". . .Berpura-puralah menjadi gadisku selama sebulan. Dan setelah itu aku janji akan melepasmu. . ." / Tetapi yang meleset dari ekspektasiku adalah dalam waktu sebulan perasaan ini menjadi NYATA dan aku tak sudi untuk membiarkannya pergi.

.

.

.

Become Real

Disclamer : Masashi Kishimoto

Story by ShokunDAYO(dan sedikit penyedap rasa bumbu ala eptipi-eptipi)

Pair: SasuHina

Rated: T(dan akan selalu T)

Chapter 1

Warning: AU, OOC, typos everywhere, bahasa nggak baku, abal-abal, diketik karena senggang dan writer block sama cerita bersambung lainnya, nggak janji update cepet, humor gagal, dll.

Don't Like Don't Read

.

.

.

Gue nggak tahu gimana perkembangan ceritanya seperti ini. Iya! Gue sebagai Author juga nggak tahu kenapa tiba-tiba settingnya berubah jadi hall besar dimana pesta kalangan bangsawan sedang berlangsung. Dasar zaman sudah berubah, pesta glamour yang sedang diadakan bukan milik para manusia berdarah biru lagi melainkan para manusia berkantong tebal dengan pundi-pundi emas yang sudah diinvestasikan dimana-mana.

Dan dipojok ruangan pesta, terdapat sepasang sejoli yang sedang bercengkrama. Yang satu terlihat sibuk berbicara dengan siapapun yang menyapanya dengan sopan dan ramah dan yang satu sibuk mengasihani dirinya sendiri karena terjebak dalam permainan sang patner.

"Demi Tuhan, Hinata, jangan pasang tampang seperti mayat berjalan seperti itu!" Sekali lagi Sasuke menegurnya. Jelas sekali bahwa si putra bungsu bersurai raven ini risih mendapati patner pestanya memajang tampang penuh kematian enggan berpijak menghadiri pesta. Jelas-jelas hal seperti itu menunjukan ketidaksudiannya mendampingi Sasuke disini.

"Habis a-aku benci keramaian seperti ini." Memegang gelas berisi jus anggur kesukaannya. Hinata hanya bisa memandang sekelilingnya dengan tatapan mata was-was. "Aku merasa out of place." Ungkapnya gamblang mengingat dirinya yang hanya dari kalangan biasa yang tak pernah mendatangi pesta orang-orang kaya seperti ini. Oh-oh bukan tidak pernah, Hinata tidak lupa, ada suatu masa dimana dia sering mendatangi pesta-pesta glamour semacam ini.

Sasuke tak mengurbisnya karena lagi-lagi rekan bisnis keluarganya menghampirinya dan mengajaknya untuk berbincang. Masih bersembunyi dibalik punggung lebar Sasuke, sang gadis hanya menghela nafas panjang sembari berdo'a agar malam penuh nista ini segera berakhir. Atau kalau boleh minta, semoga saja semua ini hanya mimpi buruk ditengah acara tidur cantik Hinata diatas kasur mungil apartemen sederhananya. Ya, pasti begitu! Mana mungkinkan seorang common seperti dirinya bisa jadi-

"Jadi itu pacarmu Teme?" Pertanyaan itu menyeret Hinata untuk kembali pada dunia nyata. Badannya menegang mendengar suara yang cukup familiar. Berusaha mengintip dari balik figur tinggi besar sang Uchiha. Kekhawatiran Hinata terjawab kebenarannya.

Na-Naruto Namikaze didepannya, bro!

Ya ampun! Oh Tuhan! OMG! Kenapa dia ada disini-sangking paniknya Hinata lupa fakta kalau Namikaze dan Uchiha adalah patner bisnis yang terkenal-, bagaimana tanggapannya kalau dirinya mengetahui bahwa Hinata yang menjadi pacar sang sahabat. Pupus sudah impian untuk bersanding dengan sang pangeran. Meski nanti mereka putus pun, memangnya si pirang berisik ini mau naksir mantan pacar sahabatnya?

"Hn-dia pacarku." Respon Sasuke singkat pada pertanyaan retoris sahabatnya. Kalau bukan pacar siapa lagi? Ini pertama kalinya Sasuke membawa-bawa seorang wanita selain ibunya!

"Yang keberapa?" Ini pertanyaan spontan, tetapi Sasuke yang tak mengerti maksudnya hanya bisa menautkan kedua alisnya bingung.

"Apa maksudmu?" Tanyanya skeptis melihat gelagat Naruto yang seolah-olah ingin menggodanya.

"Ah, maksud aku, jadi kan begini-" Naruto menggaruk rambutnya kikuk karena candaannya malah ditanggapi dengan serius. "Aku dengar kau punya banyak pacar jadi-eh tapi itu rumor loh cuma rumor yang beredar dikalangan mahasiswi." Cepat-cepat Naruto memperbaiki kalimatnya saat Sasuke mulai memajang muka masam penuh kerutan disana-sini.

"Kau terlalu banyak bergosip dengan para mahasiswi berisik itu, Dobe." Tegur Sasuke yang hanya dibalas dengan cengiran iklan pepsodent oleh sohibnya sendiri. "Pacarku cuma satu. Dan cuma dia ini, Hinata perkenalkan dirimu." Perintah Sasuke seenak mukanya yang tampan tak peduli bahwa Hinata megap-megap kekurangan oksigen karena tiba-tiba mendapatkan jatah interaksi dengan seseorang yang selalu mewarnai mimpi indahnya-ciee sok puitis-

"Hinata?" Naruto mengulang salah satu kata yang dia lontarkan dengan takjub. "Maksudmu Hinata Hyuuga? Hinata yang itu?" Ada nada penuh keterkejutan dan sedikit ejekan didalamnya. Masak iya, Sasuke Uchiha yang begini superiornya mau sama Hinata yang-

"Iya yang itu." Hati gadis itu mencelos mendengar jawaban yang pacar-palsunya- berikan. Diremehkan oleh orang yang ditaksirnya dan dibenarkan oleh orang yang jelas-jelas meminta bantuannya sudah masuk daftar urutan tersialnya hari ini. Menggembungkan pipinya kesal, Hinata membawa gelas ditangannya untuk menumpahkan isinya membasahi kerongkongannya yang tiba-tiba kering. Kesal! Tahu begini sih mending Hinata menanggung malu karena sudah pasti prediksinya perihal sang cowok idaman mengetahui dirinya ditaksir gadis 'yang itu' sudah pasti akan ditolak habis-habisan seratus kali lebih mending daripada skenario sindir-menyindir seperti ini.

"Wo-wow!" Naruto masih belum bisa menemukan kata yang tepat. Seakan kenyataan yang mencengangkan itu mampu membungkam mulut berisiknya. "Aku harap kalian-err langgeng?" Disini Naruto tak yakin. Beneran mereka pacaran? Malah si rambut jabrik ini semakin yakin kalau sahabatnya cuma main-main.

"Terima kasih." Balas pemilik iris onyx dengan singkat, jelas, padat dan mewakili segalanya. "Baiklah, aku harus menemui Tou-san, Kaa-san dan Baka-Aniki dulu. Permisi." Ucapnya meninggalkan Naruto seraya menarik tangan Hinata yang sudah menjelma dingin melebihi batangan es yang biasanya dibuat untuk membekukan ikan yang berhasil diangkat dari perairan. A-apa katanya? Menemui?

Hinata memperhatikan raut datar Sasuke yang bisa dikategorikan sedatar papan triplek yang digunakan Hinata sebagai tambalan dinding apartemennya yang bolong saat tak sengaja sepeda yang dikendarai anak tetangganya menabrak dinding peyotnya sebulan yang lalu. Beneran ini? Apa si pemilik rambut 11-12 mirip pantat ayam jago ini nggak tahu kalau dulu Hinata sempat-

"Psst-apa tidak nanti saja?" Hinata berbisik, menarik lengan Sasuke dengan satu tangannya yang tak terapit oleh pemuda itu. Sang gadis mencoba merajuk mengulur waktu pertemuannya dengan sang calon mertua. "Ka-kalau sekarang bertemu bisa gawat. Nanti kita benar-benar dikira pacaran te-terus nikah beneran!" Hinata bergidik ngeri sembari menjabarkan kemungkinan-kemungkinan yang dinilai mustahil oleh sang kekasih.

"Jangan berharap yang macam-macam." Sasuke menggerutu. Apanya yang nikah beneran, mana sudi dia menikah dengan cewek kuno macam Hinata. "Kau tak mengenal orang tuaku." Lanjutnya sama sekali tak memperhatikan raut wajah horror yang dipasang oleh si pemilik mahkota berwarna indigo kebiru-biruan itu.

Sasuke melepaskan apitan lengannya, merasa gerah karena Hinata terus merecokinya dengan berbagai prediksi yang mustahil untuk terjadi didunia nyata. Memangnya papa Fugaku dan mama Mikoto tahu apa tentang pacar aspalnya ini? Sampai-sampai kalau mereka mendapatkan berita keduanya menjalin hubungan yang terjadi bukannya kebebasan, mereka malah harus cepat-cepat mempersiapkan diri naik kepelaminan.

"Duh, Sa-Sasuke-san-" Sasuke memberinya deathglare padahal sudah dia perintahkan untuk memanggilnya menggunakan embel-embel -kun-atau bahkan tidak sama sekali- dan menanggalkan semua formalitas antara keduanya. "Kau-kau tidak mengerti! Bu-bukan ide bagus mempertemukanku dengan keluargamu." Hinata kembali mencoba meyakinkannya. Tetapi sang pemuda kembali menolaknya dan yang bisa Hinata lakukan hanyalah berdo'a agar sang suami-istri Uchiha-kalau bisa sekalian sama putra tertuanya- sedang sangat sibuuuuk sekali hingga tak dapat menemui keduanya.

"Hinata? Eh-eh? Hinata-chan?" Tetapi do'anya tak terkabul. Setelah beberapa langkah mengekor figur kekasih yang berjalan cepat didepannya. Dia mendengar seseorang memanggil namanya dan dia cukup tahu siapa yang mengenalinya tanpa berkenalan dengannya dipesta itu!

Sasuke sendiri cukup terkejut mendengar suara yang begitu familiar ditelinganya malah memanggil Hinata bukannya dirinya dan yang lebih mencengangkan lagi, suara itu memanggil sang pacar aspalnya dengan nama kecilnya seolah-olah mereka adalah teman lawas yang sangat mengenal satu sama lain. Seperti dikomando untuk menoleh bersama-sama, mereka mendapati sang Uchiha sulung berjalan cepat menuju arah mereka diikuti seorang pria yang cukup Hinata kenali seumur hidupnya.

"Itachi-sama, Neji-nii-" Dan yang membuat keterkejutan Sasuke semakin menjadi-jadi adalah bibir mungil Hinata yang memanggil nama kedua orang yang sedang berjalan cepat kearah mereka dengan wajah keduanya yang kontras perbedaannya. Sang Uchiha sulung berambut panjang memasang wajah bahagia bukan kepalang, sedangkan sang pria berambut coklat-panjang yang diikat longgar kebelakang malah memasang tampang seperti baru saja menemui hantu yang boleh numpang lewat.

.

.

.

"Padahal aku sanksi akan mengirimimu undangan karena aku yakin kau tak menyukai pesta-pesta seperti ini. Kau malah tak pernah sekali pun datang semenjak beberapa tahun yang lalu." Menyesap sedikit mocktail ditangannya, Itachi kembali menyerocos menyuarakan keterkejutannya atas kehadiran Hinata dipesta milik keluarganya.

Digiring menuju balkon membentuk sebuah grup kecil untuk berbincang-bincang bersama. Itachi mempersilahkan mereka untuk duduk dikursi yang melingkari meja bundar yang sudah disediakan oleh pelayannya setelah Itachi memintanya beberapa saat yang lalu.

Pria itu Itachi Uchiha, kakak dari Sasuke Uchiha. Pria yang terpaut empat tahun dari si pantat ayam jago itu adalah kakak dan saudara semata wayangnya. Diusianya yang menginjak dua puluh tiga tahun, dirinya hidup menjadi seorang artis terkenal-gen Uchiha memberikan ketampanan tak terbatas pada pewaris-pewarisnya, jadi jangan iri!- .

Walaupun seharusnya dia sudah cukup umur untuk mewarisi posisi penting kerajaan bisnis Uchiha, tetapi dia menolaknya. Meskipun kadang masih ikut campur sedikit mengurusi bagian yang kecil. Tetapi perannya tak cukup signifikan, semua pekerjaan dia limpahkan pada Neji Hyuuga, seorang Hyuuga senior yang dulu juga menimba ilmu di universitas yang sama dengan adiknya.

Keberhasilannya dalam bermain pialang saham membuatnya menjadi tangan kanan Itachi yang tak tertarik mengurusi deret angka harta milik Uchiha yang sejujurnya tak pernah dia lihat bahkan saat dirinya juga harus mengurusi jadwal acara harian milik sang artis karena jabatannya yang sekaligus merangkap sebagai managernya. Dan lebih hebatnya lagi, Neji jugalah yang membuat keluarga Uchiha melirik keluarga Hyuuga hingga mereka segan-segan untuk mengucurkan beasiswa bagi adiknya yang dianggap juga memiliki potensi yang sama dengan dirinya

"A-aku kesini menemani Sa-Sasuke." Jawab Hinata sedikit ragu-ragu. Jelas ini bukan situasi yang akan menguntungkan dirinya dikemudian hari.

Melirik kearah Sasuke yang tidak bergeming sedikit pun dari tempatnya. Hinata menyadari bahwa kekasihnya itu pasti kebingungan akan situasi yang tiba-tiba tersetting saat ini. Yah, mau bagaimana lagi. Mungkin sudah waktunya Hinata menceritakan seluk-beluk hubungannya bersama keluarga Uchiha. Inilah yang membuat Hinata menolak mati-matian untuk diperkenalkan dengan keluarganya. Biar saja dibilang plin-plan, katanya mau membantu tapi akhirnya berusaha kabur. Habisnya-

"Ah-kau disini untuk-a-apa? Menemani Sasuke? Ko-kok bisa?" Suara Itachi membuyarkan lamunan singkat Hinata. Itachi terkejut, Neji terhenyak. Saling berpandangan mereka akhirnya melempar tatapan penuh tanya kepada keduanya. Memangnya apa hubungan mereka?

Kalau ada lubang yang tiba-tiba muncul, Hinata ingin rasanya masuk menjebloskan dirinya sedalam-dalamnya disana. Mengakui dirinya menjalin hubungan pada si sulung tentu bukan pilihan yang bijak apalagi kalau-

"Jadi apa yang kau hubunganmu dengan tunanganku Sasuke?" Kali ini sang kakak mengarahkan pertanyaannya pada sang adik karena tak kunjung mendapat jawaban dari gadis yang sedang diintrograsinya.

Sasuke spontan memelototkan kedua onyxnya. Apa yang kakaknya bilang? Tunangannya? Kok bisa? Kok bisa si culun-kuno ini jadi tunangan kakaknya? Jadi sekarang dia sedang terlibat genre cerita NTR-an sama calon kakak iparnya sendiri?

"Ma-mantan Itachi-sama. Pertunangan sudah dibatalkan." Koreksi Hinata cepat-cepat menengahi aura yang tiba-tiba berubah menjadi tak menyenangkan disekitarnya.

Itachi berdecak kesal melihat Hinata meralat kata-katanya. Padahal dirinya masih belum puas menjahili sang adik tengilnya yang memajang tampang bloon saat dia mewartakan bahwa Hinata adalah tunangannya.

"Yah, Himee-kau merusak segalanya." Itachi memprotes yang hanya ditanggapi sang gadis dengan senyum kecut. "Sebentar, kita main tebak-tebakan, jangan bilang kalau kalian ehhmm-" Itachi memutar-mutarkan telunjuknya didepan mereka berdua membuat Sasuke dan Hinata malah ikut memutar bola mata mengikutinya.

"Jangan bilang kalau-oh! Kalian sepasang kekasih. Neji, Neji, lihat fakta ini lucu sekali. Hinata-chan menolakku kemudian menjalin hubungan dengan adikku. Hahaha!" Itachi yang tertawa terbahak-bahak berbalik mencoba menarik perhatian Neji yang sibuk mengamati gerak-gerik adiknya. Benarkah adiknya berkencan dengan adik bosnya sendiri sementara dahulu saat keluarga Uchiha meminangnya untuk dijadikan calon pengantin si sulung dia malah menolaknya?

"Benarkah itu Hinata?" Neji berbalik bertanya, Hinata hanya bisa mengigit bibir bawahnya gugup. Tidak menyangkal, tidak juga mengiyakan. Dia hanya takut jawabannya hanya akan membuat masalah menjadi semakin runyam.

Sasuke yang cukup bisa membaca situasi segera mencoba menyelamatkan Hinata karena merasa gadis patnernya itu sudah dipojokkan keujung jurang. Melirik sebentar kearah Hinata yang sudah menundukan kepala dan meremas-remas gaun pestanya. Sasuke menghela nafas pasrah kalau kakaknya menggoda habis-habisan saat dirinya membenarkan tebakannya barusan.

"Dia memang pacarku." Sasuke mencoba tenang, walau tak dipungkiri bahwa dirinya cukup gemetar juga. Bagaimana kalau kakaknya marah karena dia telah merebut tunangannya?

Bukannya amukan dahsyat yang diterimanya. Sasuke malah menerima jabat tangan memberi selamat sebanyak-banyaknya dan do'a yang katanya selalu menyertainya agar hubungan mereka bisa sampai bersanding kepelaminan.

"Syukurlah Neji! Kita benar-benar jadi saudara hahahaha!" Itachi riang bukan kepalang, sudah menjadi impiannya memiliki adik perempuan manis seperti Hinata setelah menelan pil kekecewaan karena yang diberikan Tuhan YME ternyata saudara laki-laki tengil macam Sasuke-tapi Itachi tetep sayang kok-. "Aduh ini random sekali, sebentar-sebentar aku panggilkan Tou-san dan Kaa-san! Mereka pasti senang sekali mendengar berita ini." Itachi meminta tolong kepada Neji untuk memberitahukan kabar gembira untuk kita semuanya versi keluarga Uchiha kepada kedua orang tuanya. Pamit mundur sejenak, Neji menggeser kursinya dan beranjak pergi meninggalkan ketiga sosok yang masih duduk dengan tiga ekspresi wajah yang berda-beda. Hinata pucat pasi, Sasuke terpaku diam dan Itachi menyunggingkan senyum seribu dollar penuh arti.

Hinata pucat pasi. Melayangkan tatapan penuh putus asa dengan sorot mata yang mengatakan, 'Apa kubilang!' pada Sasuke yang masih terpaku kaget akan semua perkembangan skenario buatannya ke arah yang tidak terduga. Inginnyakan cuma mempublikasikan Hinata sebagai pacarnya agar tak ada yang menganggunya lagi sampai batas waktu yang ditentukan lalu habis perkara! Bukannya malah temu mertua gini-kan? Terus apa-apaan tadi Hinata kok bisa jadi kadidat calon istri kakaknya? Tuhan! Tolong katakan pada Sasuke ini semua cuma mimpi!

'Ha! Kan sudah kubilang!' Mendadak mereka berdua bisa membaca bahasa mata. Saling lirik menyalahkan satu sama lain, mereka tak sadar beberapa derap langkah yang tergesa-gesa mendekati mereka.

"Benarkah? Benarkah Sasu-chan akan menikah dengan Hinata?" Mikoto yang tiba-tiba menyembul dipintu balkon terlihat begitu gembira dan antusias menanggapi berita salah kaprah yang Itachi infokan. Sejak kapan kata pacaran bersinonim dengan menikah? Ya kan kampret kakak semata wayangnya satu ini!

Disisi lain Hinata hanya bisa bergidik ngeri melihat sang calon mertua yang kegirangan berlari dengan heels yang tingginya lebih dari 10cm. Belum lagi ujungnya yang runcing enak buat nabok kepala orang sampai bocor. Kalau bisa Hinata pengen menguji ketajamannya dengan bahan test kepala pantat ayam disebelahnya ini.

"Kami hanya uhmm—pacaran, Kaa-san. Bukan menikah." Sasuke mencoba membenahi, memandang ngeri pada ibunya yang memeluk erat Hinata hingga wajahnya berubah ungu karena kekurangan pasokan udara. Dengan hati gentleman yang kadarnya setengah-setengah, Sasuke membantu Hinata untuk melepaskan diri dari pelukan sang calon-ingin-jadi-mertua.

"Mou, Sasu-chan! Kenapa tidak menikah? Kalau sama Hinata, Kaa-san mendukungmu 100%!" Memanyunkan bibirnya tanda tak terima akan berita yang diralat oleh sang putra bungsu. Mikoto yang sudah memasuki usia kepala empat masih terlihat lucu saat bersikap seperti gadis remaja yang berakting mengambek.

"Dan Tou-san juga mendukungmu." Berjalan dengan langkah tegap gagah berani walau halangan rintangan setiap saat datang menguji tak jadi masalah dan beban pikiran. Fugaku yang datang diiringi dengan Neji yang mengekor patuh dibelakangnya langsung mengambil posisi disebelah Mikoto berusaha menenangkan istrinya yang mulai merajuk. "TBSK, Tou-san Bangga Sama Kamu—akhirnya dirimu sudah mengambil jalan yang benar." Disini Sasuke positif merinding mendapati pandangan menerawang Fugaku entah kemana diiringi setitik air mata yang lolos dari matanya.

Hinata sweatdrop, mendadak ingin pindah keanggotaan perserikatan manusia bumi menjadi anggota resmi penghuni planet asing tak tahu ada dimana. SERIUSAN DAH! Kalau memang begini caranya mending sekalian Naruto-sang pujaan hati- tahu semua rahasianya. Daripada sekarang? Terjebak situasi absurd dimana dirinya tidak bisa berbuat apa-apa selain angguk-angguk seperti pajangan mobil padahal innernya berteriak frustasi ingin menolak semua yang diiyakan dan dibenarkan oleh calon-calon kebelet jadi mertua dan kakak ipar.

"Tapi kami tidak akan meni—" Tanpa disadari oleh Sasuke yang sekali lagi hendak menyangkal dan meluruskan fitnah yang dilancarkan oleh sang kakak. Tiba-tiba Hinata yang berada disampingnya sudah diculik oleh Mikoto agar berjalan mengikutinya. Dan entah darimana, ditangan Mikoto sudah terdapat beberapa katalog pernikahan yang ditawarkannya penuh antusias pada Hinata yang hanya bisa tertawa terpaksa. Menoleh sejenak kearah Sasuke setelah merasakan tusukan tajam matanya menembus punggungnya. Hinata meneguk ludahnya menatap onyx Sasuke yang seakan berkata,

'BESOK KAU HARUS MENJELASKAN SEMUA KEPADAKU, APA MAKSUDNYA SEMUA INI?!'

Well, besok akan menjadi hari yang panjang—

.

.

.

TBC

.

.

.

Akhirnya update juga.

Ini memenuhi janji Shokun yang bilang bakal update secara berkala waktu liburan.

Satu-satu ya soalnya ternyata cerita multichap yang nunggak banyak banget!

ASTAGA! KENAPA BISA BEGINI? PADAHAL SUDAH SHOKUN BILANG DARI AWAL BAKAL MENGHINDARI MULTICHAP BIAR NGGAK KETETERAN TAPI MALAH KAYAK GINI HHUHU MAAFKAN!-caps jebol—

Dan nggak janji lagi bakal update fic ini buat chappie selanjutnya cepet apa nggak. Soalnya ini Cuma fic selingan aja sebenarnya. Ini fic random, malah Shokun sendiri belum tahu alurnya mau dibawa kemana hhaha.Btw, makasih buat yang ripiuw dan mengingatkan untuk update dichapter sebelumnya~ Maaf nggak bisa kilat kayak cetak foto wkwkwk.

Btw, enjoy! Review please? Bagaimana udah puaskan buat yang nagih-nagih molo? Hahaha

With Love, Shokun