Warning: typo(s), cliche, diksi pergi ke laut, delele. Kesamaan ide harap dimaklumi.
Vocaloid (c) Yamaha, Crypton, etc
I gain no commercial advantages
Role (c) datlostpanda
Take Five!
/Revealed/
Malam ini hampir saja terjadi sebuah tragedi. Hampir saja Meiko mati—atau paling ringan kram perut lantaran sang atasan, Shion Kaito, datang ke dalam ruangan dengan penyamaran yang membuatnya terkikik geli.
Reka ulang. Di satu sudut jalan sepi dekat kantor Shion Management, Kaito menghentikan laju mobilnya. Dia meringis, ada banyak sekali wartawan berdiri tegar di depan dinginnya pagar besi. Melihat banyaknya jumlah pemburu berita, Kaito yakin tak akan selamat jika nekat menerobos. Tapi Kaito juga tak bisa diam terus. Bagaimanapun, dia harus ke ruangannya dan memeriksa sesuatu. Jadi, apa yang harus dia lakukan?
Pikir. Pikir. Pikir.
Dan saat itulah Kaito melihat sebuah truk berjalan mendekat. Itu bukan truk biasa. Di dalamnya ada beberapa petugas yang siap melakukan service AC. Sebuah lampu pijar kemudian muncul di atas kepala Kaito.
Aha! Dia punya ide.
Dalam sekali gerakan, dia melompat ke tengah jalan. Memberi isyarat pada si pengemudi untuk menghentikan laju kendaraan. Supir truk, yang gemuk dan bau cerutu, mengeluarkan sumpah serapah setelah menghentikan kendaraan besarnya namun tak Kaito hiraukan. Dia malah berlari mendekat pada pintu supir, memohon agar mau memberinya tumpangan sampai ke halaman depan. Si supir dan rekannya bingung, namun mereka mengiyakan setelah Kaito menjelaskan. Saat Kaito akan naik, salah seorang dari mereka melemparkan seragam. Buat penyamaran, katanya. Absurd memang, tapi ternyata berhasil.
Mereka melewati para pewarta berita dengan mulus. Tak ada yang menyadari keberadaan Kaito dalam truk itu. Terlalu mulus, sampai Kaito hampir saja mengeluarkan tawa ejekan untuk para pemburu berita itu. Sampai di halaman kantor, Kaito segera melompat turun dan masuk ke dalam tanpa melepas seragam pemberian rekan si supir tadi. Hasilnya? Tentu saja, setelah sampai di ruangannya, dia ditertawakan habis-habisan oleh Meiko.
"Berhentilah tertawa, Mei. Tidak ada yang lucu, sungguh." Kaito menggerutu sebal, namun matanya tetap mencari-cari sesuatu di antara deretan buku dan kotak disk hitam dalam rak besar yang berdiri gagah tak jauh dari pintu. Alih-alih dapat sambutan hangat begitu datang, Kaito malah jadi bahan tertawaan. Apa-apaan asistennya itu?
"Oke, maafkan aku," kata Meiko. Dia mengusap air mata yang ada di ujung pelupuk mata. Terlalu geli tertawa, membuat air matanya mengalir. "Kau benar, tidak ada yang lucu di sini. Termasuk seorang bos yang datang memakai seragam tukang service AC. Ngomong-ngomong, kau pantas memakai baju itu."
"Aku serius, Meiko. Ini sama sekali tidak lucu."
"Hei, aku juga serius. Kau cukup keren dengan seragam itu," komentar Meiko sambil mengevaluasi penampilan Kaito. "Kekurangannya cuma seragam itu sedikit kebesaran di badanmu."
"Oh, diamlah." Nada suara Kaito terdengar setengah menahan sebal. Sudah tiga menit dia berkutat di depan rak, berusaha mencari sesuatu dengan susah payah. "Aku butuh konsentrasi di sini."
"Perlu kubantu?"
"Oh, perhatian sekali. Seandainya aku mendengar lebih awal alih-alih ejekan menyebalkan." Kaito berujar, wajahnya mengejek. Meiko tak menanggapi sarkasme pemuda biru itu. Dia menghampiri rak tempat di mana Kaito berkutat.
Rak itu seperti rak buku pada umumnya. Terbuat dari kayu dan terdiri dari enam tingkat. Di paling atas, Meiko bisa melihat ada beberapa piala dan benda-benda penghargaan lain, jejeran kotak hitam yang mirip disc box memenuhi dua deret di bawahnya, sisanya penuh dengan buku dan beberapa map yang—mungkin—berisi dokumen-dokumen penting.
"Apa yang kaucari, Kai?" tanya Meiko. Tidak seperti staff lain yang memanggil Kaito dengan begitu formal, Meiko cukup memanggil pemuda itu dengan nama pendeknya, kadang hanya Kai. Wajar memang, gadis itu sahabat Kaito sejak SMP hingga lulus universitas. Kaito sendiri juga tak keberatan di panggil seperti itu oleh Meiko meskipun dia cuma asisten.
"Sesuatu."
Meiko menghela napas. Oksigen dihirup. Karbondioksida dibuang. Haah. "Dalam keadaan seperti ini kau masih sempat mencari barang yang tak penting?"
Tak ada respon.
Gadis itu melipat tangan di depan dada. "Demi Tuhan, Kai. Lebih baik kauluruskan masalahmu dan Luka dulu pada publik." Jeda sejenak. Mata Meiko berubah melankolis. "Tadi Luka menelpon, tahu. Dari suaranya, dia sepertinya benar-benar terguncang. Ini pertama kali Luka mengalami hal semacam ini. Harusnya kau mendampingi Luka, bukan malah menonaktifkan ponsel hingga dia susah menghubungimu—bagaimanapun juga, dia, 'kan, tanggung jawabmu."
Aktifitas Kaito terhenti saat kalimat itu meluncur mulus dari bibir Meiko. Pemuda itu terdiam. Berpikir. Namun satu detik kemudian dia kembali sibuk mencari.
"Kaito."
"Aku sedang mencari sesuatu, Mei."
"Apa benda itu sangat penting daripada nasib artismu?"
Pemuda itu tak merespon. Sibuk mencari. Kali ini dia beralih pada deret yang berada sedikit di atas kepalanya. Ada beberapa buku yang tebalnya lumayan di sana, namun porsi box hitam jauh lebih banyak.
Merasa tak diacuhkan, Meiko merengut. "Kau tak peduli pada Luka?"
"…"
"Kai?"
"…"
"Oh, jangan-jangan berita itu benar. Jangan-jangan kau memang hidung belang yang hobi meniduri artisnya sebelum menerbitkan mereka sebagai bintang!" tuduh Meiko.
"Apa! Hei, jaga bicara—aw!" Sebuah buku jatuh tepat di ubun-ubun Kaito, membuat kalimatnya terputus di tengah jalan.
Meiko menaikkan sebelah alis. Tampak puas dan ingin tertawa.
Kaito memungut buku yang jatuh dengan sebelah tangan—sebelahnya lagi ia gunakan untuk mengusap kepalanya yang terasa berdenyut-denyut. Rupanya tadi ia terlalu terkejut hingga tangannya tak sengaja menarik sebuah buku sampai jatuh.
Mengabaikan seringai mengejek yang ditunjukkan Meiko, dia mengembalikan buku tadi ke tempatnya sambil menggerutu pelan. "Aku tidak pernah melakukan itu, Meiko," ucap pemuda itu kemudian. "Maksudku, demi semesta, kau, 'kan, sudah kenal lama denganku! Kenapa kau sampai berpikir aku akan melakukan hal gila seperti itu?"
"Kalau begitu, cepat beri klarifikasi pada publik."
"Tidak bisa semudah itu, tahu."
"Kenapa tidak? Kau tinggal menyuruhku untuk menghubungi wartawan dan mengadakan jumpa pers dengan mereka, katakan bahwa video yang beredar itu adalah palsu, lalu publik akan melupakan masalahnya. Selesai."
Sepasang mata safir memutar dramatis. "Kau membuatnya jadi terlihat seperti membalikkan telapak tangan."
"Memang begitu, 'kan?"
"Tentu saja tidak." Kaito mendecakkan lidahnya. "Ada masalah yang lebih besar."
"Dan masalahnya adalah...?"
"Masalahnya, video itu memang asli," jawab Kaito cepat. Ketika dia merasakan pandangan tak percaya dari Meiko, dia buru-buru menambahkan, "Dengar, itu memang asli. Tapi aku berani bersumpah jika aku tak melakukan apa pun."
"Bagaimana bisa kau tidak melakukan apa pun jika kau mengatakan video itu asli?"
"Itu tidak seperti kelihatannya, Mei. Percayalah."
"Apanya yang tidak seperti kelihatannya?"
"Kau akan tahu jika melihatnya sampai akhir," Kaito membalas cepat. Matanya menatap Meiko dalam. Dia terdiam, memberi jeda pada kalimatnya untuk memberi kesan. "Orang-orang itu pasti tidak melihat hingga selesai—atau yang paling parah, bagian akhirnya bisa saja dipotong—makanya mereka membuat spekulasi miring." Pemuda itu kembali menggali isi rak. Memeriksa satu persatu label yang menempel di atas kotak-kotak hitam tersebut. Namun dia kembali menghentikan gerakannya saat menyadari bahwa Meiko sama sekali tak merespon. "Masih tidak percaya?"
Meiko mengerjap sekali, kemudian mendekat pada Kaito. "Tergantung," jawabnya. "Apa kau bisa menunjukkan padaku bagian yang tidak tersentuh media itu?"
"Hanya kalau aku berhasil menemukan kasetnya," tukas Kaito. "Yang jadi masalah, daritadi aku tidak menemukannya. Padahal harusnya benda itu ada di sini." Jemari Kaito sibuk menelusur. Terlihat panik, juga bingung. Dia yakin sekali telah menyimpan disc itu di dalam kotak hitam dan meletakkannya di rak itu. Tapi kenapa dia tidak menemukannya?
"Tunggu sebentar," Meiko mengacungkan jari telunjuk. Menggesturkan pada Kaito untuk mendengarkan spekulasinya. "Maksudmu, salah satu dari kotak-kotak ini berisi kaset video Luka yang menyebar di muka publik?"
"Ya. Seharusnya."
"Kau menyimpan berapa banyak?"
"Cuma satu—aku tidak pernah memperbanyak apalagi menyebarnya, sumpah!— jadi seharusnya hanya ada padaku. Dan aku ingat betul bahwa aku menyimpannya di sini. Di salah satu bagian dari rak ini."
Kelereng cokelat milik Meiko menetap di safir Kaito dengan dingin selama beberapa saat sebelum membuang pandangan ke sembarang arah. "Lalu dari mana mereka mendapatkan gambar itu, Kai?"
Kaito tak menjawab. Bukan karena tak ingin, tapi karena dia sendiri tidak tahu mengapa benda semacam itu bisa hilang dari kantornya dan sampai di tangan media? Kenapa? Bukankah seharusnya benda itu ada di sini; aman bersama deretan buku dan barang-barang penting lain di ruangannya?
Kaito terus berpikir, namun teka-teki itu terlalu rumit. Sebanyak apa pun ia menggali kemungkinan untuk mendapatkan titik terang, sebanyak itu pula logikanya gagal mencapai jawaban yang ia inginkan.
"Apa menurutmu ada seseorang yang mengambilnya, Kai?" Setelah beberapa detik tenggelam dalam pemikirannya, Meiko akhirnya menarik paksa Kaito untuk keluar dari sana. Membuat pemuda biru itu menoleh dan menatapnya dengan alis yang naik satu.
"Seseorang? Mengambil barang di ruanganku? Tidak mungkin, Mei."
Meiko mendengus. "Mungkin saja, 'kan? Lagipula, kau sendiri adalah tipe orang yang memperbolehkan siapapun masuk ke ruanganmu."
"Tidak mungkin, kan, jika aku melarang staff—atau lebih parahnya, orang-orang penting—untuk masuk ke dalam ruang kerjaku?"
"Masalahnya, kau juga membiarkan artis-artis yang ada dalam naungan management lain untuk masuk dan bicara empat mata denganmu di sini," Meiko menjawab dengan nada tak sabar. Tangan gadis itu melipat defensif di depan dada. "Bahkan Kim SeeU saja bisa dengan mudah kau ijinkan masuk."
Ah, kembali ke topik ini lagi, Kaito menggerutu dalam hati. Meiko memang sedikit sensitif saat ada artis dari tempat lain yang terlalu sering datang menemui Kaito. Bukan karena dia cemburu atau apa, tapi karena dia tak suka dengan tujuan kebanyakan dari mereka.
Mereka dengan mudah mengakhiri kontrak yang mengikat dengan manajer lama mereka begitu saja, lalu datang pada Kaito dan memohon-mohon agar dia mau menjadi manajer mereka. Hanya karena semua artis yang pernah Kaito tangani memiliki prestise dan kelas tersendiri dalam industri hiburan mereka kalap dan 'membuang' manajer lama yang telah susah payah membesarkan mereka, kemudian berbondong-bondong datang pada Kaito, menyuruhnya melepas artis yang sedang ada dalam tanggungjawabnya, lalu menjadi manajer mereka. Tidak professional. Oh, Meiko bahkan lebih senang menyebut mereka culas.
Terakhir kali yang datang ke tempatnya adalah Kim SeeU. Gadis pirang berdarah Korea itu akhir-akhir ini memang sering datang ke kantornya, bahkan dia kerap menelpon Kaito. Berkali-kali SeeU meminta Kaito untuk menjadi manajernya, berkali-kali pula Kaito menolak. Terakhir kali datang ke sini adalah sekitar tiga hari yang lalu. Hari itu gadis itu terlihat begitu frustasi sampai ingin menangis. Tapi Kaito tetap pada pendirian.
Bukannya Kaito tak mau bekerja bersama SeeU, tentu saja tidak. Dia punya suara yang bagus. Wajahnya cantik dan postur tubuhnya juga lumayan hingga fotonya tak jarang mengisi banyak halaman majalah. Siapa yang tak senang dapat kehormatan bisa menangani artis semacam Kim SeeU?
Sayang, saat ini Kaito telah menjadi manajer bagi seorang Megurine Luka. Dan karena Kaito adalah orang yang profesional, maka dia tidak akan melepas Luka begitu saja. Setidaknya, sampai kontrak mereka berakhir.
"Mei," Kaito menyela cepat, "apa ada telpon untukku hari ini?"
"Mengalihkan pembicaraan?"
"Apa ada yang menelponku?" ulang Kaito sekali lagi. "Selain Luka, apa ada orang lain yang menelponku?"
"Oh, berarti maksudmu dari para wartawan menyebalkan itu?" Meiko melayangkan mata ke atas. "Ya, tentu saja. Mereka terus menelponmu sepanjang hari ini. Telingaku sampai panas karena terlalu banyak menerima telpon hari ini!"
"Apa ada yang lain?"
Meiko mengedik tak acuh. "Tidak. Seingatku hanya dari mereka saja."
Jadi hari ini pun dia tidak menelpon? Kenapa tumben sekali?
"Ada apa, Kai?" Sekali lagi, gadis berambut cokelat di hadapannya telah menarik Kaito kembali ke alam realita. Kaito menghela napas sekali lalu menjawab:
"Tidak ada. Hanya penasaran, Kim SeeU biasanya selalu menghubungiku untuk mempertimbangkan keputusanku yang menolak jadi manajernya. Tapi, akhir-akhir ini sama sekali tak ada telpon darinya."
"Bukankah itu bagus?" komentar Meiko. "Dia berhenti menghubungimu. Bukankah itu artinya dia sudah menyerah?"
"Ya." Kuharap juga begitu.
Rumah itu sudah sepi. Hampir semua lampu telah padam. Hanya beberapa ruangan yang masih tampak di banjiri oleh pijar lampu. Salah satunya ruang tamu.
Ruang tamu di rumah itu besar, lantainya licin, atapnya tinggi dan perabotnya mewah menawan. Ruangan itu didominasi putih. Putih memercik di dinding, melapis ubin, menyelimut langit-langit, bahkan sampai tirai di jendela. Hanya permadani di atas lantai dan sepasang sofa panjang yang warnanya kontras dengan sekitar—merah dan hitam. Sisanya? Putihlah yang memonopoli.
Bagi beberapa orang, warna itu mungkin dianggap indah dan bersih. Segelintir bahkan percaya itu warna suci. Namun Ann menganggapnya membosankan. Selera suaminya memang memuakkan.
Wanita itu duduk sendirian di sofa panjang. Matanya terus menatap pohon besar di luar jendela, di mana seekor burung hantu sedang asyik-asyiknya mendengkur. Uhu-uhu, begitu. Bola mata mereka bersua tak lama, emas melebur bersama biru, dan Ann kembali mengisap rokoknya dalam-dalam.
Dia hanya memakai gaun tidur tipis, membuat badannya yang ramping makin terlihat molek. Beberapa orang akan berpikir bahwa penampilannya terlalu berani, tapi Ann tidak ambil peduli. Toh, di rumah ini cuma ada dia dan Mizki. Walau si keponakan laki-lakinya juga sering datang dan menginap sesekali.
Keponakan semata wayang. Anak yang (katanya) lahir dengan keberuntungan. Anak yang lahir dengan membawa beban harapan keluarga di punggung ringkih. Yukio Yuuma.
Ann menghembuskan kepulan asap panjang, bangkit dari sofa, dan berjalan ke arah jendela. Dari sana dia bisa melihat hitam menyelimut horizon. Gelap dan kelam. Suram tanpa setitik pun bintang sudi menghias. Awan hitam menutup rembulan. Menghalangi sang ratu malam pamer keindahan.
Ann menggerakkan batang rokok, membuang biang apinya tepat di atas permadani merah. Karpet itu terbakar dan bolong sedikit.
Ah, benar juga, dia berkata dalam hati. Keadaan senyap dan suram seperti ini mirip dengan malam-malam itu.
Mata biru berubah melankolis, seperti ingin menangis. Dia sudah lama menyuruh dirinya berhenti mengingat, namun kenangan membawa paksa jiwanya mundur ke dimensi nan jauh—dan ketika otaknya sibuk mencari kata yang paling sempurna menggambarkan titik waktu itu, dia tak bisa menemukan kata selain 'dulu'.
Ya, benar. Dulu dia yang dipercaya merawat Yuuma setelah istri adik iparnya meninggal. Ya, benar. Dulu dia meninggalkan Mizki untuk membesarkan Yuuma di tanah kelahirannya; Australia. Ya, benar. Dulu dia dan Yuuma sangat akrab. Ya, benar. Dulu anak itu memanggilnya 'Annie' alih-alih 'tante' atau 'bibi'. Ya, benar. Semuanya hilang jadi serpih berceceran saat dokter dating membawa vonis mati.
"—hidupnya tak akan lama lagi…."
Ann membuang rokoknya dan menginjaknya hingga apinya padam. Mata biru berubah jadi sedingin es. Napasnya sesak. Tubuhnya yang sakit, atau justru rasa bersalah yang membuatnya begini?
Ann menggeleng pelan. Tidak, tidak. Dia tidak boleh begini. Semua yang telah ia lakukan adalah demi keluarga Yukio, karena itu dia harus berhenti merasa bersalah. Lagipula, delapanbelas tahun telah berlalu sejak saat itu. Selama kurun waktu itu, tak pernah ada masalah. Ya, ya. Selama ini segalanya berjalan lancar. Tak ada yang tahu mengenai hal ini. Tidak suaminya, tidak adik iparnya, bahkan Mizki pun tak pernah tahu.
Hanya secarik foto yang terkurung dalam pigura berdebu di dalam laci kamar Ann yang selalu setia mengingatkannya; aku sudah pergi, mati dan tak pernah kembali….
Aku sudah mati—
—Annie….
.
.
.
can you start playing this role for us?
Maaf baru bisa update. Saya baru libur nih, jadi baru ada waktu senggang hehe. Dan karena saya bakal libur sampai (kurang-lebih) 2 bulan ke depan, maka saya usahain selama kurun waktu itu untuk bisa update cepet =)))
Talking about this chapter, err... seems absurd. Ga ada Yuuma dan Luka sama sekaliiiii. Wwww maafkan saya! /sujud
Oh, ngomong-ngomong di bagian si Ann udah mulai disinggung dikit soal masa lalu Yuuma, ya. Buat yang masih bingung, tenang aja. Saya bakal ungkap di chapter depan. Tapi porsinya sedikit-sedikit. Atau... adakah yang udah dapet bayangan? ;D
terima kasih buat dwidobechan, SoraNoFuyu, Nekuro Yamikawa, ReiYKa, BerlianaDeceiver1224 yang udah nyempetin diri buat baca dan review chapter kemarin. Sankyuu…
Last, kritik dan saran amat dinanti ^^
