"Apa? Kau bercanda ya?" seru seorang gadis berambut pirang sambil menyipitkan matanya ke arah layar benda serupa notebook yang berukuran tidak terlalu besar.

"Aku tidak pernah bercanda, kautahu itu, Ino," jawab seseorang yang wajahnya terpampang di layar yang tengah dilihat oleh Ino.

Gadis bernama Ino itu menempelkan telapak tangannya ke tepian meja tempat notebook tersebut berada dan dengan daya dorong yang ditimbulkan tangannya, Ino membuat kursi yang didudukinya bergeser ke belakang sejauh beberapa senti. Ino kemudian berdiri dan membelakangi sosok yang terkurung dalam layar tersebut.

"Wajahmu yang selalu tersenyum itu yang membuatku curiga," gerutu Ino sambil melipat tangannya di depan dada. Gadis itu mulai berputar-putar di dalam ruangan yang tidak terlalu besar tersebut. Dihindarinya tempat tidur yang merapat ke dinding dan dibiarkannya kakinya membentuk pola lingkaran di karpet bulu halus berwarna ungu yang melapisi lantainya.

"Kau membuatku pusing," ujar orang dalam layar itu lagi. Sebuah senyum masih terpampang di wajahnya. "Tidak bisakah kau duduk diam seperti sebelumnya?"

Ino menghentikan langkahnya dan menengok ke arah mejanya kembali. Gadis itu dan orang di balik layar berpandangan selama beberapa saat—dalam diam.

"Ada sesuatu di wajahku?" tanya orang berkulit putih susu pucat itu sambil menyentuh pipinya.

Ino menghela napas dan setelahnya ia menggeleng. Kakinya kembali melangkah, sebelum akhirnya ia terhenti untuk kedua kalinya saat aquamarine jernih itu tertumbuk pada jari pendek dari jam yang bertengger dengan nyaman di temboknya yang dicat berwarna soft peach.

Gadis cantik itu pun memutar tubuhnya dan kali ini melangkah—dengan pelan namun mantap—ke arah pintu kaca yang akan mengantarkannya ke balkon. Disibakkannya tirai berwarna ungu yang menutupi pemandangan ke arah luar.

Sudah pukul tujuh.

Malam sudah menjelang, entah sejak kapan—Ino tidak menyadarinya. Dan biasanya, di kala malam seperti ini….

Bingo!

Mata aquamarine itu semakin terlihat binarnya saat bayangan 'sesuatu' tertangkap retinanya. Ino pun membuka kunci pintu kacanya dan menggesernya hingga angin malam yang lembut langsung membelai kulitnya, bahkan membuat rambut pirang panjangnya berkibar.

"Oi, Ino?"

"Sorry, Sai. Sambung lagi nanti!"


EXTRATERRESTRIAL

Disclaimer : I do not own Naruto. Naruto © Masashi Kishimoto

Pairing : ShikaIno and may be some slights or hints

CHAPTER 3. Memory


"Shika!" panggil Ino begitu ia sudah berada di berandanya. Tangannya yang tampak halus menyentuh batas beranda yang berupa tembok bercat putih dengan tinggi yang mencapai bawah dadanya.

Yang dipanggil Shika itu menengok—menjauhkan kepalanya dari sebuah alat panjang yang didominasi warna silver mengilat. Sesaat, alisnya mengernyit dan segera setelahnya, kedua bibir yang awalnya terkatup itu pun terbuka.

"Apa?" tanya pemuda berambut hitam dan diikat menyerupai model nanas.

"Memandang bintang?" tanya Ino lagi sambil membiarkan wajahnya disangga oleh kedua tangannya. Senyum gadis itu mengembang hanya dengan melihat sosok pemuda yang sudah kembali fokus pada teleskop di depannya.

"Seperti yang kaulihat," jawab pemuda itu acuh tak acuh.

Sekali ini, Ino mendongakkan wajahnya, memandang ke arah langit kehitaman yang ditaburi bintang-bintang. Tidak terlalu terang memang, tapi masih terlihatnya bintang di kota yang sudah maju itu adalah sebuah berkah yang patut disyukuri.

Polusi—baik polusi udara maupun cahaya—telah membuat bintang bersembunyi di balik kekelaman malam, seolah takut pada dampak negatif dari teknologi yang seringkali disalahgunakan oleh manusia. Beruntungnya kesadaran itu kembali—kesadaran untuk membuat bumi kembali menjadi tempat yang nyaman untuk dihuni. Berbagai upaya dilakukan untuk mengurangi polusi dan dampak lainnya dari teknologi yang semakin maju. Berbagai penemuan dipublikasikan, bohlam lampu yang tidak menimbulkan panas berlebih, mesin-mesin untuk keperluan pabrik yang mampu meminimalisir kadar pembuangan karbondioksida, mobil listrik yang jauh lebih bersahabat dengan lingkungan…. Betul. Semua penemuan itu.

Hingga akhirnya… perlahan, bintang-bintang itu kembali muncul ke permukaan….

"Waaah! Bintang jatuh!" pekik Ino saat ia melihat seberkas cahaya meluncur begitu saja dan langsung hilang tak lama kemudian.

Shikamaru mengangkat kepalanya dengan sangat terlambat sehingga kini ia hanya berhadapan dengan langit tenang. Sekejap kemudian, ia menengok ke arah Ino dan berkata, "Bintang jatuh itu kan meteor?"

"Kau tidak perlu menjelaskannya padaku," sela Ino, "aku cukup tahu kalau bintang jatuh itu meteor, bukan benar-benar bintang."

Shikamaru mengangkat bahunya dan kembali mendekatkan wajahnya ke arah teleskop. Dipicingkannya sebelah matanya dan ia pun mulai menggerakkan teleskop tersebut, mencari suatu objek yang dapat menarik minatnya.

Ino mengamati pemuda itu dari tempatnya berada sekarang. Tidak bosan, gadis itu malah tersenyum dan membiarkan keheningan menyelimuti keduanya. Ia kembali melihat ke arah langit. Sebelah tangannya kini menyangga wajahnya yang tampak teduh sementara tangannya yang lain terlipat rapi di atas tembok pembatas berandanya.

"Oh! Virgo…," celetuk Ino perlahan. Sebelah tangannya yang semula digunakan untuk menyangga wajahnya kini membuat gerakan-gerakan seolah mengikuti alur rasi bintang yang merupakan salah satu dari rasi bintang terbesar tersebut. "Spica," tambah gadis itu kemudian. Jarinya berhenti di satu titik dimana terlihat sebuah bintang paling terang tengah bersinar dengan susah payah, melawan lampu-lampu kota yang tidak akan padam sampai matahari keluar dari peraduannya. Spica—salah satu bintang paling terang di langit malam yang juga merupakan bintang paling terang dalam konstelasi Virgo.

Shikamaru membuka kedua matanya. Sesaat ia terdiam sebelum ia menengok ke arah Ino yang masih terlihat menggerakkan telunjuknya. Pemuda itu menyipitkan matanya.

"Matamu tajam juga ya?" ujarnya perlahan. "Rasi Virgo seharusnya tidak mudah ditemukan di bulan-bulan ini. Apalagi dengan mata telanjang…."

Ino menghentikan putaran jari telunjuknya. Ia akhirnya memandang ke arah Shikamaru.

"Virgo… rasi bintang yang termasuk dalam zodiak dari seseorang yang... yah, katakanlah… seseorang yang cukup berharga untukku…."

Shikamaru masih memberikan pandangan bertanya atas jawaban yang sama sekali tidak menjawab itu hingga akhirnya sang gadis memilih untuk membalas seadanya dengan sebuah senyuman. Kerutan di dahi Shikamaru semakin dalam tapi Ino mengabaikannya. Gadis lincah itu malah mencoba untuk menghilangkan jarak di antara keduanya dengan memanjat berandanya dan kemudian meloncat hingga kedua kakinya menapak di lantai beranda Shikamaru.

Pemuda itu mundur selangkah dengan segan.

"Kau itu…." Shikamaru menatap Ino. "Itu bahaya kan?"

"Jaraknya tidak terlalu jauh sampai bisa membuatku terjatuh," jawab Ino santai sambil membungkukkan tubuhnya, mendekatkan wajahnya ke lensa teleskop milik Shikamaru. Digerakkannya tangannya untuk menyingkirkan sebagian poni yang menutup matanya. "Lagipula ini bukan pertama kalinya kan?" Gadis itu kini sudah memicingkan sebelah matanya dan mulai menggunakan teleskop milik Shikamaru untuk mengamati benda-benda langit. Dan untuk mengisi keheningan yang sekali lagi tercipta, gadis itu bahkan dengan sengaja bersenandung.

Shikamaru merapatkan punggungnya ke tembok beranda dengan malas. Kedua tangannya ia letakkan di atas selasaran beranda dan ia pun mendongakkan kepalanya ke atas. Kedua matanya kini terpejam ringan, membuatnya semakin larut dalam belaian lembut angin malam.

"Bagaimana kuliahmu?" tanya Ino akhirnya. Tangan gadis itu masih sibuk memainkan teleskop, mencari fokus yang sesuai.

"Yah…," jawab Shikamaru malas. Matanya belum juga terbuka. "Tidak ada yang spesial."

"Benarkah?" tanya Ino yang juga masih sibuk dengan aktivitasnya sendiri.

Masih dalam posisi punggung yang menempel di beranda, Shikamaru membuka sebelah matanya. Sebelah matanya itulah yang kini mengintai tajam ke arah sosok Ino yang saat itu tengah mengenakan baju tanpa lengan yang berwarna ungu. Entah dorongan apa yang merasukinya, Shikamaru pun akhirnya membuka kedua matanya—membiarkannya mendapat akses yang lebih jelas untuk mengamati gadis di sampingnya itu.

Lama Shikamaru mengamati Ino. Ditelitinya satu demi satu perawakan sang gadis. Dengan ukuran tubuh yang proporsional, rambut pirang pucat yang tambak lembut dan mudah menari saat tertiup angin, kulit yang terlihat halus… sosok ideal—idaman semua pria.

Namun bukan hanya itu yang membuat Shikamaru tidak bisa melepaskan pandangannya terhadap sosok gadis itu.

Ada sesuatu.

Sesuatu yang lebih dalam.

Entah itu pembawaannya, senyumannya, gerak-geriknya, suaranya….

Sesuatu….

"Uhuk!"

Shikamaru tercekat oleh ludahnya sendiri.

"Shika?" Ino menoleh saat suara batuk itu dari arah tetangga sebelah kamar apartemennya.

"Ah? Ng?" Shikamaru menutup mulutnya dengan sebelah tangan. Dialihkannya wajahnya ke direksi yang berlainan dengan tempat dimana Ino berada. Tubuh yang semula masih menyandar dengan malas di tembok beranda, kini menjadi sedikit lebih tegak. "Kuliahku baik-baik saja." Cepat, Shikamaru kembali menjawab pertanyaan Ino sebelumnya untuk menghilangkan kecurigaan Ino akan apa yang baru saja dilakukannya.

Benar.

Shikamaru baru saja melihat Ino. Mengamati.

Dan ia terpesona.

Tapi… ada sesuatu dalam pesona gadis itu yang membuat Shikamaru merasa familiar. Dan itulah yang membuat sang pemuda sedikit tersentak tadi.

Sekelebat bayangan.

Masa lalu.

Shikamaru akhirnya kembali menengok ke arah si gadis yang sudah memandangnya dengan bingung.

"Apa sebelumnya kita pernah bertemu?" tanya Shikamaru.

Tidak jelas—absurd. Entah dari mana ia mendapatkan ide untuk bertanya hal semacam itu. Pikiran itu melintas begitu saja dalam benaknya dan secara reflek, mulutnya menyuarakan apa yang dipikirkannya. Sekarang, Shikamaru sedikit menyesal telah melontarkan pertanyaan yang membuat Ino sampai mengerjap heran.

"Lupa—"

"Kenapa kau bisa berpikiran seperti itu?" tanya Ino sambil melipat tangannya di depan dada. Jari-jari lentik tangan kanannya menahan siku tangan kirinya.

"Tidak…." Shikamaru menggaruk bagian belakang kepalanya dengan canggung. "Lupakan saja."

Sekali ini, kesunyian yang janggal mulai mendominasi. Tidak menyenangkan bagaikan ada sesuatu yang mengganjal. Shikamaru tampak salah tingkah dan Ino tampak mati langkah. Pemuda itu kemudian memilih membuang muka—menghindari tatapan mata Ino yang mulai melihatnya penuh selidik.

"Sudahlah. Tidak usah melihatku seperti itu," protes Shikamaru akhirnya. Pemuda itu dengan sengaja menarik teleskopnya dan mulai merapikannya. "Sudah kubilang kan untuk melupakan pertanyaanku tadi?"

"Hu-um," jawab Ino sambil mengangkat bahunya. "Tapi kau terlanjur membuatku penasaran."

Shikamaru terdiam, menimbang-nimbang jawaban apa lagi yang bisa ia berikan untuk gadis itu. Bisakah ia mengatakan hal irasional yang baru saja melintas di benaknya? Kejadian masa lalu yang hanya bisa samar-samar diingatnya. Tapi, apa ingatan itu bisa dipercaya? Atau ingatan itu tengah memperdayanya?

"Kau…." Shikamaru langsung menghentikan pekerjaannya membereskan teleskop. "Mirip seseorang yang kukenal…."

Ino mengangkat alisnya.

"Kurasa," tambah Shikamaru yang akhirnya kembali menggerakkan tangannya untuk menutup sebuah kotak kayu besar yang sudah terisi dengan teleskop kesayangannya. "Ah! Sudahlah! Lupakan saja! Mendokuse!"

"Kau percaya dengan ingatanmu?" tanya Ino dengan mengabaikan kalimat terakhir yang sudah dilontarkan oleh Shikamaru. "Kautahu kan? Memory is deceptive because it is colored by today's events."

Shikamaru kembali menghentikan pekerjaannya. Tidak—ia memang sudah selesai menyimpan rapi teleskop kesayangannya dalam sebuah kotak kayu. Kini dengan kotak itu terpegang oleh kedua tangannya, Shikamaru menatap Ino dengan berbagai penilaian tersirat di mata gelapnya.

"Mungkin kau benar," timpal Shikamaru. Dia tidak bisa menyangkal kenyataan itu. Ia pun semula memikirkan kemungkinan bahwa dirinya tengah ditipu oleh ingatannya sendiri. Tapi….

"But you should've known that memory... is the diary that we all carry about with us. Otak manusia tidak semudah itu dikelabui. Semua tersimpan rapi di dalam sel kelabu itu. Tinggal bagaimana memilah untuk membuka lembaran yang tepat… dan kau bisa melihat segala sesuatu yang telah terjadi di masa lampau."

Ino hendak menyela.

"Bukankah karena itu manusia jadi bisa belajar?" ujar Shikamaru tanpa memberikan Ino kesempatan untuk menjawab. "Karena ada ingatan tentang masa lalu tersebut."

"Ah… baiklah, baiklah," jawab Ino defensif sambil mengangkat kedua tangannya. "Tapi kuberi tahu saja ya, hanya sedikit orang yang mau belajar dari masa lalu karena hanya sedikit dari mereka yang bisa benar-benar mengingat detail masa lalunya." Gadis itu mengembangkan sebuah senyum manis. "Dan hanya sedikit orang yang sepertimu."

Shikamaru mendengus. "Tentu saja. Bahkan tidak akan ada orang lain yang sama sepertiku. Aku hanya satu di dunia ini."

Ino terkekeh. "Kau mau mengabaikan kemungkinan bahwa di dunia akan ada satu-dua orang yang mirip denganmu?"

"Mirip bukan berarti sama kan? Mendokuse," bantah Shikamaru lagi dengan tatapan malas.

Sekali ini, Ino memilih mengangkat bahunya. Gadis itu hanya tersenyum sebelum ia memilih meloncat kembali ke berandanya. Shikamaru hanya bisa menggeleng malas melihat kelakuan Ino. Tapi ia juga terlalu malas untuk kembali memperingatkan gadis itu soal bahaya yang mungkin dialaminya dengan meloncat dari satu beranda ke beranda lain seperti itu. Toh gadis itu sepertinya tidak akan terlalu peduli.

"Tidak ada yang tidak mungkin…," jawab Ino akhirnya. Gadis itu menampilkan sorot yang aneh di sebelah matanya yang tidak terhalang poni. "Kau juga tahu hal itu…."

Sekejap mata dan Ino pun sudah menghilang, kembali masuk ke dalam kamar apartemennya. Membiarkan Shikamaru berdiri terbengong-bengong di tempatnya.

"Tidak ada yang tidak mungkin," gumam Shikamaru pada tidak seorang pun selain dirinya. "Tidak ada…."

Mendadak mata yang biasa tampak malas itu memancarkan suatu tekad yang aneh dan tidak terbaca. Ia meletakkan kotak tempat teleskopnya tersimpan di lantai berandanya begitu saja. Pemuda itu pun berjalan mendekat ke bagian berandanya yang bersinggungan dengan beranda Ino. Helaan napas meluncur keluar dari mulut pemuda itu.

"Mendokuse!"

o-o-o-o-o

"Jadi? Apa yang kaulakukan barusan?" tanya sosok pucat berambut pendek ebony saat ia menyadari kehadiran Ino kembali ke dalam ruangan.

Ino tidak langsung menjawab. Ia sudah hendak beranjak meninggalkan tempatnya berada sekarang untuk sekadar menghilangkan dahaganya di dapur saat terdengar tiga buah ketukan halus di pintu kaca berandanya yang kini tertutup tirai. Ino membulatkan matanya dengan heran tapi ia tidak perlu bertanya untuk tahu 'makhluk' apa yang mencoba mengganggunya.

Cepat, Ino pun memencet suatu tombol di benda mirip notebook tersebut dan sekejab, gambar pemuda berkulit aneh itu menghilang—digantikan sebuah gambaran kebun yang bunganya bergerak-gerak ringan seolah tertiup angin. Gadis itu kemudian membuka tirai ungu yang menghalangi pintu kaca tersebut sebelum akhirnya ia membuka kunci pintu dan tersenyum pada sosok yang malah tampak salah tingkah.

Ino menyandarkan tubuhnya ke pintu kaca dan berkata, "Kau tidak berharap kalau aku akan membiarkanmu masuk kan?"

"Tidak," jawab Shikamaru cepat. "Aku hanya…."

Ino mengamati Shikamaru. Pemuda itu sejenak terlihat ragu-ragu. Ino sudah hendak berkata-kata saat mendadak pemuda itu menangkap tangannya.

"Eh?"

"Jurusan astronomi tempatku belajar… sebenarnya menawarkan akselerasi untukku," ujar Shikamaru sambil mengeratkan pegangannya terhadap tangan Ino.

Ino membiarkan Shikamaru menggenggam tangannya sementara matanya begitu intens menatap balik mata Shikamaru. Keraguan yang semula terlihat di wajah pemuda itu lenyap seutuhnya saat tangan keduanya bertautan.

"Menurut mereka, jika aku bisa lulus dalam ujian yang mereka buat, aku bisa langsung mengambil mata kuliah di semester atas."

"Dan itu yang tadi kaubilang tidak spesial?" cemooh Ino sambil menggelengkan kepalanya dan tertawa kecil. Sebelah tangannya masih terpaut dengan tangan Shikamaru. Tidak ada tanda-tanda bahwa gadis itu keberatan atau hendak melepaskannya secara paksa. Tidak—tidak ada satu tanda pun.

Shikamaru mengabaikan cemoohan Ino dan memilih untuk menatap tangan gadis itu. "Aku semakin dekat dengan tujuanku."

"… Tujuanmu?"

Shikamaru perlahan mengangkat tangan Ino. Pandangan ragu itu kembali menyeruak di wajahnya.

Sempat terlintas dalam pikiran Shikamaru bahwa apa yang dipikirkannya sekarang adalah suatu hal yang amat sangat konyol. Tidak mungkin. Sangat tidak mungkin.

Meskipun tidak ada satu pun di dunia ini yang tidak mungkin, tapi….

Mendadak, Shikamaru melepaskan pegangan tangan Ino begitu saja. Tangan yang tidak siap itu langsung berayun pelan dan kembali ke samping tubuh Ino, membuat gadis itu sedikit terbelalak.

Kebingungan merayapi diri Ino. Semula Ino pikir ia sudah dapat menebak tujuan Shikamaru datang kepadanya. Tujuan yang mungkin cukup mendesak sampai-sampai pemuda bahkan dengan sengaja melewati batas beranda mereka. Nyatanya, tetangganya yang satu itu memang bukan tipe orang yang mudah ditebak. Ino harus dengan rela mengakuinya.

Ah, bagaimanapun di balik sifat pemalasnya, pemuda itu adalah pemuda jenius bukan? Dan si jenius ini cukup tahu apa yang harus ia lakukan.

"Tujuanku menemukan seseorang yang sudah membuatku masuk ke dalam jurusan ini…." Mata Shikamaru melirik ke wajah Ino, berusaha menilai ekspresi gadis itu. Tapi toh gadis itu masih terlihat tenang meskipun kebingungan memang sedikit menghias wajahnya. Shikamaru menghela napas. "Lalu membiarkannya mengatakan hal yang sejujurnya padaku."

Pemuda itu bergerak dalam langkah mundur sampai tangannya kembali menyentuh tembok beranda. Ia sudah hendak meninggalkan Ino saat suara lembut gadis itu menghentikannya sesaat.

"Kenapa kau mengatakan hal ini padaku?"

Shikamaru menoleh ke arah Ino untuk terakhir kalinya sebelum ia meloncat, menyebrangi tembok beranda untuk kembali ke beranda kamarnya sendiri.

"Kautahu alasannya."

Tanpa menunggu jawaban Ino, Shikamaru membungkuk untuk mengambil kotak teleskopnya dan kemudian bergerak masuk ke dalam kamar. Ino masih melayangkan pandangannya ke arah dimana Shikamaru terakhir terlihat.

Setelah beberapa kali kerjapan, Ino menutup matanya. Ia kemudian menyenderkan kepalanya ke pintu dan memeluk dirinya sendiri.

Seulas senyum kemudian terpampang di wajahnya.

"Orang sepertimu mungkin memang benar-benar hanya ada satu di dunia ini, Shikamaru…."

Mata aquamarine itu kemudian terbuka setengah. Tidak ada yang menjadi fokus penglihatannya. Benaknya sendiri sedang bermain kembali ke masa lalu. Bukankah pikiran itu adalah transenden—tidak terikat ruang dan waktu? Bebas berkelana ke mana pun ia inginkan walaupun raga tetap terpaku di tempatnya.

Dan kini, hasil penjelajahan melintasi ruang dan waktu itu pun mulai membuncah keluar.

o-o-o-o-o

"Kau masih mengingatku?"

Bocah berumur sepuluh tahun itu mengangguk malas. "Apa itu aneh? Bukankah kita baru bertemu dua tahun yang lalu? Itu belum terlalu lama berlalu."

Gadis cantik yang berusia sekitar dua kali lipat umur bocah itu mengerjapkan matanya. Sekali, dua kali. Bocah itu masih memandang aneh padanya.

"Ah… tidak. Tidak aneh. Hanya kupikir, kau sudah lama melupakanku. Ingatan manusia kadang tidak sebagus itu, kautahu?"

Bocah itu mengangkat bahunya dengan malas. Gadis itu pun tersenyum gemas.

"Tapi ada baiknya kau melupakanku sekarang…."

Gadis itu bergerak mendekat ke arah si bocah yang mulai memasang wajah waspada.

"Jangan takut," bisik gadis itu perlahan. Ia kemudian berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan sang bocah. Diulurkannya tangannya itu untuk kemudian menghalangi cahaya masuk ke dalam kedua retina milik bocah lelaki tersebut. Awalnya bocah itu sempat hendak protes, tapi sang gadis mendiamkannya dengan mengatakan semua akan baik-baik saja.

"Jadi… yaah… sebelum kau benar-benar melupakanku…."

"Bagaimana kalau aku tidak lupa?" potong bocah itu dengan polosnya.

Sang gadis tersenyum simpul.

"Oh! Tidak! Kau pasti akan lupa!"

"Kenapa aku harus melupakanmu?" tanya bocah itu meskipun dengan mata yang masih tertutupi oleh tangan lembut sang gadis.

"Kau tidak mau melupakanku, eh?"

Bocah itu mengangkat bahunya lagi. "Kurasa tidak ada alasan untuk melupakan Nee-chan kan?"

"Mungkin ada…." Gadis itu berhenti untuk mencari kata-kata yang tepat untuk melanjutkan penjelasannya. "Tapi… kalau kau memang ingin mengingatku… bisakah kau mengingat hal yang satu ini?"

"Ng?"

"Setelah besar nanti, usahakan agar kau bisa masuk ke tempat 'mereka'. Aku tidak bisa karena mereka pasti akan semakin memperketat penjagaan. Aku tidak akan bisa menyelinap ke sana sesuka hatiku. Dan karena itulah… kurasa hanya kau yang bisa."

"Aku tidak mengerti," ungkap bocah itu.

Kebingungan bocah itu malah mengejutkan sang gadis. Mendadak gadis itu menyadari bahwa bocah di hadapannya memang masih seorang anak kecil—terlepas dari pemikiran dan gaya bicara sang bocah yang terkadang menimbulkan kesan bahwa ia sudah cukup dewasa. Gadis itu pun akhirnya melepaskan tawanya.

"Yah… salahku. Maaf."

"Hah?"

"Tidak, tidak. Kau tidak perlu mengingatnya sekarang. Nikmati saja hidupmu dulu." Gadis itu mendadak menghela napas. "Yang perlu kauingat untuk saat ini hanya satu, oke, Shikamaru?"

"Jurusan Astronomi…." Gadis itu pun perlahan menjauhkan tangannya dari kedua mata milik sang bocah. "Jurusan yang mempelajari tentang antariksa, makhluk-makhluk di luar bumi-mu ini… ya! Jurusan itu! Itu tujuanmu!"

Perlahan, bocah itu mulai kehilangan keseimbangan tubuhnya. Kepalanya terasa berat. Matanya memaksa untuk terpejam.

"Wasurenaide ne!"

Setelah mendengar kata-kata terakhir dari sang gadis, kesadaran itu akhirnya menghilang. Bocah itu pun terhuyung ke belakang, bagaikan tertarik oleh gaya gravitasi yang memang tidak terlihat. Namun sebelum punggung kecil itu menyentuh tanah, sang gadis dengan cepat menahannya, mengangkatnya dalam gendongan.

"Maafkan aku, Shikamaru. Aku tidak tahu jalan lain yang lebih baik… yang tidak akan menimbulkan korban dari pihak mana pun…."

o-o-o-o-o

Ingatan itu terhenti.

Mata aquamarine itu kembali tertutup. Bunyi embusan napas teratur mewarnai malam yang hening.

"Sepertinya memang sudah saatnya," lirih sang pemilik aquamarine, "ingatan yang samar itu sudah waktunya untuk memperoleh kejelasan."

***to be continued***


A/N :

- Albert Einstein : Memory is deceptive because it is colored by today's events (memori dapat menipu karena diwarnai oleh kejadian-kejadian yang baru terjadi hari ini.)

- Oscar Wilde : Memory... is the diary that we all carry about with us (memori adalah sebuah diari yang selalu kita bawa bersama kita.)

Ahem! Chapter 3 akhirnya bisa ku-update! Banzai! Maaf yah kalau chapter ini lama keluarnya, lagi terserang wabah amnesia gitu deh :P

Nah, di chapter ini mulai terungkap kan misterinya? Udah cukup jelas? Pasti belum lah. Nambah pula satu tokoh : Sai! Mwahahahaha! #stress.

Udah ah, dari pada makin ngaco, mau ucapin terima kasih sebesar-besarnya buat yang kemaren udah review : Kara, Kairin Meilin, Cendy Hoseki, Saqee-chan, the3pleA (hahahay… emang sengaja sih clue-nya dikasih sedikit demi sedikit. Nih di chapter ini ada klu lagi XD), DeathAuthor, kyu's neli-chan, YamanakaemO (siapa yaaa? Kasih tau nggak ya~? XD tunggu aja nanti yah kemunculan si pria berjenggot. Wkwkwk. Soal slight, kita lihat nanti ya :D), Aiwha Katsushika, Uzumaki Cool (nggak apa-apa kok, rossa-chan, udah mau review aja aku udah seneng banget. Arigatou yaaa… *hug rossa-chan*), Rere Aozora, vaneela, uchihyuu nagisa, neechan (ehehehe.. gimana nee? Udah cukup panjangkah? XD), agusthya (maaf yah gak bisa kilat, tapi udah update neeh… mind to r&r again? XD), Nyx Quartz, Lisa Liesa Liessa, Nara Aiko, Masahiro 'Night' Seiran, Jee-zee Eunry, Yuzumi Haruka, Dhinie minatsuki amai, Lilith (wakakaka… kapok yah maen tebak-tebakan ama aku? Ayo-ayo, tebak aja lagi… fufufu~…)

Buat semua silent reader, buat yang ngealert ataupun yang ngefave, saya ucapin juga terima kasih yang sebesar-besarnya. Semoga chapter kali ini juga nggak mengecewakan kalian semua *bow*

Ohyah, pada kesempatan kali ini juga, saya mau mengucapkan selamat lebaran kepada semua yang merayakan. Mohon maaf lahir dan batin dari author yang sering banget amnesia ini yah. Moga-moga minna-san nggak kapok meladeni amnesia saya m(_ _)m

So, sekarang, maukah minna-sama berbaik hati memberikan review untuk fic ini? *rubah eye no jutsu*

I'll be waiting.

Regards,

Sukie 'Suu' Foxie

~Thanks for reading~