Update cepet yey! Untung UTS Speaking-nya nggak lama jadi bisa punya waktu buat update. /joget /dilempar
Oh, sekali lagi, makasih buat yang udah baca chapter kemarin. Baik yang review ataupun yang silent reader. Sankyuu... /haggu
Warning: Very cliche, possibly typo karena mata saya yang siwernya minta ampun, crack-pair seperti yang selalu saya usung dengan sangat tidak tahu diri, etc. Kesamaan ide harap dimaklumi.
Vocaloid (c) Yamaha, Crypton, etc.
I gain no commercial advantages.
Role (c) datlostpanda
Take Two!
/Introduction: Yuuma II/
Yuuma sampai di kantor kira-kira lima belas menit setelah Mikuo memutus sambungan telponnya.
Dia berjalan memasuki kawasan kantor, melewati pintu otomatis dan langsung disuguhi arsitektur mewah namun tidak terkesan berlebihan. Marmer hitam mahal yang tampak mengkilap melapisi setiap jengkal lantai gedung. Pot-pot tanaman hijau mengisi sudut-sudut kosong. Elegan.
Ketika sedang berjalan menuju lift, sesosok pria berambut teal masuk ke dalam akomodasi pandangannya. Sepertinya yang bersangkutan juga baru saja datang dan sedang menunggu lift.
"Oi, Mikuo," panggil Yuuma.
Sosok itu—Mikuo— tersentak, kemudian berbalik. "Oh, Yuuma! Kau—"
DUAK!
Dengan segenap perasaan, Yuuma mendaratkan sebuah jitakan di kepala Mikuo.
"Brengsek!" Mikuo menyembur kesal. Tak terima kepalanya dijadikan samsak tinju. "Apa yang kau lakukan? Itu sakit, tahu!"
"Yang brengsek itu kau!" Yuuma membalas sinis. "Seenaknya saja memutuskan sambungan telpon!"
"Ah, ya…. Maaf, maaf," ucap Mikuo sambil mengusap kepalanya. Berharap jitakan tadi tak meninggalkan benjol permanen di kepalanya. Ketampanannya bisa berkurang kalau ada benjol. "Aku memutuskan sambungan juga ... karena tahu tak akan ada gunanya kita membicarakan masalah ini di telpon," kata Mikuo lagi.
Pembicaraan berhenti sejenak saat pintu lift terbuka. Mikuo dan Yuuma pun segera masuk. Setelah menekan tombol lantai tujuan dan lift mulai bergerak, sang pemuda teal berujar, "Masalah ini ... terlalu rumit untuk dijelaskan lewat telpon."
"Memangnya ada apa? Kenapa dewan direksi tiba-tiba menggelar rapat begini? Dan lagi, kenapa proyekku yang dijadikan agenda rapat?" tanya Yuuma setelah kemarahannya mereda.
Rekannya yang memiliki tubuh tinggi dan rambut hijau-kebiruan itu segera mengeraskan ekspresinya begitu Yuuma mengeluarkan sederet pertanyaan tersebut, mata pirusnya mendadak menyinarkan keseriusan.
"Sebenarnya ayahmu yang minta supaya rapat ini digelar," ujar Mikuo pelan, nyaris seakan ia tak ingin membicarakannya.
Yuuma mengangkat sebelah alisnya. "Ayah?"
"Ya, ayahmu. Pemimpin perusahaan ini."
Yuuma terdiam sejenak. Ayahnya saat ini sedang berada di luar negeri untuk keperluan bisnis dan baru pulang sekitar tiga sampai tujuh hari lagi. Buat apa dia sampai repot-repot memerintahkan dewan direksi untuk melakukan rapat? Apa yang ayahnya pikirkan?
"Lalu, kenapa tiba-tiba sekali?"
Kali ini Mikuo benar-benar terdiam, seakan sedang memikirkan cara untuk memberitahu Yuuma tanpa membangkitkan emosinya. "Karena sesuatu telah terjadi."
Yuuma memutar bola matanya. "Kalau tidak ada sesuatu yang terjadi, mana mungkin Ayah mau repot menghubungi dewan direksi dan memaksa mereka untuk melakukan rapat," ujarnya sarkastis. "Sekarang beritahu aku, apa masalahnya?"
Mata pirus Mikuo menetap di mata emas Yuuma untuk beberapa saat sebelum ia mengalihkannya ke sembarang arah. Dengan sebuah desahan napas, Mikuo memutuskan untuk memberitahu Yuuma, "Berita pemecatan Hiyama sudah sampai di telinga ayahmu."
Di dalam tubuh Yuuma seakan terjadi sebuah pusaran hebat.
Yuuma memang belum menceritakan apa-apa pada ayahnya mengenai tindakannya memecat Hiyama. Dia berpikir jika masalah seperti itu tidaklah pantas dibahas melalui jarak jauh dan akan lebih efisien bila mereka membicarakannya secara tatap muka. Tapi, sekarang ayahnya sudah tahu tentang masalah itu. Siapa yang memberitahunya?
Yuuma berusaha menenangkan dirinya sendiri, memutuskan tidak ingin berpikir terlalu jauh sebelum tahu pasti apa yang sebenarnya terjadi. "Lalu apa hubungannya dengan proyekku?"
"Sekretarisku bilang, ayahmu menyuruh dewan direksi melakukan sesuatu berkaitan dengan proyek yang kauajukan tempo hari lalu." Mikuo menggantungkan akhir kalimatnya, membuat Yuuma makin merasa tegang. Jantungnya seperti melompat-lompat meski inti berita sama sekali belum ia ketahui. Terkutuklah Mikuo dan kesenangannya membuat orang lain tegang.
Hening sejenak. Mata hijau-kebiruan Mikuo menatap sepasang mata emas di hadapannya. "Untuk masalah apa yang Beliau perintahkan…. Haah…. Soal itu sih…. Bagaimana cara bilangnya, ya?"
"Jangan bertele-tele, brengsek!" Yuuma mulai merasa jengah. "Cepat katakan!"
"Dia membatalkan proyekmu," balas Mikuo cepat, seakan menuruti keinginan Yuuma.
Bagai terkena efek tatapan medusa, pria bersurai merah jambu itu seketika membeku di tempatnya berdiri saat mendengar ucapan rekannya. Lalu, seakan belum cukup membuat Yuuma terkejut, Mikuo melanjutkan, "Dan kudengar, para dewan direksi telah menyetujui pembatalan itu. Mereka juga sudah sepakat mengganti proyekmu dengan milik orang lain. Apa kautahu proyek siapa yang dipilih mereka?"
Yuuma menggelengkan kepalanya. Ekspresinya seakan tengah berada dalam teror. Dan faktanya, dia memang ada dalam teror. Berita pembatalan proyek yang tiba-tiba ini adalah teror yang paling buruk buatnya!
Mikuo menajamkan pandangan pada rekan berambut merah jambunya itu kemudian menyebutkan sebuah nama dengan setengah berbisik. Nama yang sudah tak lagi asing. Nama yang belakangan ini masuk dalam daftar orang yang ia benci. "... Big Al."
Meski tubuhnya mati rasa, luapan emosi membuat Yuuma bisa merasakan tangannya mengepal kencang.
"… Brengsek," Yuuma mengeluarkan makian tercekat. Kemarahan yang teramat sangat muncul secara perlahan menggantikan kebekuan yang semula tergambar jelas di sketsa wajahnya. "Brengsek! Brengsek, brengsek, BRENGSEK!"
Dalam hati, Yuuma tidak peduli jika ayahnya mengamuk atas tindakan pemecatan pegawai kesayangannya, karena Yuuma sadar dia salah dalam hal itu. Tapi bukan berarti ayahnya bisa mengacaukan proyeknya! Kerja kerasnya! Pemikirannya!
Dua tahun Yuuma bekerja dan memperhatikan bagaimana cara perusahaan ini bergerak, mengenal siapa saja target yang dibidik, dan belajar bagaimana cara membuat sebuah peluang kecil menghasilkan keuntungan raksasa. Dua tahun Yuuma memikirkan proyek ini dan hancur begitu saja oleh sebuah titah sang ayah.
"AYAH BRENGSEK!" Pemuda itu kembali menggeram frustasi.
Mikuo diam saja ketika Yuuma meneriakkan sumpah serapah yang secara khusus ditujukan untuk ayahnya, atasannya. Sama sekali tak berniat menenangkan Yuuma karena dia tahu tak ada yang bisa dilakukan ketika emosi Yuuma sudah meledak.
Tiga bulan yang lalu dia pernah mencoba menenangkan Yuuma ketika yang bersangkutan tengah kesal lantaran seorang pengemudi ugal-ugalan menyenggol mobil yang tengah ia kemudikan dan menorehkan sedikit—demi Tuhan, SEDIKIT!— goresan pada badan mobilnya. Hasilnya? Pipi Mikuo jadi sasaran tinju Yuuma. Aneh memang, orang lain yang menyenggol mobil Yuuma tapi malah Mikuo yang kena pukul.
Sejak saat itu, Mikuo jadi paham jika Yuuma sedang kesal, maka siapapun bisa dijadikan samsak tinju. Dan belajar dari pengalaman sebelumnya, dia akhirnya lebih memilih diam dan membiarkan Yuuma mengamuk sesukanya sampai lelah. Lagipula, Mikuo sedikit-banyak bisa memahami apa yang dirasakan Yuuma. Siapa yang tidak kesal jika hasil jerih payahnya disingkirkan begitu saja?
Lift berdenting dan terbuka tak lama setelah hening menyergap kedua pemuda itu. Dengan kesal dan langkah yang menjejak kuat pada lantai marmer, Yuuma segera keluar dari dalam lift. Ada kobaran emosi yang menyala di kedua mata emasnya. Mikuo mengikuti di belakang pemuda itu. Ia setengah berlari untuk menyamai langkah rekannya tersebut.
Yuuma sudah tidak peduli lagi akan Mikuo yang sibuk menyerukan namanya, menyuruh supaya dia mengendalikan emosi yang tengah meletup-letup agar tidak melakukan hal yang dapat memperkeruh suasana yang memang sudah kacau sejak awal ini. Tapi semua ultimatum yang dikeluarkan Mikuo telak diabaikan Yuuma. Well, persetan dengan itu semua. Mengapa dia harus peduli dengan suasana yang akan semakin keruh, jika tak ada satu pun yang mau peduli dengan keadaan nasib karirnya yang telah susah payah ia susun dengan satu persatu keping kepercayaan dari ayahnya.
Karena itu, untuk masalah ini, Yuuma tak akan membiarkan siapapun menghalanginya. Dia akan menyelesaikan masalah ini. Seorang diri. Dengan caranya sendiri. Dan dia sudah dapat menerka-nerka langkah awal yang akan ia tempuh untuk menyelesaikan ini semua.
Semakin dekat Yuuma dengan ruangan tersebut, semakin pemuda itu dikuasai oleh amarah. Ia tak lagi peduli pada para staff dan langkah beberapa rekan kerjanya (yang kebetulan juga tengah lewat di koridor yang sama) tiba-tiba saja berhenti hanya untuk menolehkan pandang ataupun memperhatikan dirinya dengan tatapan yang sulit diterjemahkan. Mungkin heran, mungkin juga bingung. Dan itu semua makin buruk dengan sorot mata mereka yang menyinarkan takut. Yah, meski sebenarnya hampir seluruh staff kantor pusat VY takut pada Yuuma—entah karena titel 'pewaris sah' yang menempel pada dirinya, atau karena memang wajah Yuuma yang kelewat galak (terutama bila yang bersangkutan sedang murka seperti sekarang). Sampai saat ini, hanya Mikuo yang tahan (dan berani) berinteraksi dengan Yuuma di hampir segala kondisi tanpa setitik pun rasa canggung ataupun segan. Apa yang menyebabkan Mikuo begitu berani, semua masih jadi misteri.
Para staff yang ada di tempat itu segera menyingkir bak lautan yang terbelah akibat dipukul tongkat Musa; sengaja memberi Yuuma jalan menuju satu ruangan yang jelas tengah dipakai untuk rapat oleh para dewan direksi.
Sepasang pintu besar berbahan kayu mahogani dengan ukiran di bagian pinggirnya tiba-tiba saja terbuka lebar. Kasarnya cara orang yang membuka pintu itu menyebabkan benda tersebut langsung terdorong keras. Daun pintu yang membentur dinding berlapis cat putih menimbulkan suara berdebam nyaring yang mampu membuat siapapun menolehkan pandang dengan dahi berkerut.
Orang-orang yang berada di dalam ruangan tersentak dan, dalam waktu yang bersamaan, semua kepala menoleh ke satu arah; pada sosok Yuuma yang berjalan memasuki ruangan. Mata emas pemuda itu dipenuhi jilatan api emosi hingga membuat siapapun yang melihatnya bergidik ngeri.
Hatsune Mikuo, yang sekarang telah berdiri beberapa langkah di belakang Yuuma, tersenyum grogi saat berpasang-pasang mata milik para dewan direksi menatapnya sinis. Sungguh, tak pernah terbesit sedikit pun dalam pikirannya akan berada di situasi seperti ini. Terima kasih pada Yuuma.
Suasana langsung hening. Tak ada yang berani buka suara apalagi menegur putra tunggal pewaris VY co. yang sudah melakukan tindakan kurang ajar. Berinteraksi dengan Yuuma yang sedang marah sama saja dengan mencoba memasang tali kekang pada seekor kuda liar yang tengah mengamuk. Berbahaya.
"Ah, Yuuma," sebuah suara mengalun dan Yuuma—beserta Mikuo dan segenap jajaran dewan direksi yang ada di sana— segera menoleh ke asal suara. Big Al berdiri di ujung meja.
Big Al adalah pria dengan postur tubuh yang besar. Rambutnya cokelat gelap dan pendek, namun bagian yang tumbuh di dekat kedua pelipisnya di cat putih. Matanya yang berwarna kuning terfokus melihat kedatangan si pewaris perusahaan tersebut. Dia mengangkat sudut bibirnya. Wajah pria itu kaya akan ekspresi percaya diri, menang, angkuh dan semua ekspresi lain yang membuat Yuuma muak.
Anak rambut cokelat Big Al yang panjang dan mencuat seperti poni bergeser lembut saat kepalanya mengangguk seolah mempersilahkan Yuuma dan Mikuo masuk—terlepas dari fakta bahwa yang bersangkutan sudah masuk ke dalam ruangan itu.
"Bukan berarti kami mengharapkan sopan santun dari Anda, tapi bisakah ketuk pintu terlebih dahulu dan bukannya asal masuk?" Big Al berucap. Nadanya mengalun tenang namun Yuuma merasa pria itu tengah menantangnya.
"Berhentilah bicara seolah tak terjadi apa pun, brengsek!" Yuuma memaki tanpa peringatan, dan Mikuo sukses terganga menyaksikan tindakan Yuuma. Tadi dia menyebut Big Al apa? Brengsek?
"Proyekku!" Yuuma berujar. "Kalian tak bisa membatalkan proyekku begitu saja!"
"Ah…. Proyek tiga ratus juta Yen itu," Big Al menggumam. Pelan, tapi cukup keras untuk didengar Yuuma. Bibir pria itu menyunggingkan sebuah senyum padanya—seperti senyum prihatin yang sering ditunjukkan pada orang yang tidak mengetahui apa-apa. "Sayang sekali, tapi kami telah sepakat untuk membatalkannya. Dan sebagai gantinya, kita akan menjalankan proyek yang waktu itu pernah saya ajukan."
Yuuma mendengus. "Yang benar saja. Di rapat yang lalu proyek milikmu jelas kalah suara dariku!" Kemudian dia menunjuk Big Al dengan penuh emosi. "Keputusan untuk menjalankan proyekku sudah bulat dan kau tidak bisa mengubahnya!"
Big Al menghembuskan napas. "Ah…. Yasudah, lebih baik saya katakan saja yang sebenarnya—walaupun saya yakin, ada seseorang sudah memberitahu Anda." Kerlingan yang tiba-tiba diberikan Big Al membuat Mikuo tercekat dan langsung melemparkan pandang ke arah lain.
"Sebenarnya," Big Al berkata, "ayah Anda sendirilah yang mengajukan proyek buatan saya menggantikan milik Anda."
"Kau mau aku percaya pada omong kosongmu itu, ha! Ayah tidak mungkin membatalkan proyekku begitu saja jika kau tidak mengatakan sesuatu padanya!" Yuuma berkeras. "Apa yang sudah kau lakukan hingga Ayah mau membatalkan proyekku? Kau membujuknya? Memohon sambil mengeluarkan tangis darah di hadapan ayahku hingga dia iba—"
Big Al menarik alisnya ke atas.
"Yuuma, hentikan!" Mikuo mulai memperingatkan pemuda bersurai peach itu.
Yuuma tidak mempedulikan teguran Mikuo. "—Oh, aku tahu. Kau pasti telah menjilat ayahku—seperti yang biasa kaulakukan!"
"Sudah cukup, Yuuma."
Sang pemilik nama langsung mematung ketika suara berat kebapakan itu masuk melewati gendang telinga. Yuuma mengerjap. Dia mengenali suara itu.
Dengan segera, ia mengalihkan pandangan ke tengah ruangan di mana terdapat meja panjang yang berdiri di depan para dewan direksi. Di atas meja bercat cokelat itu terdapat setumpuk dokumen, laptop, dan…. Proyektor yang tengah menyala dan menampilkan sosok—
"A-ayah…."
Rupanya ayah Yuuma ikut serta dalam rapat itu.
Berada di benua yang berbeda tak membuat pria setengah baya itu hilang akal. Dia memanfaatkan kecanggihan tekhnologi dan internet untuk tetap bisa mengamati dan berpartisipasi dalam rapat. Termasuk rapat kali ini. Artinya, dari awal dia juga melihat tingkah laku Yuuma—mulai pendobrakan pintu sampai deretan kalimat makian yang ia lontarkan pada Big Al.
Sepertinya hari ini Yuuma sedang sial.
Brengsek. Brengsek kuadrat, lebih tepatnya.
Dari gambar yang ditampilkan mesin proyektor, terlihat ayahnya tengah duduk di sebuah ruangan yang cukup besar. Yuuma bisa melihat wallpaper krem menempel pada dinding di ruangan ayahnya dan menyimpulkan jika saat ini beliau tengah berada di hotel. Mata pria paruh baya itu berkilat dengan emosi yang sulit diterjemahkan. Mungkin marah, mungkin juga kecewa.
"Ayah…." Yuuma terlalu tercekat hingga otaknya tidak bisa menemukan untaian kata lain untuk ia ucapkan.
Di sisi lain, Big Al sedang menari-nari senang dalam hati. Mikuo menatap Yuuma penuh simpati.
Sang ayah menghela napas panjang—ia selalu melakukan itu ketika tidak tahu harus bicara apa.
"Dengarkan aku, Yuuma," sosok paruh baya itu akhirnya bicara, "aku yang secara pribadi menunjuk proyek milik Big Al untuk menggantikan proyekmu."
Mikuo bersumpah demi semua uang yang ada di dompetnya telah melihat Big Al mengembangkan seringai lebar ketika bosnya mengucapkan kalimat barusan.
Yuuma memekik, "Beri aku alasan kuat mengapa Ayah mengambil keputusan itu!"
"Kurasa alasan tidak dibutuhkan dalam hal ini, Yuuma-san." Kembali, sebuah suara lain terdengar.
Yuuma menoleh. Otot wajahnya langsung berkorespondensi sedemikian rupa hingga membentuk ekspresi terkejut saat mata emasnya menangkap sesosok pria yang tak lagi asing tengah duduk di antara dewan direksi. Itu adalah sosok yang baru dipecatnya tiga hari lalu.
Hiyama Kiyoteru.
Hiyama merapatkan bibirnya, membuat bibirnya membentuk sebuah senyum. Formalitas, Yuuma bisa memastikan tanpa harus bersusah payah.
"Apa kabar, Yuuma-san?" Hiyama berujar. Suara baritonnya membelah sunyi yang memerangkap. Yuuma mengepalkan tangannya erat. Pria itu benar-benar Hiyama Kiyoteru.
Sepertinya yang terkejut dengan keberadaan Hiyama bukan cuma Yuuma, tapi juga Mikuo. Pasalnya, saat ini kedua mata pemuda teal tersebut tengah membulat. Sepertinya, dia terlalu memberi perhatian pada keributan yang dibuat Yuuma dan tak memperhatikan siapa saja yang ada di ruangan itu.
"Kau," Yuuma memicingkan mata pada Hiyama, "kenapa bisa ada di sini?"
"Aku yang menyuruh Hiyama datang dan memekerjakannya lagi," jawab ayah Yuuma minimalis.
"Seperti yang tadi Anda dengar, mulai hari ini saya dipekerjakan kembali oleh ayah Anda, Yuuma-san."
Rahang Yuuma mengencang mendengarnya. Untuk sesaat, Yuuma merasa seluruh dunia berubah menjadi musuh yang saling berkonspirasi kemudian siap menikamnya kapanpun. Ayahnya, Big Al, Hiyama, lalu dewan direksi. Entah nanti siapa lagi yang bakal membuat emosinya meledak.
"Yuuma," yang bersangkutan segera menelengkan kepalanya menatap Sang Ayah, "sebagai seorang Pewaris, aku berharap banyak padamu. Ketika kau baru lulus kuliah dua tahun lalu, aku langsung memberimu jabatan sebagai CEO karena aku percaya kau adalah orang yang bertanggung jawab. Aku pikir, karena kau adalah satu-satunya anakku, maka kau akan berusaha sebaik mungkin demi memajukan perusahaan ini. Tapi ternyata aku salah.
"Kau yang kulihat sekarang sama-sekali jauh dari harapanku. Kau tidak bertanggung jawab dan tidak punya sopan santun. Kau memecat seseorang yang sudah memberi dedikasi tingga serta membuktikan loyalitas penuh dengan alasan pembaruan. Pembaruan apa yang sebenarnya ada dalam kepalamu?"
Gigi-gigi Yuuma saling bergemeretuk di dalam mulut.
"Untung semalam aku menghubungi Big Al, hingga aku tahu apa saja yang kaulakukan di sana ketika aku sedang tidak ada."
Big Al tersenyum saat sang atasan menyebut namanya. Kebanggaan berkelebat di kristal topaz yang mengisi kedua kelopaknya. Dengan ini, terjawab sudah misteri siapa yang memberi laporan pada ayah Yuuma. Big Al memang orang brengsek.
Ayah Yuuma menatap anaknya dengan tatapan keras—tajam dan menusuk— kemudian berucap dengan nada dingin, "Pulanglah."
Apa?
"Pulang dan dinginkan kepalamu. Selama dua minggu, gedung ini adalah tempat terlarang buatmu."
Jantung Yuuma seperti kehilangan kekuatan untuk berdetak, sedangkan Mikuo dan setiap orang yang ada di sana mematung mendengar perintah yang atasannya beri pada sang anak.
Mikuo, yang pertama kali sadar dari kondisi trance, segera mengerjap dan mendekat ke arah Yuuma. "Tu-tunggu dulu, apa Anda baru saja mengistirahatkan Yuuma? Maksudnya…. Anda memberi anak Anda sendiri skorsing selama dua minggu?"
"Itu hukuman karena telah bertindak tanpa ijin dariku—dalam hal ini, memecat Hiyama."
Tubuh Yuuma bergetar dan tangannya otomatis mengepal karena emosi. Ayahnya menghancurkan proyeknya—proyek anak tunggalnya!— dan mengistirahatkannya dari kantor hanya demi membela Hiyama sialan itu? Haruskah Yuuma tertawa dengan semua lelucon ini?
"Ini tidak adil, Yah!" Pemuda itu berujar disela kemarahannya. Dia merangsek maju dan menuding Hiyama dengan jari telunjuk. "Aku punya alasan mengapa memecat si Brengsek itu!"
"Aku tak butuh penjelasan darimu. Cepat keluar dari ruangan ini dan pulanglah."
"Ayah!"
"KELUAR!"
Pemuda itu membeku. Apa-apaan ini? Ayahnya menolak mendengar penjelasannya dan malah membentaknya di depan orang banyak? Mimpi apa Yuuma semalam?
"Apa kau tuli, eh?" Sang Ayah kembali bicara dengan nada yang lebih menusuk dan dingin dari sebelumnya.
Yuuma sempat mendengus kencang sebelum berbalik dan meninggalkan ruangan itu. Persetan dengan Ayahnya, harga diri Yuuma rasanya hancur sekarang.
.
.
.
can you playing this role for us...?
Akhirnya bagian perkenalan buat si abang Yuuma selesai juga /elap keringet. Tadinya mau dijadiin satu aja, tapinya karena jumlah wordnya jadi 5k lebih dan saya takut kalian blenek baca chapter yang panjang banget, akhirnya saya memutuskan untuk membagi dua. Chapter depan bagian perkenalan untuk Luka~ wwwww /hearts.
Ngomong soal chapter ini... wah, kayaknya saya banyak banget ngeluarin bahasa kasar, ya? maaf banget kalo kalian terganggu. Udah kebiasaan bikin fic pake bahasa-kebun-binatang soalnya /garuk tanah. Tapi, kalo kalian keganggu, silahkan bilang di kotak review, ya? Nanti... saya usahain buat ngurangin porsinya. Ngurangin loh, bukan diilangin x"""D
Oh, jadi... gimana pendapat kalian tentang chapter ini? Kritik dan saran sangat dinanti, loh! Jadi... mind to review? OuO /wink
