Disclaimer: Masashi Kishimoto

Chapter 2

"Kamu menungguku, ya?"

Sakura nyengir sejenak. "Mungkin."

"Aku selalu duduk disana..." lelaki berambut pirang itu menunjuk bangku taman yang terletak beberapa meter dari jembatan. Pohon besar dibelakangnya mulai berubah menjadi merah muda perlahan-lahan, meninggalkan warna hijau yang sebelumnya melekat.

"Untuk apa duduk disana?" tanya Sakura. Dalam hati, kesal dihatinya mulai membara. Ia menunggu seseorang yang hanya duduk jauh dibelakangnya? Cih, mengesalkan!

"Memandangmu yang menungguku."

Seakan tiupan angin musim semi berhembus dihatinya, panas dihatinya berubah sejuk.

"Ah, aku lapar."

Sakura membulatkan matanya. Bahkan, ia belum tahu nama lelaki ini! Apa lelaki ini mau mentraktirnya atau...

"Cari makan yuk!" seru lelaki itu, kemudian melangkah pergi.

Sakura tidak terbengong terlalu lama. Ia mengambil segenggam kerikil yang ada disudut jembatan, lalu melemparkannya keras-keras hingga mengenai punggung lelaki itu. Dan ada sebuah yang mendarat tepat dileher lelaki itu. Sakit.

"Hei! Kau kira aku mau saja pergi denganmu?!" seru Sakura sengit. Rahangnya mengeras.

"Memangnya ada alasan kau menolakku?" tanya lelaki pirang itu seakan tak acuh, sesaat kemudian berjalan medekati Sakura dan menarik pergelangannya.

Duaak!

Diikutsertakan dalam berbagai kegiatan klub ternyata ada gunanya. Salah satu klub yang pernah Sakura ikuti, yang Sakura mengingatnya sebagai klub bela diri, pernah mengajarinya teknik pembelaan diri. Yang menakjubkannya, dikuasainya dalam sekejap sehingga ia tak pernah datang ke klub itu lagi walau sering diajak senior-seniornya.

"Awh,..." lelaki pirang itu mengelus pipinya yang memerah. Mundur beberapa langkah dari Sakura. "Kau ini kenapa?"

"Aku bukan cewek yang seenaknya saja bisa kau tarik-tarik! Baka!"

"Hhh.. aku bosan mendengar kata bodoh." Lelaki pirang itu mengeluarkan dompetnya, mengeluarkan sebuah kartu dan melemparnya pada Sakura.

Dan segera ditangkap Sakura dengan baik.

Kartu pelajar. Naruto Uzumaki, 46371128, Kokoro High School.

Tak jauh dari sekolah Sakura.

"Jadi namamu Naruto-kun, baka?" tanya Sakura sambil tersenyum jail.

"Jangan panggil aku begitu!" lelaki pirang itu-Naruto mendengus dan segera memalingkan wajah. "Baka, bodoh, bodoh. Aku muak dengan itu."

Naruto melangkah cepat, lebih cepat dari sebelumnya.

"Hei!" Sakura berlari menyusul, napasnya terengah saat menjajari langkah Naruto.

"Baiklah, maafkan aku, oke?" ucap Sakura, jemarinya membentuk huruf v-peace.

Senyuman Naruto melebar. "Kalau begitu, traktir aku."

Sakura menghela napas. "Baiklah."

Dan, itu interaksi kedua mereka setelah di jembatan kala itu.

-X-

Seorang gadis. Pasti sering melakukan ini.

Sakura merebahkan dirinya sejenak, memandang langit-langit kamar, membiarkan buku-buku PRnya berserakkan disisi tempat tidurnya.

"Ya... uangku habis gara-gara lelaki itu." ucap Sakura. Sebelah tangannya memegang ponsel kedekat telinganya, jelas ia sedang menelepon. Tepatnya bercerita. "Dia begitu konyol, aneh, tapi ternyata bisa membuatku tertawa."

Diseberang telepon, Hinata ikut tertawa mendengar ucapan Sakura. "Akhirnya Sakura kembali kesedia kala. Sakura yang bawel, gak bisa diem, tapi gak seketus minggu-minggu sebelumnya. Jangan-jangan, kamu begitu ketus karena lelaki itu?"

Sakura meraih bolpoinnya, dari antara buku-buku PR, memainkannya dengan jemarinya.

"Enggak juga."

"Aku cuma mau ingetin kamu. Tadi banyak guru-guru bicarain kamu. Murid-murid juga. Kata mereka, kamu enggak seperti dulu yang hampir ngikutin semua klub dan aktif di organisasi. Bisa-bisa kamu dikeluarin, atau banyak gosip gak mengenakan soal kamu." celoteh Hinata panjang lebar. Hanya untuk Sakura saja, Hinata mau bicara sebanyak mungkin.

Agar Sakura bisa merasa bahagia seperti dirinya saat ini.

"Iya, aku gak akan bolos lagi."

"Ternyata memang karena laki-laki itu. Kamu udah gak ngebolos lagi hanya karena udah ketemu laki-laki itu."

"Sepertinya begitu," Sakura tersenyum. "Tadi dia bilang, dia akan selalu ada di taman berjembatan itu sampai senja berakhir. Tiap hari. Aku tak perlu terburu-buru, aku bisa ikut klub yang berlangsung sampai pukul lima."

"Baguslah kalau begitu, sudah dulu ya. Aku mau tidur." ucap Hinata, terdengar suara gadis itu menguap pelan.

"PR-mu?" Sakura langsung terduduk ditempat tidurnya, kaget. Hinata enggak ngerjain PR? Dia saja belum selesai!

"Aku mengerjakannya sambil kau mendongeng ditelingaku. Tentangmu dan pangeranmu itu."

"HIAA! Hinata!"

"Tuut... tuuut... tuuuuut..."

Telepon terputus.

Padahal Sakura baru saja mau mengeluarkan serentetan omelan. Gadis yang cerdas di sekolah memang berbeda. Bisa mengerjakan PR sambil meneleponnya!

Baiklah, besok ia akan datang pagi dan meminjam PR Hinata.

Kini siapa lagi yang sebaiknya Sakura telepon...

-X-

Musim Semi dan Senja... berakhir sementara disini!

Mulanya aku mau memperpanjang chapter 2 ini. Tapi karena terbatasnya waktu(karena aku hanya update seminggu sekali), juga kesibukan yang begitu banyak(apa lagi belakangan ini alergiku kambuh), jadi aku hanya bisa membuatnya sampai sini. Sumimasen!

Mohon maklum ya, semua. Terutama jika pairnya kurang ngena dihati, karena sesungguhnya aku belum menemukan suatu hal "istimewa" dan "unik" untuk fanfict ini. Jadi, terus dibaca untuk selanjutnya, ya. Semoga perkembangannya akan semakin baik. Arigatou