima kasih yang sebesar-besarnya.

Semoga chapter ini nggak mengecewakan kalian semua *bow*

So, sekarang, I beg for your kindness to give me review to this fic.

I'll be waiting.

Regards,

Sukie 'Suu' Foxie

~Thanks for reading~