Disclaimer: Masashi Kishimoto

Chapter 4

Pernahkah kau bertemu dengan seseorang dari masa lalumu, kemudian kau merasakan perasaan tak nyaman setelah bertemu dengannya? Perasaan khawatir, kalut, dan bingung menjadi satu kesatuan yang membuatmu merasa... kacau.

Beberapa hari yang lalu, setelah mengantar buku-buku ke ruang guru, Hinata tanpa sengaja bertemu lelaki pirang yang keluar dari ruang kepala sekolah, yang memang bersebelahan dengan ruang guru.

Wajahnya tidak berubah sama sekali, hanya garis wajahnya terlihat lebih tegas dan dewasa saat ini. Rambut pirangnya masih sama, dipotong sembarang. Yang sedikit menakutkan Hinata, mata biru safir dengan sorot yang... berbeda. Tak seperti dulu, mata yang selalu tampak kesepian itu sekarang seperti memiliki harap walau sedikit.

Mulanya Hinata bersikap seolah tak mengenal, tak peduli.

Tetapi lelaki berambut pirang itu yang memanggil namanya duluan.

"Hinata-chan. Ternyata benar, kau."

Hinata tentu tidak dapat mengelaknya lagi, bukan?

"Hai, Naruto-kun. Kau sedang apa?"

"Mendaftar sekolah."

"Apa?!" seru Hinata shock.

Naruto berdecak pelan. "Kenapa, sih? Memang tidak boleh?"

Hinata tampak tergagap, entah bagaimana suaranya seakan tertahan ditenggorokan. "Kau... yakin, mau kembali?"

Naruto mengangguk. "Ada seseorang yang membuatku tertarik disini. Dia mungkin love at first sight-ku, dan biasanya hal itu tidak memungkinkan. Tapi, aku mencintainya karena dia selalu menungguku. Diam-diam mencemaskan aku, penasaran tentangku, dan yang terpenting, dia membuatku tertawa karena sikapnya yang menghebohkan itu."

Hinata terdiam beberapa saat.

"Hinata-chan, kau tidak mencintaiku seperti dulu, kan?"

Hinata menarik napasnya dalam-dalam, lalu menghembuskannya kuat-kuat. Kalau saja ia sedang minum sekarang, ia mungkin akan keselek. "Tidak. Aku juga sudah memiliki kekasih, Naruto-kun."

"Bagaimanapun juga aku pernah merasa bersalah padamu. Aku menolakmu saat itu..."

"Jangan pernah merasa bersalah." kilah Hinata cepat. "Atau mungkin aku akan merasa menyesal."

"Baiklah kalau begitu. Hm. Sampai jumpa, Hinata-chan."

"Ya, Naruto-kun."

Dari dulu sampai sekarang, hanya Naruto dan Sasuke yang dipanggilnya dengan tambahan -kun. Orang yang benar-benar pernah mengisi hatinya.

"Hinata-chan, mengapa terbengong seperti itu?"

"Ha'i, Sasuke-kun, aku tidak apa-apa kok." kilah Hinata cepat.

Sadarlah, Hinata! Kau tidak boleh memikirkan hal sepele tentang Naruto! Seru Hinata dalam hatinya, berulang-ulang.

"Maaf, ya, Hinata-chan. Gara-gara asisten pelatihnya menghilang, aku terpaksa menyeretmu kesini." ujar Sasuke sambil tertawa.

Asisten pelatih. Sakura. Pasti Sasuke hanya tidak ingin menyinggungnya. Sasuke pasti tahu, menyinggung Sakura juga menyinggung dirinya.

"Kau pasti sudah capek, sebentar lagi akan selesai, kok." ujar Sasuke.

"Aku tidak apa-apa," ujar Hinata. Ia mengulas senyum sekilas. "Kerjaanku hanya mencatat apa yang kau bilang. Dan itu mudah."

"Bersyukurlah aku... aku bisa menjadi ketua klub atletik, jadi bisa mengajakmu, dan disini bersamamu." kata Sasuke, kemudian tertawa.

Hinata tersenyum. Mulai tersipu.

"Seharusnya kau saja yang menjadi asisten." ucap Sasuke. "Menjadi partner-ku."

"Apa Sakura juga seperti ini, mencatat yang kau bilang?" tanya Hinata. Dia melirik lagi kertas yang dipegangnya, yang sedari tadi dicoret-coretnya. Entah absen, kecepatan lari anggota, dan entah apa lagi.

"Yap."

Sasuke menggantung stopwatch bertali itu dilehernya. Sejak jadi ketua klub, dia selalu membawa benda itu kemana-mana, bahkan diberi tali membentuk kalung untuk mempermudahnya.

"Tetapi, kau tidak cemburu dengan sahabatmu sendiri, kan, Hinata-chan?"

Hinata menggeleng. "Untuk apa? Aku bukan anak kecil lagi."

"Jujur saja, lah."

"Aku tidak pernah melihatmu dengan Sakura, jadi aku tidak memiliki alasannya." ujar Hinata kalem.

"Hinata-chan, bagaimana jika kuubah asisten pelatihnya itu kau, bukan Sakura?"

-X-

"Jadi, apa yang kau mau ketahui, Sakura-chan?"

Sakura terhenyak, wajahnya sedikit bersemu.

"Hei, aku sudah berhari-hari kenal denganmu. Bolehkan, aku memanggilmu Sakura-chan?" ujar Naruto polos seakan tanpa dosa.

"Iya..."

"Jadi?"

"Jadi?"

Naruto berdeham. "Baiklah. Biar aku saja yang memulai. Aku tak suka disebut baka sama sekali. Mungkin bagi sebagian besar orang, itu bukan masalah besar, dan dianggap hanya sebuah candaan. Tapi, aku membencinya.

Bayangkan saja jika kata itu diucap dengan makna sesungguhnya. Kau benar-benar dianggap bodoh." ucap Naruto, kemudian menarik napasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.

Sakura memang berjanji untuk tidak menyela. Namun dia tidak dapat mencegah keinginannya untuk berbicara, bukan? Jadi katanya, "Kau begitu sensitif mendengar kata itu. Hmp, baiklah, aku berjanji tak akan mengucap kata itu lagi dihadapanmu."

"Tapi kini aku akan kembali ke masa laluku."

"Hah? Maksudmu?!"

"Tenang, Sakura-chan. Aku bukan orang yang dapat memutar waktu." Naruto tertawa melihat kepanikan Sakura. "Aku hanya mau kembali ketempat masa laluku, yang membuat hidupku berubah selama ini."

Sakura tetap terlihat panik. "Sejauh apa? Apa kau akan tetap baik-baik saja?"

Naruto tertawa lagi, kemudian dia menyahut, "Tentu saja tidak. Aku bisa saja kembali frustrasi."

"Lalu kenapa kau mau kembali?"

"Karena kamu ada disana."

"Aku?" Sakura merasakan wajahnya memerah. Apa ia pernah bertemu dengan Naruto sebelumnya? Seingatnya tidak. Sekalipun ia tak paham dengan ucapan Naruto barusan, ia merasa segalanya bermakna.

Untuk mengalihkan rasa malunya dan wajahnya yang memerah, Sakura menjitak kepala Naruto, meski tubuh laki-laki itu lebih tinggi darinya.

"Kau ini bicara apa?!" seru Sakura.

"Nanti kamu juga tahu, jangan terlalu penasaran."

-X-

"Watashi wa Naruto desu."

Berpasang-pasang mata memandang kearahnya, namun hanya dua pasang yang menatapnya shock.

Satu pasang mata lavender karena tidak menyangka ucapan Naruto benar.

Satu pasang mata emerald karena tiba-tiba mengerti maksud ucapan Naruto, meski akhirnya hatinya merasa riang.

-X-

"Aaahh."

Ini terjadi lagi. Berbagai jenis cokelat dan bunga berhamburan keluar saat Sakura membuka loker, membuat Sakura hanya bisa menghela napas.

"Tapi hari ini tak sebanyak kemarin," gumam Sakura tanpa sadar.

"Hai."

Mata Sakura membulat, kaget tiba-tiba seseorang menyapanya. "KAU!"

"Aku belum bicara denganmu hari ini."

Sakura mendengus kesal. "Memang. Kau mengejutkanku dua kali. Tadi, dan juga kedatanganmu yang mendadak di sekolah."

Lelaki berambut pirang itu menyandarkan tubuhnya ke loker, acuh tak acuh. "Aku tidak datang mendadak, aku hanya kembali. Hei, cokelat-cokelatnya, untukku, ya."

Sakura mendongak kebawah, memperhatikan Naruto yang mengumpulkan cokelat-cokelat itu.

"Bunganya?"

"Memang lelaki suka bunga? Jawabannya, tidak." ujar Naruto.

Sakura mendengus. Lagi. Tetapi kemudian, dia melihat sebungkus dark chocolate diantara cokelat yang dikumpul Naruto.

"Dark chocolatenya untukku, ya."

"Kau suka itu?"

"Ya."

Naruto menjulurkan dark chocolate itu, lalu berkata, "Sepertinya yang lainnya tidak ada yang dark chocolate."

"Begitulah. Semua orang mengira cewek suka cokeat susu, atau kacang, mungkin juga kismis. Tetapi aku tidak." ujar Sakura.

"Kau memang berbeda, Sakura." ucap Naruto ringan, membuka salah satu bungkus dan melumatnya.

"Sakura."

"Hm?"

"Sebentar lagi bunga-bunga sakura akan sepenuhnya mekar. Kau mau, kan, pergi melihatnya bersamaku?"

Ajakan itu terdengar seperti... kencan.

Sakura tersenyum. "Tentu saja."

Sakura melumat cokelatnya. Dark chocolate yang selalu terasa pahit kali ini terasa manis dan hangat.

-X-

"Sakura!"

Sakura mendongakkan kepala, melihat Hinata berlari kecil kearahnya, dengan Sasuke dibelakangnya. Sasuke berjalan lebih santai dan tenang dibandingkan Hinata.

Padahal biasanya, mereka berdua pasangan paling tenang di seantero sekolah. Pikir Sakura.

"Ada apa?" tanya Sakura.

"Aku, bolehkan, menggantikanmu menjadi asisten pelatih klub atletik?"

Sakura mengerjapkan matanya. Memang dia selalu diundang klub-klub sekolah, tapi atletik adalah favoritnya. Menjadi posisi asisten tidaklah mudah baginya karena melalui berbagai tes sebelum itu. Sekarang, secara tiba-tiba, Hinata meminta posisi itu?

"Ya, Sakura?"

Melihat mata Hinata yang berbinar dan Sasuke dibelakangnya, Sakura paham.

Hinata tidak ingin menunggu Sasuke pulang sore seperti kurang kerjaan, atau pulang duluan ke rumah sementara pacarnya di sekolah. Kalau mereka berdua di klub yang sama, mereka bisa bersama-sama terus, seperti ia dan Sasuke biasanya.

Membahas tentang klub bersama, kemajuan anggota. Sebenarnya menyenangkan.

"Sakura? Kau juga sudah beberapa kali tidak mengikutinya, padahal posisimu cukup penting." Sasuke berusaha membela Hinata.

"Iya... silahkan saja, Hinata." kata Sakura sambil tersenyum. "Ambil saja posisi itu, aku juga sudah jenuh."

Sakura memang benar. Ia jenuh dengan semua itu, tetapi bukan berarti hati kecilnya ingin mempertahankan posisi itu. Perjuangan yang sedikit sulit saat ingin mencapainya. Toh, saat awal pendaftaran, ia bukan Sakura yang begitu populer seperti sekarang.

Hinata tersenyum. Ia memeluk Sakura. "Arigatou, Sakura-chan!"

"Iya, Hinata-chan."

Sasuke tersenyum, dan diam-diam Sakura membalas senyuman itu. Ikut merasakan kebahagiaan Sasuke yang terpancar dari senyuman itu.

-X-

Back to you, it always comes around.

Back to you, I tried to stay away.

But it's too late..

Ketika aku sedang mendengar lagu back to you dari John Mayer, terpikir olehku tentang pertemuan Naruto dan Hinata, agar memperpelik fanfict ini(loh?). Hahaha, aku menyukai cerita yang rumit, memiliki konflik yang beragam. Biasanya saat kubaca ulang cerita yang seperti itu, aku bergumam sesaat, "wah, ini seru dan gak gampang diinget... pantes kubaca lagi."

Dan, aku mencoba menerapkannya.

Kemudian, semua terpikir saja olehku secara mendadak. Naruto yang pindah sekolah juga pemindahan posisi asisten. Aku memikirkannya saat... entahlah saat apa, sepertinya ketika aku mulai mengantuk di kelas :p

Mau tanya pendapatku tentang akhir anime Naruto yang sekarang menghebohkan dimana-mana?

Aku memang tidak terlalu menjagokan pairing tertentu. Mungkin bisa dibilang, aku tidak terlalu tahu sih, perasaan kalian yang "mungkin" menjagokan pair tertentu, misalnya NaruSaku, atau yang lainnya, yang mungkin diversi aslinya tidak dapat menyatu.

Tetapi bagiku, menulis fanfict merupakan kesenangan dan kenyamanan tersendiri buatku, karena namanya aja fanfiction, bisa bebas nyeleweng dari versi aslinya. Begitu, kan? Setuju tidak? xD Jadi menurutku, bagi yang sudah menjadi spesialis NaruSaku, maupun pair lain yang mungkin tidak menyatu di versi aslinya, jangan menyerah dan terus berkarya untuk menghibur orang lain ;D (aku saja suka sekali dengan pair NejiTenten... tapi toh, aslinya gak akan menyatu :/ )

Terima kasih atas review dan sarannya yang sangat membangun! Semoga fanfict ini bisa semakin berkembang dan baik, sesuai yang diharapkan.

Terus baca chapter selanjutnya, ya. Arigatou gozaimasu!

Ps. Mungkin setiap chapter ini lumayan pendek bagi para readers. Tapi aku akan mengusahakan semakin panjang di setiap chapter selanjutnya :D Aku selalu mengusahakan update setiap minggunya seperti jadwal pergi ke warnet, jadi agak kurang memungkinkan jika menulis panjang. Terima kasih atas pengertiannya