Lama update lagi. Aaaa maaf yaaa… kemarin-kemarin saya lagi—oh, well… baiklah. Kayaknya nggak bakal ada yang peduli sama alasan-alasan saya hehe… oh, chapter ini saya dedikasikan buat dwidobechan yang udah rajin nanyain kapan fic ini update di fb. Makasih udah ngingetin saya biar nggak nelantarin cerita ini yaaa *wink wink*
Satu lagi kayaknya chapter ini gak bakal lebih pendek dari chapter kemaren. Jadi… yang mau hemat kuota, save aja dulu halamannya yaa #kabur
Warning: cliché, alcohol, blood, possibly typo(s), etc. Kesamaan ide harap dimaklumi.
Vocaloid (c) Yamaha, Crypton, etc.
I gain no commercial advantages.
Role (c) datlostpanda
Take Four!
/Murder/
Yuuma memandang takjub pada sosok gadis ramping yang baru saja menghilang dari pandangannya. Ada apa dengan orang-orang hari ini?
Pertama, dia baru saja bertengkar dengan ayahnya, kedua ia mendapat skorsing, dan sekarang Yuuma malah ditabrak oleh gadis ceroboh yang bahkan tidak mengucapkan sepatah pun kata 'maaf' dan langsung pergi setelah mengeluarkan gumaman kasar; "Minggir". Apa dunia telah menyusun semacam konspirasi terselubung untuk membuat Yuuma kesal?
Duh, mimpi apa Yuuma semalam sampai mengalami dua kejadian sial dalam sehari. Apa nanti akan ada kesialan lain yang bakal menimpanya? Semoga saja tidak.
Yuuma memang bukan orang yang percaya dengan hal-hal mistis ataupun mitos tentang nasib sial yang menimpa seseorang, tapi dia tetap saja tidak suka dirinya mengalami serentetan kejadian yang dianggap sial tersebut. Pemuda itu menggeleng pelan, berusaha memertahankan pikiran positif dalam kepalanya, kemudian kembali mengambil langkah menuju pintu keluar.
Setelah diusir secara memalukan oleh ayahnya, Yuuma tak langsung pulang ke rumah seperti seharusnya. Pemuda bermata emas itu malah menyetir mobilnya dengan gila-gilaan. Mengabaikan speed camera yang terpasang di setiap lampu jalan. Persetan dengan kamera-kamera itu, dia terlalu emosi untuk memerhatikan mereka semua. Dia bahkan tak peduli dengan beberapa mobil polisi lalu lintas yang sempat mengejar, hendak menilang—namun segera menyerah karena Yuuma tak berpikir untuk memerlambat, apalagi menghentikan mobilnya.
Setelah berkendara tanpa arah tujuan dan emosinya tak kunjung memudar, pemuda itu mulai berpikir untuk melampiaskan emosinya pada sesuatu selain jalanan.
Rokok.
Yuuma memang bukan seorang chain smoker karena dia hanya merokok saat sedang tertekan. Alkohol, seks, dan karung tinju sebenarnya juga cukup bisa meredam emosi pemuda itu, namun dia lebih sering memilih rokok karena lebih praktis. Sialnya, Yuuma sedang tak membawa rokok dan ia hanya melihat sebuah mall besar menjulang gagah di jalan yang kebetulan ia lalui alih-alih swalayan kecil.
(Sebenarnya, Yuuma terlalu emosi hingga tak memerhatikan bahwa dirinya telah melewati tiga swalayan.)
Yuuma mendesah. Paling tidak, di dalam mall pasti ada supermarket yang menjual rokok, 'kan?
Setelah memarkir mobilnya di salah satu sudut tempat parkir, Yuuma segera masuk ke dalam mall, mencari satu supermarket, membeli beberapa bungkus rokok, dan kembali pergi. Semuanya berjalan lancar, dan mood Yuuma hampir menjadi lebih baik. Hampir. Hingga gadis berambut pink tadi menabraknya dan melempar gumaman kasar.
Brengsek.
Yuuma masuk ke dalam mobilnya. Membanting pintu, kemudian mengambil sebatang rokok yang baru saja ia beli dan menyalakannya.
Persetan dengan gadis ceroboh itu, Yuuma tak mau ambil peduli dengannya. Yang lebih mengganggunya saat ini adalah kelakuan ayahnya. Seenaknya saja dia memberinya hukuman tanpa mau mendengar penjelasannya.
Yuuma melemparkan pandang pada kaca spion, menatap sepasang kelereng emas yang merupakan refleksi dari miliknya. Tanpa sadar, ia menghisap rokoknya dalam-dalam—sangat dalam, hingga siapapun mengeryit membayangkan berapa banyak asap yang masuk dan memenuhi paru-parunya.
Kalau saja ayahnya tidak terlalu percaya pada Big Al dan tidak mengagung-agungkan Hiyama, kalau saja ayahnya mau mendengar alasannya sedikit saja, pastilah dia bisa mengerti mengapa Yuuma mengambil tindakan untuk memecat Hiyama.
Si penjilat itu.
Dalam sekali hembusan, Yuuma mengeluarkan semua asap rokok dari dalam paru-parunya. Dia membiarkan kepulan asap itu mengambang, mengisi udara dengan warna putih, lalu hilang tak lama kemudian. Sayang, masalahnya tak ikut hilang bersama asap itu.
Yuuma masih menekuri keheningan ketika ponselnya bergetar menandakan panggilan masuk. Ia mengambil benda warna hitam tersebut dan mendengus sebal mendapati nama Mikuo muncul di layar. Ah, si rambut teal Itu. Paling-paling dia cuma mau menanyakan keberadaannya saat ini, atau jangan-jangan dia menelepon untuk mengabarkan jika dirinya ikut kena tegur karena perilaku kurang ajarnya saat di ruang rapat barusan.
Pssh...!
Apa pun itu, Yuuma sedang tidak berada dalam mood untuk bicara saat ini. Tidak dengan Mikuo, Mizki, bibinya, ayahnya, atau siapapun. Pemuda berambut peach itu segera me-reject panggilan dari Mikuo dan menonaktifkan ponselnya.
"Bicara saja pada mesin penjawab," dia berucap setelah menggeram rendah sambil melempar ponselnya asal ke atas dashboard. Tak peduli sedikit pun benda itu akan rusak ataupun tergores. Kalaupun benda itu benar-benar rusak, toh dia bisa langsung membeli yang baru.
Setelah api pada batang rokoknya padam, Yuuma langsung menyalakan mesin mobilnya dan berlalu dari lingkungan mall. Dia menyetir kendaraan beroda empat itu dengan kecepatan sedikit lebih 'normal' ketimbang tadi. Menyatu bersama mobil milik puluhan pengendara lain, melewati beberapa papan penunjuk jalan, mengambil beberapa belokan, kemudian memisahkan diri dan berhenti di sebuah area bar yang cukup besar.
ARiA Bar & Lounge, adalah tulisan yang tertera di bagian atas bangunan dengan ukuran raksasa plus neon warna-warni yang berkedip nakal.
Yuuma memang sedang ingin pergi ke suatu tempat, tapi ia tak tahu mengapa ia menghentikan mobilnya di depan bar langganannya tersebut. Entah kebetulan, ataukah itu refleks alami dari tubuhnya lantaran setiap kali emosinya kacau Yuuma selalu pergi ke tempat itu dan minum alkohol sebanyak yang ia bisa. Yang mana pun kedengarannya sama saja.
Yuuma mengedik tak acuh, memutuskan untuk tak terlalu ambil peduli kemudian melangkah keluar dari dalam mobil.
Hal pertama yang menyambut pemuda dengan warna rambut tak lazim itu adalah hentakan musik yang begitu keras. Sangat keras, bahkan untuk gendang telinganya. Tak lama berselang, bau khas alkohol dari botol-botol minuman yang terbuka dan asap rokok yang saling bertemu dan membaur di udara mulai menyerang, menyeruak masuk indera penciuman.
Yuuma mengerling pada bartender yang sibuk mengelap gelas-gelas kaca di belakang konter sambil bernyanyi tanpa nada. Bartender itu memiliki tubuh tinggi dan kurus. Kepalanya ditumbuhi rambut berpigmen hijau yang mengingatkan Yuuma pada rumput liar yang tumbuh di pinggir jalan. Gumiya adalah nama yang tertera di atas tanda pengenalnya.
Alis Gumiya naik satu ketika melihat Yuuma duduk di depan konter kemudian mengangguk ramah, seolah mengucapkan selamat datang pada tamu langganannya tersebut sekaligus menanyakan pesanannya.
"Wiski."
Bibir Gumiya menyunggingkan sebuah senyum, seolah sudah menduga jawaban itu akan keluar dari mulutnya. Yuuma sudah sangat sering datang ke tempat itu. Terlalu sering, hingga hampir semua pegawai di sana mengenalnya. Terlepas dari frekuensi kedatangannya, wajah, perangai, dan minuman yang selalu Yuuma pesan juga faktor lain yang membuatnya lebih gampang dikenal dan diingat para pegawai bar.
"Kali ini on the rock seperti biasa atau...?"
"Seperti biasa saja," potong Yuuma sembari mengibaskan sebelah tangannya—menyuruh Gumiya segera membuatkan pesanannya.
Gumiya tertawa pelan, kemudian segera bergerak mengambil satu old fashioned glass dan mengisinya dengan beberapa butir es batu.
"Wajahmu kelihatan kusut sekali, Yuuma-san. Terjadi sesuatu berkenaan dengan pekerjaanmu?" Gumiya bertanya santai, tangannya sibuk membuka botol wiski dan menuangkan isinya ke dalam gelas tadi. Retoris sebenarnya. Tamu yang datang dengan wajah tak karuan biasanya sedang punya masalah. Entah dengan pekerjaan atau romansa. Kadang keduanya.
"Umm ... yah…. Semacam itulah," Yuuma menjawab tak acuh. Mata emasnya berkeliling menatap para tamu. Dia melihat sekumpulan remaja tertawa dan saling bersulang bir di salah satu meja. Di sudut lain bar yang jauh lebih remang, dia bisa melihat pasangan muda yang sibuk berciuman. Bibir menggilas bibir. Tangan balas meraba dan jamah. Nafsu saling bersambut. Yuuma hampir tertawa melihatnya.
"Ternyata jadi orang kantoran itu susah, ya,"—Gumiya meletakkan gelas bening pendek berisi wiski dan es batu di depan Yuuma—"untung aku memilih bartender sebagai profesi."
"Dari mana kau menyimpulkan itu?" Yuuma bertanya. Kali ini perhatiannya sudah teralih pada wiski yang baru saja siap.
Gedikan bahu. "Karena kebanyakan pengunjung di sini adalah orang-orang kantoran yang stress dengan segunung masalah mereka masing-masing? Ya…. Kautahu sendirilah, semakin sering orang-orang ke sini, semakin rumit pula masalah yang menimpa mereka."
Yuuma mengeluarkan suara yang seperti campuran antara tertawa geli dan dengusan. Seringai khas di sudut bibirnya muncul, dan ia mengerling Gumiya dengan alis yang naik satu. "Siapa tahu orang-orang itu sama sekali tak punya masalah dan datang hanya untuk mencari hiburan belaka."
"Uh-huh. Itu juga masuk akal," Gumiya menggumam riang. Kepalanya mengangguk menunjukkan pembenaran. "Bicara tentang hiburan," Gumiya memajukan tubuhnya ke depan, mengeliminasi jarak antara dirinya dan sang tamu, kemudian melanjutkan setengah berbisik, "seorang wanita di arah jam 3 dari tadi terus melihat ke arahmu."
Yuuma segera melirik ke arah yang dimaksud dan menemukan seorang wanita dengan perkiraan usia akhir 20-an duduk di salah satu meja sendirian, hanya gelas bening berisi martini yang menemani. Wanita itu memiliki rambut hitam panjang lurus yang sebagian jatuh di belakang punggungnya dan sebagian lagi dibiarkan terurai sensual di sekitar dadanya yang minim proteksi. Wanita yang sangat cantik, jika Yuuma boleh berkomentar. Dan, oh, tentu saja matanya menyiratkan hasrat yang begitu menggebu.
"Berpikir untuk meladeninya malam ini? Hiburan yang tidak buruk, kurasa?" Gumiya memberi pendapat.
Yuuma meletupkan sebuah tawa pendek dan kembali menatap gelas wiskinya. Gumiya benar, wanita itu tidak buruk untuk dijadikan hiburan. Benar-benar tidak buruk.
Yuuma meminum setengah wiskinya dalam sekali teguk, mengeryit ketika sensasi alkohol menjalar di tenggorokannya. "Maaf saja, tapi aku sedang tidak ingin meladeninya."
"Benarkah? Sayang sekali...," Gumiya mendesah, entah kenapa murni kelihatan kecewa.
Gumiya sejak awal memang tahu jika Yuuma sangat pilih-pilih dalam hal pasangan. Biasanya pemuda itu hanya meladeni wanita yang benar-benar menarik—dalam hal ini, tentu saja wanita yang cantik, seksi, elegan dan terlihat berkelas adalah ukuran yang mutlak dipakai—untuknya. Wanita berambut hitam tadi seharusnya masuk dalam kriterianya, tapi kenapa Yuuma malah menolak?
Kenapa?
Pertanyaan itu sempat menggelayut dalam benak Gumiya, namun hilang begitu saja dalam sekali gedikan bahu. Pikirnya, mungkin saja sang tamu sedang bosan menghadapi wanita-wanita itu. Lagipula, apa ruginya hari ini melepas kesempatan untuk tidur dengan satu orang wanita yang begitu terlihat memikat? Toh, besok, dia berani bertaruh—dia BERTARUH—Yuuma bisa dengan mudah mencari satu, dua, bahkan tiga wanita dengan fisik yang jauh lebih sempurna, kemudian meniduri mereka sekaligus.
Gumiya sudah kembali menyibukkan diri dengan gelas-gelas kaca di depannya ketika seorang gadis berambut pink muncul dari ambang pintu masuk. Alisnya naik satu, merasa belum pernah sekali pun melihat gadis itu berkeliaran di tempat ini.
"Ah, keberuntungan buatku," ucap Gumiya entah kepada siapa.
Yuuma, yang tengah menatap es batu dan sisa wiski dalam gelas kaca, segera menengadah dan mengerling Gumiya cepat. Wajahnya terlihat bingung. Sang bartender hanya tersenyum simpul sambil menghentakkan dagunya ke arah pintu masuk. "Ada pelanggan baru."
Oh, tentu saja. Gumiya selalu senang ketika mendapati pelanggan baru datang ke tempat itu. Karena itu, setiap kali ia melihat seorang tamu baru, dia terbiasa mengatakan bahwa itu adalah keberuntungan. Pemikiran yang naif, jika Yuuma boleh berpendapat.
"Kelihatannya datang sendirian," Gumiya masih terpaku menatap seseorang di ambang pintu. "Untuk ukuran seorang perempuan, dia lumayan berani juga."
Yuuma termakan penasaran dan, mau tak mau, ikut menoleh ke arah pintu masuk. Ketika matanya melihat seorang gadis berambut merah jambu panjang mendekat ke arah konter, ia mati-matian menahan diri untuk tidak mengeluarkan reaksi apa pun karena—demi semesta— itu adalah gadis yang menabraknya di mall tadi! Dua kali dalam waktu berdekatan bertemu dengan wanita asing yang membuatnya kesal. Apakah ini pertanda akan terjadi sesuatu?
Hati Yuuma berdesir. Tidak mungkin, dia berkata dalam hati. Bertemu dengan seseorang yang sama takkan jadi sebuah pertanda kejadian apa pun.
"Mau taruhan denganku, Yuuma-san?" tawar Gumiya. Sudut bibirnya sedikit terangkat dan matanya menatap Yuuma dengan pandangan yang menantang.
"Huh?"
"Hanya taruhan kecil-kecilan, kok. Takkan membuatmu miskin," kata Gumiya. "Tebak minuman apa yang akan dia pesan."
Yuuma meneguk habis wiskinya. "Apa untungnya buatku?"
Gumiya meletakkan gelas yang baru selesai ia lap dengan kain kemudian menaruh telunjuk di bibir bawahnya. "Jika kau menang, aku akan berikan satu shot wiski untukmu. Gratis." Ketika Yuuma mulai menatapnya dengan kilatan tertarik, Gumiya terbahak dan menambahkan, "Tapi jika kau kalah, kau harus bayar seperti biasa."
"Bukan masalah."
Si rambut hijau tertawa ringan atas tanggapan Yuuma, lalu kembali menoleh ke arah gadis pink yang berjalan mendekat ke arah mereka. "Aku bertaruh satu shot wiski, dia akan memesan segelas martini," Gumiya berbisik dengan senyum percaya diri yang mengembang sempurna.
Yuuma memandang gadis itu sejenak. Mencoba mengira-ngira apa yang akan dia pesan. Ada begitu banyak minuman yang mungkin akan dipesan olehnya. Dia bisa saja memesan segelas cocktail, tequilla, irish cream, bahkan wiski. Jadi ... kira-kira apa yang akan dia pilih?
Yuuma menimbang-nimbang dalam hati sebelum mendesah dan akhirnya mengajukan taruhannya. "Satu shot, aku bertaruh dia memesan irish cream."
Setelah mendengar taruhan Yuuma, Gumiya segera menghampiri gadis sakura tadi. Seperti biasa, dia menyunggingkan senyum cerah satu juta dollar dan berusaha terlihat ramah di depan tamunya. Meski tak sepenuhnya tertarik pada taruhan bodoh itu, namun Yuuma tetap memerhatikan aksi Gumiya dari ujung pelupuk matanya. Gadis tadi duduk tak jauh dari Yuuma, kira-kira hanya berjarak tiga bangku dari tempat pemuda itu duduk.
"Selamat datang di ARiA Bar & Lounge," Gumiya menyapa ceria, "boleh saya tahu Anda mau pesan minum apa, Nona?"
Gadis itu terdiam sejenak. Tangan kanannya menopang pipi. Mata samudera memindai deretan gelas kaca dan botol minuman beralkohol yang ada di belakang konter, tampak sedang mempertimbangkan sesuatu. Namun itu tak berlangsung lama karena, pada detik kemudian, dia telah memutuskan minuman apa yang akan ia pesan.
"Aku satu pesan irish cream."
"Irish cream?" Gumiya sedikit terkejut. Di tempatnya duduk, Yuuma tersenyum penuh kemenangan.
"Ya," gadis itu menegaskan. "Apa ada masalah?"
Senyum Gumiya masih terpasang pada tempatnya. Dia mati-matian mencoba mengabaikan eksistensi Yuuma yang tengah memasang tampang mengejek sambil menggoyang-goyangkan gelas wiskinya yang sudah sejak lalu tandas dan hanya menyisakan es batu. Aku menagih jatah wiskiku hei, bartender, mungkin saat ini Yuuma sedang berteriak seperti itu dalam hati. Sialan.
"Ah, baiklah, tunggu sebentar. Akan segera saya buatkan." Gumiya mengacungkan jari telunjuknya pada gadis itu, menyuruhnya untuk tetap diam, dan dia segera melenggang pergi hanya untuk kembali beberapa saat kemudian dengan membawa gelas bening berisi irish cream.
"Satu irish cream untukmu, Nona," Gumiya meletakkan gelas berisi irish cream itu di depan gadis itu, kemudian beranjak menghampiri Yuuma dengan wajah yang dibuat masam, "dan ini ... satu gelas wiski untukmu."
Butuh segenap pengendalian diri Yuuma untuk tidak tertawa melihat tampang masam Gumiya. Nah, siapa suruh berani mengajaknya bertaruh? Yah, walaupun Yuuma sendiri juga kaget tebakannya bisa tepat sasaran. Keberuntungankah?
Yuuma menggoyang-goyangkan gelas wiskinya, membuat es yang berada dalam gelas saling bertabrakan dan menimbulkan bunyi denting khas. Tidak, mungkin cuma kebetulan. Dia berkata dalam hati. Keberuntungan tidak akan datang di tengah nasib buruk. Kalaupun ada, maka persentasenya akan sangat kecil sekali. Sama halnya ketika kau berharap menemukan setetes air di tengah padang pasir yang tandus.
Yuuma kembali melirik gadis berambut panjang tadi. Gumiya sedang sibuk membuat pesanan milik dua orang pengunjung lain yang baru datang dan duduk di bagian ujung konter. Mata emas itu menatap sang gadis tajam, seakan mencari sesuatu dalam dirinya.
Semenjak Gumiya mengantarkan minuman pesanannya, gadis itu tak terlihat bicara atau bahkan melirik ke arah lain. Dia hanya memandangi irish cream-nya, sambil sesekali menyesap minuman itu. Hal itu membuat Yuuma mengeryit.
Gadis itu memang murni tidak melihatnya atau pura-pura tidak melihat? Atau jangan-jangan dia sebenarnya melihat Yuuma namun dengan telak mengabaikan keberadaannya tanpa ada satu pun rasa menyesal karena telah menabraknya?
Yuuma memicingkan mata, berusaha menyelam ke dalam mata samudera yang menatap kosong pada irish cream yang baru diminum seperempat, dan menemukan sesuatu di mata biru itu yang membuat Yuuma tiba-tiba saja kehilangan kekesalannya dan membuat rasa penasaran melingkupinya.
Ada sesuatu di mata biru itu yang menyiratkan sebuah pesan yang tak tersuarakan.
Yuuma menyipitkan mata curiga, berusaha memahami arti dari kilatan yang berkelebat di bola mata itu.
Mata biru itu memperlihatkan kegeraman, keputusasaan, dan frustasi. Sesuatu yang buruk sedang menimpa gadis itu. Yuuma tidak tahu apa, namun yang pasti hal itu bukan sesuatu yang bagus. Sebuah kemalangan baru saja menimpanya, mungkin?
Lagi, Yuuma merasakan sesuatu berdesir dalam dirinya. Kali ini, alam bawah sadarnya mengklaim hal tersebut sebagai perasaan senasib. Yuuma mengerjap menyadarinya, kemudian menggeleng, dan segera meneguk wiski dingin miliknya.
Gila. Kenapa juga dia merasa senasib dengan orang yang bahkan tidak ia kenal? Sesuatu yang salah pasti terjadi pada otaknya. Mungkin otaknya sudah tidak bekerja dengan baik karena pengaruh alkohol, mungkin juga kini kewarasan telah meninggalkannya secara perlahan. Alkohol, Yuuma akhirnya memutuskan.
Yuuma ditarik paksa kembali pada alam realita ketika suara sepatu hak menjejak keras pada lantai keramik, disusul oleh derap langkah terburu-buru. Ketika dia menoleh, ia bisa melihat si gadis sakura telah berjalan ke arah koridor yang mengarah ke kamar mandi.
"Ya ampun, sepertinya mood gadis itu sedang jelek," komentar Gumiya setelah selesai dengan pelanggannya yang lain dan kembali menghampiri Yuuma. Dia kemudian melanjutkan sambil mengedikkan bahu tak acuh, "Yaah…. Apa boleh buat, sih…. Aku juga bisa mengerti bagaimana perasaannya saat ini."
Yuuma mengerjap, bingung akan pernyataan yang diutarakan oleh Gumiya. "Apa maksudmu?"
Kali ini Gumiya yang mengerjap bingung. "Eh? Yuuma-san tidak tahu? Padahal beritanya sudah menyebar dan jadi pembicaraan, loh."
"Berita?" Yuuma menelengkan kepalanya ke samping. "Berita apa?"
Gumiya terdiam sejenak sebelum kembali menatap Yuuma dengan ekspresi aneh. "Mengenai gadis yang barusan itu, tentu saja. Dia adalah Megurine Luka, artis yang belakangan ini pamornya sedang naik."
Mata Yuuma terbelalak. Kelihatan kaget dengan fakta barusan. Entah dia yang kurang gaul atau Gumiya yang terlalu sering nonton infotainment. Maksudnya, gadis itu artis? Gadis yang sempat menabraknya di mall dan membuat Yuuma kesal itu artis? Jangan bercanda.
"Jadi, gadis yang tadi itu...?"
"Ya, ya." Gumiya memotong ringan, kata artis menjadi persetujuan tak terlisankan, tapi Yuuma masih merasakan sesuatu yang tersembunyi dari ekspresi santai lawan bicaranya ini. "Tapi sayangnya, saat ini karirnya sedang berada di ujung jurang."
"Kenapa...?" Yuuma mau tak mau bertanya. Karir seseorang yang berada di puncak sekarang berada di ujung jurang? Harusnya ada alasan yang sangat kuat sampai-sampai hal tersebut bisa terjadi.
Gumiya menatap Yuuma dalam diam cukup lama sampai perlahan senyum di bibirnya berkedut dan kepalanya sedikit meneleng ke samping, matanya tampak berkilat seperti akan membagi suatu rahasia besar pada Yuuma.
"Media menemukan sebuah video 'skandal',"—Gumiya menggesturkan tanda petik dengan kedua jarinya saat menyebut kata skandal—"yang menyeret nama Luka dan manajernya. Oh, atau lebih tepatnya ... dia dan manajernya memang benar-benar ada dalam video tersebut. Habisnya, sampai saat ini dia maupun manajernya belum mau bicara di depan publik."
"Hah?"
"Aku tidak heran jika kau terkejut," balas Gumiya santai. Dia kembali mengambil satu gelas bening kemudian membersihkannya dengan kain. "Wajar saja, sih. Karena aku sendiri juga mengeluarkan reaksi yang sama saat pertama tahu."
Saat ini Yuuma bisa saja meledek Gumiya sebagai tukang gosip, tapi ia urungkan karena kali ini otaknya telah mulai mengira-ngira kilatan perasaan apa yang barusan hadir dan sempat terlihat di mata biru gadis sakura itu—siapa namanya tadi? Luka, eh?—dan mengaitkannya dengan informasi yang baru ia dapat. Ia tahu ini sama sekali tak berkaitan dengannya, namun ini sedikit mengganggunya.
Gadis tadi sama sekali tak terlihat seperti gadis murahan yang mau menyerahkan tubuhnya ataupun melakukan sesuatu yang di luar nalar bersama manajernya sendiri. Kemudian ia menyadari satu hal klise yang—rupanya— selalu bisa terjadi di kehidupan nyata.
Intrik.
Ia tahu di balik gemerlap dunia seorang publik figur tersembunyi banyak terowongan gelap di mana terdapat sulur-sulur dengan duri tajam yang bisa menewaskan siapa saja. Intrik-intrik kotor untuk saling menjatuhkan sama lain biasa terjadi. Dan dengan pengertian itu ia bisa menyimpulkan bahwa—mungkin—ada seseorang yang menginginkan gadis itu jatuh dari tempatnya berada.
Luka pasti menyadarinya dan dia takut kehilangan semua yang telah ia capai, karena Yuuma bisa melihat ada sinar keputusasaan yang mengambang di mata birunya saat emasnya menatap tajam. Yah, walaupun dia juga tidak menampik kemungkinan gadis itu memang melakukan hal itu. Bagaimanapun juga, semua kemungkinan selalu bisa terjadi dalam keadaan seperti ini.
Yuuma menegak wiskinya hingga tak bersisa. Itu adalah gelas ketiganya malam ini. Otaknya memang sudah tak lagi memikirkan kasus yang menimpa si artis, tapi sekarang ia malah merasa logikanya semakin tak beres.
Perasaannya saja, atau memang dirinya dan Luka mengalami nasib sial yang hampir serupa di waktu yang hampir bersamaan pula?
Luka melangkah menuju kamar mandi. Suara bising musik dan bau alkohol sama sekali tak membantu gadis itu rileks apalagi melupakan segala persoalan yang menimpanya.
Dia harus pergi, setidaknya ke suatu sudut di mana musik tak menghentak seolah ingin menghancurkan gendang telinganya. Dan kamar mandi adalah satu-satunya tempat 'normal' yang ada di pikirannya.
Luka mendesah sembari memijit pelipisnya yang terasa sedikit sakit. Dia sudah lama tidak berada di bawah tekanan seperti ini, dan hal itu membuatnya menderita.
Di dorong rasa pening yang kian menjadi, Luka berjalan dengan cepat dan hanya memfokuskan pandangannya pada ujung koridor tempat di mana seharusnya kamar mandi berada hingga ia tidak sadar ada orang lain yang berjalan ke arahnya. Ia baru menyadarinya ketika bahunya sudah menyenggol milik orang itu. Banyaknya tekanan yang menghimpit membuat gadis itu jadi ceroboh.
Dengan sigap, Luka mundur beberapa langkah. "Maaf," refleks yang aktif membuat mulut gadis itu langsung melontarkan kata maaf dengan nada panik.
Orang itu membalas teriakan panik Luka dengan sebuah gumaman afirmasi dingin. Luka menurunkan sudut pandangnya dan mendapati seorang gadis kurus tengah menatap datar ke arahnya dengan matanya yang besar. Luka telak terpaku menatap bola-bola di kelopak mata itu terisi oleh warna yang sama sekali tak lazim. Merah. Seperti warna pada darah.
"Tidak masalah. Aku juga sedang terburu-buru." Gadis itu menepuk beberapa kali bahunya yang sempat terbentur dengan milik si rambut pink, sebelum mengerling ke arah pintu keluar. Rambut abu-abu panjangnya yang diikat ke belakang dengan pita kelabu bergaris ungu bergerak lembut saat kepalanya menoleh.
Luka mengeryit menyadari ada beberapa noda—tak banyak, namun tetap saja ia bisa melihatnya— seperti tetes cairan yang menempel di baju milik gadis itu. Baju warna abu gelap yang tengah gadis pakai dan keadaan bar yang remang membuat Luka kesulitan untuk mengidentifikasi noda tersebut. Namun dia buru-buru mengklaimnya sebagai air karena gadis itu berjalan dari koridor tempat di mana kamar mandi berada.
"Aku harus pergi," ucap gadis itu sembari berlalu dari hadapan Luka. Membiarkan si gadis peach terpaku menatap kepergiannya dalam diam.
Begitu gadis bersurai abu-abu tadi menghilang dari pandangannya, Luka langsung berbalik dan melangkah menuju toilet.
Suasana di dalam toilet wanita sepi. Tak ada seorang pun terlihat di sana. Keramik putih berukuran 40cmx40cm, yang menempel rapi di lantai dan pada setengah bagian dinding, membuat sinar dari neon putih yang menempel di langit-langit terasa menyilaukan. Luka mengeryit ketika cahaya putih dari lampu berbentuk panjang itu menyergap dan membutakannya.
Untuk beberapa saat, gadis pemilik postur tubuh tinggi itu menatap bilik toilet yang ada di sana.
Ada lima buah bilik yang masing-masing dipasangi pintu warna putih-keabuan. Satu dari lima bilik itu tertutup, menandakan seseorang tengah berada di dalam. Sedangkan bilik sisanya terbuka lebar.
Dengan langkah lesu, Luka berjalan menuju bilik yang letaknya ada di ujung paling kanan. Tak ada yang ia lakukan di dalam sana selain duduk dan memandangi keramik dengan tatapan kosong. Meski tak sepenuhnya hilang dari pendengaran, Luka bisa merasakan hingar musik sedikit teredam di dalam sini.
Sampai detik ini, tak ada satu pun tanda-tanda Meiko ataupun Kaito akan menghubunginya. Entah apa yang mereka pikirkan hingga tega membiarkan Luka menanti dengan cemas begini. Oh, mungkin keduanya menganggap kasus ini hanya sekedar masalah sepele. Tentu saja. Masalah ini, 'kan, cuma tentang video sialan yang secara tak terduga tersebar ke media oleh-entah-siapa dan kebetulan berpotensi menghancurkan karir, dan—dalam skala yang lebih besar— hidup seorang Megurine Luka.
Apa yang perlu dikhawatirkan dari semua itu?
Gadis itu mendesah. Jauh di dalam hati, Luka ingin sekali menangisi nasibnya, namun segera ia urungkan. Menangis tidak akan menyelesaikan apa pun dan hanya akan membuatnya terlihat lemah di hadapan dunia. Tidak, Luka tidak bisa membiarkan dunia melihat sisi lemahnya. Tidak akan. Dia punya harga diri yang sangat tinggi.
Luka membiarkan lima menit berlalu dan terbuang begitu saja sebelum memutuskan untuk keluar. Ia melangkahkan kaki jenjangnya menuju wastafel, memutar kran, dan mencuci wajahnya.
Dia memejamkan mata. Membiarkan sensasi dingin air menyentuh setiap inchi kulit wajahnya dan menetralisir adrenalin yang, sejak beberapa jam terakhir, terus bekerja dalam tubuhnya. Memerintahkan alam bawah sadarnya untuk rileks, dan berhasil. Luka merasa sedikit lebih tenang setelah selesai membasuh wajahnya dengan air.
Gadis itu baru saja akan segera pergi dari tempat itu, kalau saja mata birunya tak menangkap sesuatu yang janggal. Salah satu bilik toilet masih berada dalam kondisi tertutup.
Seseorang masih berada di dalam sana. Kemungkinan orang yang sama, karena selama berada di dalam toilet, Luka tak mendengar seseorang masuk ataupun keluar dari tempat ini.
Luka mengeryit. Dia memang tak seharusnya memikirkan hal ini, tapi bukankah ini sudah terlalu lama untuk tetap berada di tempat seperti itu? Dan lagi…. Tak terdengar apa pun dari dalam sana. Tidak ada suara tissu yang digulung. Tidak ada suara air. Tidak ada suara kaki yang bergerak tak nyaman. Tak ada suara apa pun. Semuanya terlalu janggal.
Apa seseorang di dalam sana tertidur?
Didorong rasa penasaran, Luka membiarkan kakinya bergerak perlahan dan mendekat pada bilik yang tertutup rapat, kemudian mengetuk pintunya sebanyak tiga kali.
"Halo, ada orang di dalam?"
Hening. Tak ada respon.
Luka kembali mengetuk. Kali ini lebih keras dari sebelumnya. "Halo, apa ada seseorang di dalam?"
Lagi, tak ada respon.
Luka menggerutu dalam hati. Sepertinya seseorang di dalam sana benar-benar tertidur. Mungkin terlalu banyak mengonsumsi alkohol, lalu mabuk, dan berakhir tidur di dalam toilet. Spekulasi yang terdengar lucu, namun dalam situasi seperti ini semua hal bisa saja terjadi.
Tangan Luka bergerak memutar knop pintu, berniat memeriksa dan—
KLEK!
—tidak terkunci?
Semuanya makin terasa aneh saja. Kenapa pintunya tak dikunci? Apakah orang yang berada di dalam sana lupa mengunci pintu, ataukah sebenarnya tak ada seseorang pun di dalam sana dan pintu bilik ini hanya tertutup lantaran ditiup angin?
Rasa penasaran yang makin memuncak membuat gadis itu menelan ludah. Setelah mengumpulkan segenap keberaniannya dan, dengan gerakan yang begitu tenang dan perlahan-lahan, ia membuka pintu tersebut.
Ketika pintu sudah terbuka lebar, gadis itu tak kuasa menahan diri untuk tak mengeluarkan suara terkesiap saat matanya menatap sesosok tubuh terkulai di atas kloset….
"Sudah mau pergi?" Gumiya mengerling Yuuma yang kini bangkit berdiri setelah meletakkan beberapa lembar uang kertas di samping gelas wiskinya yang kosong. "Tumben sekali. Ini kan," —dia mengerling cepat jam yang bergeming di dinding—"baru pukul sembilan malam. Masih terlalu dini bagimu untuk pulang, 'kan?"
Yuuma mengibaskan sebelah tangannya. "Aku sedang malas berlama-lama di tempat ramai seperti ini."
"Oh, begitu," Gumiya mengangguk maklum. "Ngomong-ngomong, lebih baik cuci mukamu dulu sebelum pergi, Yuuma-san. Sekedar mengingatkan saja, kau sudah menghabiskan lebih dari lima gelas wiski malam ini."
Yuuma menarik sudut bibirnya, membentuk sebuah senyum—yang mutlak gagal karena tiba-tiba saja efek alkohol membuat kepalanya pening dan malah berakhir menjadi sebuah seringai aneh. "Ah ... ya, cuci muka. Ide bagus," gumamnya.
Setelah mengatakan itu, Yuuma lantas berjalan menuju toilet. Langkahnya sedikit terhuyung karena pusing yang makin melanda.
Dia baru saja akan masuk ke dalam toilet pria saat telinganya menangkap suara setengah teriak dengan nada panik dari dalam toilet wanita. Refleks yang aktif membuat Yuuma buru-buru berbalik dan masuk dalam ruangan yang diperuntukkan bagi kaum hawa tersebut.
Hal pertama yang masuk dalam visualisasi Yuuma ketika dirinya berada dalam toilet wanita tersebut, adalah sosok Luka yang berdiri dengan tubuh gemetar di depan sebuah bilik yang terbuka. Mata birunya terlihat panik. Kedua telapak tangannya menutup mulut dan hidung, berusaha meredam teriakan yang sudah di ujung tenggorokan. Ekspresi gadis itu mirip seperti orang yang baru saja melihat hantu.
"Ada apa?" Yuuma melihat tubuh gadis itu berjengit kaget sebelum menoleh dan melempar pandangan yang seolah memohon pertolongan ke arahnya. Pemuda itu mengeryit bingung.
Ada apa sebenarnya?
Yakin gadis itu tak akan menjawab karena masih terperangkap dalam kondisi shock, Yuuma melangkah maju. Mencoba mencaritahu hal apa yang kira-kira bisa membuat Luka bereaksi seperti itu. Dan ketika mata emas Yuuma menatap sesuatu yang ada di dalam sana, dia menahan napas. Telak mematung.
Di atas kloset, dia melihat mayat seorang gadis yang masih muda, sangat muda. Tubuhnya kurus dan kulitnya putih seperti susu. Jasadnya seperti sengaja didudukkan di atas kloset, hingga kepalanya—yang ditumbuhi helaian pirang keemasan dan dikuncir satu agak ke samping— pun jatuh bersandar pada sekat yang membatasi antar bilik. Satu tangan gadis itu berada di atas paha, sedang tangannya yang lain terkulai lemas di sisinya.
Gadis itu mengenakan baju yang mirip seragam sekolah model sailor warna putih, namun tanpa lengan. Darah kering memerciki pipi, bibir, dan dagunya; luka yang tak begitu dalam menggores pipi kanannya. Luka bekas tusukan benda tajam juga terlihat menganga di dada perut. Belati, yang diduga menjadi alat pembunuhan, pun masih menancap kencang di perut si gadis malang.
Yuuma berdiri mengamati mayat itu, memperhatikan tangan dan pakaian yang ikut terkena percikan darah. Ia kemudian membungkuk dan secara perlahan mencabut belati yang menancap di perutnya. Dia bisa mendengar Luka menahan napas ketika senti demi senti ujung benda itu ditarik hingga membuat darah yang menempel di sana menetes pada lantai keramik.
Belati itu tajam dengan panjang yang lumayan. Siapapun pemiliknya, pastilah orang itu sudah berniat menghabisi nyawa gadis itu dari lama.
"Aku harap dia tidak apa-apa," gumam Luka penuh harap. Yuuma bisa mencium bau teror dari tubuhnya.
"Dia mati," tegas Yuuma dan tubuh Luka kembali bergetar takut lalu mundur selangkah. Dia tahu gadis bermata samudera itu sudah mengetahuinya, namun dia tak dapat mencegah bibirnya menyuarakan kalimat itu.
Tubuh jangkung kemudian berbalik menghadap Luka. Belati masih ia genggam erat di tangan. Emas dan biru bertemu. Emas menangkap ketakutan dan kecemasan dari dalam lautan safir kemudian tergerak untuk memadamkan semua gulungan emosi itu.
Sayang, seseorang kemudian masuk dan mulai dari detik itu, semuanya menjadi salah. Benar-benar salah.
"Neru, kau sudah selesai? Ted-kun baru saja meneleponku. Kita harus segera pulang dan—" suara riang gadis berambut merah terhenti dan berganti dengan teriakan tertahan. Ekspresi manis lantas berganti dengan campuran rasa terkejut, marah, panik, dan takut.
Sahabatnya tergeletak tak bernyawa di kamar mandi.
Dua orang asing berdiri berhadapan seolah tengah membicarakan sesuatu.
Salah satu dari mereka memegang belati penuh darah.
Dan sebuah kesimpulan lantas ditarik.
Dua orang tersebut telah menyakiti—ralat, membunuh sahabatnya. Akita Neru.
"Apa yang kalian lakukan pada temanku!" gadis itu berteriak. Pandangannya tajam seperti menuduh.
Luka dan Yuuma mematung. Keduanya terlalu terkejut untuk merespon. Kalimat yang terlontar dari mulut si gadis merah seakan menyalahkan mereka atas semua yang telah terjadi. Dan mereka bingung karena tertangkap basah di waktu yang salah.
Keheningan yang menyelinap membuat sang gadis makin berpikir ke arah negatif. Dua orang yang ada di hadapannya benar-benar telah membunuh Neru!
Gadis merogoh ponselnya dari dalam saku. Tangannya bergetar. Dia panik dan takut dalam waktu yang bersamaan. Air mata menggenang di kedua sudut mata, siap terjun bebas kapan saja.
Yuuma memicingkan mata sementara hatinya sibuk menugmpat, sadar gadis itu mencoba memanggil polisi. Fuckin' shit!
"Dengar dulu!" Luka mencoba menjelaskan. Wajahnya tak kalah panik. "Kami tidak melakukan apa pun pada—"
"Pembohong!" Si gadis merah menjerit. Hawa ruangan makin terasa panas. Kepanikan yang menjalar membuat udara terasa menyusut. "Aku akan memanggil polisi!" jerit gadis itu lagi.
"Tunggu, dulu! Sudah kubilang, dengarkan kami—"
"Kalian telah membunuh Neru!" Dia semakin histeris. Tangannya gemetar, namun jemarinya tak berhenti menekan tombol-tombol pada ponsel.
Yuuma, yang tak berpikir gadis itu akan mengurungkan niat memanggil polisi, dengan segera mengangkat belati penuh darah di tangannya dan melemparnya ke arah gadis itu.
Tanpa ada satupun keahlian melempar senjata tajam dan tingkat akurasi yang benar-benar nol, belati itu meluncur mulus dengan kecepatan tinggi. Membelah udara dengan ujung tajamnya dan—
PRANG!
—benda itu terjatuh ke lantai setelah ujungnya membentur dinding dengan kencang.
Satu gerakan yang bisa dikategorikan ceroboh, namun cukup membuat setiap orang yang ada di sana shock. Termasuk si gadis merah selaku sasaran pelemparan belati.
Si gadis merah terpaku dengan mata membulat. Otaknya seakan kehilangan cara kerja untuk beberapa saat. Ponsel dalam genggaman jatuh langsung ke lantai. Tak lama, dia jatuh terduduk. Lututnya lemas. Tubuh yang gemetar dan air mata yang mengalir sama sekali tak membantu.
Mengambil kesempatan, Yuuma menarik lengan Luka—sekaligus menariknya keluar dari kondisi trance— dan pergi dari bar itu. Ketika Luka bertanya mengapa mereka harus lari, Yuuma menjawab dengan nada serius,
"Kau tidak mau polisi menangkapmu, kan?"
.
.
can you start playing this role for us?
Yak! Udah sampai disini berarti udah mulai ketebak, kan, alur ceritanya? :D yah, walaupun masih ada beberapa misteri sih.
Siapa sih Roro?
Kenapa Yuuma mimpiin anak kecil yang sama sekali asing bagi dia?
Siapa sih yang nyebar video Luka?
Apa Luka benar-benar melakukan 'itu' sama Kaito?
Apa Yuuma sama Luka bakal jadian dan punya banyak anak? #heh
Siapa sih orang yang bunuh Neru?
Apa alasan sebenarnya Yuuma mecat Hiyama?
Yaaah~ itu semua masih misteri #sok misterius #dibakar
See you in the next chapter. Review?
