Disclaimer: Masashi Kishimoto

Chapter 5

Sakura baru saja mau memanggil nama Naruto saat...

Dilihatnya ada seorang gadis yang berbicara dengan Naruto dihadapan lelaki itu.

"Itu..." Sakura berusaha mengingat. Dia kenal banyak orang di sekolah ini, jadi seharusnya ia bisa kenal gadis yang sedang bicara dengan Naruto.

Rambut panjangnya. Tubuhnya yang kurus... "Hinata?"

Mereka terlihat akrab.

Sakura menghela napas. "Tinggal panggil saja, Sakura." Sakura bergumam. "Mereka tidak ada hubungan apa-apa, lagipula, Hinata sudah punya..."

Sakura menghela napas lagi. Lidahnya terasa kelu seketika itu juga. Oh, apa yang ia pikirkan? Seharusnya ia tidak berpikir seperti itu pada temannya sendiri. Juga, ia tidak memiliki hubungan apa-apa pada Naruto, lalu untuk apa ia merasa tak nyaman?

Sakura hendak berbalik ketika Sasuke sudah berdiri dibelakangnya, tersenyum, membuatnya menahan napas agar tidak menjerit.

"Hai."

Sakura tersenyum, kaku. "Hai."

"Hinata... oh, dia ada disana."

Uh-uh, bahkan Sasuke saja bisa bersikap biasa saja melihat Hinata sedang mengobrol dengan Naruto. Ingat, Sakura, hanya mengobrol.

"Omong-omong Sakura, terima kasih telah memberikan jabatan asistenmu itu."

Sakura tersenyum. "Bukan masalah."

"Oh ya. Mereka sudah berteman lama, bukan?"

"Maksudmu?"

Sasuke menunjuk Hinata dan Naruto dengan gerakan matanya. "Mereka dulu berada di sekolah yang sama, sekolah Konoha Gakuen kita ini, pada jenjang pendidikan SMP. Dengar-dengar Naruto pindah sekolah tak jauh dari sini, sehingga balik lagi kesini tanpa tahu alasannya apa."

Aku tahu, jawab Sakura dalam hati. Karena aku?

"Hei, kenapa wajahmu memerah begitu? Apa yang kau pikir?"

"Tidak... tidak apa-apa."

"Sasuke-kun!"

Sakura menoleh, melihat Hinata berlari kecil menuju kearahnya, tepatnya Sasuke. Hinata merangkul lengan Sasuke tanpa ragu, melebarkan senyumannya.

Lalu, Naruto. Juga berjalan kearahnya... tepatnya mereka.

"Kalian ngomongin apa?" tanya Hinata.

Sakura mendesah, kembali menatap Hinata. Seharusnya aku bisa bicara sepolos Hinata barusan.

"Kami ngomongin... yah, kau satu sekolah dulu dengan Naruto, kan?" ujar Sasuke ringan.

Naruto yang berdiri dibelakang Sakura tanpa Sakura sadari, menyahut keras. "Yap. Itu benar."

Sakura terperanjat. Wajahnya memerah lagi saat pandangannya bertemu dengan mata biru Naruto.

"Kami berdua memang satu sekolah, dulu..." ujar Hinata. Ia mengulum senyumannya, mengingat apa yang ia bicarakan tadi dengan Naruto. "Aku tidak menyangka jika Naruto-kun akan kembali ke sekolah ini."

Sakura mendesah. Panggilannya akrab sekali.

"Itu karena ada seseorang disini." ujar Naruto tersenyum riang. Dia merangkulkan tangannya pada Sakura, membuat Sakura merasa kaget(lagi!).

Sakura cepat-cepat menyingkirkan tangan Naruto dari bahunya. Untung saja dia tidak mengeluarkan kemampuan bela dirinya barusan.

Sasuke berdeham. Entah mengapa cowok itu tidak terbiasa melihat adegan kecil seperti itu, padahal jelas-jelas dia dan Hinata seringkali melakukannya.

Hinata tertawa, lalu menarik tangan Sasuke. "Sasuke-kun, ayo kita pergi."

Sepeninggal Hinata dan Sasuke, Sakura baru mengeluarkan kemampuan bela dirinya. Ia menendang kaki Naruto, tepat ditulang keringnya!

"Aaa! Sakura-chan!"

"Itu balasannya kau jika bertingkah seenaknya." ujar Sakura. Ia tidak menyadari bahwa wajahnya sudah bersemu merah.

"Hei, Sakura-chan!" panggil Naruto melihat Sakura yang berbalik, sambil mengelus kakinya yang terasa nyeri. Walau begitu, wajahnya tersenyum lebar. "Tunggu aku, Sakura-chan!"

-X-

"Kau dan Naruto terlihat akrab sekali, aku sampai cemburu dibuatnya." ujar Sasuke. Ia menoleh pada Hinata yang sedang mengisap gulalinya.

Hinata tersenyum tipis. "Yah, kami memang akrab dulu... masa sih kau cemburu? Kau tidak terlihat seperti itu tadi, saat kita mengobrol berempat."

"Sungguh! Aku cemburu." kata Sasuke. Ia menepuk-nepuk puncak kepala Hinata, melingkarkan sebelah tangannya pada bahu Hinata. "Tapi aku masih percaya padamu, Hinata-chan."

"Pilihan tepat. Hn, biar kuberi tahu apa yang kubicarakan dengan Naruto tadi. Tapi ingat, jangan beritahu siapapun, oke? Terutama Sakura." ucap Hinata.

Sasuke mengangguk.

"Naruto bilang, dia menyukai Sakura sejak pertama bertemu."

Sasuke tertawa. "Sudah kuduga dari tingkahnya."

"Tapi bukan hanya itu. Dia memintaku untuk menjodohkannya dengan Sakura." ujar Hinata. Dia mengisap gulalinya kembali. Naruto juga bilang, dia memintaku karena aku pernah jatuh cinta padanya.

"Ooh. Lalu, kau menerimanya?" tanya Sasuke.

Sesaat Hinata terdiam. "Tentu saja. Karena lelaki yang sering dibicarakan Sakura selama ini ternyata Naruto."

"Sepertinya Sakura memang butuh cowok. Biar lokernya gak selalu sesak karena cokelat."

"Kau tahu soal lokernya itu?" tanya Hinata.

Sasuke tersenyum penuh arti. "Apa sih, yang tidak kuketahui?"

Tentang perasaanku dulu sebelum kamu, Sasuke-kun. jawab Hinata dalam hati, namun ia hanya tersenyum.

-X-

"Sakura-chan, ayo kita ke jembatan." Naruto berkata ringan, seakan tidak ada yang terjadi sebelumnya.

Sakura meraih tasnya yang ia tinggalkan dikursi, lalu berdecak, "Enggak."

"Tapi kenapa?" tanya Naruto lugu.

"Aku tak mau. Memang tak boleh?" ujar Sakura, mulai melangkah menuju pintu kelas, sementara Naruto masih termangu didekat pintu kelas.

Naruto merogoh saku celananya, ia telah siap dengan senjata rahasianya yang ia yakin Sakura tidak akan menolaknya untuk pergi. Namun, tiba-tiba Sakura tersandung sesuatu, membuatnya terhuyung kedepan.

Menabrak Naruto, sehingga tubuh Naruto jatuh kebelakang dan Sakura jatuh persis dihadapannya.

Lama tatapan mereka saling bertemu. Menatap satu sama lain. Yang terdengar hanya tiupan angin musim semi lewat jendela-jendela kelas yang terbuka, juga degup jantung yang tak berirama masing-masing.

Sebatang dark chocolate yang telah dipersiapkan Naruto agar Sakura mau menerima ajakkannya pergi remuk karena tertekan oleh Naruto. Tetapi Naruto tidak peduli akan hal itu... terlalu terfokus melihat Sakura yang berada dihadapannya.

Naruto membenturkan kepalanya pada Sakura, membuat Sakura akhirnya tersadar, dan mundur selangkah. Pipinya merona merah lagi, dan Naruto tidak tahu sudah berapa kali ia melihat hal itu hari ini, namun ia menyukainya.

"Kau kenapa?" tanya Sakura. Suaranya diusahakan terdengar membentak tapi yang terdengar malah bergetar.

"Kau yang kenapa, Sakura-chan." ujar Naruto. Akhirnya wajahnya bersemu juga.

Sakura memalingkan wajah. Malu untuk berdiri, gengsi untuk menatap wajah Naruto.

Akhirnya Naruto menunjukkan dark chocolatenya yang telah ia persiapkan meskipun sudah remuk sana-sini, didepan wajah Sakura.

"Aku mau memberimu ini, Sakura-chan, jika kau memang mau pergi ke jembatan." ujar Naruto, lalu menarik kembali cokelat itu dari wajah Sakura, membuka bungkusannya seakan ia mau memakannya sendiri. "Tapi sudahlah..."

"Hei!"

Persis seperti dugaan Naruto. Sakura akan merebutnya.

Ia tersenyum geli. "Kau kan, tak mau pergi."

"Baiklah, aku mau."

Naruto tersenyum lagi. Puas.

-X-

"Kamu suka kehidupanmu sekarang?" tanya Naruto.

Sakura yang sedang melumat dark chocolate nya menoleh kepada Naruto. Ia merasa deja vu. Sepertinya ada yang pernah menanyakan hal itu padanya.

"Ternyata kau benar-benar populer, sampai seluruh lokermu penuh." ujar Naruto lagi. Ia melemparkan kerikil digenggamannya ke sungai. Seperti biasa.

"Menurutmu, aku menyukainya tidak?" tanya Sakura kembali.

"Hei... jangan balas pertanyaanku dengan pertanyaan juga," kata Naruto, kemudian terkekeh. "Aku harus menjawab apa kalau begitu?"

Sakura tertawa. "Tetapi rasanya aneh mendengar kau bertanya seperti itu."

"Oh, jawab saja... aku benar-benar ingin tahu, perasaan seseorang sepertimu." kata Naruto, kemudian tersenyum.

"Aku memang menyukainya, pada mulanya. Lambat laun aku merasa... bosan." Sakura menyahut.

Angin musim semi mulai berhembus, membuat rambut Naruto dan Sakura bergoyang pelan.

"Begitu..."

"Eng?"

"Apa kamu memiliki musuh, Sakura-chan?" tanya Naruto tanpa menatap Sakura. Hanya menatap bias wajahnya dipermukaan sungai.

"Maksudmu?"

"Biasanya, orang yang populer sepertimu... banyak yang tak menyukainya." jawab Naruto pelan, suaranya terdengar bergetar.

"Tidak juga. Kau tahu sendiri, aku memiliki banyak sekali penggemar, lokerku selalu penuh." Sakura menyahut dengan bingung. "Memangnya mengapa?"

"Berarti belum saatnya... Sakura-chan."

"Kau membuatku takut."

Naruto tersenyum, menyentuh puncak kepala Sakura. "Tidak perlu takut. Semoga saja yang kukhawatirkan tidak terjadi."

Tanpa sadar Sakura sedang menahan napas.

"Aku juga, akan melindungimu. Karenanya aku kembali ke sekolah Konoha Gakuen." ucap Naruto melembut.

Sekalipun tidak mengerti maksud Naruto, Sakura merasa bahagia. Bahagia yang tak pernah dirasakannya sebelumnya, bahagia karena ada seseorang yang mau menjaganya.

Matahari mulai terbenam, dan keduanya saling memandang sambil tersenyum.

-X-

Sakura berjalan menuju lokernya.

Membukanya seperti biasa. Bersiap untuk melangkah mundur karena biasanya akan berjatuhan berbagai batang cokelat.

Tapi kali ini, ia melangkah mundur sambil menjerit, karena menemukan lokernya telah bertumpahan darah dan foto dirinya yang dia tempel didinding loker tidak luput dari percikan darah.

Sakura terus menjerit, mundur menjauhi lokernya sampai menabrak sebuah tong sampah.

Dan disana, terdapat berbagai jenis cokelat dan permen yang ditujukan padanya, telah dibuang oleh seseorang.

-X-

"Sakura-chan! Kau baik-baik saja?" Sakura menangis, langsung meraih tubuh Hinata dan memeluknya erat.

Dari kejauhan, Hinata memandang loker Sakura yang telah kacau tersebut, juga siswa-siswa yang mulai mengerumuni loker itu. Kemudian, mulai bergosip.

"Sakura..."

"Sasuke-kun, tolong bantu Sakura menuju klinik."

"Aku baik-baik saja..." ucap Sakura, padahal jelas tak begitu. Matanya masih memerah karena tangis, napasnya masih tersengal.

Sasuke mulai mengamit lengan Sakura. "Ayo, Sakura."

"Tidak... tidak... Hinata, aku baik-baik saja."

Hinata terus menarik Sakura. "Ayo, Sakura..."

"Sakura-chan!"

Suara itu menggema.

Naruto berlari, sehingga napasnya terengah. Ia dapat melihat dengan jelas loker tersebut. Hatinya terasa terguncang, dugaannya tepat.

"Biar... aku saja." ucap Naruto getir.

Naruto merangkulkan tangannya pada Sakura. Hinata dan Sasuke mengalah, menyingkir.

Tatapan Naruto sempat bertemu dengan Hinata. Keduanya memahami maksud pandangan satu sama lain... sama-sama merasa cemas yang luar biasa.

"Sakura-chan, kita ke klinik, ya."

Sakura mengangguk pelan, air matanya masih terus mengalir.

-X-

"Ini terjadi lagi." tanpa sadar Hinata menyuarakan apa yang sedang dipikirnya, membuat Sasuke terperangah.

"Apa maksudmu? Sakura kan, belum pernah mengalami kejadian ini sebelumnya." ujar Sasuke.

"Kamu dengar apa yang dibicarakan anak-anak?" tanya Hinata. "Mereka bilang, Naruto kembali ke sekolah ini untuk aku, tapi Sakura merebutnya. Aku tidak tahu, siapa yang menyebarkan gosip macam itu... mungkin seseorang yang dulu juga satu sekolah denganku dan Naruto, tepatnya, JHS Konoha Gakuen."

Sasuke semakin bingung, tapi dia harus mengakui, jantungnya berdegup cepat sekarang. Takut mendengar kata-kata Hinata selanjutnya.

"Aku, mau menyatakan sebuah pengakuan padamu, Sasuke. Dulu, aku menyukai... Naruto-kun."

"Lalu?"

"Tapi, aku ditolaknya."

Tanpa sadar Sasuke menahan napasnya.

"Beberapa minggu setelah kejadian itu, ada suatu masalah, yang membuat Naruto frustrasi dan akhirnya pindah sekolah." ujar Hinata. "Kurasa, itu dasar dari gosip tersebut. Tapi Sasuke-kun, kau masih mempercayaiku, kan?"

Sasuke menarik napas. Rumit, terlalu rumit sampai ia ragu untuk memikirkannya. Tetapi selama Hinata masih mau membicarakan hal ini padanya, ia merasa nyaman. Ia tersenyum dan mengangguk.

"Aku masih mempercayaimu kalau kau mencintaiku, Hinata."

Hinata tersenyum. Ia beruntung memiliki Sasuke, ia sadar itu. "Terima kasih. Aku memang mencintaimu, Sasuke-kun."

-X-

Fyuh!

Menurut review yang kubaca, tampaknya banyak yang penasaran tentang masa lalu Naruto, benar bukan? Banyak yang berharap di chapter ini akan diperjelas, tapi... aku mohon maaf karena aku masih merasa belum saatnya untuk memperjelas kisah masa lalunya. Belum muncul suatu hal yang bisa membuat kisah masa lalu itu muncul. Karenanya, akan kuusahakan ada dichapter selanjutnya

Ohya, hampir lupa. Karena aku update seminggu sekali, dan sayangnya minggu lalu tidak sempat untuk menulis dan mengupdate, aku minta maaf sebesar-besarnya(menundukkan kepala).

Terima kasih banyak yang telah membaca sampai sini dan memberi review yang positif sehingga makin semangat membuatnya walau jadwal tugas lagi padet-padetnya, hehehe. Terutama teman sebangkuku yang akhirnya menyempatkan diri membaca fanfict ini ditengah pelajaran komputer, hahaha(Yah, sebetulnya ini karena aku juga yang lumayan maksa, sih, tapi akhirnya dia malah kesenengan bacanya...)

Thank you for reading and see you next time!

Note: Didalam chapter ini, aku membuat karakter seseorang yang begitu tidak menyukai Sakura, juga Naruto, alias karakter antagonis. Tapi aku masih belum memutuskan, siapa karakter yang cocok... karenanya aku butuh saran, kira-kira siapa karakter yang tepat, ya?