Disclaimer: Masashi Kishimoto
Chapter 8
Hari-hari berikutnya, suasana sekolah semakin mencekam. Kehidupan Sakura semakin tidak tenang karena barang-barangnya terus dirusak diam-diam, walau tidak separah saat lokernya diacak-acak. Kehidupan Hinata lain lagi. Sekalipun barang-barangnya aman, mentalnya tidak. tiap hari ada saja siswa-siswi yang merecokinya.
"Aku tidak mau begini terus!" teriak Naruto sebal. Dia mendatangi Sasuke di klub atletiknya. Hinata yang merupakan astisten disana hanya bisa berdecak pelan.
Sasuke menoleh kepada Hinata. "Hinata-chan, tolong urus anak-anak dulu, ya? Biar aku yang tangani Naruto."
Hinata mengangguk kecil, sesaat kemudian tertawa.
Sasuke mendorong Naruto menjauh dari klub atletik yang sedang sibuk berlatih, kemudian menatapnya garang.
"Apa?"
"Aku tidak mau begini terus!" ulang Naruto, masih dengan teriakkan. "Kau sih enak, masih baik-baik saja dengan Hinata!"
Sasuke mendesah. "Kau belom bisa meyakinkan Sakura, ya? Sebenarnya.. kau tahu sendiri, Hinata juga sering ditahan tiba-tiba, diejek tiba-tiba."
"Jadi apa yang kau mau lakukan?"
"Tidak ada."
"Tidak ada?"
"Selama Sakura masih bersikeras, tidak ada yang bisa melawannya. Kau tahu kan, dia most popular. Sekalipun dia disiksa, masih banyak yang mendekatinya. Berbeda dengan Hinata. Ia semakin direndahkan. Jika saja... jika saja Sakura bisa mencairkan keras kepalanya itu, menerima Hinata... semua akan beres, karena si pelaku, Shion tidak akan punya cara lagi untuk menghancurkan mereka." kata Sasuke dingin. "Tetapi aku bukan orang yang bisa mencairkan keras kepalanya itu!"
"Shion. Menurut ceritamu, dia punya teman dekat, bukan?" tanya Naruto.
"Ya. Kalau tidak salah, namanya Temari." jawab Sasuke. "Memang kenapa?"
"Kurasa kita memiliki celah."
"Eng?"
"Bukan ide bagus, tapi kuharap dengan celah itu, aku bisa menemukan jalan keluarnya." sahut Naruto.
Sasuke mendengus. "Akhirnya temperamenmu baikkan juga. Terserah, padamu. Tapi ingat... aku berharap lebih padamu untuk menyelesaikannya."
Naruto mendesah. "Hn."
-X-
Naruto naik keatas bangku, menggapai-gapai puncak lemari. "Nah!"
Akhirnya ia dapat mengambil sekotak kardus yang telah usang.
"Semoga ada didalam sini..." ujarnya dalam hati. Setelah turun dari bangkunya, ia baru sadar jika permukaan lantainya penuh dengan berbagai macam buku berserakkan. Ia terpaksa menaruh kardus itu diatas tempat tidurnya, dan membukanya.
"Ah. Ini dia."
Sebuah buku besar dengan foto-foto perkelas muncul juga. Buku tahunan diangkatannya. Walau dia pindah sekolah, teman terbaiknya kala itu, Sai, memberikan buku tahunan ini kepadanya.
"Walau kau telah pindah, kau tetap pernah menjadi bagian dari kami," ujar Sai. "Ini, karena aku panitia, aku memiliki buku lebih."
"Huah, ternyata ada gunanya juga." ucap Naruto lega.
Srek, sreek... "Temari."
"Hm, ini."
-X-
Sakura menghela napas. Bunga sakura bermekaran dimana-mana. Biasanya ia akan senang. Kali ini tidak. Hatinya terasa kosong. Perkataan Naruto terus terngiang, dan perlahan-lahan hatinya merasa... ucapan Naruto ada benarnya.
Hinata tidak memiliki alasan untuk mencelakakannya.
Dan, ia rindu...
Pada Hinata.
Ia rindu pada persahabatannya dengan Hinata.
Pada Naruto.
Ia rindu pada lelaki, dan itu tidak wajar. Apa ia ternyata telah jatuh cinta namun ia tidak sadar?
Sakura menghela napas. Rasa bersalah mulai menghantuinya. Ia sudah tidak kuat...
-X-
"Kau..."
"Temari-san."
Temari tidak dapat menyembunyikan kecanggungannya. Ia menarik napas dalam-dalam. "Ada apa?"
"Kau masih mengingatku? Orang yang kau buat frustrasi sampai memilih untuk meninggalkan sekolah." ujar Naruto. Ia memandang Temari dengan mata birunya dalam-dalam. "Kurasa kau tahu sesuatu, sampai kau bersikap begitu."
"Ah. Ahh... itu..." Temari mengatur napasnya yang terasa sesak. "Masuklah..."
Naruto tanpa canggung masuk kedalam rumah Temari. Duduk disalah satu sofa, berhadapan dengan Temari.
"Bagaimana kau bisa tahu dimana rumahku?" tanya Temari.
"Mudah saja. dari buku tahunan."
"Kau kan tidak..."
"Aku memiliki teman dekat dulu." sahut Naruto cepat. "Jadi langsung saja, kau masih berhubungan dengan Shion?"
"I-ya."
Naruto menarik napas. "Kalau begitu kau tahu kan, yang terjadi di sekolah sekarang?"
"Ya. Sakura-san, kan? Shion dendam sekali terhadap gadis itu." kata Temari. "Naruto-san, aku langsung saja. Aku tidak mau membiarkan Shion menjadi sosok yang licik terus menerus kedepannya. Aku khawatir akan masa depannya nanti."
Naruto menganggukan kepalanya.
"Shion memang licik, tapi harus kuakui, dia lebih lemah dari aku. Pikirannya tidak secerdasku, jadi walaupun dia melakukan rencananya, dia bisa saja meleset. Aku tahu, dia mau mencelakakan Sakura, tapi ternyata yang mendapat kejadian lebih parah adalah Hinata, bukan begitu?"
"Tepat."
Temari menghela napas. "Karena itu, dia datang padkau dan memintaku membantunya, tetapi aku... menolaknya."
"Terima kasih tidak memperburuk keadaan, Temari."
Temari tersenyum tipis. "Tapi bukan berarti aku bisa menghentikannya."
"Kalau begitu, biar aku yang menghentikannya."
Temari menghela napas, lelah. "Kau bisa?"
"Aku pasti bisa." kata Naruto tegas.
Temari berdecak. "Omong-omong, aku tahu kelemahan Shion. Aku rasa dengan begitu kau bisa menghentikan kelakuannya."
"Apa itu?"
"Dia begitu mengiri dengan persahabatan dan kepopuleran orang, kan?" tanya Temari. "Serang dia dengan hal yang sama, buat dia melihat kalau sehebat apapun rencananya, persahabatan dan kepopuleran itu jauh lebih hebat lagi. Dengan begitu, ia akan menyerah. Ia tidak akan menyerah jika kedua hal itu sedikit demi sedikit hancur."
"Baiklah, terima kasih atas saranmu, Temari-san."
"Justru aku harus berterima kasih kepadamu jika kau bisa melunakkannya." ujar Temari.
"Aku pulang."
"Naruto-san."
Naruto memutar kepalanya, menatap Temari yang ikut berdiri, tersenyum kepadanya. "Gomen."
"Untuk apa?"
"Karena aku telah membuatmu frustrasi dulu. Dan membuatmu meninggalkan sekolah."
"Tidak apa-apa..."
"Boleh kutahu alasanmu kembali?"
Naruto tersenyum. "Ada seorang gadis yang seperti aku. Aku tidak ingin dia mengalami hal yang sama denganku, karenanya aku mau melindunginya. Aku mau melindunginya karena aku telah jatuh cinta padanya."
"Dia..."
"Sakura-chan. Tepat sekali."
-X-
"Wah, ternyata kau hebat juga, Naruto." ujar Sasuke.
Naruto mengacak-ngacak rambutnya sendiri. "Begitulah. Kupikir harus membuat bukti, dan satu-satunya cara adalah merekam bukti tersebut."
"Dibalik saku jaketnya, Naruto telah menyiapkan ponselnya untuk merekam pembicaraannya dengan Temari. Tetapi karena khawatir ponselnya tidak terlalu akurat untuk merekam suara dibalik jaketnya, ia membeli juga sebuah alat perekam khusus untuk menyempurnakan rencananya.
"Tapi mengapa kau menyebutkan segala kalau kau suka Sakura?!" seru Sasuke keras.
Naruto tergelak, kemudian tertawa-tawa. "Hahaha, gomen... kebawa suasana aja."
"Yang diucapkan Temari benar..." sahut Sasuke. "Dan aku memang memikirkan hal yang sama seperti Temari, makanya aku butuh bantuanmu untuk meyakinkan Sakura."
"Iya." kata Naruto. "Aku tahu."
"Sekarang, karena kau sudah memiliki buktinya, kali ini kau harus benar-benar berhasil meyakinkannya, tahu? Aku tidak mau melihat Hinata-chan yang murung seperti itu." kata Sasuke tegas.
"Iya... aku tahuu..."
Sasuke menghela napas. "Awas saja kalau kau sampai gagal lagi."
-X-
"Sakura-chan."
Entah sejak kapan, mendengar suara itu membuat jantungnya berdegup kencang. Ia memandangi mata biru berkilau Naruto, membuat wajahnya bersemu... panas.
"Kau ada waktu hari ini? Kita bertemu di sungai seperti biasa, ya."
Sakura mengangguk, lalu berdeham. "Ada apa?"
"Aku mau memberikanmu bukti selama ini yang kau cari." ujar Naruto sambil tersenyum. "Dan mencairkan kekeras kepalaanmu itu."
Sepanjang hari itu, Sakura tidak dapat berkonsentrasi. Pikirannya kacau sekali, semua yang diperbuatnya hari itu tidak benar.
Akhirnya, hari itu berakhir juga. Ia segera merapikan tasnya. Bergegas pergi walau nanti ia yang harus menunggu Naruto datang.
"Sakura."
Sakura menoleh, menatap Hinata. Sudah berapa lama kita tidak saling menyapa, Hinata?
"Aku mau bilang, untuk kali terakhir..." ujar Hinata, matanya menatap Sakura, menyiratkan bahwa ia lelah dengan yang terjadi. "Aku tidak berhubungan dengan Naruto, karena ia menyukaimu. Karena aku juga telah memilki orang yang benar-benar kusayangi."
Tanpa sadar, Sakura menahan napasnya.
"Itu saja... Sakura."
Sakura bergeming, menatap Hinata yang menjauh. Semakin jauh punggung gadis itu, Sakura menangis.
"Aku tahu, Hinata. Maaf... apapun yang sebenarnya terjadi, maaf..."
-X-
"Kau datang lama sekali. Lihat langit itu, sudah hampir gelap."
Sakura tersenyum tipis. "Maaf ya."
"Iya. Sekarang... nih." Naruto menyodorkan ponselnya yang telah terpasang earphone. Tekan play, coba kamu dengerin baik-baik."
Sakura mendesah, menuruti perkataan Naruto. Lama-lama matanya membulat, mendesah, berdecak kesal...
Raut wajahnya berubah terus menerus.
"Naruto."
"Ya?"
"Jadi Shion, yang melakukannya?"
"Kau sudah dengar sendiri dari sahabatnya. Sahabatnya sendiri yang mengatakkannya." ujar Naruto, "Sekarang kau percaya?"
"Iya.."
"Sulit juga ya melumpuhkan keras kepalamu. Aku harus bersusah dulu." kata Naruto. "Tapi tak apa. Aku tahu, kau akan mengakhiri semua ini, kan?"
Sakura mengangguk. "Aku mau ke rumah Hinata-chan."
"Mau kuantar?"
"Terserah."
Diam-diam senja memandangi mereka sambi tersenyum.
-X-
"Hinata-chan."
"Sakura... Sakura-chan? Sedang apa?"
Sakura langsung menghampiri tubuh Hinata, memeluknya erat. Mata miliknya sedikit sembap menahan tangis. "Maafkan aku, ya?"
"He-eh." Hinata menatap Naruto sejenak sementara tubuhnya dipeluk Sakura. "Ada apa? Ada sesuatu yang terjadi?"
"Naruto telah mencari bukti kuat mengenai ini, pada akhirnya kau tidak salah." ujar Sakura, merenggangkan pelukannya dan menatap Hinata. tersenyum. "Shion... dia benar-benar sialan-aku hampir terjebak olehnya."
"Oh... jadi kau telah tahu?"
"Apa sebenarnya kau sudah tahu siapa pelakunya?" tanya Sakura, sedikit tersentak.
"Iya."
"Kenapa kau tidak langsung bilang padaku?" tanya Sakura.
"Karena aku tahu kau tidak akan langsung percaya. Lagi pula, aku takut dibentak olehmu." jawab Hinata, tersenyum kecil.
Sakura kali ini benar-benar tersentak. Tiba-tiba ia teringat kisah masa lalu Hinata yang pernah diceritakan padanya. Bagaimana ia bisa lupa?
"Maaf, Hinata-chan!"
Hinata tersenyum. "Tidak apa-apa.. walau kau sedikit menjengkelkan."
Sakura berbalik, dan Naruto masih berada disana.
"Sudah?" tanya Naruto lugu.
Sakura tertawa.
"Arigatou, Naruto-kun." ujar Hinata.
Naruto tersenyum lebar. "Ya, ya... sebenarnya pacarmu juga yang menyadarkanku ada celah untuk menyadarkan sikeras kepala itu,"
Sakura langsung melotot kearah Naruto.
"Untung saja suatu celah itu berhasil."
"Hm." dengus Hinata.
"Oke.. kurasa aku harus pulang, Hinata-chan. Sudah malam." cengir Sakura. "Aku... berjanji tidak terjadi hal yang sama... aku akan selalu mempercayaimu."
"Iya, baiklah." sahut Hinata. Senyumnya terlihat lega. "Naruto-kun, antarkan Sakura pulang! Tapi awas kalau terjadi macam-macam padanya."
Naruto mengangguk malas. "Baiklah..."
Sakura hanya dapat tertawa dengan semua itu.
-X-
"Kau benar, Sasuke-kun." ujar Hinata, sebuah ponsel menepel ditelinganya. "Terima kasih karenamu, aku selalu merasa baik-baik saja."
"Ya." sahut Sasuke diseberang telepon. "Karena masalahnya pada Sakura, aku hanya memilih seseorang yang tepat untuk meredamnya, dan itu Naruto."
"Ya, aku tahu... kau cerdas, hahaha. Aku mencintaimu Sasuke-kun, dan sekarang aku mau tidur."
"Aku juga, tapi apa kau mau tidur secepat ini?"
Hinata tertawa. "Walau kau membuatku merasa baik-baik saja, aku selalu kurang tidur gara-gara masalah itu, kini aku mau tidur dengan nyenyak."
"Oh... Baiklah. Mata aimashou. Daisuki dayo."
Hinata tertawa. "Ya."
-X-
"Sejujurnya, kau tidak perlu mengantarku." gurau Sakura. "Rumahku cukup dekat dari rumahnya-tepatnya rumah saudaranya. Pulanglah."
"Sakura-chan."
"Ya?"
"Kau tahu bagaimana perasaanku padamu, kan?"
Sakura tertawa. "Tentu saja."
"Lalu?"
"Hm. Pikirkan saja sendiri!" seru Sakura, kemudian masuk kedalam rumah.
Naruto ternganga sesaat. "Kurasa ia butuh waktu karena ia terlalu senang berdamai dengan sahabatnya," gumamnya. "Akan kubawa besok, kau! Lihat saja!"
-X-
Sakura bangun dipagi hari dengan jantung yang berdebar. Semalam, ia bermimpi. Bermimpi hidupnya yang akan dihiasi dengan senyum Naruto... kencan-kencan dengannya-oh ya ampun.
Apa yang dikatakannya semalam?
"Kau tahu bagaimana perasaanku kepadamu, kan?"
"Tentu saja."
"Lalu?"
Ck. Dia tidak terlalu memperhatikan pertanyaan itu. Ia terlalu riang karena hidupnya akan kembali normal. Bersahabat dengan Hinata kembali.. dan dia tidak pernah sebahagia ini.
Tapi, ada bahagia lain yang diinginkannya. Naruto. Baiklah jika demikian, ia akan mengakui perasaannya juga... hari ini.
Sakura tersenyum, berangkat sekolah, kembali ceria seperti biasanya. Seharian ini, ia terus bersama Hinata, yang pada akhirnya tampak aman karena kelakuannya tersebut.
"Aku tahu kau gembira, Sakura-chan, tapi masa aku diacuhkan begitu saja setelahnya?"
Sakura mendongak. Oh, Hinata telah menghilang entah kemana saat ia harus menyimpan barangnya diloker. Pantas Naruto dapat menemuinya dan...
Entah bagaimana wajahnya terasa panas.
"Oh ya, nanti sepulang sekolah, kau akan ketempat yang biasa, kan?" tanya Naruto.
Sebenarnya, walau Naruto tidak mengucapkannya, Sakura memang mau ketempat biasanya. Sungai dan jembatan tempat pertemuan mereka. Mengakui perasaannya.
"Iya." Sakura hanya bisa menyahut itu.
"Kalau begitu, akan kutunggu." ujar Naruto. "Aku tahu aku pasti lebih cepat."
Sakura ternganga sesaat, kemudian tersenyum menatap punggung Naruto yang menjauh.
-X-
"Kau sengaja, kan?" tanya Sasuke ketika tiba-tiba Hinata menghampirinya.
"Bagaimana kau tahu?"
"Karena itu adalah kau. Aku tahu segalanya tentangmu." sahut Sasuke. "Kau melihat Naruto dari jauh, kemudian kau meninggalkan Sakura."
Hinata tertawa. "Aku senang Sakura bersahabat denganku, tetapi sepertinya ia kangen sekali padaku hingga tidak mau lepas dariku. Di kelas, Naruto sudah memberi kode kepadaku beberapa kali agar mau membagi Sakura padanya, tapi Sakura memang sulit dilepaskan dariku begitu saja."
"Kode? Kode seperti apa?"
"Itu sedikit sulit dijelaskan, Sasuke-kun." ujar Hinata, kemudian tertawa.
-X-
Sang lelaki menunggu dibawah pohon sakura, duduk tepat dibangku yang tersedia disana. Ia memandang sang gadis yang menatap sungai dibawahnya, menatap biasnya sendiri. Sang gadis lama sekali datangnya, sehingga ia memilih duduk ditempat yang tak terlalu jauh dari sungai tersebut.
Kemudian, ia menghampiri sang gadis dan tersenyum. "Cokelat untukmu."
Sang gadis ikut tersenyum. "Dark chocolate. UM! Aku menyukainya."
"Kau tidak menyukaiku?" tanya sang lelaki.
Sang gadis tertawa. Menepuk bahu sang lelaki. "Aku juga menyukaimu, kok."
Sang lelaki mengerjap tak percaya. Lalu tertawa. "Kau bercanda lagi, ya?"
Sang gadis kemudian menatapnya galak. "Aku serius."
Sang lelaki tersenyum. Perlahan, tangannya menyampir dibahu gadis itu, merangkulnya, agar lebih mendekat pada dirinya.
"Kau lama lagi hari ini, Sakura-chan." ujar sang lelaki. "Langit sudah berwarna oranye, dan kita tidak dapat melihat bunga sakura."
"Kita bisa melihatnya besok dihari minggu." ujar sang gadis. Mulai melahap cokelatnya sedikit demi sedikit.
"Baiklah, omong-omong, apa yang membuatmu begitu lama?"
Sang gadis bercerita, setelahnya, sang lelaki tersenyum.
"Baguslah jika dia berpikir demikian. Walau aku tidak tahu darimana kau bisa merangkai kata-kata seperti itu. Kau berani. Dan galak."
Sang gadis pun tertawa.
-X-
"Sakura!"
Sakura yang sedang melangkah keluar gerbang terpaksa berhenti, menatap sosok yang memanggilnya. "Ada apa Shion?"
Shion menatapnya garang. "Kau... bagaimana kau..."
"Cukup. Yang mau kukatakan padamu adalah, kau jangan pernah menjalankan hal licik seperti itu lagi. Merusak persahabatan seseorang, hubungan orang... itu kejam tahu?" ujar Sakura tidak kalah garangnya dengan Shion.
Shion mendengus. "Apa kau bilang?"
"Kalau kau terus menerus berbuat seperti itu, aku yakin, dimasa depan kau akan dibenci pada semua orang, lagipula... setiap orang memiliki teman, orang yang dikasihi, dan semua itu sangat bermakna. Jika kau berusaha merusaknya. Jika mereka berjuang keras untuk mempertahankannya... maka yang menang adalah yang mempertahankannya. Seperti aku. Aku bisa saja menyampaikan bukti jahatmu ke penjuru sekolah, dan aku yakin semua mempercayaiku." ujar Sakura tegas. Ia mengeluarkan ponselnya dari saku. "Aku punya datanya disini."
Shion tampak tidak percaya karena ia tidak tahu bagaimana Sakura melakukannya, tapi mau tak mau ia merasa terancam. Orang-orang pasti percaya pada Sakura yang telah menjadi korban dan juga karena kepopularitasannya di sekolah itu. Akhirnya ia mengangguk. "Baiklah! Oke! Awas kalau kau sampai berbuat macam-macam!"
"Asal kau tidak melakukan hal yang sama!" seru Sakura, tidak peduli Shion yang telah menjauh itu mendengarnya atau tidak. Mudah-mudahan dengar. Karena suaranya cukup keras, bahkan orang yang lebih jauh dari Shion menoleh kepadanya.
Sakura menaruh ponselnya kembali. Kemudian tertawa kecil. Ponselnya tidak menyimpan data apapun mengenai Shion. Tetapi ada pada Naruto, kan, yang sebentar lagi akan mendengar pengakuannya?
-END-
Wow! Menulis fanfict itu... cukup melelahkan, hehehe. Setelah beberapa hari bingung mau melanjutkan kisah ini seperti apa... akhirnya aku menarik kesimpulan kalau sebenarnya tidak ada yang perlu kuceritakan lagi mengenai fanfict ini, dan aku hanya perlu menyelesaikannya saja... xD
Aku meminta maaf kalau ada bagian-bagian yang kurang mengena bagi readers, mungkin terutama bagian masalahnya, gitu. Karena aku untuk pertama kalinya membuat cerita dengan tokoh antagonis, dan itu ternyata cukup menyulitkan dan menguras pikiran, hehehe. Juga karena keterlambatanku mengirim chapter ini, karena yah.. yang telah kusebutkan diatas tadi..., juga beberapa kali cuaca hujan yang tak mendukungku untuk ke warnet :p
Aku memutuskan untuk menamatkan fanfict ini karena aku sedikit kelimpungan bagaimana melanjutkan fanfict ini. Fanfict ini adalah fanfict pertama yang kubuat dengan karakter antagonis dan dengan pair NaruSaku. Aku merasa yakin pasti masih banyak kekurangan di fanfict ini karena masalah karakternya, terutama bagian antagonisnya tersebut. Jadi aku berterima kasih dengan sangat pada para readers yang mereview fanfict ini dengan teliti, menunjukkan bagian-bagian yang masih kurang yang tidak kuperhatikan selama ini :) (senyum terharu)
Terima kasih telah mendukungku, bahkan memberi semangat, juga karena telah membaca ^^ membaca saja sudah berkah loh :D apa lagi nge-review(secara gak langsung minta review dichapter terakhir) Oke, sampai jumpa difanfict lainnya ya!
-Sayounara-
Himawari Natalia.
Ohya... Selamat Natal dan Tahun Baru !
