Dahulu kala, seorang peneliti dipertemukan dengan peneliti lainnya. Di bawah langit yang menjadi lapisan pelindung bumi tersebut, mereka saling jatuh cinta. Seketika, mereka pun tahu bahwa, meskipun keduanya memiliki minat yang sama sebagai peneliti, keduanya benar-benar berbeda.
Dia—sang lelaki jatuh cinta pada kemajuan. Dia ingin kaumnya bisa maju dengan mendapatkan sumber energi terbaik yang tidak merusak lingkungan. Dia terus melakukan penelitian untuk itu.
Dia—sang wanita jatuh cinta pada alam. Dia ingin kaumnya bisa merasakan ketenangan yang ia rasakan saat berada di alam—pepohonan, bebungan, dan hewan-hewan yang menempati habitatnya sendiri-sendiri. Dia ingin tempat asalnya bisa lebih semarak bagaikan bumi tempat ia tinggal sekarang. Dia terus melakukan penelitian untuk itu.
Namun, cinta sesaat membutakan mereka. Mereka pun meninggalkan tugas dan kewajiban masing-masing. Terlarut dalam cinta yang bagaikan tak nyata—menghancurkan batas di antara perbedaan. Sampai, buah hati mereka pun lahir.
Lalu, orang-orang bumi yang serakah itu mulai menunjukkan taringnya. Mereka tidak rela jika sang peneliti lelaki menyimpan makhluk yang dapat berguna bagi penelitian mereka hanya untuk dirinya sendiri. Mereka mendesaknya untuk membawa sang wanita ke lembaga—meneliti tiap-tiap organnya dengan detail dan rinci untuk dimanfaatkan bagi kemajuan ilmu pengetahuan.
Sang wanita mendengar percakapan itu dan ketika orang yang dianggapnya suami menyetujui, hatinya pun hancur. Dia merasa terkhianati. Amarah menguasainya. Ia ingin tidak peduli dan segera menghubungi markas besar untuk segera menyelamatkan keluar dari dunia yang busuk ini.
Namun … bayinya yang belum genap berusia dua tahun itu menghentikannya.
Juga … kecintaannya yang tak terbantahkan pada suaminya—meskipun ia sudah merasakan sakit yang teramat dalam.
Di suatu malam, wanita itu melarikan diri dari rumahnya—menggunakan pesawat luar angkasa yang selama ini ia sembunyikan tanpa sepengetahuan sang suami. Dengan kemampuannya, ia memanipulasi ingatan keluarga Nara yang berada jauh dari tempat tinggalnya dan sang suami lalu menitipkan putra semata wayangnya pada keluarga tersebut.
Ia menangis—lagi.
Ia tahu, cepat atau lambat, ia akan ditemukan dan digiring untuk diteliti. Perannya sebagai peneliti akan berbalik menjadi objek penelitian. Sayangnya, ia tidak mau bermurah hati untuk menolong para penjahat itu. Dengan pemikiran itulah, ia melukai dirinya sendiri, memfokuskan pikirannya agar darah yang mengandung inti kehidupannya kemudian ditelan oleh si bayi yang semula sedang tertidur tersebut.
Tentu saja setelah menerima intisari kehidupannya, sang bayi langsung tersedak dan menangis keras. Sang wanita menggunakan kesempatan itu untuk memeluk putranya. Ia menepuk-nepuk punggung putranya, menenangkannya, menyanyikan satu lagu lembut yang berasal dari tempat asalnya. Hingga sang putra kembali tertidur dan ia memberikan satu kecupan terakhir.
Tenaganya semakin melemah. Tapi, ia tidak boleh ketahuan berada di tempat ini.
Setelah memanipulasi ingatan setiap orang yang pernah melihatnya di rumah itu, ia kembali menaiki pesawat luar angkasanya. Namun, ia tidak bisa mendarat dengan mulus karena tembakan yang berhasil dilancarkan dari arah lembaga. Pesawatnya rusak dan hancur berkeping-keping. Yah, sesuai dengan dugaannya.
Ia pun keluar dari pesawat itu dengan susah payah hanya untuk mendapati rekan-rekan suaminya yang berwajah beringas dan dipenuhi nafsu—tidak layaknya peneliti. Ia tersenyum saat maatnya beradu pandang dengan mata sang suami. Ia tidak bisa menahan senyumnya lebih lebar saat melihat rasa bersalah itu tergambar di wajah sang suami hingga lelaki itu duluanlah yang memalingkan wajah.
Setelah itu, karena inti kehidupannya sudah tak lagi ada dalam dirinya, ia pun memasuki masa tidur panjang yang tak pernah diduga oleh kawanan peneliti tersebut.
EXTRATERRESTRIAL
Disclaimer : I do not own Naruto. Naruto © Masashi Kishimoto
No commercial advantages is gained by making this fanfic.
LAST CHAPTER. It's Supernatural, Extraterrestrial!
Mata Shikamaru mengerjap-ngerjap. Teropong bintang yang ia gunakan ia arahkan untuk mencari konstelasi Virgo. Ia belum sampai menemukannya, saat mendadak, niatnya surut. Ia pun menghela napas.
Ia menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya sebelum ia memilih untuk menyimpan teropong bintang itu. Ketika ia hendak merapikannya, ia teringat lagi pada ayahnya yang sudah membelikannya benda ini. Nara Shikaku—ayah yang telah membesarkannya selama ini. Ayahnya yang tidak tahu-menahu mengenai persoalan extraterrestrial dan sejenisnya.
Sementara itu, ayah biologisnya saat ini tengah berada di rumah sakit untuk menjalani perawatan. Keadaannya memang sudah tidak gawat—demikian pula dengan keadaan gurunya. Shikamaru sedang tidak ingin berpikir terlalu banyak—seperti apa yang akan terjadi setelah mereka semua sembuh, bagaimana dengan para peneliti yang lain, bagaimana kondisi Fugaku?
Shikamaru tidak ingin tahu apa-apa lagi. Cukup. Kepalanya terasa penuh saat ini.
Perempuan itu berjanji bahwa ia membereskan semua. Mungkin … dengan memanipulasi ingatan?
.
.
.
"Averian … Sai!" seru Ino. "Gila! Aku tidak menyangka mereka akan sampai secepat ini!"
Shikamaru mengernyitkan alis. Sekelebat bayangan menghampirinya saat ia menggenggam tangan Kurenai lebih erat. Mata kecilnya terbelalak.
Rumah di atas bukit … malam hari ….
Awal yang bahagia lalu … tangisan.
Pindah.
Ayah yang baru, ibu yang baru, rumah yang baru ….
Lalu … ibunya … ibunya yang ada di hadapannya ….
Meneteskan darahnya ….
"Shikamaru! Cepat lakukan sesuatu! Pindahkan core-mu pada Kurenai!"
Shikamaru tidak juga menatap Ino. Ia seakan masih terpana pada sosok yang sedang tertidur di hadapannya. Ia hendak menyentuh pipi putih pucat itu saat satu guncangan membuatnya harus menjadikan capsule tempat wanita itu berada sebagai penopangnya.
"Shika!"
"Diamlah, Ino!"
Dengan itu, Shikamaru kemudian kembali mencoba berdiri tegak. Api yang seakan sudah mengelilingi mereka dan bebatuan yang kembali berjatuhan di sekitarnya tak ia pedulikan. Ia harus bergerak cepat—sebelum ia terkubur hidup-hidup dalam lembaga atau terbakar sebelum terkubur. Pilihan mana pun tak ada yang mengenakkan.
Setelah ia bisa berdiri, dibukanya mulut sang wanita secara perlahan. Ino sudah hendak bertanya, apa yang akan ia lakukan saat mendadak, Shikamaru menggigit ujung jempolnya sekuat yang ia bisa hingga menimbulkan luka. Ino pun terdiam.
Darah itu mulai menetes, memasuki mulut sang wanita. Shikamaru tetap fokus agar inti kehidupan tersebut—core—bisa segera berpindah dari tubuhnya. Namun, sulit rasanya, Shikamaru tidak tahu bagaimana cara mengendalikan agar core tersebut bisa segera berpindah pada sang Averian yang masih juga memejamkan matanya ini. Apalagi, perlahan, lukanya menutup.
"Ukh!"
Mendadak, pergelangan tangan Shikamaru pun digenggam oleh Ino. Gadis itu menekan pergelangan tangan Shikamaru kuat-kuat hingga pemuda itu terbelalak. Mata sang gadis tertutup, menandakan ia tengah begitu berkonsentrasi.
Shikamaru tidak tahu apa yang terjadi, tetapi … tubuhnya seketika merasa lega. Ringan. Dan … begitu Ino melepaskan pegangan tangannya, ia pun terjengkang ke belakang.
Napas Shikamaru mendadak tak beraturan. Tapi, ia tidak peduli. Mungkin … berhasilkah?
Perlahan, ia melirik ke arah jempolnya. Sudah tak ada luka di sana.
"Syu-syukurlah~ syukurlaahhh~ … tepat … pada waktunya."
Dari tempatnya berbaring, Shikamaru tidak bisa melihat wajah Ino, tapi ia bisa mendengar isakan gadis itu. Shikamaru sudah ingin memejamkan mata saat mendadak tubuhnya seolah terangkat.
"Kau!" ujar Ino cepat sambil membantu Shikamaru berdiri dengan cara menariknya di siku. "Tunggu di sini sampai Kurenai sadar! Aku akan ke atas untuk menghentikan Sai dan yang lainnya!"
Jejak air mata itu masih ada di kedua belah pipi Ino, tapi dengan segera, sang gadis menghapusnya.
"Segalanya akan segera selesai!" ujar Ino cepat. "Setelah Kurenai terbangun nanti, kau bisa memintanya membantumu untuk membawa mereka," perintah Ino sembari menunjuk Asuma dan Kakashi yang sudah tak sadarkan diri.
"Ah, Ino …," ujar Shikamaru sembari menahan tangan Ino yang sudah hendak melesat pergi. "Tapi aku …."
"Ino …?"
Keheningan sesaat. Keempat pasang mata itu menoleh ke satu arah. Mulut Ino ternganga, tapi ia buru-buru mengatupkannya sebelum kembali membukanya untuk mengeluarkan suara tinggi khas miliknya.
"Kurenaaaiii! Syukurlah kau sudah sadar!" Ino melepaskan pegangan tangan Shikamaru untuk segera memeluk Kurenai. Air matanya kembali mengalir tanpa bisa ia cegah.
Kurenai masih tampak linglung di tempatnya. Ia belum berhasil mengumpulkan seluruh kesadarannya setelah tertidur panjang selama belasan tahun waktu bumi. Perlahan, tangannya terangkat untuk balik memeluk Ino. Lalu, mata merahnya tak sengaja menyadari keberadaan sosok lain dalam ruangan itu.
Ia terbelalak. Bersamaan dengan itu, ruangan tempat mereka berada semakin berguncang. Batu-batuan besar berjatuhan semakin tak terkendali. Bahkan kali ini nyaris mengenai Kurenai, kalau saja Ino tak segera menariknya keluar dari capsule.
Sudah cukup saat-saat mengharubiru di antara kedua wanita yang sudah lama tak bertemu tersebut. Mereka dikejar waktu.
"Apa yang—Ino! Apa yang terjadi?! Di mana …."
Ino kembali menghapus jejak air mata di wajahnya. Matanya menyorotkan ketegasan yang mencerminkan kekuatan.
"Kurenai, dengarkan aku. Dengar. Aku akan ke atas sekarang," ujar Ino cepat sembari memegangi lengan Kurenai. "Aku akan menghentikan Sai selama beberapa saat. Setelah itu …." Ino menoleh ke arah Shikamaru yang masih terpaku. Gadis itu memberikan satu senyum dengan alis yang terangkat sebelah. "Dengan pemuda itu, kaubantu dua orang yang pingsan di sana untuk keluar ke permukaan."
Ino pun bangkit berdiri. Ia mengangguk untuk terakhir kalinya pada Kurenai dan segera bergegas. Sebelumnya, ia sempat menepuk pundak Shikamaru dan memberikannya seulas senyum yang lain serta sebuah bisikan.
"Maafkan aku. Tapi … manfaatkanlah kesempatan ini sebaik-baiknya."
Shikamaru mengikuti sosok Ino yang berlari keluar gedung sebelum ia ragu-ragu mengalihkan perhatiannya kembali. Sosok wanita bernama Kurenai di hadapannya tengah memandangi tangannya sendiri. Wanita itu mengangkat tangannya dan memosisikannya di depan wajah Shikamaru yang masih berjarak jauh darinya.
Perlahan, Kurenai mencoba bangkit. Ia tak serta-merta dapat berdiri tegak di atas kedua kakinya karena telah lama sekali ia lupa rasanya berjalan. Syukurlah, ia tidak terjatuh dan menghantam lantai keras di bawahnya—terima kasih pada Shikamaru yang dengan sigap menangkap tubuhnya. Kurenai pun hanya bisa tersenyum canggung sambil tetap berusaha untuk memosisikan kakinya agar bisa berdiri tegak.
Usahanya membuahkan hasil. Pada akhirnya, dengan konsentrasi penuh, Kurenai berhasil berdiri tanpa bantuan. Ia memandang Shikamaru dan mengisyaratkan pemuda itu untuk melepaskannya seorang diri. Shikamaru menuruti perintah non-verbal itu tanpa kata-kata.
Sesaat, keheningan itu terasa menyesakkan.
"… Jika … aku bisa terbangun seperti ini … artinya …."
Shikamaru menggigit bibir bawah. Ia tidak bisa mengatakan apa-apa. Bahkan saat samar-samar ia melihat air mata di wajah sang wanita.
"Kita … bicarakan hal ini nanti saja." Shikamaru susah payah menelan air ludanya. Kecanggungan ini membuatnya tidak nyaman. Terutama … setelah ia memastikan melalui sekelebat ingatan yang ia lihat sendiri di dalam kepalanya.
"Tolong bantu aku," ujarnya tanpa melihat ke arah Kurenai.
Shikamaru segera beralih pada Kakashi dan mencoba membopong pria itu. Namun, belum beberapa langkah, Kurenai menghentikannya.
"Jangan digerakkan dahulu! Dia … terluka parah, bukan?"
Shikamaru menoleh. Kini ia bisa melihat Kurenai yang melihat dalam pandangan yang khawatir. Bukan melihat ke arahnya ataupun Kakashi.
Asuma—Sarutobi Asuma.
Kurenai bergerak perlahan dan berhati-hati. Setelah guncangan terakhir, bebatuan yang berada di lantai sedikit menghambat jalannya. Apalagi ia tidak mengenakan alas kaki apa pun dan ia baru saja berhasil menguasai kedua kakinya hingga ia bisa kembali berjalan dengan cukup stabil. Begitu ia sampai tepat di sebelah Shikamaru, ia pun berjongkok untuk memeriksa keadaan lelaki di sampingnya.
Diulurkannya tangan seputih susu itu ke wajah Asuma—menyentuhnya sedemikian lembut. Lalu … air mata itu tak kuasa ia bendung.
"Dasar bodoh …."
Bersamaan dengan itu, menggunakan tangannya, Kurenai menutup luka-luka luar yang tampak. Seolah tangannya adalah perban tak terlihat, ia mengusapnya dengan halus ke setiap luka yang ada di tubuh Asuma. Sekejap saja, kulit-kulit yang sebelumnya menganga itu menutup.
Setelah selesai dengan Asuma, ia menengok ke arah Shikamaru. Shikamaru pun kini melihat ke arahnya. Mereka beradu pandang beberapa saat sebelum Kurenai menyunggingkan sebuah senyum.
"Tak adakah … yang ingin kautanyakan padaku?"
Beberapa saat, Shikamaru hanya termangu tanpa bisa menjawab. Selanjutnya, ia menyingkir sedikit untuk memberikan jalan bagi Kurenai agar bisa menutup luka Kakashi. Kurenai melakukan tugasnya dalam diam.
"Jika tidak ada yang ingin kautanyakan … mungkin …."
"Jangan katakan bahwa ini adalah perpisahan," ujar Shikamaru dengan suara yang parau. Kurenai spontan menghentikan aksinya dan menoleh. "Kita … baru saja bertemu, bukan?"
Kurenai berdiri untuk menyamakan tinggi dengan Shikamaru yang saat ini sudah berdiri. Pemuda itu menundukkan kepalanya.
"Aku … tidak memiliki ingatan apa pun tentangmu sampai tadi … karena itulah, aku tidak bisa mengatakan apa-apa. Tapi, jangan bilang kalau kau akan meninggalkanku … la … gi …."
Ucapan Shikamaru terpotong oleh Kurenai yang mendadak memeluknya. Wanita itu tidak mengatakan apa-apa pada awalnya dan hanya mengeratkan pelukannya. Begitu tangan Shikamaru balas memeluknya, Kurenai pun akhirnya dapat berkata dengan suara yang semakin serak akibat tangisannya.
"Ma … afkan … aku …."
Shikamaru tidak dapat menahan dirinya lagi. Masa bodohlah! Persetan dengan air mata dan stereotype bahwa laki-laki tak boleh menangis!
"Ibu …."
.
.
.
Shikamaru menghela napas panjang. Tangannya kemudian bergerak lambat untuk mengangkat kotak berisi teropong bintang yang sudah ia rapikan. Ia pun menggeser pintu yang menuju ke kamar apartemennya dan kemudian meletakkan kotak teropong bintang itu di atas meja bundarnya begitu saja.
Ia sendiri kemudian melangkah ke kasur dan membaringkan tubuhnya di sana. Matanya terpejam dan dalam ruangan itu, hanya dadanya yang naik-turun yang menjadi satu-satunya pergerakan—pertanda bahwa ia masih hidup. Lebih tepatnya, ia kembali pada kehidupan normalnya. Dengan penyelesaian yang harusnya menjadi suatu kewajaran baginya yang tak suka hal-hal merepotkan.
Shikamaru tetap menyandang nama Nara. Sarutobi Asuma hanyalah salah satu profesor di kampusnya—sebagaimana halnya dengan Hatake Kakashi. Tak ada satu pun di antara mereka yang mengingat persis apa yang baru saja terjadi. Yang mereka ketahui hanya bahwa telah terjadi kesalahan teknis pada suatu mesin di ruang penelitian bawah tanah yang berakhir dengan sebuah ledakan. Peneliti lain pun membenarkan pernyataan ini.
Tak pernah ada orang bernama Uchiha Fugaku—tubuhnya tak ditemukan di antara puing-puing bangunan dan bahkan tak ada seorang pun anggota keluarganya yang mengingat. Ia lenyap begitu saja dan hanya tertinggal dalam ingatan samar Shikamaru.
Pula, tak pernah ada sesosok perempuan bernama Yamanaka Ino yang terlibat dalam kasus meledaknya gedung penelitian kampus jurusan astronomi. Tidak ada Kurenai. Tidak ada Sai. Tidak ada bangsa Averian dan makhluk-makhluk extraterrestrial yang keberadaannya masih bagaikan tanda tanya.
.
.
.
Satu guncangan di tempat mereka berpijak membuat Shikamaru dan Kurenai tersadar bahwa ini bukan saat yang tepat untuk melepas rindu. Setelah saling berpandangan, akhirnya mereka mengangguk bersamaan. Saling pengertian seketika terbentuk di antara mereka.
Dengan susah payah, mereka membopong Asuma dan Kakashi yang belum sadarkan diri. Meskipun demikian, di perjalanan mereka menuju permukaan, samar-samar Shikamaru bisa mendengar suara lirih Asuma.
"Ku … renai …," katanya.
Namun, hanya sampai di sana. Selanjutnya tak terdengar sepatah kata pun lagi. Mereka hanya bisa bergegas hingga napas keduanya terengah. Tidak ada salah satu yang lebih baik; Shikamaru yang sudah kehilangan core hanyalah seorang pemuda biasa yang tak suka olahraga dan Kurenai yang baru saja terbangun dari tidur panjang masih membutuhkan adaptasi untuk setiap pergerakan yang ia lakukan.
Sesampainya di halaman kampus, mata Shikamaru terbelalak. Di hadapannya, sebuah benda berbentuk elips yang sangat besar telah mendarat sempurna. Namun, benda itu tidak bergerak. Asap di sekeliling benda itu menghalangi Shikamaru untuk bisa melihat dengan jelas. Alih-alih berusaha bergerak mendekat, Shikamaru menoleh ke arah Kurenai.
Wanita itu rupa-rupanya tengah balik memandanginya. Seulas senyum terpampang di wajahnya—bukan senyum yang terlalu menyenangkan untuk dilihat. Dengan berhati-hati, Kurenai meletakkan Asuma hingga lelaki itu duduk bersandar di sebuah pilar bangunan yang masih kokoh. Shikamaru pun melakukan hal yang sama untuk Kakashi.
Keduanya kemudian kembali menghadap ke arah pesawat luar angkasa yang diduga milik bangsa Averian tersebut. Entah sejak kapan, di hadapan mereka sudah berdiri seorang perempuan berambut pirang pendek. Di sebelah perempuan tersebut, berdiri sesosok lelaki muda berambut hitam yang kontras dengan warna kulitnya yang seputih susu.
Diam-diam, Shikamaru mengamati sosok lelaki tersebut lebih lama. Pikirnya, Ino telah berhasil membujuk siapa pun lelaki itu untuk menghentikan serangan Averian terhadap bumi. Sepertinya, mereka tepat waktu dan bencana paling mematikan bisa terhindarkan.
Mendadak saja, suara Kurenai mengalihkan perhatiannya.
"Sai …."
"Lama tak berjumpa, Kurenai. Dan … selamat datang kembali."
Dengan kaki yang sudah jauh lebih stabil, Kurenai pun bergerak mendekat ke arah lelaki yang dipanggilnya Sai. Berkebalikan dengan Kurenai, Ino justru melangkah maju mendekati Shikamaru.
Begitu jarak keduanya tinggal beberapa meter, Ino mendadak tersenyum lebar. Ia kemudian mengulurkan tangannya.
"Terima kasih atas semua bantuanmu, sampai saat ini."
Mata Shikamaru menyipit. "Sai itu sebenarnya … siapa?"
Ino menoleh ke belakang. Bersamaan dengan itu, Kurenai dan Sai juga tampak memandangi mereka. Hanya beberapa saat sebelum keduanya tidak lagi mengacuhkan Ino dan Shikamaru lalu terlarut dalam percakapan yang entah apa.
"Dia itu, bangsa Averian sama seperti kami. Kau juga sudah tahu, 'kan?"
"Bukan masalah itu. Kau dan dia itu—"
"Ah?" Ino mengangguk paham. "Sai itu tunanganku, Shika," jawab Ino akhirnya sambil menarik tangannya yang tak disambut oleh Shikamaru. Ia kemudian meletakkan kedua tangannya dengan nyaman di balik punggung. Senyumnya masih juga tidak hilang.
"Tunang—apa?"
Ino terkekeh. "Aku sudah tidak punya utang lagi untuk diceritakan padamu, 'kan?"
"Sebentar," ujar Shikamaru sembari mencengkeram lengan Ino secara tiba-tiba. "Kau—kau berutang terlalu banyak penjelasan sampai aku bingung harus bertanya mulai dari yang mana. Ino! Jangan katakan—"
"Apa, sih? Kenapa kau jadi panik seperti itu?" Ino tertawa sebentar sebelum ia berhenti dan menghela napas. Ia kemudian melepaskan cengkeraman tangan Shikamaru. "Maaf, ya, Shika … aku akan menyelesaikan sisanya. Tugas terakhirmu tinggal memastikan bahwa Asuma dan Kakashi mendapat perawatan yang baik hingga mereka sembuh."
Shikamaru bergeming. Dia tidak lagi bisa mengatakan apa-apa.
Ino semakin mendekat ke arahnya sebelum gadis itu menggenggam tangan Shikamaru dan kemudian mengecup pipi sang pemuda. Shikamaru tak bisa berpikir apa-apa lagi—persetan dengan tunangan Ino yang mungkin melihat mereka.
Pemuda berambut hitam yang kunciran nanasnya sudah berantakan itu kemudian menarik Ino dan memeluknya.
"Jangan—" suaranya seolah terhalang oleh sesuatu, "—jangan pergi."
Tanpa terlihat oleh Shikamaru, Ino tersenyum lembut. Ia sudah menumbuhkan satu perasaan sayang pada pemuda di hadapannya. Sejak pemuda itu masih seorang bocah polos yang belum mengenal dunia sampai akhirnya ia tumbuh menjadi pemuda jenius yang bisa diandalkan.
Dari dasar lubuk hatinya, Ino benar-benar berterima kasih pada Shikamaru. Padahal ia sudah seenaknya memanfaatkan pemuda itu demi kepentingannya. Namun, meksipun mengeluh, Shikamaru sama sekali tidak menunjukkan punggungnya untuk meninggalkan Ino. Dia ada untuk menolong Ino. Oh—entahlah. Mungkin juga untuk menolong ibu kandungnya dan juga bumi tercintanya. Tapi tetap saja ….
"Shikamaru … terima kasih."
Ino mendorong tubuh Shikamaru. Terakhir, sekali lagi, gadis itu menunjukkan senyuman lembutnya. Ia ingin, agar sosoknya inilah yang terekam dalam ingatan Shikamaru selalu. Bukan air mata, bukan perpisahan yang melankolis.
Senyumannya. Wajah bahagianya. Ekspresi tercantiknya.
Ia ingin agar hal-hal itulah yang diingat Shikamaru di detik-detik perpisahan mereka.
"Tapi ini adalah saatnya perpisahan." Ino memejamkan mata sambil bergerak mundur. "Denganmu … juga dengan bumi yang kucintai …."
Lalu bumi bergetar kembali seakan merespons kata-kata terakhir Ino. Cahaya putih benderang serta asap yang mendadak menyebar kemudian mendesak Shikamaru untuk mengangkat tangannya ke depan wajah. Mati-matian ia berusaha untuk bisa membuka mata meski hanya sedikit—tangan sebagai penghalang cahaya menyilaukan itu tidak banyak berguna. Di tengah-tengah kebutaannya, samar-samar Shikamaru pun bisa melihat benda raksasa itu mulai bergerak.
Tidak, ini tidak boleh berakhir sampai di sini.
Ia masih tidak tahu apa-apa. Semua masih menjadi misteri—semua terlalu gelap untuk bisa disebut terang.
Ia belum banyak berbicara dengan ibunya.
Ia belum benar-benar memahami perasaan aneh yang kerap membuat perutnya melilit di saat-saat yang tak tepat.
Terlalu cepat. Ini tidak boleh berakhir sampai di sini.
Sekelebat gambaran memaksa masuk ke dalam benak Shikamaru. Matanya pun seolah terbuka lebar hingga ia bisa melihat dengan jelas semua hal yang tersaji di depan matanya.
Dalam gambaran yang bagaikan reka ulang itu, ia bisa melihat sosok Asuma yang lebih muda dan Kurenai yang sama sekali tak berubah sedang bercanda-canda dengannya—dengan sosoknya begitu mungil dan tak berdaya.
Oh? Shikamaru menyusut menjadi sesosok bayi. Apalagi ini?
"Dia akan tumbuh jadi anak yang jenius sepertimu. Yang mengharapkan perubahan dan perkembangan yang baik bagi bumi dan tempat hidupnya."
"Yah, kurasa dia juga akan tumbuh menjadi anak yang mencintai alam sepertimu."
Kurenai tersenyum. Lalu dengan main-main, ia mencubit lengan Asuma yang kemudian mengaduh kesakitan.
"Kalau begitu, dia tidak boleh menjadi perokok sepertimu. Aku benci rokok, benda itu berbahaya. Bagi bumi, bagi dirimu, bagi Shikamaru …."
"Kau menang, Kurenai."
Asap rokok itu tidak jadi mengudara. Alhasil, Kurenai membiarkan dirinya bersandar pada dada bidang Asuma. Mereka kembali bercanda tawa—membicarakan masa depan yang indah. Tentang bagaimana hidup mereka telah begitu lengkap dengan kehadiran sang putra. Pembicaraan yang hangat, tetapi terasa begitu memilukan.
"Auuuh …." Shikamaru menangkat kedua tangannya—membuat Kurenai dan Asuma berhenti berbicara dan memfokuskan perhatian mereka pada sang bayi.
"Gendonglah dia, Asuma."
"Ha! Ha! Baik, baik. Asal dia tidak menjambak janggutku saja seperti tempo hari."
Tubuh Shikamaru berpindah dari tangan Kurenai ke tangan Asuma diiringi dengan tawa yang menenangkan hati. Namun, belum sampai perpindahan itu sempurna, mendadak Shikamaru merasa tertarik gravitasi dan terjatuh.
Ia tidak benar-benar terjatuh pada akhirnya. Ia bahkan bisa berdiri dengan kedua kakinya. Dan begitu ia mendongak, ia bukan lagi menemukan Asuma dan Kurenai.
Sosok di hadapannya adalah seorang gadis berambut kuning pucat dengan rambut diikat kuncir kuda. Tangan gadis itu perlahan terulur ke arah Shikamaru seolah hendak menutup matanya. Entah apa yang membuatnya berubah pikiran, tapi gadis itu kemudian menarik kembali tangannya.
"Jurusan Astronomi—jurusan yang mempelajari tentang antariksa, makhluk-makhluk di luar bumimu ini… ya! Jurusan itu! Itu tujuanmu!"
Gadis itu berkata dalam suatu suara dan kata-kata yang familiar. Shikamaru yakin, ia pernah mendengar kata-kata yang membangkitkan nostalgia ini sebelumnya. Ia tahu pasti siapa gadis di hadapannya. Ia tahu pasti apa yang gadis itu harapkan darinya.
Air mata mendadak mengalir di kedua belah pipi Shikamaru.
"Wasurenaide ne!—Jangan lupa."
Shikamaru menggeleng perlahan. Sekali itu, ia menyambut uluran tangan si gadis yang saat itu lebih tinggi darinya dan menggenggamnya erat.
Lamat-lamat, Shikamaru menjawab,
"Aku tidak akan pernah lupa."
.
.
.
Kenangan yang berada di balik kenangan itu membuat Shikamaru membuka mata dengan heran. Alisnya mengernyit pertanda tak paham. Segala sesuatunya seolah tak masuk akal.
Perlahan, Shikamaru mengangkat tubuhnya hingga ia dalam posisi duduk di atas ranjang. Dengan sebelah tangan, ia menggaruk bagian belakang kepalanya. Mau tidak masuk akal pun, masa lalunya adalah nyata. Dan masa lalu itulah yang telah membantu Shikamaru untuk mencapai dirinya yang sekarang. Yang perlu ia lakukan adalah bersyukur.
Bersyukur bahwa ia masih hidup—bersyukur bahwa buminya masih utuh seperti sedia kala.
Bersyukur bahwa segalanya sudah usai.
"Sial." Ia mendecak. "Katanya, gratitude makes sense of your past, brings peace for today, and creates vision for tomorrow. Tapi kenapa dalam kasusku, tetap saja semua abu-abu?"
Shikamaru menenggelamkan wajahnya ke dalam kedua telapak tangannya. Rasanya masih ada yang mengganjal, rasanya masih ada yang tidak tepat.
Memang, tidak ada keributan besar yang terjadi karena hancurnya sebagian besar gedung fakultas. Ia juga seakan tidak dilibatkan; bahkan Asuma dan Kakashi hanya mengenalinya sebagai salah satu mahasiswa jenius di jurusan astronomi. Semua benar-benar bersih seolah yang baru saja terjadi hanyalah mimpi belaka.
Yamanaka Ino—dia jelas bukan ilusi. Namun, apa perasaan yang gadis itu tinggalkan padanya … hanya sebatas khayalan semata?
"Lebih menyebalkannya … dia meninggalkanku begitu saja sebelum misteri ini terjawab. Sial!"
Umpatan kekecewaan Shikamaru terhenti tatkala ia mendengar ponselnya berbunyi. Awalnya, Shikamaru hanya bisa memandangi benda kecil yang tergeletak di atas meja belajarnya tanpa melakukan apa-apa. Ia ingin mengabaikan panggilan tersebut. Tapi toh akhirnya, ia turun dari kasurnya untuk mendengarkan apa mau si penelepon.
Nomor yang asing baginya.
"Halo?"
Tidak ada suara jawaban.
"Halo?" tanya Shikamaru sekali lagi.
Suara di seberang teleponnya terdengar kasak-kusuk tapi ia belum juga bisa mendengar jelas apa yang diinginkan si penelepon. Shikamaru masih menunggu beberapa saat sebelum kesabarannya habis. Saat ia hendak memutus sambungan teleponnya, mendadak ia mendengar suara.
"Pssst … pssttt …."
"Halo?" ulang Shikamaru. "Siapa di sana?"
Denging panjang membuat Shikamaru harus menjauhkan ponselnya dari telinga. Ia sudah hendak mengancam akan mematikan sambungan saat ia akhirnya bisa mendengar sebuah suara yang lebih jelas,
"… Tidak ada yang tidak mungkin, bukan? … Bahkan suatu pertemuan yang terkesan tak masuk akal sekalipun …."
"Apa? Apa maksudmu? Siapa ini?"
"… Keluarlah! Jangan sia-siakan kesempatan ini!"
TUUUTTT—
Sampai di sana, pembicaraan terputus. Meninggalkan Shikamaru dalam suatu kebingungan yang lain. Ia tidak bisa mengatakan dengan pasti, tapi suara yang barusan berbicara dengannya terdengar begitu jauh—sangat jauh. Meski menimbulkan suatu kerinduan tersendiri. Ia tidak mau menerka, ia terlalu takut untuk itu.
"… Ini … terlalu aneh."
Ia pun mengantongi ponselnya dan bergerak dengan malas-malasan ke arah pintu. Begitu pintu depannya terbuka, ia bisa mendengar pekikan seorang gadis yang nyaris terhantam pintunya.
"Sorry," ujar Shikamaru singkat tanpa mau repot-repot mengamati sosok si gadis. Pikirannya kala itu sudah berkutat ke mini-market yang mungkin bisa ia kunjungi karena ia sudah terlanjur meninggalkan kamar. Daripada ia keluar kamar di malam hari tanpa tujuan?
"Hei! Tidak sopan sekali caramu mengatakannya! Lihat ke orangnya saat kau sedang meminta maaf!"
Suara itu ….
Langkah Shikamaru pun terhenti dan ia menoleh. Di hadapannya, berdiri sesosok gadis berambut pirang pucat dengan model ikatan kuncir kuda. Gadis itu berkulit kuning langsat dan tangannya ia letakkan dengan nyaman di pinggang.
Saat itu Shikamaru merasa bahwa penglihatannya bermasalah. Tapi, sosok di hadapannya itu … nyata, 'kan?
"… Bahkan tidak akan ada orang lain yang sama sepertiku. Aku hanya satu di dunia ini."
"Kau mau mengabaikan kemungkinan bahwa di dunia akan ada satu-dua orang yang mirip denganmu?"
"Mirip bukan berarti sama,'kan? Mendokuse."
"Apa? Ada sesuatu di wajahku?" Gadis itu menatap Shikamaru dengan pandangan menyelidik. Tangannya bahkan kini terangkat ke wajahnya yang tampak begitu memesona—meskipun bagian mata kanannya terhalang oleh poni panjang.
Shikamaru menelan ludah dan menggeleng.
"Kau … penghuni baru di sini?"
"Oh, ya. Begitulah." Sejenak, gadis itu tampak melupakan amarahnya. Seulas senyum yang membuat Shikamaru tak bisa melepaskan pandangan tertoreh di wajahnya. "Aku anak jurusan botani. Semester awal. Sebelumnya aku tinggal bersama orang tuaku, tapi kupikir, hidup sendiri akan jauh lebih menyenangkan!"
Shikamaru tersenyum kecil.
Belum berakhir. Ceritanya bahkan mungkin baru akan dimulai. Meski masih terlalu dini untuk menyebutnya takdir, tapi mungkin pula ini bukan sekadar kebetulan—
Love is our destiny. We do not find the meaning of life by ourselves alone—we find it with another.
—biarkan tangan Dewi Cinta bekerja untuk mengatur benang merahnya. Pertemuan kalian di masa lampau, pertemuan kalian di saat ini … keping-keping puzzle yang sempat berantakan perlahan akan tertata rapi kembali.
Dengan satu keputusan yang tepat. Tanpa perlu melupakan segala keajaiban yang telah terjadi.
Inilah halaman baru baginya yang bisa ia torehkan sederet kata untuk menyelesaikan satu misteri. Well, bumi masih berputar, Yamanaka Ino yang ia kenal sudah meninggalkan bumi dan kembali ke planet asalnya, Shikamaru pun tidak bisa terus-terusan berdiam di satu tempat, bukan?
"Nara Shikamaru," ujar Shikamaru ringan.
"Eh?" Gadis itu mengerjapkan mata—tampak tak begitu mendengar perkataan Shikamaru sebelumnya.
"Namaku Nara Shikamaru. Siapa namamu?"
Gadis itu menghela napas sebelum tersenyum miring. Lalu, ia pun berjalan santai ke arah Shikamaru dan mengulurkan tangannya.
"Perkenalkan! Namaku …."
.
.
.
***THE END***
A/N :
- Quotes from Melody Beattie: Gratitude makes sense of your past, brings peace for today, and creates vision for tomorrow
- Quotes from Thomas Merton: Love is our destiny. We do not find the meaning of life by ourselves alone—we find it with another.
… FINALLY! FINALLY SODARA-SODARAAA! AIAAAHH! FF EXTRATERRESTRIAL AKHIRNYA TAMAT JUGAAA! WOHOOOO! *loncat-loncat tebar bunga*
Ya, ampun, udah berapa tahun sejak ff ini pertama kali publish, ya? Maafkan saya yang sangat amat lama sekali dalam meng-update. Maaf juga kalau ada penurunan kualitas penulisan dan cerita. I've tried my best to finish it the way it should finish. Moga-moga semua cukup terhibur dengan ff EXTRATERRESTRIAL ini :')
Jujur, ini ff paling nguras otak pas bikinnya. Alurnya bikin aku njelimet sendiri dan di tengah-tengah, saya sempet yang ngerasa, 'Aduuuh! Apa sih yang udah aku bikin iniii?!' Tapi syukurlah, akhirnya saya berhasil juga nyelesein ff ini.
Di chapter terakhir ini, saya mau ucapin terima kasih sebanyak-banyaknya sama semua yang udah baca, sabar nunggu dan ngikutin dari awal cerita ini sampai akhir (including silent reader), para reviewer sekalian, juga yang udah nge-fave dan nge-follow cerita ini. Dih, tanpa kalian udah lama aku meregang nyawa (?) terhadap ff ini. T^T
Selanjutnya, aku balesin dulu review non login, ya. Yang login saya bales via PM langsung :')
Kaname: thank you! Iya, ini nggak terlalu lama kan update-nya? :3
Rerec Aozora: Rereee-chaaan! Ke mana aja dikaaau? Lagi sibuk banget yaah? Uhuhuhu ;A; thank you udah nyempatin baca n review yah, Dear. Kangen iiih~ #hughug Anyway, masama yah, say. Sorry for the typo, ehee! Berarti mata udah agak jereng :') iya, sama nih aku juga bingung (?) tapi moga-moga chapter terakhir ini udah memberi pencerahan yaah XD
NSLovers: sama kok, ini juga ketinggian buat otak aku, udah ngepul-ngepul ini otak saking panasnya _ anyway, selamat membaca chapter terakhirnya! :D
Done. Last but not least, please give this story a review (especially for the final chapter). Your opinions, your thoughts, constructive criticisms are very much welcomed and appreciated indeed! :D
I'll be waiting.
Regards,
Sukie 'Suu' Foxie
~Thanks for reading~
