Disclaimer: Masashi Kishimoto

Chapter 7

Dugaan Hinata, 99 persen tepat.

"Hinata... kau... tidak mungkin kau yang melakukan semua itu, kan?"

Hinata mengangguk, menatap Sakura. Ia tidak mungkin langsung bilang pada Sakura semua yang terjadi. Siapa tahu ada sedikit kesalahan, bukan Shion penyebabnya. Ia hanya menanalisis-siapa tahu ia salah.

Who knows.

Tubuh Hinata bergetar, seperti mengigil. Ia tidak mau menuduh, tetapi ia juga merasa analisisnya benar. Ia hanya perlu bukti, tetapi bagaimana caranya...

"Hinata! Jawab aku!"

Murid-murid mulai mengerumuni mereka. Sejak pagi, pembicaraan hangat mengenai 'Hinata yang balas dendam pada Sakura' menyeruak keseantero sekolah entah darimana asalnya. Ada juga yang bilang, kalau Hinata begitu licik meninggalkan Sasuke yang merupakan idola sekolah demi Naruto si anak baru.

"Hinata!" suara lain yang bukan berasal dari Sakura itu sontak membuat murid-murid lain menoleh, menatap heran tidak percaya.

Sasuke memeluk Hinata dari belakang, memberikan kekuatan pada gadisnya tersebut. Ia memandang Sakura.

"Bukan Hinata, Sakura. Mungkin kau tidak percaya sekarang, tetapi mencobalah untuk percaya." ujar Sasuke.

Sakura memandang Sasuke dengan mata emerald-nya dengan tidak yakin.

"Kau... membelanya karena ia kekasihmu."

Sasuke menggeleng. "Aku tahu kejadian sebenarnya, tapi..."

"Kalau begitu beritahu aku!"

Rahang Sasuke mengeras. "Belum saatnya kau tahu, tapi aku hanya bisa memintamu untuk percaya!"

Sakura mendengus, meninggalkan Sasuke dan Hinata. Meninggalkan kerumunan.

Sasuke membalikkan tubuh Hinata yang berguncang hebat, memeluknya dalam pelukan longgar. "Sabarlah, Hinata."

Hinata mulai terisak. "Aku tahu Sakura tidak akan langsung percaya sekalipun salah satu dari kita membicarakan padanya. Ia perlu bukti. Yang kau lakukan tepat..."

Sasuke mengangguk. Perlahan, kerumunan murid itu mulai bubar. Meninggalkan Sasuke dan Hinata.

-X-

"Meskipun aku tidak terlalu dekat dengan Sakura dan hanya bertemu dengannya di klub dulu, tapi aku cukup mengenalinya dan tahu kalau dia perlu bukti untuk percaya."

Naruto tertegun. Mulai merenung laporan Sasuke. "Jadi Shion?"

"Ya."

Naruto menghela napas. "Shion. Shion..."

"Kau mengenalinya, ya?" tanya Sasuke.

"Tentu saja, Sasuke. Aku kan, pernah satu sekolah dengannya." sahut Naruto.

Naruto memandang kesisi lapangan. "Cewek itu, kan?"

"Shh. Jangan tunjuk dia, nanti kalau dia melihatnya bagaimana?" ujar Sasuke kesal.

Perlahan, mata Naruto membesar saat menatap sosok itu. "Lihat. Dia sedang memanggil Sakura dan Sakura mendekatinya."

Sasuke berdecak. "Kau pikir, apa yang akan dikatakan Shion?"

"Memanas-manasi Sakura seperti dulu dia memanas-manasi Kiba?" tebak Naruto.

"Tepat."

"Nanti aku coba untuk menanyakannya pada Sakura. Jika dugaan kita benar, kita harus segera mencari solusinya karena analisis Hinata benar." kata Naruto. Kemudian tersenyum. "Tenang saja, aku akan membantumu menyelematkan gadismu itu."

"Hm, Naruto, ada satu hal yang mau kutanyakan." ujar Sasuke. Dia mulai terlihat gengsi. "Kau tidak memiliki perasaan apapun pada Hinata-ku, kan?"

Sejenak Naruto tertegun mendengar penuturan Sasuke, lalu tertawa. "Tidak. Aku telah jatuh cinta pada gadis lain!"

"Sakura?"

"Tepat." Naruto mengikuti ucapan Sasuke.

-X-

"Sakura!"

Shion. Cih, sejujurnya, Sakura benar-benar tidak senang dengan gadis itu. tapi jika Shion memasang friendly-facenya mungkin ada hal yang penting.

Perlahan, Sakura mendekati Shion. "Apa?"

"Kasihan sekali kau Sakura, dikhianati oleh sahabatmu sendiri, kan?"

Sakura berdecak. "Bukan urusanmu." terbayang olehnya tubuh Hinata yang gemetar tadi pagi. Seolah memang dia pelakunya.

"Benar-benar tidak disangka jika dia langsung ketahuan." Shion berucap. "Aku tidak mau mencari ribut denganmu Sakura."

"Lalu?"

"Kau bisa berteman denganku bila kau mau." ujar Shion. "Bukankah semua akan lebih mudah bila kau memiliki teman?"

Memang, Shion. Tapi aku membutuhkan teman seperti Hinata... pikir Sakura tanpa sadar. Kemudian, dibuangnya pikiran itu jauh-jauh. Hinata telah mengkhianatinya...

"Aku tahu kita pernah bertengkar dulu." ujar Shion. Tersenyum. Senyum yang tidak Sakura mengerti artinya. "Tetapi tidak ada salahnya kita mencoba."

Sakura memandang sinis Shion. "Aku pikir-pikir dulu, ya!"

Saat Sakura berjalan menjauh, Sakura tidak tahu jika Shion memakinya. "Sialan! Sombong sekali dia! Lihat saja nanti!"

-X-

Naruto menatap Hinata dari jauh. Gadis itu sedang dikerumuni beberapa gadis-sepertinya akan dibully. Semula ia mengira Sakura yang akan dibully, tapi ternyata Hinata yang mengalami hal seperti dirinya dulu. Ia mengambil ponselnya dari saku, mengirim pesan singkat pada Sasuke.

Kau dimana? Hinata sedang butuh bantuanmu, dia ada disamping klinik. Aku tidak bisa membantunya. Jika aku membantunya, masalah ini semakin berat.

Naruto mendongakkan kepala.

Ah, itu Sakura.

"Sakura!"

Sakura menoleh. "Ya?"

"Apa kabarmu, sekarang?"

"Biasa saja. Ohya, kau tidak mengganti sepatumu? Sesudah ini pelajaran olahraga." ujar Sakura sambil tersenyum.

"Aku tidak menyimpannya di loker. Aku juga tidak membawanya. Biarlah." sahut Naruto tak acuh, mengikuti Sakura menuju lokernya.

Ketika Sakura membuka lokernya, mengambil sepatu olahraganya, Sakura berdecak.

"Aah. Sepatuku."

Naruto segera mengambil sepatu olahraga Sakura dari tangan gadis itu, dan segera menemukan kesalahan pada sepatu itu.

Tali sepatunya telah terlepas, dan digunting menjadi bagian-bagian kecil.

"Sakura..."

"Kurasa aku tidak perlu mengikuti pelajaran olahraga." sahut Sakura sambil tersenyum tipis. "Hinata pasti senang karenanya..."

"Cukup!" Naruto menyela perkataan Sakura. "Bukan Hinata."

"Oh, gosip itu benar ya? Hinata dan kamu."

Naruto mendesah. Dia meletakkan sepatu Sakura dalam loker kembali, kemudian memegang kedua bahu Sakura erat. "Sakura, pandang aku."

"..."

"Kamu, menyukaiku, kan."

Deg!

"Jika kamu tidak menyukaiku, kau tidak akan mempermasalahkan gosip tentang aku dan Hinata."

"Jika kamu tidak menyukaiku, kau tidak akan marah pada Hinata. Dia tidak balas dendam kepadamu. Coba pikir deh, dia sudah memiliki Sasuke yang jauh lebih sempurna dariku, dia memiliki kecerdasan diatas rata-rata, jadi untuk apa dia mencelakaimu?"

Deg! Deg!

"Sakura. Hinata tidak salah dalam kecelakaan yang kau alami, juga pada gosip-gosip itu. Kau percaya padaku?"

Deg! Deg! Deg!

"Aku mengatakannya karena aku menyukaimu. Bukan Hinata. Ini memang bukan saat yang tepat, tapi aku menyukaimu."

Sakura menghela napas. "Kamu pasti seperti yang lainnya."

"Maksudmu?" perlahan, cengkraman tangan Naruto pada bahu Sakura melonggar.

"Kamu mungkin hanya menyukaiku sesaat. Mungkin besok pagi, setelah kamu bangun dari tidur, kamu baru sadar kalau kamu salah."

"Aku..."

Sakura menepis tangan Naruto pelan, kemudian melangkah pergi. "Sumimasen, Naruto."

Tidak ada yang tahu jika kedua anak manusia itu terluka.

Sang lelaki terluka karena perasaannya yang tak terbalas.

Sang gadis terluka karena tidak mau mempercayai kata-kata sang lelaki.

Keduanya hanya bisa menunggu satu sama lain sampai ada yang menemukan.

-X-

"Hei!"

"Itu Sasuke!"

"Cepat pergi dari sini!"

Anak-anak gadis yang mengerumuni Hinata segera pergi, meninggalkan Hinata yang kemudian jatuh terduduk ditanah dan menangis.

Sasuke membantu Hinata untuk berdiri, setelah itu memeluknya erat.

"Kau baik-baik saja?"

Hinata mempererat pelukannya, menangis tersedu-sedu. Sasuke menyentuh rambut Hinata, dan terasa kusut. Mungkin perlakuan dari anak-anak gadis tadi.

Kalau Naruto tidak mengirimkan pesan, aku tidak akan tahu keadaan Hinata akan menjadi seperti apa nanti! seru Sasuke dalam hati.

"Ayo kita pulang, Hinata."

-X-

Beberapa meter dari sekolah...

Shion meneguk tehnya beberapa kali. Seorang gadis didepannya menatapnya dengan tatapan tidak percaya.

"Kau tidak mau kembali dan membantuku?" tanya Shion.

Gadis dihadapannya, Temari, menggelengkan kepalanya. "Tidak-aku sudah tidak pernah melakukan itu lagi semenjak Naruto keluar dari sekolah."

"Oh... ayolah, Tema. Kau yang memikirkan rencana, aku yang melakukan."

"Kau sudah bisa melakukan apa yang kulakukan," ujar Temari. "Setidaknya itu yang telah kutahu setelah kau menjelaskannya padaku."

Shion menghela napas. "Ini penting bagiku."

"Penting?" ujar Temari. "Shion, sebenarnya siapa yang menjadi targetmu?"

Lengkungan senyum Shion jadi terlihat menakutkan. "Sakura."

"Bagaimana dengan Hinata?" tanya Temari.

"Hinata tidak ada hubungannya denganku. Aku juga tidak peduli apa yang terjadi dengannya. Aku hanya tertarik menghancurkan Sakura yang telah mengambil perhatian Naruto dan seluruh murid sekolah." jawab Shion dingin.

Temari tersentak. "Bukankah kau yang telah mengeluarkan Naruto dari sekolah?"

"Cih, dia yang mengundurkan diri. Aku hanya membalas perasaan kesalku karena ia menolakku melalui Kiba. Siapa tahu kalau dia langsung meninggalkan sekolah?"

Sesaat Temari tahu, Shion, dari dulu tidak pernah berubah.

Dia selalu kejam.

"Shion. Apa kau masih mau membalas Naruto?"

"Kalau dia mencoba untuk melindungi Sakura-aku akan membalasnya lagi."

Selain kejam, Shion juga pendendam.

Mungkinkah ia harus menghentikan Shion sebelum terlambat?

"Aku butuh suatu cara agar Sakura juga tersiksa. Bukan hanya Hinata."

-X-

Asap yang mengepul dari semangkuk ramen yang masih panas tidak membuatnya berselera.

Naruto memandangi isi mangkuk tersebut. Mengambil sumpit dan mulai makan. Tapi rasanya, menawar dilidahnya.

"Mungkin besok pagi, setelah kamu bangun dari tidur, kamu baru sadar kalau kamu salah."

Ah. Sudah berapa pagi yang ia lewati dan ia selalu sadar jika dia memang menyukai Sakura? Pikir Naruto.

Ia hanya perlu membuat Sakura percaya. Sesederhana itu.

Tetapi melakukannya, tidak sesederhana itu.

Naruto kembali memakan ramennya, walau keadaan hatinya membuat rasa ramen itu tawar.

-X-

Hinata membaca buku pelajarannya seperti biasa.

Membuat rangkuman seperti biasa.

Biasanya, ia akan segera ingat apa yang dipelajarinya tetapi... kali ini otaknya terasa lumpuh.

"Ini gila." gumam Hinata tanpa sadar. "Aku tidak bisa tenang sama sekali."

Matanya terasa perih. Tadi ia terlalu banyak menangis sehingga matanya bengkak. Tetapi dia memang butuh menangis.

Hinata selalu tidak kuat jika orang menuduhnya, memakinya dan meneriakinya secara kasar. Badannya akan bergetar, tubuhnya mendingin seperti es, matanya sembap.

Itu membuatnya tidak mampu membalas perkataan Sakura dan anak-anak gadis yang menghadangnya.

-flashback-

"Ayah, lihat aku. Aku mendapat nilai seratus."

Hinata segera membongkar tasnya, mencari kertas ulangan yang dibagikan tadi. "Ayah, aku..."

"Hahaha, bagus, Hanabi." Ayahnya mengangkat tubuh Hanabi, adiknya, keudara.

"Ayah, aku juga mendapat..."

"Shh, Hinata, ayah sedang menggembirakan adikmu ini. Nanti saja, ya."

Hinata tahu mengapa Hanabi lebih dipuji dibandingkan dirinya. Walau menurut tes IQ Hinata lebih tinggi, tapi Hanabi dua kali lebih rajin darinya, dan entah bagaimana, bisa meraih beasiswa sehingga bisa duduk di kelas yang sama dengannya.

Suatu ketika...

"Hinata! Bagaimana kau ini! Masa kau mendapat nilai rendah dari pada Hanabi?"

Tubuh Hinata gemetar. Ujian kali ini memang lebih sulit. Tepat sebelum ujian, ia melihat Hanabi membuat kertas contekkan. Bahkan ia yang merasa belum mampu menghadapi materi ujian tersebut, memilih untuk tetap mengerjakkannya dengan jujur.

"Hanabi membuat contekan sebelum ujian, ayah!" seru Hinata terisak.

"Tidak! Hanabi tidak mungkin melakukan hal seperti itu! Kau saja yang mengada-ngada!"

Plak!

Deg.

-ending flashback-

Hinata menghela napas. Masa kecilnya membuatnya semasa SMP pindah ke Tokyo, kerumah saudara sepupunya untuk tinggal dengan alasan mau mencari kehidupan di kota.

Dan kenangan masa kecilnya membuatnya trauma. Takut menghadapi orang yang menuduh, memaki, berteriak didepannya. Ia takut sejujur apapun mengatakannya, ia tidak akan dipercayai seperti dulu.

-X-

Sakura mengambil kerikil sebanyak-banyaknya, kemudian melemparnya keras-keras kedalam sungai. "Aaaa!"

Pohon sakura disekitar sungai mulai bermekaran, warnanya merah muda lembut sama seperti rambutnya. Biasanya, Sakura sangat menyukai suasana ini, tapi kali ini tidak.

Naruto menyukainya dan bukan Hinata?

Apa itu benar dan dapat dipercaya?

Sakura memandang bias wajahnya dipermukaan sungai. Ia percaya... ia percaya...

Tetapi ia takut untuk mempercayai siapapun untuk saat ini.

Sakura menangis. Membiarkan air matanya jatuh kepermukaan sungai. Ia bisa tampak kuat diluar, namun hatinya serapuh kaca. Dan ia ingin sendirian.

-X-

Menunggu ujian berakhir itu sangat membuat frustrasi.

Terkadang, ditengah kepusingan belajar, aku menyalakan laptop, mengetik beberapa paragraf fanfict dan mulai belajar lagi.

Ada yang pernah mendapat flame? Hm, ya, kurasa banyak fans NaruSaku yang mendapatnya. Setiap pagi sebelum ujian, dengan meminjam ponsel milik teman sebangkuku-kau tahu siapa-aku mengecek perkembangan setiap fanfict-ku. Yang mengejutkan, ada sekitar dua atau tiga flame. Oalaa. Bagus kalau flame tentang cara penulisanku atau bagaimana, tapi ternyata tentang pairing canon ._. sebagai author netral yang nulis pairing disana sini, membuat nama pena Himawari kurang lebih sebulan sebelum Masashi Kishimoto-sensei menyatakan kalau anak NaruHina adalah Himawari, merasa... JLEB!

Oke, aku telah memberikan keterangan kepada fans NaruHina di fanfictku yang berpairing NaruHina(judulnya Touch Your Mind, silahkan kalau mau membaca keterangan tersebut, terletak dibagian paling bawah. Tapi jangan nambah masalah dengan review yang enggak bener, ya?). Ada tentang flame tersebut, tentang pandanganku tentang , yah, kurang lebih seperti pada fanfict "Musim Semi dan Senja" chapter 4 kalau gak salah? Tinggal lihat saja nanti bagaimana responnya... doakan mereka gak tersinggung biar gak nambah masalah. Oke? Hehehe xD

Terima kasih telah membaca dan sabar menunggu karena UAS yang sedang kuhadapi ini... walau akhirnya UASku sedikit terganggu karena memikirkan flame, tetapi terima kasih banyak! Review-nya sangat membantuku untuk semangat melanjutkan fanfict-fanfictku :D