Shikamaru dan Ino berlari cepat menuju lembaga. Seumur hidupnya, mungkin ini pertama kalinya Shikamaru berlari dengan sekuat tenaga. Bahkan dalam pelajaran olahraga di sekolahnya pun, ia tidak pernah sungguh-sungguh.
Ino sendiri harus sedikit mengurangi kecepatan dengan adanya Shikamaru, tapi setiap waktu yang mereka lewati tidak terbuang sia-sia. Mereka mengatur rencana.
Kebetulan, keberadaan Shikamaru sangat membantunya.
Setelah memasangkan alat komunikasi di telinga Shikamaru, Shikamaru segera mengeluarkan ponselnya. Rencana akan segera dijalankan.
Menunggu panggilannya diangkat, Shikamaru melirik Ino. Gadis itu tersenyum manis padanya.
Lalu … tanpa diduga, Ino mengecup pipi Shikamaru.
"Good luck!"
EXTRATERRESTRIAL
Disclaimer: I do not own Naruto. Naruto © Masashi Kishimoto
No commercial advantages is gained by making this fanfic.
CHAPTER 7. FIRE!
Rencana yang sudah dipikirkan secara mendadak ini bukan tidak memiliki risiko, tapi saat ini, hanya inilah yang terpikirkan oleh keduanya. Sembari berjalan menyusuri area kampus, Shikamaru masih menunggu panggilannya diangkat.
Begitu nada sambung terdengar, Shikamaru segera berbicara,
"Profesor Sarutobi!"
"Yo!"
Alis Shikamaru mengernyit. Itu bukan suara orang yang hendak dihubunginya. Tapi ia tahu dengan jelas siapa yang baru saja membalas sapaannya.
"Kakashi … sensei?"
"Ya, ada perlu apa, Jenius?"
Shikamaru menghela napas. "Kurasa Sensei tahu bahwa keperluanku bukan dengan Sensei."
Kakashi tertawa kecil dan melanjutkan dengan suara yang nyaris berbisik. "Wah, tidak kusangka. Kukira kau tidak akan minta pertolonganku."
"Apa maksud, Sensei? Aku kan—"
"Ternyata ada juga pelajaran yang tidak bisa kaupahami, ya? Yaa … aku memang sedang sibuk—walau tak sesibuk rekanku yang lain. Aku bisa membantumu menjelaskan."
Shikamaru terdiam. Mendadak ia tersadar bahwa Kakashi tengah berusaha menyampaikan sesuatu padanya. Jelas bahwa tempatnya berada saat ini tidak memungkinkan untuk membicarakan semua terang-terangan. Terlebih, mungkin posisi Asuma membuatnya tidak bisa membantu Shikamaru.
Ia bisa saja mengonsultasikan hal ini pada Ino terlebih dahulu, tapi ia urungkan niatnya. Ia memutuskan bahwa ia mungkin bisa mempertaruhkan kepercayaannya pada Kakashi. Hei, bukankah dulu saja ia memutuskan untuk memercayai Ino meski masih ada hal-hal yang disembunyikan Ino darinya?
Kala itu, entah apa Ino memang enggan menceritakannya atau belum ada waktu untuk itu, tetapi Shikamaru masih mencoba memercayai. Mungkin juga, gadis itu berpikiran, meskipun ia menceritakannya, belum tentu Shikamaru mau percaya begitu saja. Seeing is believing. Bukankah begitu prinsip Shikamaru?
Semua yang dikatakan Ino bisa dibilang lebih menyerupai fantasi—sebagian besar. Namun, jika gadis itu tidak menceritakan apa-apa, Shikamaru juga tidak bisa memperoleh kejelasan terhadap analisa dan ingatannya yang samar-samar. Memang pada akhirnya buku yang diberikan Asuma telah banyak membantu untuk menyingkap satu demi satu rahasia hidupnya. Namun, Shikamaru belum benar-benar puas.
Perasaan tidak enak melandanya. Seolah ... masih ada suatu rahasia besar. Ataupun, kalau itu bukan rahasia, maka mungkin itu adalah suatu hal yang masih terlalu dini bagi Shikamaru untuk dipikirkannya. Misalnya saja ... apa yang akan terjadi setelah semua ini selesai?
Pemuda itu menelan ludah saat Ino dari earphone yang terpasang di telinganya menyerukan agar Shikamaru segera memutus sambungan. Bagi Ino, selain Asuma tak ada yang bisa dipercaya. Mendengar bahwa Kakashi-lah yang mengangkat telepon Shikamaru membuat kewaspadaan Ino meningkat. Sebisa mungkin, ia ingin agar Shikamaru melupakan rencana awal untuk menghubungi Asuma.
Sejenak Shikamaru mempertimbangkan. Lalu, dengan berhati-hati, ia akhirnya merespons pertanyaan Kakashi.
"Sebelumnya, apa kalian sedang dalam kondisi diawasi?"
Kakashi tersenyum meskipun Shikamaru tidak bisa melihatnya.
"Ya. Perpustakaan pilihan yang bagus. Siapkan pertanyaanmu, aku hanya punya waktu tiga puluh menit."
"Tidak bisa, aku tidak punya banyak waktu." Shikamaru mempercepat langkahnya. Ketergesaannya pun tersampaikan dari nada suaranya. "Sensei! Bawa aku ke tempat Profesor Asuma. Bagaimanapun caranya!"
o-o-o-o-o
"Kau mau ke mana, Kakashi?"
Lelaki berambut keperakan itu menoleh pada orang yang bisa dikatakan berpangkat sebagai atasannya tersebut. Ia kemudian memicingkan matanya hanya sebagai bentuk kesopanan.
"Kau tahu tentang murid jenius yang kemarin berkonsultasi dengan Asuma, bukan, Uchiha-sama?"
Fugaku menyatakan bahwa ia tahu. Selanjutnya, ia ingin tahu apa yang tengah direncanakan Kakashi dengan anak itu.
"Tadi dia menanyakan lagi soal extraterrestrial," jawab Kakashi santai. "Ada hal yang tidak dimengertinya. Dan menurutku, akan lebih baik kalau dia melihat contohnya langsung."
Fugaku mendengus.
"Kau sudah gila?"
Kakashi menggeleng dengan wajah yang terlihat senang. "Kita bisa mengajarinya banyak hal di sini. Selain itu," ia memelankan suaranya, "ia bisa memberikan kita banyak hal dengan keberadaannya di sini."
"Apa maksudmu?"
"Aku akan menjemputnya terlebih dahulu ke sini. Dan jika Uchiha-sama berkenan, kau bisa menanyakan langsung pada Asuma, siapa itu Nara Shikamaru."
Setelah itu, Kakashi pun berlalu.
Sekarang perhatian Fugaku teralih pada Asuma yang tengah duduk di depan komputernya. Jelas sekali bahwa Asuma tampak gelisah. Ia bisa berpura-pura tidak mendengar ucapan Kakashi, tapi Fugaku tahu bahwa yang terjadi adalah yang sebaliknya.
Mungkin pula, ketegangan membuatnya tak mampun berpikir jernih sehingga ia hanya bisa mengumpat dalam hati.
Kakashi sialan! umpatnya dalam hati.
Keringat dingin mulai mengalir dari pelipisnya terutama saat tangan besar Fugaku menyentuh pundaknya. Asuma menoleh dan melihat atasannya itu—berusaha sebisa mungkin agar ia terlihat wajar dan normal. Sementara itu, otaknya berpikir cepat untuk mencari alasan.
"Nah, Asuma," ujar Fugaku dingin, "waktunya kau memberi penjelasan padaku."
o-o-o-o-o
Di perpustakaan, Shikamaru harus rela membiarkan telinganya menjadi bahan keganasan suara Ino. Ino merutukinya, mengatakan bahwa tindakannya adalah kecerobohan yang bisa menggagalkan misi mereka—bahkan mungkin membahayakan nyawa Shikamaru sendiri. Shikamaru menggumamkan 'mendokuse' berulang.
"Dengar, Shika—"
"Ino! Diamlah sebentar!" ujar Shikamaru akhirnya. "Bukankah ini masih sesuai dengan rencana kita—rencanamu?"
Ino terdiam. Nada suara Shikamaru yang sangat serius ini membuat Ino tidak ingin membantah.
Rencana. Betul, sesuai kata Shikamaru, semua masih sesuai rencana. Yang berbeda hanyalah orang yang hendak menemui Shikamaru. Dan bertemu dengan orang ini tidak serta-merta membuat semua rencana menjadi gagal. Masih ada kemungkinannya—sekecil apa pun.
"Kau membuatku masuk ke jurusan astronomi agar aku bisa menyelinap ke dalam lembaganya," ujar Shikamaru. "Kau membuatku tidak bisa melupakan tujuan ini demi satu tujuanmu. Kau sudah menempatkanku dalam bahaya sejak awal. Sejak aku bahkan masih seorang bocah yang tidak mengerti apa-apa. Terlambat jika kau baru mengkhawatirkanku sekarang …."
"Shikamaru … bukan itu—"
Shikamaru mendengus. "Lalu? Kau takut aku menggagalkan rencanamu? Kalau begitu, kenapa sejak awal kau memilihku? Kau tidak memperhitungkan kalau aku mungkin orang yang tak sesuai untuk menjalankan misi ini?"
"Tolong, Shikamaru, dengarkan aku! Misi ini bukan main-main! Kau tidak—"
"Kau yang dengarkan aku, Ino," sela Shikamaru. "Kau sudah memilihku, karena itu … percayalah padaku! Aku tidak akan menggagalkannya."
Ino tidak lagi menjawab. Shikamaru sendiri sudah hendak mengatakan kata-kata lain tapi mendadak ia memilih bungkam. Hanya sepatah kata lirih yang berhasil keluar dari mulutnya,
"Untukmu …."
Ino hendak menjawab saat didengarnya suara seorang laki-laki menyapa Shikamaru. Ino pun membelalakkan mata sesaat sebelum memasang telinga baik-baik.
Pertaruhan dimulai dari sekarang.
o-o-o-o-o
BRUAAAKK!
"Uchiha-sama!"
Salah seorang petugas dengan rambut biru keperakan langsung menghampiri sosok Asuma yang baru saja membentur satu panel. Lelaki berjanggut itu menyentuh pipinya yang sudah berdenyut.
Fugaku tidak main-main saat memukulnya. Kepalanya terasa sedikit pusing saat ini dan matanya sekilas mengabur. Ia harus menggeleng-gelengkan kepala sejenak untuk mendapatkan kembali fokusnya.
Begitu matanya kembali dapat melihat dengan benar, di hadapannya masih terlihat sosok Fugaku yang berdiri tegak dan memandangnya dengan tatapan dingin dan kejam. Mungkin Asuma tidak akan bertahan lama—mungkin sudah saatnya. Tujuh belas tahun, bukan waktu yang sebentar, 'kan?
Mata Asuma melirik ke arah capsule yang ada di tengah ruangan.
Objek penelitiannya. Objek … kasar sekali ia menjadikan istrinya—sosok yang dicintainya itu—sebagai objek. Dia memang bodoh dan rendahan!
"Heh," Asuma mendengus sementara tangannya meraba-raba saku celana.
Mendadak, kaki Fugaku melayang dan menghantam dagu Asuma. Lelaki berambut biru yang sebelumnya menopang Asuma segera menyingkir. Tangan Asuma pun keluar dari sakunya dan mengempaskan kotak rokok yang hendak diambilnya.
Fugaku menyipit melihat kotak rokok itu sebelum ia berkata tajam, "Kau masih belum mau menjawab, eh, Asuma? Apa rencanamu?!"
Kesadaran Asuma belum sepenuhnya menghilang. Namun, ia tidak ingin lagi memikirkan mengenai Fugaku. Masa lalulah yang ingin didengarnya—dilihatnya.
Kala ia pertama kali bertemu wanita itu. Dia … dia yang bukan manusia. Extraterrestrial, alien, atau apa pun sebutannya. Wanita berambut hitam dengan mata merah itu ….
Istrinya—makhluk yang dicintainya ….
Kurenai ….
Asuma bangkit dari posisi berbaringnya. Ia sedikit menyeka darah yang sedikit mengalir dari bibirnya. Ia terduduk dengan susah payah. Lalu perlahan, ia mengangkat kepalanya untuk melihat Fugaku yang memandang murka pada sosoknya yang masih bungkam.
"Kau tidak mau mengatakan apa-apa, hm?!"
Kini, bisa dilihat bahwa Fugaku sudah menggenggam pistol laser kecilnya. Ia sudah tidak ingin bermain-main. Well, selama ini Asuma mungkin sudah terlalu banyak menghabiskan waktunya tanpa satu hal pun yang berarti. Jadi sekarang, waktu bermainnya sudah habis. Ia mungkin akan segera digantikan oleh seseorang yang lain.
"Kau pengkhianat bajingan! Kau menghabiskan banyak waktuku hanya untuk penelitian tipuan yang tak menghasilkan apa pun! Dan sekarang … kau merencanakan sesuatu untuk menentangku, eh?"
Asuma terkekeh kecil. "Bukan aku yang merencanakan sesuatu."
Mata Fugaku mengilat dihiasi amarah tak terbendung. Asuma sudah hendak mengatakan sesuatu saat mendadak ponselnya berbunyi. Keadaan hening sesaat—canggung sekali.
"Maafkan aku, Fugaku."
Sekelebat cahaya menghentikan gerakan tangan Asuma. Selanjutnya suara erangan terdengar menggema. Bagaimana tidak, punggung tangan itu baru saja terserempet laser mematikan. Asuma meraung sembari memegangi pergelangan tangannya—mencengkeramnya dengan kencang dalam usaha untuk menghentikan pendarahannya.
"Kau," ujar Fugaku sambil menunjuk salah satu bawahannya dengan pistol, "angkat teleponnya. Aktifkan hologram receiver!"
Bawahan berambut biru keperakan itu langsung mengambil ponsel Asuma dan mengaktifkan mode hologram receiver yang menyebabkan bayangan sang penelepon muncul bagaikan proyeksi 3D di atas layar ponsel.
"Hatake-san," ujar si bawahan.
Asuma yang sudah bisa mengendalikan diri mati-matian melihat ke arah sosok yang baru saja menghubunginya. Napasnya masih belum teratur tapi ia mencoba sebisa mungkin untuk bersuara. Tentu saja Kakashi tidak bisa melihatnya jika dari seberang sana Kakashi sendiri tidak mengaktifkan hologram receiver.
"Kakashi—! Apa yang kau—"
Asuma bersumpah bahwa sekilas ia melihat sosok pemuda berambut model nanas di sebelah Kakashi. Namun, perhatiannya teralihkan pada kata-kata Kakashi,
"Sepertinya kau sedang dalam kondisi tidak baik, eh?"
Dia tahu? Jadi mungkin dia juga menggunakan fitur yang sama. Berarti, percakapan mereka diketahui oleh pemuda itu juga?
"Tidak usah berbasa-basi, apa yang kauinginkan?"
"Profesor!" Seketika, hologram receiver itu beralih dan menunjukkan seorang pemuda berambut model nanas.
Darah Asuma seolah mengalir lebih cepat. Ketegangan itu tidak luput dari wajahnya. Ketakutan melanca—kecemasan, kekhawatiran ….
Seolah bisa membaca situasi yang tengah terjadi, Fugaku mendekat dan dalam jarak yang tidak sampai membuatnya terbaca dan muncul di hologram receiver, lelaki itu setengah berjongkok. Moncong pistolnya kini mengarah ke pelipis Asuma.
"Tanyakan, apa yang ia inginkan?"
Mata Asuma melirik ngeri ke Fugaku sebelum ia bertanya dalam suara yang patah-patah.
"Ap-apa yang kauinginkan, Nara?"
Mata sang pemuda tampak mengamatinya dengan sepenuh hati. Kondisi Asuma yang sedang dalam keadaan babak belur tentu sangat mencurigakan. Namun, tentu pemuda itu pun tahu bahwa bukan itu yang harus mereka bicarakan.
"Profesor, aku tadi mencoba menghubungi untuk menanyakan masalah extraterrestrial. Tapi ternyata malah Kakashi-sensei yang mengangkat teleponku dan dia yang datang. Lalu ia menawarkan padaku untuk melihat langsung." Shikamaru memberi jeda untuk mengamati ekspresi Asuma. "Apa aku benar-benar boleh …."
Ponsel Asuma berpindah tangan secara paksa. Sekali ini, dari sisi sebelah sana, Shikamaru bisa melihat sosok seorang yang lain. Berambut biru gelap belah tengah dengan gurat-gurat usia di sekitar mulutnya. Mata hitam kelamnya terasa mencekam dan membuat bulu kuduk Shikamaru berdiri.
Asuma yang sedang dalam keadaan payah hanya bisa menghela napas sebelum menyandarkan tubuhnya ke panel yang ada di belakangnya.
"Kau boleh datang kemari, Jenius. Tunjukkan pada kami, apa yang bisa kaulakukan," ujar Fugaku dingin. "Tunjukkan … apa kau bisa lebih berguna daripada orang yang kaupanggil 'Profesor'!"
o-o-o-o-o
Di luar, Ino sudah bisa merasakan dadanya bergemuruh kencang. Sebentar lagi … tinggal sebentar lagi. Bisakah segalanya selesai tepat waktu?
Ino berjalan mondar-mandir sementara benaknya menampilkan refleksi Kurenai—sang Averian senior yang kini tertahan di lembaga. Sosok yang ia kagumi.
Dahi Ino kini bersandar pada pohon di sebelahnya. Matanya terpejam.
Ia tidak tahu lagi harus melakukan apa selain menunggu. Tapi menunggu itu menyesakkan—sudah terlalu lama ia menunggu.
Matanya terbuka dan melirik ke gedung universitas. Apa ia sebaiknya nekat saja? Tiga jam—kata Sai. Namun, telah berapa lama ia habiskan di sini hanya dengan berdiam diri. Belum sampai sejam, 'kan? Atau sudah? Aduh! Ino seperti kehilangan orientasi waktu.
Ia tidak tenang. Ia gelisah.
Ia harus menyelamatkan Kurenai segera. Ia harus menyelamatkan Kurenai, mengembalikan core ke dalma tubuh wanita itu dan mengajaknya pulang ke Auvbrelliax, planet asal mereka. Itulah tujuan Ino.
Tapi ….
"Shika …."
Jika memang demikian, itu adalah pertemuan pertama dan … perpisahan selamanya.
Tangan Ino mengepal kencang. Ia sudah memutuskan. Ia tidak bisa menunggu lagi!
Kurang dari tiga jam. Ia sudah harus melakukan serangan! Apa pun hasilnya!
o-o-o-o-o
Alarm di lembaga berbunyi nyaring—begitu bisingnya hingga perhatian para ilmuwan yang tengah bekerja teralihkan. Shikamaru yang baru saja tiba langsung dikagetkan oleh orang-orang yang hilir mudik.
"Perlihatkan di monitor utama!"
Suara keras itu seketika membuat atensi Shikamaru beralih padanya. Di belakangnya, Kakashi menepuk punggung Shikamaru agar pemuda itu masuk lebih dalam.
Begitu kaki Shikamaru melangkah lebih dalam, ia kembali berhenti. Saat itu matanya—sama seperti mata semua orang—terpaku pada monitor utama yang merupakan gabungan dari beberapa monitor kecil. Awalnya monitor itu bekerja sendiri-sendiri sebagai kamera pengawas di beberapa tempat, tetapi kini fungsinya dialihkan khusus untuk satu kamera yang ada di halaman depan.
Monitor itu memperlihatkan sosok perempuan berambut pirang pendek kini tampak berlari dengan cepat untuk menghindari serangan laser yang terarah padanya. Ia tidak sepenuhnya bisa menghindari laser-laser itu. Serangan dari bawah tanah itu berhasil melukai beberapa anggota tubuhnya. Saking cepatnya tiap serangan tersebut, ia bahkan tidak sempat untuk meregenerasi selnya seperti yang seharusnya bisa ia lakukan.
Di tempatnya, Fugaku kembali memberi perintah.
"Ungsikan orang-orang yang tidak berkaitan ke dalam satu tempat! Lalu, kunci semua jalan yang tidak berhubungan! Arahkan makhluk itu ke tempat ini!"
Beberapa ilmuwan langsung melakukan yang diperintahkan padanya. Namun, Shikamaru tidak bisa berdiam diri. Ia sudah hendak melakukan sesuatu secara gegabah saat mendadak bajunya terasa ditarik.
Ia menoleh dan melihat Asuma yang terduduk dengan bersandarkan pada sebuah panel. Wajahnya tampak lebih babak belur dari yang terakhir Shikamaru lihat melalui hologram receiver. Sepertinya, setelah sambungan diputuskan, Asuma kembali mendapat penganiayaan.
"Pro—"
"Selamat datang, Jenius."
Perhatian Shikamaru kembali teralihkan.
"Terima kasih sudah mau repot-repot datang ke sini. Dan maafkan tontonan yang tidak menarik ini." Fugaku tampak mengamat-amati raut wajah Shikamaru. Ia bukan orang bodoh! "Atau … kau justru menikmatinya? Menikmati kekacauan yang terjadi akibat ulah temanmu?"
Mata Shikamaru terbelalak dan seketika ia memilih mundur satu langkah. Namun, tanpa diduga, kedua tangan Kakashi menahan lengannya.
"Sen—"
"Bagus sekali kerjamu, Kakashi! Sekarang bawa dia ke ruang pengamanan! Kita akan menggunakannya sebagai umpan yang bagus!"
"Khhh!"
Siaaalll! Ternyata … Kakashi-sensei bukan orang yang bisa dipercaya! Bagaimana ini?! Pikir, Shikamaru, pikir! Ino dalam bahaya! Tidak—tidak hanya itu! Semua orang di bumi ini … dalam waktu kurang dari tiga jam ….
"Betul, dia adalah umpan yang bagus ….," jawab Kakashi sambil terkekeh. "Untuk membuatmu sedikit lengah, Uchiha-sama."
Suara desingan tembakan terdengar. Raungan Fugaku terdengar menggelegar.
Kakashi kemudian menepuk pundak Shikamaru. "Berlarilah ke arah capsule dan lakukan tugasmu, apa pun itu! Sekarang aku akan segera mematikan segala mesin pengaman agar temanmu bisa segera masuk ke sini."
Shikamaru membelalakkan matanya tidak percaya. Ia kemudian melirik ke arah Asuma yang kini sudah memejamkan mata dengan napas tidak teratur.
Tidak ada waktu untuk berpikir lama-lama!
"KAAAUU! KAKASHI BANGSAAAAATT!"
Tembakan lain terdengar. Disertai teriakan-teriakan panik dari beberapa ilmuwan yang bekerja di sana. Tidak ada lagi yang bekerja, semua membatu di tempatnya melihat kejadian yang mirip kudeta ini.
Fugaku semakin mengerang saat senjata laser itu mengenai tangannya. Kini, lengan kiri dan telapak tangan kanannya sudah mengeluarkan darah yang tak akan berhenti dengan cepat.
Kakashi menyipitkan mata sebelum ia kemudian menembakkan senjatanya ke arah salah satu mesin. Ledakan kecil terjadi dan membuat beberapa orang menyingkir dari sana. Alarm tanda api kini berbunyi bergaung. Lampu-lampu yang semula menyala beberapa di antaranya sudah padam—menyisakan ruangan lembaga dalam keadaan temaram.
Beberapa orang mulai melarikan diri dari lembaga yang perlahan-lahan mulai dilalap api. Mereka melewati Kakashi begitu saja dan Kakashi membiarkannya.
Dengan ini, perempuan itu bisa melewati halaman fakultas dengan aman.
"Heh … heheh …."
Kakashi melirik ke arah sahabatnya yang dengan susah payah mencoba bangkit. Kakashi pun mengulurkan tangannya untuk membantu Asuma. Ia menarik tangan Asuma dan meletakkannya di pundaknya sendiri untuk membantu lelaki berjanggut itu berdiri.
"Kukira … kau … sudah tidak bisa kupercaya …."
Kakashi mengedikkan bahunya. "Kau meragukanku?" tanyanya dengan tenang. "Padahal aku sudah menolongmu dengan menceritakan pada si Jenius itu garis besar cerita masa lalu yang pernah kauceritakan padaku. Lalu, dalam waktu singkat, aku pun merancang cara agar anak itu bisa masuk ke sini tanpa banyak gangguan."
Asuma terdiam. Di antara rasa sakitnya, ia mencoba tersenyum. Meskipun senyum itu terlihat begitu pilu dengan tatapan yang menerawang sendu.
"Aku bahkan … meragukan diriku … sendiri."
"Yah. Kau berutang banyak padaku."
Asuma kembali terkekeh.
Lega karena sahabatnya itu tidak dalam keadaan kritis meskipun babak belur, kini Kakashi mengalihkan perhatiannya. Ia melihat ke arah Fugaku yang tengah meringkuk kesakitan. Merasa Fugaku tak dapat lagi melakukan apa-apa, perhatiannya sekali lagi berpindah. Kali ini, pada Shikamaru yang sudah berada tepat di samping capsule. Pemuda berambut nanas itu terlihat sedikit lebih panik dari biasanya.
"Buka, mana tombol bukanya! Sial! Cepatlah!"
Saat Shikamaru sedang serius membaca setiap keterangan yang ada di capsule, satu teriakan membuatnya menoleh.
"ARRRGHH!"
Kakashi terpelanting bersamaan dengan Asuma. Lelaki berambut keperakan itu terjatuh dan karena Asuma belum bisa benar-benar berdiri di atas kedua kakinya, keduanya pun terjatuh bersama menghasilkan bunyi berdebum.
"Beraninya … kalian …."
"Ughhh!" Kakashi memegangi perutnya yang terasa sangat panas. Fugaku memang tidak boleh diremehkan, ia memiliki senjata cadangan dan luka yang sudah ia dapat, tidak bisa menghentikannya begitu saja.
"BEDEBAAAH!" teriak Fugaku sembari menembak ke arah Kakashi. Kakinya, dadanya, lengannya … Asuma pun tak luput dari serangan mematikan tersebut. Beberapa serangan yang diarahkan Fugaku turut melukainya.
Saat tembakan Fugaku sudah terarah pada kepala Kakashi, mendadak sebuah pintu besar melayang dan menghantam wajahnya.
"UUAGHH!"
Pintu besar nan berat itu pun seketika menimpa Fugaku hingga ia kesulitan bergerak. Sesaat, kondisi seolah akan berbalik menjadi lebih baik.
Shikamaru yang sebelumnya sudah siap di belakang Fugaku dengan sebuah kursi di tangan, langsung terperangah. Mulutnya terbuka saat ia melihat siapa yang baru saja menyelamatkan gurunya.
"Ino …."
"Maaf aku terlambat," ujar gadis itu sambil menyeka keringatnya. Ia kemudian berlari ke arah Fugaku yang saat ini berada di balik pintu besar yang menimpanya. Perlahan, Ino mengangkat pintu itu untuk memastikan. Belum sempat ia melihat sosok Fugaku, satu serangan mengenai pipinya—nyaris melubangi pelipisnya.
Ino tersentak dan mundur beberapa langkah. Namun, di detik yang tak terlalu lama, gadis itu dikuasai amarah. Ia pun mengepalkan tangannya kuat-kuat lalu menghantamkannya ke pintu yang ia duga berada di sekitar kepala Fugaku.
"HEYAAAAHH!"
Bunyi retakan terdengar. Setelah itu, tak ada lagi pergerakan dari sosok yang masih tertimbun di balik pintu yang sudah penyok tersebut.
Ino mengatur napas, bersamaan dengan itu, kulit-kulitnya yang luka perlahan mulai membaik. Gadis itu kini melihat ke arah Kakashi dan Asuma yang sudah tak berdaya. Meskipun mata Asuma masih bisa melihat ke arahnya.
"Kau …."
Ino menggigit bibir bawah. Meskipun Ino tahu ia bisa memercayai Asuma, bukan berarti ia langsung melupakan begitu saja pengkhianatan yang dilakukan Asuma pada kaumnya. Bagaimana tidak, bukankah bisa dibilang … Asuma telah menjual istrinya sendiri demi mendapatkan sumber energi? Satu kesalahan di masa lalu yang sangat tidak termaafkan. Setiap mengingatnya, Ino merasa darahnya begitu mendidih.
Dan karena itulah, Ino tahu, prioritas utamanya sekarang bukanlah menyembuhkan Asuma—ataupun Kakashi. Meski keduanya sepertinya sudah membantunya untuk bisa sampai di sini. Ya, Ino masih bisa mendengar percakapan Shikamaru melalui alat yang ada di telinganya. Ia akan berterima kasih pada mereka belakangan.
"Shikamaru!" panggil Ino sembari kini melepaskan alat komunikasi di telinganya.
Shikamaru melempar secara sembarang kursi yang semula ia pegang. Ia kini kembali beralih pada capsule yang ada di hadapannya. Dan bukannya menjawab pertanyaan Ino, Shikamaru seolah menuntun Ino untuk melihat sosok yang ada dalam capsule tersebut.
Ino berdiri diam di samping capsule. Tangannya menyentuh kaca yang melingkupi sang putri tidur.
Setelah meneliti capsule teresebut selama beberapa saat, Ino kemudian menghancurkan salah satu tombol yang ada di sana. Seketika, kaca itu terbuka dan memberikannya akses untuk menyentuh Kurenai secara langsung.
Namun, belum sempat Ino melakukannya, Shikamaru sudah terlebih dahulu menyentuh tangan putih sang wanita yang terlipat rapi di atas perutnya. Diam-diam, Ino memperhatikan ekspresi gusar dan kalut di wajah Kurenai.
"Diakah … ibu biologisku sebenarnya?"
Belum sampai pertanyaan itu terjawab, mendadak lembaga kembali berguncang. Bebatuan yang timbul akibat retakan dan kerusakan di sana-sini mulai berjatuhan. Api semakin melalap habis setiap alat dan mesin yang ada di lembaga. Tapi … bukan api atau ledakan apa pun yang menjadi penyebab guncangan-guncangan yang kembali terjadi.
Mata Ino membelalak horor.
"Averian—" gumamnya, "—Sai."
***to be continued***
A/N:
Gilaa, udah berapa lama sejak saya update chapter 6 ya? Ahahaha. :")
Dan sekarang udah chapter 7, chapter depan adalah chapter terakhir. Sebelum bales-balesin review non login, saya juga mau menyampaikan maaf kalau ada kekurangan di sana-sini untuk chapter ini, entah idenya rush, atau plothole, sebisa mungkin sih aku minimalisir kesalahan yang mungkin terjadi. Sorry kalau 'pertarungannya' nggak greget bahkan terkesan cepat. Dan sorry juga atas keterlambatan yang sangat-sangat dalam hal update. Huhuhu.
Nah, balesin review yang non-login dulu ya, yg login, cek PM masing-masing~ ;D
Guest: siip! Ini lanjut! Moga-moga masih mau rnr yaa :"")
Yooossh~! Buat semua yang udah review, terima kasih banyak saya ucapkan. Next, terima kasih juga saya ucapkan buat semua yang udah baca (silent reader sekalipun), yang udah nge-alert, bahkan nge-fave fic ini. Doumo arigatou gozaimasu! Maaf kalau chapter ini kurang memuaskan. X""Da
Terlepas dari semua kekurangan fanfic ini, langsung aja beritahukan kesan, pesan, saran, kritikan minna-san tentang fic ini. Arigatou sebelumnya~
I'll be waiting.
Regards,
Sukie 'Suu' Foxie
~Thanks for reading~
