Matahari telah kembali ke singgasana. Sahut-sahutan burung kecil samar terdengar di antara aktivitas yang mulai ramai. Satu per satu orang telah meninggalkan area nyaman di kamar kamar tidur mereka untuk melakukan rutinitas yang terkadang malah terasa menjemukkan. Bagi anak-anak, terdapat institusi yang bernama sekolah yang harus didatangi dan bagi yang lain, masih ada berbagai pekerjaan yang menanti.

Di antara sekian banyak pilihan aktivitas, mungkin hanya sedikit yang masih bergelung nyaman ditempat tidur mereka. Dan Shikamaru termasuk ke dalam golongan yang sedikit tersebut. Beruntung? Ya. Apalagi pemuda bertampang mengantuk itu memang sangat membutuhkan tidur setelah semalaman ia merasa terjaga—terganggu oleh sesuatu yang ia sendiri tidak pahami.

Sayang, keberuntungannya segera sirna tatkala suara ketukan dari pintu depan yang semula perlahan itu terdengar makin brutal. Menguap malas, Shikamaru langsung meloncat turun dari kasurnya. Sambil merutuki siapa pun yang mengganggu tidurnya, ia pun melangkah semakin dekat dengan sumber kegaduhan.

Pintu dibuka dan—

"Ohayoooouu!"

—seharusnya Shikamaru sudah bisa menduga.


EXTRATERRESTRIAL

Disclaimer : I do not own Naruto. Naruto © Masashi Kishimoto

No commercial advantages is gained by making this fanfic.

Pairing : ShikaIno and maybe some slights or hints

CHAPTER 4. Walk and Talk


"Semangatlah, Shikaaa~," ujar gadis yang berambut dikuncir ekor kuda sembari menarik lengan Shikamaru. Susah payah gadis itu menyeret Shikamaru hingga pemuda itu akhirnya mau keluar dari kamar. Namun, tetap saja Shikamaru tidak menunjukkan antusiasme sedikit pun.

"Bagaimana aku bisa semangat sementara aku seharusnya masih tidur di kamar?" jawab pemuda itu sambil menguap lebar-lebar—mengabaikan tatapan Ino yang tampak terkejut akan kecuekannya.

Ino melepas lengan Shikamaru. Gadis itu kemudian melipat tangannya di depan dada. "Tidakkah kau penasaran mengapa aku mengajakmu keluar?"

Shikamaru mengangkat bahu dengan tidak peduli. "Curiosity killed cat."

"Curiosity killed the cat, but where human beings are concerned, the only thing a healthy curiosity can kill is ignorance," ralat Ino sambil menggelengkan kepala. "Kau ini pemalas sekali, sih?"

Menyeringai kecil, Shikamaru menjawab, "Sudah bawaan."

Ino menatapnya dalam diam. Sekali lagi, ia menggeleng. "Otousan-mu itu orang yang tekun."

Shikamaru menyingkirkan seringainya. Kepalanya pun kini terangkat, mengarah pada Ino yang juga sesaat balas memandangnya dan kemudian berbalik memperlihatkan punggung.

"Kaukenal otousan-ku?"

"Lebih dari kau mengenal otousan-mu."

"Kalau begitu mungkin kau salah orang. Otousan-ku tidak setekun yang kau—"

"Aku tahu," potong Ino cepat.

Dengan pandangan yang intens, Ino pun akhirnya melihat Shikamaru dari bagian atas bahunya. Berkat itu, ia dapat melihat bahwa Shikamaru masih juga memaku pandangan pada dirinya. Sebuah senyum terkembang di bibir Ino. Satu sentakan lagi, dan pancingannya akan membuahkan hasil.

"Aku mengenalmu…," ujar Ino pelan—nyaris berbisik, "lebih daripada kau mengenalku. Karena aku … tidak pernah melupakanmu. Aku selalu mengawasimu."

Shikamaru terbelalak.

Ino kemudian kembali menghadap ke arah Shikamaru. Senyumnya terkembang lebar. Dengan kepala yang sedikit dimiringkan dan tangan yang disembunyikan di belakang, Ino menatap Shikamaru dengan tatapan yang sedikit menantang.

"Kau—"

"Yah," ujar Ino lagi tanpa menghilangkan senyumnya, "memang sudah waktunya kau mengingat semua, Shikamaru."

o-o-o-o-o

"Jadi…."

"Ah, minum dulu gih?" Ino menunjuk gelas panjang berisi es teh yang ada di depan Shikamaru. "Kalau perlu, pesan sarapan dulu? Biar bicaranya santai?"

"…."

Mendapat tatapan menuntut dari mata malas Shikamaru, Ino hanya bisa menyeringai salah tingkah. Shikamaru kemudian menggelengkan kepalanya perlahan. Ia kemudian menyentuh gelas es tehnya dan menghabiskan isinya dalam sekali tenggak.

"Aku sudah selesai minum," ujar Shikamaru yang kemudian mengelap ujung bibirnya dengan tangan, "dan aku belum merasa ingin sarapan. Jadi, silakan mulai ceritamu."

Ino hanya menatap Shikamaru dalam diam sebelum ia memainkan sedotan yang ada di dalam gelas panjang berisi jus jeruk miliknya.

"Kau yang bilang … sudah saatnya aku mengingat semua." Shikamaru kembali berujar dengan tatapan yang kini terarah pada gedung besar yang berada tidak jauh dari café tempatnya berada sekarang. "Jangan bilang kau mengulur wak—"

"Aku tidak bermaksud mengulur waktu," tukas Ino sambil menjauhkan gelas berisi jus jeruknya. "Hanya saja … aku bingung harus mulai bercerita dari mana."

"Mulai saja, dari menceritakan tentang dirimu." Shikamaru menguap. "Lalu apa yang kauinginkan dariku."

"Kau membuat segalanya tampak mudah."

"Aku hanya perlu mempersiapkan diri," jawab Shikamaru sambil memangku wajahnya. Ia sekarang sudah sepenuhnya menatap ke arah Ino. "Mempersiapkan diri seandainya dugaanku memang benar."

Ino terperangah. Ia bahkan seakan membeku di tempat. Shikamaru yang melihat itu tetap tidak mengubah ekspresinya, ia malah semakin intens memandang Ino, berusaha mencari jawaban yang belum terlontar langsung oleh gadis tersebut. Namun, yang ia dapat selanjutnya adalah sebuah tawa dan tepukan tangan.

"Hebat, Shika. Jadi kau sudah membuat dugaan, eh? Boleh kudengar?"

"Tsk. Mendokuse. Kau melarikan diri dari kewajibanmu bercerita."

"Aku pasti cerita, kok," bantah Ino sembari tertawa lagi, "tapi sekarang izinkan aku mendengar dugaan-dugaanmu…."

"Mendokuse." Shikamaru mengangkat kepalanya. "Aku membuat dugaan berdasarkan beberapa kejanggalan yang kurasakan. Bukti fisik tidak ada, tapi secara teoritis…."

"Ya, ya, silakan dilanjutkan," ujar Ino sambil menggerakkan tangannya dalam gerakan mempersilakan.

"Yang sudah kulihat sejauh ini, kecepatan dan daya penglihatan," ujar Shikamaru lugas. "Ditambah kejeniusanmu."

Tidak ada bantahan dari Ino. Gadis itu hanya tersenyum.

"Kau kuliah di bidang botani, tapi tahu cukup banyak soal astronomi. Bagiku, itu poin yang cukup janggal."

"Astronomi itu hobiku, aku—"

"Kau pasti bisa mengambil dual degree kalau kau mau—dengan kejeniusanmu. Tapi kau tidak mengambilnya. Lalu … ingatan samar-samar ini yang akan mencoba menjawab kejanggalan sisanya."

"Jurusan Astronomi…. Jurusan yang mempelajari tentang antariksa, makhluk-makhluk di luar bumimu ini… ya! Jurusan itu! Itu tujuanmu!"

"Kau yang menyuruhku untuk mengambil Jurusan Astronomi. Kau menyerahkannya padaku. Dengan kata lain … kau tidak bisa menembusnya. Padahal dengan kejeniusanmu, kau tidak mungkin tidak lulus ujian saringan masuk. Tapi nyatanya, kau tetap tidak bisa menembusnya."

Mendadak, Ino berdiri. "Aku merinding, Shika. Kau berkata seolah-olah kaubisa melihat semuanya."

Seakan tertarik oleh benang tidak terlihat, Shikamaru langsung ikut berdiri. Ia kemudian mengekor di belakang Ino setelah meletakkan sejumlah uang di atas meja sebagaimana yang dilakukan Ino.

"Kau benar," jawab Ino sambil berjalan dengan tempo yang tidak terlalu lambat tapi juga tidak bisa dibilang cepat. Di mata Shikamaru, gadis itu terlihat memaksakan diri untuk menyamakan kecepatan langkah keduanya. "Aku tidak bisa menembus Jurusan Astronomi. Tidak, bahkan mungkin sekarang aku sudah tidak bisa menginjakkan kaki walau hanya di halaman sekitar gedung."

Shikamaru memilih berjalan dengan diam di sebelah Ino.

"Orang-orang itu … peneliti-peneliti itu … berhasil merancang alat yang hanya akan bereaksi apabila aku menginjakkan kaki di markas mereka. Aku sudah memastikannya sendiri. Waktu itu…."

"Tapi itu bukan alasan. Kau punya kecepatan. Aku juga yakin, kau—"

"Tidak sesederhana itu. Selain pendeteksi, ada juga tipe senjata. Tentu jebakan bisa dihitung." Ino menghela napas sembari melipat tangannya di depan dada. "Bahkan kuantitas…."

"Pantas," gumam Shikamaru, "karena itulah … kau menyerahkannya padaku."

Ino terdiam. "Ya. Salah satunya. Dipikir-pikir, memang harus kau yang menyelesaikan semua."

"Hm? Kaubilang sesuatu?"

Ino menggeleng. "Tidak."

Selanjutnya, keduanya berjalan dalam diam. Ino tidak mengatakan dengan pasti tujuannya. Namun, gedung besar yang sebelumnya bisa dilihat Shikamaru dari café kini semakin terlihat besar. Gedung itu, fakultas tempatnya menimba ilmu saat ini. Konoha Eminent UniversityMajor Astronomi.

"Musuhku adalah semua peneliti di Jurusan Astronomi yang terkait dengan penelitian mengenai extraterrestrial life. Tujuanku adalah merebut kembali 'yang telah mereka renggut secara paksa' demi keuntungan mereka."

Shikamaru yang mendengar keseriusan dalam nada bicara Ino mendadak bergidik.

"Oi, oi…."

Menghadap penuh ke arah Shikamaru, Ino kemudian meletakkan tangannya di depan dada.

"Dan aku sendiri adalah … salah satu makhluk yang akan menjadi objek penelitian mereka jika sampai tertangkap."

o-o-o-o-o

"Haaaah…." Helaan napas malas sekali lagi terdengar dari Shikamaru. Pemuda berambut nanas itu kini tengah menjelajahi perpustakaan jurusan untuk tujuan yang menurutnya benar-benar membuang waktu.

Dilihatnya satu demi satu buku yang terpampang di tiap rak. Tidak ada satu pun yang menarik perhatiannya. Saat itulah, benaknya kembali berkelana.

.

.

.

"Tsk. Jadi kau…."

"Siapa pun aku, itu tidak penting. Sekarang … setelah tahu semuanya, kau harus menolongku," ujar Ino sedikit memaksa.

"Aku belum tahu semua! Yang kaukatakan hanya sebagian kecil dari hal-hal yang harus kuketahui, 'kan?" Shikamaru melipat tangannya di depan dada. Ekspresinya sedikit mengeras. Bukan apa-apa. Gadis itu awalnya mengatakan bahwa sudah saatnya Shikamaru mengingat semua tapi kenyataannya, yang diceritakan gadis itu tetap saja sebatas informasi samar yang bertiraikan kabut.

"Sebelum itu, ada tugas yang harus kaulakukan. Dan aku tidak menerima penolakan."

Alis Shikamaru semakin mengernyit.

"Kau harus cari tahu di mana entrance markas rahasia mereka. Dulu, sekitar sembilan tahun yang lalu, pintu masuk itu ada di perpustakaan jurusan yang ada di lantai satu," jelas Ino sembari memegang dagunya, "tapi…."

"Kalau kau pernah mencoba masuk sementara kau adalah 'musuh' mereka…. Terlebih, sembilan tahun yang lalu…."

"Ya," potong Ino—tidak memberi kesempatan pada Shikamaru untuk mengutarakan argumen, "tentu saja mereka pasti akan mengubah semua sistem, termasuk entrance tersebut."

Shikamaru mengacak rambut atasnya dengan gemas. "Jadi tidak ada petunjuk?"

Ino tersenyum pahit. "Kau bisa mulai dari perpustakaan," ujar gadis itu lagi sambil mengangkat bahu. "Mungkin kau bisa dapat sesuatu di sana."

"Ini konyol." Shikamaru yang sudah berhasil meraup kembali ketenangannya kini menggelengkan kepala. "Aku belum mengatakan bahwa aku bersedia bekerja sama denganmu."

"Yang telah mereka rebut adalah 'orang' yang berarti bagiku."

"Makanya…! Apa hubungan—"

"Dia juga…."

.

.

.

"Mendokuse," keluh Shikamaru sembari mengeluarkan sebuah buku dari raknya. Buku itu bertajuk 'The Fact About Extraterrestrial Life'. Merasa bahwa buku itu memiliki kaitan dengan misinya, Shikamaru berpikir bahwa tidak ada salahnya untuk melihat-lihat. Namun, tidak ada petunjuk apa pun yang bisa ia temukan di buku tersebut.

Ia pun menggeser posisinya. Sekali lagi, ia menemukan buku yang menarik perhatiannya. 'Extraterrestrial~Far Yet Close'. Shikamaru sudah hendak membaca buku itu sepintas di tempat seperti yang sebelumnya ia lakukan sebelum suatu kesimpulan lain mendobrak kesadarannya. Ia pun kembali untuk mengambil buku pertama tentang extraterrestrial yang sebelumnya sudah ia kembalikan.

Menumpuk beberapa buku bertema sama, Shikamaru kemudian berjalan ke salah satu meja kosong. Diletakkan semua buku-buku tersebut sebelum diambilnya satu demi satu untuk dibaca—berharap ada suatu petunjuk, apa pun itu.

"Aaa … belajar untuk ujianmu nanti, Nara?"

Shikamaru spontan mengangkat wajah. Berdiri di dekatnya, seorang pria bermasker dengan rambut peraknya yang tertata sedikit melawan gravitasi.

"Hatake-sensei…."

Pria yang merupakan dosen Shikamaru tersebut tertawa renyah di balik maskernya. Dan sebelum Shikamaru mempersilakan, pria itu sudah mengambil tempat tepat di depan tempat duduk Shikamaru.

"Aku tidak menyangka kalau jenius sepertimu masih perlu membaca buku?"

"Kejeniusan tidak datang tiba-tiba. Dan kalau aku ingin menambah informasi yang akan berguna untukku nantinya, membaca adalah salah satu pilihan yang paling mudah kulakukan." Shikamaru kembali berkutat pada bukunya, tidak lagi melihat ke arah Kakashi. "Walau tetap saja merepotkan," imbuhnya nyaris berbisik.

Kakashi mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Sebuah buku kecil bersampul oranye. "Kau benar."

Tidak lama setelah itu, keheningan menyergap—hanya sesekali kekehan Kakashi yang menjadi penghias kebisuan. Tentu saja ini terasa sedikit janggal bagi Shikamaru. Apa tujuan dosennya ini? Yang jelas, Shikamaru tidak mengharapkan jawaban bahwa dosennya sekadar ingin membaca buku bersama dengannya.

Namun, daripada menyia-nyiakan kesempatan dengan menanyakan tujuan dosen tersebut menghampirinya, Shikamaru memilih untuk menanyakan sesuatu yang lebih berkaitan dengan kesuksesan misinya.

"Sensei," panggilnya.

"Hm?" jawab Kakashi tanpa memalingkan wajah ke arah Shikamaru. Dia bahkan masih sempat terkekeh akibat bacaan-entah-apa yang sedang digelutinya.

"Apa pendapat Sensei mengenai extraterrestrial life?"

Akhirnya Kakashi mengalihkan perhatiannya dari buku yang tengah ia baca.

"Kau tertarik dengan bidang itu?"

Shikamaru menyipitkan mata pada awalnya. Dosennya itu tidak memberi jawaban yang ia harapkan. Sebaliknya, ia malah menjawab pertanyaan Shikamaru dengan pertanyaan lain. Namun, celah itu masih belum tertutup. Pertanyaan inkuiri mungkin bisa membantunya ke arah yang ia kehendaki.

"Memangnya Sensei tidak?"

"Kalau aku tidak tertarik, aku tidak akan mengajar di jurusan ini." Kakashi mengedikkan bahu. "Tapi aku memang tidak terlalu mendalami extraterrestrial life. Risetku lebih pada teknologi penunjang yang dapat digunakan untuk meneliti hal-hal di luar bumi dan kehidupannya—benda mati."

"Kalau begitu, siapa yang bisa kuajak berdiskusi secara mendalam mengenai extraterrestrial life?"

Tanpa menutup bukunya, Kakashi kemudian menyentuh dagunya. "Di universitas ini banyak ilmuwan dengan gelar profesor yang berkecimpung secara mendalam dalam bidang tersebut."

"Satu nama?" tanya Shikamaru terlihat semakin tertarik. Pemuda itu bahkan sedikit memajukan posisi duduknya.

Kakashi memandang Shikamaru penuh makna. Sesaat, Shikamaru merasa bahwa intensinya terlalu jelas terbaca. Tapi tidak, itu tidak lebih dari sekadar prasangka. Karena selanjutnya, yang ia dapat adalah sesuatu yang dapat memenuhi tanda tanya di kepala.

"Sarutobi," ujar Kakashi sembari menunjuk satu buku yang berada di bagian paling atas tumpukan buku yang belum sempat dibaca Shikamaru.

Shikamaru membaca kelanjutan nama pengarang dari buku yang ditunjuk Kakashi.

"… Asuma."

o-o-o-o-o

Di luar, Ino tengah menatap gedung yang bahkan tidak bisa ia injak bagian dalamnya. Sedikit terbersit di benaknya untuk nekat menerobos, tapi ia tahu—bukan itu prioritasnya. Kalau ia langsung membuat keributan, apa yang hendak ia capai tidak akan bisa terpenuhi.

Ragu-ragu, Ino meraih handphone dalam sakunya. Ia sudah hendak menelepon Shikamaru. Urung ia lakukan, Ino pun memilih mengirimkan mail pada pemuda bermodel rambut nanas tersebut.

"Humph, paling nanti dia kaget, dari mana aku mendapatkan alamat e-mail-nya."

Setelah mengetikkan pesan yang cukup panjang, Ino menyimpan kembali handphone-nya. Sekali lagi, ia melihat ke arah gedung Jurusan Astronomi yang berbentuk setengah lingkaran di bagian depan dan gedung memanjang vertikal sekitar tujuh lantai di belakangnya.

Ino bersandar di pohon rindang di sebelahnya sambil memasang tatapan benci. Tangannya terlipat di depan dada sementara matanya terus menatap intens ke gedung yang bahkan hanya bisa bergeming.

Gedung setengah lingkaran dengan warna putih gading yang berada di bagian depan adalah tempat mengamati bintang sementara gedung di belakangnya adalah gedung perkuliahan biasa yang merangkap ruang penelitian di lantai-lantai atasnya. Gedung tersebut dikelilingi oleh rerumputan hijau dan beberapa jalan setapak. Beberapa pohon rindang juga tampak menghiasi halaman kampus.

Sekilas tidak ada yang aneh dari tempat tersebut. Namun, Ino yang pernah berurusan dengan orang-orang dari penelitian tahu bahwa gedung itu tidak sekadar apa yang terlihat di luaran. Mata aquamarine-nya kini mengarah ke rerumputan hijau.

Di bawah gedung itu, di bawah apa yang sekilas hanya terlihat sebagai tanah dan rumput, ada ruangan rahasia yang cukup luas untuk melakukan penelitian ilegal. Dan di sanalah 'ia' berbaring. Ya, Ino sempat melihatnya saat ia berkonfrontasi dengan para peneliti tersebut di ruang rahasia baru mereka. Namun, kali itu pun, Ino tidak berhasil merebut 'orang' tersebut. Sebagai gantinya, ia justru terluka parah dan dipaksa meninggalkan ruangan tersebut jika ia tidak ingin dirinya sendiri terancam.

Konfrontasi sembilan tahun lalu membuat Ino semakin sadar—ada seseorang yang mengerikan, yang memiliki kombinasi pengetahuan, kekuasaan, dan kekayaan sebagai pelindung dari para peneliti-peneliti tersebut. Sayang, orang tersebut tidak dilengkapi dengan kerendahan dan kemurahan hati, melainkan ketamakan dan kelicikan.

Orang tersebut yang akan memberi setiap bantuan yang diperlukan oleh para peneliti untuk meneruskan kegiatan ilegal mereka. Di sisi lain, orang itu juga berhasil meminjamkan kejeniusannya untuk mengembangkan senjata yang dapat mencegah Ino merebut materi penelitian mereka. Orang itu jugalah yang berhasil mengembangkan sistem pengamanan ruang rahasia yang bahkan tidak bisa ditembus oleh Ino. Tidak bisa diterobos, juga tidak bisa dilihat.

Akibat lanjutannya, orang itu membuat Ino tidak bisa bergerak. Yang bisa ia lakukan hanya mengawasi dari kejauhan, menunggu hingga waktu kembali berpihak. Walau untuk sementara ia hanya bisa merayap-merangkak, tapi harapan itu tidak terelak.

Beserta kebencian yang kerap ditahan agar tidak meledak dengan alasan akhlak.

Pada mereka yang sudah merenggut kebebasannya.

Pada mereka yang membuatnya terbaring tak berdaya.

"Tsk! Ini benar-benar menyebalkan! Aku harus segera menyelesaikannya sebelum didahului mereka! Waktunya semakin mendesak!"

Ino menggerutu dan kembali menggerutu tiap ia teringat kegagalannya dulu. Ada harapan bahwa kali ini ia bisa melakukan sesuatu yang jauh lebih baik dibanding ia yang dulu. Kenyataannya, ia hanya bisa menunggu untuk saat ini, jika ia ingin semua berjalan lancar. Sekarang belum saatnya ia bergerak. Ia hanya bisa menyerahkan penyelidikan awal ini pada Shikamaru.

"Kalau saja aku tidak terlalu lama di sini, sudah pasti aku tidak akan segan dan membiarkan—" Ino menggeleng. "Sudah sebelas tahun berlalu. Dan sembilan tahun kugunakan hanya untuk melakukan penelitian dan invensi serta memperbaiki alat transportasi dan komunikasi. Selama itu…."

Tatapan mata Ino mendadak beralih pada sosok anak-anak kecil yang sedang berlarian di trotoar seberang jalan sembari membawa balon berwarna-warni. Seorang gadis berambut cokelat dicepol dua yang tampak seperti guru mereka memperingati anak-anak itu agar tidak berjalan terlalu ke tengah—jalur kendaraan. Ino kemudian beberapa manula yang tengah menikmati duduk santai di bawah sebuah pohon rindang tidak jauh darinya. Tak lama, ia pun dapat melihat pasangan suami istri yang sedang berjalan bergandengan tangan—dengan sang istri yang tampak sedang mengandung.

"Sembilan tahun … bukan waktu yang sebentar…."

Ino nyaris menghantam batang pohon yang ada di dekatnya dengan sebuah tinju saat ilusi itu mengentikannya.

Ilusi yang memperlihatkan sosok seorang pemuda berambut model nanas—dengan matanya yang tampak mengantuk dan senyum malasnya.

Pemandangan-pemandangan tersebut membuat Ino menghela napas. Seakan mendapat pukulan keras di kepalanya, Ino langsung memegangi pelipis.

"Shikamaru, aku benar-benar terpaksa mengandalkanmu," lirih Ino akhirnya. "Kau pasti bisa melakukan sesuatu."

Kedua tangannya kini mengepal. Ia kemudian mengangguk perlahan.

"Demi mereka, demi dia, dan ... demi dirimu sendiri."

o-o-o-o-o

"Ruang Profesor Sarutobi ada di lantai lima, di sisi barat. Dari pintu lift, kau tinggal berjalan menyusuri koridor yang ada di sebelah kiri. Untuk pastinya, kau tinggal melihat nama yang ada pada pintu. Tapi entah dia sudah datang atau belum, aku belum melihatnya hari ini."

Kata-kata Kakashi itu menjadi panutan bagi Shikamaru untuk dapat menemukan orang yang dicarinya. Sarutobi Asuma—untuk saat ini, orang itulah satu-satunya petunjuk Shikamaru. Dilihat dari cara Kakashi mengucapkannya, Profesor Sarutobi ini pasti bukan orang sembarangan. Namanya adalah nama pertama yang Kakashi sebutkan saat Shikamaru meminta rekomendasi mengenai orang yang bisa diajak berdiskusi mengenai extraterrestrial life.

Shikamaru melihat ke arah tangannya yang memegang sebuah buku.

Buku yang ditulis oleh Sarutobi Asuma—'Extraterrestrial Life ~ Anata no Tame ni, Dare ga Shitte Okubeki Koto'.

Lampu di bagian atas lift menunjukkan angka lima yang menyala. Secara otomatis, pintu lif pun terbuka. Shikamaru menjejak ke luar. Terdiam selama beberapa saat di depan pintu lift sebelum ia kemudian bergerak beberapa langkah ke sebuah tempat duduk yang berada tidak jauh dari pintu lift.

Dikeluarkannya handphone yang sempat bergetar tatkala ia masih ada di perpustakaan. Ia belum benar-benar membaca pesan yang ia dapatkan dari alamat asing tersebut. Entah kenapa tatapan Kakashi saat melihatnya membuat Shikamaru sedikit bergidik—seolah pria itu tengah menilai setiap gerak-geriknya.

'Shika, ini aku. Jangan tanyakan dari mana aku mendapat alamat e-mail-mu, ya? Karena itu sangat tidak penting. Oke, langsung masuk saja pada intinya. Berhati-hatilah. Segala tingkahmu mungkin akan dinilai oleh mereka. Jangan sampai memancing kecurigaan mereka. Oh, ya. Satu lagi. Sebelumnya aku mengatakan bahwa mungkin tidak ada petunjuk apa pun soal mereka, tapi sebenarnya, aku tahu satu orang yang mungkin bisa membantumu. Aku memang tidak yakin. Apalagi, berdasarkan pengamatanku, orang tersebut diawasi oleh atasannya. Terlalu riskan bagiku untuk memberi saran bagimu untuk menemui orang itu. Tapi, jika memang ada kesempatan, tanpa membuat kecurigaan, carilah orang bernama 'Sarutobi Asuma'.'

Mata Shikamaru sedikit melotot saat melihat pesan panjang tersebut. Alisnya terangkat sebelah. Ia kemudian memencet-mencet handphone-nya—menggeser kursor hingga kembali ke bagian atas e-mail. Ia membaca ulang pesan tersebut; tidak ada yang berubah. Pesan itu benar-benar menunjuk nama satu orang yang sama.

Diketikkannya sebaris jawaban.

'Aku akan menemuinya.'

Kepala Shikamaru menoleh ke arah kanan—arah kiri jika ia keluar dari pintu lift.

Helaan napas meluncur keluar dari mulutnya sementara tangannya kembali menyimpan handphone dalam saku.

Ia pun mulai melangkah menapaki lantai yang terbuat dari marmer berwarna biru gelap. Langkahnya tidak cepat juga tidak lambat—langkah yang terbilang santai. Suasana yang sunyi itu membuat langkahnya jadi terdengar cukup jelas, memantul ke dalam indra pendengarannya.

Jadi begini rasanya menyusup ke dalam markas musuh? batin Shikamaru bersuara. Mendokuse.

Pegangannya pada buku yang ia pinjam dari perpustakaan tersebut terasa mengerat.

Rasanya semua hal ini adalah suatu kesalahan. Harusnya Shikamaru bisa melarikan diri dari situasi tidak mengenakkan ini.

Ia tidak suka perasaan tertekan yang ia alami sekarang. Jantungnya berdebar lebih cepat dari biasanya. Lorong sepi ini menimbulkan perasaan mencekam yang membuat Shikamaru benar-benar ingin melarikan diri. Oh, ini bukan soal hantu—demi Tuhan!

Persoalannya justru ada pada beberapa orang—sedikit orang—yang berada di lantai ini. Jika Shikamaru melakukan survei singkat, yang ada di lantai ini rata-rata orang yang berusia sekitar tiga puluh tahun ke atas. Nyaris tidak ada orang yang seusianya. Mungkin, memang sedikit aneh melihat mahasiswa seperti Shikamaru menginjakkan kaki di tempat para dosen kehormatan berada.

Karena itulah, Shikamaru merasa bahwa setiap orang yang lewat di sampingnya seakan mewaspadainya—mempertanyakan maksud keberadaannya di sini. Tidak ada yang berusaha menegurnya ataupun bertanya langsung padanya. Namun, tatapan mata mereka sudah cukup membuat Shikamaru semakin berkeinginan untuk berbalik dan memikirkan strategi yang lebih baik.

Justru itu akan mencurigakan, batinnya memperingatkan. Tenangkan dirimu, Shikamaru. Mereka tidak bisa mencurigaimu tanpa alasan. Sejauh ini, kau tidak melakukan kesalahan.

Shikamaru mempertahankan kecepatan langkahnya. Sambil mengawasi pintu-pintu cokelat terang yang berjarak sekitar dua meter satu sama lain, matanya mencoba fokus pada papan nama yang ada di bagian atas tiap pintu. Akhirnya, kedua netra itu menemukan apa yang hendak dicekaunya.

Kaki Shikamaru pun serta-merta berhenti melangkah. Seketika, jantungnya berpacu lebih dan lebih cepat. Namun, ketakutan itu seolah lenyap. Ia tidak lagi menghiraukan puluhan pasang mata yang memberikan tusukan tajam pada keberaniannya.

Semua fokusnya tersedot oleh satu papan nama.

"Sarutobi Asuma, ya?"

***to be continued***


A/N :

- Quotes by Harry Lorayne: Curiosity killed the cat, but where human beings are concerned, the only thing a healthy curiosity can kill is ignorance.

Sedikit glosarium, judul buku yang ditulis Asuma: 'Extraterrestrial Life ~ Anata no Tame ni, Dare ga Shitte Okubeki Koto', artinya: 'Extraterrestrial Life ~ For You, Who Have to Know'.

Akhirnya bisa ku-update juga ini fanfic. Sedikit-sedikit, identitas Ino udah ketebak, 'kan? Juga soal Kurenai. Tapi moga-moga alur ceritanya nggak bener-bener ketebak, ya? Then, mau minta maaf dulu nih, sepertinya di chapter ini ada kekurangan di sana-sini (terutama feel dan kawan-kawan). Saya sendiri sih ngerasa kurang puas ama chapter ini. Karena kelamaan gak nyentuh, ada beberapa plot yang juga harus saya rombak karena lupa, kurang cocok, dan sebagainya. Saya cuma bisa berharap, jadinya nggak terlalu aneh dan janggal u.u

Terus … aku bales-balesin ripiu yang udah masuk dulu, deh~ :"3

Kairin Meilin: awww … makasih, Dear. XD aku suka soal luar angkasa dulu gara2 Sailor Moon, sih. Wkwkwk. Soal mengilat, bener, kok, aku tulisnya gitu. Pada dasarnya, huruf-huruf 'k', 'p', 't', 's' itu kan akan meluruh kalau ketemu imbuhan 'me-' ;)

Uzuchihamel: siapa Ino udah mulai ketebak, kan, di chapter ini? XD

Rere Aozora: Rere-chan~ makasih buat koreksinya, ya? Wkwkw. Gakpapa kok tebak-tebakan. Kan tujuan fanfic ini dibuat emang buat maen tebak-tebakan :P apa mestinya ditambah genre misteri, ya? XDD

DeathAuthor: thanks for the compliment. Moga-moga chapter ini nggak gitu mengecewakan, mengingat saya udah lama nggak update dan feel-nya sempat hilang ;_;

Ann Kei: hai, Ann-chan :D ahahaha, jadi chapter 3-nya udah beres bacakah? :3

Cendy Hoseki: kapan sih amnesia-ku bener-bener sembuh? XD huwakakaka, apa di chapter ini interaksi mereka masih pasif-agresif? Ini udah hampir menguak semua rahasia kok, masih ada yang bikin penasaran? :p Yosh, semoga jiwa ShikaIno-nya makin membara.

ulva-chan: iya, gakpapa. Makasih udah baca n akhirnya mau mampir buat review juga, yah, Ulva-chan XD Wah, kayaknya harusnya bener ditambah satu genre lagi yak? :3

oneechan: gakpapa, Neechan. Santai aja. XD Hihihi, interaksi ShikaIno emang bakal mendominasi, kok. Karena bisa dibilang ini bakal tanpa slight yang gimana-gimana. Err … maybe. Tapi fokusnya emang bukan ke interaksi romance mereka sih. XD

Saqee-chan: hahaha, temanya mungkin emang agak berat, ya? Yang nulisnya aja kadang kebingungan sendiri. XD Tapi moga-moga masih cukup bisa dicerna. Yang ngomong sama Shika itu … nanti pokoknya jawaban misterinya bakal dilucutin satu demi satu. :3

Agusthya: hayooo … udah ketahuan, kan, siapa Ino? XD

Masahiro 'Night' Seiran: hahaha. Namanya juga AU. Total sekalian. :P Sorry dah, gak bisa kasih slight macem-macem. Otak ane makin nggak nyampe entar. Udah di tema berat, kalau nambah slight makin banyak beban pikirannya (?) XD

uchihyuu nagisa: udah terkuak di chapter ini XDD

Rossa uzumakinuzuka: makasih, Rossa-chan *hug* Ini udah di-update XD

Sagita-Naka: double gomen! Pertama, maaf kalau ceritanya nggak (belum) jelas. Kedua, maaf, gak bisa update kilat. Ta-tapi di sini mulai dikuak satu demi satu rahasianya kok X"D

YamanakaemO: gakpapa, say. Makasih banget lho udah mampir buat baca dan review XD

Vide Shaki: ufufufu~ siapa Ino mulai terkuak di chapter ini. Iya, sejujurnya saya bikin ini sekalian nambah pengetahuan tentang astronomi juga kok. Makasih udah mampir buar baca dan ripiu XD

kyu's neli-chan: Ino? Kan di certain di chapter-chapter awal kalau dia mahasiswi botani. XD Shika bukannya emang keren, yak? :P

vaneela: kok tau sih bikinnya pake riset? Dirimu men-stalker saya, ya? XD Iya, nih dikit-dikit udah dikasih tau masalah dan inti ceritanya. XD

Jee-ya: sebenernya otak saya juga kagak gitu nyampe, tapi dinyampe-nyampein X"D /plak Soal konfliknya, yap, sabar yak? Pelan-pelan bakal di-reveal. Adegan di beranda itu … saya terinspirasi dari satu gambar ShikaIno dan salah satu komik. Dan karena saya suka, saya masukin aja. Hahaha. Gakpapa deh picisan, yang penting suka. Iya, gak? XD /doubleplak

Amai Yuki: hahaha, balesnya ke sini aja deh. Wkwkwk. Eh? Kenapa nggak mau maen tebak-tebakan lagi? Ayo, ayo, tebak lagi yang bisa ditebak (?) XD

Shuuta Hikaru: gakpapa, malah makasih banget udah nyempetin buat mampir dan review XD wkwkwk, keliatan banget yah kalau Sai itu alien? :P

minatsuki heartnet: OwO segitu bikin penasarannyakah? XDDa

Kyra Kazuya: AsuKure bakal ada peran pentingnya, kok. Tunggu aja tanggal mainnya mereka. Wkwkwk. Di chapter ini kayaknya bahasanya nggak terlalu berat, deh. Jeblok kali ya? *author pusing* X""D Soal konflik, sebenernya dari awal mula udah disebarin konfliknya sedikit demi sedikit. Hahaha.

Soekardhe-Tiebhak: satu demi satu pasti akan dikasih tahu, kok, siapa mereka. XD Dan … makasih buat semua pujiannya. Moga-moga chapter ini nggak terlalu mengecewakan. Hehe.

Nerazzuri-sorellina: soal plot twist, sebenernya saya udah merencenakan beberapa twist, moga-moga aja emang bisa jadi twist. XD soal quotes-quotes, saya usahakan di tiap chapter minimal ada satu quotes. Dan yang paradox-paradoks gini emang … gimana, ya? Jujur, yang soal 'ketidakpastian' itu, saat pertama kali saya denger tentang itu di kuliah filsafat saya, saya langsung jatuh hati XD Terus, ada alasan, kok, kenapa Ino masuk botani. Hehehe. Soal Kurenai dan core, you almost got it right! Tapi saya nggak akan bilang di bagian mana yang benar dan mana yang kurang tepat. Lalu … setidaknya romance jadi pengalih yang menyesatkan asumsi, ya? Hahaha. Oke, di chapter ini akan jadi bridge menuju rahasia-rahasia yang akan mulai terkuak. Thanks udah menyempatkan diri untuk baca n review, bahkan juga di fave n alert ya, Sorellina :""D

Yooossh~! Buat semua yang udah review, terima kasih banyak saya ucapkan. Next, terima kasih juga saya ucapkan buat semua yang udah baca (silent reader sekalipun), yang udah nge-alert, bahkan nge-fave fic ini. Doumo arigatou gozaimasu! Maaf kalau chapter ini kurang memuaskan. X""Da

Terlepas dari semua kekurangan fanfic ini, langsung aja beritahukan kesan, pesan, saran, kritikan minna-san tentang fic ini. Arigatou sebelumnya~

I'll be waiting.

Regards,

Sukie 'Suu' Foxie

~Thanks for reading~