Disclaimer: Masashi Kishimoto
Chapter 6
Sakura duduk diatas tempat tidur klinik, dengan Naruto yang juga duduk disebelahnya, meremas-remas tangannya pelan.
"Ini, minumlah teh-nya." Tsunade sensei menyodorkan secangkir teh hangat yang asapnya masih mengepul samar-samar.
"Apa yang terjadi?" tanya Sakura getir. Ia mengambil cangkir teh itu, membiarkan rasa hangat cangkir teh tersebut merayap keseluruh tubuhnya.
"Naruto, apa yang terjadi?" tanya Sakura lagi. Tsunade sensei pergi ke ruangan klinik lain. Masih banyak yang harus diurus.
"Tenanglah." ucap Naruto. "Kau harus tenang dulu."
"Apa salahku?" tanya Sakura histeris.
"Dengar," Naruto berdiri dihadapan Sakura, menguncangkan bahunya. Mata birunya menatap Sakura dalam. "Keadaanmu sekarang sama denganku dulu. Aku paham perasaanmu saat ini."
Naruto menghela napas, kemudian, menceritakan masa lalunya yang kelam...
-Flashback-
Naruto melangkah memasuki gerbang sekolah Konoha Gakuen, berbagai pandangan kagum mengarah pada Naruto. Warna matanya bersinar, senada dengan warna dasi yang ia kenakan.
"Hei, Naruto!" seru Sai, berlari kearahnya."Wah, sang ouji. Ohya, kau mau ikut lomba lari jarak jauh tidak?"
"Hah? Yang benar saja?"
"Ayolah, kau kan jago berlari. Kau dicalonkan."
Naruto berdecak. "Aku tak suka dan aku tak mau."
"Naruto, ini demi sekolah kita juga." ujar Sai.
Naruto mendengus. "Aku bosan jika harus mewakilkan sekolah seperti itu... aku tak menyukai rasanya. Harus latihan, menemui orang baru diluar sekolah, tidak ikut pelajaran sekolah, huh. Carilah orang lain."
"Bagaimana jika orang lain itu tidak menang? Reputasimu sebagai pelari di sekolah bisa hancur, tahu. Kau bisa dianggap membuat kekalahan bagi sekolah kita, dan menyia-nyiakan kesempatan itu." Sai tetap bersikeras, berharap Naruto mengalah.
Tetapi nyatanya, Naruto terus melangkah pergi. Dan berkata keras. "Aku tidak peduli."
-X-
Naruto bukanlah murid terpandai di kelas, malah bisa dikatakan sering mendapat urutan dibawah. Bukan murid yang aktif diberbagai organisasi. Hanya, dia pelari yang nyaris sempurna bagi klub atletik. Kecepatan lari yang berimbang, napas yang kuat, kaki yang berotot dan nyaris tak pernah lelah.
Sekali, dua kali, dan lama-lama semua orang melupakan kali berapa ia memenangkan kejuaraan demi kejuaraan berlari. Ia mulai terkenal di sekolah. Disebut-sebut sebagai ouji sekolah karena tidak ada yang sekeren ia.
Tetapi, ia bosan dengan semuanya itu. Berlari, maksudnya. Naruto pernah berpikir, apa gunanya ia tanpa berlari? Bagaimana hidupnya jika ia tidak bisa berlari?
Seperti yang diduga Sai, setelah lomba berlari jarak jauh tidak diikuti Naruto, pembicaraan tak enak mulai bermunculan dimana-mana. Terutama setelah perlombaan yang ternyata kalah karena diikuti seorang anak baru. Naruto mulai dibicarakan sebagai orang yang bodoh di kelas, tetapi sudah berlaku sombong.
Ia mengira, hanya sampai situlah dirinya dibicarakan yang tidak-tidak.
Suatu hari, seorang gadis berambut panjang dengan warna mata seperti warna lavender, menemuinya.
Gadis itu tersenyum malu-malu, bibir tipisnya yang berwarna pink muda entah karena lipgloss atau bukan, senada dengan warna dipipinya.
"Aku menyukaimu, Naruto-kun." ujarnya.
Naruto menyerngit bingung. Ia saja tidak begitu mengenali gadis ini.
"Aku tidak berharap perasaanku terbalas karena kita belum pernah saling mengenal." ujar gadis itu lagi. "Tapi aku suka melihatmu berlari."
"Kalau begitu," ucap Naruto dengan nada tertahan. "Aku tidak bisa membalas perasaanmu."
Sekilas, ada kilatan kecewa dari mata gadis itu. Tetapi ia tetap tersenyum dan melangkah pergi meninggalkan Naruto.
Beberapa hari kemudian, Naruto baru mengetahui, gadis itu bernama Hinata. Memiliki kepintaran yang tidak dimiliki orang lain, selalu duduk diperingkat pertama di kelas sebelah. Rasanya hampir tidak mungkin bila Hinata menyukainya.
Beberapa hari kemudian itulah, penyebab Naruto memutuskan untuk pindah sekolah.
Sepulang sekolah, setelah mencuci tangannya di wastafel, ia disegap oleh beberapa cowok yang tak dikenalnya, walau mengenakan seragam yang sama dengannya.
"Kau... beraninya, membuat Hinata suka padamu!"
Naruto tahu pembicaraan hangat tentang Hinata menyatakan perasaannya telah menyebar walau ia tidak tahu siapa yang menyebarkannya. Naruto berusaha tidak peduli, toh, kepopulerannya di sekolah juga sudah mulai menurun.
"Siapa kau tanpa lari? Kau hanya seorang bodoh di kelas!"
Salah satu orang itu menyeru lagi. sementara Naruto mulai menghitung berapa banyak yang menyergapnya.
Kurang lebih, delapan orang.
"Kau memang bodoh, kau bahkan tidak menatap Hinata sama sekali. kau benar-benar sombong. Tapi ada baiknya, karena Hinata harusnya bukan untukmu, tapi aku."
Naruto mendengus. "Jadi apa maumu?"
"Sombong sekali! Benar-benar, si bodoh yang sombong!"
Dan, delapan orang itu langsung menyerangnya. Meninju perutnya, dan entah apa lagi. yang ia ingat dari kejadian itu hanyalah, yang berbicara padanya memiliki rambut cokelat yang sangat-sangat cokelat.
Walau entah siapa itu.
Tidak mau berurusan dengan pembicaraan tak hangat dan ucapan yang menyebutnya "bodoh" maka Naruto segera pindah sekolah.
-ending flashback-
-X-
"Hinata pernah menyukaimu..." ujar Sakura lirih. "Pantas aku merasakan hal yang berbeda saat kalian mengobrol..."
Naruto tersenyum tipis. "Kau cemburu?"
"Tidak."
Sesaat, suasana kembali hening.
"Kau tidak membencinya? Hinata?"
"Tidak."
"Mengapa?"
"Karena dia bukan yang bersalah atas kejadian itu. Dia hanya gadis polos yang menyukaiku saat itu. Pengeroyokkan itu mungkin seseorang yang menyukai Hinata tetapi Hinata tidak menyukainya, jadi dendam padaku. Hinata sama sekali tidak terlibat."
"Oh." Sakura paham jalan pikir Naruto. "Lalu kenapa kau kembali?"
"Aku pernah mengatakannya. Apa perlu kuulang?"
Sakura mengangguk.
"Karena ada kau disini. Saat kau bercerita tentang dirimu yang populer di sekolah, aku khawatir sesuatu akan terjadi padamu." ucap Naruto. "Dan ini benar terjadi walau belum kita tahu penyebabnya."
"Apa aku harus lari sepertimu?"
Naruto tersenyum tipis, kemudian mendesah. "Jangan. Aku dulu pengecut tak mau menghadapi semuanya. Kuharap kamu mau menghadapinya."
"Bagaimana jika aku tak kuat?"
"Aku akan membantumu. Itulah mengapa aku kesini."
Sakura tersenyum. Merasa lega dan nyaman. Kata-kata Naruto akan membuatnya semakin kuat.
-X-
"Kau tenang saja, Sakura. Semua sudah kubereskan. Itu hanya darah buatan yang ada difilm-film, air dicampur dengan pewarna merah dan..."
"Hinata, aku tahu pembicaraanmu tentang pembuatan darah itu akan menuju ke pelajaran fisika," canda Sakura. "Tetapi, terima kasih."
Hinata mengeluarkan sebungkus permen rasa stroberi dari saku kemejanya. "Ini untukmu."
"Wah, terima kasih. Ada dark chocolate?"
Hinata tertawa. "Beli saja sendiri. Uang saku milikku sudah hampir habis bulan ini. Cokelat itu mahal, tahu?"
Sakura tergelak. "Yap.."
"Kau terlihat jauh lebih baik." ujar Hinata.
"Itu karena Naruto." ujar Sakura sambil tersenyum. "Kenapa kau gak bilang kalau kamu pernah suka dia?"
Hinata melongo. "Naruto bilang?"
Sakura mengangguk.
"Huh, dasar." dengus Hinata. "Tetapi aku masih lebih menyukai Sasuke. Naruto untukmu saja."
"Hah?"
Hinata tertawa. "Oh ayolah, kau pasti sebentar lagi akan menyukainya."
Sakura mendengus. "Tidak."
"Gak usah gengsi..."
"Enggakkk..."
-X-
"Kau bisa menyelidiki siapa yang melakukan itu tidak? aku tahu permintaanku ini sedikit berlebihan karena aku baru kenal denganmu, tetapi kuharap kau bisa mmebantuku." ucap Naruto.
"Boleh kutanya, mengapa kau tidak melakukannya sendiri?" tanya Sasuke.
"Aku bukan orang yang ahli untuk melakukan hal seperti itu..." jawab Naruto. "Aku bisa melindungi Sakura secara moril. Memberinya semangat agar ia tidak salah memilih langkah. Tetapi untuk menyelidiki siapa yang melakukannya, aku tak mampu. Aku tidak secerdas itu untuk melakukannya."
Sasuke tersenyum puas. "Aku akan melakukannya untukmu. Sudah lama aku tidak berpikir keras untuk melakukan sesuatu."
"Baiklah." ujar Naruto sambil tersenyum.
"Omong-omong Naruto, kau juga harus membantuku dalam pemecahan masalah ini. Oke?" kata Sasuke. wajahnya berubah serius. "Aku penasaran, mengapa hal ini terjadi setelah beberapa hari kau berada di sekolah?"
Tiba-tiba Naruto merasa deg-degan. "Kau tidak bermaksud mengira aku pelakunya, kan?"
"Bukan itu maksudku, aku hanya mengira jika sang pelaku pasti memiliki hubungan khusus denganmu. Pasti ia mengenalmu, berusaha mencelakakanmu lagi... melalui orang yang kamu suka."
"Benarkah?"
Sasuke tersenyum, lagi. "Semoga saja dugaanku benar. Aku butuh daftar nama murid ditahun kau masih bersekolah disini dulu. Mencari diantara mereka yang masih berada disini. Dan kuharap, tidak terlalu banyak."
-X-
"Hinata... kau pasti sering memperhatikan Naruto dulu."
Ucapan itu jelas membuat Hinata terperangah heran. Ia menoleh, melupakan bahwa seharusnya ia mencatat kecepatan lari salah satu anak klub.
"Iya, lantas mengapa?"
"Aku butuh bantuan." ucap Sasuke lirih, kemudian menjelaskan rencana pertamanya.
-X-
"Bunga sakura telah bermekaran!" seru Sakura. "Duh, rasanya aneh menyebut namaku sendiri."
Naruto tersenyum, lega. Sakura sudah bisa terlihat ceria.
Sakura mengadahkan tangannya, namun bunga sakura belum banyak yang gugur. Hanya beberapa karena ini masih awal.
"Kau ingat pertama kali kita bertemu? Saat itu, apa sih yang kau pikirkan, Sakura?" tanya Naruto.
"Saat itu... aku hanya mengira, kamu terlihat bebas. Kamu tidak terbebani masalah apapun. Begitu ringan melempar kerikil itu, menatap wajah sendiri yang dibiaskan oleh air. " jawab Sakura. "Aku ingin menjadi sepertimu yang begitu bebas. Ternyata, hidupmu tidak seperti itu."
"Kau tidak ingin tahu apa yang kupikirkan saat aku bertemu denganmu?" tanya Naruto lagi.
"Boleh saja."
"Saat aku melihatmu aku..." jatuh cinta padamu. Namun Naruto menahan ucapan itu, kata-kata itu tertelan lagi. "Aku mengira kau merasa sendirian, tak nyaman dengan hidup, sehingga kau merenung. Aku ingin menjadi temanmu."
"Dan dugaanmu benar." ucap Sakura.
Naruto mengangguk.
"Selama ini aku mengira, jika hidup itu mudah." Sakura berbicara lagi. Ia berjalan ke penghujung jembatan, dan Naruto menyusulnya dari belakang. "Aku tidak pernah mengalami kesulitan-kesulitan besar didalam hidupku. Aku pernah memikirkan, apa ini hidup yang kumau? Selalu tenang-tenang saja?"
"Jadi, seperti apa yang kau mau sekarang?" tanya Naruto.
Sakura memandang air sungai dengan beberapa helaian bunga sakura. Memandang bias wajahnya dan cahaya matahari yang mulai terbenam.
"Aku belum tahu. Dan aku belum memikirkannya." ujar Sakura. "Terlalu rumit untuk kupikirkan sekarang."
"Aku tahu. Aku tahu."
-X-
Matahari mulai terbenam, tetapi Hinata dan Sasuke tetap duduk terpaku di ruang atletik yang tinggal hanya mereka berdua.
"Sasuke-kun."
Hinata akhirnya membuka suara setelah Sasuke menunggu atas pertanyaan, "Bagaimana sih, kehidupan Naruto dulu?"
"Jadi?"
Hinata menghela napas. Memberitahukan kisah Naruto. Tentang Naruto yang begitu populer. Tentang Naruto yang pernah disukainya. Tentang Naruto yang keluar dari sekolah.
Tetapi ada satu hal yang membuat Sasuke tertarik, lebih dari cerita tentang masa lalu Naruto.
"Ada dua orang gadis yang dulu terkenal karena mereka tukang teror. Sikap keduanya selalu mengesalkan karena mengosipkan hal yang tidak-tidak. Termasuk, gosip tentang Naruto yang begitu sombong sampai menolak aku... padahal aku tidak berharap ia membalasnya." ucap Hinata perlahan, memaknai dengan tegas apa yang diucapkannya. "Mereka adalah Shion dan juga Temari."
"Shion? Lalu, apa hubungannya,...?"
"Tunggulah sebentar, jangan tergesa-gesa." ucap Hinata. "Kurasa, Shion lebih ada hubungannya dengan Naruto dibandingkan Temari."
"Maksudmu?"
"Shion juga menyukai Naruto. Dia berkali-kali mendekati Naruto, mengajaknya jalan, mengajaknya kencan... semua itu ditolaknya. Dan yang terakhir kali yang kuketahui, Naruto begitu kesal dan membalas ucapan Shion yang manis dengan kepahitan." ujar Hinata. "Tentu saja Shion tidak terima. Ia kesal, benci pada Naruto. Ia tak percaya ada yang menolaknya padahal ia begitu banyak digilai cowok karena kecantikannya itu. Sehingga saat dia menemukan kesempatan... ia memanfaatkannya dengan maksimal."
Hinata menghela napas sejenak. "Ia memanas-manasi Kiba, cowok yang pernah mengejar-ngejarku dulu... sehingga melakukan penyerangan terhadap Naruto. Tak terduga, Naruto langsung menyerah begitu saja. Keluar dari sekolah."
"Lalu apa kaitannya dengan masalah Sakura saat ini? Aku belum paham." kata Sasuke, heran.
"Apa kamu pernah tahu, Shion suka sekali dibandingk-bandingkan dengan Sakura?" tanya Hinata lirih.
Sasuke terhenyak. Dia terdiam cukup lama sampai Hinata menyahutnya sendiri.
"Shion begitu kesal, bahkan benci pada Sakura. Aku yakin itu, dan kini ia memiliki kesempatan itu." ucap Hinata.
Tahu-tahu, mata Hinata berkaca-kaca.
"Aku sudah cukup lama mengenali Shion, aku tahu jalan pikirannya." ujar Hinata. "Ia mau menghancurkan Sakura dan Naruto melalui aku. Bahkan kau. Bahkan kita."
"Hinata... maksudmu?" Sasuke merengkuh tubuh Hinata yang mulai terisak.
"Aku bersahabat dengan Sakura. Aku yang pernah menyukai Naruto." ucap Hinata. "Tak lama lagi, ia akan membuat gosip menggemparkan. Aku yang iri pada Sakura akan popularitas dan Naruto yang menyukai Sakura... yang membuat loker Sakura berantakkan."
"Kau yakin itu, Hinata?" tanya Sasuke tegang. "Bagaimana kau bisa seyakin itu? Apa kau tidak perlu memeriksa daftar nama..."
"Aku tahu siapa saja yang meneruskan di sekolah ini, Sasuke. Dan tidak ada yang selicik ia, sebenci ia terhadap Naruto dan Sakura.
Sasuke mempererat pelukannya. Mengelus rambut panjang gadis yang mulai terisak. "Aku senang kau mengatakan ini semua kepadaku, Hinata-chan. Karenanya kita akan baik-baik saja, tidak ada kesalahpahaman diantara kita."
"Lalu bagaimana dengan Naruto dan Sakura?"
-X-
Hua! Gila!
Ketika aku membaca ulang apa yang telah kuketik dan kupikirkan... aku tidak menyangka hasilnya seperti ini! Aku tidak pernah berpikir adanya musuh/karakter antagonis untuk fanfict ini karena aku tidak menyukai karakter yang seperti itu, tapi... bila tidak ada masalah terhadap Sakura, tidak ada karakter antagonis, kisah masa lalu Naruto tidak akan pernah muncul di fanfict ini karena tidak ada pemicunya(memangnya bom?). jadi, beginilah chapter 6!
Pada bagian akhir aku memperpanjang obrolan SasuHina karena aku berpikir kalau harus memperjelas sang tokoh antagonis, dan juga masa lalu Naruto yang sebenarnya belum begitu nyata penyebabnya. Sengaja tokoh antagonis itu tidak diceritakan pada obrolan NaruSaku karena mereka berdua adalah pihak yang sama-sama belum tahu, hahaha xD semoga kalian tidak mempermasalahkannya dan maklum? Hehehe.
Thanks for reading and enjoy it! See you soon!
Ps. Jika minggu depan aku tidak update, aku mohon pengertiannya dari para pembaca. Karena pada seninnya aku sudah harus menempuh UAS, dan diminggu ini saja harus kusempatkan untuk update karena banyak yang penasaran tentang masa lalu Naruto, terutama temen sebangkuku sendiri xD Coba saja tanyakan langsung tentang kesibukkanku pada Yuki 'NF MMH, pen name teman sebangkuku, fans berat NaruSaku. Ada yang kenal? Ada kaan?(Dia juga review disetiap chapter kok :p )
