Disclaimer: Masashi Kishimoto
Chapter 3
Hari ini lagi, dipenghujung jembatan, kedua anak manusia itu bertemu. Keduanya bergantian melempar kerikil sebanyak mungkin kedalam sungai hingga mereka merasa lelah.
Wajah mereka bersemu merah, capek, juga karena hari ini suhu begitu tinggi, berbeda dengan hari kemarin.
Kata Naruto, ini seperti musim panas dalam sehari.
"Ceritakan tentang dirimu." ucap Sakura.
Kemarin, di kedai ramen pilihan Naruto yang terletak dipinggir jalan, Sakura mendapat perintah yang sama. Akhirnya, Sakura menceritakan segalanya-membuatnya merasa lepas karena bisa mengeluarkan unek-unek masa sekolahnya.
Mungkin bagi sebagian orang, menjadi most popular di sekolah begitu menyenangkan, keren, dan menaikan derajat sosial. Begitu pula yang dirasakan Sakura pada awalnya. Digilai banyak lelaki dan mendapat hadiah yang banyak mulanya membuatnya merasa demikian.
Namun, belakangan ini dia merasa jenuh. Jenuh dengan kehidupannya. Jenuh karena diam-diam ada yang membicarakan hal buruk dibelakangnya, padahal didepannya bersikap begitu manis. Jenuh dengan hadiah-hadiah yang sebenarnya tak ia perlukan.
Sakura akhirnya memutuskan untuk pergi sejenak. Merenung, memandangi air sungai yang jernih dan memantulkan bias wajahnya. Memperhatikan seorang lelaki yang melempar kerikil jauh-jauh, dan baru diketahuinya bernama Naruto kemarin.
"Hari ini kau datang sedikit sore." ujar Naruto kalem. Dia tidak tertawa. Tak bersikap konyol. Mungkin ia berusaha untuk mengalihkan pembicaraan, walau sulit sehingga memberi kesan sangar diwajahnya.
"Ya, aku sibuk hari ini." kata Sakura.
"Sesibuk apa?" tanya Naruto. "Sesibuk apapun dirimu di sekolah, kau tidak boleh membuat dirimu terjebak dalam segala urusan sekolah."
"Kau tahu aku. Aku ikut berbagai klub dan..."
"Iya aku tahu." sela Naruto. "Hm, maaf. Aku tidak sepertimu."
"Oke." sahut Sakura ringan. Dia melipat tangannya didepan dada. "Jadi, ceritakan dirimu."
"Kamu memaksa sekali." dengus Naruto.
"Well. Aku telah menceritakan hidupku padamu. Kau seharusnya juga." ujar Sakura. Nadanya terdengar menantang.
"Baik, baik..." ucap Naruto tenang.
Sakura tersenyum.
"Aku bukan orang yang populer, kau tahu... aku tak dikenal banyak orang."
Perkataan Naruto membuat Sakura penasaran akan sesuatu. "Bagaimana rasanya?"
"Rasanya?"
"Ya."
"Entahlah. Eng... aku merasa orang-orang menjauh dariku, menganggapku seakan aku tak ada, asing." kata Naruto, suaranya perlahan terdengar getir.
"Oh ya? Kurasa, banyak anak yang tak populer tapi tidak merasakan seperti itu."ujar Sakura.
Ternyata, kata-kata Sakura barusan adalah kata-kata yang salah yang seharusnya tak terucap.
"Kau tidak mengerti aku!" seru Naruto, rahangnya mengeras.
Sakura terdiam. Disisi hatinya dia ingin ikut marah, tapi ia tahu saat ini bukanlah saat yang tepat.
"Aku memang tidak sepopuler dirimu hingga diundang berbagai acara klub. Aku memang tidak begitu disukai banyak orang di sekolahku. Tetapi aku pernah merasakannya dulu, jadi aku tahu rasanya menjadi anak seperti dirimu." kata Naruto, suaranya terdengar tajam, dalam, membuat hati Sakura terasa beku.
Padahal ini musim semi yang tak terlalu panas, tapi Sakura tahu dari mata Naruto, ada terbersit kebencian dari kata-katanya, sehingga bukan fisiknya saja yang mengeluarkan keringat, namun hatinya seperti terbakar.
Sakura menghelakan napasnya. "Lalu?"
"Lalu? Jangan tanyakan pertanyaan yang tak bisa kujawab."
"Lalu, sekarang sebenarnya, bagaimana keadaanmu? Apa yang mau kau lakukan?" tanya Sakura hati-hati.
Naruto mengambil segenggam kerikil, melemparnya kedalam sungai, menunggu beberapa saat sampai jatuh kedasar.
"Aku ingin membuang seluruh hidupku. Jauh-jauh seperti kerikil itu. Karena hatiku telah hancur, dikecewakan, dan aku merasa benci dengan semua yang telah terjadi. Aku ingin mencari dunia lain yang menerima aku. Aku ingin mencari, tapi aku tenggelam, seperti kerikil itu." ujar Naruto, nada bicaranya semakin lama semakin meninggi.
"Naruto-kun..."
"Maaf, Sakura. Kurasa aku ingin sendirian sekarang."
Sakura memandang senja yang membias dipermukaan sungai. Menarik napasnya dalam-dalam. Ia memang ingin marah, tapi ia tak bisa. Dia merasa semua itu menambah masalah saja.
Jadi ia berbalik, tersenyum tipis. "Baiklah."
Mungkin senja kali ini, tidak seperti senja yang kemarin saat pertama kali tertarik melihat lelaki pirang itu.
-X-
"Sakura!"
"Apa?" Sakura menoleh, berjalan menuju lokernya. Dan ketika membukanya, keadaannya masih sama seperti dulu, langsung berhamburan berbagai jenis bunga maupun cokelat berbagai jenis.
"Hh. Ini terjadi lagi." gumam Sakura, mengambil salah satu cokelat yang bungkusnya berwarna cokelat gelap. Dark chocolate. Entah siapa yang memberinya, saat itu, dia hanya menginginkannya.
"Kau bisa ikut klub altetik? Lombanya?" tanya Hinata. "Kata Sasuke, klub membutuhkan seorang pemain untuk lomba lari estafet bulan depan."
Biasanya ia akan antutias mengikuti lomba apapun, karena jika dia yang ikut, responnya kan selalu positif. Jika menang dibanggakan, jika kalah dihibur. Tetapi kali ini, hatinya terasa kosong, belum siap.
Sudah hari kelima dia berkunjung kejembatan yang sama. Menikmati hembusan angin musim semi. Menunggu, lagi dan lagi sampai ia mulai jenuh.
Apa ia tidak dapat bertemu lelaki pirang itu lagi? Meskipun dia yang meninggalkan lelaki itu sendirian kala itu, hatinya lah yang merasa kesepian.
"Mungkin tidak, Hinata." jawab Sakura pelan. "Aku merasa lelah."
Hinata terdiam. Mood Sakura berubah lagi.
"Baiklah, terserah kau saja. Aku akan berkata pada Sasuke untuk mencari calon lain." ujar Hinata sambil tersenyum.
-X-
Sakura berjalan menuju kedai ramen yang dulu pernah didatanginya. Penasaran, apa lelaki pirang bernama Naruto itu ada disana atau tidak. Tetapi nyatanya, lelaki itu tak ada.
Sakura menunggu disamping kedai ramen. Sepuluh menit, lima belas menit, sampai pada akhirnya dia menemukan sosok berambut pirang itu, berbalik dan tak jadi ke kedai ramen tersebut.
Naruto...
Sakura mematung beberapa saat, ragu. Akhirnya dia memutuskan untuk berlari, mengejar lelaki itu.
Menepuk punggung itu keras-keras. Lalu berteriak sekuat tenaga. "Hei!"
Lelaki pirang itu menoleh. Wajahnya sedikit pucat melihat Sakura. Mata birunya tidak secerah biasanya.
"Ada apa?"
"Kau menyebalkan sekali! Memangnya jika satu kali aku meninggalkanmu, aku tidak boleh menemuimu lagi?" ujar Sakura geram.
Naruto memandang Sakura datar, namun pada akhirnya tertawa lepas. "Kau ini bicara ap..."
"Jangan pura-pura lupa!" Sakura berteriak nyaris menjerit, menjitak kepala Naruto keras. "Aku sudah menunggumu berhari-hari. Kau kemana saja?"
Naruto berdeham. Dia melihat sekeliling. Banyak yang menatap mereka, tetapi toh, Naruto juga tak terlalu peduli. Dia hanya memandangi Sakura sambil menepuk-nepuk pipi Sakura.
"Oke, aku salah."
"Maaf."
Ucapan itu membuat wajah Sakura merona merah. Namun sejurus kemudian, dia berusaha bersikap cuek. "Kau harus memberi balasan karena membuatku semarah ini."
Naruto tergelak, kemudian tertawa. "Baik, putri. Apa yang kau mau? Semangkuk ramen? Sebatang gulali? Sebatang cokelat?"
"Hei, aku tidak sekonyol itu." kilah Sakura.
"Lalu?"
"Aku ingin kau membicarakan semuanya, semuanya tentang dirimu. Aku ingin tahu apa alasanmu sampai aku harus merasa kesal seperti ini karena kau menghilang." ujar Sakura.
"Jadi kau benar-benar menungguku!" seru Naruto. Entah apa yang dipikirnya sampai baru menyadarinya sekarang. "Kukira kau benar-benar meninggalkanku, seperti yang lainnya."
Sakura menghela napas. "Oke... Jadi?"
"Mari kita kejembatan itu. Aku... kali ini aku akan menceritakannya, asal kau tak menyela dan membuat emosiku naik." kata Naruto.
"Iya... aku tak akan menyela."
-X-
Behind the fanfict "Musim Semi dan Senja"
Yang pertama kupikirkan tentang NaruSaku saat membuat dichapter pertama adalah, karakter dua orang yang sangat berbeda dan juga masalah yang berbeda, membuat sulit untuk saling memahami.
Kupikir Naruto adalah sosok yang diluar bisa tertawa, tersenyum, namun direlung hatinya ia merasa kesepian, terhina, dan serba salah.
Kupikir Sakura adalah sosok yang diluar terlihat hebat, dapat dibanggakan, namun direlung hatinya ia rindu kenyamanan dan hal-hal yang membuat dirinya dapat menjadi diri sendiri.
Jadi, karena itulah aku membuat karakter NaruSaku yang seperti ini
Mereka bertemu, mulanya saling tak memahami satu sama lain, terutama Sakura yang menganggap dirinya butuh kesendirian, sehingga dimatanya Naruto yang kesepian itu baik.
Karenanya, aku ingin membuat mereka memaknai tentang kehidupan. Yang tak hanya terlihat diluar, tapi juga didalam hati xD
Terima kasih telah membaca dan atas review di chapter sebelumnya! Mohon masukkannya terus untuk chapter selanjutnya ya!
Sayounara
Ps. Baca juga fanfictku yang lain Hold You( ) dan Bitter Sweet( )
