Tok. Tok.
Ketukan dua kali di pintunya membuat pria berjanggut itu mengangkat wajahnya yang semula ditopang oleh sebelah tangan. Demi memastikan kebenaran indra pendengarannya, ia pun dengan sengaja memberi jeda.
Tok. Tok.
Tentu, itu bukan sekadar ilusi.
"Ya, ya, sebentar," jawabnya kemudian sambil meletakkan sebuah foto usang yang tengah dipandangnya ke dalam laci paling atas dari meja kerjanya. Ia juga mematikan rokok yang tengah ia isap dengan menekankan sisi yang terbakar pada asbak kaca di dekatnya.
Berjalan dalam langkah yang santai, ia pun mencapai pintu dan membuka semua kunci yang menghalangi akses masuk. Pintu terbuka sedikit ke arah luar dan segera, ia mendapati sosok seorang pemuda bertampang malas berdiri di depan ruangannya.
"Profesor Sarutobi?"
Pintu terbuka semakin lebar.
EXTRATERRESTRIAL
Disclaimer : I do not own Naruto. Naruto © Masashi Kishimoto
No commercial advantages is gained by making this fanfic.
Pairing : ShikaIno and maybe some slights or hints
CHAPTER 5. Trust
Nara Shikamaru sudah terduduk di atas sebuah kursi dengan sandaran tinggi yang berada tepat di depan meja kerja Sarutobi Asuma. Pemuda itu terdiam salah tingkah. Segalanya terasa canggung, lidahnya kelu. Entah apa sebabnya. Tegangkah? Apa Shikamaru merasa tegang?
Asuma tersenyum sambil mengamati gelagat pemuda berusia sekitar sembilan belas tahun yang ada di hadapannya. Berkebalikan dengan Shikamaru, Asuma terlihat sangat santai. Ia bahkan tampak menikmati keheningan yang terjadi di antara mereka. Sesuatu yang ada dalam diri pemuda itu membuat Asuma seketika itu juga merasa tertarik. Oh, bukan tertarik secara seksual tentunya.
Namun, ia tidak bisa terus melepaskan keheningan ini sebagai pemegang kendali. Dan karena tampaknya pemuda di hadapannya masih memikirkan kata-kata yang tepat untuk memulai, Asuma berpikir bahwa mungkin ia bisa sedikit membantu.
"Jadi…," ujar Asuma sambil mengetuk-ngetuk meja dengan jemarinya untuk menarik perhatian pemuda yang sedari tadi terus memandang ke arah bawah tersebut, "kita mulai dari namamu."
"Ah? Maaf. Aku lupa memperkenalkan diri. Namaku Nara … Shikamaru," jawab Shikamaru setelah sebelumnya bimbang hendak mengucapkan nama lengkapnya atau tidak.
Mendengar nama lengkapnya, Asuma menunjukkan reaksi yang cukup signifikan untuk ditangkap kedua mata Shikamaru. Alis pria itu berkerut sedemikian dalamnya seolah ia baru saja mendengar nama paling aneh sedunia. Shikamaru hendak bertanya saat ekspresi itu sekonyong-konyong lenyap ditelan sebuah senyuman.
"Baiklah, Nara," ujar Asuma lagi sambil meraih sebuah kotak yang ada di dekat asbak, "jadi ada keperluan apa kau menemuiku?" Asuma kemudian mengetuk-ngetukkan ujung kotak tersebut ke meja sebelum mengeluarkan sebatang rokok.
Shikamaru yang semula mengikuti pergerakan Asuma terdiam sejenak sebelum otaknya dapat mengolah pertanyaan Asuma dan memberikan umpan balik. "Extraterrestrial," sergah Shikamaru kemudian, "aku ingin Anda mengajarkanku tentang extraterrestrial."
Rokok yang diambil Asuma mendarat diam di sela bibirnya. Selama beberapa saat, posisi rokok tersebut stagnan. Shikamaru kini memandang lurus ke dalam mata Asuma hingga Asuma tanpa sadar mengempit rokoknya di antara jari telunjuk dan jari tengah.
"Extraterrestrial, eh?" Asuma menyeringai. "Baru kali ini ada orang yang datang padaku langsung untuk menanyakan hal itu."
Shikamaru menelan ludah. Apa ia sebegitu mencurigakannya? Rasanya justru semua menjadi absurd dan tidak masuk akal. Extraterrestrial termasuk ke dalam kurikulum, 'kan? Jadi harusnya tidak aneh jika mahasiswa bertanya langsung pada dosennya, 'kan?
"Ada yang aneh?" Shikamaru pun memberanikan diri untuk bertanya.
Kali ini Asuma menatapnya dengan pandangan menantang. "Kalau begitu, semua dimulai dari awal," ujar Asuma sambil menyeringai.
"Apa?"
Asuma berdiri dan membiarkan rokoknya tergeletak di atas meja begitu saja. Ia kemudian membelakangi Shikamaru dan melihat-lihat ke rak bukunya sendiri—seakan mencari sesuatu di sana. "Sikap ilmuwan yang baik memang didasari ingin tahu. Apa pun dipertanyakan. Padahal mungkin jawaban itu sudah tersedia."
"Tunggu sebentar, yang ingin kutanyakan…."
"Awal, Nara. Awal," potong Asuma sambil menoleh sekilas ke arah Shikamaru. Ia menggerakkan jari telunjuknya. "Sikap ilmuwan yang baik memang didasari ingin tahu. Apa pun dipertanyakan. Padahal mungkin jawaban itu sudah tersedia. Yang ingin kauketahui bukan hal yang sepele. Berbeda dengan matematika yang hanya tinggal menjumlahkan. Gejala seaneh apa pun akan diperhatikan dalam bidang ini. Raksasa bahkan mungkin tidak lagi dipandang sebagai mitos belaka."
Shikamaru mengernyitkan kening dan menyipitkan matanya. Tubuh Asuma masih terlihat bergerak menyusuri rak yang penuh dengan buku.
"Berpikirlah mulai dari sekarang. Sadari setiap langkah yang harus kauambil. Malas tidak bisa kaujadikan alasan. Mudahkah hal ini menurutmu?"
Asuma kemudian berbalik dengan dua buah buku sudah ia pegang di masing-masing tangannya. Ia kemudian meletakkan kedua buku yang cukup tipis tersebut di atas meja dan ia pun kembali duduk. Matanya kembali menyorotkan tantangan—seringainya pun kembali ia tunjukkan.
Shikamaru terdiam selama beberapa saat. Indra penglihatannya kemudian mencuri-curi pandang ke arah buku yang masing-masing kini sudah berada di bawah tangan Asuma. Begitu kepalanya kembali terangkat, Shikamaru kemudian sudah menyiapkan jawabannya.
"Apa harus dengan cara ini?" tanya pemuda itu.
Asuma terbelalak seketika seolah tidak memperkirakan pertanyaan tersebut. "Yah … semua tidak akan dibuat mudah, Nak. Sekarang katakan saja padaku jika memang kau mengerti." Sementara mengatakan itu, Asuma mengetuk-ngetukkan jemari masing-masing tangannya ke atas sampul buku yang berbeda.
"Tergantung jawabanku, ya?"
Asuma hanya tersenyum. Shikamaru memandang mata Asuma dan memulai penilaiannya. Semua tergantung pada jawabannya. Bisakah ia percaya pada pria di hadapannya? Namun, Ino menyuruhnya untuk menemui pria ini. Jelas sekali bahwa pria ini tahu sesuatu. Lebih dari itu—mungkin ia terlibat, memiliki peranannya tersendiri.
Shikamaru ingin mengingkari. Tapi, perasaan aneh itu mendadak kembali menyeruak. Perasaan yang awalnya ia kira sebagai ketegangan itu nyatanya menjadi sebuah hipotesis yang ditolak. Tidak nyaman—itu masih. Ini seperti…. Canggung—kata yang lebih tepat.
Tapi bukan hanya itu. Rasanya seperti … bertemu kenalan lama yang sudah tidak pernah dikontak berpuluh-puluh tahun lamanya. Ingin mengatakan rindu pun menjadi suatu yang mustahil terutama jika lawan bicaranya sama sekali tidak mengenalmu. Nyatanya, kau pun tidak mengenal orang di hadapanmu.
Siapa Sarutobi Asuma sebenarnya, demikian benak Shikamaru mempertanyakan.
Pun halnya yang terjadi dengan Asuma. Ia mempertanyakan mengenai eksistensi seorang Nara Shikamaru.
"Bagaimana…?" Asuma sekali lagi memecah senyap yang terjadi di sela-sela waktu berpikir Shikamaru.
"Seseorang memberitahuku mengenai Profesor Sarutobi. Aku disuruh menemuimu," jawab Shikamaru akhirnya. Sikapnya sekarang jauh lebih santai walau kewaspadaan tetap terpancar—kini Shikamaru tampak seolah merefleksikan sikap Asuma sendiri. Bahkan lebih dari itu, tanpa kelengahan, Shikamaru memandang pergerakan di tangan kanan Asuma. Shikamaru mendapati bahwa tangan kanan pria tersebut sedikit menekan buku di bawahnya.
"Hooo … siapa yang memberitahumu untuk menemuiku?"
"Hatake Kakashi-sensei," jawab Shikamaru lugas sambil menampilkan sebuah senyum kemenangan. "Tidak aneh, bukan?"
Tangan Asuma seakan mengendurkan tekanannya. Tapi kemudian, kedua tangan itu terkepal. Alisnya menukik tajam dan matanya menuntut suatu kebenaran. "Betulkah demikian?"
"Profesor," ujar Shikamaru dengan lebih santai, "ini buku yang harus kubaca, bukan?" Tangan Shikamaru kini menyentuh ujung buku yang ada di bawah tangan kanan Asuma. Asuma tampak terkejut.
"Kau belum—"
Tapi Shikamaru mengabaikan kata-kata Asuma dan menarik buku itu agar terlepas dari tahanan tangan Asuma.
"Aku rasa Profesor adalah orang yang bisa dipercaya. Tapi kadang anak muda sepertiku tidak bisa percaya begitu saja sebelum benar-benar memastikan dengan mata kepalaku sendiri," ujar Shikamaru sambil mengipas-ngipaskan perlahan buku yang sudah didapatnya. "Setelah membacanya, aku baru akan memutuskan untuk menjawab pertanyaan Anda tadi dengan lebih baik atau membiarkan semuanya menjadi sebuah pertanyaan tidak terjawab."
Asuma tampak terpukau dengan cara Shikamaru mengatasi pertanyaannya. Pemuda itu bahkan berhasil mengambil buku yang tepat. Memang, Asuma punya pilihan untuk merebut kembali bukunya. Namun, berbeda dengan Shikamaru yang merasa kepercayaan itu terlalu cepat diberikan, Asuma merasa bahwa pemuda di hadapannya mungkin memang adalah jalan yang diberikan padanya.
Akhir-akhir ini, Asuma bertemu dengan kegelapan. Seakan tidak cukup dengan itu, tembok tinggi yang tidak bisa ia jangkau kini terbentang di jalan pulangnya—mengunci semua langkahnya untuk berlari kembali ke masa lalu. Ia hanya bisa terus maju walau hati mulai tidak menghendaki, walau pikiran terus mempertanyakan.
"Baiklah," ujar Asuma akhirnya, "baca baik-baik buku itu."
Asuma berdiri dan Shikamaru mengikuti. Keduanya kini melangkah ke arah pintu. Selama perjalanan sangat singkat ke arah pintu, sekelebat Shikamaru yakin bahwa kedua netranya telah melihat benda yang membuat Asuma harus mengoceh omong kosong. Tepatnya, mengoceh seolah semua hanyalah perbincangan ringan yang tidak berarti.
"Ingat, sesekali mungkin kau harus melihat awal," imbuh Asuma sambil membuka pintu ruangannya untuk mempersilakan Shikamaru keluar, "saat melihat yang ganjil, kembalilah ke awal."
Shikamaru menghela napas sementara alisnya mengernyit bagaikan gerakan refleks.
"Mendokuse na."
Asuma pun tertawa renyah dan kemudian menepuk-nepuk pundak Shikamaru—menyuruh pemuda itu agar lebih bersemangat. Ia pun setengah mendorong Shikamaru keluar dari ruangannya.
Lalu, gumaman itu pun tertangkap indra pendengaran Shikamaru. Tidak—Shikamaru tidak salah dengar. Ia yakin Asuma memang sengaja mengatakan itu dalam suara yang pelan tapi cukup kuat untuk masih bisa didengar Shikamaru.
"Maaf. Aku terpaksa…."
Dan Shikamaru semakin yakin bahwa ada orang lain yang mengetahui kedatangannya ke kantor Asuma—seseorang yang mengawasi tiap pembicaraan mereka melalui mata ketiga.
o-o-o-o-o
"Shikamaru!"
Suara yang akhir-akhir ini selalu menggema di telinga Shikamaru membuat sang empunya nama mengangkat kepalanya sedikit. Di tempat terakhir ia meninggalkan Ino, di tempat itulah Ino masih berdiri. Gadis itu menyunggingkan senyum lebar—senyum yang akhir-akhir ini juga mengisi hari Shikamaru.
Jika sesuai dengan manual yang biasa, Shikamaru akan mengabaikan segala hal tentang gadis itu meski ia sangat penasaran. Namun, sejak ia mengetahui sedikit rahasia gadis itu, suatu perasaan baru di samping rasa ingin tahu perlahan menguasai diri Shikamaru. Tertarik.
Kini ia pun jadi memandangi wajah Ino. Gadis itu laiknya mahasiswi-mahasiswi lain yang seumuran. Kulitnya kuning langsat dengan sentuhan make-up tipis. Bentuk matanya tajam dan iris aquamarine-nya tampak begitu jernih—meski hanya sebelah yang cukup terlihat, yang lain terhalang poni yang berjatuhan dan tampak lembut. Jika wajah itu hanyalah wajah buatan, Shikamaru tetap akan mengatakan bahwa wajah tersebut adalah buatan yang sangat apik—cantik.
"Apa, nih? Mendadak kau terpesona padaku?" goda Ino sambil menyenggol tangan Shikamaru dengan sikunya.
Shikamaru merungut. Ia kemudian menggeleng sekali sebelum menjawab, "Apa itu wajah aslimu?"
Ino mengerjap. Jelas ia tampak kaget dengan pertanyaan Shikamaru. Sebenarnya, pertanyaan Shikamaru itu adalah pertanyaan yang jamak. Bagi Shikamaru yang sudah tahu rahasianya, tentu keberadaan Ino menjadi tanda tanya besar. Benarkah sosok seorang Yamanaka Ino adalah sosok nyata sebagaimana yang tertangkap indra?
Sebagai respons pertama terhadap pertanyaan tersebut, Ino justru terkikik geli.
"Apa kau membayangkan makhluk yang gambarannya sudah lebih umum? Misalnya, sejenis makhluk mirip dengan kepala bulat besar dengan badan yang begitu ramping—kurus—dan tangan serta kaki yang panjang? Sejenis 'Grey' [1] maksudmu? Atau yang memiliki ekor dan tanduk? Kakinya kaki kuda sementara tangannya tangan elang dengan gigi-gigi yang siap mengoyak habis tubuhmu dalam sekali gigitan?" cerocos Ino sambil menarik tangan Shikamaru untuk mulai berjalan.
Dan bahkan, belum sempat Shikamaru menjawab, Ino sudah menokok, "Yah … luar angkasa tidak sesempit itu. Kuharap kau pernah mendengar tentang 'Nordik' [2]?"
Alis Shikamaru mengernyit. Tentu dia sudah pernah mendengar beberapa jenis alien dari buku-buku yang pernah ia baca. Meskipun demikian, membaca buku dan mengalami perjumpaan langsung tentu akan menjadi sangat berbeda. "Bukannya aku tidak pernah dengar. Itu hal yang sudah tergolong umum untuk hal-hal yang berkaitan dengan extraterrestrial—alien. 'Nordik'. Itu adalah sebutan untuk alien yang katanya paling menyerupai manusia, apa itu…."
"Katakanlah, satu tipe. Tapi mereka, sih, beda," jawab Ino santai, "struktur tubuh dan organ dalamnya berbeda." Ino mengangkat bahu. "Spesies yang berbeda."
Shikamaru masih membiarkan tangannya ditarik beberapa saat oleh Ino. Rasanya ia begitu malas hanya untuk sekadar menarik tangannya untuk melarikan diri dari gadis itu. Ia pun membiarkan dirinya ditarik-tarik oleh Ino ke satu arah yang cukup ia kenal. Entah sejak kapan, Shikamaru sudah begitu memasrahkan dirinya untuk terbawa oleh tempo gadis tersebut.
"Lalu, apa yang kaudapatkan?" tanya Ino sambil mendekatkan dirinya pada Shikamaru.
Gadis itu kini bahkan memeluk sebelah lengan Shikamaru. Matanya memang tidak menatap langsung ke arah Shikamaru dan keduanya masih tetap berjalan. Pembicaraan itu bagaikan pembicaraan yang bisa dilakukan sambil lewat. Seharusnya tidak demikian, bukan? Namun, Ino terkesan ingin buru-buru mendengar semua agar ia bisa segera mengambil tindakan.
Awalnya, Shikamaru memang sempat menahan napas saat Ino memeluk lengannya. Namun, gelagat Ino yang tampak tidak sedang bermain-main saat itu berhail menarik kembali segala keseriusan dalam benak Shikamaru. Pikirannya berputar keras—mengabaikan segala kontak fisik yang sempat mengganggu kerja jantungnya.
Shikamaru memang tidak tahu dengan jelas apa yang menjadi intensi akhir Ino. Menyelamatkan seseorang? Apa orang tersebut berada dalam bahaya? Apa gadis itu diikat oleh sebuah tali bernama waktu batas?
"Kau yakin mau membicarakannya di sini?" Mengikuti Ino yang memelankan suaranya, Shikamaru melakukan hal yang sama.
"Tidak masalah. Tidak akan ada yang memerhatikan kita," jawab Ino sambil melirik ke kiri dan kanan. Ia semakin mengeratkan pelukannya ke lengan Shikamaru. "Bersikap biasa sajalah. Anggap saja kita sedang kencan."
Biasa? Di saat seperti ini … bagaimana caranya agar Shikamaru bersikap biasa? Pelukan Ino yang terasa makin erat, ditambah … sesuatu yang empuk yang kini terasa menekan lengannya…. Katakan bagaimana cara agar Shikamaru bisa bersikap biasa? Bagaimana cara agar jantungnya tidak berdetak cepat dan bagaimana agar wajahnya tidak memerah? Tidak, sepertinya ia memang tidak bisa lagi bersikap cuek seolah kontak fisik ini tidak terjadi.
Perlahan, Shikamaru menarik diri dari Ino. Ino yang merasakan pergerakan Shikamaru langsung menoleh ke arah pemuda tersebut.
"Lepaskan tanganmu," ujar Shikamaru setengah bergumam.
Rona merah di wajahnya terpantul jelas di kedua mata Ino hingga gadis itu tanpa sadar melepaskan pelukannya. Begitu Shikamaru lepas darinya, pemuda itu langsung menggaruk belakang kepalanya dengan salah tingkah—membuat Ino terkikik geli. Shikamaru pun mendelik ke arah Ino.
"Apa yang lucu?" tanya pemuda itu lagi. Ia mengeskpos wajah cemberut yang justru semakin ditanggapi Ino dengan tawa yang semakin liar.
Ino kemudian menepuk-nepuk pundak Shikamaru sambil berseru ringan, "Polosnya~!"
"Tsk. Mendokuse na!"
Shikamaru kembali melihat ke depan dan kemudian mulai bergerak meninggalkan Ino. Ino sedikit terkejut tapi kemudian gadis itu berlari kecil agar langkahnya kembali sejajar dengan Shikamaru. Tentu orang-orang yang melihat mereka tidak ada yang akan menaruh perhatian berlebih—tingkah keduanya begitu layak dikatakan sebagai dua sejoli yang tengah menikmati hangatnya matahari di musim semi.
"Hei, hei. Begitu saja marah. Kau benar-benar cowok polos, ya?" Ino masih tertawa-tawa di sebelah Shikamaru. Pemuda itu masih sedikit merengut saat mendadak tangannya bergerak dan menghantam kepala Ino perlahan dengan buku yang sedari tadi dia pegang. "Apa ini?" tanya Ino sembari mengambil buku tersebut dari atas kepalanya.
"Kautanya apa yang kudapatkan, itu yang kudapatkan," jawab Shikamaru, "tugasku selesai, 'kan?"
Ino menaikkan alis sebelah. "Enak saja! Kau masih tetap harus membantuku," jawab Ino cepat. Mendadak air muka gadis itu kembali menunjukkan keseriusan. "Waktu yang kita punya tinggal sedikit."
"Ehem. Maksudmu … waktu yang kaupunya?" Shikamaru berusaha meralat.
Gelengan kepala diperlihatkan Ino. "Tidak. Kita." Senyum sedih diperlihatkan Ino. "Tapi kita pasti bisa menyelesaikannya sebelum mereka datang."
"Kau berutang banyak penjelasan padaku," desis Shikamaru tidak suka. Cukup sudah ia bermain-main dengan sifat rahasia gadis itu. Ia harus tahu semuanya jika ia memang harus terlibat dalam misi ini.
"Hm, hm," jawab Ino sambil mengangguk-angguk. Perhatiannya kini sudah terpusat pada buku yang baru ia dapat dari Shikamaru. Halaman pertama yang bertuliskan forewords di bagian atas ia baca dengan cukup saksama tapi begitu tidak mendapatkan apa pun, ia langsung membuka halaman selanjutnya. Halaman demi halaman hanya ia buka secara cepat tanpa benar-benar membaca isinya—hanya inspeksi awal untuk mendapat sedikit gambaran. "Bagaimana caramu mendapatkan buku ini?"
Shikamaru tidak langsung menjawab. Selain memikirkan cara singkat untuk menjelaskan, sedikitnya dalam diri pemuda itu timbul perasaan ingin memberontak. Ino senang bermain rahasia, bukan? Kenapa dia tidak boleh?
"Shika~?" tanya Ino sambil menolehkan kepalanya sekali ini. "Bagaimana caramu mendapatkan buku ini?" ulang Ino seolah Shikamaru tidak mendengarkan pertanyaan itu tadi.
"Menurutmu?" jawab Shikamaru dengan menggunakan frasa pertanyaan.
Alis Ino pun mengernyit. Ia kemudian menggelengkan kepalanya sementara tawa kecil ia biarkan lepas. "Apa ini bentuk balas dendammu?"
"Balas dendam apa?" ujar Shikamaru lagi tak acuh.
"For every minute you remain angry, you give up sixty seconds of peace of mind [3]," goda Ino masih dengan senyum yang terpampang.
Shikamaru masih tidak memberikan respons yang diharapkan. Pemuda itu bahkan berjalan begitu saja seolah ia memang hanya tengah berjalan seorang sendiri.
"Hei, aku janji pasti akan menceritakan semuanya, okay?" Dengan senyum yang sudah hilang, Ino melipat tangannya di depan dada dan melangkah besar-besar untuk kembali menyesuaikan dengan posisi Shikamaru.
Gadis itu menyadari bahwa tentu Shikamaru tidak ingin terlibat dalam hal-hal yang tidak ia mengerti. Karena itu, begitu Shikamaru memandangnya sinis, Ino tahu bahwa ia tidak bisa memaksa pemuda itu buka mulut sebelum ia sendiri membeberkan setiap rahasia yang ada. Ia pun menghela napas.
"Ayo kembali ke apartemen sekarang. Kita bisa membicarakannya sambil mencari tahu apa yang ada dalam buku ini."
o-o-o-o-o
"Jadi, siapa anak tadi?" ujar suara dari seberang telepon. "Dan apa yang kauberikan padanya?"
Asuma mengembuskan asap rokok dari mulutnya sebelum ia menjawab. "Mahasiswa. Dia ingin bertanya soal ekstraterrestrial."
"Buku yang kauberikan…."
"Kenapa?" tanya Asuma sambil beranjak ke arah jendela. Ia menyibakkan tirai hingga kini ia bisa melihat ke arah hamparan hijau rumput yang ada di bawah.
"Buku apa itu?"
Pria berjanggut itu memutar bola matanya sesaat. "Tentang ekstraterrestrial, apa lagi?"
Rekan bicaranya terdiam dan saat itu dimanfaatkan Asuma untuk mengisap kembali rokoknya. Sekali ini, Asuma juga membuka jendela dan membiarkan udara luar bergulir masuk ke dalam ruangannya. Asap yang diembuskannya kemudian melayang-layang ke langit atas.
"Kautahu, bukan? Posisi kita saat ini membuat kita harus mencurigai siapa pun," ujar suara dari seberang telepon itu lagi.
"Tentu. Kau bahkan tidak punya kepercayaan sedikit pun padaku." Asuma menjawab dengan santai.
"Ya. Aku tidak percaya padamu."
Asuma mendengus sinis. "Kau benar-benar jujur, eh, Fugaku?"
"Sebaiknya kau tidak bertingkah macam-macam hanya karena kau mendapat keistimewaan sebagai pengawas proyek."
"Aku tahu, aku tahu," jawab Asuma sedikit gusar. "Sudahlah, aku akan kembali ke ruang penelitian agar membuatmu tenang."
"Core itu belum juga kautemukan, huh? Sudah berapa tahun waktu berlalu—"
"Kau tidak usah mengingatkan. Aku yang paling tahu soal itu. Sudahlah, sebaiknya kauurus urusanmu yang lain dan biarkan aku melakukan tugasku."
Piiip.
Tanpa menunggu jawaban dari lawan bicaranya, Asuma langsung mematikan sambungan telepon. Ia mengisap rokoknya kembali dan mengembuskannya kemudian. Selama beberapa saat, ia hanya berdiri termenung di dekat jendela. Saat rokoknya semakin memendek, barulah Asuma bergerak ke arah meja untuk mematikan puntung rokok.
Ia kemudian beranjak ke arah lemari buku dengan lima sekat vertikal, menarik keluar tiga buah buku dari rak paling atas, rak kedua, dan rak keempat. Di masing-masing tempat kosong yang semual ditempati oleh buku, Asuma menyodorkan ibu jarinya. Lalu … sedikit getaran dirasakan oleh pria tersebut.
Lemari besar tersebut bergeser ke samping hingga menunjukkan sebuah lubang sempit yang kira-kira hanya cukup dimasuki oleh tiga orang. Lubang tersebut memiliki kedalaman yang berbeda dengan tempatnya berdiri sekarang. Asuma pun menunggu hingga sebuah benda berhenti tepat di depannya—semacam lift dengan kaca yang transparan.
Asuma menunggu sebentar lagi hingga pintu lift tersebut terbuka dan ia pun menjejakkan kaki ke dalamnya. Setelah memencet satu tombol yang ada di dalam lift, lift pun bergerak ke bawah dan lemari buku kembali menutupi lubang rahasia tersebut.
Lift sempat berhenti sebentar saat sebuah cahaya terang terlihat mata Asuma. Rekannya yang lain baru saja membuka pintu menuju lubang rahasia dan kini telah berdiri berdampingan bersama Asuma di dalam lift yang kembali bergerak ke dasar.
"Untunglah aku tidak perlu menunggu terlalu lama sampai lift datang," ujar seorang pria berambut keperakan sambil tersenyum pada Asuma.
Asuma tidak begitu menanggapi. Pikirannya sedikit melayang ke saat-saat ia dan pemuda bernama Nara Shikamaru tadi tengah bertukar kata. Nama pria di sampingnya sempat keluar dari mulut si pemuda Nara.
"Kakashi," ujar Asuma berhati-hati, "siapa pemuda yang kaukirim padaku tadi?"
Pria yang dipanggil Kakashi tidak langsung merespons. "Ah, dia anak yang akan mengikuti ujian kenaikan tingkat. Dia terlalu jenius untuk ditempatkan di semester awal dan itu mengganggu jalannya perkuliahan. Beberapa dosen sudah mengeluhkan sikapnya yang selalu tidur di kelas. Karena itulah, pihak fakultas memberikan dispensasi bagi anak itu untuk mengambil mata kuliah tingkat atas dengan syarat dia lulus ujian."
"Anak itukah…?"
Kakashi mengangguk kecil sebelum menambahkan, "Kau tentu sudah mendengar kabar burung tentangnya."
"Tapi aku memang tidak terlalu memerhatikan," aku Asuma sambil tertawa kecil dan menggaruk kepala belakangnya. Lagi, Kakashi mengangguk, dan tidak lama setelah itu, lift berhenti. Pintunya yang terbuka memberikan akses bagi Asuma dan Kakashi untuk keluar. Di hadapan mereka terdapat lorong pendek sebelum mereka mendapati sebuah pintu logam yang terlihat kokoh.
Kedua pria tersebut berjalan dalam langkah yang santai sebelum gumaman Asuma kembali terdengar. "Lalu … kenapa kau mengirimkan pemuda itu padaku?"
Kakashi membiarkan sensor yang ada di dekat pintu menyinari retinanya terlebih dahulu hingga tulisan di layar kecil di dekat sensor memperlihatkan kata-kata 'ID recognized' dan pintu logam itu pun terbuka. Keduanya kemudian melangkah masuk ke dalam ruangan yang hanya dijaga oleh dua orang yang mengenakan jas putih khas laboratorium. Setelah mengangguk pada dua orang yang tengah menjalankan tugasnya itu, barulah Kakashi berkonsentrasi kembali pada pertanyaan Asuma.
"Dia menanyakan seseorang yang bisa kurekomendasikan untuk berdiskusi mengenai extraterrestrial. Dan siapa pun tahu, kau adalah salah satu dari sekian pakar extraterrestrial yang dapat dipercaya," jawab Kakashi dengan suara pelan agar tidak menyebabkan gangguan yang tidak diperlukan.
"Dia menanyakan soal extraterrestrial?" ulang Asuma seolah ia ingin memastikan bahwa otaknya tidak salah mencerna perkataan Kakashi. "Secara spesifik?"
Kakashi mengangguk. "Secara spesifik. Padahal ujian kenaikan tingkat yang akan ia hadapi tidak semata-mata soal extraterrestrial. Pada dasarnya, kurikulum extraterrestrial di fakultas kita memang sengaja dibuat tidak menonjol, bukan? Bahkan pendalaman extraterrestrial dijadikan kapita selekta sebagai mata kuliah tidak wajib. Dengan jalan itu, kita bisa langsung melihat potensi-potensi yang tertarik pada extraterrestrial untuk kemudian dilakukan penilaian…."
"Berbahaya atau bisa digunakan," gumam Asuma kemudian. "Menangkapnya untuk kemudian memanfaatkannya atau membiarkannya lepas tanpa menjadi apa-apa."
Kakashi masih terlihat tenang, tapi mendadak ia mengeluarkan sebuah buku dan sedikit menempelkannya ke depan mulut. Dengan suara samar, Kakashi pun berkata, "Para ilmuwan ini, menyeleksi mahasiswa yang ada seakan mereka adalah Tuhan yang menentukan nasib manusia, eh?"
Asuma terdiam beberapa saat sebelum menyetujui pernyataan Kakashi. "Kau benar. Science has made us gods even before we are worthy of being men [4]." Asuma menghela napas panjang.
Matanya kemudian menerawang jauh—jauh ke masa lalu. Sosoknya yang lebih muda tertawa bahagia bersama seorang gadis bermata merah. Gadis cantik yang senantiasa memberikan kehangatan dalam tiap pelukannya. Gadis cantik yang setia memberikan senyum hangat dan melontarkan kata-kata 'itterasshai' tiap kali kakinya menjejak rumah mungil yang tidak jauh dari bukit.
Memikirkan hal itu membuat Asuma merasakan gejolak tak tertahankan untuk merasa muak … pada dirinya sendiri. Tangannya pun mengepal dan giginya bergemeretak. Tentu saja Kakashi tidak luput melihat pemandangan ini.
"Padahal," Asuma tiba-tiba memulai dan Kakashi pun memusatkan netranya bukan lagi pada kepalan tangan Asuma, melainkan pada wajah pria berjanggut tersebut, "kita tidak lebih … dari makhluk barbar yang bisa mengkhianati kepercayaan orang karena keserakahan. Dengan dalih kepentingan manusia banyak, apa pun yang kita lakukan secara diam-diam ini … akan dibenarkan."
Kakashi terkekeh kecil di balik masker. "Sudah terlambat untuk mundur, bukan?"
Asuma mengangguk. "Tapi belum terlambat untuk menghentikan!"
o-o-o-o-o
Mata kecokelatan milik pemuda berambut model nanas itu terbelalak. Mulutnya terkatup rapat, seakan tidak sanggup memuntahkan satu ungkapan verbal pun. Sang gadis yang baru saja selesai bercerita langsung mengembalikan arah pandangnya ke buku yang tengah ia baca. Gadis itu bahkan tidak mau repot-repot menanyakan keheranan Shikamaru.
"Kau … bercanda, 'kan? Aku tidak mungkin…."
Ino mengangkat bahu—tampak tak acuh. Meski demikian, bibirnya membentuk seringai. "Aku memang belum mendengar sendiri dari mulutnya, tapi aku bisa merasakan," jawab Ino dengan mata biru aquamarine yang masih meneliti kata demi kata yang tertera dalam buku bersampul hitam. Tulisan 'Hakarishirenai Hodo no Space'—Immeasurable Space tercetak besar di depannya. "Tsk. Ini hanya buku tentang luar angkasa biasa?"
Shikamaru masih merenung. Tangannya kini menyangga dagunya. Tidak pernah ia ingin berpikir sekeras ini. Namun, kenyataan yang baru saja disodorkan padanya membuat Shikamaru tidak bisa menganggap semua ini hanya sekadar lelucon.
"Kau tidak sedang berusaha menipuku, 'kan?" tanya Shikamaru akhirnya pada Ino yang tengah duduk berseberangan darinya. Posisi mereka kini hanya dipisahkan oleh sebuah meja bundar pendek.
Ino mengangkat kepala. Matanya menghujam langsung seakan berusaha mencari refleksi dirinya sendiri dalam beningnya mata sipit Shikamaru. "Apa aku terlihat sedang berusaha melontarkan lelucon yang akan kuakhiri dengan kata-kata, 'Aku hanya bercanda!'?"
"Karena itu tidak mungkin! Bagaimana mungkin tousan dan kaasan-ku tidak menyadari saat dia…."
"Kau tidak tahu apa-apa saja yang mungkin kami lakukan," ujar Ino sebelum ia kemudian menghela napas. "Untuk sementara, berhentilah bertanya dan bantu aku."
Decakan terdengar dari arah Shikamaru. "Bukankah intelegensi kaummu lebih tinggi dibanding kami?" Nada tidak percaya sekaligus sedikit meremehkan terdengar dari arah Shikamaru. Sungguh, tidak biasanya ia bersikap seperti ini. Rasanya ada sesuatu yang salah, tapi Shikamaru tengah tidak dapat menutupi emosinya.
"Saat melihat yang ganjil, kembalilah ke awal," imbuh Shikamaru sembari menjatuhkan wajah ke telapak tangan yang sudah menengadah. Entah apa yang telah mendorongnya mengatakan hal tersebut, tapi kata-kata itu selalu terngiang di benaknya semenjak ia melihat Ino tidak mendapatkan apa-apa dari buku yang sedang ditekuninya.
Sesaat Ino terdiam mendengar petunjuk dari Shikamaru. Namun tak lama, Shikamaru bisa melihat gerakan tangan gadis itu yang kembali membuka halaman awal buku. Ino kemudian terdiam beberapa saat di halaman pertama sebelum berlanjut ke halaman kedua yang masih sambungan pengantar dari halaman pertama. Demikian ia terdiam beberapa saat sebelum melanjutkan ke halaman berikut dan berikutnya lagi.
"Tidak hanya itu. Sesekali, kembalilah ke awal," sambung Ino sambil membalik lagi bukunya ke halaman pertama. Sebuah cengiran ditunjukkan gadis itu. "Apa dengan cara itu juga kalian berkomunikasi tadi?"
Shikamaru mendelik. "Yah, hanya suku kata awal dari tiap kalimatnya. Apa cara itu yang…?"
Shikamaru sengaja menggantungkan kalimatnya. Untuk menjawab pertanyaan Shikamaru, Ino kembali melihat ke arah Shikamaru dan tersenyum manis.
"Pertama, soal intelegensi, itu relatif, Shika. Kaummu, kaumku, sama saja. Untuk masalah transportasi dan segalanya, sama seperti kaummu, di kaumku pun ada 'otak' yang lebih dibanding yang lain. Mungkin dulu makhluk-makhluk di luar kaummu tergambar lebih dibanding kaummu sendiri, tapi sekarang…," ujar Ino menjawab pertanyaan Shikamaru yang tertangguhkan sebelumnya, "jika kami begitu superior secara merata, aku tidak akan kerepotan menemukan cara untuk dapat merebutnya kembali. Tapi, ya … aku sudah menemukan kunci untuk membaca buku ini—berkatmu. Selanjutnya tidak akan butuh waktu lama."
"Membaca hanya suku kata pertama tiap kalimat?" celetuk Shikamaru sambil melihat ke buku yang terbuka lebar di atas meja. Jemari Ino kemudian menunjuk-nunjuk ke beberapa kata sebelum sang gadis memberikan responsnya.
"Tidak, bahkan lebih sederhana daripada itu," ujar Ino menambahkan, "halaman pertama yang diawali judul besar berbunyi forewords dalam bahasa Inggris adalah kata kunci selanjutnya." Mendengar perkataan Ino yang belum selesai, Shikamaru langsung mengerutkan alisnya. Sambil membalikkan halaman buku ke halaman ketiga, jemari Ino kembali menunjuk.
"Setelah empat kata dari empat kalimat, kata kelima akan menghancurkan kombinasi yang sudah tersusun. Misalnya saja, empat kata yang terbentuk dari empat kalimat di halaman ketiga ini adalah: 'Cerita ini dimulai dari'. Namun, kata yang didapat dari awal kalimat kelima adalah 'kemudian' dan itu membuat kalimatnya menjadi: 'Cerita ini dimulai dari kemudian'. Tidak berhubungan, bukan? Bahkan terkesan aneh."
Shikamaru mengangguk. Belum sampai Ino menjelaskan lebih lanjut, Shikamaru langsung melontarkan praduganya, "Forewords, jika dibaca selintas bisa terdengar seperti four words. Jadi setelah empat kata, kau harus kembali ke halaman forewords untuk kemudian mengganti kata kelima dengan tiap-tiap kata yang ada di halaman forewords?"
"Tepat!" Senyum Ino terkembang lebar. "Lihat, kata pertama di halaman forewords ini adalah 'saat'. Kalau digabungkan dengan yang tadi…."
"Cerita ini dimulai dari saat…," Shikamaru melanjutkan kalimat Ino—perasaan tertarik dan keingintahuan mulai menggugahnya.
"… Saat aku bertemu dengan seorang … perempuan." Ino berhenti sampai di sana. Mendadak keduanya pun bertukar pandang. "Mungkin ini tidak akan memakan waktu cukup lama."
Shikamaru menyeringai sinis. "Yah, kurang dari lima puluh halaman dengan beberapa kalimat untuk tiap-tiap halamannya."
"Kita akan menyelesaikannya malam ini! Shika, kertas dan bolpoin! Kau harus mencatat kata-kata yang akan kubacakan!"
Protes sudah hendak dilayangkan Shikamaru sebelum mendadak Ino tersenyum dengan cara yang membuat Shikamaru yakin bahwa itu bukanlah senyum pertanda baik. Ancaman—terlihat bahwa gadis itu akan melakukan apa pun untuk membuat Shikamaru melakukan hal yang diperintahkannya. Dan Shikamaru tidak salah. Satu pertanyaan dari gadis itu—
"Bukankah kau sangat ingin tahu … apa yang sebenarnya sedang terjadi?"
—membuatnya kemudian beranjak untuk mengambil kertas dan bolpoin sebagaimana yang diperintahkan.
***to be continued***
A/N :
[1] Grey adalah tipe alien yang paling umum dilaporkan. Tingginya diperkirakan tepat di bawah 1,2 meter dengan ciri tangan dan kaki panjang, kurus, badan ramping serta berkepala bulat besar. Kepalanya gundul dan sering kali tanpa telinga dan tanpa hidung, mulutnya kecil, dan bagian matanyalah yang tampak paling menonjol. Kulitnya digambarkan berwarna hitam pekat dan berbentuk almon (terkadang dikatakan abu-abu). Tingkah laku Grey secara umum tidak bersahabat, tertarik pada tumbuhan dan hewan serta manusia.(sumber: Perjumpaan dengan Alien, Rupert Matthews, hlm 109-110)
[2] Nordik adalah tipe alien yang dinamai demikian karena mereka cenderung menyerupai manusia dan hampir selalu cukup tinggi dengan rambut pirang panjang dan mata biru, mirip dengan gambaran orang Skandinavia. Mereka biasanya terlihat mengenakan terusan, pakaian ketat yang digambarkan seperti pakaian ski atau jaket kulit pengendara motor. Nordik secara umum dilaporkan berperilaku menyendiri atau tidak acuh, tapi ada juga beberapa laporan yang menyatakan bahwa Nordik tampak bersahabat. Laporan mengenai Nordik memuncak antara tahun 1950-1960 dan menurun di tahun 1970 sampai laporannya tidak banyak lagi. (sumber: Perjumpaan dengan Alien, Rupert Matthews, hlm 107)
[3] Quotes by Ralph Waldo Emerson: For every minute you remain angry, you give up sixty seconds of peace of mind.
[4] Quotes by Jean Rostand : Science has made us gods even before we are worthy of being men.
Udah sampai sini, lho~ misterinya udah makin kebongkar, 'kan? Dan kayaknya fanfict ini nggak lama lagi akan mencapai ending. *amin* X"D
Ngomong-ngomong, ada yang nggak ngerti arti percakapan Asuma dan Shikamaru? Kalau pada nggak ngerti, di next chapter saya kasih tahu arti percakapan Asuma dan Shikamaru. Tapi kayaknya reader-tachi mah pasti pada ngerti, ya? *keabisan ide bikin kode soalnya, jadi cuma dapat yang sederhana aja* X"Da
Saa, balesin review non-login dulu. Yang review login aku bales via PM yak~ :""3
Reiya Hakami: iya, masih lanjut dong. Tenang, nggak bakal discontinue. Malah mau ditamatin :""3 Thanks masih ngikutin. Ah, untunglah kalau kamu ngerasa tulisanku bagus (padahal ini ketikan, kok, bukan tulisan tangan~ /plak) X"D
ulva-chan: ihihihi, udah ketebak, ya? /jelas banget padahal XD aww, makasih dibilang awesome~ #hug sip, ini udah di-update. :"3
Kyra Kazuya: hahaha, maaf yah bikin kamu pusing. Saya aja yang nulisnya juga pusing~ *digebukin berjamaah* X"D
Diane Ungu: aaa … maaf nggak bisa update kilat. Tapi tenang, nggak bakal discontinue, kok? Ini udah update~ silakan! X"D
Yooossh~! Buat semua yang udah review, terima kasih banyak saya ucapkan. Next, terima kasih juga saya ucapkan buat semua yang udah baca (silent reader sekalipun), yang udah nge-alert, bahkan nge-fave fic ini. Doumo arigatou gozaimasu! Maaf kalau chapter ini kurang memuaskan. X""Da
Terlepas dari semua kekurangan fanfic ini, langsung aja beritahukan kesan, pesan, saran, kritikan minna-san tentang fic ini. Arigatou sebelumnya~
I'll be waiting.
Regards,
Sukie 'Suu' Foxie
~Thanks for reading~
