Wajah pemuda itu pucat. Dua hal yang menjadi alasannya. Satu adalah karena ia sama sekali tidak tidur demi menyelesaikan pemecahan kode dari buku yang baru ia dapat kemarin. Kedua, praduga yang ditimbulkan oleh hasil pemecahan kode itu membuat benaknya dipaksa berputar cepat.

"Inikah yang kaumaksud …?"

Yamanaka Ino membaca ulang tulisan yang sudah dibuat Shikamaru. Sudut bibirnya terangkat sebelah dan matanya menyipit. Kesinisan yang menyaru dengan kepuasaan tergambar jelas di wajahnya. "Sesuai dugaan." Kepalanya kemudian terangkat ke arah Shikamaru. "Kalau begitu …."

Shikamaru berkedik saat ia melihat tatapan yang diarahkan Ino padanya. Gadis itu tampak begitu serius. Namun, sesuatu dalam keseriusan itu membuat Shikamaru merasa berdebar. Shikamaru merasa takut. Itu tidak ingin disangkal—terlalu merepotkan untuk berpura-pura tidak terpengaruh oleh kekuatan yang terasa mendesak tersebut. Di sisi lain, Shikamaru merasa berdebar karena tak lama lagi, ia akan menginjak belahan dunia lain yang selama ini hanya ada di sebatas kepercayaannya.

"Apa yang mau kaulakukan?" tanya Shikamaru setelah sebelumnya ia menelan ludah.

Ino kini sudah berdiri dari posisinya. Tangannya tampak menggenggam sesuatu.

"Melihat," jawab Ino tenang dan wajar.

Lalu, dengan kecepatan yang tak sanggup diantisipasi Shikamaru, darah pun memuncrat keluar.


EXTRATERRESTRIAL

Disclaimer : I do not own Naruto. Naruto © Masashi Kishimoto

No commercial advantages is gained by making this fanfic.

CHAPTER 6. Explanation

This chapter is specially dedicated to

Rere Aozora

who has her birthday on August 30th.

sorry for being soooo sluggish on updating this chapter.


"Kurenai...," bisik pria berjanggut itu pada sang sosok berambut hitam dengan kulit seputih susu yang ada di dalam sebuah tabung. Dengan ibu jarinya, Sarutobi Asuma kemudian menekan sebuah tombol dan selubung atas tabung tersebut terbuka.

Dibukanya sarung tangan miliknya sebelum ia meraih tangan tak bergerak milik sang wanita. Dielusnya punggung tangan wanita tersebut dengan ibu jarinya. Matanya pun memejam saat ia mendekatkan tangan ramping tersebut ke pipinya.

"Kurasa karena inilah kau tidak juga bisa segera menemukan core yang kita cari," ungkap sebuah suara yang entah sejak kapan ada di sana. Asuma tidak terkejut dan ia langsung menoleh. Didapatinya wajah keras seorang Uchiha Fugaku yang tampak tidak puas dengan keadaan saat ini. "Kau terlalu menggunakan perasaanmu!"

Perlahan Asuma meletakkan kembali tangan Kurenai dan menutup selubung tabungnya. Sambil menggenggam sarung tangan yang tidak sempat ia kenakan kembali, Asuma memilih untuk mengabaikan ucapan Fugaku dan mengambil tempat di depan sebuah komputer.

"Percuma kau berlagak serius sekarang, Asuma," ujar Fugaku seraya mendekat pada tabung tempat Kurenai berada. "Core itu sudah dipastikan tidak ada di sini," tegas Fugaku akhirnya dengan tangan yang menempel pada kaca yang menjadi selubung tabung tempat Kurenai terbaring. "Kau sengaja tidak menjadikan fakta ini sebagai suatu kepastian dan berlama-lama meneliti yang sudah pasti tidak ada…. Apa tujuanmu?"

"Aku tidak mengerti maksudmu," jawab Asuma sambil mengetikkan sesuatu di komputernya. Begitu Asuma mengatakan hal tersebut, sebuah benda terasa menekan kepalanya. "… Kau mau membunuhku sekarang?"

"Kecuali kau masih bisa menunjukkan kegunaanmu." Fugaku semakin menekan senjata api yang tengah ia pegang ke kepala Asuma. "Tapi kurasa, sudah tidak ada yang bisa kaulakukan, 'kan?"

Asuma tampak tenang. Ia terus mengetik seakan tidak ada seorang pun yang tengah mengancamnya dengan senjata api. Namun, tanpa sepengetahuan Fugaku, Asuma sudah menyunggingkan sebuah senyum sedih. Jika memang ini adalah akhirnya, ia tidak akan membiarkan dirinya mati sia-sia.

Pria berjanggut itu sudah akan berbalik untuk melawan Fugaku saat alarm singkat menyentak keduanya. Fugaku memandang ke arah langit-langit sementara Asuma hanya bisa melirik pimpinannya tersebut secara diam-diam.

"Ini …."

Fugaku sudah menurunkan pistolnya dari kepala Asuma saat pintu menuju ke tempat mereka berada terbuka dan menunjukkan seorang pemuda berkacamata yang tampak terburu-buru datang. Alarm yang membuat keributan itu sudah berhenti bergaung sekarang.

"Radar kita menangkap adanya sinyal dari UFO!" ujar pemuda itu cepat. "Namun tak lama, sinyalnya menghilang. Seolah mereka tahu bahwa ada yang dapat merekam jejak mereka dan mereka sengaja menyembunyikannya!"

Tanpa berbicara, Fugaku menoleh ke arah sang wanita yang masih tetap bergeming—tidak sedikit pun membuka mata ataupun menunjukkan pergerakan—meski sudah mendengar alarm seribut sebelumnya. Pria berambut gelap tersebut kemudian menoleh kembali pada bawahannya yang baru saja memberi informasi dan dengan suara rendah yang berwibawa, ia pun melontarkan pertanyaan,

"Di mana Kakashi?"

"Beliau sudah ada di tempatnya. Mencoba mengaktifkan setiap radar yang ada agar dapat memunculkan kembali reaksi pergesekan dengan elektromagnet sebagai salah satu cara untuk mengidentifikasi UFO!" Pemuda ini memperbaiki posisi kacamatanya sementara memberi penjelasan.

Fugaku tidak lagi menanggapi. Ia hanya berjalan mendekat ke pemuda berkacamata dan berambut keperakan itu. Namun, belum melewati batas pintu, Fugaku berhenti untuk sekadar memberi peringatan, "Kau beruntung. Dewa Kematian belum ingin melihatmu dalam list-nya. Kau akan segera mendapat bahan baru untuk diteliti."

Asuma berdecak pelan. Begitu pintu di hadapannya itu menutup dan menghilangkan sosok Fugaku, dengan geram, Asuma langsung menggebrak panel di sebelahnya.

"Dia tidak tahu saja … mungkin …." Asuma terdiam. Ekspresinya melunak begitu matanya kembali memandang ke arah subjek penelitiannya. Jantungnya bergemuruh—firasat buruk menyerangnya. Meskipun demikian, satu gelengan dilakukan dan seulas senyum ditunjukkan.

"Mungkin ini yang terbaik."

o-o-o-o-o

Shikamaru terbelalak begitu melihat darah memancar keluar dari lengan kirinya yang ditebas Ino menggunakan pisau cutter. Refleks, tangan kanannya berusaha menutup jalur darah—hanya dengan telapak tangan yang bebas. Wajahnya semakin memucat. Ia pun kemudian menyambar tissue sebelum memberikan tatapan amarah dan gertakan gigi ke arah Ino.

"Apa yang kau—"

Ino berdiri tenang. Pisau cutter di genggamannya masih menyisakan tetes-tetes darah. Darah Shikamaru. Dan tak lama, seringainya muncul—diiringi keterkejutan lain di wajah Shikamaru.

Pemuda berambut model nanas itu langsung menoleh begitu rasa perih yang menderanya berkurang drastis. Lebih-lebih membuat heran, darah yang semula mengalir deras itu perlahan lenyap. Bersamaan dengan itu, lenyap pula luka di lengan Shikamaru. Tidak secepat itu, tapi benar-benar menghilang.

Selama ini, Shikamaru memang jarang melakukan aktivitas yang membuatnya harus terluka. Mungkin pernah, satu-dua kali di masa kecilnya. Namun, ia tidak ingat jika sistem regenerasi tubuhnya ternyata secepat ini.

Ino menghela napas dan membuang cutter-nya ke atas meja. Tanpa tedeng aling-aling, ia berkata puas.

"Core Kurenai memang ada padamu."

Shikamaru menoleh cepat. Sementara Ino tampak hendak mengabaikan tatapan penuh tanya Shikamaru. Kesabaran Shikamaru benar-benar diuji. Perempuan di hadapannya ini, nyaris membuatnya meledak.

Shikamaru mungkin penggemar misteri, Shikamaru mungkin menikmati tiap-tiap rasa penasaran yang mendera, tapi ia tetap membutuhkan penjelasan. Apa pun. Yang bisa memuaskan rasa ingin tahu dan logikanya.

Ino kemudian mengambil notebook kecilnya dan memperlihatkannya kepada Shikamaru. Ia menunjuk ke satu gambar yang bagi Shikamaru tampak seperti perbesaran suatu sel. Sebelah alis mata Ino terangkat.

"Kau tahu gambar apa ini?"

Mata Shikamaru menyipit untuk meneliti gambar di hadapannya. Tak butruh waktu lama baginya untuk mengetahui gambar apa yang Ino tunjukkan padanya.

"Perbesaran dari gambaran umum sel manu—bukan." Shikamaru mengangkat wajahnya dan menatap Ino dengan perasaan kaget, takjub, tak percaya. "Sel manusia … tidak mempunyai dua nucleus."

Ino menyeringai. "Oh, cukup jeli juga." katanya. Ia kemudian menekan satu tombol dan memperlihatkan gambaran lain. Benda itu berbentuk seperti permen cinnamon—gambaran umum dari keping sel darah merah. Tapi itu bukan sel darah merah karena jelas, warnanya tidak merah melainkan keemasan. "Kau tahu apa ini?"

Shikamaru mengernyitkan alisnya. Ia tidak yakin, tapi ia bisa menduga. "… Core?"

Ino menutup laptopnya dan mengangguk. "Itu core yang dimiliki Averian—bangsa kami."

Refleks, Shikamaru memijit pangkal hidungnya. Matanya terpejam. "Dan kau bilang core bangsamu, ada padaku? Core Kurenai? Kau bahkan belum menjelaskan siapa itu Kurenai. Rasanya … arggh!"

Mendengar keluhan Shikamaru, Ino justru terkikik geli. "Wajar saja kalau kau sekarang pusing setengah mati. Tapi kau akan percaya padaku, bukan?"

Shikamaru membiarkan matanya melirik ke arah Ino.

"Tolong," ujarnya lelah, "jangan membuatku bertanya-tanya lebih dari ini. Sangat—"

"—Merepotkan, ya?" Ino kembali terkekeh.

Ia kemudian menarik sebuah kursi dan duduk di atasnya. Gestur tangannya mempersilakan Shikamaru untuk duduk di atas kasurnya. Shikamaru yang seolah sudah kehabisan semua energinya, menyambut tawaran Ino untuk duduk. Kalau bisa, ia malah ingin merebahkan tubuh. Sayang, ini bukan kamarnya sendiri. Ia harus menahan diri. Lagi.

"Baik, akan kujadikan semua ini sederhana. Singkatnya, core adalah pengendali nucleus tambahan yang kaulihat tadi. Benda berwarna keemasan yang kaulihat tadi adalah sel pembentuk core. Core sendiri berbentuk fleksibel.

"Dalam keadaan biasa, core akan berbentuk padat dan menempel di jantung. Tapi, penelitian kami berhasil menemukan fakta bahwa pada dasarnya core bisa berubah bentuk—menjadi cairan seperti darah—dan bisa berpindah-pindah sebagaimana otak memerintahkan.

"Tapi satu yang pasti, core harus selalu dialiri darah. Jika ia dikeluarkan secara paksa dan tidak dikenai darah, maka core akan membusuk dan mati lebih cepat dari seharusnya." Ino memandang Shikamaru lekat-lekat. "Sampai sini, kurasa cukup jelas?"

Satu anggukan. Anggukan lain sebagai jawaban.

"Core, seperti yang sebelumnya kukatakan, mengendalikan nucleus tambahan yang ada dalam sel-sel tubuh kami. Ia mengaktifkan sel-sel nucleus tersebut—sebagai sumber energi. Layaknya matahari terhadap makhluk hidup. Karena bersifat seperti energi, core mengeluarkan sinyal lemah yang dapat ditangkap indra Averian lainnya apabila Averian tersebut cukup berkonsentrasi

"Lalu, tanpa core ini, nucelus tambahan tersebut akan padam. Dan matinya salah satu nucleus, akan menyebabkan nucleus lain pun berhenti berfungsi.

"Tidak langsung memang, akan ada jeda sebelum Averian masuk ke dalam mode hibernation—tidur panjangnya—jika core direnggut kekuar dari tubuh mereka. Kalau mau mudah, anggap saja Averian memiliki 3 tahap kesadaran: Hidup, Hibernasi, Hilang.

"Dalam fase hidup, Averian seperti manusia biasanya. Hanya saja, dengan tambahan core dan nucleus ganda, mereka jadi bisa melakukan hal-hal yang tidak bisa manusia biasa lakukan—"

"—Seperti penglihatan super dan kecepatan super?"

"Oh, kauingat kalau aku bisa melihat bintang dengan mata telanjang, ya?" Ino tampak senang. "Ya, memang semacam itulah. Satu lagi, kami mampu melakukan sedikit manipulasi."

"Manipulasi?"

"Apa warna kulitku?"

Shikamaru mengangkat bahu. "Seperti orang kebanyakan."

Ino mengangguk. Ia kemudian terdiam sebentar dan detik berikutnya, Shikamaru harus menahan napas. Warna kulit Ino berubah menjadi seputih susu. Berbeda dengan albino yang kehilangan pigmen warnanya. Warna kulit Ino benar-benar putih, seolah dicat.

"Kami memiliki kemampuan seperti ini. Anggap saja mengendalikan warna, dengan membelokkan atau memanjang-pendekkan cahaya yang masuk ke mata. Yah, sederhananya seperti mengatur hue dan saturation serta light pada sebuah gambar."

"Itu pun … karena core?"

Ino mengangguk. "Core luar biasa, bukan? Dan kalau kami kehilangan core—entah karena apa pun—kami akan masuk ke dalam fase hibernasi. Dalam fase hibernasi, Averian tampak seperti manusia biasa yang sedang tertidur." Ino memutar bola matanya ke atas.

"Tepatnya, seperti koma. Semua organ masih beraktivitas seperti biasa, tapi lemah dan akan makin melemah jika core tidak segera dikembalikan ke dalam tubuh. Dan dalam kurun waktu tertentu itu, jika core tidak dikembalikan, maka Averian itu …

"… masuk fase hilang. Fase hilang pada Averian bisa disebabkan oleh core yang membusuk dimakan waktu—sebagaimana sel-sel manusia yang akhirnya menua dan mati—juga karena rusaknya core secara tidak alami, serta karena ketiadaan core."

Tangan Shikamaru terangkat ke dagunya. "Bagaimana dengan penyakit? Apa Averian tidak memiliki penyakit mematikan?"

"Ada, Eacore. Penyakit yang mematikan karena menyebabkan core membusuk lebih cepat dari seharusnya. Karena virus. Dan yah … penyakit-penyakit kompilasi yang menyebabkan core harus bekerja keras untuk mengembalikan kondisi homeostasis equilibrium dapat melemahkan core dan membuatnya rusak. Karena bagaimanapun, core yang cuma satu, akan tetap mengalami kesulitan untuk melakukan regenerasi di beberapa organ sekaligus. Kau mengerti maksudku?"

"Jika diumpamakan," Shikamaru mencoba menyamakan pendapat, "seperti satu botol obat merah yang akan habis lebih cepat dari seharusnya jika seseorang terus-terusan terluka, 'kan?"

Ino melongo sejenak sebelum kemudian ia tersenyum. "Yah, bolehlah," ujarnya sambil memutar-mutar telunjuknya. "Begitu lebih mudah dibayangkan, ya?" Ino mengangguk-angguk. "Jadi, soal core ada lagi yang ingin kautanyakan?"

"Lalu, core dalam tubuhku …?"

Ino mengangguk-angguk dan menyentuh dagunya sendiri. Duduknya ia sandarkan pada sandaran bangku dan kaki yang satu ia tumpangkan pada kaki yang lain.

"Kurasa core tidak akan terlalu berpengaruh pada manusia."

"Tapi aku—"

"Kau kan istimewa," potong Ino cepat sambil menjulurkan lidahnya. "Dan karena keistimewaanmu itu, pendeteksi yang terpasang di fakultas itu pun tidak bekerja padamu. Kau terdeteksi sebagai manusia biasa. Keuntungan bagi kita."

Shikamaru sudah hendak membuka mulutnya. Tapi semua yang ingin ia ucapkan terpotong oleh suara ribut dari arah notebook Ino. Ino berjengit sebelum ia memutar tubuhnya dan membuka kembali notebook-nya.

"Apa itu?" tanya Shikamaru yang sudah terlonjak dari posisi duduknya. Alisnya mengernyit tajam.

"Ssssh!"

Ino kemudian menekan-nekan beberapa tombol sebelum layar notebook itu memunculkan wajah seorang pemuda. Dari posisinya berdiri, Shikamaru bisa sedikit melihat sosok pemuda itu. Rambut pemuda itu hitam dan warna kulitnya serupa dengan warna putih susu kulit Ino. Wajah pemuda itu menampilkan senyum dengan mata yang menyipit.

Bukan wajah yang menyenangkan, pikir Shikamaru.

"Ino—" Pemuda itu berhenti seketika. Matanya yang beriris gelap kini menatap ke arah Shikamaru. "Siapa?"

"Jangan khawatir. Dia di pihak kita."

Pemuda di layar itu belum mengatakan apa-apa. Ino menghela napas. Pemuda itu mana mungkin percaya hanya dengan sepatah kata 'Dia ada di pihak kita'. Ino paham dengan sifat waspada pemuda itu. Tidak mengherankan, sebagai salah satu elit di bidang pertahanan dan militer.

"Sai, dengar …."

"Tidak, kau yang harus mendengarku," potong pemuda yang dipanggil Sai tersebut. "Bersiap-siaplah. Kami akan segera menjemputmu dan Kurenai."

Ino mendelik. "Apa … maksudmu?"

Sai tersenyum. Licik dan sinis. Tubuh Ino menegang.

"APA-APAAN INI! KENAPA AKU SAMA SEKALI TIDAK DIBERI TAHU SEBELUMNYA?!" teriak Ino sambil berdiri dari tempat duduknya.

"Ini rencana Ketua Danzou."

"Sudah kukatakan, aku akan bisa mengatasinya dan tidak perlu sampai …." Ino menggertakkan gigi dan menelan ludahnya. Ia berusaha mengontrol emosinya dengan jalan mengatur napas. "Sejak kapan?"

"Sekitar tiga tahun yang lalu. Segera setelah kami berhasil menciptakan satu pesawat lagi."

Ino menggigit bibir bawahnya. Sai mengabaikan ekspresi tidak suka di wajah Ino. Ia justru menampilkan sebuah gambar. Pesawat besar dengan bentuk menyerupai kapal perang ukuran raksasa. Logam-logamnya terlihat berkilat dan desain kasarnya menunjukkan banyaknya ruang dalam pesawat tersebut. Juga … banyaknya senjata.

"Sai … ini …."

"Begitulah. Kami—atau tepatnya Danzou—tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Kau tidak menunjukkan perkembangan yang berarti sehingga jalan inilah yang akhirnya kami ambil."

"Tapi kau … selama tiga tahun ini … kau … memanipulasi penglihatanku?"

Sai tampak menengok ke belakang. "Kau melihatku seolah aku tidak beranjak dari ruang kerjaku di Auvbrelliax?"

"Kalian tidak memercayaiku!" ujar Ino setengah membentak.

Sai menggelengkan kepalanya. Ia kemudian mengintip ke arah Shikamaru yang tampak terpaku di tempatnya.

"Kau terlalu lama bermain-main, Ino."

"Kautahu kalau aku tidak bermain-main. Sebelas tahun ini bukan kuhabiskan tanpa melakukan apa pun. Kau tahu itu. Kau yang paling tahu."

Sai memberikan satu senyum sedih. "Maaf, tapi itu tidak memuaskan Danzou. Dan aku tidak bisa melakukan apa-apa." Sai menghela napas. "Masih ada waktu," ujarnya kemudian.

Ino menatap lekat ke arah mata Sai.

"Bergerak sekarang. Rebut Kurenai. Dan Danzou bisa kupaksa untuk menghentikan rencananya … memporakporandakan bumi."

Ino menelan ludah. Ia kemudian menoleh ke arah Shikamaru. Core Kurenai sudah ada di sini. Yang perlu ia lakukan hanyalah merebut kembali 'tubuh' Kurenai. Setelah itu, semua selesai tanpa perlu menimbulkan kehancuran di bumi.

Bumi … tempat Ino tinggal selama sebelas tahun ini. Tentu, seperti kata-katanya pada Sai tadi, Ino tidak sekadar bermain-main di bumi. Ia mencari Kurenai, ia memperbaiki UFO-nya yang sempat rusak akibat konfrontasi dengan pihak lembaga, ia pun sekaligus melakukan penelitian di bumi, terutama mengenai flora dan fauna yang tidak ditemukan di planet asalnya nun jauh di sana—planet asalnya yang jauhnya jutaan bintang dari bumi. Di galaksi yang pula berbeda.

Sebetulnya, itulah tujuan Kurenai dikirim ke bumi pertama kalinya. Meneliti. Meneliti organisme-organisme yang ada di bumi.

Dan meski Ino belum bertemu Kurenai, entah mengapa Ino tahu pasti bahwa Kurenai pun sama seperti dirinya. Mereka berdua—Averian—terlarut dalam pesona yang ditampilkan sang bintang di Galaksi Bimasakti ini. Bumi ini begitu luas, begitu beragam, membuat Auvbrelliax—tempat asal Kurenai dan Ino—jadi terasa begitu kecil. Pun, keberadaan banyak flora, fauna, serta kebudayaan-kebudayaan yang asing bagi mereka telah menarik perhatian kedua Averian tersebut.

Mungkin terkesan konyol, tapi di hari-harinya melakukan penelitian, Ino sempat berpikir bahwa dirinya sama seperti manusia yang lain. Ia adalah manusia, bukan Averian. Ia adalah manusia yang akan menjalankan aktivitas biasa sebagaimana manusia lainnya. Tidak ada cerita tentang lembaga, tidak ada cerita tentang mencari core Kurenai. Ia menikmati hidupnya dikelilingi penelitian-penelitian yang membuatnya dapat tersenyum senang.

Itulah kelengahan Ino yang membuat sang gadis lalai dalam tugas dan prioritas utamanya. Karena itulah, berkali-kali Ino tertampar mimpi buruk mengenai kehancuran bumi akibat serangan Averian. Dan itu disebabkan karena kelambanannya menyelesaikan masalah.

Dan kini, mimpi buruknya mendekati kenyataan.

Bumi terancam bahaya.

Bumi yang sudah merebut hati Ino terancam bahaya.

Seolah mendengar suara Kurenai dalam kepalanya, bergaung, memintanya melakukan apa pun untuk menghentikan penyerangan tersebut. Bumi tidak boleh hancur karena ulah Averian. Bumi terlalu indah, terlalu berharga untuk dikorbankan begitu saja demi seorang Averian.

Bukankah, itu alasan Kurenai tidak membunuh Asuma dan segera menghubungi markas pusat? Bukankah itu alasan Kurenai membiarkan dirinya tertangkap—meski dengan core yang ia sembunyikan? Kurenai masih mencoba melindungi bumi—tempat manusia-manusia licik dan tamak itu hidup. Lebih dalam, Kurenai justru seakan hendak melindungi manusia-manusia licik itu.

Ino paham. Bagaimanapun, watak Averian dan manusia tidak berbeda jauh. Di samping manusia yang tamak dan licik, masih ada manusia-manusia berhati tulus. Bumi masih membutuhkan mereka-mereka yang berhati tulus tersebut untuk menjaganya agar tetap 'hidup'. Berkembang tanpa berusaha merusak ataupun mematikan.

Asuma pun mungkin termasuk dalam golongan manusia-manusia yang dibutuhkan bumi. Pria berjanggut itu mungkin … hanya terpaksa—Ino ingat bahwa Asuma pernah sekali menyelamatkannya dari tangan lembaga. Lalu …

… mata senada aquamarine Ino mengunci mata cokelat Shikamaru.

Shikamaru pun bukan salah satu dari manusia yang licik dan tamak itu. Walau sedikit pemalas, sih.

Ino mengembangkan senyumnya dan sebelum Shikamaru dapat bertanya-tanya, Ino langsung mengalihkan perhatiannya kembali pada Sai.

"Aku mengerti, Sai," ujar Ino. "Estimasi waktunya?"

"Sekitar tiga jam." Suatu bebunyian terdengar dari arah belakang Sai. "Sepertinya, pesawat kami sudah tertangkap radar dari beberapa lembaga. Yah, kami memang sudah begitu dekat dengan tempatmu berada sekarang, Ino."

"Akan kuselesaikan semua ini sebelum kaudatang," ujar Ino dengan nada menantang. "Sudah, ya, Sai!"

"Ino," panggil Sai tepat sebelum Ino memutus alat komunikasi. Matanya kemudian melirik kembali ke arah Shikamaru, "Kurasa, aku bisa memercayaimu, 'kan?"

"Hah?"

"Untuk urusan pribadi di antara kita?"

Ino mengerjap beberapa saat sebelum ia tersenyum. "Kau bodoh."

Dan setelah itu, Ino menutup notebook-nya. Ia menghela napas. Segera setelah itu, ia mengambil cutter dan memangkas rambut panjangnya secara tiba-tiba. Tidak memedulikan rapi tidaknya, ia memotong asal rambut pirang panjangnya hingga kini rambutnya hanya sepanjang pundak—bahkan ada yang lebih pendek karena tidak beraturan.

Shikamaru yang semula tidak tahu harus berkata apa seketika tersentak.

"Ino, apa yang kaulakukan?!"

"Rambut panjang hanya akan menghalangi pergerakanku. Aku butuh bergerak cepat—lebih cepat dari biasanya. Lebih teliti dari biasanya." Ino pun menggelengkan kepalanya, menjatuhkan helai-helai rambut yang sudah terpotong tapi masih menempel. Ia kemudian mengambil sisir, menyisirnya beberapa kali, dan mengangguk puas.

Shikamaru menganga. Sekali lagi, ia merasa seolah kemampuannya berbicara telah direbut sedemikian rupa.

"Kautunggu di sini. Jangan bergerak ke mana pun!" perintah Ino sambil menggerakkan tangannya dan melemas-lemaskan ototnya.

"Hah?"

Ino mencibir. "Apa? Jangan bilang kau mau ikut? Ini merepotkan, lho?"

Alis Shikamaru mengernyit. Ia kemudian menggaruk tengkuknya. "Masih banyak yang belum kauceritakan."

"Tunggu saja setelah aku pulang nanti."

"Aku tidak bisa menunggu."

"Berbicara sambil bekerja itu tidak efisien, kautahu?"

"Bisa, kau makhluk super, 'kan?"

"Tapi kau bukan."

"Aku manusia istimewa, begitu katamu."

"Kau tidak bisa berkelahi," timpal Ino cepat. Nadanya terdengar sedikit meremehkan. Ditambah dengan posisi tangannya yang terletak nyaman di pinggang—Ino benar-benar ingin menegaskan agar Shikamaru sadar batas kemampuan fisiknya.

"Tsk. Mungkin tidak sehebat kau, tapi setidaknya aku bisa menggunakan otakku untuk melakukan sesuatu."

"Kau akan menghambatku."

Shikamaru menggeleng dan menghela napas panjang. "Berdebat seperti ini hanya akan membuang waktu, bukan?"

"Shika, ini akan merepotkan …."

"Aku tahu. Sejak awal, sejak bertemu denganmu … atau mungkin, jauh sebelum itu … takdir sudah menentukan bahwa hidupku memang tidak bisa diisi hanya dengan bersantai."

"Tapi … kau kan tidak tidur semalaman. Yakin kau bisa bertahan nanti?"

"Arghh! Apa perlu memperpanjang perdebatan ini?" Shikamaru mulai terlihat tidak sabar. "Time is money [1], I guess?"

Ino tersenyum dengan sebelah alis yang terangkat. Kepalanya ia miringkan ke arah kiri sedikit.

"Oke, jadi kesimpulannya?" tanya Ino.

"Let him who would enjoy a good future waste none of his present [2]."

Ino memejamkan mata.

"Aku harus tahu mengenai hal yang sebenarnya. Tentang Asuma. Tentang Kurenai. Tentang semuanya." Shikamaru mengepalkan kedua tangannya. "Karena itu, aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang ada saat ini."

***to be continued***


A/N:

[1] Quotes sederhana yang udah mendunia dari Benjamin Franklin: Time is money

[2] Quotes by Roger Babson: Let him who would enjoy a good future waste none of his present.

Uhuuu, silakan timpuk saya karena kelambanan dalam mengerjakan fanfict ini *sodorin Ino sebagai tameng sesama orang (?) yang lamban mengerjakan tugas* *moga-moga masih ada yang nunggu fanfict ini*

Sumpaaah, demi apa pun, saya kapok bikin cerita dengan muatan sci-fi gini /eh/ walau saya menikmati saat-saat bikinnya, sih /doubleeh/

Rahasia-rahasianya udah mulai kebongkar, kan? Di next chapter mungkin masih ada beberapa penjelasan tapi lebih fokus ke pertarungan, sih. Dan … err, mungkin masih ada yang kurang jelas? Ada yang mau ditanyakan? Silakan via review. Barang kali emang ada penjelasan yang lupa saya cantumkan, saking saya sudah terlalu bingung :"")) /diganyang reader sekalian.

Dan btw, udah makin mendekati akhir, lho~ hahahaha! *entah kenapa senang* Oh, yah, fanfict ini di-update selain untuk birthday gift untuk Rere-chan, juga kupersembahkan buat Pixie Alleth yang sempet-sempetnya nagih di PM FB. XD

Nah, balesin review yang non-login dulu ya, yg login, cek PM masing-masing~ ;D

Reiya Hakami: yeeey! Makasiiih udah review lagi, maaf update chapter 6-nya lambat banget, yah, Reiya-chan T_T

Diane ungu: ufufufu~ wujud ino-chan udah sedikit-sedikit terbuka, kan, di chapter ini? Dan apa iya Shika di sini terlalu polos? Polos dalam relasinya dengan cewek, ya? XD Thanks udah review dan atas pengertiannya karena aku emang gak bisa update kilat T_T

Miavita: hai, Miavita-chan! *lambai-lambai* salam kenal juga! Thanks udah read n review cerita ini, ya! Syukurlah kalau kamu suka misterinya~ ;))

Lalala: hai, hai~ ini udah update. Maaf lama banget, ya! :"D

Done replying! ;)

Yooossh~! Buat semua yang udah review, terima kasih banyak saya ucapkan. Next, terima kasih juga saya ucapkan buat semua yang udah baca (silent reader sekalipun), yang udah nge-alert, bahkan nge-fave fic ini. Doumo arigatou gozaimasu! Maaf kalau chapter ini kurang memuaskan. X""Da

Terlepas dari semua kekurangan fanfic ini, langsung aja beritahukan kesan, pesan, saran, kritikan minna-san tentang fic ini. Arigatou sebelumnya~

I'll be waiting.

Regards,

Sukie 'Suu' Foxie

~Thanks for reading~