Important notes:

1. Saya memakai nama "Yukio" sebagai marga keluarganya Yuuma dan Mizki. Tolong jangan tanya dari mana saya bisa dapat nama itu.
2. Karena Mizki avatarless, saya memutuskan untuk memakai design chara yang rupanya mendekati Yuuma alias yang rambutnya pink. Err... Here it is. I don't know who's the artist anyway. ( whatfairytaleisthis . blogspot 2010 / 11 / vocaloid-vy1 . html / )
3. Karena Yuuma avatarless (juga), maka di sini saya menggambarkan dia dengan wujud Roro.
4. Saya juga memakai Roro sebagai tokoh di sini.
5. Hints; disini Yuuma dan Roro adalah dua orang dengan eksistensi berbeda.


Warning: Very cliché, possibly typo karena mata saya yang siwernya minta ampun, crack-pair seperti yang selalu saya usung dengan sangat tidak tahu diri, etc. Kesamaan ide harap dimaklumi.


Vocaloid (c) Yamaha, Crypton, etc.
I gain no commercial advantages.
Role (c) datlostpanda


Apa kalian percaya pada mitos yang mengatakan bahwa di dunia ini ada 7 orang berbeda yang memiliki wajah sama persis dengan kita?

Jika kalian bertanya pada Yuuma, maka pastilah jawaban yang akan kalian terima dari pemuda itu hanya satu; tidak.

Yuuma adalah orang yang menjunjung tinggi sains dan fakta. Selama sesuatu hal ada bukti penelitian dan penjelasan logisnya—seperti keberadaan 7 samudera yang nyata dan membentang luas di depan mata, lapisan selimut bumi yang terdiri dari 7 bagian, 7 keajaiban menakjubkan yang berdiri gagah di permukaan bumi, dan langit yang tersusun atas 7 lapisan— maka dia akan berdiri bersama dengan hal tersebut.

Sesuatu yang berkenaan dengan mitos dan tak dapat dimengerti nalar, tentu akan langsung ia tolak mentah-mentah. Namun, sepertinya Yuuma harus mulai menyusun kembali persepsinya karena dia—entah bagaimana— telah menemukan seseorang yang memiliki rupa keterlaluan mirip dengannya.

Saat ini, Yuuma berdiri di suatu tempat yang sunyi. Di sini gelap, dia tidak bisa mengenali di mana dan apa sebenarnya tempat ini. Sunyi yang mengisi jala-jala udara membuat suasana makin mencekam. Dia menelan ludah ketika hawa dingin yang jahat berhembus di belakang lehernya. Yuuma benar-benar tidak tahu dimana dan alasan mengapa ia bisa berada di tempat seperti ini.

Seekor kupu-kupu terbang melewatinya. Sayap serangga itu putih di kedua sisi tanpa satu tetes pun noda. Yuuma mengernyit, bagaimana bisa serangga seperti itu ada di tengah kegelapan seperti ini?

Ketika masih sibuk bertanya-tanya, dari ujung yang gelap sana, muncul seorang anak laki-laki yang usianya kira-kira masih 6 tahun. Anak itu memiliki untaian rambut berwarna peach. Bola-bola keemasan mengisi kelopak mata anak itu. Dia tersenyum hingga membuat bibir merah mudanya melengkung seperti garis kurva yang indah.

Yuuma terdiam.

Bocah itu adalah cetak sempurna dirinya. Begitu mirip hingga Yuuma hampir saja mengira itu adalah dirinya di waktu lampau. Namun, Yuuma segera menampik gagasan tersebut. Bocah itu mungkin memiliki wajah yang sama dengannya, namun semua dalam dirinya begitu berbeda.

Bocah itu punya dua mata yang memancarkan kelembutan, harapan, dan kasih sayang—yang mana hal tersebut tidak pernah dimiliki Yuuma. Mata emas milik Yuuma berkilat tajam, dan dindin, dan selalu memancarkan determinasi. Berbeda, mereka sangat berbeda. Tapi rupa mereka sama.

Satu hal yang Yuuma bisa pastikan saat ini adalah, anak itu bukanlah dirinya. Semirip apa pun dia, bocah itu bukanlah Yuuma. Tapi Yuuma juga tidak bisa membantah jika dirinya tidak asing dengannya. Mungkin karena rambutnya yang merah jambu, atau karena bola matanya yang sewarna emas, atau karena wajahnya, Yuuma tidak tahu. Anak itu seperti…. Seperti sebuah paradoks.

Begitu sama, tapi berbeda. Terasa asing, tapi familier. Paradoks.

Dalam kebingungan itu, Yuuma mendengar teriakan seorang wanita. Suaranya jauh dan samar. Namun, setiap detik yang berlalu, dia merasa volume teriakan itu semakin kencang, semakin kencang, semakin kencang, semakin—

"Roro!"

Jantung Yuuma rasanya berhenti dan tubuhnya kaku ketika nama asing itu masuk ke dalam telinganya.

Dengan cepat, ia melirik bocah laki-laki yang masih berdiri bergeming di ujung sana. Senyum masih melekat di wajah manis bocah itu, hanya saja Yuuma bisa merasa kali ini senyumnya seperti menyembunyikan sesuatu. Tapi apa?

Apa yang anak itu sembunyikan?

"Roro!"

Lagi, Yuuma merasa udara di sekitarnya menyusut, membuatnya sulit bernapas.

"Roro!"

... Siapa yang berteriak? Siapa Roro?

Anak itu masih tersenyum. Misterius.

... Apakah anak itu Roro?

"Roro!"

Kemudian kegelapan menelan sosok anak itu dan perlahan mencengkeram tubuh Yuuma hingga terkubur di dalamnya. Suara itu masih tetap terdengar meneriakkan nama yang sama.

"Roro!"


Take One!
/Introduction: Yuuma I/


Roro!

Dengan sebuah tarikan napas panjang, Yuuma membuka mata dan bangkit ke posisi duduk secara tiba-tiba. Hangat mentari langsung membanjiri tubuh bidangnya. Ia terengah-engah selama beberapa saat.

Mulutnya mengambil udara sebanyak yang ia bisa. Terburu-buru. Seolah paru-parunya akan berhenti berfungsi jika dia tak bernapas saat itu juga. Setelah paru-parunya terisi cukup banyak oksigen, inderanya mulai mengambil-alih kesadarannya. Dan saat itulah dia menyadari sesuatu.

Ia tidak tenggelam dalam kegelapan. Kegelapan bahkan tak menyentuhnya sama sekali. Dia ada di atas tempat tidurnya. Dibanjiri pijar mentari berwarna keemasan. Sendirian.

Yuuma mengerjap. Ia memandang sekeliling, melihat tempelan wallpaper krem di dinding berwarna putih di samping kirinya dan sebuah jendela bertirai kuning pudar di seberang kanan tempatnya berada.

Ia mengamati dirinya sendiri—telanjang setengah badan, sedang bagian pinggul ke bawah tertutup selimut. Pemuda itu selalu punya kebiasaan tidur setengah telanjang, tanpa mengenakan pakaian. Entah dari mana ia dapat kebiasaan itu.

Dengan napas yang masih memburu, ia menyisirkan tangan ke helaian rambut sewarna kelopak sakura yang kini lepek membingkai wajahnya yang tampan. Peluh bercucuran dari pelipis pemuda itu.

"Mimpi itu lagi," Yuuma berbisik frustasi. Dua minggu, dan mimpinya selalu saja sama. Lelucon macam apa ini?

Yuuma bukan orang yang membenci mimpi dalam tidur. Sama sekali bukan. Bagi Yuuma, mimpi adalah satu dari sekian banyak hal yang selalu membuatnya nyaman dan mampu mereset kadar mood-nya yang rusak setelah seharian bekerja.

Beda dengan para pria cantik bergaris batas sabar panjang yang sering muncul di sinetron romansa dan sosoknya kerap jadi idaman para wanita, Yuuma adalah pria keras kepala dan berperangai sedikit kasar. Wajar jika tensi emosinya hampir selalu naik dan mood-nya gampang rusak. Tapi itu urusan lain. Yang jadi masalah sekarang adalah mimpinya barusan.

Yuuma hampir tidak pernah mengalami mimpi yang sama. Kalaupun pernah, jarak dari mimpi pertama dan mimpi berikutnya pastilah terlampau jauh. Lalu kenapa sekarang dia malah terus memimpikan hal yang sama? Dan lagi, mimpi itu menyeramkan dan selalu membuatnya terjaga. Kenapa? Apa yang terjadi padanya?

Roro!

Yuuma menahan napas. Suara itu kembali memantul di telinganya.

Roro!

Brengsek!

Roro!

Hentikan—

"—Ma. Yuuma-kun!"

Pemuda itu tersentak dan mengerjap sekali, kemudian menelengkan kepalanya ke arah pintu kamar. Sesosok wanita berparas ayu menyembul dari balik pintu kayu yang sedikit terbuka. Mata gadis itu sedikit menyiratkan kekhawatiran. Yuuma mengenal gadis itu.

"... Mizki?"

"Nee, Yuuma-kun," gadis itu berbisik nyaris seperti tengah bicara pada dirinya sendiri, "kau tidak apa-apa?" Suara lembut Mizki tak mampu menyembunyikan rasa khawatir yang begitu membuncah.

Setelah merasa sudah sepenuhnya kembali pada realita, Yuuma refleks menyandarkan tubuhnya ke sandaran tempat tidur, menghela napas panjang, membiarkan panas mentari menjamah tubuh. Mizki tetap tak bersuara, namun matanya tetap terpaku pada sosok Yuuma, seakan takut pemuda itu melakukan sesuatu jika ia mengalihkan pandangannya barang sedetik. Menyadari tatapan dari Mizki, sang pemuda kembali mengerling ke arahnya. "Aku baik-baik saja, maaf membuatmu khawatir."

Mizki tahu Yuuma tengah menyembunyikan sesuatu, namun ia memutuskan untuk tidak memaksa.

"Aa... syukurlah kalau begitu," gumamnya. Sebuah senyum hangat kini terentang di wajahnya yang cantik. "Cepatlah bangun! Sarapan sudah hampir siap. Ibu juga sudah menunggu di ruang makan. Kau tidak mau terlambat ke tempat kerjamu, 'kan, Yuuma-kun?"

"Ha?" Yuuma memasang tampang jelek. "Apa salahnya jika aku telat? Aku, 'kan, bosnya."

Mizki memutar bola mata. "Hei, hei, sekedar mengingatkanmu saja, kau ini masih jadi CEO. Paman belum melantikmu jadi Presiden Direktur, tahu!"

"Aa. Sama saja," Yuuma menggosok belakang lehernya pelan. "Tinggal menunggu waktu sampai Ayah pensiun dan aku jadi pemimpin perusahaan."

"Kau ini…. Berhentilah mengeluh! Cepat mandi dan bersiap-siap. Aku dan Ibu menunggumu di ruang makan," setelah mengatakan kalimat barusan, Mizki langsung menutup pintu dan pergi dari sana. Meninggalkan Yuuma yang kini telah beranjak dari tempat tidur dan melangkah ke kamar mandi.


Yukio Yuuma lahir dengan keberuntungan; itu yang selalu orang-orang katakan.

Kakek Yuuma adalah pendiri sebuah perusahaan dagang di Jepang, VY co., sekarang perusahaan tersebut telah berkembang dan menjadi salah satu dari lima perusahaan dengan saham terbesar di Jepang. Ayah Yuuma adalah bungsu dari dua bersaudara yang keduanya terdiri dari laki-laki. Beliau pernah hampir mati frustasi karena tak memiliki hak untuk mewarisi VY co., namun semuanya berubah ketika Yuuma lahir.

Sesaat sebelum Yuuma lahir ke dunia, keluarga besarnya tengah dirundung bimbang. Sang anak pertama, kakak dari ayah Yuuma, ternyata tidak dianugerahi keturunan laki-laki. Garis pewaris pun menjadi putus. Sang kakek pun kecewa dan berkeras tak akan menyerahkan perusahaannya pada Si Sulung sebelum mendapat cucu laki-laki sebagai penerus generasi selanjutnya. Di saat itulah Yuuma lahir dan menjadi cucu laki-laki pertama keluarga Yukio.

Dengan kelahiran Yuuma, secara otomatis, tampuk kepemimpinan VY co. kini berpindah tangan pada si bungsu dan akan diteruskan pada anaknya, Yuuma.

Oke, cukup bicara tentang latar belakang tokoh utama kita. Sekarang, mari kita ubah sudut pandangnya untuk melihat lebih dekat bagaimana sosok Yuuma.

Yuuma sekarang adalah seorang pria gagah berusia 24 tahun yang, 2 tahun belakangan ini, menjabat sebagai CEO bergaji besar di VY co..

Yuuma dan jabatan CEO. Sungguh perpaduan kata yang sangat tidak koheren.

Untuk ukuran seorang pria, wajah Yuuma bisa dikategorikan tampan—sangat tampan malah, sampai mampu membuat orang-orang menolehkan pandang ke arahnya. Postur tubuhnya tinggi dan bahunya bidang. Langkahnya tegas dan gagah. Feromon yang menguar dari dalam diri Yuuma terlalu kuat untuk bisa ditolak.

Tampan, kaya, dan berlatar belakang sempurna. Yuuma punya semua yang diinginkan setiap orang di dunia. Tak ayal, banyak wanita yang berlomba-lomba mendapatkan sosoknya—beberapa bahkan sampai rela menyerahkan keperawanannya hanya untuk bisa sekedar jalan bersamanya. Sayang, banyaknya wanita yang mengejar membuat Yuuma jadi pria brengsek—meskipun yang bersangkutan lebih senang menyebut tindakannya dengan mencoba-tidak-bersikap-munafik.

Entah sudah berapa kali dia melakukan one night stand dan entah berapa banyak pula wanita yang harus merasakan pilu karena disingkirkan begitu saja oleh pria itu.

Sejauh ini, Yuuma memang belum tertarik untuk menjalani hubungan yang serius. Dia lebih suka melangkah bersama alur tanpa sebuah ikatan. Bebas dan lepas. Brengsek? Memang. Mizki saja sampai geleng-geleng kepala dengan kelakukan Yuuma.

Oh, bicara mengenai Mizki, dia adalah sepupu Yuuma, anak dari sulung keluarga Yukio.

Berbeda dengan Yuuma yang tempramental, Mizki adalah gadis manis yang sangat bersemangat. Ketika berjalan, langkahnya seperti melompat. Ketika bicara, suaranya merdu seperti kicau burung gereja.

Dari luar, penampilan gadis itu tak beda jauh dengan Yuuma ataupun keturunan Yukio lainnya. Tubuh sedang, kulit putih bagai porselen, dan rambut merah muda khas yang menjuntai hingga ke pundak. Meski nasib sudah menggariskan Mizki untuk tidak menjadi pewaris VY co., gadis itu tak lantas bermuram durja. Gadis pecinta kimono itu saat ini justru sibuk berkutat dengan buku-buku sastranya. Dia tengah merangkai mimpi untuk menjadi seorang sastrawan.


"Dasar! Yuuma-kun selalu saja seenaknya sendiri."

Ann mengisap rokoknya dan mendesah sembari menatap sosok anaknya, Mizki, yang muncul dari lantai dua sambil menggerutu. Ann adalah wanita ramping dengan tulang pipi tinggi. Darah Australia yang mengalir dalam tubuhnya membuat wanita itu memiliki visualisasi khas—rambut pirang bak biji jagung dan mata biru lebar yang bersinar.

Visualisasi Ann yang begitu berbeda kadang membuat Mizki, selaku anak, merasa heran sekaligus putus asa karena dia sama sekali tak menuruni apa pun dari sang ibu. Tak ada rambut pirang, tak ada pula bola-bola sebiru samudra. Kadang, Mizki mengutarakan pemikirannya pada Yuuma.

Gadis itu mempertanyakan mengapa gen dari ayahnya begitu kuat dan apakah ibunya benar-benar mencampurkan segenap cintanya ketika ia tercipta. Tentu saja, Yuuma langsung menghadiahi Mizki sebuah jitakan keras di kepala. Tidak pantas seorang anak mempertanyakan hal seperti itu.

"Hari masih pagi, tapi kau sudah sibuk menggerutu, Mizki," kata Ann.

"Yuuma-kun malas-malasan lagi, menyebalkan," gerutu Mizki. "Ibu! Sudah kubilang, 'kan, jangan merokok di meja makan!"

"Dia masih muda, wajar jika sikapnya seperti itu," jawab Ann kalem setelah meniupkan asap yang diperoleh dari rokoknya. Dia telak mengabaikan kalimat terakhir anaknya. "Kau juga akan bersikap begitu jika jadi dia."

"Tapi dia, 'kan, sudah dewasa, Bu. Seharusnya angka 24 membuat dia lebih dewasa dan bertanggung jawab, bukan sebaliknya begini—" Mizki terus menggerutu tak jelas.

"Umur cuma sekumpulan angka, Mizki sayang."

"—kekanakan sekali. Apa dia tidak sadar jika sikapnya begitu terus, nanti aku bisa repot karena ditanya ini-itu sama Paman—"

"Kau bisa mengacuhkan kakak iparku itu, sebenarnya."

"—nar-benar tidak mengerti! Bagaimana Ibu bisa tahan mengurus anak seperti Yuuma-kun di Australia selama delapan tahun?"

Setelah Mizki mengatakan hal itu, tiba-tiba saja ekspresi wajah Ann berubah—mata dan raut muka cantik itu tiba-tiba saja berubah seakan tegang. Perubahannya begitu terlihat jelas. Terutama dari sepasang alisnya yang bergerak turun dan bibir tipisnya yang menekan. Jemari lentik Ann yang tengah memegang rokok pun sedikit bergetar membuat biang apinya berjatuh di atas meja. Namun itu hanya sebentar saja. Sangat sebentar. Karena pada detik selanjutnya, ekspresi itu telah menghilang dan kembali ke ekspresinya yang sebelumnya. Tapi, meski perubahan ekspresi ibunya terbilang kilat dan samar, tetap saja Mizki bisa melihatnya. Entah mata Mizki yang terlalu awas, atau karena refleks Ann yang terlalu terang-terangan.

"Kukira kalian sudah memulai sarapan tanpa aku."

Mizki segera menoleh hanya untuk menemukan sosok Yuuma berjalan mendekat. Pria itu sudah mengenakan pakaian rapi—kemeja putih bersih yang jatuh rapi di tubuh besar, celana bahan warna hitam begitu pas melapis kaki, blazer berwarna senada dengan celana menggantung di lengan kanan yang kekar.

Jika saja status Mizki bukan sepupu Yuuma, dia pasti sudah jatuh cinta padanya karena—demi apapun— pakaian kantor itu justru membuat Yuuma kelihatan berkali-kali lebih seksi!

"Kami menunggumu, tahu," balas Mizki. "Harusnya kau berterima kasih."

Yuuma memutar bola mata. "Baiklah, terima kasih sudah mau menungguku, Sepupu. Kau perhatian ternyata."

Mizki ingin sekali membalas ucapan Yuuma dengan nada yang tak kalah sinis, tapi ia mengurungkan niatnya dan membiarkan kalimat balasan itu menggulung kasar di ujung lidah.

Yuuma menarik kursi yang ada di samping Mizki dan duduk di sana. Ketika akan mengambil selembar roti tawar, pria itu mengerling pada Ann yang masih menjepit rokok di antara jari tengah dan telunjuknya kemudian menghela napas.

"Kupikir roti jelas lebih sehat dikonsumsi untuk sarapan ketimbang rokok," Yuuma berkata sembari memasukkan roti yang tadi ia ambil ke dalam mulut.

Ann sempat terhenyak sebelum mengeluarkan suara yang seperti campuran antara dengusan dan tawa mendengar kalimat bernada sarkastis keponakannya. Dia bertanya-tanya dalam hati, dari mana Yuuma mendapat keberanian mengucapkan hal semacam itu padanya dan hampir saja ia utarakan. Tapi Ann memilih untuk mengabaikannya, kemudian langsung mematikan rokoknya.

Suasana berubah. Mizki bisa melihat ada kilatan perasaan aneh bermain di mata biru Ann. Tapi dia tidak bisa menerka apa arti di baliknya. Kilatan itu bisa berarti apa saja. Kekaguman, kerinduan, penyesalan, dan…. Kebencian? Benarkah Mizki melihat kebencian yang mengambang di mata carulean sang bunda?

"Aku merokok karena bosan terlalu lama menunggu keponakanku bangun," Ann berujar tak acuh sambil sesekali menyesap tehnya, yang tampak di mata Mizki sebagai sebuah tindakan defensif untuk menutupi perubahan ekspresi singkatnya barusan.

"Benarkah? Maaf kalau begitu," jawab Yuuma.

"Jadi…. Bagaimana keadaan perusahaanmu?" Ann bertanya, namun tak sepenuhnya kelihatan tertarik. Seolah pertanyaan yang ia lontarkan hanya sebuah formalitas.

"Perusahaan Ayah," Yuuma mengoreksi, "baik, kurasa. Minggu lalu, aku baru saja mengusulkan sebuah proyek baru. Jika nanti banyak pemegang saham yang tertarik menanamkan modal, nilai keuntungan yang bisa didapat ditaksir mencapai 300 juta Yen lebih."

"Kaubisa langsung terbiasa dengan lingkungan kantor, sepertinya Hiyama memperlakukanmu dengan baik, ya?"

Hiyama Kiyoteru adalah salah satu orang yang begitu dipercaya oleh ayah Yuuma. Ayah Yuuma bahkan secara pribadi—atau mungkin, sepihak?— menunjuknya untuk menjadi asisten pribadi Yuuma.

Yuuma berhenti mengunyah ketika mendengar nama Hiyama masuk ke dalam telinganya. Menyadari sikap sang keponakan, Ann lantas mengeryit. "Kenapa? Apa Hiyama tidak memperlakukan dengan baik?"

"Bukan begitu. Dia sudah banyak membantuku, sungguh," jawab Yuuma.

Mizki menyadari kalimat Yuuma menggantung di udara. Ann sepertinya juga menyadarinya, karena ia langsung bertanya, "Lalu apa yang mengganggumu?"

"Aku sudah memecat Hiyama tiga hari yang lalu."

Senyum formalitas Ann tiba-tiba saja menguap saat ia mendengar jawaban Yuuma. Mizki sendiri tak kalah kaget. "Kau apa? Memecat Hiyama-san?" gadis itu bahkan tak bisa menahan bibirnya untuk tak bertanya.

"Ya, aku memecatnya."

"Tapi kenapa?"

"Karena kupikir tak ada salahnya melakukan pembaruan di kantor," jawab Yuuma. Ia mengernyit dalam hati saat menyadari lidahnya secara refleks mengucap untaian kata bohong. Pemuda itu kemudian mengangkat wajahnya, mengerling ke arah sang bibi namun segera ia sesali karena wanita itu tengah menatapnya dengan kilatan waspada. Yuuma sedikit gentar.

Di hari-hari biasa, Ann memang sering menatapnya dengan tajam dan dingin, di satu waktu Ann pernah menatapnya tanpa berkedip dan itu membuatnya ngeri. Yuuma sering mengeryitkan kening dan mengira-ngira hal apa yang bibinya coba temukan dalam dirinya. Apa? Rahasia? Apakah bibinya mencoba mencari-cari rahasia yang melingkupi dirinya? Yuuma sendiri tak mengerti. Tapi satu hal yang Yuuma pahami, dia tak suka sang bibi menatapnya seperti itu.

Dia sangat tidak suka. Sangat.

Itu membuatnya merasa seperti sedang diawasi. Hal aneh mengingat dia sedang berada dalam lingkungan keluarganya sendiri, tempat di mana seharusnya ia merasa nyaman tanpa ada satu titik pun rasa khawatir akan dihujani tatapan hostile ataupun lirikan tajam yang bermaksud meneliti dirinya.

Hari ini pun sama. Dia tak suka saat wanita itu—Ann—memandangnya dengan tatapan seakan ia tahu segalanya. Bibir merah itu mengatup, rapat. Tapi entah mengapa Yuuma bisa mendengar kalimat bernada menuduh (aku tahu kau tengah berbohong) ditunjukkan padanya.

Ann kembali melirik keponakannya, pandangannya dengan cepat berubah melankolis. "Kau sedang memancing sebuah masalah besar, Yuuma."

Ayahmu tidak akan senang mendengar pegawai kesayangannya disingkirkan begitu saja, mungkin kira-kira makna seperti itulah yang bersembunyi di balik kalimat Ann tadi.

Yuuma mengedikkan bahu tak acuh. Dia sadar akan hal itu. Tapi, apa boleh buat? Keputusannya untuk mengeluarkan Hiyama sudah bulat.

Selanjutnya, atmosfer yang menyelubungi mereka bertiga tiba-tiba saja berubah. Tak ada yang bicara. Hanya sesekali terdengar bunyi denting kecil; akibat pertemuan antara dasar cangkir dengan tatakannya. Keheningan baru pecah ketika ponsel yang ada di dalam saku Yuuma bergetar menandakan panggilan masuk. Dengan cepat, ia meraih ponselnya dan meletakkannya di telinga kiri—secara otomatis telah mengetahui siapa penelponnya.

"Mikuo, ada apa?" Hatsune Mikuo adalah rekan Yuuma. Keduanya lumayan akrab meskipun berada di divisi yang berbeda.

"Yuuma!" suara bariton dari seberang terdengar cukup kencang—Yuuma sampai refleks menjauhkan ponselnya dari telinga— dan sedikit panik. "Syukurlah kaubisa dihubungi!"

Yuuma mengernyit. "Kau bicara seolah aku ini buronan yang sulit sekali dihubungi."

"Kau memang sulit dihubungi, bodoh! Aku sudah berkali-kali mengirimkanmu email tapi tak satu pun kaujawab dan—oh, lupakan! Ada hal yang lebih penting. Sesuatu telah terjadi." Nada suara Mikuo berubah dari panik menjadi sangat serius di akhir kalimat.

Yuuma mendelik waspada. Tidak seperti biasanya orang seperti Mikuo bicara dengan nada serius padanya. "Ceritakan."

"Dewan direksi mengumumkan akan menggelar rapat dadakan. Sekarang."

Yuuma mendengus, seakan bosan dengan agenda rapat yang selalu eksis di jadwalnya. "Rapat? Yang benar saja. Bisakah kalian rapat tanpa aku?"

Di seberang sana, Mikuo menghela napas. "Sayangnya tidak bisa," katanya, "karena proyek yang kau ajukan tempo hari adalah agenda rapat kali ini."

Alis Yuuma naik satu. "Proyek? Tapi, bukankah di rapat yang lalu kita sudah sepakat? Apa lagi yang mau dibahas?"

"Datang saja," setelah mengatakan itu, Mikuo langsung menutup telpon dengan sangat tidak sopan. Membuat Yuuma spontan menggerutukan sesuatu dengan kata, 'kurang ajar' terselip di dalamnya.

"Nee, Yuuma-kun, yang menelpon tadi itu Mikuo-kun?" Mizki bertanya setelah Yuuma selesai menyimpan ponselnya kembali. Wajah gadis itu terlihat khawatir.

"Ya," jawab Yuuma minimalis.

"Apa ada sesuatu yang terjadi?"

Bahu besar digedikan. "Mikuo tidak bilang." Tapi, dari nadanya menelpon tadi, sepertinya ada sesuatu yang terjadi.

"Oh, begitu…."

Setelah meneguk kopinya, Yuuma pun bangkit dari kursi. "Aku harus segera pergi."

"Tapi, Yuuma-kun—"

"Aku tidak bisa mengantarmu ke perpustakaan, Mizki. Hari ini cobalah naik bis."

"Siapa yang minta diantar olehmu?!" Mizki menggeram rendah.

"... Lalu?"

"Kaulupa dasimu, tahu!"

"Oh!"

"Dasar!"

Ann menopangkan dagunya pada tangan. Kelereng biru memperhatikan keributan kecil yang terjadi antara anak dan keponakannya. Teh dan dua lembar roti telak terlupakan. Ekspresi dingin menghias parasnya yang cantik. Hatinya berkata, sesuatu yang buruk akan segera menimpa diri Yuuma.


To be Continued